Category 1

Theme Support

Pandangan Aswaja An-Nahdliyah Terhadap Acara Talent Show Melalui SMS Premium


Oleh: Muhammad Ahnu Idris

Pada awalnya istilah kapitalisme merupakan sebuah sistem di mana modal (kapital) dimanfaatkan untuk mengusahakan kesejahteraan. Tapi di kemudian hari banyak fakta melencengnya. Modal yang sering kali hanya dimiliki segelintir orang digunakan untuk mengeruk keuntungan sebanyak-banyaknya. Industri hiburan merupakan salah satu lahan subur kapitalisme ini. Di belahan dunia ini, termasuk Indonesia, kontes-kontes yang ada menjadi bagian jaring-jaring besar dan dibangun oleh kapitalisme global.

Pada kasus talent show di Indonesia, kalau kita mencoba menghitung berapa keuntungan penyelenggara show dalam setiap minggunya, mulai dari iklan, SMS, dan program pendukung lainnya. Dari tiga jam pertunjukan, kita ambil rata-rata dari semua pertunjukan yang ada, misalnya 20 persen adalah jatah untuk iklan. Tarif iklan per 30 detik 15-20 juta. Dari sini dalam satu kali show, televisi akan memperoleh keuntungan 1 miliyar. Bisa dibayangkan berapa miliar jika lama audisi sampai 6 bulan (24 penayangan), 24 miliar. Semua itu belum termasuk SMS pemirsa yang kirim untuk mendukung jagoannya.

Menurut data pada tahun 2013, setiap hari ada 60-80 ribu SMS masuk dan ketika konser jumlah meningkat sampai 400-500 ribu. Bila dirata-rata, misalnya kita ambil 70 ribu SMS. Dengan tarif dua ribu dua ratus rupiah per-SMS, maka operator SMS akan mendapatkan sekitar 12 milyar. Sedangkan dari sms saat show sekitar 8 milyar. Ini belum lagi termasuk hasil dari program pendukung, seperti program khusus yang menampilkan hari-hari finalis selama dikarantina.

Supaya lebih jelas, mari kita hitung keuntungan dari (SMS premium) yang diraup oleh penyelenggara talent show. Satu kali kirim SMS biayanya Rp 2200. Uang dua ribu dua ratus ini sekitar 60% untuk penyelenggara SMS Center (Satelindo, Telkomsel, dsb) dan 40% untuk “bandar” (penyelenggara) SMS. Siapa saja bisa jadi bandar, asal punya modal untuk sewa server yang terhubung ke Internet nonstop 24 jam per hari dan membuat program aplikasinya. Jika dari satu SMS ini “bandar” mendapat 40% (artinya sekitar Rp 880), dan jika yang mengirimkan sebanyak15.000.000 orang dari total penduduk Indonesia, maka penyelenggara bisa meraup uang sebanyak Rp 13.200.000.000 (baca: tiga belas miliar dua ratus juta rupiah). Jika hadiah yang diiming-imingkan adalah hadiah senilai 1 milyar, itu artinya bandar hanya perlu menyisihkan 1,25% dari keuntungan yang diraupnya sebagai “biaya promosi”! Dan perlu diingat, satu orang –kadang– tidak hanya mengirimkan satu SMS saja.

Demikianlah dunia hiburan di negeri ini dijadikan sebagai "mesin pencetak uang" yang mendunia atau bisa disebut juga sebagai kapitalisme global. Hitung-hitungan di atas dengan kalkulasi penulis dari hitungan perolehan minimal, belum lagi nantinya kalau ternyata perolehannya melebihi dari kalkulasi minimal di atas—dan itu sudah barang pasti, jika melihat sekarang ini sudah zaman informasi, di mana pemirsa begitu gampang mengirimkan SMS hanya untuk memberikan dukungan padakontestan kesayagannya. Hitung-hitungan sebagaimana di atas (13.200.000.000) hanya pada waktu pelaksanaan acara talent show saja, dan tidak termasuk keuntungan dari iklan (±24 Miliar).

Selain itu, ada beberapa indikasi lagi akan bentuk kapitalisme talent show ini, di antaranya: pertama, tidak adanya transparansi SMS. Perolehan vote sms dari pemirsa tidak ditampakkan dari masing-masing finalis. Presenter hanya menginfokan siapa yang tertinggi dan terendah. Berapa persen perolehan dari masing-masing finalis oleh panitia dirahasiakan.

Kedua, setelah juara mereka dibiarkan. Dalam artian para juara yang sudah berhasil mereka saring, setelah itu akan hilang dan tenggelam tanpa kabar. Masing-masing dari mereka kembali ke daerah masing-masing dan sibuk dengan rutinitas pribadinya masing-masing. Tak ada wadah tindak lanjut pasca audisi. Padahal andaikan para finalis diwadahi seperti halnya waktu mereka di karantina, misalnya, maka sudah barang pasti mereka akan menjadi bibit unggul dan bersaing.

Ketiga, pemoloran waktu audisi. Dalam artian, dalam setiap minggunya kadangkala tidak ada elemenasi peserta, tapi vote SMS tetap berlangsung. Elemenasi sebagai penentuan peserta yang gugur baru ditentukan minggu selanjutnya. Peserta dan pemirsa tidak ada yang tahu kalau kali itu hanya penampilan peserta audisi saja. Dengan demikian perolehan SMS semakin banyak dan acara semakin panjang. Dengan demikian raupan SMS akan semakin menjulang. Kesempatan yang digunakan untuk yang ketiga ini biasanya karena bertepatan dengan hari kartini, karena duet dengan mentor, dan lainnya.

Keempat, tidak berkuasanya juri. Juri hanya ditugaskan mengomentari penampilan peserta dan setelah itu mereka pasrah dan takluk pada perolehan suara SMS dalam menentukan siapa yang akan terelemenasi. Penilaian juri hanya berupa komentar kosong tanpa point angka antara peserta yang bagus, lebih bagus, dan paling bagus. Padahal kalau dipikir lebih jauh, vote SMS tersebut hanya berpihak pada mereka yang ber-uang. Siapa yang lebih banyak mengeluarkan biaya, maka dialah yang perpeluang menapatkan vote SMS tertinggi dengan membiayai orang-orang sekitar, teman, dan kolega.

Dari beberapa point di atas maka sudah jelas kalau audisi talent show yang lumrah terjadi di Indonesia ini mengarah pada persaingan tidak sehat, kerena bukan murni kemampuan yang menentukan juara tidaknya peserta, tapi perolehan SMS yang gampang untuk di-setting dan dikelabuhi. Sedikit (memang) bedanya antara talent show dan pemilu legislatif.

Pandangan Aswaja An-Nahdliyah
Pada Muktamar ke-12 NU tanggal 25 Maret 1937 di Malang, para kiai dalam forum itu memutuskan, seseorang yang telah ditetapkan sebagai anggota atau pengurus NU, mulai dari tingkat ranting hingga pusat, wajib mengerjakan segala Anggaran Dasar NU.

Maksud anggaran Dasar Nahdlatul Ulama adalah segala aktivitas yang terkait dengan realisasi empat agenda besar Nahdlatul Ulama, yaitu: memberikan perlindungan (jam’iyyatu aman), memperjuangkan keadilan (jam’iyyatu ‘adl), upaya meningkatkan kualitas hidup (jam’iyyatu ishlah), dan jam’iyyatu ihsan, yaitu mengupayakan kemakmuran (Hasyim Asy'ari, 1938).

Jika ditinjau dari empat tujuan Islam yang diperjuangkan oleh NU, maka dapat dipastikan acara pencarian bakat yang ditentukan melalui SMS premium, sama sekali jauh dari nilai-nilai Islam. Bahkan jika mau lebih kasar lagi, acara itu merupakan acara "perampokan" terhadap kaum "lemah" yang dilakukan oleh kaum kapitalis sebagaimana masa jahiliyah, "yang kuat memangsa yang lemah" dan "yang kaya makin kaya, yang miskin makin miskin." Dengan kata lain, acara talent show adalah acara pemanfaatan terhadap kaum mustadl'afin. Jika pemerintah melalui TAP MPRS nomer 25 tahun 1966 mencegah paham komunis (paham anti kapitalisme yang lahir dari "rahim" sosialisme), lantas kenapa pemerintah melegalkan, bahkan memberikan izin kegiatan-kegiatan kapitalisme? Salahkah jika dulu Gus Dur mewacanakan pencabutan TAP MPRS tersebut?

Mungkin tidak terlalu naif kalau penulis katakan, "munafik jika dikatakan Indonesia anti kapitalisme".

0 Response to "Pandangan Aswaja An-Nahdliyah Terhadap Acara Talent Show Melalui SMS Premium"

Post a Comment

wdcfawqafwef