• This is default featured slide 1 title

    Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

  • This is default featured slide 2 title

    Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

  • This is default featured slide 3 title

    Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

  • This is default featured slide 4 title

    Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

  • This is default featured slide 5 title

    Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Thursday, April 30, 2015

Ahok: Lokalisasi Mustahil Dijalankan


Jakarta — pastiaswaja.org — Wacana Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama,  alias Ahok, untuk mengontrol prostitusi online dengan melokalisasi dan sertifikasi PSK, hanya untuk menyadarkan masyarakat tentang keberadaan prostitusi yang ada di sekitarnya.

"Saya cuma melempar wacana ini supaya orang sadar di Jakarta ada nggak sih lokalisasi? Ada tuh di Mangga besar, Ancol dan daerah kota, semua tahu. Seperti kotoran manusia saja (kalau) ada buang air besar ya ada kotorannya. Ujar mantan Bupati Belitung Timur ini, sebagaimana dilansir detik.com (30/04/15).

Menanggapi banyaknya respon masyarakat dengan wacananya itu, melalui akun twitter pribadinya, Ahok mengklarifikasi tentang wacananya itu. "Jadi bukan batal, ya, tapi memang dari awal kita sudah tahu ini mustahil dilakukan." Kicaunya melalui akun pribadinya @basuki_btp (29/04/15).

Melalui akunnya itu juga Ahok menyampaikan rasa bangganya terhadap masyarakat yang masih peduli dengan moral anak bangsa. "Artinya masyarakat memang masih peduli dengan moral anak bangsa."

"Minimal masyarakat matanya terbuka bahwa faktanya prostitusi ada. Nyata di sekitar kita. Hanya banyak yang pura-pura tidak tahu." Lanjut "kicauannya".

Sekedar informasi, wacana legalisasi prostitusi oleh Ahok tidak hanya mendapatkan protes dari masyarakat. Menteri Sosial, Khofifah Indar Parawansa, juga turut serta mengingatkan Ahok dengan lokalisasi Dolly di Surabaya yang sudah ditutup.

"Lihat di Dolly, (PSK) nenek itu demand-nya anak-anak SD. Gimana karakter bangsa yang dibangun? Posisi seperti ini harus dilihat secara komprehensif." Kata ketua Muslimat NU itu, seperti dimuat detik.com. (ahn)
Share:

Eksekusi Mati: Korelasi ASAWAJA dan Undang-Undang Nomer 22 Tahun 1997 Tentang Narkotika


Akhir-akhir ini bumi nusantara ramai membicarakan kebijakan pemerintah yang menjatuhkan hukuman mati terhadap 10 orang tersangka yang terjerat undang-undang tentang narkotika. Kebijakan ini banyak menemuai pro dan kontra, bahkan kecaman dari negara asal para tersangka. Mereka –yang kontra– beralasan bahwa hukuman mati adalah bentuk hukuman yang tidak manusiawi, karena merampas hak yang paling asasi, yaitu hak untuk hidup.

Tanpa bermaksud menyalahkan "anggapan" tersebut, disini penulis mencoba menjelaskan pandangan Islam Ahlus Sunnah wal Jamaah tentang hukuman mati bagi para pelaku tindak kriminal narkotika.

Hikmah pertama diutusnya Rasulullah Muhammad SAW. adalah untuk menyebarkan kasih sayang Sang Khaliq ke seluruh alam semesta, sebagaimana tertera dalam Al-Quran Surat Al-Anbiya' ayat 107:
وما ارسلناك الا رحمة للعالمين

Artinya: “Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam." (QS. Al-Anbiya': 107)

Para pelanggar undang-undang tentang narkoba, jelas-jelas menyalahi ayat ini.

Indonesia Darurat Narkoba
Narkoba adalah singkatan dari narkotika dan obat/bahan berbahaya. Selain "narkoba", istilah lain yang diperkenalkan khususnya oleh Kementerian Kesehatan Republik Indonesia adalah Napza yang merupakan singkatan dari narkotika, psikotropika, dan zat adiktif.

Berdasarkan data BNN (Badan Narkotika Nasuional) tahun 2014, pengguna narkoba di Indonesia mencapai angka 4 juta orang (dari usia 10 sampai 59 tahun. Setiap harinya, korban meninggal akibat narkoba mencapai angka 33 orang dan 12.044 orang dalam satu tahun. Ironis.

Selain banyak "mengantarkan" penggunanya menuju liang lahat, narkoba juga menyebabkan banyak kerugian bagi negara. Menurut Humas BNN, Slamet Pribadi, sebagaimana dilansir BBC Indonesia (29 April 2015), kerugian material yang dialami oleh negara mencapai Rp. 63,1 triliun, mencakup kerugian akibat belanja narkoba, biaya pengobatan dan rehabilitasi, barang-barang yang dicuri dan lain semacamnya. Tidak heran jika kemudian Slamet Pribadi menyatakan bahwa saat ini Indonesia berada dalam status "Darurat Narkoba."

Jadi, kurang tepat jika hukuman mati bagi pelaku kriminal yang terjerat undang-undang narkotika dianggap tidak manusiawi dan melanggar HAM, karena narkotika telah banyak membunuh anak-anak calon penerus bangsa, dan mereka (yang meninggal dunia) juga mempunyai hak untuk hidup.

Jika hukuman mati dianggap merampas hak orang lain, maka apa bedanya dengan menjebloskan mereka ke dalam jeruji besi? Bukan itu juga merampas mereka untuk hidup bebas? Begitu kira-kira "kicauan" Prof. Mahfud MD melalui akun twitternya.

Eksekusi Mati Dalam Pandangan ASAWAJA dan Undang-Undang Tentang Narkotika
Dalam Undang-Undang Nomer 22 tahun 1997 tentang narkotika, tidak hanya produsen dan pengedar saja yang akan dikenakan hukuman, tapi pengguna narkotika juga dikenakan hukuman. Berikut uraiannya:
  • Pasal 78 ayat (1a): Tanpa hak menanam atau memelihara tanaman penghasil narkotika, diancam hukuman 10 tahun + denda maximal Rp. 500 juta.
  • Pasal 80 ayat (1) poin (a), (b), (c): Tanpa hak memproduksi narkotika, diancam hukuman 7 tahun s.d pidana mati/seumur hidup + denda Rp. 200 juta s.d. Rp. 1 Milyar
  • Pasal 81 ayat (1) poin (a), (b), (c): Tanpa hak membawa atau mengirimkan narkotika, diancam hukuman 7 tahun s.d 15 tahun + denda Rp. 250 juta s.d. Rp. 750 juta
  • Pasal 84 poin (a), (b), (c): Tanpa hak mengedarkan narkotika, diancam hukuman 5 tahun s.d 15 tahun + denda Rp. 250 juta s.d Rp. 750 juta
  • Pasal 85 poin (a), (b), (c): Tanpa hak menggunakan narkotika, diancam hukuman 1 tahun s.d 4 tahun.
Bahtsul Masail Nahdlatul Ulam pada Muktamar NU ke-31 di Asrama Haji Donohudan-Boyolali-Jawa Tengah telah memutuskan kebolehan untuk menghukum mati bagi pemasok psychotropika dan narkotika. Alasan yang dikemukan dalam keputusan tersebut adalah karena menimbulkan mafsadah yang besar. (Lihat, Ahkam al-Fuqaha`, Khalista dan Lajnah Ta’lif Wan Nasyr, cet ke-1, 2011, h. 618-624)

Dalam Al-Quran Allah SWT. berfirman:

إنما  جزاء الذين يُحارِبون اللّه ورسوله ويسعَوْن في الأرض فساداً ان يُقتَّلوا  او يُصلَّبوا  او تُقطَّعَ ايديهم وأرجُلِهم من خِلافٍ او يُنفوْا من الأرض ذٰلك لهم خِزْيٌ في الدنيا ولهم في الأخرة عذابٌ عظيم.

Artinya: "sesungguhnya pembalasan terhadap orang-orang yang memerangi Allah dan RasulNya dan membuat kerusakan di muka bumi, hanyalah mereka dibunuh dan disalib, atau dipotong tangan dan kaki mereka dengan bertimbal balik, atau dibuang dari negeri. Yang demikian itu suatu penghinaan untuk mereka di dunia, dan di akhirat mereka beroleh siksaan yang besar." (QS. Al-Maidah: 33)

Berkenaan dengan narkoba, Rasulullah bersabda:

عن دَيْلمٍ الحِمْيَرِيِّ قال سألت رسول الله صلّى الله عليه وسلم فقلتُ يا رسول الله إنّا بأرضٍ بارِدةٍ نُعالِجُ بها عملاً شديداً وإنا نتّخذ شرابا من هذا القَمْح  نَتقوّى به على أعمالنا وعلى برْد بلادنا قال هل يُسـكِرُ؟ قلت نعم قال فاجتنبواه قال ثم جئت من بينِ يديه فقلت له مثلَ ذٰلك فقال هل يسكر؟ قلت نعم قال فاجتنبواه قلت إن الناس غير تاركِيْهِ قال فإن لم يترُكواه فاقتُلواهم. (رواه احمد وابو داود)

Artinya: "dari Dailami Al-Himyari, ia berkata: 'aku bertanya kepada Rasulullah SAW.: 'ya Rasulallah, kami tinggal di negeri yang bersujud udara dingin dan kami mengatasinya dengan bekerja berat dan kami membuat minuman dari gandum ini untuk menambah kekuatan kami dalam bekerja dan mengatasi dinginnya suhu di negeri kami.' Beliau SAW. menjawab: 'apakah menyebabkan mabuk?' Aku menjawab: 'ya.' Beliau bersabda: 'jauhilah!' Kata Dailami: 'aku mendekat tepat di hadapan beliau SAW., dan hal tersebut aku tanyakan kembali kepada beliau, maka beliau menjawab: 'apakah memabukkan?' Aku menjawab: 'ya.' Sabda beliau: 'jauhilah!' Aku mencoba menjelaskan: orang-orang sulit meninggalkan (kebiasaan) tersebut. Beliau menjawab: 'jika mereka tidak mau meninggalkannya, maka perangilah." (HR. Ahmad dan Abu Daud)

Dalam kIran Al-Fiqhul Islamiyah wa Adillatuhu dijelaskan tentang diporbolehkannya eksekusi  bagi para pelaku tindak kriminal narkotika:

ومن لم يَندفع فساده في الأرض إلا بالقتل قُتِلَ، مثل المفرِّق لجماعة المسلمين، والداعي الى البِدَع في الدين، .... وامر النبي صلى الله عليه وسلم بقتل رجل تعمَّد عليه الكذِبَ، وسأله ديلمُ الحميري - فيما يرويه احمد في المسند - عمن لم يَنْتَهِ عن شُرب الخمر في المرَّة الرابعة،  فقال:  فإن لم يترُكواه فاقتلواهم. والخُلاصة: أنه يجوز القتل سياسةً لمُعْتادِي الإجرام ومُدْمِنِ الخمر ودُعاةِ الفساد ومُجْرمِي امْن الدولة ونحوهم.

Artinya: "barangsiapa berperilaku kriminal dan dampak negatifnya tidak bisa dicegah kecuali dengan jalan hukuman mati, maka hukuman mati harus dijatuhkan kepadanya; semisal orang yang memprovokasi perpecahan dalam masyarakat muslim, atau orang yang mengajak pada perbuatan bid'ah dalam agama... karena Nabi pernah memerintahkan untuk melaksanakan hukuman mati kepada orang yang secara sengaja membuat kebohongan atas nama beliau. Dailami Al-Himyari menanyakan kepada beliau -dalam versi riwayat Ahmad, dalam Musnad- tentang orang yang tidak bisa berhenti minum minuman keras sampai peringatan keempat kali. Maka beliau SAW. menjawab: 'jika mereka tetap tidak mau meninggalkannya, maka jatuhkanlah hukuman mati kepada mereka.' Kesimpulannya: bahwa diperbolehkan menjatuhkan hukuman mati sebagai kebijakan atas mereka yang melakukan tindakan kriminal secara berulang-ulang, para pecandu minuman keras, para penganjur tindak kejahatan, tindakan subversif yang mengancam keamanan negara dan lain sebagainya." (Al-Fiqhul Islamiyah wa Adillatuhu, jilid VI, hal.: 201)

——————
*Redaktur pelaksana pastiaswaja.org
Share:

Tuesday, April 28, 2015

PBNU Tolak Wacana Ahok Lokalisasi Prostitusi


Jakarta - pastiaswaja.org - Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) menolak keras wacana Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok, yang akan melokalisasi prostitusi di wilayah yang dipimpinnya.

"(Lokalisasi prostitusi) itu sama saja dengan melegalkan perzinaan," kata Ketua Umum PBNU KH. Said Aqil Siroj di Jakarta, Senin (27/4).

 Dijelaskan oleh Kiai Said, perzinaan, pembunuhan, pencurian, minuman keras, termasuk narkotika dan obat-obatan terlarang, adalah hal-hal yang larangannya sudah jelas disebutkan di dalam Al-Qur’an dan Hadist.

"Jadi berbeda dengan permasalahan sosial lain yang masih bisa dicarikan solusi melalui ijma', qiyas, dan pembahasan-pembahasan lain dalam kaidah fiqih," lanjut Kiai Said.

Ditanya mengenasi solusi mengatasi prostitusi, khususnya di Jakarta, Kiai Said salah satunya meminta agar hukum dalam hal ini diterapkan dengan baik dan benar. Maraknya prostitusi salah disebut salah satunya akibat penanganan setengah-setengah oleh aparat penegak hukum.

"Yang membuat undang-undangnya, penegak hukumnya, semua jangan setengah-setengah. PSK-nya, mucikarinya, penyedia tempatnya, bahkan kalau ada penegak hukum yang ternyata terlibat, ya dihukum sesuai aturan yang berlaku, saya rasa itu bisa mengurangi prostitusi," jelas kiai penyandang gelar akademik profesor di bidang tasawuf.

Solusi lain untuk mengatasi prostitusi, masih kata Kiai Said, adalah faktor ekonomi dan moralitas yang dibehani secara serius.

"Sedini mungkin aspek moral harus ditanamkan, terutama dalam lingkungan keluarga. Kalau moral bagus, insya allah ekonomi juga akan bagus, dan orang tidak akan terjerumus dalam hal-hal negatif," pungkasnya.

Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok, menggulirkan wacana lokalisasi prostitusi sebagai solusi atas maraknyak praktik bisnis haram tersebut di wilayah yang dipimpinnya. Ahok beralasan, dengan dilokalisasi Pemerintah akan dengan mudah melakukan kontrol.

Sumber: NU Online
Share:

Monday, April 27, 2015

GASPER Tolak Nota Kesepahaman Dengan Masjid Ridwan

Ditolak: Nota Kesepahaman GASPER - Masjid Ridwan

Pamekasan — pastiaswaja.org — Nota Kesepahaman antara Gerakan Santri dan Pemuda Rahmatan lil 'Alamin (GASPER) dan Masjid Ridwan ditolak oleh pihak GASPER. Mengenai penolakan itu, pastiaswaja.org meminta klarifikasi kepada pihak GASPER Minggu malam (26/04/15).

Penolakan itu, menurut juru bicara GASPER, Matkur Rozak, sudah melalui kajian mendalam di internal GASPER. "Kita sangat mengapresiasi itikad baik Pemerintah Pamekasan dengan keluarnya Nota Kesepahaman itu. Bagaimanapun juga, keluarnya Nota Kesepahaman itu karena aspirasi kami didengar oleh pemerintah. Tapi setelah kami mengkaji secara seksama bersama dengan pengurus dan anggota GASPER tentang isi Nota Kesepahaman itu, maka kami putuskan untuk menolak." Kata pengurus ASWAJA Center Pamekasan ini.

Menurut Matkur, penolakan itu bukan bentuk arogansi GASPER, tapi karena beberapa alasan. "Kami sudah memperkirakan hal itu (bahwa GASPER akan dicap sebagai komunitas yang arogan), tapi tidak begitu. Kami menolak, karena banyak keganjilan dalam Nota Kesepahaman ini." Jelasnya sambil menunjukkan Nota Kesepahaman kepada pastiaswaja.org.

Saat ditanyakan alasan penolakannya, laki-laki satu orang anak ini menjelaskan karena tuntutan yang telah disampaikan GASPER pada waktu Pertemuan Ulama dan Umara di Peringgitan Dalam Rumah Dinas Bupati Pamekasan pada 30 Maret lalu (baca juga: Mediasi GASPER - Masjid Ridwan Diwarnai WO) tidak terakomodir dalam Nota itu. "Tuntutan kami: satu, Masjid Ridwan tidak lagi mendatangkan tokoh Salafi - Wahabi yang mempunyai catatan hitam. Catatan hitam maksudnya: mensyirikkan, mengkafirkan, membid'ahkan, menyesatkan amaliyah mayoritas warga Pamekasan. Tapi dalam Nota ini hanya disebutkan 'tidak mendatangkan Ustadz Ahmad Zainudin, Lc." Paparnya.

Dia menambahkan, poin ketiga dari isi Nota Kesepahaman itu terkesan mengaburkan semua tuntutan GASPER. "Ini lagi yang aneh, pada poin ketiga disebutkan: 'tidak mengundang da'i dan mubaligh yang ditetapkan kriteria kesesatannya berdasarkan fatwa MUI Pusat,' ini kan aneh? MUI Pusat itu akan mengeluarkan fatwa jika ada permintaan dari MUI di tingkat kabupaten atau profinsi. Kan tidak mungkin Masjid Ridwan mendatangkan tokoh Syiah (yang sesat menurut fatwa MUI)? Salafi sangat anti pati dengan Syiah." Tuturnya bersemangat.

"Masih banyak lagi, mas. Diantaranya: kita tidak dilibatkan dalam perumusan Nota Kesepahaman ini, draft Nota ini juga tidak ditawarkan terlebih dahulu ke GASPER, dan dalam Nota Kesepahaman ini hanya pihak Masjid Ridwan yang diberi kesempatan untuk menandatangani; kita nggak. Tuntutan utama kami kepada Masjid Ridwan untuk tidak me-relay siaran Radio Rodja, tidak disinggung sama sekali." Pungkasnya.

Mengenai penolakan itu, GASPER sudah berkirim surat ke semua FORPIMDA Pemkab Pamekasan yang terlibat dalam Nota Kesepahaman itu. (fiq)
Share:

Friday, April 24, 2015

PMII Pamekasan Kecam Tindakan Premanisme Oknum Polisi Situbondo



Pamekasan — pastiaswaja.org — Sekitar 50 aktivis mahasiswa yang tergabung dalam Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Cabang Pamekasan turun jalan menggelar aksi demonstrasi di sekitar monumen Arek Lancor Pamekasan (24/04/15).

Aksi itu dilakukan sebagai bentuk solidaritas dan untuk mengecam tindakan premanisme yang dilakukan oleh oknum Polisi Situbondo kepada beberapa aktivis PMII Situbondo saat melakukan unjuk rasa meminta keadilan untuk Nenek Asyani yang diduga mengambil 7 batang kayu jati milik Perhutani (23/04/15).

Dalam orasinya, ketua umum PMII Pamekasan, Mohammad Imron, menyampaikan kecamannya terhadap tindakan premanisme yang dilakukan oleh oknum Polisi tersebut. Menurutnya, tindakan itu merupakan bentuk pengekangan terhadap rakyat dalam menyampaikan aspirasinya.

"Kami sangat kecewa dan sangat mengecam tindakan premanisme yang dilakukan oleh oknum-oknum Polisi terhadap sahabat-sahabat PMII Situbondo. Tindakan itu merupakan bentuk pengekangan terhadap masyrakat dalam menyampaikan aspirasi." Teriaknya.

"Kami harap peristiwa itu tidak terjadi di daerah-daerah lain." Pungkasnya.

Setelah sekitar satu jam para demonstran berorasi secara bergantian, mereka berjalan jongkok mundur dan membubarkan diri dengan tertib. Jalan jongkok mundur itu menurut Imron, adalah bentuk kekecewaan terhadap kepolisian yang dinilai telah mengalami kemunduran dalam menjalankan tugasnya. (ahn)
Share:

Thursday, April 23, 2015

PMII Pamekasan Kecam Undangan Pesta Bikini Untuk Pelajar SMA


Pamekasan — pastiaswaja.org — UN merupakan serangkaian kewajiban yang melelahkan bagi para pelajar. Wajar jika setelah UN usai, berbagai cara dilakukan untuk meluapkan kegembiraan. Hanya saja kadang cara yang dipilih bertentangan dengan nilai-nilai luhur budaya Indonesia.

Sekalipun kelulusan siswa SMA akan diumumkan 18 Mei 2015, tapi sebagian siswa telah berpesta. Terbaru, kabar heboh mengusir kepenatan UN dengan beredarnya 'Splash after Class', pesta bikini summer dress bagi pelajar SMA di Bekasi dan Jakarta yang menyebar di YouTube dan jejaring sosial.

Untuk memperkuat undangannya, penyelenggara mencatut banyak nama SMA dan SMK baik negeri maupun swasta yang ada di Jakarta dan Bekasi, seperti: SMA Muhammadiyah Rawamangun, SMA 12 Jakarta, SMA 8 Bekasi dan sederet nama SMA lainnya.

Dalam undangannya yang tercantum di YouTube dan sejumlah situs, acara akan digelar di salah satu hotel berbintang yang terletak di Jl. Gunung Sahari, Jakarta Pusat, pada 25 April 2015. Sayangnya setelah beberapa kali pastiaswaja.org membuka YouTube (23/04/15), video undangan itu sudah dihapus.

Kegiatan yang diselenggarakan oleh Divine Production itu mendapatkan kecaman dari Mohammad Imron, Ketua Umum PC (Pengurus Cabang) Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Pamekasan. Menurutnya, kegiatan itu merupakan aib bagi dunia pendidikan di negeri ini.

"Ini adalah aib besar bagi  pendidikan negeri kita. Saya berharap, sebagai pemuda, agar kejadian-kejadian yang tidak bermoral itu, ditindak oleh pihak-pihak terkait sebagai bentuk perhatian terhdap pendidikan kita." Kata remaja 24 tahun yang akrab disapa Ron ini.

Dihubungi ditempat berbeda, Selvi, ketua PC. KOPRI (Korps PMII Putri) Pamekasan merasa kaget dan miris dengan adanya berita itu. "Saya sangkat kaget dan miris mendengar berita itu. Para penerus bangsa yang seharusnya menjdi harapan bangsa di masa depan ternyata malah merusak masa depan dengan perbuatan amoral seperti itu."

Menurut Selvi, kondisi seperti ini harus segera diatasi dan penyelwnggaranya harus diberi sangsi tegas.

"Kepadanya seperti ini harus segera diatasi demi menyelamatkan para penerus bangsa. Sebagai aktibis putri, saya sangat berharap pemerintah, aprat kepolisian, KPAI, aktifis di seluruh Indonesia, pihak sekolah dan orang tua harus bekerjasama untuk menuntaskan permasalahan ini." Harapnya.

"Setidaknya kita semua melakukan sesesuatu yang mampu mengalihkan perhatian pelajar untuk tidak mengikuti pesta tersebut. Semisal kita mengadakan workshop atau pelatihan srbagai persiapan bagi mereka menempuh pendidikan yang lebih tinggi." Pungkasnya. (ahn)
Share:

Tuesday, April 21, 2015

Refleksi Hari Kartini KOPRI Pamekasan Bagi-Bagi Bunga


Gambar oleh: Abd. Rofiq

Pamekasan — pastiaswaja.org — Tanggal 21 April adalah hari yang sakral bagi warga negara Indonesia, khususnya bagi kaum hawa. 136 tahun yang lalu, tepatnya tanggal 21 April 1879, di Jepara, Jawa Tengah lahir tokoh yang memperjuangkan hak-hak perempuan yang saat itu dinomer duakan. Dialah RA. Kartini. Dari itulah kemudian pemerintah menetapkan tanggal 21 April sebagai Hari Kartini.

Untuk merefleksi Hari Kartini, Pengurus Cabang (PC) Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Pamekasan membagi-bagikan seribu bunga untuk masyarakat yang lewat di sekitar Monumen Arek Lancor Pamekasan (21/04/15). Kegiatan ini dilaksanakan oleh PC KOPRI (Korps PMII Puteri) Pamekasan.

Menurut ketua umum PC. PMII Pamekasan, Mohammad Imron, kegiatan itu bertujuan agar semangat juang Kartini tertanam juga dalam pribadi kader-kader puteri PMII Pamekasan.

"Kegiatan bagi-bagi seribu bunga ini bertujuan untuk memupuk semangat juang R.A. Kartini kepada seluruh kader KOPRI dan para wanita di Pamekasan." Kata Ron, sapaan akrab Mohammad Imron, kepada pastiaswaja.org.

Selvi menambahkan, bahwa tujuan kegiatan itu, selain untuk menanamkan semangat juang Kartini, adalah untuk mengenang perjuangan Kartini dalam mengangkat hak, harkat dan martabat perempuan.

"Kami mengadakan kegiatan bagi-bagi bunga dan selebaran untuk mengenang perjuangan Kartini dan menanamkan semangat juang beliau yang telah memperjuangkn hak-hak perempuan." Kata ketua umum PC. KOPRI Pamekasan ini.

"Kami juga berharap acara ini dapat memupuk semangat juang Kartini di dalam jiwa kader-kader PMII dan perempuan-perempuan Pamekasan pada umumnya." Pungkasnya. (ahn)
Share:

Saturday, April 18, 2015

Bangga Jadi PMII


PMII. Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia. Huruf P dalam akronim nama PMII bukan kependekan dari Perhimpunan. P itu adalah Pergerakan. Pergerakan itu haruslah bersifat aktif, bukan pasif. Ia harus terus bergerak, bukan diam. Gerakannya harus progresif, maju, bukan regresif, mundur. Itulah karakter dasar PMII, karakter kaum pergerakan: aktif, dinamis dan progresif!
Huruf M dalam akronim PMII adalah mahasiswa. Bagian dari kelas menengah yang tercerahkan karena pendidikan. Bukan rakyat biasa tapi tak boleh abai pada rakyat biasa. Sebagai mahasiswa, medan tempur utamanya adalah kampus, dan senjata perjuangannya adalah intelektualitas. Bukan sekedar intelektualitas, tetapi intelektualitas yang berpihak. Pikiran yang berjangkar pada sejarah dan kenyataan. Yang terikat pada komunitas kecil dan besar dimana ia dilahirkan: Nahdlatul Ulama dan bangsa Indonesia!
Huruf I dalam akronim PMII adalah Islam. Bukan Islam yang dipahami dengan kacamata Arab, bukan pula Islam yang dipahami dengan kacamata Barat. Islam PMII adalah Islam Indonesia. Islam ahlussunnah wa jama'ah yang moderat dan ramah.  Islam yang berkelindan dengan kebudayaan bangsa. Islam yang berwatak untuk semua, yang rahmatan lil'alamin.
Huruf I terakhir pada akronim PMII adalah Indonesia. Tanah dan air dimana perjuangan diabdikan. Tempat PMII berkarya dan menyandarkan masa depan. Indonesia adalah rumah bersama semua bangsa. Rumah yang tak mengenal sekat-sekat apapun dalam pergaulan sosial politiknya. Rumah yang dengan segala pertaruhannya harus damai dan sejahtera. Rumah yang satu untuk semua, di bawah PBNU (Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika, NKRI dan UUD 1945).

Dengan jati diri semacam itu, pantaslah kita, kaum pergerakan, berbangga menjadi PMII. Sebab menjadi PMII adalah menjadi NU, Islam dan Indonesia. Dimanapun kader PMII berada ia tetaplah NU. Tradisi dan pikiran-pikirannya adalah NU. Cita rasa dan cita-citanya adalah cita rasa dan cita-cita NU. Untuk bangsa yang jaya dan Islam yang benar.


Kita tak kan berdiri sebagai bangsa setegak ini tanpa NU, tanpa PMII. Indonesia tak kan berada sejauh ini tanpa NU, tanpa PMII. Banggalah jadi mahasiswa, banggalah jadi Islam, banggalah jadi Indonesia. Banggalah kalian semua menjadi PMII. Selamat hari lahir PMII yang ke 55. Tangan terkepal dan maju ke muka. Untuk NU, Islam dan Indonesia!
Share:

Friday, April 17, 2015

Lebih 50 Ribu Kader Hadiri Puncak Harlah PMII Ke-55




Memenuhi Ruang Utama Masjid Agung Surabaya: Suasana Puncak Perayaan Harlah PMII Ke-55

Surabaya — pastiaswaja.org — Sekitar 50 ribu lebih kader Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) dari seluruh Nusantara memenuhi ruang utama Masjid Agung Surabaya. Mereka menghadiri puncak perayaan hari lahir (HARLAH) PMII ke-55 (17/04/15).

Kegiatan yang dilaksanakan selama tiga hari berturut-turut ini mengambil tema "Pembela Bangsa, Penegak Agama". Pengambilan tema itu bertujuan untuk menegaskan posisi PMII sebagai organisasi kemahasiswaan yang nasionalis dan religius.

"Dengan berlandaskan Pancasila sebagai falsafah kehidupan berbangsa dan bernegera, dan berlandaskan Islam Ahlus Sunah wal Jamaah, PMII diberikan amanah oleh 'orang tua' kita, Nahdlatul Ulama, untuk memperjuangkan Islam yang bercorak ke-Indonesia-an (Tawasuth, Tawazun, Tasamuh, Ta'adul) dan untuk menangkal gerakan-gerakan radikal. Maka dari itu, pelaksanaan HARLAH ini kita laksanakan di masjid, dengan tujuan untuk mengembalikan PMII ke masjid dan untuk menegaskan kita sebagai organisasi yang menggabungkan antara nilai-nilai Pancasila dan Islam Ahlus Sunnah wal Jamaah." Kata Ketua Umum Pengurus Besar (PB) PMII, Aminiddinuddin Ma'ruf, saat memberikan Sambutan.

Dia juga menambahkan, bahwa tujuan dibentuknya PMII adalah untuk memperjuangkan hak-hak bangsa Indonesia.

"Mahasiswa Islam Indonesia merupakan eksponen dalam memperjuangkan kesejahteraan, kemakmuran, kemerdekaan bangsa. Maka dari itu, dibentuklah Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia." Paparnya.

Hadir juga untuk memberikan sambutan dalam kegiatan itu ketua umum Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), A. Muhaimin Iskandar selaku ketua MABINAS (Majelis Pembina Nasional) PB. PMII. Selain itu, Presiden Republik Indonesia, Ir. Joko Widodo hadir juga untuk memberikan sambutan.

Kegiatan yang sebelumnya diisi dengan bakti sosial, donor darah, pentas seni dan budaya ini juga diisi dengan pemutaran video sejarah singkat PMII.

Sekedar informasi, kegiatan puncak ini dihadiri oleh alumni PMII yang tergabung dalam Kabinet Kerja: Menteri Pemuda dan Olah Raga (Imam Nahrawi), Menteri Desa, PDT dan Transmigrasi (Marwan Ja'far), Menteri Tenaga Kerja (Hanif Diakhiri), Menteri Sosial (Khofifah Indar Parawansa), Menteri Agama (Lukman Hakim Saifuddin), ketua umum JATMAN (Jamiyah Thariqah Al-Mu'tabarah An-Nahdliyah) Habib Muhammad Luthfi dan tokoh-tokoh nasional alumni PMII lainnya. (ahn)
Share:

Dinilai "Jual" NU Ke Syiah, Ini Klarifikasi PC. ISNU Cirebon




Sebagaimana diberitakan, KH. Muhammad Idrus Ramli, melalui halaman facebook-nya mengkritisi PC. ISNU Cirebon yang dianggap telah "menjual NU ke Syiah. (Baca: Dinilai "Jual NU Ke Syiah", "Pendekar ASWAJA Kritik NU Cirebon)

Menanggapi kritikan itu, Pengurus Cabang (PC) Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) Kabupaten Cirebon mengklarifikasi sebagaimana dilansir oleh NU Online (15/4/2015).

****

Hanya karena Seminar, ISNU Cirebon Difitnah Dukung Syi'ah

Pengurus Cabang (PC) Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) Cirebon difitnah menyebarkan paham Syi'ah di Indonesia hanya karena akan menyelenggarakan seminar nasional dengan tema “Kontribusi Syiah terhadap Perkembangan Islam Nusantara”.

Tentu saja hal itu dibantah Ketua PC. ISNU Cirebon Abdul Muiz Syaerozie. “Namun (seminar itu, red) bukan berarti itu sebuah dukungan, bahkan dikatakan deklarasi. Ini fitnah. Semuanya tidak benar," ujarnya saat dihubungi NU Online per telepon, Selasa (14/4) malam.

Seperti diketahui, gara-gara seminar itu, beredar di media sosial plintiran pihak-pihak tidak bertanggung jawab yang tak bisa membedakan antara “mengkaji” dan “mendukung”.

Menurut Muiz, kegiatan tersebut hanya sebagai media diskusi tentang perkembangan NU yang secara fiqih menganut paham Ahlussunnah Waljamaah (Aswaja), namun dari segi tradisi ada beberapa hal yang bisa jadi merupakan hasil pengaruh dari Syi'ah.

"Hanya sebagai wadah diskusi, tak lebih. Kami hanya bercita-cita tradisi diskusi di kalangan teman-teman muda NU tidak mandek. Itu saja," katanya.

Akan tetapi, menurut Muiz, dirinya menebak bahwa persoalan ini muncul karena memang dimanfaatkan oleh kelompok lain dengan tujuan untuk memecah belah NU.

"Yang jelas, tentu kami menganggap bahwa Syi'ah merupakan bagian lain, bahkan isu ini sangat provokatif karena kami dituduh menjual nama NU ke Syi'ah, ini fitnah luar biasa," tegas Muiz.

Sementara itu, Ketua PCNU Kabupaten Cirebon, KH Ali Murtadlo mengatakan, merebaknya isu tersebut patut dijadikan pelajaran bersama bagi kalangan NU sendiri. Menurutnya,  komunikasi antarlembaga dan badan otonom NU menjadi sesuatu yang penting dan tak dapat ditawar, terutama tentang gagasan-gagasan atau acara yang hendak dilaksanakan.

"Ini hanya persoalan komunikasi saja. NU Cirebon masih sama dengan NU-NU yang lain, yang dengan mantap meyakini bahwa Syi'ah merupakan ideologi lain di luar NU. NU sudah sangat jelas berfaham Aswaja," katanya.

Persoalan ini, lanjut Kang Ali, diduga bermula dari aksi protes warga NU Cirebon pada acara deklarasi yang dilakukan oleh kelompok lain beberapa pekan lalu, sehingga, menurutnya, tema yang ditawarkan dalam rencana diskusi tersebut memang dinilai sangat sensitif.

"Aksi protes yang dilakukan kemarin itu bukan berarti warga NU Cirebon menolak kegiatan deklarasi anti Syi'ah, akan tetapi karena sangat disayangkan dalam kegiatan tersebut mencatut logo NU tanpa izin pengurus," pungkas Kang Ali.

Pada mulanya, PC. ISNU Cirebon merencanakan gedung Islamic Center Kota Cirebon sebagai tempat pelaksanaan diskusi, namun akibat terdapat pernyataan keberatan dari beberapa pihak, maka kegiatan ini pun belum diketahui secara pasti akan dilanjutkan atau dibatalkan. (Sobih Adnan/Abdullah Alawi)

Sumber: nu.or.id via: muslimedianews.com
Share:

Thursday, April 16, 2015

Besok Puncak HARLAH PMII Ke-55


SURABAYA – Memasuki usia ke 55 tahun sejak didirikan pada 17 April 1960 lalu, Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) saat ini, telah menjadi organisasi mahasiswa terbesar di Indonesia. Peringatan Hari Lahir (Harlah) PMII ke 55 inipun dilaksanakan di kota berdirinya PMII, Surabaya.

“55 Tahun lalu, PMII telah didirikan di Surabaya. Dan alasan kita memilih Surabaya sebagai lokasi Harlah ke 55 PMII ini, adalah untuk merefleksikan semangat perjuangan pendiri,” ungkap Aminuddin Ma’ruf, Ketua Umum Pengurus Besar PMII.

Adapun peringatan Harlah PMII ke 55 tersebut dilaksanakan sejak Rabu (15/4) hingga Jum’at (17/4) mendatang. Peringatan tersebut dilaksanakan dengan berbagai rangkaian kegiatan, mulai dari seminar nasional, aksi donor darah, aksi bantuan sosial, refleksi Harlah dan Panggung seni budaya, serta serangkaian puncak Harlah yang akan dilaksanakan besok malam, (17/4).

“Untuk rangkaian kegiatan Harlah ini, kita memilih kampus dan masjid sebagai lokasi kegiatan. Karna kita sebagai organisasi mahasiswa Islam, harus kembali kepada tujuan organisasi,” ungkapnya.

Untuk diketahui, puncak Harlah akan akan dilaksanakan di Masjid Al Akbar Kota Surabaya. Puncak harlah tersebut akan dihadiri oleh Pendiri PMII, Majelis Pembina Nasional (Mabinas) PMII, Ikatan Alumni (IKA) PMII, Presiden RI dan beberapa menteri yakni Menteri Sosial (Mensos), Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora), Menteri Agama (Menag), Menteri Pariwisata (Menpar), Menteri Tenaga Kerja (Menaker), Menteri Riset, Teknologi dan Perguruan Tinggi (Menristekdikti). Akan hadir juga Gubernur Jawa Timur dan Gubernur Jambi.

Rangkaian puncak Harlah akan diawali dengan istighadzah bersama 20 ribu kader PMII, yang akan dipimpin oleh Habib Luthfi. Dilanjutkan dengan pemberian penghargaan bintang Sembilan yang terdiri dari tiga kategori penghargaan. Di antaranya Bintang Sembilan Maha Cipta Pergerakan, Bintang Sembilan Maha Karya Pergerakan, dan Bintang Sembilan Abdi Karya Pergerakan. Kegiatan ini akan ditayangkan secara live di TV9.

Via: pmii.or.id
Share:

Wednesday, April 15, 2015

Lagi, Masjid Jadi Target Operasi Curanmor

Suasana TKP pasca kejadian.

Pamekasan - pastiaswaja.org — Saat kepolisian sedang gencar-gencarnya merazia motor bodong ke pelosok-pelosok desa, tadi siang tindak kriminal curanmor kembali terjadi (15/04/15). Ironisnya kasus kali ini terjadi di tempat ibadah. Pelaku menjadikan Masjid Al-Hidayah, Jatijajar, Palengaan Laok, Palengaan, Pamekasan sebagai sasaran.

Pelaku berhasil membawa kabur motor Vixion berwarna merah-putih dengan nomor polisi B 3400 TTX milik Halil, salah seorang warga asal Nagasari, Palengaan Laok, Palengaan, Pamekasan.

Korban yang berprofesi sebagai guru di salah satu sekolah swasta di kabupaten Sampang ini bermaksud untuk istirahat dan sekalian shalat dzuhur berjamaah di masjid itu setelah pulang rapat dari tempat yang tidak jauh dari lokasi kejadian.

Marzuki, salah satu jamaah masjid, menuturkan bahwa kemungkinan pelaku melancarkan aksinya saat jamaah sedang melaksanakan shalat dzuhur. "Kemungkinan pelaku beraksi saat shalat berjamaah dzuhur berlangsung, soalnya waktu saya wudlu' motor itu masih ada. Tapi setelah selesai shalat, ada yang kehilangan motornya." Tutur mantan aktivis Komunitas Mahasiswa Palengaan (KOM_P) ini.

Menurut Uki, sapaan akrab Marzuki, kejadian ini merupakan yang kedua kalinya terjadi di Masjid Al-Hidayah. "Kasus ini bukan kejadian yang pertama di masjid ini, mas. Ini yang kedua kalinya." Katanya kepada pastiaswaja.org. (ahn)
Share:

Dinilai "Jual NU Ke Syiah", "Pendekar ASWAJA" Kritik NU Cirebon


Foto undangan yang diunggah KH. Idrus di Facebook

pastiaswaja.org — Tokoh muda NU yang gelar Pendekar ASWAJA (KH. Muhammad Idrus Ramli) mengkritik keras oknum PC.NU (Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama) kota Cirebon karena dinilai telah "menjual NU ke Syiah".

Kritikan itu disampaikan oleh alumni Pon. Pes. Sidogiri ini terkait rencana kegiatan Seminar Nasional Wawasan Kebangsaan dengan tema: "Kontribusi Syiah Terhadap Islam Nusantara" yang akan diselenggarakan oleh PC. ISNU (Pengurus Cabang Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama) Cirebon.

"انا لله وانا اليه راجعون  Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama kabupaten Cirebon telah menjual NU ke Syiah yang telah disesatkan oleh para pendiri NU, Hadlratusy Syaikh KH. Hasyim Asy'ari dan para masyaikh yang lain. Fitnah apa lagi ini? Semoga Allah menyadarkan mereka dan kembali ke Ahlus Sunnah wal Jamaah, bukan Syiah, bukan Wahabi." Tulis pengurus ASWAJA Center Jawa Timur ini melalui halaman resmi Facebook-nya (14/04/15).

Dalam postingannya, tokoh NU yang lahir 40 tahun lalu ini juga mengunggah foto undangan kegiatan yang bekerjasama dengan Syiah Indonesia itu.

Dalam foto undangan kegiatan yang akan dilaksanakan pada 20 April 2015 itu akan disambut oleh: H. A. Muiz Syaerozi, S.Th.I, M.HI (ketua PC. ISNU Cirebon), KH. Usamah Mansyur (Rois PC. NU Cirebon). Adapun pematerinya adalah: Prof. Dr. Jamali Sahrodi (Direktur Pasca Sarjana IAIN Syekh Nurjati Cirebon), Dr. Khalid Walid dan Dr. Arwani Syaerozi, MA (wakil ketua PW. ISNU Jawa Barat). (ahn).
Share:

Tuesday, April 14, 2015

Beberapa Pertanyaan Untuk Saudi Arabia Atas Penyerangannya ke Yaman

Gambar: syiahindonesia.com


pastiaswaja.org — Jika memang agresi militer Arab Saudi terhadap Anshorullah al Hautsiyah (Syi'ah Hautsi) murni sebagai perang sekterian SUNNIY-SYI'IY, dan Saudi ingin menghancurkan sekte Syi'ah, maka pertanyaannya adalah: 
  1. Kenapa penduduk asli Arab Saudi yang bermadzhab Syi'ah yg tersebar di propinsi timur (Qathif, al ihsa dan sekitarnya) tidak dibombardir lebih dulu?
  2. Kenapa Dr. Muhammad Abu Ishaq yang berfaham Syi'ah bisa diangkat menjadi menteri Kerajaan Saudi?
  3. Kenapa jet-jet tempur canggih Saudi tidak langsung saja diterbangkan ke Iran dan dan menghancurkan Teheran sebagai Qiblat Syi'ah Internasional, seperti halnya tentara sekutu yg meluluh-lantakkan Hiroshima dan Nagasaki? Bukankah untuk membunuh seeokor ular akan lebih efektif bila memenggal kepalanya dulu, dari pada menggebuk ekornya?
  4. Jika kaum Hauthi sebagai separatis (bughot) kaena menggulingkan pemerintahan sah Abdurrabbuh Mansur al Hadi, sebagai alasannya. Maka pertanyaannya adalah: Kenapa di saat Muammar Qadafi (Libya) didongkel, Hosni Mubarak (Mesir) dilengserkan, dan terakhir Basyar al Aasad (Syiria) digoyang oleh Free Shirian Army (FSA), Jabhah al Nushrah, Islamic State of Irak & Sham (ISIS), Serta pemberontak-pemberontak yg serupa, Saudi ‪diam‬ saja?
  5. Jika Arab Saudi menilai syi'ah Houthi sebagai "Dhoolimiin" (penjahat) dan wajib dihapuskan dr permukaan bumi. Maka pertanyaannya adalah: Bukankah zionis - Israel lebih besar kadar kejahatannya terhadap rakyat Palestina, dan telah berlangsung dlm waktu yg sangat lama?
Tapi, Jika alasan-alasan itu semua hanya sebuah ‪topeeng‬ politik guna menutupi niat busuk Bani Saud untuk memperluas hegemoni, merebut lahan minyak, dan atau merusak stabilitas nasional Yaman sebagai episentrum dan mercusuar Keilmuan Islam Ahlussunnah Wal Jama'ah (Tarim, Hadlramaut & sekitarnya) di abad modern. Maka pertanyaan-pertanyaan itu akan hilang dan berganti sebuah Do'a: "Semoga Allah SWT menghancurkan dinasti Saudi bin Yahudi".

Share:

Monday, April 13, 2015

Blokir Situs Radikal!


Gambar: ldii-sidoarjo.org

Oleh: Ahmad Halim*

"Al-Islamu mahjubun bil-muslimin“. Cahaya Islam ditutupi dan digelapkan oleh orang Islam itu sendiri." --- Atas permintaan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) telah memblokir beberapa situs Islam yang dianggap "radikal". Ternyata hal itu mengundang reaksi publik, khususnya di media sosial. Para netizen yang menolak situs tersebut membuat gerakan #KembalikanMediaIslam.

Tak kalah menarik, Ustad kondang Muhammad Arifin Ilham pun ikut bersua dengan menuliskan surat terbuka untuk Kepala BNPT, Irjen. Pol. Drs. H. Saud Usman Nasution. Dalam suratnya, ia menyampaikan sepuluh point, salah satunya adalah menutup Jalan da'wah (memblokir situs Islam) membuat yang lemah iman semakin jahil, yang benci Islam semakin berjaya.

Jika kita melihat situs-situs yang saat ini telah diblokir oleh pemerintah, memang sangat erat kaitannya dengan gerakan-gerakan Islam Timur Tengah. Situs seperti a*******h.com, v**-i****.com, P**j***s.com, L*****o.com, K****t.net, An-n***h.net, dan a*******a.com yang dibuat oleh umat Islam itu sendiri, seringkali secara terbuka mendukung gerakan-gerakan Islam “radikal” dan mendukung pemerintahan Khilafah. Hal itu terbukti dengan ditemukannya ribuan Warga Negara Indoensia (WNI) yang bergabung dengan gerakan radikal Islamic State of Iraq and Syria (ISIS). Jika hal itu terus dibiarkan, ini akan menjadi kontradiksi dengan upaya pemerintah dalam memberantas terorisme. Pasalnya perekrutan para terorisme salah satunya yaitu melalui media online dengan menggunakan tulisan-tulisan yang mengarah pada faham radikalisme.

Pemblokiran situs Islam “radikal” yang dilakukan oleh pemerintah, menurut saya sudah tepat, karena pemerintah bukan asal blokir saja. Sebab, internet adalah media komunikasi yang efektif dan termurah dalam menyebarkan virus-virus faham radikalisme.

Ada beberapa kritria yang dianggap radikal oleh pemerintah, pertama mengajak masyarakat untuk jihad ke Syria dan negara-negara lain secara radikal. Kedua, adanya pengkafiran terhadap orang-orang yang tak sepaham. Dan ketiga, mengadu domba sesama muslim atau non muslim dan menimbulkan SARA (Suku, Agama, Ras, dan Antar golongan). Inilah pedoman pemerintah selama ini dalam memblokir atau mengawasi situs-situs yang terindikasi radikal.

Tak dapat dipungkiri, pemblokiran situs radikal yang dilakukan oleh pemerintah ini, masih menyimpan sebuah pertanyaan, seperti mengapa langsung diblokir? Tanpa melalui tahap-tahap peringatan, verifikasi, penilaian, dan pemilahan. Kemudian, Apakah ini sudah melalui prosedur yang tepat? Karena dianggap sudah melanggar undang-undang. Mengapa tidak melalui lembaga pengadilan? Dan apakah sudah diteliti betul situs-situs tersebut.

Banyaknya pertanyaan-pertanyaan di atas wajar terjadi di negara demokrasi seperti Indonesia. Tapi yang harus diperhatikan yaitu ini adalah cara preventif pemerintah dalam mencegah gerakan radikalisme di Indonesia.

Mantan ketua umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH. Hasyim Muzadi berpendapat, dasar negara yang diwakili oleh pemerintah dalam memblokir situs radikalisme adalah pertama keselamatan dan ketenangan masyarakat (umat Islam) serta keselamatan negara. Kedua keselamatan agama itu sendiri. Situs-situs tersebut sesungguhnya telah menganggu ketenangan masyarakat, negara dan agama, karena ini adalah ghozwatul fikri (perang opini). Jadi wajar jika pemerintah menutup situs-situs yang dianggap radikal untuk mencegah terjadinya benturan antar sesama muslim.

Menurut saya, karena situs-situs radikal tersebut, publik yang ingin mengetahui ajaran Islam, akhirnya cuma memahami Islam sebagai “perang”. Padahal memaknai ajaran Islam bukan seperti itu. Islam lebih mengutamakan ajaran Rasulullah yang rahmatan lil alamin.

*Sekretaris PKC PMII DKI Jakarta

Sumber: nu.or.id via: muslimedianews.com
Share:

Sunday, April 12, 2015

Partai Islam "Diam-Diam" Dukung Pemblokiran Situs Radikal

Gambar: retorics.blogspot.com

Jakarta — pastiaswaja.org - Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Komjen Saud Usman Nasution menyatakan kecewa atas sikap partai-partai Islam saat BNPT diundang dalam sebuah rapat anggota dewan di Gedung DPR pada Rabu (8/4) lalu. Mereka tidak bersuara perihal pemblokiran situs-situs Islam yang memuat hasutan dan provokasi.

“Setelah rapat ditutup, mereka dalam obrolan santai baru menyatakan dukungan untuk BNPT. Saya bilang, ‘Kenapa tidak disampaikan saat rapat berlangsung pak?’” kata Komjen Saud menceritakan kelakuan anggota fraksi sejumlah partai-partai Islam di Gedung PBNU, Jumat (10/4) siang.

Perihal pemblokiran situs ini, partai-partai berasas nasionalis dan kebangsaan lainnya juga bersikap dingin. Mereka tidak menunjukkan sikap tertentu.

Saud menaruh curiga mereka yang dari partai Islam itu khawatir kehilangan konstituen. Saud lalu menyebut sejumlah partai yang mengibarkan bendera Islam untuk menarik suara dari kalangan umat Islam. Sementara anggota dewan dari partai nasionalis dan kebangsaan lainnya mencari aman.

“Saya ingat hanya dua anggota dewan dari fraksi PKB komisi III menyatakan dukungan terbuka. ‘Maju terus pak, PKB di belakang BNPT’, kata mereka,” ujar Saud saat diskusi bertajuk ‘Media Islam, Demokrasi, dan Gerakan Terorisme: Respon NU Terhadap Situs Radikal’ bersama PBNU, NU Online, dan Radio NU. 

Via: @nu_online / nu.or.id
Share:

Lebih Bahaya Mana Situs Porno dan Situs Islam Radikal?



Oleh Ahmad Saifuddin

--Beberapa waktu lalu, Menteri Komunikasi dan Informasi Rudiantara melakukan pemblokiran beberapa situs Islam yang dianggap cukup radikal dan berpotensi memicu konflik keagamaan sehingga mampu mengancam eksistensi Negara Kesatuan Republik Indonesia. Pemblokiran situs tersebut sesuai permintaan dari Badan Nasional Penanggulangan Teroris (BNPT) melalui suratnya bernomor : 149/K.BNPT/3/2015 tentang situs/website radikal.

Pemblokiran ini kemudian memicu berbagai pro kontra di kalangan masyarakat. Pihak yang menentang menganggap bahwa langkah tersebut adalah langkah yang tidak fair. Di satu sisi, situs pornografi hanya dibiarkan saja dan di sisi lain, situs Islam radikal justru diblokir. Selain itu, langkah pemblokiran situs Islam radikal tersebut dianggap bukan langkah yang bijak karena situs Islam radikal tidak berbahaya, justru mampu menggerakkan semangat keagamaan.

Pihak yang mendukung pemblokiran situs Islam radikal tersebut menganggap bahwa konten-konten dalam situs-situs tersebut dapat memicu konflik internal keagamaan, menebar virus kebencian terhadap sesama umat manusia, bernuansa provokasi, penuh fitnah, sehingga memiliki potensi mengganggu kerukunan dan stabilitas Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Menciptakan Dua Kubu
Kemunculan pro dan kontra tersebut tidak hanya sebatas respon terhadap pemblokiran situs Islam radikal tersebut saja. Namun, lebih jauh lagi, memunculkan kesan dan persepsi mengenai dua kubu masyarakat yang selama ini dikenal selalu bertentangan, yaitu kubu Islam radikal dan kubu Islam moderat. Sebenarnya, penamaan kata “Islam radikal” dan “Islam moderat” tidak sepenuhnya tepat. Karena, Islam itu hanya satu, pemaknaan dan interpretasi terhadap teks-teks dasar agama Islam itu-lah yang beragam sehingga memunculkan pemikiran yang radikal dan fundamental serta pemikiran yang moderat dan kontekstual.

Pemblokiran situs Islam radikal yang dilakukan oleh Menteri Komunikasi dan Informasi Rudiantara ini dianggap bertolak belakang dengan tindakan Menteri Komunikasi dan Informasi era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang lalu, yaitu Tifatul Sembiring. Waktu itu, Tifatul Sembiring melakukan pemblokiran terhadap situs-situs porno karena dianggap merusak moral.

Persepsi dan kesan mengenai dua kubu yaitu antara muslim moderat dan muslim radikal ini disebabkan oleh dukungan dari pihak muslim moderat terhadap upaya pemblokiran situs-situs Islam radikal tersebut. Sedangkan, pihak muslim radikal menganggap tindakan tersebut adalah tindakan yang tidak bijak sehingga pihak muslim radikal membandingkan tindakan Menteri Rudiantara dengan Tifatul Sembiring.

Pada akhirnya, tercipta persepsi dan kesan bahwa pihak muslim moderat lebih menyetujui pemblokiran situs Islam radikal daripada situs porno, terlebih lagi ketika pemblokiran situs porno oleh Tifatul Sembiring, pihak muslim moderat tidak mengeluarkan dukungan secara eksplisit. Di sisi lain, tercipta persepsi dan kesan bahwa pihak muslim radikal-lah yang fokus pada perbaikan moral dengan dukungannya terhadap Tifatul Sembiring dalam memblokir situs porno beberapa tahun lalu. Konsekuensinya, pihak muslim moderat dianggap tidak fokus terhadap perbaikan moral dan lebih mementingkan memberantas sesuatu yang dianggap “wajar” dalam pandangan pihak muslim radikal.

Persepsi dan kesan tersebut tidak sepenuhnya benar. Bahwa muslim moderat pun juga fokus pada perbaikan moral dan jelas-jelas menentang pornografi. Lebih-lebih menentang cara dakwah muslim radikal yang seringkali memuat isu SARA dan provokasi sehingga dapat mengancam kerukunan intern dan antar umat beragama.

Sekali lagi, pemblokiran situs Islam radikal tersebut adalah bukan tanpa alasan. Jelas, bahwa BNPT menganggap bahwa situs-situs tersebut dianggap seringkali memuat konten provokasi yang mengancam kerukunan umat beragama dan eksistensi Negara Kesatuan Republik Indonesia.  Ironisnya, banyak pihak masyarakat yang terprovokasi oleh berita media bahwa pemblokiran situs Islam radikal tersebut bukan langkah bijak karena situs Islam dianggap sebagai media dakwah dan media belajar. Jika memang situs-situs tersebut merupakan sarana dakwah dan media belajar, hendaknya tidak memuat konten provokasi dan mendangkalkan pemikiran masyarakat.


Mana yang Lebih Berbahaya?

Kemajuan IPTEK yang semakin pesat membuat setiap orang mudah mengakses apapun dari situs. Terlebih lagi, kemudahan dan kelengkapan tersebut membuat masyarakat menjadikan situs sebagai rujukan utama dalam mencari setiap jawaban persoalan kehidupan. Hal ini kemudian membuat situs dan media massa mampu mempengaruhi mindset dan attitude masyarakat luas, bahkan mampu mempengaruhi religiusitas masyarakat. Situs dan media massa menajdi alat penggiring dan pembentuk opini pada masyarakat yang sebenarnya opini tersebut juga sarat akan kepentingan.

Adalah situs porno dan situs Islam radikal yang menjadi sorotan. Situs porno diblokir oleh Tifatul Sembiring, sedangkan situs Islam radikal diblokir oleh Menteri Komunikasi dan Informasi Rudiantara sesuai permintaan BNPT. Manakah yang lebih berbahaya? Jelas, jawabannya adalah keduanya berbahaya. Jelas, keduanya dapat membawa madlarat (kerusakan) yang sangat besar bagi bangsa ini.

Situs porno dapat merusak moral generasi bangsa, sedangkan situs Islam radikal dapat memicu konflik dan mengancam keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Pemblokiran terhadap keduanya memang harus dikawal secara teliti. Toh, situs porno ketika masa Tifatul Sembiring juga masih dapat diakses dengan bukti masih banyaknya berita mengenai masih banyaknya konten pornografi di berbagai internet dan masih banyaknya penyebaran video-video porno. Akan lebih baik lagi bahwa sasaran pemblokiran tidak hanya situs internet, tetapi juga media massa cetak yang memiliki indikasi konten pornografi dan Islam radikal.


Jangan Sampai Indonesia Seperti Timur Tengah

Situs Islam radikal memang mengkhawatirkan banyak pihak karena seringkali memuat konten yang radikal dan provokasi sehingga berpotensi memicu konflik dan mengancam keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Situs Islam radikal ini menjadi sangat berpengaruh di masa sekarang, ketika banyak orang malas belajar dan berguru langsung kepada seseorang yang berkapasitas (‘alimdan faqih) dalam permasalahan agama, ketika banyak orang menginginkan jawaban masalah keagamaan dengan instan dan cepat.

Pihak muslim radikal memiliki strength pada permasalahan ini. Pihak muslim radikal sangat memahami kebutuhan masyarakat tersebut sehingga situs Islam radikal pun kian hari kian menjamur. Masyarakat pun semakin banyak yang menjadikan situs tersebut sebagai “guru” dan “panutan” dalam kehidupannya, sehingga tidak hanya tentang penafsiran secara radikal terhadap teks-teks keagamaan saja yang diikuti, tetapi juga alur berpikir dan opini terhadap berbagai permasalahan dan peristiwa yang menimpa umat Islam di berbagai penjuru dunia.

Situs-situs Islam radikal pun sangat up to date membahas peristiwa konflik di  berbagai negara Islam di dunia dengan dikemas memakai bungkus agama dan dalil Al Qur’an dan Sunnah. Tidak hanya sampai di situ, situs-situs Islam radikal pun juga mengkontekskan berbagai permasalahan di berbagai negara Islam (Timur Tengah misalkan) dengan di Indonesia sehingga berpotensi memicu konflik di Indonesia. Tidak jarang situs-situs Islam radikal yang dibuat oleh pihak muslim radikal menganggap umat Islam di luar kelompoknya adalah kafir, bid’ah, dan sesat. Bahkan, seringkali membahas mengenai isu Syi’ah, isu khilafah, dan isu-isu lainnya sehingga mampu menggerakkan pikiran dan perilaku seseorang untuk ikut berjuang sesuai dengan penafsirannya yang radikal. Pada titik inilah situs Islam radikal dipandang sebagai hal yang membahayakan dan mengancam keharmonisan umat beragama.

Negara-negara Islam yang saat ini sedang berkonflik (Suriah dan Yaman misalkan) maupun yang sudah berkonflik (Mesir misalkan) seharusnya mampu menjadi cermin bagi Islam Indonesia. Konflik-konflik tersebut timbul karena salah satu penyebabnya adalah pemahaman terhadap teks-teks keagamaan secara radikal. Cukup Islam ala Indonesia saja yang menjadi dasar. Islam ala Indonesia ini bukan berarti tidak mengikuti Nabi Muhammad SAW. Islam ala Indonesia ini merupakan Islam yang dibumikan berdasarkan konteks keindonesiaan. Sejak Islam turun, Islam selalu berdialektika dengan budaya. Begitu juga ketika para penyebar Islam di Indonensia membawa Islam, dibumikan berdasarkan konteks Indonesia tanpa mengubah esensi ajaran Islam sedikitpun. Islam dan budaya Indonesia memiliki kesamaan yang besar, yaitu ramah bukan marah. Islam dan Indonesia adalah lembut dan saling berkasih sayang. Islam dan Indonesia juga memiliki nilai yang sama, yaitu nilai toleransi yang besar. Maka dari itu, jangan sampai esensi Islam yang rahmatan lil ‘alamindan jiwa Indonesia yang ramah dan lembut ini dirusak oleh pemikiran muslim radikal yang seringkali memprovokasi dan mengadu domba. Konten-konten yang disajikan dalam situs seharusnya konten-konten yang mendidik dan mencerahkan, bukan malah provokasi dan pendangkalan pemikiran.


Memperkuat Basis Muslim Moderat
Upaya pemblokiran situs Islam radikal tersebut hendaknya diimbangi oleh penguatan basis muslim moderat. Pihak muslim moderat (di Indonesia diwakili oleh Nahdlatul ‘Ulama dan Muhammadiyah) hendaknya memperkuat basisnya dengan edukasi terhadap permasalahan kekinian guna menyeimbangkan dialektika pihak muslim radikal. Penguatan basis dapat dilakukan dengan menguatkan lembaga pendidikan masing-masing, mengisinya dengan pembahasan terhadap masalah kekinian. Selain itu, himbauan tertulis terhadap warganya untuk senantiasa berpegang teguh pada ajaran Islam nusantara yang mengutamakan toleransi dan kerukunan dalam membangun bangsa dan mengawal eksistensi Negara Kesatuan Republik Indonesia akan sangat membantu penguatan basis muslim moderat.

Dalam Muktamarnya pada tahun 1935, Nahdlatul ‘Ulama memutuskan untuk tidak mendukung terbentuknya Negara Islam melainkan mendorong umat Islam untuk mengamalkan ajaran agamanya demi terbentuknya masyarakat yang Islami dan sekaligus memperbolehkan pendirian negara bangsa. Selain itu, Nahdlatul ‘Ulama menjunjung tinggi salah satu prinsip Ahlussunnah wal Jama’ah, yaitu tasamuh (toleransi) dalam berdakwah, membentengi umat dari berbagai pemahaman yang keluar dari mainstream Ahlussunnah wal Jama’ah tanpa adanya provokasi. Nahdlatul ‘Ulama selalu memaknai teks-teks keagamaan secara kontekstual. Dalam buku “Ilusi Negara Islam” yang diterbitkan oleh LibForAll Foundation (200() atas kerjasama Gerakan Bhinneka Tunggal Ika, the Wahid Institute, dan Ma’arrif Institute, dilampirkan mengenai penolakan Nahdlatul ‘Ulama terhadap gerakan ekstrem dan radikal, yaitu pada halaman 252 sampai dengan halaman 308.

Di sisi lain, Muhammadiyah pun mengeluarkan banyak tulisan mengenai terusiknya Islam yang damai karena pengaruh muslim radikal, seperti tulisan Prof. DR. Abdul Munir Mulkhan, yang berjudul “Sendang Ayu : Pergulatan Muhammadiyah di Kaki Bukit Barisan” dalam Suara Muhammadiyah edisi 2 Januari 2006, Farid Setiawan (Ketua Umum Dewan Pimpinan Daerah Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Daerah Istimewa Yogyakarta) yang berjudul “Ahmad Dahlan Menangis” dalam Suara Muhammadiyah edisi 20 Pebruari 2006 dan “Tiga Upaya Mu’allimin dan Mu’allimat” dalam Suara Muhammadiyah edisi 3 April 2006. Puncaknya, Pimpinan Pusat Muhammadiyah mengeluarkan Surat Keputusan Pimpinan Pusat Muhammadiyah Nomor 149/Kep/I.0/2006 yang berisi himbauan untuk “menyelamatkan Muhammadiyah dari berbagai tindakan yang merugikan persyarikatan” dan membebaskannya “dari pengaruh, misi, infiltrasi, dan kepentingan partai politik yang selama ini mengusung misi dakwah atau partai politik bersayap dakwah”.

Negara Kesatuan Republik Indonesia didirikan oleh para ulama kedua ormas tersebut. Terbukti, banyak syuhada’ dan pejuang kemerdekaan berasalkan dari Nahdlatul ‘Ulama dan Muhammadiyah. Bahkan, beberapa perumus Negara Kesatuan Republik Indonesia pun berasal dari kedua ormas tersebut, diantara KH. Abdul Wachid Hasyim (Nahdlatul ‘Ulama) serta Ki Bagus Hadikusumo dan KH. A. Kahar Muzakkir (Muhammadiyah). Selain itu, kedua ormas tersebut juga konsisten dan komitmen dalam memperbaiki moral bangsa.



Pemblokiran situs Islam radikal maupun pemblokiran situs porno, hendaknya disikapi secara proporsional dan rasional karena sama-sama berbahaya. Selain itu, juga diimbangi dengan langkah problem solving yang lain, yaitu memperkuat situs muslim moderat, memperbaiki moral dan akhlak, memperkuat basis muslim moderat, menggiatkan kegiatan deradikalisasi atas nama agama, membumikan nilai Islam rahmatan lil ‘alamin, memajukan pendidikan Islam ala nusantara, menggairahkan pembahasan mengenai firqah-firqah dalam Islam secara obyektif, dan meningkatkan intensitas kajian mengenai sahnya Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Akhirnya, jika memang pemblokiran situs-situs Islam radikal untuk menghindari potensi munculnya gerakan yang mengancam keutuhan bangsa dan merusak kerukunan, hendaknya Menteri Komunikasi dan Informasi juga mempertimbangkan pemblokiran situs porno dan situs judi yang juga merusak moral bangsa dan situs komunis yang juga berpotensi mengancam eksistensi Negara Kesatuan Republik Indonesia. Wallahu a’lam bish shawab.

***

Ahmad Saifuddin, mahasiswa magister psikologi profesi Universitas Muhammadiyah Surakarta, wakil sekretaris bidang teknologi, informasi, komunikasi, dan jaringan Pimpinan Wilayah Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama Propinsi Jawa Tengah, dan Sekretaris Lembaga Kajian Pengembangan Sumber Daya Manusia PCNU Klaten.

Sumber:  muslimedianews.com
Share:

Thursday, April 9, 2015

Nasionalisme Dalam Perspektif Aswaja

Oleh: Muhammad Ahnu Idris
Pengertian dan Fungsi Aswaja
Aswaja adalah akronim dari Ahlus Sunnah Wal Jamaah. Aswaja merupakan prinsip bagi warga nahdliyin (sebutan bagi anggota NU) dan ruh bagi jam’iyah Nahdlatul Ulama, meskipun pada kenyataanya tidak semua warga nahdliyin sama dalam memposisikan Aswaja. Pada awal berdirinya NU hingga sekitar tahun 1994, Aswaja lebih didorongkan sebagai madzhab. Para ulama-ulama NU sendiri pada awalnya berbeda pendapat mengenai pengertian Aswaja. KH. Sirajuddin Abbas dalam karangannya I’tiqad Ahlus Sunnah wal Jamaah mendifinisikan Ahlus Sunnah wal Jama’ah “sebagai kaum yang menganut i’tiqad yang dianut oleh Nabi Muhammad SAW. dan sahabat-sahabat beliau.” Berbeda halnya dengan Drs. KH. Syamsudin Anwar dalam tulisannya Ahlus Sunnah wal Jamaah Konteksnya Dengan Sumber Daya Manusia dan Lingkungan Hidup yang mendefinisikan Aswaja sebagai ”penganut ajaran, paham (doktrin) yang menganut pada sunah Nabi dan i’tiqad para sahabat Nabi.”
Kemudian pengertian ini mengalami perubahan ketika Ahlus Sunnah diartikan berdasarkan perspektif Nahdlatul Ulama. Dalam Qanun Asasi yang dirumuskan oleh Mbah Hasyim tertulis bahwa Aswaja merupakan sebuah paham keagamaan di mana dalam bidang aqidah menganut pendapat Al-‘Asy’ari dan Al-Maturidi, dalam bidang fiqih menganut salah satu dari keempat madzhab (Imam Hanafi, Imam Malik, Imam Syafi’i dan Imam Habali), dan dalam bidang tasawuf menganut Imam Junaid Al-Baghdadi dan Imam Al-Ghazali.
Jika kalangan “sepuh” NU memposisikan Aswaja sebagai tujuan dalam beragama, kalangan mahasiswa NU (PMII) dan kader muda NU memposisikan Aswaja sebagai manhajul fikr (metodologi berfikir). Rumusan ini pertama kali diintrodusir oleh Kang Said (sapaan akrab Ketua Umum PBNU, Prof. Dr. Said Aqil Siradj) dalam sebuah forum di Jakarta Pada tahun 1991. Sebagai manhajul fikr Aswaja tidak dijadikan tujuan dalam beragama melainkan sebagai metode dalam berfikir untuk mencapai kebenaran agama.
Rumusan Aswaja sebagai manhajul fikr bisa diterima oleh kalangan muda NU setelah melihat realita sosial, politik, budaya dan lain sebagainya. Dengan karakter tawassuth (moderat), tasamuh (toleransi), tawazun (seimbang) / netral) dan ta’addul (keadilan, tegak, lurus) kalangan muda NU tidak hanya mencari kebenaran beragama melalui nilai-nilai Aswaja, tapi juga mencoba menyelami, memahami dan mencari solusi persoalan-persoalan yang dihadapi masyarakat.
Sekalipun dua kalangan ini berbeda dalam memposisikan Aswaja, akan tetapi ada satu titik yang kemudian menyatukan mereka, yaitu nasionalisme. Aswaja mengajarkan setiap manusia untuk mencintai dan berkorban demi bangsa dan negara.
Pengertian dan Dalil Nasionalisme
Pengertian Nasionalisme
Ada kelompok tertentu yang menyatakan bahwa nasionalisme menjadi penghalang bagi persatuan umat Islam. Pernyataan ini didengung-dengungkan oleh mereka yang pro dengan berdirinya khilafah islamiyah. Kelompok ini juga biasa disebut kelompok transnasional. Tidak hanya itu saja, kelompok ini juga berpendapat bahwa nasionalisme tidak mempunyai dasar dan dalil dalam agama. Jadi nasionalisme adalah sesuatu yang diada-adakan dalam agama. Dan hal itu hukumnya haram.
Sebelum berbicara mengenai nasionalisme dalam perspektif agama, alangkah baiknya untuk menjelaskan pengertian nasionalisme menurut para ahli terlebih dahulu.
Dalam bukunya yang berjudul Pendidikan Kewarganegaraan Perjuangan Menghidupi Jati Diri Bangsa, Minto Rahayu memaparkan definisi-definisi kata nasionalise menurut para ahli: 1). Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kata “Nasionalisme” berasal dari kata “nasional” dan “isme”, yang berarti paham kebangsaan yang mengandung makna kesadaran dan semangat cinta tanah air; 2). Menurut Soekarno, nasionalisme adalah sebuah pilar kekuatan bangsa-bangsa terjajah untuk memperoleh kemerdekaannya; 3). Menurut Ernest Gellenervia, nasionalisme adalah suatu prinsip politik yang beranggapan bahwa unit nasional dan politik seharusnya seimbang; 4). Menurut Anderson, nasionalisme adalah kekuatan dan kontinuitas dari sentiment dan identitas nasional dengan mementingkan nation; 5). Menurut H. Kohn, nasionalisme adalah suatu bentuk state of mind and act of consciousness (keadaan pikiran dan tindakan kesadaran); 6). Menurut Ernest Renan, nasionalisme adalah kemauan untuk bersatu tanpa paksaan dalam semangat persamaan dan kewarganegaraan.
Dari sekian pengertian menurut para ahli, dapat disimpulkan definisi nasionalisme adalah paham yang menciptakan dan mempertahankan kedaulatan sebuah Negara (nation) dengan mewujudkan satu konsep identitas bersama untuk sekelompok manusia. Atau dapat juga diartikan sebagai formalisasi (bentuk) dari kesadaran nasional dan bernegara sendiri.
Nasionalisme Dalam Perspektif Aswaja
“Tidak diragukan lagi bahwasanya membela agama, jiwa, keluarga, harta dan juga negara beserta penduduknya merupakan bagian dari jihad yang disyari’atkan. Seorang muslim yang terbunuh di dalam upaya tersebut, dianggap mati sebagai syahid, berdasarkan sabda Nabi Muhammad SAW……………”
Kalimat di atas adalah penggalan artikel Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz yang diposting di website (www.binbaz.org.sa) dengan judul Difa’ul Muslimina ‘An Biladihim minal Jihadi. Dalam kalimat tersebut, jelas sekali Syaikh Abdul Aziz menanamkan nilai-nilai nasionalisme kepada para muslimin.
Pernyataan di atas, sejalan dengan Resolusi Jihad Nahdlatul Ulama pada 22 Oktober 1945 yang mewajibkan seluruh umat Islam dalam radius 94 KM. untuk turut serta mengangkat senjata mengusir tentara sekutu dan NICA “untuk tegaknya Negara Republik Indonesia merdeka.”
Nasionalisme tidak melulu identik dengan mengangkat senjata dan berperang mengusir penjajah. Nasionalisme juga bisa berupa kepatuhan dan ketaatan terhadap hukum negara. Dalam hal ini, salah satu tokoh panutan Aswaja dalam bidang tasawuf, Imam Junaid Al-Baghdadi, memberikan contoh sebagaimana dikutip oleh Syaikh Abdul Wahhab Asy-Sya’rani dalam kitab beliau yang berjudul Al-Yawaqitu wal Jawahiru: “seandainya aku adalah seorang penguasa, niscaya aku penggal kepala setiap orang yang mengatakan, ‘tidak ada yang maujud kecuali Allah.”
Perkataan Imam Junaid Al-Baghdadi tersebut menggambarkan bahwa beliau sangat patuh dan taat terhadap hukum negara sehingga tidak “main hakim” sendiri sekalipun di sekitarnya terdapat paham yang menurut beliau dianggap “sesat”. Beliau sadar bahwa yang berhak menentukan sanksi bagi mereka yang “sesat” adalah pemerintah.
Ketaatan Imam Junaid Al-Baghdadi terhadap undang-undang negara tersebut, mungkin menjadi inspirasi bagi warga Nahdliyin untuk menerima UUD ’45 dan Pancasila sebagai ideologi dan falsafah bangsa. Hal ini terbukti dengan dilaksanakannya sidang oleh (partai) NU di Cipanas, Bogor pada tanggal 26-28 Maret 1958 guna menyikapi kondisi politik pada waktu itu. Sidang dewan partai tersebut mengambil keputusan antara lain menerima UUD 1945 yang secara substansial menjadikan Piagam Jakarta sebagai rohnya. Atau dengan kata lain, Piagam Jakarta menjiwai terhadap UUD 1945.
Jauh sebelum itu, pada tahun 1935 (10 tahun sebelum Proklamasi kemerdekaan RI) dalam Muktamar NU ke-11 di Banjarmasin, NU sudah memberikan status hukum negara Indonesia sebagai Darul Islam meskipun pada waktu itu Indonesia masih berada di bawah kekuasaan penjajah Belanda. Dengan kata lain, sejak waktu itu, NU menerima Indonesia sebagai negara seperti apapun bentuk pemerintahannya. Singkatnya, apun bentuk negaranya, itu sesuai dengan Islam dan harus diperjuangkan.
Sikap nasionalisme NU juga bisa dilihat dari gambar peta Indonesia pada unsur bola dunia dalam lambang NU. Lambang NU yang diciptakan oleh KH. Ridlwan Abdullah dalam Anggaran Dasar NU pasal 4 dijelaskan, “gambar peta pada bola dunia merupakan peta Indonesia melambangkan bahwa Nahdlatul Ulama dilahirkan di Indonesia dan berjuang untuk kejayaan Negara Republik Indonesia.”
Sebagaimana telah disampaikan di atas, ada beberapa kelompok yang menyatakan bahwa cinta tanah air itu hukumnya haram dan tidak mempunyai dalil dalam agama. Pernyataan itu sepenuhnya salah. Dalam suatu hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu ‘Abbas, bercerita tentang diusirnya Rasulullah SAW. dari kota Makkah, beliau bersabda: “sungguh aku diusir darimu (Makkah). Sungguh aku tahu bahwa engkau adalah Negara yang paling dicintai dan dimuliakan oleh Allah. Andai pendudukmu (kaum Quraisy) tidak mengusirku darimu, maka aku tidak akan meninggalkanmu.” (Musnad Al-Harits karangan Al-Hafidz Al-Haitsami.)
Setelah Rasulullah pertama kali sampai di Madinah, beliau berdoa: “ya Allah, jadikan kami mencintai Madinah seperti cinta kami kepada Makkah atau melebihi cinta kami pada Makkah.” (HR. Al-Bukhari).
Kedua hadits tersebut menjelaskan betapa cintanya Rasulullah kepada Makkah. Oleh sebab itu beliau merasa sangat berat meninggalkan kota Makkah saat beliau diusir oleh kaum Quraisy. Dan setelah sampai di Madinah, beliau meminta kepada Allah supaya diberikan rasa cinta yang sama kepada Madinah seperti rasa cinta kepada Makkah, bahkan Rasulullah meminta supaya rasa cinta beliau kepada Madinah lebih besar dibandingkan saat beliau di Makkah.
Wallahu a’lam bis shawab.
Share:

Home Style

Contact Form

Name

Email *

Message *

Ads

Ads

Latest News

Popular Posts

Blog Archive