Category 1

Theme Support

Dzikir Menurut Salafusshalih



Oleh: H Taufik. M. Pd. I

Dzikir dalam arti sederhana adalah mengingat Allah SWT, ingat kepada allah harus-lah dikerjakan oleh semua manusia yang mesih hidup  karena dzikir selain sebagai upaya untuk mendekatkan pada-Nya juga sebagai bentuk syukur seorang hamba pada tuhan-Nya atas nikmat dan karunia yang jika dihitung tak terhitung jumlahnya.

Dalam al-Qur’an, Allah SWT menjelaskan bahwa “hanya dengan mengingat Allah hati bisa menjadi tenang” sebab dzikir apabila dilakukan dengan khusyu dan khudur akan membuat hati, pikiran, otak, dan segenap anggota tubuh menjadi terpusat pada satu wujud yaitu Allah, disitulah seorang hamba akan merasa melihat Allah atau paling tidak merasa di lihat oleh Allah yang oleh kaum sufi disebut Ihsan.

Dalam riwayat Ibnu Hibban disebutkan: “Berdzikirlah kalian semua hingga orang-orang akan mengatakan bahwa kalian sudah gila”. Anjuran dzikir dalam riwayat tersebut  adalah anjuran bagi seorang hamba untuk senantia berdzikir kapanpun dan dimanapun, bahkan pelaksanaan dzikir harus dilakukan dengan khusyu’ dan penuh pengharapan yang terkadang pelaku dzikir itu terlihat seperti orang gila karena harus berteriak-teriak sambil geleng-geleng kepala sebagai tanda bahwa ia sedang menyatukan pikiran dan hatinya untuk terpusat pada allah SWT.

Dalam suatu riwayat, KH Mahrus Ali (Allahumma Ighfirlahu) Lirboyo. Suatu saat menghadiri tahlilan yang diadakan oleh salah satu masyarakat di kediri jawa timur, ketika beliau memimpin tahlil dan sampai pada bacaan LAAILAHAILLALLAH, beliau lantunkan dengan suara keras penuh konsentrasi dalam waktu yang sangat lama hingga undangan yang hadir saat itu merasa aneh dan bingung karena sangat lama, hingga diantara yang hadir tak tau cara menghentikan beliau, ahirnya setelah musyawaroh ada salah satu yang diminta untuk menegur dan menyentuh anggota tubuh beliau agar supaya berhenti, saat paha beliau disentuh beliau kaget dan menghentikan bacaan tahlilnya. Ketika diperjalanan pulang beliau berkata: untuk tadi aku di berhentikan, kalau tidak mungkin aku tidak kan berhenti sampai subuh, karena saat itu kesadaranku hilang tak terkontrol bersama pikiranku yang terfokus pada Allah SWT dan seakan-akan aku merasa Allah sedang melihatku. Katanya, cerita ini menunjukkan betapa kenikmatan dzikir yang dilakukan dengan khusyu dan khudlur bisa membuat seorang hamba lupa sedang apa dia dan dimana dia.

Dalam riwayat Imam Thobroni disebutkan: “Perumpamaan orang yang berdzikir pada Allah dan yang tidak berdzikir pada allah ibarat seperti orang hidup dan orang yang mati”. Sedangkan dalam hadis qudsi menurut riwayat Imam Bukhari Muslim di sebutkan yang artinya sbb: “ Aku sesusai dengan prasangka hambaku, dan aku selalu bersama hambaku jika dia berdzikir padaku. Apabila hambaku berdzikir padaku dalam kesendirian, maka aku ingat padanya dalam dzatku, dan apabila ia berdzikir padaku dalam sebuah perkumpulan/majlis dzikir, maka aku ingat padanya dalam perkumpulan yang lebih baik ketimbang perkumpulannya”. Dalam hadis ini tidak hanya menjelaskan tentang keutamaan berdzikir melainkan keutamaan dzikir yang dilaksanakan secara berjamaah, bahwa betapa mulia dan utama di mata Allah jika dzikir dilakukan secara bersama-sama, mealalui hadis ini pula jadi terbantahkan pendapat golongan umat Islam yang melarang melakukan dzikir berjamaah.

Syekh Abu Ali al-Daqaqi mengatakan, bahwa “tidak seorangpun dari para wali yang bisa sampei pada derajat kewalian tanpa melalui dzikir yang terus menerus dan tidak seorangpun dari para sufi yang wushul (mencapai derajat ma’rifat)  pada allah kecuali dengan dawam al-dzikri (dzikir terus menerus)”

Bahkan Imam al-Ghazali berpendapat, bahwa diantara sekian banyak manfaat dzikir adalah bisa melembutkan hati yang keras, dimana hati yang keras adalah hati yang menjadikan pemiliknya lalai terhadap perintah allah, hati yang tidak mau diajak solat, tidak mau di ajak baca al-qur’an, tidak mau diajak belajar, tidak mau diajak melakukan sedekah dan tidak mau melaksanakan perintah allah, oleh karena itu hati yang kasar bagi Imam Ghazali ibarat tambang emas yang masih mentah yang kasar nan keras, sehingga untuk melelehkan emas mentah tersebut harus dipanaskan kedalam sebuah tempat yang memiliki suhu yang sangat panas dalam beberapa menit, hingga emas itu bisa meleleh dan ahirnya bisa dibentuk serta di cetak sesuai dengan keinginan pemilik, bisa jadi anting, kalung, gelang dan segala perhiasan yang indah dan halus. Demikan juga hati yang keras nan kasar, maka untuk melelehkannya harus Bihararatidzikri dan Bidawamidzikri (panasnya dzikir dan terus menerusnya dzikir)

Dzunun al-Mishri, seorang tokoh sufi berkata: bahwa dzikir bisa bisa menjadi senjata bagi seorang murid untuk mengusir syetan dan godaannya dari dalam tubuh, dimana godaan syetan dalam tubuh manusia adalah beberapa sifat tercela spt sombong, membanggakan diri, suka pamer, dengki, kesenangan dunia dan cinta dunia, serta dzikir bisa mendatangkan sifat-sifat terpuji seperti ikhlas, syukur, ridlo, bijaksana, istiqamah. Dll,

Menurut Syekh Afdaluddin ra, bahwa syetan selalu berada di hadapan seorang hamba, jika hamba itu berdzikir, maka syetan lari dan menjauh darinya, namun jika hamba itu lalai dan tidak berdzikir, maka syetan selalu mencari cara untuk menggoda dan masuk kedalam tubuh hamba tersebut.

Dzikir adalah ingat pada allah, menyebut nama-Nya, baik itu baca qur’an, bacaan tahlil, tahmid, tasbih, dll. dzikir bisa juga dilakukan secara sendiri maupun secara berjamaah/bersama-sama, bahkan menurut anjuran para ulama bahwa ber-dzikir lebih baik dilakukan secara berjamaah, dengan khusyu’, khudlur dengan suara keras serta penuh pengharapan pada allah akan lebih cepat membantu melembutkan hati yang keras, dzikir juga bisa dengan mudah kita lakukan dimana saja, di rumah, di kantor, di warung, di toko, bahkan di saat perjalanan.

Akhirnya, dari waktu 24 jam dalam sehari semalam, berapa jam-kah waktu yang kita gunakan untuk berdzikir pada Allah...???

Selamat berdzikir...

0 Response to "Dzikir Menurut Salafusshalih"

Post a Comment

wdcfawqafwef