• This is default featured slide 1 title

    Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

  • This is default featured slide 2 title

    Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

  • This is default featured slide 3 title

    Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

  • This is default featured slide 4 title

    Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

  • This is default featured slide 5 title

    Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Saturday, December 15, 2018

Tulisan Tak Berjudul

Oleh: KH. M. Musleh Adnan*

John F Kennedy, Presiden AS ke-35, dalam orasinya pada tanggal 20 Januari 1961 berkata: "Jangan tanyakan apa yang negara dapat perbuat untuk Anda, tetapi tanyakanlah apa yang dapat Anda perbuat untuk Negara".

Kata-kata di atas menurut beberapa sumber ternyata berasal dari filsuf Marcus Tullius Cicero (3 Januari 106 SM - 7 Desember 43 SM). Cicero adalah orator dan negarawan Romawi Kuno yang umumnya dianggap sebagai ahli pidato dan prosa.

Terlepas dari mana sumbernya saya menangkap bahwa kata tersebut merupakan spirit bagi warga negara untuk senantiasa mengerahkan seluruh tenaga dan fikiran memberikan kontribusi positif untuk kemakmuran negara.

Dalam konteks ke-Indonesia-an, kita sebagai warga negara Indonesia yang lahir di Indonesia, makan di Indonesia, bekerja di Indonesia, menikmati sumber daya alam di Indonesia harus berusaha dalam setiap bentuk tindakan dan pemikiran serta upaya menjadikan Indonesia jaya dan disegani bukan justru ingin mendapat sesuatu dari negara apalagi mau merubah visi negara, bentuk dan ideologi negara yang sudah kuat.

Tapi seiring dengan perkembangan zaman, kami sebagai warga negara Indonesia merasa heran bagi sekolompok orang yang memiliki potensi menjadi pemimpin yang visioner, inovatif, bekerja tidak hanya menurut aturan (rule), mampu berpikir lateral tidak hanya linier juga mampu berpikir secara divergen tidak hanya konvergen ketika didapuk menjadi pemimpin publik di daerah menjadi Bupati/Wali Kota atau Gubernur bukan tulus ingin membangun daerahnya, tapi setelah sukses menyulap daerahnya menjadi kota atau propinsi yang maju dengan semua program-program unggulan dan intens memperkenalkan potensi daerahnya kepada dunia dengan iklan layanan melalui media, ternyata semua itu hanya sebagai batu loncatan guna meraih jabatan lebih tinggi (Bupati ingin menjadi Gubernur dan Gubernur ingin menjadi Presiden).

Rakyat sudah lama merindukan keteladanan. Mereka butuh teladan untuk mengedepankan kepentingan bangsa ketimbang kepentingan lainnya, teladan untuk jujur tanpa pura-pura, teladan untuk berkorban demi kemaslahatan bersama.

Indonesia itu sejak dulu memiliki ciri tersendiri dan warganya mempunyai karakteristik, dimana dari terbit hingga terbenamnya matahari, kita melihat orang-orang berpeluh tanpa mengeluh, berkeringat karena semangat, kerja keras menjadi ibadah, ketaatan menjadi kesadaran, kejujuran menjadi harga diri dan kehormatan. Wajah mereka adalah wajah Indonesia yang sebenarya, tangan mereka adalah tangan Indonesia yang sejati, keluhuran budi mereka adalah keluhuran Indonesia yang sesungguhnya.

Sekarang banyak elit di Republik ini menanggalkan begitu saja warisan termahal para pendiri bangsa, yakni karakter bangsa yang dirumuskan lewat Pancasila. Ketika suatu golongan dibiarkan diberangus di altar kebencian oleh golongan lain, misalnya, tak banyak yang bisa bangsa ini lakukan.

Ketika saya berada di bangku sekolah dasar di Jember memperoleh pelajaran bahasa daerah dan juga diajarkan beberapa ajaran sesepuh tentang etika yang dalam bahasa agama sebenarnya disebut akhlaq, tapi saat ini sudah raib entah kemana, misalnya andhap asor (sahaja); tepo seliro (tenggang rasa); ngajeni (menghargai kelebihan); narimo ing pandom (menerima rejeki hidup); urip ora ngonyo (hidup seadanya); gotong royong (saling membantu); ngajeni wong tuwo (menghormati).

Saya meyakini semua prinsip di atas bukan hanya milik daerah tertentu (baca: Jawa), tapi merupakan ciri semua orang Indonesia. Namun, saat ini prinsip-prinsip tersebut hilang seiring perkembangan zaman, malah yang tersisa hanyalah pemandangan para generasi bangsa tenggelam dalam kemajuan zaman dan melupakan warisan leluhur.

_________________
* Pengurus Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama (LDNU) PCNU Pamekasan.
Share:

Thursday, December 13, 2018

PAC Ansor Proppo Rampungkan Ta'aruf Dengan 27 Ranting

Pamekasan — Pasti Aswaja — Pimpinan Anak Cabang (PAC) Gerakan Pemuda (GP) Ansor Kecamatan Proppo, Rabu malam (12/12/18) menggelar ta'aruf kepengurusan ke-4 dengan sembilan ranting, meliputi: Tlangoh, Lenteng, Banyubulu, Rangperang Laok, Rangperang Daya, Samatan, Samiran, Kodik, dan Klampar di Yayasan Tarbiyatus Shibyan, Rangperang Laok, Proppo, Pamekasan. Kegiatan ini menjadi agenda ta'aruf terakir setelah merapungkan pembentukan 27 Pimpinan Ranting di semua desa se-Kecamatan Proppo.

Subhan Maulana, Ketua PAC GP. Ansor Proppo, mengungkapkan rasa syukurnya, karena organisasi yang dipimpinnya mampu melaksanakan lima agenda dalam satu bulan, termasuk pembentukan 27 PR GP Ansor.

"Mudah-mudahan 27 ranting yang sudah dibentuk bisa bahu-membahu memperat tali persaudaran, memperkokoh ukhuwah islamiyah, insaniyah, dan ukhuwah wathaniyah demi persatuan umat serta menebar kedamaian ke seluruh penjuru dunia ," harapnya.

Syafiuddin, Ketua PC. GP. Ansor Pamekasan mengungkapkan kebanggaannya terhadap GP. Ansor Proppo yang terus-menerus aktif melakukan gerakan sampai ke bawah.

"Atas nama PC GP Ansor Pamekasan, saya mohon dukungan dari semua unsur MWC NU Proppo untuk terus mendukung kegiatan PAC GP Ansor Proppo," ungkap Syafik.

Hadir dalam kesempatan ini, KH. Taufik Hasyim, Ketua PCNU Pamekasan yang dalam sambutannya mengajak GP. Ansor agar tetap semangat mengabdi kepada Nahdlatul Ulama.

"Kita aktif di NU ini semata-mata mengharap barokah para muassis NU. Mari kita tingkatkan perjuangan dan pengabdian kita di NU," ajak KH. Taufik. (bor/ahn)
Share:

Wednesday, December 12, 2018

PSNU Pagar Nusa Jadi UKM Baru di STAIMU Pamekasan

Pamekasan — Pasti Aswaja — Pencak Silat Nahdlatul Ulama (PSNU) Pagar Nusa menjadi Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) di Sekolah Tinggi Agama Islam Miftahul Ulum (STAIMU) Pamekasan.

Dikutip Pasti Aswaja dari website resmi STAIMU, Rabu, (12/12/2018), KH. Taufik Hasyim selaku Ketua STAIMU, meminta seluruh mahasiswa di kampus yang ia pimpin supaya bergabung bersama UKM PSNU Pagar Nusa.

Menurutnya, pembentukan UKM baru tersebut bertujuan melatih jiwa dan raga mahasiswa di kampus yang ada di bawah Lembaga Perguruan Tinggi Nahdlatul Ulama (LPTNU) itu supaya menjadi pribadi yang sehat lahir batin.

Kiai Taufik yang juga Ketua PCNU Pamekasan, meminta kepada semua Kaprodi supaya turut serta mendorong seluruh mahasiswa bergabung bersama PSNU Pagar Nusa. Karena, menurutnya, akal yang sehat terdapat dalam raga yang sehat.

“Dan tujuan dari Pagar Nusa ini untuk melatih jiwa dan raga mahasiswa supaya menjadi pribadi yang sehat lahir batin,” lanjutnua. (ahn/bor)
Share:

Sunday, October 21, 2018

Sambut HSN, Yayasan Al-Furqon Gelar Lomba Mars Syubbanul Wathan

Sampang — Pasti Aswaja — Dalam rangka menyambut Hari Santri Nasional (HSN) 2018, Yayasan Al-Furqon, Tanjung, Sampang menggelar Lomba Mars Syubbanul Wathan, Sabtu (20/10/2018). Kegiatan yang diikuti 12 grup perwakilan dari  SMP dan SMK Islam Tanjung Sampang ini dibuka langsung oleh Fudholiy Syahri, Ketua Yayasan.

Dalam sambutannya, Fudholiy mengungkapkan, peringatan HSN ini merupakan rangkaian untuk mendorong santri agar terus berkreasi, khusisnya SMP dan SMK Islam Tanjung, sebagai lembaga pendidikan yang ada di bawah naungan Yayasan Al-Furqon.

"Selain itu, santri juga punya peran penting dalam kemerdekaan bangsa Indonesia, terlebih lagi dibawah Komando KH. Hasyim Asyari. Dengan andil tersebut berdasarkan Keppres mulai 2015 lalu, tanggal 22 Oktober ditetapkan sebagai Hari Santri Nasional," ungkapnya.

Sementara itu, Junaidi, Kepala SMK Islam Tanjung menuturkan, ke depan kegiatan ini tidak hanya berlaku bagi siswa dan santri, namun pihaknya akan menggandeng lembaga pendidikan lain di Kabupaten Sampang dan Pamekasan. 

"Melalui kegiatan semacan ini kami berkeinginan membentengi siswa-siswi dari ancaman radikalisme, dan paham yang bisa membelah bangsa ini," ujar Pengurus MKKS SMK Ma’arif Jawa Timur tersebut.

Pada pembukaan lomba ini hadir Pengurus Yayasan, Dewan Guru beserta Staf TU di bawah naungan Yayasan Al-Furqon Tanjung, Sampang. (bor)
Share:

Tuesday, October 9, 2018

PMII Al-Khairat Kirim Bantuan untuk Palu Melalui PCNU Pamekasan

Pamekasan — Pasti Aswaja — Pengurus Komisariat Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PK PMII) Institut Agama Islam (IAI) Al-Khairat Pamekasan menyalurkan bantuan untuk korban bencana alam Donggala dan Palu di Sulawesi Tengah melalui PCNU Pamekasan, Selasa (09/10/18).

Hasil penggalangan dana sebesar Rp. 2.470.900 ini diterima langsung oleh Sekretaris PCNU Pamekasan, H. Abd. Rahman Abbas, di Kantor PCNU Pamekasan, Jl. R. Abd. Aziz no. 95 Jungcangcang untuk selanjutnya disalurkan melalui PWNU Jawa Timur.

"Atas nama PCNU Pamekasan, saya ucapkan terima kasih atas kepercayaannya," ucap H. Abd. Rahaman.

Fathorrasyi, Ketua Komisariat PMII IAI Al-Khairat berharap, agar bantuan yang dinerikannya bisa dimanfaatkan oleh korban bencana alam Palu, meski tidak seberapa.

"Semoga bermanfaat dan bisa meringankan beban saudara-saudara yang tertimpa musibah di Palu dan sekitarnya," harap Rosi. (bor)
Share:

Mahasiswa IAIN Madura Salurkan Bantuan Untuk Palu Melalui PCNU Pamekasan

Pamekasan — Pasti Aswaja — Beberapa mahasiswa Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Madura yang tergabung dalam Komunitas Pemuda Bakti Sosial, Selasa siang (09/10/18) mendatangi Kantor PCNU Pamekasan, Jl. R. Abd. Aziz No. 95, Jungcangcang, Pamekasan.

Kedatangan mahasiswa dari Fakultas Tarbiyah, Prodi Bahasa Inggris ini dalam rangka menyalurkan bantuan untuk korban bencana alam Palu, Donggala, dan sekitarnya di Sulawesi Tengah dari hasil penggalangan dana melalui PCNU Pamekasan.

Ach. Ali Wafa, Ketua Komunitas Pemuda Bakti Sosial menuturkan, dana tersebut diharapkan bisa meringankan beban korban bencana alam di Palu dan sekitarnya.

Para aktivis kampus itu, lanjut Wafa, menggalang dana selama tiga hari, dan berhasil mengumpulkan dana sebesar Rp. 7.910.900.

Sementara itu, KH. M. Shahebuddin, Wakil Ketua PCNU Pamekasan, yang didampingi H. Abd. Rahman Abbas, Sekretaris PCNU Pamekasan menyatakan, pihaknya akan meneruskan penyaluran bantuan ini melalui PWNU Jawa Timur.

Mantan Rektor Universitas Islam Madura itu berterima kasih kepada para mahasiswa itu karena sudah mempercayakan penyaluran bantuannya kepada PCNU Pamekasan.

"Mudah-mudahan amal bakti ini diterima oleh Allah," ungkapnya. (bor)
Share:

Monday, October 8, 2018

SMK Islam Tanjung Galang Dana Untuk Korban Bencana Palu

Sampang — Pasti Aswaja — Sebagai bentuk kepedulian terhadap korban bencana alam Palu, Donggala, Sulawesi Tengah dan sekitarnya, Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Islam Tanjung menggelar penggalan dana.

Kegiatan yang digelar di daerah Desa Bandaran dan Desa dharma Tanjung ini berhasil mengumpulkan dana sebesar Rp. 1.500.000.

Junaidi Mustaji, Kepala Sekolah SMK Islam Tanjung menuturkan, kegiatan ini dilaksanakan tidak hanya untuk meringankan kesusahan korban bencana alam di Palu dan sekitarnya.

"Kami juga ingin memberikan pengertian kepada siswa-siswi SMK Islam Tanjung untuk peduli terhadap sesama manusia, baik yang se-agama maupun tidak," tuturnya, Senin (08/10/2018).

Dana yang terkumpul ini nantinya akan disalurkan melalui Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWC NU) Kecamatan Camplong, Sampang. (bor)
Share:

Wednesday, September 19, 2018

Siapakah Ulama Itu?


Oleh: KH. M. Musleh Adnan*


إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ ۗ إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ غَفُورٌ

Al-Hafidz Ibnu Katsir di kala menafsirkan ayat di atas, beliau menukil kata Ibnu Abbas bahwa yang dimaksud ulama adalah orang yang kenal kepada Allah, yang tidak syirik kepada Allah, menghalalkan apa yang Allah halalkan, mengharamkan apa yang Allah haramkan, menjaga wasiat (perintah) Allah, meyakini bahwa dia akan menghadap Allah dan selalu introspeksi diri.

عن ابن عباس قال:العالم بالرحمن من عباده من لم يشرك شيئا وأحل حلاله وحرم حرامه وحفظ وصيته وأيقن أنه ملاقيه ومحاسب بعمله. (تفسير إبن كثير ٣/٥١٨

Syaikh Ahmad bin Muhammad Al-Shawi Al-Mashri Al-Khalwati Al-Maliki menafsirkannya:

والمعنى إنما يعظم الله من العباد العلماء لكونهم أعرف الناس بربهم وأتقاهم له فالواجب على الناس تعظيمهم واحترامهمإقتداء بالله تعالى فإن الله أخبر أنه يعظمهم ويجلهم 
حاشية الصاوي على تفسير الجلالين ٣/٢٨١ دار الكتب العلمية بيروت

Tafsir ayat di atas: "Allah menjelaskan sesungguhnya dari sekian hamba Allah yang benar-benar mengangungkanNya hanyalah Ulama, karena mereka lebih mengenal dan lebih takut kepada Allah. Maka, seharusnya kita mengagungkan ulama karena mengikuti anjuran Allah di mana Allah sendiri memuliakan ulama.

Ahmad Ibnu Hanbal memberikan kriteria orang alim dengan merujuk kepada pendapat-pendapat dari berbagai sumber misalnya:

وعن ابن عمر رضي الله عنهما قال لا يكون الرجل عالما حتى لا يحسد من فوقه ولا يحقر من دونه ولا يبتغي بعلمه ثمنا 

Seseorang tidak dianggap alim sampai dia tidak dengki kepada orang yang berada di atasnya, tidak merendahkan orang yang status sosialnya berada di bawahnya, dan dia dengan ilmunya tidak ingin menumpuk materi duniawi

Umar bin Khattab bertanya kepada Abdullah bin Salam: "Siapakah orang yang berilmu itu? Beliau menjawab: 'Dialah orang-orang yang mengamalkan ilmunya'." Tafsir Ahmad ibnu Hanbal juz 2 hal 120

Lebih rinci lagi Sayyid Abdullah bin 'Alawi Al-Haddad mendefinisikan ulama dalam kitabnya Al-Nashaih Al-Diniyyah hal 22 adalah:

فَمِنْ عَلَامَاتِ الْعَالِمِ: أَنْ يَكُوْنَ خَاشِعًا مُتَوَاضِعًا خَائِفًا مُشْفِقًا مِنْ خَشْيَةِ اللهِ زَاهِدًا فِي الدُّنْيَا قَانِعًا بِالْيَسِيْرِ مِنْهَا مُنْفِقًا الْفَاضِلَ عَنْ حَاجَتِهِ مِمَّا فِي يَدِهِ نَاصِحاً لِعِبَادِ اللهِ رَحِيْمًا بِهِمْ آمِرًا بِالْمَعْرُوْفِ نَاهِيًا عَنْ الْمُنْكَرِ مُسَارِعًا فِي الْخَيْرَاتِ مُلَازِمًا لِلْعِبَادَاتِ وَوَقَّارًا وَاسِعَ الصَّدْرِ لَا مُتَكَبِّرًا وَلَا طَامِعًا فِي النَّاسِ وَلَا حَرِيْصًا عَلَى الدُّنْيَا وَلَا جَامِعًا لِلْمَالِ وَلَا مَانِعًا لَهُ عَنْ حَقِّهِ وَلَا فَظًّا وَلَا غَلِيْظًا وَلَا مُمَارِيًا وَلَا مُخَاصِمًا وَلَا قَاسِيًا وَلَا ضَيِّقَ الصَّدْرِ وَلَا مُخَادِعًا وَلَا غَاشًّا وَلَا مُقَدِّمًا لِلْأَغْنِيَاءِ عَلَى الْفُقَرَاءِ وَلَا مُتَرَدِّدًا إِلَى السَّلَاطِيْنِ .وَبِالْجُمْلَةِ فَيَكُوْنُ مُتَّصِفًا بِجَمِيْعِ مَا يَحُثُّهُ عَلَيْهِ الْعِلْمُ وَيَأْمُرُهُ بِهِ مِنَ الْأَخْلَاقِ الْمَحْمُوْدَةِ وَالْأَعْمَالِ الصَّالِحَةَ مُجَانِبًا لِكُلِّ مَا يَنْهَاهُ الْعِلْمُ عَنْهُ مِنَ الْأَخْلَاقِ وَالْأَعْمَالِ الْمَذْمُوْمَةِ. ( ص. ٢٢)

Tanda/ciri orang alim (ulama) antara lain: pembawaannya tenang, rendah hati, selalu merasa takut kepada Allah, bersahaja, qana'ah, suka sedekah, membimbing umat, menyayangi mereka, selalu mengajak kepada kebaikan dan menghindari keburukan/maksiat, bersegera dalam kebaikan, senang beribadah, lapang dada, lembut hati, tidak sombong, tidak berharap pada pemberian orang, tidak ambisi kemegahan dan jabatan, tidak suka menumpuk-numpuk harta, tidak keras hati, tidak kasar, tidak suka pamer, tidak memusuhi dan membenci orang, tidak picik, tidak menipu, tidak licik, tidak mendahulukan orang kaya dari pada orang miskin, dan tidak mondar mandir sering mengunjungi pejabat pemerintahan atau penguasa.

Kesimpulannya ulama adalah orang yang memiliki sifat yang diperintah dan didorong oleh ilmu berupa akhlak yang baik dan menjauhi apa yang dilarang ilmu yakni akhlak yang buruk.
*Pemgurus Lembaga Dakwah PCNU Pamekasan.
Share:

Thursday, August 23, 2018

Pembauran Antara Jemaah Laki-Laki dan Perempuan Dalam Shalat

Tanggapan Pemberitaan Maduraku (dot) com

Oleh: Muhammad Ahnu Idris

Suasana Shalat Id di Masjid Jamik Asy-Syuhada Pamekasan (22/08/18).

Sebelum memaparkan tentang ikhtilath antara laki-laki dan perempuan dalam shalat, ijinkan saya untuk memperkenalkan diri terdahulu. Saya bukan ahli fikih yang memiliki kapasitas untuk berbicara tentang syariat Islam. Saya cuma alumni pesantren yang waktu mondok lebih sering bolos dan melanggar aturan-aturan yang ditetapkan pesantren. Saya di pesantren juga tidak lama, hanya 8 tahun. Jauh dibanding pemikir-pemikir Islam yang berpuluh-puluh tahun mendalami ilmu agama.

Saya dulu mondok di pesantren asuhan putra Ketua Tanfidziah pertama PCNU Pamekasan (tahun 1926), KH. Badruddin. Dan beliau sekarang melanjutkan perjuangan abahnya di NU sebagai Mustasyar PCNU Pamekasan sekaligus Wakil Rais Syuriah PWNU Jawa Timur. Tidak hanya itu, beliau juga besan Romo Yai Miftahul Achyar, Wakil Rais PBNU. Jadi, bisa dikatakan ada "ikatan emosional" antara saya dengan NU.

Selain itu, almarhum kakek saya dari bapak dulu juga aktif di NU sebagai Ketua Ranting. Sedangkan kakek saya dari ibu dulu aktif di GP. Ansor. Perjuangan kakek-kakek saya itu kemudian dilanjutkan oleh bapak saya. Artinya, saya lahir dari keluarga yang tidak diragukan lagi ke-NU-annya, dan semoga saya bisa melanjutkan perjuangan-perjuangan beliau di NU.

Sekarang masuk ke judul tulisan ini.

Tulisan ini lahir atas pemberitaan yang dimuat oleh media massa online Maduraku (dot) com dengan judul "Di Madura, Shalat Id Laki-Laki dan Perempuan Campur Seperti Ini". Dalam berita itu yang diinformasikan adalah pembauran antara jemaah laki-laki dengan jemaah perempuan tanpa ada pembatas. Kondisi shalat id seperti itu (iktilath antara laki-laki dan perempuan) kemudian oleh reporter media tersebut "disamakan" dengan senam aerobik. Singkatnya, berita itu hanya fokus pada pembauran jemaah dan sama sekali tidak menyebutkan nama NU. (Link berita: https://maduraku.com/2018/08/22/di-madura-shalat-id-laki-laki-dan-perempuan-campur-seperti-ini/). Akan tetapi, saya merasa terpanggil untuk menanggapi berita tersebut karena yang bertindak sebagai Khatib dan Imam Shalat Ied adalah KH. Taufik Hasyim, M.Pd.I, yang 'tak lain adalah Ketua PCNU Pamekasan yang juga cucu pengasuh pesantren tempat saya mondok.

Bagi santri, guru tidak hanya mereka yang mengajar ilmu pengetahuan secara langsung. Lebih dari itu, segala hal yang memiliki hubungan dengan guru, maka hal itu posisinya sama dengan guru. Maka, tidak usah heran jika melihat santri tidak mau duduk di tempat yang pernah diduduki oleh gurunya. Jika orang tua merawat jasmani kita, maka gurulah yang merawat rohani kita. Jika orang tua yang memberi asupan jasmani kita, maka gurulah yang memberi asupan rohani kita. Begitu kira-kira penjelasan guru saya waktu dulu belajar kitab Tarbiyat al-Shibyan. Gus Dur bilang, santri disuruh loncat ke api, dia loncat tanpa pikir panjang; jika yang menyuruh adalah gurunya. Itulah arti guru di mata santri.

Yang jelas, Ketua PCNU Pamekasan bukanlah orang yang tidak paham agama. Beliau pasti menolak jika pelaksanaan Shalat Id tidak sesuai dengan tuntunan agama.

Artinya, tulisan ini lahir karena dua alasan: pertama, yang menjadi Khatib dan Imam Shalat Id yang diliput oleh media massa tersebut adalah simbol NU Pamekasan, yakni Ketua PCNU Pamekasan; kedua, karena ikatan emosional antara guru dan santri.

Yang menjadi tanda tanya bagi saya adalah waktu pembuatan berita tersebut. Kenapa baru pada pelaksanaan Idul Adha yang disoroti? Bukankah dari dulu kondisi jemaah shalat id seperti itu? Semoga bukan karena Khatib dan imam shalatnya adalah Ketua PCNU Pamekasan. Karena, dunia komunikasi penyiaran meyakini "tidak ada media massa yang bebas nilai", semua media pasti condong pada ideologinya masing-masing.

Meluruskan dan merapikan shaf merupakan salah satu pra-syarat kesempurnaan shalat. Ulama madzhab sepakat tentang hal ini. Maka dari itu, di banyak masjid di beri tanda shaf dan pemisah antara jemaah laki-laki dan perempuan. Akan tetapi, shaf yang tidak lurus dan tidak rapi, tidak lantas menjadikan shalatnya batal. Tidak begitu. Karena, meluruskan dan merapikan shaf hukumnya sunah.

Lantas, bagaimana jika jemaah bercampur antara laki-laki dan perempuan? Madzhab Hanafi, menghukumi shalat seperti disebutkan batal. Sedangkan madzhab madzhab yang lain menghukumi boleh dan tidak batal (lihat: Fiqh al-Islâmî wa Adillatuhu: 402).

ان وقفت المراة في صف الرجال لم تبطل صلاة من يليها ولا صلاة من خلفها، فلا يمنع وجود صف تام من النساء اقتداء من خلفهن من الرجال، ولا تبطل صلاة من امامها، ولا صلاتها، كما لو وقفت في غير صلاة.

Artinya, jika perempuan shalat dan berdiri di barisan laki-laki, maka shalat orang yang ada di sampingnya tidak batal, begitu juga shalat orang yang ada di belakangnya. Oleh karena itu adanya shaf perempuan yang sempuran tidak bisa menghalangi mengikutinya orang laki-laki yang ada di belakangnya. Juha tidak batal shalat orang yang ada di depan perempuan, begitu juga shalatnya perempuan. Hal ini sebagaimana ia berdiri pada selain shalat. (Wahbah az-Zuhaili, al-Fiqh al-Islâmî wa Adillatuhu. Damaskus: Dar al-Fikr, cet. ke-4, edisi revisi, juz, 2, h. 402).

Berkenaan dengan shaf shalat, memang ada hadits yang menunjukkan perintah untuk menempatkan shaf perempuan setelah shaf laki-laki;

اخروهن من حيث اخرهن الله

"Akhirkan mereka (perempuan) sebagaimana Allah mengakhirkan mereka."

Hadits ini tidak lantas menjadikan shalat laki-laki —yang ada dibelakang perempuan— menjadi batal. Karena, suatu ketika Ibnu Abbas ra. pernah menjadi makmum Rasulullah dan berdiri di samping kirinya, tetapi Rasulullah tidak menghukumi batal terhadap shalat Ibmu Abbas.

ولامر بتأخير المراة: اخروهن من حيث اخرهن الله لا يقتضي الفساد مع عدمه: لان ترتيب الصفوف سنة نبوية فقط، والمخالفة من الرجال او النساء لا تبطل الصلاة، بدليل ان ابن عباس وقف على يسار النبي ثلى الله عليه وسلم فلم تبطل صلاته. (وهبة الزهيلي — فقه الإسلامي وادلته — ص: ٤٠٢)

Perintah menempatkan perempuan pada barisan yang akhir setalah shaf laki-laki, sebagaimana sabda Rasulullah SAW: ‘akhirkan mereka sebagaimana Allah mengkahirkannya’, tidak serta merta mengharuskan fasad (rusak) shalat ketika shaf perempuan tidak berada di belakang shaf laki-laki. Karena urut-urutan shaf itu hanya sunnah nabi saja. Sedangkan berbeda dengan sunnah tersebut, baik laki-laki maupun perempuan tidak membatalkan shalat karena ada dalil yang menyatakan bahwa Ibnu Abbas ra pernah berdiri (bermakmum) di sebelah kiri Nabi tetapi shalatnya tidak batal”. (Wahbah az-Zuhaili, al-Fiqh al-Islamiy wa Adillatuhu, Damaskus-Dar al-Fikr, cet ke-4, edisi revisi, juz, 2, h. 402).

Jadi, campur-baur antara jemaah laki-laki dan perempuan dalam shalat itu tidak masalah, kecuali bagi madzhab Hanafi. Akan tetapi, berita itu juga harus menjadi bahan koreksi bagi takmir Masjid Jamik Asy-Syuhada, karena tidak semua masyarakat paham soal agama. Mungkin bagi mereka yang paham agama, kasus ini tidak menjadi persoalan, dan kemudian akan menjadi persoalan bagi mereka yang tidak begitu paham persoalan agama.

Berkenaan dengan berita di atas, jika ditinjau melalui Analisis Wacana Teun A. van Dijk, ada dua kemungkinan pengambilan framing berita itu: 1. dipengaruhi oleh "Konteks" kekinian negeri ini; 2. "Kognisi Sosial" penulis berita. Kognisi Sosial bisa berupa ideologi atau pemahaman penulis berita. Jika yang dimuat seputar ekonomi, maka pemahaman ekenomi penulis berita mempengaruhi framing berita yang dibuatnya. Begitu juga jika yang ditulis seputar persoalan agama.
*Santri ndeso yang sedang belajar Komunikasi Penyiaran.
Share:

Sunday, August 5, 2018

Rendah Hati. Itulah Ketua PCNU Pamekasan

Oleh : Muhammad Abror*

KH. Taufik Hasyim. Nama tersebut tidak asing di teling nahdliyin (warga NU) Pamekasan. Kiai muda kelahiran 8 Juli 1982 tersebut merupakan Ketua Tanfidziah Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Pamekasan yang terpilih sejak 2016 lalu. Alumni Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Kediri, Jawa Timur tersebut terpilih menjadi Ketua Tanfidziah menggantikan KH. Abd. Ghaffar.

Penulis terinspirasi untuk menulis sikap rendah hati Pengasuh Pondok Pesantren Bustanul Ulum Sumber Anom, Angsanah Palengaan, Pamekasan, Madura tersebut setelah beberapa kali kesempatan 'menemani' dalam momentum acara NU, baik di Pamekasan maupun di luar.

Penulis (dua dari kiri) bersama Ketua PCNU Pamekasan (baju koko putih)
Di antara beberapa sikap rendah hati yang ditunjukkan oleh Kiai Taufik adalah saat menghadiri Konferensi Wilayah (Konferwil) PWNU Jawa Timur yang digelar di tempat beliau nyantri dan menimba ilmu, Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri, Jawa Timur. Pertama, saat rombongan yang penulis ikuti tiba di 'basecamp' rombongan PCNU Pamekasan, dengan senyuman yang khas beliau menyambut dengan tanpa ada rasa sungkan sedikitpun menghaturkan kami untuk masuk dan istirahat setelah perjalanan jauh dari Pamekasan ke Kediri.

Kedua, sikap rendah hati yang ditunjukkan oleh beliau adalah saat penulis bersama Direktur Aswaja NU Center dan Kepala Badan Ansor Anti Narkoba (BAANAR) Pamekasan diajak untuk mendatangi rumah makan favorit beliau saat masih aktif sebagai mahasiswa di Institut Agama Islam (IAI) Tri Bhakti, Kediri. Di rumah makan yang biasa buka pukul 01.00 dini hari, beliau bersua dengan 3 orang sahabatnya saat nyantri di Lirboyo mengenakan jaket khas Banser. Meski sudah menjabat Ketua Tanfidziyah PCNU Pamekasan, namun sapaan akrab beliau kepada teman-temannya sedikitpun tidak berubah. Saat bernostalgia, berbagi canda dan tawa dengan sahabat lamanya membuat penulispun ikut tertawa. Di sana, penulis melihat sosok Ketua Tanfidziyah PCNU Pamekasan yang sangat rendah hati.

Masih di area konferwil PWNU Jawa Timur. Kerendahan hati lainnya yang beliau tunjukkan adalah saat dipilih oleh KH. Marzuki Mustamar, Ketua Tanfidziah PWNU Jawa Timur terpilih untuk menjadi tim formatur, guna menyusun kepengurusan PWNU Jawa Timur periode 2018-2023. Dengan nada dan cara yang halus beliau menolak keinginan Kiai Marzuki dan memberikan kepercayaan kepada Ketua Tanfidziah PCNU Bangkalan yang notabene lebih senior dari beliau. Penulis yang ada di depan ruang sidang Konferwil ke-17 bersama dengan beberapa rombongan dari PCNU Pamekasan kaget setelah mendengar pernyataan sikap beliau.

Sungguh luar biasa bisa mengenal sosok Kiai muda yang mengajari kader-kader penerus perjuangan NU untuk menjadi pribadi yang rendah hati. Bangga bisa menjadi bagian dari warga NU Pamekasan di bawah kepemimpinan Kiai Taufik. Mudah-mudahan beliau terus diberi kesehatan, sehingga bisa tetap istikamah dalam memperjuangkan akidah Islam Ahlu Sunnah Wal Jamaah An-Nahdliyah di bumi nusantara ini.
*Penulis merupakan Reporter NU Online Pamekasan yang ditugaskan untuk meliput kegiatan Konferwil PWNU Jawa Timur di Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri.
Share:

Friday, July 20, 2018

PCNU Pamekasan Geram Lambang NU Dicatut Untuk Kepentingan Politik

Pamekasan – Pasti Aswaja - KH. Taufik Hasyim, Ketua PCNU Pamekasan, merasa geram dengan ulah petinggi salah satu partai politik di Pamekasan yang menggunakan lambang NU untuk foto profil akun Facebooknya.

Ra Taufik, sapaan akrabnya, mengatakan bahwa dirinya tidak rela jika lambang NU digunakan untuk tujuan tidak jelas.

"Apalagi hanya di taruh di foto profil akun medsos," lanjut alumni PMII Kediri itu Jumat (20/07/18) siang, di kediamannya, Pon. Pes. Bustanul Ulum Sumber Anom, Palengaan, Pamekasan.

Menurut pengasuh Pondok Pesantren Bustanul Ulum Sumber Anom, Palengaan, Pamekasan, lambang NU tidak lahir begitu saja, tapi membutuhkan proses panjang dan waktu berbulan-bulan.

"Waktu mendapatkan perintah dari KH. Hasyim Asyari untuk membuat logo NU, KH. Muhammad Ridwan tidak langsung membuat. Beliau masih shalat istkharah dan shalat hajat dulu," imbuhnya.

Ra Taufik merasa sangat miris jika lambang NU hanya digunakan untuk foto akun FB petinggi partai politik yang pengurus pusatnya suka menghina kiai-kiai NU.

Tidak sampai di situ, Ra Taufik juga meminta kepada GP Ansor dan Persatuan Pencak Silat NU (PSNU) Pagar Nusa untuk melakukan klarifikasi kepada yang bersangkutan.

"Melihat banyaknya warga NU yang bertanya ke saya, maka saya himbau kepada PC GP Ansor dan PC Pagar Nusa untuk segera tabayun ke yang bersangkutan," pungkasnya. (bor/ahn)
Share:

Monday, June 18, 2018

Gus Yahya: Pengasuh Pesantren dan "Pengasuh" Blog Terong Gosong (Jawaban Untuk Pertanyaan Ustadz Tifatul Sembiring)

Oleh: Muhammad Ahnu Idris*

Mantan Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo), Tifatul Sembiring (TS), melalui akun twiternya mempertanyakan dua hal berkenaan kedatangan KH. Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya) ke Israel untuk menjadi pembicara dalam forum ilmiah: Pertama, kunjungan itu atas perintah Presiden Indonesia atau kunjungan pribadi; kedua, saat bertemu dengan Netanyahu, apa Gus Yahya sempat bertanya kenapa Israel membantai 60 penduduk Gaza dua hari sebelum puasa. Sebagaimana kids zaman now, kicauan itu disertai hashtag #MauTauBanget.

Tidak sedikit para warganet yang mengecam dua pertanyaan mantan Presiden PKS itu. Mereka mengecam karena TS menggunakan sebutan "mas" kepada Gus Yahya. Sebutan itu oleh warga net dinilai tidak etis dilayangkan pada seorang kiai.

TS tidak mau ambil pusing. Ia santai saja menyikapi banyaknya komentar bernada kecaman itu. Bahkan, TS kembali berkicau yang isinya mempertanyakan kekiaian Gus Yahya dan pesantren mana yang diasuhnya.
Oh baru tahu saya, mas Yahya itu seorang Kiai. Kalau boleh tahu mengelola pesantren di mana ya...
Kicauan pertanyaan —tanpa tanda tanya— ini membuat saya tersenyum. Bagaimana tidak, kok bisa sekelas mantan presiden partai, mantan Menkominfo, dan sekarang sedang mewakili rakyat Indonesia di Senayan tidak tahu sosok kiai yang masih "keluarga Bisri" ini? Bayt ar-Rahmah (organisasi kemanusiaan yang berpusat di AS) saja memuat profil Gus Yahya, kok TS —yang warga Indonesia— tidak tahu?

Untuk menjawab pertanyaan itu, saya mengarang sendiri jawaban yang paling "masuk akal" bagi saya, bahwa TS hanyalah manusia biasa yang tidak maha tahu dan tidak luput dari khilaf (tanpa ta' marbuthah).

Baik, kita beranjak ke "persoalan kiai".

Dalam KBBI, kata kiai diartikan: 1) sebutan bagi alim ulama; 2) alim ulama; 3) sebutan bagi guru ilmu gaib (dukun dsb); 4) kepala distrik (di Kalimantan Selatan); 5) sebutan yang mengawali nama benda yang dianggap bertuah (senjata, gamelan, dsb); 6) sebutan samaran untuk harimau (jika orang melewati hutan); 7) teriakan yang dikeluarkan melalui kerongkongan. Istilah ini digunakan dalam olahraga karate (Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional, 2008: 767-768).

Gelar kiai, memiliki pemaknaan yang beragam. Dari sisi istilah, secara umum kiai diartikan sebagai penyebutan kepada seseorang yang dihormati yang memiliki ilmu keagamaan. Secara luas, terdapat beberapa penafsirannya. Dalam percakapan di beberapa daerah, ‘ajengan’ memiliki arti sinonim dengan kiai (Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional, 2008: 24). Ajengan memiliki makna sebagai orang yang terkenal, yang kemudian diikuti dengan penjelasan “terutama guru agama Islam”. Pemaknaan mengenai kata kiai juga dapat diartikan sebagai seorang ahli, yang berfokus pada bidang keagamaan (Departemen Pendidikan Nasional, 2008: 7).

Mungkin, pertanyaan TS tentang kekiaian Gus Yahya didasarkan pada pendapat Zamakhsyari Dhofier (1982) yang berjudul Tradisi Pesantren: Studi tentang Pandangan Hidup Kyai. Menurur Dhofier, secara teknis seseorang pantas dan berkembang untuk disebut sebagai seorang kiai apabila ia telah memiliki pesantren. Mungkin pembacaan TS tentang kiai hanya sampai di sini, dan tidak melanjutkan pada pembahasan selanjutnya bahwa, menurut Dhofier, tokoh yang tidak memiliki pesantren tetap dapat disebut kiai, tergantung bagaimana karakter dan dinamikanya masing-masing.

Dari pengertian di atas sudah jelas bahwa kiai tidak harus pengasuh pesantren. Bahkan, benda bertuah dan harimaupun bisa menyandang gelar ini. Sekali lagi, ini juga bisa dijadikan "alasan" untuk memandang TS sebagai manusia biasa.

Jika TS mensyaratkan kiai harus pengasuh pesantren, di teronggosong.com (blog pribadi Gus Yahya) disebutkan bahwa Gus Yahya tidak hanya menjadi Katib 'Aam PBNU, beliau juga "pengasuh" di blognya itu, dan menjadi salah satu pengasuh di Pondok Pesantren Raudlatut Thalibin Rembang.

Kalau memang Gus Yahya seorang kiai, kenapa dipanggil Gus?

Sebuah artikel yang ditulis oleh Ekky Duta Riswanto (yang dimuat dalam jurnal online Unair) berjudul Strategi Adaptasi Anak Kyai (Gus) Pelaku Kenakalan di Masyarakat (Studi Deskriptif tentang Konsep Diri dan Strategi Adaptasi Anak Kyai (Gus) Pelaku Kenakalan terhadap Stigma yang Ada Di Masyarakat) menjekaskan bahwa istilah Gus digunakan untuk anak kiai yang masih muda.

Sebagaimana istilah kiai, tidak semua orang bisa mendapatkan gelar gus. "Syarat utama" menjadi gus adalah harus keturunan kiai. Sedangkan "Mas Yahya" (meminjam istilah yang digunakan TS), tidak hanya seorang gus, (karena ia anak kiai) Mas Yahya juga sudah layak menyandang gelar kiai, karena statusnya adalah pengasuh pesantren.

Kembali ke pertanyaan di atas, kenapa dipanggil gus?

KH. Abdurrahman bin Wahid bin Hasyim bin Asy'ari atau yang akrab disapa Gus Dur enggan dipanggil "kiai haji" atau “kiai” di depan namanya. Mungkin bagi kebanyakan orang pesantren sangat janggal. Mungkin karena takut kualat. Apa lagi sampai berani memanggil "mas".

Suatu ketika ada yang bertanya kenapa Gus Dur tidak mau dipanggil kiai atau kiai haji? Dengan nada humor khasnya, Gus Dur menjawab: “Kiai itu kan harus kuat tirakat: makan sedikit, tidur sedikit, ngomongnya juga sedikit. Nggak kuat saya. Enakan jadi gus saja: dikit-dikit makan, dikit-dikit tidur, dikit-dikit ngomong."

Berbeda dengan pesantren pada umumnya, Pondok Pesantren Sidogiri (salah satu pesantren terbesar dan tertua di Indonesia yang terletak di Pasuruan, Jawa Timur), tidak menggunakan istilah gus untuk memanggil putra kiai dan keluarga pengasuh lainnya. Pesantren yang berdiri sejak tahun 1718/1745 ini menggunakan istilah mas.

Husnu dzan saya, mungkin TS itba' terhadap tradisi di Pesantren Sidogiri. Semoga.

Pamekasan; 18 Juni 2018
*Muhammad Ahnu Idris: Sekretaris PAC GP Ansor Kecamatan Palengaan.
Share:

Tuesday, June 12, 2018

Benang Merah Agama dan Politik

KH. M. Musleh Adnan*

Salah satu fungsi negara adalah sebagai wadah atau sarana untuk menjamin, melayani, melindungi dan mengarahkan seluruh elemen yang ada dalam bingkai kenegaraan baik rakyat sebagai warga negara, keutuhan wilayah, termasuk seluruh kekayaan negara, juga mempertahankan stabilitas pemerintahan dan menjaga kedaulatan.

السلطان ولي من لا ولي له (اخرجه أصحاب السنن غير النسائي)

"Negara (pemimpin) adalah pelindung bagi mereka yang tidak memiliki pelindung."

Dalam konteks Indonesia, sesuai dengan rumusan yang telah disepakati bersama oleh para pendiri bangsa, termasuk di dalamnya adalah ulama', dibentuk Negara Kesatuan Republik Indonesia dengan Pancasila sebagai dasar negara.

“Negara Indonesia bukan satu negara untuk satu orang, bukan satu negara untuk satu golongan walaupun golongan karya, tetapi kita mendirikan negara semua untuk semua, satu untuk semua, semua untuk satu." (Soekarno dalam Buku Negara Paripurnakarangan Yudi Latif)

Presiden pertama Indonesia mengisyaratkan bahwa Negara Indonesia ini merdeka salah satunya untuk kemakmuran rakyatnya dengan pemersatu di dalamnya, ini yang mendasari negara Indonesia merupakan Negara Kesatuan, di mana kekuasaan terletak pada pemerintah pusat dan tidak pada pemerintah daerah. Namun, pemerintah pusat mempunyai wewenang untuk menyerahkan sebagian kekuasaannya kepada daerah berdasarkan hak otonomi (negara kesatuan dengan sistem desentralisasi), tetapi pada tahap terakhir kekuasaan tertinggi ada pada pemerintah pusat.

Dari teori kekuasaan, kita mengenal pembagian kekuasaan berdasarkan fungsinya, seperti yang dikemukakan John Locke yang membagi fungsi negara atas tiga fungsi, yakni: fungsi legislatif untuk membuat peraturan, fungsi eksekutif untuk melaksanakan peraturan, dan fungsi federatif, untuk mengurusi urusan luar negeri dan urusan perang dan damai. Dan menurut Jhon Locke, fungsi mengadili termasuk dalam tugas eksekutif. Lalu, teori pembagian kekuasaan John Locke disempurnakan oleh Montesquieu yang kita kenal dengan Teori Trias Politika, di mana membagi kekuasaan berdasarkan tiga fungsi, yaitu: fungsi legislatif untuk membuat undang-undang, fungsi eksekutif untuk melaksanakan undang-undang, dan fungsi yudikatif untuk mengawasi agar semua peraturan ditaati (fungsi mengadili). Menurut Mountesquieu, fungsi federatif yang dikemukakan oleh Jhon Locke disatukan dengan fungsi eksekutif, dan fungsi mengadili dijadikan fungsi yang berdiri sendiri. (Abu Daud Busroh, Ilmu Negara. Jakarta: Bumi Aksara, 2010), hal. 85)

Dalam fiqh diatur, para penyelenggara negara apapun namanya harus memegang prinsip:

تصرف الإمام على الرعية منوط بالمصلحة

"Tindakan imam terhadap rakyatnya harus dikaitkan dengan kemaslahatan."

Sistem pemerintahan hanyalah wasilah (media) sedangkan ghoyah (tujuan) terpenting adalah terciptanya kesejahteraan dan kemakmuran yang berkeadilan dan berketuhanan. Maka utk meraih tujuan tersebut dua hal yang perlu di perhatikan:

Pertama, pemerintah harus adil dan amanah.

(إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَنْ تُؤَدُّوا الْأَمَانَاتِ إِلَىٰ أَهْلِهَا وَإِذَا حَكَمْتُمْ بَيْنَ النَّاسِ أَنْ تَحْكُمُوا بِالْعَدْلِ ۚ إِنَّ اللَّهَ نِعِمَّا يَعِظُكُمْ بِهِ ۗ إِنَّ اللَّهَ كَانَ سَمِيعًا بَصِيرًا) [Surat An-Nisa' 58]

وأما أهل الإمامة فالشروط المعتبرة فيهم سبعة أحدها العدالة على شروطها الجامعة (الأحكام السلطانية في الولايات الدينية ص ٦)

Kedua, pemimpin adalah pelanjut tugas pokok kenabian yaitu menjaga agama dan mengatur dunia. Maka, dibutuhkan pemimpin yang berani, memiliki jiwa besar yang tidak putus asa, dan bisa menerima kritikan serta nasehat orang lain.

Sebagaimana yang dicontohkan Abu Bakar ketika dibai'at sebagai khalifah:

أيها الناس فإني قد وليت عليكم ولست بخيركم فإن أحسنت فأعينوني وإ أسأت فقوموني

"Wahai rakyat, sekarang aku telah resmi menjadi pemimpin bagi kalian dan aku bukanlah yang terbaik. Maka, apabila nanti kepemimpinanku baik, maka bantulah aku; tapi, bila sebaliknya, maka luruskanlah aku." (Jami' al Masaanid wa al Marasiil juz 13 hal 85).

السِّيَاسَةُ مَا كَانَ مِنْ الْأَفْعَالِ بِحَيْثُ يَكُونُ النَّاسُ مَعَهُ أَقْرَبَ إلَى الصَّلَاحِ وَأَبْعَدَ عَنْ الْفَسَادِ ، وَإِنْ لَمْ يُشَرِّعْهُ الرَّسُولُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَلَا نَزَلَ بِهِ وَحْيٌ ؛ فَإِنْ أَرَدْتَ بِقَوْلِكَ ” لَا سِيَاسَةَ إلَّا مَا وَافَقَ الشَّرْعَ ” أَيْ لَمْ يُخَالِفْ مَا نَطَقَ بِهِ الشَّرْعُ فَصَحِيحٌ ، وَإِنْ أَرَدْتَ مَا نَطَقَ بِهِ الشَّرْعُ فَغَلَطٌ وَتَغْلِيطٌ لِلصَّحَابَةِ ؛

“Syaikh Abul Wafa ibnu 'Aqil Al Hanbali berkata: As Siyaasah (politik) adalah aktivitas yang memang melahirkan maslahat bagi manusia dan menjauhkannya dari kerusakan sekalipun belum diatur oleh Rasulullah SAW. dan wahyu Allahpun belum menyinggungnya. Jika yang Anda maksud 'politik harus sesuai syariat' adalah politik tidak boleh bertentangan dengan nash (teks) syariat, maka itu benar. Tetapi, jika yang dimaksud adalah politik harus selalu sesuai teks syariat, maka itu keliru dan bertentangan dengan yang dilakukan para sahabat." (I’lamul Muwaqi’in, 6/26. Syamilah)

Pernyataan di atas ingin menjelaskan bahwa politik dan Islam 'tak terpisahkan. Karena, dalam sejarah, agama Islam adalah agama yang pernah hadir dalam sebuah institusi negara. Islam mampu menjadi ideologi, pandangan hidup, arah dan tujuan hidup bermasyarakat dan bernegara. Islam dengan seperangkat fikroh dan thoriqoh (ide, peraturan dan tata cara pelaksanaannya) telah memberikan pengaturan yang jelas tentang masalah hubungan antar pemeluk agama. Atas dasar ikatan aqidah ini, Islam menyatukan manusia diseluruh dunia lintas bangsa, ras, dan warna kulit.

Berkaitan dengan masalah ini, Imam al-Ghazali berkata: “Karena itu, dikatakanlah bahwa agama dan kekuasaan adalah dua saudara kembar. Dikatakan pula bahwa agama adalah pondasi (asas) dan kekuasaan adalah penjaganya. Segala sesuatu yang tidak punya pondasi niscaya akan roboh dan segala sesuatu yang tidak memiliki penjaga niscaya akan musnah.” (Al-Ghazali, Al-Iqtishâd fî al-I’tiqâd, hlm. 199).

Tapi, bila agama hanya digunakan untuk kepentingan politik jangka pendek, memenangkan pemilu sangatlah keliru. Apalagi kemudian setelah menang pemilu, agama ditinggalkan seperti yang selama ini terjadi. Tradisi elit-elit politik cenderung mendadak islami menjelang pemilu, mulai dari pakai kopiah, sholat jum’at, sampai kunjungan ke pesantren dan majelis ta’lim. Rakyat membutuhkan pemimpin bukan sekedar sholih secara ritual, tapi pemimpin sholih secara politik, pemimpin yang mau menerapkan ajaran Nabi yang Rahmatan lil 'alamiin pemimpin yang mau mencampakkan ideologi dan sistem kapitalisme.

Prof. Abd A'la (Guru Besar Sejarah Pemikiran Politik Islam sekaligus mantan Rektor Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya) menegaskan: "Agama seharusnya menjadi dasar umatnya untuk bersiyasah atau berpolitik, bukan sekadar dijadikan alat. Agama yang mengajarkan kemanusiaan dan kebaikan harus menjadi dasar dan tujuan berpolitik umat, bukan dijadikan alat." Ujarnya.

"Jika cara berpolitik itu tidak selaras dengan tujuan agama, dia memastikan tujuan berpolitik kelompok tersebut tidak akan membawa kemaslahatan bagi umat manusia." Lanjutnya.
* Pengurus Lembaga Dakwah PCNU Pamekasan.
Share:

Home Style

Contact Form

Name

Email *

Message *

Ads

Ads

Latest News

Popular Posts