Thursday, August 27, 2020

Sebut Amaliah Kiai-kiai Palengaan Tak Berdalil, Gasper Kecam Andi Octavian Latief


Pamekasan - Pasti Aswaja -
Pernyataan mantan juara dunia olimpiade fisika, Andi Octavian Latief, dalam sebuah video viral yang menyebutkan kiai-kiai di Kecamatan Palengaan, Pamekasan mengamalkan amaliah tradisional tanpa didasari dalil-dalil dan mempraktekan amaliah yang aneh-anehndikecaman oleh Abdul Wafi, anggota Gerakan Santri dan Pemuda Rahmatan Lil Alamin (Gasper) Madura Bidang Kajian Keagamaan.

Pernyataan Andi yang tak lain juga berasal dari Palengaan itu, menurut Wafi, melukai hati santri, alumni-alumni pesantren Kecamatan Palengaan dan guru-gurunya.

Tidak hanya itu, kepada Pasti Aswaja Wafi menyebutkan, pernyataan Andi juga membuat resah masyarakat Palengaan yang sejak dulu hidup rukun, tenang, damai dan nyaman dalam menjalankan ajaran agama.

"Dulu kami sangat bangga kepadanya, karena prestasi dan pencapaian yang luar biasa. Namun, kali ini situasinya sudah berbeda. Dia mulai berani menyalahkan amaliah masyarakat yang sesuai dengan dalil yang dipelajari di madrasah dan pesantren, sebagaimana ajaran Islam Ahlussunnah Wal Jamaah. Itu sikap yang tidak berakhlak," jelas Wafi, sapaan akrabnya.

Wafi memaparkan, pernyataan Andi lainnya yang menyinggung perasaan santri dan alumni pesantren ialah, kebiasaan masyarakat pada Jumat legi (manis. Madura) dan meyakini sesuatu yang tidak ilmiah merupakan syirik ashghar.

Kontrobersial


"Itu pernyataan orang yang tidak mengerti agama dan menunjukkan kalau dirinya bodoh. Padahal, tidak semua yang ada di dalam agama ini bisa diilmiahkan (ta'abbudi.red), seperti siksa kubur, doa dan sedekah untuk mayat, serta hari kiamat. Itu tidak bisa diilmiahkan, tapi ada dalilnya," paparnya.

Wafi menyarankan, agar Andi fokus pada aktifitasnya dan berbicara sesuai dengan kapasitas yang ia miliki.

"Kalau mau berbicara soal agama, belajar dulu tentang agama yang baik dan benar. Ngaji tafsir, fikih, balaghah dan kitab-kitab lain yang ada di pesantren, bukan belajar dari internet. Sebaiknya, kalau memang dia basicnya ahli fisika, tidak perlu bicara soal agama," jelasnya.

Wafi menegaskan, jika Andi tetap menyalahkan dan mengusik amaliah masyarakat, maka pihaknya akan melakukan gerakan penolakan dan turun langsung bersama masyarakat. (bor)

Share:

PAC IPNU-IPPNU Palengaan 2020-2022 Resmi Dilantik


Pamekasan - Pasti Aswaja -
Pimpinan Anak Cabang (PAC) Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama - Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPNU-IPPNU) Palengaan periode 2020-2022 resmi dilantik, Kamis pagi (27/08/2020) di Aula Pondok Pesantren Bustanul Ulum Sumber Anom, Angsanah, Palengaan, Pamekasan, Jawa Timur. Ikrar baiat kepengurusan PAC IPNU dipandu langsung oleh Badrud Tamam, Ketua Pimpinan Cabang (PC) IPNU Pamekasan dan Kepengurusan PAC IPPNU Fathiyatul Jannah, Ketua PC IPPNU Pamekasan.

Usai dilantik, Ahmad Ghufron, Ketua PAC IPNU dalam sambutannya menyampaikan, pihaknya bersama kepengurusan IPNU dan IPPNU berkomitmen menerima arahan Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Palengaan dan bersinergi dengan Badan Otonom (Banom) lainnya.

"Kami mohon doa restu dan bimbingan dari para masyayikh, serta senioritas IPNU-IPPNU, sehingga tujuan-tujuan kami dalam menjalankan tugas organisasi bisa terlaksana secara maksimal," pintanya. 

Sementara itu, K. Mukhlis Natsir, Ketua MWCNU Palengaan mengimbau, agar IPNU dan IPPNU Palengaan bisa memberikan corak dan warna baru, sehingga bisa memaksimalkan sinergitas dengan organisasi lintas pemuda lainnya.

"NU-kan semua lembaga pendidikan di Kecamatan Palengaan. Hijaukan lembaga-lembaga dan berikan pemahaman keagamaan yang santun dan sesuai ala thariqati Ahlussunnah Wal Jamaah," tegas alumni PMII Surabaya itu.

Hadir pada kesempatan itu, KH. Taufik Hasyim, Ketua PCNU Pamekasan yang juga Pengasuh Pondok Pesantren Bustanul Ulum Sumber Anom dan elemen Banom MWCNU Palengaan. (bor)

Share:

Saturday, August 22, 2020

Mustasyar PWNU Jawa Timur Berbelasungkawa Wakil Rais Syuriah PCNU Pamekasan Mangkat

Pamekasan - Pasti Aswaja -
Kepergian Wakil Rais Syuriyah Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Pamekasan, KH. Moh. Lutfi Ishaq, menyisakan duka yang sangat mendalam bagi KH. Moh. Muddatstsir Badruddin, Mustasyar Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur.

Dalam rilis yang diterima Pasti Aswaja, Sabtu pagi (22/08/20), Pengasuh Pondok Pesantren (PP) Miftahul Ulum Panyeppen, Potoan Laok, Palengaan, Pamekasan, itu mengaku sangat bersedih dan terkejut mendengar berita kepergian almarhum. 

"Atas nama saya pribadi sekeluarga dan atas nama keluarga besar PP Miftahul Ulum Panyeppen, Palengaan, Pamekasan, beserta segenap jajaran pengurus Yayasan Al-Miftah, merasakan kesedihan hati yang sangat mendalam atas wafatnya KH. Moh. Lutfi Ishaq," tulis besan KH. Miftahul Achyar, Rais 'Aam PBNU itu. 

Selain dikenal sebagai Pengasuh di PP Panjalin, Akkor, Palengaan, dan Wakil Rais Syuriyah di PCNU Pamekasan, almarhum juga merupakan pembantu khusus di keluarga besar PP Miftahul Ulum Panyeppen. 

Kiai Muddatstsir mendoakan almarhum agar arwahnya diterima di sisi Allah dengan penuh rahmat dan dapat merasakan kebahagiaan sebagai syahid fi al-akhirah. 

Tidak hanya itu, Kiai Muddatstsir juga mendoakan keluarga almarhum dan pesantren yang ditinggalkan. 

"Semoga keluarga yang ditinggalkan beserta keluarga besar pondok pesantren tersebut diberi tambahan rahmat, taufik dan inayah Allah SWT, penuh sabar, tabah dan tawakal, sehingga memperoleh pahala yang besar,"pungkasnya. 

Sebagai informasi, KH. Moh. Lutfi Ishaq mengembuskan nafas terakhirnya, Kamis malam (20/08/20). (bor/ahn)
Share:

Tuesday, August 4, 2020

Mualaf Asal NTT Bahagia Dibimbing Mustasyar PWNU Jawa Timur

Pamekasan - Pasti Aswaja - Seorang mualaf asal Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT), Alosius Kadi Malo, mengaku bahagia dirinya dibimbing oleh Mustasyar Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur yang juga pengasuh Pondok Pesantren Miftahul Ulum Panyeppen, Palengaan, Pamekasan, KH. Moh. Muddatstsir Badruddin.

Pria 30 tahun itu menuturkan, dirinya mengenal Islam sejak tahun 2018 silam. Ia mengaku hatinya tersentuh melihat ketenangan umat Islam saat melaksanakan salat. Ketika itu pula, ia bertemu Iwan, mantan Kepala Desa Blumbungan Pamekasan. Kepada Iwan, Alosius mengutarakan niatnya memeluk agama Islam. Iwan pun membimbing Alosius membaca dua kalimat syahadat.

Ketika di Lembaga Permasyarakatan (Lapas) kelas 2 Pamekasan, Alosius bertemu Ustaz Fathorrohman dan dibimbing membaca dua kalimat syahadat disaksikan oleh Junaidi (Kepala Desa Blumbungan), Muhammad Saleh (Pegawai Lapas), Kris (Dokter Lapas).

"Kemudian saya sungguh merasa bahagia bahwa saat ini saya dikukuhkan dan dibimbing ulang oleh RKH. Moh. Muddatstsir Badruddin, Pengasuh Pondok Pesantren Miftahul Ulum Panyeppen, Pembina Yayasan Al-Miftah dan Mustasyar PWNU Jawa Timur," ucapnya, Selasa malam (04/08/2020).

Dilaksanakan di Masjid Jami’ An-Nashor kompleks Pondok Pesantren Miftahul Ulum Panyeppen, pengukuhan tersebut disaksikan oleh para kiai, ustaz, dan para santri. Hadir juga Ketua Majelis Ulama Indinesia (MUI) Pamekasan, KH. Ali Rahbini Abd. Latif, dan Kepala Kementerian Agama (Kemenag) Pamekasan, Fandi, serta Kepala Kepolisian Sektor (Kapolsek) Palengaan, mewakili Kepala Kepolisian Resor Pamekasan.

Sebagaimana tradisi umat Islam, usai mengikrarkan kalimat syahadat, pria yang tinggal di Jl. Jokotole Pamekasan itu mendapatkan nama baru, yakni Mohammad Sulaiman Malo. (bor/ahn)
Share:

Ekspresikan Cinta Lingkungan, PMII Pamekasan Adakan 'Rokat Tana'

Pamekasan - Pasti Aswaja - Sebagai ungkapan kecintaan terhadap lingkungan dan keprihatinan atas pengrusakannya, Pengurus Cabang (PC) Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Pamekasan menggelar doa bersama yang dikemas dengan 'Rokat Tana', Senin sore (03/08/2020), di Desa Larangan Badung, Palengaan, Pamekasan, Jawa Timur.

Kegiatan yang dilaksanakan di kediaman Lutfi, Ketua Cabang PMII Pamekasan tersebut disambut antusias seluruh anggota dan Kader PMII, serta masyarakat sekitar yang merasakan dampak keberadaan Galian-C Ilegal.

"Ini merupakan ungkapan kecintaan kami bersama masyarakat di Kabupaten Pamekasan terhadap lingkungan hidup, sekaligus upaya menghidupkan kembali tradisi 'Rokat Tana' yang sudah turun-temurun," ungkap Lutfi.

Lebih lanjut, Lutfi mengatakan, kegiatan tersebut juga dimaksudkan untuk merespon krisis ekologi tanah di Kabupaten Pamekasan yang berakibat maraknya tambang batuan ilegal yang dapat merusak lingkungan hidup.

"Karena dalam kajian agraria antropologis, tanah meupakan tempat bertemunya segala kehidupan, sehingga kegiatan 'Rokat Tana' menjadi upaya tanding terhadap pengrusakan lingkungan hidup," jelasnya.

Hadir pada kesempatan itu, Raden Panji Ahmad Wazirul Jihad, Ketua Lembaga Seni Budaya Muslimin Indonesia Nahdlatul Ulama (Lesbumi NU) Pamekasan, yang memimpin ritual keagamaan khas tradisi rokat, dilanjutkan dengan sarasehan 'Rokat Tana'. (nal/bor)
Share:

Tuesday, July 21, 2020

Ketum PBNU, Ramalan Joyoboyo Berasal dari Kitab "al-Asrar"

Pamekasan - Pasti Aswaja - Tidak sedikit warga negara Indonesia, khususnya di Jawa, yang memercayai ramalan Raja Jayabaya atau Joyoboyo, yaitu sebuah ramalan tentang keadaan Nusantara di suatu masa pada masa datang. Meski demikian, sedikit masyarakat yang mengetahui sumber pengetahuan yang diperoleh oleh raja Kediri tersebut.

Ketua Umum (Ketum) Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH. Said Aqil Siradj menyampaikan, pengetahuan Raja Joyoboyo itu diperoleh dari sebuah kitab berjudul "al-Asrar" yang berarti Rahasia. Kitab ini dibawa oleh Syekh Wasil, utusan raja Persia ke tanah Jawa.

"(Kitab ini, Red.) Diajarkan kepada sahabatnya Raja Joyoboyo, Dhoho, Kediri. Diterjemahkan, jadilah 'Ramalan Joyoboyo'. Padahal itu kitab Arab aslinya 'Kitab al-Asrar', kitab 'Rahasia' yang dinawa Syekh Wasil," papar Guru Besar Ilmu Tasawuf di Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya itu.

Sebelum itu, mantan aktivis Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Krapyak, Yogyakarta itu menceritakan tentang kedatangan penyebar agama Islam yang berdakwah di tanah Jawa sebelum wali sembilan.

"Pertama kali seorang ulama datang ke sini bernama Syekh Ahmad Subakir. Itu dari Persi. Karena orang pedagang Persi kalau datang ke Jawa, (datang, Red.) lima puluh mati dua puluh; berangkat seratus, mati tiga puluh. Maka raja sana perintah ulama Ahmad Subakir," tutur ayah empat orang anak itu.

Raja Persia, lanjut Kiai Said, kemudian memerintahkan Syekh Subakir agar mencari informasi tentang penyebab kematian para pedagang. Hasil penelusuran Syekh Subakir, menurut Kiai Said, lantaran di tanah Jawa waktu itu dihuni oleh banyak makhluk halus yang biasa mengganggu manusia.

"Banyak dedemitnya, banyak setannya, banyak makhluk jahat. Maka, oleh Syekh Ahmad Subakir makhluk-makhluk halus itu dirantai, dibuang ke Laut Selatan. Ada dua makhluk halus yang tidak nakal, tidak mengganggu Islam, tidak mau masuk Islam, tapi tidak ganggu Islam. Namanya Sang Hyang Semar dan Sang Hyang Togog," kisahnya.

Kisah ini disampaikan oleh pengasuh Pondok Pesantren Luhur Al-Tsaqafah DKI Jakarta itu dalam sebuah forum bertajuk "Dakwah Digital dan Komitmen Keindonesiaan Bersama Prof. Dr. KH. Said Aqil Siradj dan Setyanto Hantoro" yang disiarkan secara langsung melalui kanal YouTube NU Channel, Selasa sore (21/07/2020). (bor/nal)
Share:

Sunday, July 19, 2020

Dinilai Tidak Bisa Terjemahkan UU Pesantren, PMII Jatim Minta Menag Diganti

Surabaya - Pasti Aswaja - Undang-Undang Nomor 18 tahun 2019 tentang Pesantren yang disahkan dalam Rapat Paripurna DPR RI, 24 September 2019 lalu belum sepenuhnya terealisasi.

Hal tersebut disampaikan Abdul Ghoni, Ketua Pengurua Koordinator Cabang (PKC) Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Jawa Timur, Sabtu malam (18/06/2020), saat ditemui di Pondok Pemuda Graha Pergerakan, Sidoarjo.

Menurutnya, lemahnya realisasi UU Pesantren itu lantara Menteri Agama (Menag), Fachrul Razi, belum bisa menerjemahkannya dalam bentuk teknik pelaksanaan, padahal UU Pesantren lama disahkan.

"Sampai sekarang belum juga ditindaklanjuti oleh Menteri Agama. Beginilah, kalau punya menteri agama yang tidak paham pondok pesantren," sesal pria kelahiran Sampang, Madura tersebut.

Tidak hanya itu, Ghoni juga menyebutkan, Kementerian Agama Republik Indonesia (Kemenag RI) merupakan lembaga paling tidak serius mulai dari awal kabinet terbentuk.

"Saya sih menyarankan, agar Presiden Jokowi mengambil langkah extraordinary, sesuai pidatonya pada rapat kabinet lalu dan me-reshuffle Menteri Agama, Fachrul Razi," ungkap Ghoni.

Sebagai informasi, pada 18 Juni lalu, dalam Sidang Kabinet Paripurna, Presiden Jokowi menyatakan kekecewaanya terhadap kinerja kementerian dan lembaga negara. Presiden menilai para menteri masih bekerja seperti biasa, padahal Indonesia menghadapi masa pandemi Covid-19. (nal/bor)
Share:

Thursday, July 16, 2020

Ra Hamid, Manusia Memang Diciptakan Berbeda

Pamekasan - Pasti Aswaja - Dalam Alquran Allah menegaskan, manusia memang diciptakan tidak sama: bersuku-suku, berbangsa-bangsa. Hikmah di balik perbedaan ini agar manusia dapat saling mengenal, bersilaturrahim dan saling mengasihi tanpa memandang latar belakangnya.

Pernyataan ini disampaikan oleh tokoh muda Nahdlatul Ulama (NU), RKH. Hamid Muayyad Hasan, dalam agenda rutin bulanan Majelis Dzikir dan Sholawat Rijalul Ansor (MDS-RA) Pimpinan Anak Cabang (PAC) Gerakan Pemuda (GP) Ansor Kecamatan Proppo, Rabu malam (15/07/2020), di Desa Campor, tepatnya di kediaman Ediy Trisatrio, Sekretaris PAC GP Ansor Proppo.

Dalam hal ini, menurut kiai yang akrab disapa Ra Hamid itu, bisa mencontoh akhlak Rasulullah kepada masyarakat non-muslim yang memusuhinya.

"Biarkan orang lain, siapapun selalu caci-maki, yang penting kita tidak. Walapun orang selalu memfitnah dan buruk sangka, yang penting kita tdak seperti itu. Yang dicontohkan oleh baginda kita nabi besar Muhammad SAW, walaupun beliau ketika mau ke masjid selalu diludahi, tapi beliau selalu sabar mengahadapi, sehingga orang yang meludahi itu dapat hidayah berkat nabi kita," paparnya.

Pengasuh Pondok Pesantren Al-Hasan Srambah Proppo itu melanjutkan, warga NU memiliki karakteristik yang khas dalam berdakwah. NU dikenal anti kekerasan, lemah lembut, dan santai. Karakter ini, menurutnya, yang membedakan antara NU dengan komunitas lain.

"Semoga kita tergolong sntrinya Kiai Hasyim (Asy'ari. Red.) dan bisa dimasukkan ke surganya Allah, serta bisa mengikuti jejak langkah Rasulullah sebagaimana ajaran Ahlussunnah wal jamaah," pungkas penasehat Generasi Muda Nahdlatul Ulama (GMNU) Pamekasan itu. (bor/fiq)
Share:

Tuesday, July 7, 2020

NU tetap Setia pada Pancasila

Oleh: Musannan Abdul Hadi Al-Mankoni*

Sudah mafhum, bahwa dalam mengawal Pancasila Nahdlatul Ulama (NU) tidak perlu diragukan. Dalam yel-yel saja, yang sering dikumandangkan dalam setiap momen kegiatan ke-NU-an salah satunya adalah "Pancasila jaya!" Secara harfiah jaya dimaknai sukses atau bisa dimaknai hebat. Dalam hal ini sudah diketahui bersama bahwa selama ini Pancasila sudah sukses menjadi ideologi Indonesia dan tetap menjadi pemersatu anak bangsa. Demikian bentuk apresiasi yang sering kami lakukan terhadap adanya Pancasila.

Hal seperti itu akan senantiasa kami hembuskan untuk memengaruhi alam bawah sadar generasi bangsa. Karena sampai kapanpun negara majemuk seperti Indonesia ini tetap membutuhkan Pancasila sebagai perekat keberagaman suku, ras, agama dan lainnya. Yang jelas bukan khilafah, karena khilafah tidak mengenal keberagaman agama meski mungkin mengenal keberagaman lainnya.

Jauh sebelum banyak orang menghembuskan tentang pentingnya menjaga Pancasila, NU sudah berada pada tataran praktis dalam menjaga Pancasila bukan hanya wacana. Ateisme salah satu paham yang diusung oleh banyak negara komunis—yang konon kabarnya sempat menjadi partai di Indonesia—sudah jelas sekali dalam sejarahnya pernah baku hantam dengan NU. Dalam tragedi itu banyak ulama-ulama kita yang wafat akibat propaganda dan aksi anarkistis PKI. Alhasil, akhirnya PKI dibubarkan di Indonesia melalui Tap. MPRS 1966.

Kenapa ateisme harus diperangi? Karena jelas yang namanya ateisme berseberangan dengan Pancasila yang pada sila pertama berisi, "Ketuhanan yang Maha Esa". Selain itu, negara kita adalah negara agama. Jika ateisme dibiarkan hidup di Indonesia lambat laun negara kita akan menjadi sekuler. Sekularisme ini akan mencabut agama dan kebudayaan yang ada di Indonesia sampai ke akar-akarnya. Yang akhirnya bangsa kita akan kehilangan ruhnya dan akan berisi ruh bangsa lain.

Dalam kasus RUU HIP, gerakan diplomatis banyak dilakukan oleh banyak pihak. Menurut hemat saya gerakan yang dilakukan oleh pihak tersebut adalah bentuk kepedulian kepada Pancasila. Gerakan yang dilakukan oleh pihak-pihak itu mengindikasikan pengaruh dan kekuatannya untuk memengaruhi kebijakan negara. Bagi NU untuk mengintervensi kebijakan negara tidak perlu turun jalan, cukup dengan maklumat. Pasca maklumat, ketua MPR langsung silaturahmi kepada PBNU. Itulah, NU.

Dalam kacamata NU, kalau bisa dengan maklumat, ngapain harus turun jalan. Kalau bisa hanya dengan satu lembar kertas, buat apa meluangkan banyak waktu turun jalan peras keringat dan mengeluarkan banyak materi. Yang paling penting dari sebuah gerakan adalah efek atau dampak yang akan ditimbulkan oleh sebuah kebijakan. Dan yakin bahwa maklumat adalah jalan yang lebih baik daripada turun jalan. Catatan: kasus ini hanya untuk soal RUU HIP bukan lainnya. Sebab kalau menyangkut ideologi bangsa memang penting perannya organisasi besar seperti NU.

Dan hikmah dari munculnya RUU HIP adalah banyak orang yang dari dulu membentur Pancasila kini berbalik mendukung Pancasila. Harus dong, kalau tidak ingin negara kita menjadi sekuler. Bukankah masih lebih baik Pancasila daripada sekuler. Pancasila punya Tuhan sementara sekuler akan menyeret manusia-manusia Indonesia sejauh-jauhnya dari Tuhannya. Akhirnya, maksiat akan ada di mana-mana, karena memang manusia-manusia Indonesia masih belum siap. Sebab, iman saja harus dijaga oleh negara dengan menggunakan Peraturan Perundang-undangan.

Wallahu alam.

Pamekasan, 07 Juli 2020
*Sekretaris Lembaga Seniman Budayawan Muslimin Indonesia (LESBUMI) PCNU Pamekasan
Share:

Sunday, July 5, 2020

Ilmu Harus Tetap Ditulis


Supaya ilmu dapat masuk ke dalam hati dan pikiran dengan sempurna sebenarnya mudah, yaitu keseriusan dan fokus. Jika bermain-main, maka ilmu tidak terserap dengan baik. Hal ini pula yang diingatkan dalam Al-Qur'an:

مَا يَأْتِيهِم مِّن ذِكْرٍ مِّن رَّبِّهِم مُّحْدَثٍ إِلَّا اسْتَمَعُوهُ وَهُمْ يَلْعَبُونَ ° لاهِيَةً قُلُوبُهُمْ ۗ 

"Tidak datang kepada mereka suatu ayat Al Quran pun yang baru (diturunkan) dari Tuhan mereka melainkan mereka mendengarnya, sedang mereka bermain-main, (lagi) hati mereka dalam keadaan lalai. (Al-'Anbyā': 2) 

Saat pengajian di masjid -karena ada banyak jamaah- maka saya pakai proyektor agar mereka fokus mendengarkan dan membaca tulisan dalil di layar. Cara ini lebih baik dari pada ngaji 'kupingan'. Namun saya tetap berkeyakinan bahwa metode terbaik untuk ilmu adalah ditulis, sebagaimana Sabda Rasulullah shalallahu alaihi wasallam:

ﻗﻴﺪﻭا اﻟﻌﻠﻢ ﺑﺎﻟﻜﺘﺎﺏ (ﻃﺐ ﻛ) ﻋﻦ اﺑﻦ ﻋﻤﺮﻭ.

"Ikatlah ilmu dengan buku/tulisan" (HR Thabrani dan Hakim dari Abdullah bin Amr) 

Saya pernah melihat tayangan di berita tentang metode menghafal Al-Qur'an yang terdapat di Maroko. Para santrinya diberi papan tulis dan kapur, kemudian menulis ayat di papan tersebut, lalu dihafalkan, setelah lancar kemudian dihapus. Ternyata cara seperti ini lebih kuat memorinya dan tahan lama. Konon cara ini sudah diwariskan berabad-abad. Saat saya di pondok dulu juga ada kewajiban menulis mata pelajaran dan dilegalisir sebagai syarat keabsahan mengikuti ujian sekolah. Ternyata kiai kami juga menulis kitab dengan makna tetap bertahan hingga sekarang. 

Terlebih jika diterapkan kepada usia belia, sebagaimana dalam riwayat: 

ﻋﻦ ﺃﺑﻲ اﻟﺪﺭﺩاء ﻗﺎﻝ: ﻗﺎﻝ ﺭﺳﻮﻝ اﻟﻠﻪ - ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ: " «ﻣﺜﻞ اﻟﺬﻱ ﻳﺘﻌﻠﻢ اﻟﻌﻠﻢ ﻓﻲ ﺻﻐﺮﻩ ﻛﺎﻟﻨﻘﺶ ﻋﻠﻰ اﻟﺤﺠﺮ، ﻭﻣﺜﻞ اﻟﺬﻱ ﻳﺘﻌﻠﻢ اﻟﻌﻠﻢ ﻓﻲ ﻛﺒﺮﻩ ﻛﺎﻟﺬﻱ ﻳﻜﺘﺐ ﻋﻠﻰ اﻟﻤﺎء» ". ﺭﻭاﻩ اﻟﻄﺒﺮاﻧﻲ ﻓﻲ اﻟﻜﺒﻴﺮ، ﻭﻓﻴﻪ ﻣﺮﻭاﻥ ﺑﻦ ﺳﺎﻟﻢ اﻟﺸﺎﻣﻲ، ﺿﻌﻔﻪ اﻟﺒﺨﺎﺭﻱ ﻭﻣﺴﻠﻢ ﻭﺃﺑﻮ ﺣﺎﺗﻢ. 

Hadis: "Perumpamaan orang yang mencari ilmu saat kecil adalah seperti memahat di atas batu. Perumpamaan orang yang mencari ilmu saat tua adalah seperti menulis di atas air". (HR Thabrani. Marwan bin Salim dinilai dhaif oleh al-Bukhari, Muslim dan Abu Hatim).
Share:

Thursday, July 2, 2020

Bupati Dan Banom-Banom PCNU Pamekasan Tanda Tangan Tolak Pembahasan RUU HIP

Pamekasan - Pasti Aswaja - Pengurus Pimpinam Cabang (PC) Gerakan Pemuda (GP) Ansor bersama Ketua-ketua Badan Otonom (Banom) Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Pamekasan mendatangi Mandhapa Aghung Ronggosukowati Pamekasan guna menyampaikan aspirasi dan pernyataan sikap penolakan pembahasan Rancangan Undang-Undang (RUU) Haluan Ideologi Pancasila (HIP), Rabu sore (01/07/2020).

Rombongan yang dipimpin Ketua PC GP Ansor Pamekasan, Syafiuddin, serta didampinggi Ketua PCNU Pamekasan, KH. Taufik Hasyim, ditemui langsung oleh Bupati, H. Badrut Tamam, dan Wakil Bupati Pamekasan, H. Raja'e.

Syafiuddin menyampaikan, Pancasila yang selama ini menjadi landasan hidup berbangsa dan bernegara, merupakan sebuah kesepakatan dalam mengatur tata kelola kehidupan berbangsa dan bernegara. Dengan adanya pembahasan RUU HIP dikhawatirkan akan menjadi alat penguasa mengebiri ke-bhinneka-an Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Tidak hanya itu, Pancasila, menurutnya, merupakan konsensus bersama dalam mewujudkan kehidupan berbangsa, bernegara yang bersifat final, sehingga tidak perlu adanya lagi anasir-anasir maupun tafsir-tafsir atas nilai luhurnya.

"Mengajak seluruh pemangku kebijakan di Kabupaten Pamekasan dalam hal ini Bupati Pamekasan, Pimpinan DPRD, Alim Ulama dan tokoh masyarakat bersama-sama menolak proses legislasi RUU HIP," ucapnya Syafi', sapaan akrabnya.

Senada dengan hal tersebut, H. Badrut Tamam dan H. Raja'e juga menolak dengan tegas pembahasan RUU HIP tersebut.

"Saya dan Wabub juga ikut menolak RUU HIP, karna terindikasi akan mencederai Pancasila dan nilai-nilai Pancasila yang yang diperjuangkan para alim ulama dan leluhur kita," ungkapnya.

Badrut juga mengajak semua pihak agar bisa bergandeng tangan dan bersama-sama menjaga Pancasila, membela NKRI, mendorong kesejahteraan dan kemakmuran semua masyarakat Indonesia.

Dalam pertemuan tersebut, Badrut Tamam dan Raja'e bersama para ketua Banom PCNU Pamekasan juga mendandatangani surat pernyataan penolakan pembahasan RUU HIP yang dipersiapkan oleh rombongan. Pernyataan sikap tersebut akan dikirimkan kepada DPR RI. (nal/bor)
Share:

Kompak, GP Ansor Bersama Banom PCNU Pamekasan Tolak RUU HIP

Pamekasan - Pasti Aswaja - Pimpinan Cabang (PC) Gerakan Pemuda (GP) Ansor bersama Badan Otonom (Banom) di lingkungan Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Pamekasan secara tegas menolak Rancangan Undang- Undang (RUU) Haluan Ideologi Pancasila (HIP) yang di canangkan oleh DPR RI. 

Penolakan tersebut tertuang dalam sebuah pernyataan sikap yang dibaca bersama Ketua Muslimat NU, Ketua Fatayat NU, Ketua Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU), Ketua Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU), Kepala Badan Ansor Anti Narkoba (Baanar), Ketua Majelis Dzikir dan Sholawat Rijalul Ansor (MDS-RA), Ketua Pagar Nusa, dan Banser serta disaksikan oleh Ketua dan Sekretaris PCNU Pamekasan, Rabu sore (01/07/2020) di depan kantor PCNU Pamekasan .

Syafiuddin, Ketua PC GP Ansor Pamekasan secara tegas mendesak DPR RI agar mencabut pembasan RUU HIP.

"Kami (Pemuda Ansor) dan semua Banom di bawah naungan NU atas restu PCNU Pamekasan meminta DPR RI untuk mencabut RUU HIP dari Prolegnas (Program Legislasi Nasional. Red.)," ungkap Syafi', sapaannya.

Pancasila, lanjut Syafi', sudah final bagi Indonesia. "Indonesia itu bukan negara Islam dan juga bukan sekuler, tetapi Indonesia adalah negara nasionalis dan religius. Jadi bagi kami (Warga NU) Pancasila sudah final," ucapnya.

Tidak hanya itu, Syafi' juga meminta pemangku kebijakan di Kabupaten Pamekasan supaya turut menolak legislasi RUU HIP.

"Kami juga mengajak pemangku kebjakan di Pamekasan: Bupati dan Wabup (Wakil Bupati. Red.), Pimpinan DPRD, ulama dan masyarakat agar juga menolak legisasi RUU HIP," imbuhnya.

Usai membacakan surat pernyataan sikap penolakan, atas restu PCNU Pamekasan, GP Ansor dan Banom NU menuju Pendopo Ronggosukowati guna mengajak Bupati Pamekasan agar ikut menolak RUU HIP dan menandatangani surat pernyataan tersebut. (bor)
Share:

Monday, June 29, 2020

Tagih Janji Bupati, PMII Pamekasan Beri Waktu 7x24 Jam Soal Galian C Ilegal

Pamekasan - Pasti Aswaja - Pengawalan tambang Galian-C ilegal oleh Pengurus Cabang (PC) Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Pamekasan terus berlanjut.

Hal itu disampaikan melalui press release "PC PMII Pamekasan Menagih Janji Bupati Pamekasan", No: 009.PC-XXX.V-04.08.02.A-1.6.2020 tertanggal 29 Juni 2020.

Dalam rilis itu disebutkan, PC PMII Pamekasan melakukan rapat koordinasi dan evaluasi bersama Ketua Komisariat dan Rayon, Ahad malam (28/06/2020) di Sekretariat PC PMII Pamekasan, Jl. Brawijaya No. 52 Jungcangcang, Pamekasan.

Pada rapat yang membahas tindak lanjut PMII Pamekasan dalam mengawal tuntutan massa aksi yang sebelumnya disampaikan kepada Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Pamekasan menghasilkan tiga poin berikut:

1. Bahwa PC PMII Pamekasan berkomitmen untuk terus mengawal tambang Galian-C ilegal
2. Mendesak kepada Pemerintah Kabupaten Pamekasan (Bupati) untuk segera menindak tambang Galian-C ilegal sekurang-kurangnya 7x24 jam pasca demonstrasi
3. Meminta DPRD Kabupaten Pamekasan bersikap kooperatif dalam menyelesaikan kasus tambang Galian-C ilegal.

Sebelumnya, PMII Pamekasan melakukan aksi tolak tambang Galian-C ilegal di depan kantor Bupati Pamekasan, Kamis (25/06/2020). (bor/nal)
Share:

Home Style

Contact Form

Name

Email *

Message *

Quotes

Quotes

Latest News

Popular Posts