Saturday, August 17, 2019

Kenakan Sarung, Santri Karangdurin Gelar Upacara HUT RI ke-74

Sampang — Pasti Aswaja — Momentum hari kemerdekaannRepublik Indonesia ke-74, Pondok Pesantren Miftahul Ulum Karangdurin, Tlambah, Karangpenang, Sampang, menggelar upacara pengibaran sang merah putih memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) Republik Indonesia (RI) ke-74, Sabtu (17/08/2019), di halaman pesantren.

Diikuti seluruh santri, jajaran pengurus, guru, mahasiswa dan staf perguruan tinggi yang ada di pesantren tersebut terlihat berbeda. Pasalnya, semua peserta dan undangan seragam mengenakan sarung hijau, baju putih dan songkok nasional yang menjadi ciri khas santri.

Meski demikian, Lagu Kebangsaam Indonesia Raya dan Mars Syubbanul Wathon dilantunkan dengan khidmat.

Chotibul Umam yang bertindak sebagai inspektur upacara dalam amanatnya menyampaikan, agenda tersebut merupakan salah satu cara mengenang perjuangan para pahlawan guna mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

"Upacara ini mengingatkan kita pada perjuangan para tokoh pahlawan kemerdekaan yang tak mudah seperti apa yang dirasakan pada saat ini," jelas Pak Tibul, sapaan akrabnya.

Ia berpesan kepada para peserta agar jiwa nasionalisme dan semangat menjaga NKRI terus tertanam dalam jiwa mereka.

"Memperingati Hari Ulang Tahun Indonesia ini semata-mata untuk mengenang dan menjaga sesuatu yang telah dititipkan oleh para pahlawan kita, sehingga kita sama-sama kuat menjaga NKRI ini".

Di akhir amanatnya, Pak Tibul berharap para santri dan pemuda berhati-hati berhadaap paham maupun ideologi baru yang mengancam keutuhan NKRI dan Agama.

"Hati-hati kepada pemuda jangan terbawa ideologi yang melenceng dan mengancam kesatuan NKRI ini," pungkasnya. (is/nal)
Share:

Sampaikan Amanat Upacara 17 Agustus, Ketua PCNU Pamekasan Menangis

Pamekasan — Pasti Aswaja — Ketua Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Pamekasan, KH. Taufik Hasyim, tidak kuasa menahan tangis saat menyampaikan amanat pada pelaksanaan upacara bendera memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) Kemerdekaan Indonesia di Pondok Pesantren Nurul Karomah, Buddagan, Pademawu, Pamekasan, Sabtu (17/08/2019).

"Ketika menyanyikan Lagu Kebangsaan Indonesia Raya, tenggorokan saya kering. Saya membayangkan betapa besar dan dahsyatnya perjuangan para kiai dan ulama kita saat melawan penjajah memperjuangkan kemerdekaan," ucapnya dengan suara parau menahan tangis.

Ia mengaku kehabisan kata-kata ketika dirinya membayangkan perjuangan para kiai, santri serta para pahlawan lainnya yang rela mengorbankam segalanya demi kemerdekaan Republik Indonesia dan tegaknya Sang Merah Putih.

Maka dari itu, alumni Ma'had Riyadhul Jannah Rosefah, Arab Saudi, ini merasa heran ketika ada kelompok yang mengharamkan dan mensyirikkan hormat kepada Bendera Merah Putih. Karena menurutnya, menghormati Merah Putih sebagai bentuk kecintaan terhadap tanah air.

"Mencintai tanah air, sama sekali tidak mengurangi kecintaan kita kepada Allah SWT. Sama seperti cinta kita ibu dan istri. Mencintai istri, sama sekali tidak mengurangi cinta kita kepada ibu. Begitu juga kita mencintai istri, tidak akan mengurangi cinta kita kepada ibu," tegasnya. (ahn/uki)
Share:

PCNU Pamekasan Gelar Upacara HUT RI ke 74

Pamekasan — Pasti Aswaja — Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Pamekasan menggelar upacara bendera memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) kemerdekaan Republik Indonesia ke 74 di Pondok Pesantren (Pon. Pes.) Nurul Karomah, Buddagan, Pamekasan, Sabtu pagi (17/08/2019).

Upacara yang diikuti seluruh perwakilan Badan Otonom dan Lembaga di lingkungan PCNU Pamekasan itu, bertindak sebagai inspektur upacara, KH. Taufik Hasyim selaku Ketua PCNU Pamekasan. Tampak juga hadir jajaran Syuriah dan Tanfidziah

Dalam amanatnya, mantan aktivis PMII Kediri Jawa Timur itu mengajak peserta dan undangan supaya memupuk kecintaan terhadap tanah air sebagaimana dicontohkan oleh Rasulullah SAW saat hijrah dari Mekkah ke Madinah.

"Ketika Rasulullah hijrah, beliau berdoa kepada Allah supaya diberikan rasa cinta kepada Madinah sebagaimana kecintaan beliau kepada Mekkah. 'Ya Allah anugerahilah kami cinta kepada Madinah, sebagaimana cinta kami pada Mekkah, bahkan (cinta. Red.) yang lebih besar'," tutur Kiai Taufik.

Pengasuh Pon. Pes. Bustanul Ulum Sumber Anom, Angsanah, Palengaan, Pamekasan ini juga sempat menangis saat mengenang perjuangan para kiai dan santri dalam mengusir penjajah.

Usai upacara, PC Lembaga Amil Zakat Infaq dan Shadaqah Nahdlatul Ulama (Lazisnu) Pamekasan memberikan santunan kepada puluhan anak yatim. Acara kemudian disudahi dengan penampilan para pendekar cilik PC Pencak Silat Nahdlatul Ulama (PSNU) Pagar Nusa Pamekasan. (ahn/uki)
Share:

Thursday, August 15, 2019

Bersama Menhub dan Menkes, Khofifah Resmikan RS Terapung di Sumenep

Sumenep — Pasti Aswaja — Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, bersama Menteri Perhubungan (Menhub) Budi Karya Sumadi, dan Menteri Kesehatan (Menkes), Nila Moeloek, meresmikan pengoperasian Kapal Gandha Nusantara 1 dan 2 sebagai Rumah Sakit (RS) Terapung di Kabupaten Sumenep, Kamis (15/08/2019).

Peresmian ditandai dengan penandatanganan Memorandun Of Understanding (MoU) atau nota kesepahaman juga perjanjian kerja sama dan pelepasan operasional di lingkungan Provinsi Jawa Timur di Pelabuhan Indonesia (Pelindo) III Cabang Kalianget, Sumenep, Madura.

"Ini adalah pilot project dan merupakan rumah sakit terapung merangkap penumpang yang pertama di Indonesia," tulis Khofifah di halaman Facebook beberapa menit yang lalu.

Menurutnya, RS Terapung tersebut menjadi hadiah ulang tahun kemerdekaan Republik Indonesia ke 74 yang sangat bermakna bagi masyarakat kepulauan di Sumenep.

Ketua Umum Muslimat NU itu berharap, kehadiran RS terapung itu dapat memberikan layanan kesehatan yang lebih berkuaitas kepada masyarakat yang hidup di kepulauan dan daerah terpencil di Jawa Timur.

"Terlebih Sumenep memiliki ratusan pulau yang terpencar-pencar. Terimakasih Pak Menhub dan Bu Menkes yang merespon permohonan kami dalam waktu yang sangat cepat. Semoga besar manfaatnya," pungkasnya. (ahn/uki)
Share:

Rawat Indonesia, Komunitas Ataretan Pamekasan Gelar Dialog Lintas Iman

Pamekasan — Pasti Aswaja — Sebagai upaya memperkokoh nilai-nilai kebangsaan, pegiat pemikiran Gus Dur Pamekasan yang tergabung dalam Komunitas Ataretan menggelar Dialog dan Ngopi Lintas Iman, Rabu malam (14/08/2019) di Cafe Nineties, Bugih, Pamekasan, Madura.

Acara bertema "Meruwat dan Merawat Indonesia" itu menghadirkan beberapa tokoh lintas iman sebagai panelis: RPA. Wazirul Jihad (Ketua LESBUMI NU Pamekasan), Taufikurrahman Khafi (Ketua LAKPESDAM NU Pamekasan), Syafiuddin (Ketua PC. GP. Ansor Pamekasan), Afan Asmara Yudha (Ketua Remaja dan Pemuda Kristiani Pamekasan), Maghfirah (Ketua FKWUB Pamekasan), Novi Engga Kumaya (Ketua Orang Muda Katolik Pamekasan) dan Muhammad Ahnu Idris (Ketua GASPER Madura).

Luthfi, Wakil Koordinator Komunitas Ataretan, seusai acara mengungkapkan, acara yang dilaksanakan komunitas yang digelutinya itu merupakan salah satu bentuk komitmet bersama dalam membangun negeri.

"Belajar dari Gus Dur, bahwa nilai yang paling Indonesia ialah pencarian tak berkesudahan akan perubahan sosial tanpa memutus sama sekali ikatan dengan masa lalu. Itulah representasi meruwat dan merawat Indonesia yang kami diskusikan malam ini," jelas Luthfi.

Mahasiswa semester akhir di Universitas Madura (UNIRA) itu menambahkan, panelis yang didatangkan dengan latar belakang yang berbeda itu dimaksudkan mengeksplorasi pemahaman tentang Indonesia dalam berbagai perspektif.

"Pada intinya, melalui berbagai macam keilmuan yang diketahui, kita dituntut untuk bergandengan tangan membangun bangsa Indonesia ini," pungkas Luthfi. (bor/ahn)
Share:

Monday, August 12, 2019

GP Ansor Pegantenan Gelar Tahlil 7 Hari Wafatnya Mbah Moen

Pamekasan — Pasti Aswaja — Pimpinan Anak Cabang (PAC) Gerakan Pemuda (GP) Ansor Kecamatan Pegantenan menggelar tahlil bersama di hari ketujuh wafatnya KH. Maimoen Zubair atau Mbah Moen, Senin malam (12/08/2019) di kediaman Arif Hidayatullah, Ketua PAC GP Ansor Pegantenan.

Kegiatan yang dirangkai dengan agenda rutinan Majelis Dzikir dan Sholawat Rijalul Ansor (MDS RA) itu bertujuan mendoakan almarhum agar mendapatkan tempat mulia di sisi Allah bersama orang-orang saleh lainnya.

"Yang tidak kalah pentingnya, barokah beliau tetap mengaliri kehidupan dan agenda-agenda kami. Sehingga, organisasi ini (GP. Ansor. Red.) menjadi organisasi yang berkah dan memberikan manfaat bagi orang banyak," ujar M. Hasbullah Arif, Ketua PAC GP Ansor Kecamatan Pegantenan.

Dalam kesempatan yang sama, Sahraji selaku Ketua MDS RA PAC GP Ansor Pegantenan mengatakan, kepergian Mbah Moen menyisakan luka yang dalam bagi seluruh masyarakat Indonesia, khususnya warga NU. Menurutnya, almarhum merupakan sosok nasionalis sejati.

"Beliau ini juga merupakan sosok yang bisa menyatukan semua kelompok dan golongan. Mbah Moen punya jasa yang sangat besar kepada bangsa kita," lanjutnya.

Acara yang dihadiri seluruh Ketua dan Sekretaris Pimpinan Ranting di bawah koordinasi PAC GP Ansor Kecamatan Pegantenan itu kemudian dipungkasi dengan makan bersama. (ahn/dur)
Share:

Tujuh Hari Wafatnya Mbah Moen, PMII STAI-MU Gelar Tahlil dan Doa Bersama

Pamekasan — Pasti Aswaja — Pengurus Komisariat (PK) Pergerakan Mahasiswa Islam Imdonesia (PMII) Sekolah tinggi agama islam Miftahul ulum (STAI-MU) Pamekasan peringati tujuh hari wafatnya KH. Maimoen Zubair atau Mbah Moen dengan bertahlil dan doa bersama, Senin sore (12/18/2019) di kediaman Imam Syafi'i, Ketua PK PMII STAI-MU, Karangpenang, Sampang, Madura.

Acara yang diinisiasi Wakil Ketua Tiga (Bidang Keagamaan) PK PMII STAI-MU ini dimaksudkan mengharap aliran berkah dan sebagai bukti kecintaan terhadap Mustasyar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Itu.

Hal tersebut diungkapkan Mohammad Ghufron, selaku Ketua Tiga PK PMII STAI-MU. Menurutnya, sangat wajar Kader PMII menunjukkan kecintaannya terhadap ulama, khususnya kiai-kiai NU.

“Cinta terhadap ulama itu merupakan sebuah keharusan bagi kita semua selaku kader PMII, karena ulama adalah warisannya para nabi, terutama cinta terhadap ulama NU. Apa lagi PMII ini lahir dari NU,” ucapnya.

Selain tahlil bersama, agenda itu juga bertujuan mempererat tali silaturrahim antar pengurus.

“Maka dari itu, kami mengadakan agenda ini ini; pertama, bukti kecintaan kami terhadap almarhum Mbah Moen, selaku mustasyar PBNU; kedua, untuk mempererat tali silaturrahim antar pengurus,” pungkasnya. (ari/bor)
Share:

Saturday, August 10, 2019

Pemuda Jati Jajar Pasang Gambar Pahlawan di Sepanjang Jalan

Pamekasan — Pasti Aswaja — Banyak cara yang bisa dilakukan dalam merayakan Hari Ulang Tahun (HUT) Republik Indonesua ke-74. Salah satunya seperti yang dilakukan oleh puluham pemuda Dusun Jati Jajar, Desa Palengaan Laok, Palengaan, Pamekasan.

Para pemuda ini patungan secara suka rela guna membeli sekira 600 gambar pahlawan, umbul-umbul dan Bendera Merah Putih. Puluhan pemuda itu memasangnya di sepanjang jalan sampai perbatasan antara Desa Palengaan Laok dengan Desa Palengaan Daja.

Syaf'at, salah satu pemuda setempat, mengatakan, hal itu dilakukan guna mengungkapkan kebahagiaan dalam menyambut datangnya hari kemerdekaan tanggal 17 Agustus mendatang.

"Ini juga sebagai ungkapan terima kasih kami kepada para pahlawan yang telah banyak berkorban agar Sang Merah Putih dapat berkibar dengan perkasa di negeri ini," lanjut pengurus Pipinan Anak Cabang (PAC) Gerakan Pemuda (GP) Ansor Kecamatan Palengaan itu, Sabtu (10/08/2019).

Mantan aktivis Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Universitas Islam Madura (UIM) Pamekasan ini juga ingin mengajak masyarakat di desanya supaya turut mengenang dan menghorati jasa-jasa para pahlawan.


"Karena kata Bung Karno, bangsa yang besar itu bangsa yang menghormati jasa para pahlawannya. Nah, saya harap, tindakan kecil ini dapat menjadi awal bangsa ini menjadi bangsa yang besar dan disegani bangsa-bangsa yang lain," pungkasnya.

Selain memasang gambar para pahlawan, para pemuda itu juga memasang umbul-umbul dan Bendera Merah Putih. Pemasangan berlangsung selama dua hari, Jumat-Sabtu (9-10/08/2019). (uki/ahn)
Share:

Thursday, August 8, 2019

PC GP Ansor Pamekasan Gelar Tahlil dan Doa Bersama Untuk Mbah Moen

Pamekasan — Pasti Aswaja — Pengurus Pimpinan Cabang (PC) Gerakan Pemuda (GP) Ansor Kabupaten Pamekasan menggelar tahlil dan doa bersama untuk mendiang KH. Maimoen Zubair atau Mbah Moen, Kamis malam (08/08/2019) di Sekretariat PC GP Ansor Pamekasan, Kompleks Kantor PCNU Pamekasan, Jl. R. Abd. Aziz, No. 95 Pamekasan.

Wakil Ketua PC GP Ansor Pamekasan, Tabri S. Munir, mengatakan, pelaksanaan agenda tersebut selain mendoakan Mbah Moen juga bertujuan mengharap aliran berkah dari almarhum. "Sehingga kita kelak di akhirat diakui sebagai santri beliau," ucapnya, disahut ucapan amin pengurus yang hadir.

"Kita di sini juga bertujuan memberikan kesaksian bahwa Mbah Moen ini adalah pribadi yang baik dan saleh," lanjutnya.

Sebelum doa bersama dan tahil dimulai, para pengurus yang hadir diberi kesempatan menyampaikan pengalaman ataupun kekagumannya yang berkenaan dengan kebaikan dan karamah almarhum.

Jamaludin, Kepala Satuan Koordinasi Cabang (Kasatkorcab) Barisan Ansor Serbaguna (Banser) Pamekasan, dalam penyampaiannya menuturkan keistiewaan Mbah Moen. Menurutnya, saat ini tidak ada yang lebih bahagia dibadingkan Mbah Moen.

"Saat mendengar kabar kepergian beliau, jiwa Banser saya bangkit. Saya teringat pesan-pesan beliau bagaimana menjaga ulama dan NKRI. Beliau itu doanya meminta supaya wafat di Makkah dan hari Selasa. Dan doa itu dikabulkan oleh Allah," ucapnya sambil terisak.

Tak kuasa menahan tangis, Jamal menghentikan penyampaiannya. Acara doa bersama dan tahlil pun akhirnya dimulai. (ahn/uki)
Share:

Berteman Dengan Kader NU, Budy Tjoanda Ucapkan Syahadat

Jakarta — Pasti Aswaja — Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) menuntun Budy Tjoanda, seorang pria kelahiran Tangerang, mengucapkan dua kalimat syahadat di kantornya, Jl. Kramat Jaya No. 164 Jakarta.

Proses pengucapan kalimat syahadat itu diunggah oleh akun YouTub NU Channel, Kamis (08/08/2019).

Dalam video berdurasi 2 menit itu Budy menuturkan alasannya memeluk Islam melalui PBNU. Menurutnya, ia berislam lantaran kagum kepada kehidupan sosial temannya yang tak lain merupakan kader NU.

"Pertama, memang karena melihat salah satu teman dengan kehidupannya. Dia yang berjalan sama saya kurang lebih satu tahun. Dia muslim. Dia menunjukkan ke saya tidak memaksa saya untuk menjadi Islam, tapi saya melihat dengan tindak-lakunya," paparnya.

Budy bersyukur karena dirinya memeluk Islam tanpa dipaksan dan didoktrin. Ia memeluk agama Islam karena melihat kehidupan nyata melalui temannya yang NU.

"Kita melihat kehidupan mereka seperti apa, mereka dengan penuh kasih, mereka dengan penuh perhatian, mereka saling untuk mengingatkan. Dengan tingkah lakunya itulah yang membuat saya, istiahnya, oh seperti ini (Islam. Red.)," pungkasnya. (fiq/ahn)
Share:

Kegiatan Rutinan, GP Ansor Proppo Doakan Mbah Moen

Pamekasan — Pasti Aswaja — Kegiatan rutin yang biasa dilaksanakan oleh Majelis Dzikir dan Sholawat (MDS) Rijalul Ansor Pimpinan Anak Cabang (PAC) Gerakan Pemuda (GP) Ansor Kecamatan Proppo membacakan doa dan tahlil untuk almarhum KH. Maimoen Zubair atau Mbah Moen, Rabu malam (07/08/2019), di Kediaman Abd. Salam, salah satu pengurusz Desa Toket, kecamatan setempat.

Usai acara, Subhan Maulana selaku Ketua PAC GP Ansor Proppo mengatakan, sebagai "santri ideologis" Mbah Moen dirinya beserta kader Ansor lainnya sangat merasa kehilangan atas wafatnya Mustasyar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama itu.

"Dalam kondisi negeri yang karut-marut ini, Mbah Moen dipanggil oleh Allah SWT. Tugas kita sebagai 'santri ideologis' al-maghfur lah menjadi semakin berat. Kita hanya mampu berdoa semoga beliau mendapatkan tempat yang muliai di sisi Rabb al-'Alamin, dan berkahnya selalu menyertai kita," ucapnya.

Alumni Pondok Pesantren Miftahul Ulum Bettet Pamekasan ini menambahkan, kepergian Mbah Moen meninggalkan duka mendalam. Tidak hanya bagi warga Nahdlatul Ulama, tapi seluruh masyarakat Indonesia juga merasa kehilangan.

"Mbah Moen itu guru bangsa. Semua masyarakat Indonesia dari berbagai latar belakang agama mendoakan beliau. Karena setiap ceramahnya selalu menekankan pentingnya persaudaraan, kedamaian dan persatuan NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia. Red.). Insya Allah beliau mendapatkan nikmat kubur," pungkasnya.

Dalam kesempatan itu, hadir 27 Ketua Pimpinan Ranting GP Ansor se-Kecamatan Proppo bersama sekretaris, Syafiuddin (Ketua PC GP Ansor Pamekasan), K. Hambali (Wakil Ketua PCNU Pamekasan). Bertindak sebagai pembicara, RPA. Wazirul Jihad selaku Pembina PC GP Ansor Pamekasan yang juga menjabat Ketua Lembaga Seniman Budayawan Muslkmin Indonesia (LESBUMI) Pamekasan. (ahn/uki)
Share:

Wednesday, August 7, 2019

PMII Pamekasan Gelar Yasinan dan Tahlilan Untuk Mbah Moen

Pamekasan — Pasti Aswaja — Pengurus Cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PC PMII) Pamekasan menggelar pembacaan yasin dan tahlil bersama untuk KH. Maimoen Zubair, Rabu malam (07/08/2019) di Taman Monomen Arek Lancor Pamekasan.

Acara yang juga dihadiri oleh kader PMII dari luar Kabupaten Pamekasan itu tak lain hanya ingin mengharap aliran berkah dari Mustasyar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) itu.

Lian Fawahan dalam sambutannya mengatakan, PMII Pamekasan sangat merasa berduka-cita atas wafatnya Mbah Moen sebagai guru bangsa yang tidak akan pernah tergantikan.

“Kami, PMII Pamekasan merasa sangat berduka-cita atas wafatnya guru bangsa kita dan tokoh bangsa kita, karena beliau adalah panutan seluruh umat yang tidak akan pernah tergantikan di negara kita,” tutur Ketua Umum PC PMII Pamekasan itu.

Ia berharap, PMII Pamekasan setidaknya bisa mencetak dai dan tokoh agama, sebagai generasi yang akan meneruskan perjuangan almarhum, kiai atau tokoh agama yang selalu menyejukan masyarakat bukan malah memanaskan.

“Makanya kami berharap, setidaknya PMII Pamekasan bisa mencetak tokoh dan dai sebagai ganti dari beliau, seorang kiai dan tokoh yang mampu menyejukan masyarakat yang tidak pernah memanaskan bangsa,” pungkasnya. (ari/ahn)
Share:

Tor-Catoran, Komunitas Ataretan Hadirkan Aan Ansori dan Pendeta Hendry

Pamekasan — Pasti Aswaja — Pemuda lintas iman dan pengagum Gus Dur di Pamekasan yang tergabung dalam Komunitas Ataretan, Rabu siang (07/08/2019), menggelar Tor-Catoran atau obrolan santai bertajuk "Beragama Dengan 9 Nilai Utama Gus Dur" di taman Monumen Arek Lancor Pamekasan, Madura.

Acara yang diikuti beberapa komunitas budaya dan lintas iman itu menghadirkan Aan Ansori, Koordinator Jaringam Islam Anti Diskriminasi dan Pendeta Hendry Sihasale, Pimpinan Gereja Jam-ajaman Pamekasan sebagai pembicara.

Muhammad Abror, Koordinator Komunitas Ataretan menyampaikan, penting bagi seluruh masyarakat, khususnya kalangan Pemuda mengetahui nilai-nilai warisan KH. Abdurrahman Wahid, yang akrab disapa Gus Dur.

Pria yang akrab disapa Abong itu mengungkapkan, pihaknya sengaja memilih lokasi acara di areal Monumen Arek Lancor, lantaran ada pesan perdamaian yang tidak banyak diketahui oleh masyarakat Pamekasan sendiri. 

"Di sini ada dua tempat ibadah yang sangat berdekatan, yaitu Masjid dan Gereja. Monumen Arek Lancor ini berada di antara keduanya. Jadi, ada pesan tersendiri yang mesti diketahui bersama, bahwa hal itu melambangkan Pamekasan sebagai kota yang menjunjung tinggi nilai persaudaraan antar umat beragama," ungkapnya.

Dalam ulasannya, Pendeta Hendry yang diberi kesempatan pertama menyampaikan pesan perdamaian, sebagaimana yang diajarkan Gus Dur. "Inti dari ajaran Gus Dur itu adalah kemanusiaan," paparnya.

Sementara itu, Aan Ansori dalam penyampaiannya mengutip empat dari sembilan nilai utama Gus Dur; ketuhanan, kemanusiaan, kesederhanaan dan keadilan.

"Dalam konsep ketuhanan prinsipnya adalah respecting god of respecting believe. Ketika bicara kemanusiaan, pada dasarnya manusia itu baik. Dalam hal kesederhanaan dan keadilan, kita tahu bersama bagaimana cerita Gus Dur setelah dilengserkan dari Presiden," jelasnya. 

Diakhir acara, Aan Ansori dan Pendeta Hendry bergantian memimpin doa bersama untuk almarhum KH. Maimoen Zubair. (ahn/dur)
Share:

Home Style

Contact Form

Name

Email *

Message *

Ads

Ads

Latest News

Popular Posts

Blog Archive