Category 1

Theme Support

Eksekusi Mati: Korelasi ASAWAJA dan Undang-Undang Nomer 22 Tahun 1997 Tentang Narkotika


Akhir-akhir ini bumi nusantara ramai membicarakan kebijakan pemerintah yang menjatuhkan hukuman mati terhadap 10 orang tersangka yang terjerat undang-undang tentang narkotika. Kebijakan ini banyak menemuai pro dan kontra, bahkan kecaman dari negara asal para tersangka. Mereka –yang kontra– beralasan bahwa hukuman mati adalah bentuk hukuman yang tidak manusiawi, karena merampas hak yang paling asasi, yaitu hak untuk hidup.

Tanpa bermaksud menyalahkan "anggapan" tersebut, disini penulis mencoba menjelaskan pandangan Islam Ahlus Sunnah wal Jamaah tentang hukuman mati bagi para pelaku tindak kriminal narkotika.

Hikmah pertama diutusnya Rasulullah Muhammad SAW. adalah untuk menyebarkan kasih sayang Sang Khaliq ke seluruh alam semesta, sebagaimana tertera dalam Al-Quran Surat Al-Anbiya' ayat 107:
وما ارسلناك الا رحمة للعالمين

Artinya: “Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam." (QS. Al-Anbiya': 107)

Para pelanggar undang-undang tentang narkoba, jelas-jelas menyalahi ayat ini.

Indonesia Darurat Narkoba
Narkoba adalah singkatan dari narkotika dan obat/bahan berbahaya. Selain "narkoba", istilah lain yang diperkenalkan khususnya oleh Kementerian Kesehatan Republik Indonesia adalah Napza yang merupakan singkatan dari narkotika, psikotropika, dan zat adiktif.

Berdasarkan data BNN (Badan Narkotika Nasuional) tahun 2014, pengguna narkoba di Indonesia mencapai angka 4 juta orang (dari usia 10 sampai 59 tahun. Setiap harinya, korban meninggal akibat narkoba mencapai angka 33 orang dan 12.044 orang dalam satu tahun. Ironis.

Selain banyak "mengantarkan" penggunanya menuju liang lahat, narkoba juga menyebabkan banyak kerugian bagi negara. Menurut Humas BNN, Slamet Pribadi, sebagaimana dilansir BBC Indonesia (29 April 2015), kerugian material yang dialami oleh negara mencapai Rp. 63,1 triliun, mencakup kerugian akibat belanja narkoba, biaya pengobatan dan rehabilitasi, barang-barang yang dicuri dan lain semacamnya. Tidak heran jika kemudian Slamet Pribadi menyatakan bahwa saat ini Indonesia berada dalam status "Darurat Narkoba."

Jadi, kurang tepat jika hukuman mati bagi pelaku kriminal yang terjerat undang-undang narkotika dianggap tidak manusiawi dan melanggar HAM, karena narkotika telah banyak membunuh anak-anak calon penerus bangsa, dan mereka (yang meninggal dunia) juga mempunyai hak untuk hidup.

Jika hukuman mati dianggap merampas hak orang lain, maka apa bedanya dengan menjebloskan mereka ke dalam jeruji besi? Bukan itu juga merampas mereka untuk hidup bebas? Begitu kira-kira "kicauan" Prof. Mahfud MD melalui akun twitternya.

Eksekusi Mati Dalam Pandangan ASAWAJA dan Undang-Undang Tentang Narkotika
Dalam Undang-Undang Nomer 22 tahun 1997 tentang narkotika, tidak hanya produsen dan pengedar saja yang akan dikenakan hukuman, tapi pengguna narkotika juga dikenakan hukuman. Berikut uraiannya:
  • Pasal 78 ayat (1a): Tanpa hak menanam atau memelihara tanaman penghasil narkotika, diancam hukuman 10 tahun + denda maximal Rp. 500 juta.
  • Pasal 80 ayat (1) poin (a), (b), (c): Tanpa hak memproduksi narkotika, diancam hukuman 7 tahun s.d pidana mati/seumur hidup + denda Rp. 200 juta s.d. Rp. 1 Milyar
  • Pasal 81 ayat (1) poin (a), (b), (c): Tanpa hak membawa atau mengirimkan narkotika, diancam hukuman 7 tahun s.d 15 tahun + denda Rp. 250 juta s.d. Rp. 750 juta
  • Pasal 84 poin (a), (b), (c): Tanpa hak mengedarkan narkotika, diancam hukuman 5 tahun s.d 15 tahun + denda Rp. 250 juta s.d Rp. 750 juta
  • Pasal 85 poin (a), (b), (c): Tanpa hak menggunakan narkotika, diancam hukuman 1 tahun s.d 4 tahun.
Bahtsul Masail Nahdlatul Ulam pada Muktamar NU ke-31 di Asrama Haji Donohudan-Boyolali-Jawa Tengah telah memutuskan kebolehan untuk menghukum mati bagi pemasok psychotropika dan narkotika. Alasan yang dikemukan dalam keputusan tersebut adalah karena menimbulkan mafsadah yang besar. (Lihat, Ahkam al-Fuqaha`, Khalista dan Lajnah Ta’lif Wan Nasyr, cet ke-1, 2011, h. 618-624)

Dalam Al-Quran Allah SWT. berfirman:

إنما  جزاء الذين يُحارِبون اللّه ورسوله ويسعَوْن في الأرض فساداً ان يُقتَّلوا  او يُصلَّبوا  او تُقطَّعَ ايديهم وأرجُلِهم من خِلافٍ او يُنفوْا من الأرض ذٰلك لهم خِزْيٌ في الدنيا ولهم في الأخرة عذابٌ عظيم.

Artinya: "sesungguhnya pembalasan terhadap orang-orang yang memerangi Allah dan RasulNya dan membuat kerusakan di muka bumi, hanyalah mereka dibunuh dan disalib, atau dipotong tangan dan kaki mereka dengan bertimbal balik, atau dibuang dari negeri. Yang demikian itu suatu penghinaan untuk mereka di dunia, dan di akhirat mereka beroleh siksaan yang besar." (QS. Al-Maidah: 33)

Berkenaan dengan narkoba, Rasulullah bersabda:

عن دَيْلمٍ الحِمْيَرِيِّ قال سألت رسول الله صلّى الله عليه وسلم فقلتُ يا رسول الله إنّا بأرضٍ بارِدةٍ نُعالِجُ بها عملاً شديداً وإنا نتّخذ شرابا من هذا القَمْح  نَتقوّى به على أعمالنا وعلى برْد بلادنا قال هل يُسـكِرُ؟ قلت نعم قال فاجتنبواه قال ثم جئت من بينِ يديه فقلت له مثلَ ذٰلك فقال هل يسكر؟ قلت نعم قال فاجتنبواه قلت إن الناس غير تاركِيْهِ قال فإن لم يترُكواه فاقتُلواهم. (رواه احمد وابو داود)

Artinya: "dari Dailami Al-Himyari, ia berkata: 'aku bertanya kepada Rasulullah SAW.: 'ya Rasulallah, kami tinggal di negeri yang bersujud udara dingin dan kami mengatasinya dengan bekerja berat dan kami membuat minuman dari gandum ini untuk menambah kekuatan kami dalam bekerja dan mengatasi dinginnya suhu di negeri kami.' Beliau SAW. menjawab: 'apakah menyebabkan mabuk?' Aku menjawab: 'ya.' Beliau bersabda: 'jauhilah!' Kata Dailami: 'aku mendekat tepat di hadapan beliau SAW., dan hal tersebut aku tanyakan kembali kepada beliau, maka beliau menjawab: 'apakah memabukkan?' Aku menjawab: 'ya.' Sabda beliau: 'jauhilah!' Aku mencoba menjelaskan: orang-orang sulit meninggalkan (kebiasaan) tersebut. Beliau menjawab: 'jika mereka tidak mau meninggalkannya, maka perangilah." (HR. Ahmad dan Abu Daud)

Dalam kIran Al-Fiqhul Islamiyah wa Adillatuhu dijelaskan tentang diporbolehkannya eksekusi  bagi para pelaku tindak kriminal narkotika:

ومن لم يَندفع فساده في الأرض إلا بالقتل قُتِلَ، مثل المفرِّق لجماعة المسلمين، والداعي الى البِدَع في الدين، .... وامر النبي صلى الله عليه وسلم بقتل رجل تعمَّد عليه الكذِبَ، وسأله ديلمُ الحميري - فيما يرويه احمد في المسند - عمن لم يَنْتَهِ عن شُرب الخمر في المرَّة الرابعة،  فقال:  فإن لم يترُكواه فاقتلواهم. والخُلاصة: أنه يجوز القتل سياسةً لمُعْتادِي الإجرام ومُدْمِنِ الخمر ودُعاةِ الفساد ومُجْرمِي امْن الدولة ونحوهم.

Artinya: "barangsiapa berperilaku kriminal dan dampak negatifnya tidak bisa dicegah kecuali dengan jalan hukuman mati, maka hukuman mati harus dijatuhkan kepadanya; semisal orang yang memprovokasi perpecahan dalam masyarakat muslim, atau orang yang mengajak pada perbuatan bid'ah dalam agama... karena Nabi pernah memerintahkan untuk melaksanakan hukuman mati kepada orang yang secara sengaja membuat kebohongan atas nama beliau. Dailami Al-Himyari menanyakan kepada beliau -dalam versi riwayat Ahmad, dalam Musnad- tentang orang yang tidak bisa berhenti minum minuman keras sampai peringatan keempat kali. Maka beliau SAW. menjawab: 'jika mereka tetap tidak mau meninggalkannya, maka jatuhkanlah hukuman mati kepada mereka.' Kesimpulannya: bahwa diperbolehkan menjatuhkan hukuman mati sebagai kebijakan atas mereka yang melakukan tindakan kriminal secara berulang-ulang, para pecandu minuman keras, para penganjur tindak kejahatan, tindakan subversif yang mengancam keamanan negara dan lain sebagainya." (Al-Fiqhul Islamiyah wa Adillatuhu, jilid VI, hal.: 201)

——————
*Redaktur pelaksana pastiaswaja.org

0 Response to "Eksekusi Mati: Korelasi ASAWAJA dan Undang-Undang Nomer 22 Tahun 1997 Tentang Narkotika"

Post a Comment

wdcfawqafwef