Category 1

Theme Support

Mediasi GASPER - Masjid Ridwan Diwarnai WO

Pamekasan, pastiaswaja.org ~ Pertemuan Ulama dan Umara yang digelar di pendopo Bupati Pamekasan pada Senin malam (30/03/16) diwarnai aksi walk out oleh pihak Gerakan Santri dan Pemuda Rahmatan lil Alamin (GASPER). Kegiatan yang digelar oleh Sekda Pamekasan itu merupakan tindak lanjut atas aksi unjuk rasa GASPER pada Jumat (20/03/15) lalu dan menyelesaikan "permasalahan" antara GASPER dan Masjid Ridwan.

Menurut juru bicara GASPER, Ahmad Madzkur Rozak, aksi walk out itu dilakukannya karena kelompok GASPER diusir oleh Dandim 0826 Pamekasan, Letkol. (Inf.) Mawardi, karena dianggap tidak menghargai para kiyai,

"Kita dianggap tidak menghargai para Kiyai yang hadir dalam forum itu. Kita diundang, ya kita datang. Kita diusir, ya kita pulang. Dan perlu diketahui oleh semua pihak, GASPER ini santri dan pemuda yang sangat menghormati kiyai. Santri itu takutnya hanya sama kiyai, orang tua, UUD '45 dan Pancasila. Selain itu, maaf, kami tidak takut sama sekali.", tutur Ahmad Madzkur Rozak..

Sekalipun pihak GASPER keluar dari forum, pertemuan itu tetap dilanjutkan dan menghasilkan beberapa kesepakatan yang dituntutkan oleh GASPER ke Masjid Ridwan yang diantaranya: Masjid Ridwan tidak lagi mendatangkan tokoh-tokoh yang dinilai kontrofersi; dalam menyampaikan dakwahnya, Masjid Ridwan akan menggunakan cara yang santun dan damai; mengenai pemberhentian me-relay siaran Radio Rodja, masih belum bisa dipenuhi, karena ada prosedur tersendiri.

Menanggapi kesepakatan itu, Madzkur merasa aneh, "Dalam pertemuan itu yang jadi penuntut adalah kami (GASPER. Red.). Kok bisa ya mengambil kesepakatan tanpa GASPER? Sedangkan pihak yang menuntut nggak dilibatkan. Itu kesepakatan antara Masjid Ridwan dan GASPER apa antara Masjid Ridwan dengan pihak lain?", kata mantan presiden mahasiswa Universitas Islam Madura ini.

Masih menurut Madzkur, keanehan itu tidak hanya hasil kesepakatan yang diambil tanpa GASPER, tapi juga masih ada yang lain, "Tidak hanya itu saja keanehannya. Masih ada lagi. Misalnya, undangan kegiatan itu hanya berlaku untuk tiga orang. Kami memang datang lima orang, itupun sebelumnya sudah mendapatkan ijin dari penyelenggara, tapi setelah kami sampai ke dalam ruangan ternyata kursi peserta hampir dipenuhi dari pihak Masjid Ridwan, bahkan kami nggak kebagian tempat duduk, sampai-sampai kami ambil kursi sendiri.", katanya.

"Settingan tempat juga terkesan mendiskreditkan pihak kami (GASPER. Red.). Pembicara dari Masjid Ridwan duduk di kursi sofa di barisan depan forum, sedangkan GASPER duduk di bagian belakang. Itupun kami harus ambil kursi sendiri. Kalau memang mau menyelesaikan masalah antara GASPER dengan Masjid Ridwan, seharusnya kedua pihak ini disediakan tempat khusus. Tidak seperti itu.", tambahnya.

GASPER juga menyayangkan sikap Dandim yang membentak-bentak GASPER, "Sebelum forum dimulai kan sudah ada kesepakatan, bahwa pihak GASPER diberi waktu lima menit untuk menyampaikan harapannya kepada Masjid Ridwan. Begitu juga dengan Masjid Ridwan, diberi waktu lima menit untuk memberikan tanggapannya. Lima menit untuk mendengarkan saran perwakilan ulama, lima menit untuk merumuskan solusi. Tapi kesepakatan itu dirubah saat perwakilan ulama menyampaikan saran-sarannya. Pimpinan forum malah memberikan waktu dua puluh menit. Kami ada rekamannya. Makanya kami angkat bicara memperingatkan pimpinan forum untuk memperhatikan waktu. Eh, Pak Dandim berdiri nyuruh kami keluar sambil bentak-bentak. Ya, kita keluar. Jadi dalam kesepakatan itu tidak ada waktu bagi Dandim untuk angkat bicara. Kami sangat menyayangkan sikap Pak Dandim. Itu bukan forum tentara. Nggak seharusnya bentak-bentak. Kalau seperti itu, siapa yang preman?", pungkasnya sambil tersenyum. (ahn)

0 Response to "Mediasi GASPER - Masjid Ridwan Diwarnai WO"

Post a Comment

wdcfawqafwef