Category 1

Theme Support

Tanggapan Untuk Akun Facebook "Gmnu Cabang Lombok"

Screenshot postingan akun FB "Gmnu Cabang Lombok"

Oleh: Muhammad Ahnu Idris*

Tulisan singkat ini tidak akan membahas tentang wacana “kembalinya PMII ke NU”, tapi tulisan ini lahir dari kegelisahan penulis dengan adanya postingan Gerakan Mahasiswa Nahdlatul Ulama (GMNU) di Facebook, yang menurut hemat penulis, sangat provokatif dan tidak menutup kemungkinan postingan itu akan membangun stigma buruk di masyarakat tentang jam’iyah Nahdlatul Ulama (NU).

Akun "Gmnu Cabang Lombok", melalui postingannya, menuding PMII (Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia) sombong dan merasa besar karena tidak mau kembali menjadi BANOM (Badan Otonom) NU. Tidak hanya itu saja, PMII yang selama ini memperjuangkan Islam yang tasamuh (toleran), tawasuth (moderat), Islam yang rahmatan lil ‘alamin melalui paham ASWAJA (Ahlus Sunnah Wal Jamaah), juga dituding banyak dimasuki “muridnya Abu Bakar Baasyir”. Tidak cukup di situ saja, akun itu juga mengatakan bahwa kader PMII tidak shalat, minum minuman keras, sok filsafat, tukang demo, rambut panjang. Yang luar biasa, menurut akun itu, PMII “tidak mau berideologi ASWAJA”, tapi menjadikan ASWAJA sebagai manhajul fikr.

Postingan itu, perlu diluruskan. Penulis yakin bahwa akun itu tidak mengerti sama sekali tentang PMII. Sekalipun akun itu mengaku pernah berproses di PMII, penulis meyakini pengkaderan dan prosesnya hanya sekulit ari saja.

ASWAJA yang merupakan materi wajib kaderisasi PMII sama sekali tidak berbeda dengan ASWAJA yang “diimani” NU. Hanya saja, PMII lebih dinamis dalam memposisikan ASWAJA. Dalam konteks agama, PMII memposisikan ASWAJA sebagai madzhab, yakni mengikuti madzahibul arba’ dalam bidang fiqih, mengikuti Imam Al-Asy’ari dan Al-Maturidi dalam bidang tauhid, dan mengikuti Imam Al-Ghazali dan Imam Junaid Al-Baghdadi dalam bidang tasawuf (akhlaq). (Risalah Ahlus Sunnah wal Jamaah: Hadlratus Syaikh KH. Hasyim Asy’ari). Dalam konteks kehidupan sosial, berbangsa dan bernegara, PMII memposisikan ASWAJA sebagai manhajul fikr (metodologi berfikir). Perlu diakui, apa yang disampaikan akun “Gmnu Cabang Lombok” benar adanya, bahwa PMII tidak pernah menjadikan ASWAJA sebagai ideologi, karena PMII adalah organisasi yang ada di Indonesia, maka PMII menjadikan Pancasila sebagai ideologi.

ASWAJA sebagai manhajul fikr pertama kali diintrodusir oleh ketua umum PBNU, Prof. Dr. KH. Said Aqil Siraj, MA. Sebagai manhajul fikr ASWAJA berarti mengamalkan ajaran Islam Ahlus Sunnah wal Jamaah secara totalitas, baik dalam kehidupan sosial maupun agama, dengan merujuk langsung kepada karya-karya ulama ASWAJA dalam bidang fiqh (Imam empat madzhab), tauhid (Imam Al-Asy’ari dan Al-Maturidi) dan tasawuf (Imam Al-Ghazali dan Junaid Al-Baghdadi).

Perlu diketahui, PMII menjadikan ASWAJA sebagi metodologi berfikir, bukan berarti PMII menafikan definisi ASWAJA yang dijelaskan dalam kitab Risalah Ahlus Sunnah wal Jamaah karya Rais Akbar NU, Hadlratus Syaikh KH. Hasyim Asy’ari, sebagaimana tersebut di atas.

Akun “Gmnu Cabang Lombok” yang terkesan paling NU, tanpa disadari (melalui postingannya) akan merusak citra NU yang santun dalam berdakwah dan tidak pernah menyalahkan kelompok lain di luar NU. Apalagi mensejajarkan nama PMII dengan gembong teroris, Abu Bakar Baasyir.

Tentang tudingan bahwa “PMII tidak shalat, minum minuman keras, sok filsafat, tukang demo, rambut panjang” itu merupakan asumsi yang mengeneralisir semua kader PMII. Jika ISIS mengaku Islam, apakah ajaran Islam seperti “Islamnya” ISIS? Jika ada kader NU yang tersangkut kasus korupsi, apakah NU mengajarkan kadernya untuk korupsi? Penulis yakin, tidak ada satupun agama di muka bumi ini yang mengajarkan kekerasan terhadap pengikutnya. Begitu juga dengan NU dan PMII. Terkait pernyataan “Gmnu Cabang Lombok” bahwa PMII “sok filsafat, tukang demo dan rambut panjang”, itu menunjukkan bahwa akun itu “gagal paham” dalam memahami Islam-Indonesia, gerakan intelektual dalam Islam dan gerakan mahasiswa. Bukankah Islam banyak melahirkan tokoh-tokoh filsafat? Bukankah Rasulullah SAW. rambutnya panjang sebahu? Bukankah menyampaikan aspirasi melalui demonstrasi dilindungi oleh undang-undang?
Salam pergerakan...!!!
Tangan terkepal dan maju ke muka...
Wallahul muwaffiq ila aqwamith thatiq


*kader PMII STAI-MU Pamekasan, pengurus ASWAJA NU Center Pamekasan bidang USWAH (Usaha Sosialisasi Ahlus Sunnah wal Jamaah), Pengurus Ranting NU Palengaan Daya.

4 Responses to "Tanggapan Untuk Akun Facebook "Gmnu Cabang Lombok""

  1. ya ya ya...
    Kalau dilihat dari postingannya kyak orang mabuk malah itu.
    Ngomong kok nglantur.
    Ngomong pmii bgini bgtu , ap bener, info teko sopo...
    Ngomong kok karo merem...
    Maaf aja kalau ky emosi..
    Abisnya yg mosting ngawur juga sih..
    Suruh gaji sama kiyai dulu kalau mau koment pmii..
    Daripada di doakan tdk baik orng banyak..
    Maaf y penulis..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yang diawali dengan emosi, hasilnya nggak bakalan baik, bat.

      Delete
  2. "PMII tidak shalat, minum2an keras, sok filsafat, tukang demo, rambut panjang"
    Kutipan tersebut bersifat menjelekkan PMII dan tak terkecuali "kader-kader" yang ada di dalamnya.
    islam itu tidak mengajarkan hal-hal seperti itu.
    agama lain harus kita hormati, apalagi sama2 beragama islam.
    Tentunya sahabat2 pun mengerti..

    Mohon bimbingan'a kakak2 sekalian...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Emosi emang bikin perkataan tidak terkendali, bat. :D

      Delete

wdcfawqafwef