• This is default featured slide 1 title

    Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

  • This is default featured slide 2 title

    Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

  • This is default featured slide 3 title

    Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

  • This is default featured slide 4 title

    Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

  • This is default featured slide 5 title

    Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Tuesday, June 30, 2015

NU: Modernisasi Tumbuh Dari Tradisionalisme

sarungan-gus-dut
Oleh KH Abdurrahman Wahid

NU sering dianggap sebagai organisasi kolot, yang timbul dari pengamatan lahiriah atas gerakan itu. Dalam ungkapan Hadi Sabeno, NU dapat disebut sebagai “kaum sarungan” karena memang itulah ciri para pemimpin NU di masa lampau. Kini, mereka yang meninggalkan sarung dan mengenakan celana panjang sudah begitu banyak-termasuk penulis sendiri, hingga sebutan itu sudah tidak dapat dipakai lagi. Kekolotan NU sekarang lebih tercermin dalam cara kerjanya, dari pada penampilan lahiriahnya.

Dalam sebuah kesempatan, ada pembicaraan dengan seorang atase pertahanan di Kedubes Australia pada pertengahan tahun 80-an. Dalam percakapan itu, sang atase menyebutkan NU sebagai organisasi psychic, karena dalam statua tahun 1926 ia dicantumkan untuk berdiri 29 tahun. Kalau 25, 50, atau 75 tahun, itu masih “normal”. Nah, sang atase menjumlahkan angka 26 dan 29 itu, sampai pada angka 1955, tahun pertama kali ada pemilu di Indonesia: dan tahun itu, bila ditambah angka 29 akan menjadi 1984, tahun NU menggantikan asas Islam dengan asas Pancasila.

Kalau “jalan pikiran” ini diteruskan kita akan melihat sesuatu yang aneh bagi NU dalam tahun 2013 nanti. Bukankah tahun itu adalah buah penambahan angka 29 atas tahun 1984? Tuhan jualah yang akan menentukan, bukannya manusia dengan gugun-tuhon yang dipercayainya. Untuk masyarakat Jawa yang senang dengan klenik, penambahan-penambahan seperti itu tentu sangat menarik.

Dalam tahun 1935, muktamar NU di Banjarmasin dihadapkan pada sebuah pertanyaan: wajibkah secara hukum Islam (fiqh) bagi kaum muslimin untuk mempertahankan kerajaan Hindia-Belanda, yang waktu itu diperintah oleh para penguasa non-muslimin? Jawab Muktamar NU itu, wajib hukum agamanya mempertahankan kawasan tersebut, karena kaum muslimin bebas menjalankan ajaran agama mereka, dan di masa lampau ada kerajaan-kerajaan Islam di wilayah itu. Ini adalah dasar dari perkembangan non-ideologis agama itu di kawasan ini.

Pada tanggal 28 Oktober 1945, Pengurus Besar (Hoofd Bestuur) Nahdlatul Ulama (PBNU) di Surabaya, mengeluarkan sebuah resolusi yang dikenal sebutan resolusi Jihad. Dalam resolusi itu, disebutkan bahwa mempertahankan Republik Indonesia (RI) adalah kewajiban kaum muslimin berjihad di negeri ini. Padahal, waktu itu, RI bukanlah negara Islam melainkan negara Pancasila. Dengan demikian, menjadi jelas bahwa mendirikan negara Islam bukanlah sebuah kewajiban agama. Ini sesuai sepenuhnya dengan kenyataan bahwa Islam tidak pernah memiliki konsep resmi tentang bentuk negara, melainkan yang ada hanyalah kewajiban mendirikan negara untuk menjamin kesejahteraan rakyat atau orang banyak.

Pada tahun 1984, NU mengokohkan penggunaan Islam tidak sebagai ideologi negara melalui keputusan Muktamar di Situbondo, bahwa asas NU adalah Pancasila. Ini berarti perubahan pengertian asas yang semula berarti landasan kemasyarakatan menjadi landasan kenegaraan. Dengan keputusan itu, NU menegaskan sekali lagi, bahwa Islam bukanlah sebuah ideologi negara, melainkan sebuah keyakinan masyarakat yang harus mereka jalankan dalam kehidupan sehari-hari. Muktamar mengakui perubahan arti ini karena paham Ahlussunnah wal Jama’ah selamanya mengutamakan kepentingan negara, yang saat itu memahami asas sebagai sebuah keyakinan negara.

Jelas dari uraian di atas, bahwa NU memisahkan antara ideologi dan keyakinan masyarakat. Di samping itu, NU juga memberikan tempat bagi pandangan yang berbentuk macam-macam. Kedua hal itu merupakan inti dari sebuah negara modern, dan cukup mengherankan bahwa NU yang kolot itu dapat memahami hakikat persoalan ini. Hakikat pemisahan agama dari negara memang menjadi pandangan NU semanjak pertama kali didirikan pada tahun 1926.

Dengan ungkapan di atas, menjadi nyata bagi kita, bahwa NU menerima perubahan-perubahan atau modernisasi, apabila tumbuh dari argumentasi keagamaan yang kolot dan konservatif. hal inilah yang menjadi motto NU: memelihara apa yang datang dari masa lampau asalkan baik, dan mengambil yang lebih baik dari apa yang terjadi (al-mukhafadzatu ‘ala al-qodim al-shalih wa al-akhdzu bi al-jadid al-ashlah).

Dengan demikian, menjadi jelas bagi kita bahwa modernisasi dalam pandangan NU haruslah bertolak dari tradisionalisme, yang demikianlah pandangan resmi NU. Kalau kita tidak memahami hal ini, berarti kita memperkosa sejarah NU, dan menolak proses modernisasi yang berjalan seiring dengan tradisionalisme. Jadi bukan seperti pendapat Daniel Lerner yang menggunakan kalimat “memudarnya masyarakat tradisional” (passing away of traditional society) sebagai judul buku laporan penelitiannya. Biarlah negeri-negeri lain melenyapkan tradisionalisme dan menggantikannya dengan yang baru, dan melakukan modernisasi yang sejalan dengan tradisonalisme itu. Bukankah dengan demikian kita akan melakukan perubahan, tapi meletakannya pada sebuah proses yang damai dan bertahap?


*) Disadur dari, Kumpulan Kolom dan Artikel Abdurrahman Wahid Selama Era Lengser, 2002 (Yogyakarta: LKiS).
Share:

Monday, June 29, 2015

Santri, Pesantren dan Pembangunan Museum Islam Nusantara

museum-islam-nusantara
Oleh Achmad Fatturohman Rustandi*

Pesantren sebagai salah satu basis pendidikan, sudah eksis jauh sebelum Republik Indonesia berdiri. Corak Pesantren saat ini berbeda dengan masa lalu. Dulu, santri tidak hanya dididik ilmu agama, namun ilmu pertanian, ilmu astronomi, ilmu tehnik, dan arsitektur, layaknya universitas saat ini. Peran sentral pesantren sebagai tulang punggung lembaga pendidikan di Nusantara yang berlangsung beberapa abad, akhirnya digantikan oleh universitas yang dibawa dari Barat pada masa kolonialisme.

Pesantren Tebuireng sejak awal berdirinya pada tahun 1899 sudah mewarnai pergerakan revolusi kemerdekaan Republik Indonesia. Tren positif ini terus terjaga hingga kini, ikhtiar mewarnai masa kemerdekaan selalu ada, api Tebuireng tidak pernah padam. Pesantren akan terus mewarnai bangsa ini, sejak dulu, sekarang, dan selamanya.

Tebuireng bersama PBNU pada 22 Oktober 1945 mengeluarkan Resolusi Jihad, fatwa mengusir tentara Belanda yang tergabung dalam NICA, untuk mempertahankan Republik Indonesia yang baru berdiri, semangat yang sama masih tetap ada, namun dengan cara berbeda, sekarang Pesantren ikut serta dalam proses mencerdaskan kehidupan bangsa, agar Indonesia menjadi Bangsa yang unggul berwibawa.

Museum Sebagai Manifesto Islam Nusantara

Terkait hal itu, pembangunan Museum Islam Nusantara Hasyim Asy’ari (MINHA) di lingkungan Pesantren Tebuireng, layak diapresiasi. Pembangunan museum tersebut diharapkan bisa terintegrasi dengan wisata religi makam Gus Dur, mengingat peziarah makam Gus Dur kian membludak dan datang dari berbagai daerah. Kami berharap para pengunjung tidak hanya melakukan wisata religi namun juga wisata edukasi, mendapatkan pengetahuan holistik tentang Islam Nusantara, sejarah masuknya Islam, persebarannya, dari masa Wali Songo sampai Gus Dur.

Museum sebagai citra peradaban di Indonesia, diharapkan mampu menggambarkan Islam Nusantara secara komprehensif, agar generasi saat ini paham akan perjuangan berdirinya republik ini yang tidak lepas dari peran kaum santri dan pesantren.

Belajar tentang nilai-nilai Islam Nusantara sangat mendesak, karena paham radikalisme yang dibawa gerakan Islam transnasional yang makin marak dan celakanya digandrungi banyak anak muda. Ini sangat membahayakan karena menafikan semangat nasionalisme. Menggelorakan Khilafah, tanpa melihat sejarah, dan melupakan cita-cita para pendiri bangsa tentang Negara Indonesia yang berasaskan Pancasila. Untuk itu museum diharapkan sebagai tempat kesadaran kolektif memahami perjalanan panjang bangsa Indonesia hingga merdeka.

Gagasan untuk mengabadikan, mengumpulkan, melestarikan, meneliti, mengomunikasikan, dan  memamerkan kepada masyarakat tentang benda peninggalan bersejarah tentang perkembangan dan perjuangan agama Islam di Nusantara akan diwujudkan dalam satu museum. Gagasan ini muncul dari berbagai elemen masyarakat, di antaranya sejarahwan, budayawan, ulama, kalangan pesantren dan masyarakat secara luas.

Tata pamer museum ini nanti tidak sekadar memamerkan benda-benda koleksi museum, tetapi lebih ke participative and interactive exhibition agar pengunjung mendapatkan pengalaman yang menyenangkan dengan berpartisipasi dan berinteraksi. Tata pamer seperti ini juga akan memberi kesan adanya keterikatan antara pengunjung, koleksi serta kisah di balik koleksi.

Mewarnai Peran Museum di Indonesia

Sebagai salah-satu lembaga pendidikan Islam di Indonesia, Tebuireng tidak memiliki dasar ilmu arkeologi maupun museologi, sehingga pengiriman kader untuk belajar arkeologi dan museologi merupakan keniscayaan yang harus dilakukan, sehingga gagasan museum yang berbasis Islam Nusantara bisa diejawantahkan dengan baik.

Santri memiliki piranti ilmu agama sebagai representasi Islam Nusantara. Sedangkan Universitas Gadjah Mada memiliki Jurusan Arkeologi dan Museologi sebagai lembaga pencetak kader museum yang unggul. Diyakini kerja sama dua institusi ini bisa menjadi kekuatan yang luar biasa dalam menghidupkan diskursus relasi agama dan budaya dalam bingkai Museum Islam Nusantara.

Museum Islam yang masih sedikit di Indonesia baik secara jumlah maupun kualitas, menjadi tantangan tersendiri. Kerja keras dan kerja nyata sangat dibutuhkan oleh seluruh pemangku kepentingan untuk mensukseskan misi Islam Nusantara, menjaga, mengabarkan, dan melestarikan hasil karya, karsa, dan rasa para ulama pendahulu kita. 



*) Penulis adalah Mahasantri Ma’had Aly Hasyim Asy’ari Tebuireng pecinta Ilmu Arkeologi dan Museologi (via NU Online)
Share:

Sunday, June 28, 2015

PMII Pamekasan Salurkan Bantuan Untuk Pengungsi Rohingya

Jakarta Pusat – Pasti Aswaja – Setelah satu minggu menggalang dana untuk pengungsi Rohingya yang ada di Aceh (Baca juga: PMII Pamekasan Galang Dana Untuk Pengungsi Rohingya), Pengurus Cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PC.PMII) Pamekasan berangkat ke Jakarta untuk mengantarkan dana tersebut melalui Pengurus Besar (PB) PMII (27/06/15).

Uang sebesar 9 juta rupiah hasil penggalangan itu, menurut penuturan Abd. Warits, akan disalurkan oleh salah satu pengurus PB asal Aceh.

"Tadi ketum (ketua umum. Red.) PB, Aminuddin Ma'ruf, mengundang sahabati (sebutan untuk anggota PMII puteri. Red.) Ika untuk hadir ke kantor PB. Dia asli Aceh, jadi dia yang akan mewakili PB untuk menyalurkan dana itu." Tutur koordinator penggalangan dana ini melalui rilis yang diterima Pasti Aswaja.

Pemuda yang juga menjabat sebagai Ketua III di PC PMII Pamekasan ini berharap semoga uang itu bermanfaat bagi pengungsi Rohingya, khususnya di bulan Ramadhan ini.

"Semoga dana yang berhasil kita kumpulkan bisa bermanfaat untuk saudara-saudara etnis Rohingya. Apa lagi di bulan suci ini." Kata Warits, sapaan akrabnya. "Paling tidak, sedikit meringankan beban yang diderita saudara muslim Rohingya." Tambahnya.

"Sekalipun nominalnya tidak seberapa, tapi saya berharap semoga barokah. Amin." Pungkas kader PMII STAIN Pamekasan ini. (ahn)
Share:

Saturday, June 27, 2015

Peduli Dhuafa, PMII Jawa Timur Gelar Sahur On The Road

Surabaya – Pasti Aswaja – Peduli kaum dhuafa, Pengurus Koordinator Cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PKC. PMII) Jawa Timur mengelar Sahur On The Road dan cek kesehatan gratis untuk gelandangan dan tukang becak se-surabaya, hari ini (27/06/2015).

Sebelum berangkat, terlebih dahulu kegiatan itu di buka oleh Ketua III PKC PMII Jawa Timur, Sudarsono.

Pemuda kelahiran Sumenep ini berharap di bulan suci Ramadhan 1436 H ini bisa meringankan beban kaum dhuafa, khususnya gelandangan dan tukang becak. "Ini sebagai upaya untuk meningkatkan ibadah serta bentuk kepedulian PKC PMII JATIM." Katanya

Laki-laki yang akrab disapa Darso ini menilai bahwa selama ini gelandangan dan tukang becak kurang di perhatikan oleh pemerintah daerah.

"Selama ini gelandangan dan tukang becak kurang begitu diperhatikan oleh pemerintah daerah." Ujar Darso.


Dia berharap melalui kegiatan ini pemerintah bisa lebih serius membantu kaum-kaum dhuafa di Jawa Timur.

"Melalui kegiatan ini kami mengharap ke depan pemerintah agar lebih serius lagi dalam membantu, khususnya gelandangan dan tukang becak, dan umumnya masyarakat miskin." Pungkasnya.

Aksi sosial yang dimulai jam 01.30 sampai jam 03.30 ini menyisir daerah-daerah di Surabaya yang menjadi pangkalan bagi tukang becak. Daerah itu meliputi, Ketintang, Wonokromo, Darmo, Kedung Doro, Flyover Pasar Kembang, Taman Bungkul dll. Lebih 500 nasi bungkus dan teh hangat disiapkan dalam kegiatan ini. (ahn)
Share:

Humor Gus Dur Inspirasi KH. Sanusi Baco Untuk Mengabdi Kepada NU

Masyarakat Sulawesi Selatan pasti mengenail istilah Anre Gurutta, biasanya istilah ini ditujukan kepada tokoh Ulama yang telah menempati status sosial yang sangat tinggi dan telah mendapat tempat dan kedudukan terhormat di mata masyarakat Bugis Makassar. Salah satunya Anre Gurutta Haji Sanusi Baco Rais Syuriyah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama Sulawesi Selatan.

Anre Gurutta Haji Sanusi Baco adalah ulama kharismatik, pemimpin spiritual masyarakat di Sulawesi Selatan, selain menjadi Rais Syuriyah, Gurutta juga dipercaya sebagai Ketua MUI Sulawesi Selatan, Ketua Umum Yayasan Masjid Raya Makassar serta mengasuh pesantren Nahdlatul Ulum, salah satu Pesantren milik Nahdlatul Ulama di Kabupaten Maros.

Masa Kecil dan Pengalamannya bersama Gus Dur

Gurutta Sanusi Baco lahir di Maros, 4 April 1937 dengan nama Sanusi. Putra kedua dari enam bersaudara dari seorang ayah bernama Baco dan beliau lebih dikenal Sanusi Baco. Pada zaman Jepang, Sanusi kecil menjadi perawat kuda tentara Jepang di Maros. Sementara ayahnya adalah seorang mandor.

Gurutta Sanusi Baco kala muda menyempatkan nyantri beberapa guru di desanya, kemudian melanjutkan nyantri di Pondok Pesantren Darud Da’wah wal Irsyad (DDI) Mangkoso, Barru, selama 8 tahun. Setelah lulus Aliyah tahun 1958, Gurutta Sanusi Baco hijrah ke Makassar dan mengajar di beberapa tempat.

Gurutta Sanusi Baco sempat menjadi Sarjana Muda (BA) di Universitas Muslim Indonesia, kemudian setelah selesai, Sanusi Baco yang juga tokoh pendiri PMII di Sulawesi Selatan  mendapat kesempatan beasiswa dari Departemen Agama Republik Indonesia untuk kuliah di Universitas Al-Azhar Kairo, Mesir.

Sebagaimana yang sering diungkapkan Gurutta, ketika memberikan dakwah di hadapan warga Nahdliyin, sewaktu perjalanannya dari Indonesia ke Mesir menaiki kapal, di saat itulah beliau berjumpa dengan KH Abdurrahman Wahid atau yang lebih akrab dipanggil Gus Dur.

Gurutta Sanusi dalam perjalanan ke Mesir itu mendapatkan kesempatan mendengar cerita/humor dari Gus Dur. Gurutta heran, Gus Dur selama sebulan penuh tiap harinya bercerita/humor di hadapannya dengan cerita yang berbeda. Demikian Gurutta Sanusi mengenang pertemuannya dengan Gus Dur.

Berawal dari persahabatannya dengan Gus Dur membuat Gurutta Sanusi Baco bertekad untuk berkhidmah di NU. Setelah kembali ke Makassar, aktifitasnya adalah mengajar di Universitas Muslim Indonesia, Sekolah Tinggi Ilmu Dakwah Al-Gazali (sekarang UIM) dan mulai berkeliling berdakwah dan mendirikan Sekolah Tinggi Al-Gazali Cabang STAI Al-Gazali di Makassar serta sebagai Dosen Tetap di Fakultas Syariah IAIN Alauddin Makassar.

Kemudian di umur 78 tahun saat ini Gurutta Sanusi Baco setia berkhidmat di Nahdlatul Ulama. Saat ini masih aktif mengabdikan dirinya untuk memajukan pendidikan Nahdaltul Ulama sebagai Ketua Umum Dewan Pembina Yayasan Perguruan Tinggi Al-Gazali Makassar, yayasan yang menaungi Universitas Islam Makassar sebagai satu-satunya Perguruan Tinggi milik Nahdlatul Ulama Sulawesi Selatan.
Selain mengabdikan dirinya di Universitas Islam Makassar, Gurutta Sanusi masih aktif berdakwah dan memberikan nasehat kepada masyarakat Sulawesi Selatan dan pada tahun 2012 Gurutta Sanusi Baco dianugerahkan Doktor Honoris Causa dalam bidang Hukum Islam atau fiqh di Universitas Islam Negeri (UIN) Alauddin Makassar.

*Diolah dari berbagai sumber (NU Online)
Share:

Friday, June 26, 2015

Pujian Penulis Kitab Subulus Salam Untuk Pendiri Aliran Wahabi

Oleh Abi Awadh Naufal

Benar dan terbukti.

Bila sebelumnya pujian Imam Asy-Syaukani kepada saikh Muhammad bin Abdul Wahab ternyata hoax, kali ini sungguh sebuah kebenaran yang amat ditunggu-tunggu.

Untuk lebih jelasnya mari kita baca dengan seksama.

Ketika da'wah Saikh Muhammad bin Abdul Wahab sampai ke Yaman, Al Amir Ash Shon'ani menulis sya'ir untuk memuji beliau. Sya'ir yang cukup masyhur itu beliau tulis pada tahun 1163 hijriyah.

Sya'ir pujian ini diawali dengan:
"Salam atas najd, dan orang yang tinggal di sana, sekalipun hanya salam dari negeri yang jauh…"

Gubahan bait-bait Ash Shon'ani ini sangat masyhur dan tersebar kemana-mana. Maklum, Al Allamah Ash Shon'ani dikenal sebagai ulama besar yang zuhud, wara' dan alim. Karangannya yang amat masyhur adalah Subulus Salam, syarh kitab Bulughul Marom.

Setelah qasidah itu tersebar kemana-mana, para ulama menegur Ash-Shon'ani, beliau pun diam mempertimbangkan. Apakah aku telah memuji orang yang salah?

Adalah Syaikh Marbad bin Ahmad At Tamimi, yang atas kehendak Allah menyingkap tabir kepalsuan, datang ke yaman, bertemu dengan Imam Al Amir Ash shon'ani, dan menjelaskan semua. Bahkan sebelumnya, juga datang dari Najd bernama syeikh Abdurrahman An Najdi menjelaskan kebusukan Muhammad bin Abdul Wahab.

Sepandai-pandai orang menyembunyikan bangkai, bau busuknya akan tercium juga. Kedatangan dua ulama Nejd ini telah mengungkapkan kenyataan di hadapan Iman Ash Shon'ani. Kemudian ditulisnya qasidah lain sebagai koreksi atas pujiannya dulu, beliau juga menjelasknnya dalam kitabnya berjudul " Irsyadu Dzawil Albab Ila Haqiqati Aqwali Muhammad bin Abdil Wahab" atau "Mahwul Haubah fi Syarhi Abyatit Taubah". Kitab ini sangat masyhur di Yaman, hingga para santri ibtida' pun bila ditanya kitab itu, mereka langsung paham.

Dalam kitab itu beliau tulis:
 "Aku meralat kembali apa yang pernah kutulis untuk Muhammad bin Abdulwahab an Najdi, benarlah pada dirinya terdapat perbedaan dengan apa yang kuyakini 
Pada mulanya, aku mengira dia baik, andai aku dapat menjumpainya, mengambil nasehatnya yang dapat mencerahkan manusia demi menggapai petunjuk 
Ternyata perkiraanku meleset, namun harapanku untuk mendapat kebaikan tak jadi soal, karna dzon pada dasarnya tidak membuahkan petunjuk 
Telah datang padaku, dari Nejd, Syeikh Marbad, beliau jelaskan apa yang sebenarnya terjadi 
Dalam berbagai tulisannya, mbaw telah dengan sengaja mengkafirkan banyak orang
Dia mencampur-adukkan hujjah-hujjah yang rapuh bagai rumah laba-laba.dia juga banyak menumpahkan darah muslimin, janjinya pun tak dapat dipegang 
Sungguh, Allah dalam surat Al Bara'ah telah ada perintah untuk berlepas diri dari mereka berikut kekufuran serta pembangkangannya 
Mereka (muslimin) adalah saudara kami, demikian Allah menyebut mereka, dengarkanlah apa yang dikatakan tuhan yang maha tunggal 
Demikian pula sebaik-baik utusan melarang takfir, mengapa lelaki najd ini tak jua berhenti 
Tidak, mereka tidaklah kafir, selagi mereka menegakkan sholat 
Jelaskanlah padaku, jelaskan.. 
Mengapa darah mereka kau tumpahkan, apa alasanmu merampok harta mereka dengan sengaja? 
Padahal mereka telah terjaga, terlindungi dengan syahadah, tak ada Tuhan selain Allah, Pemilik Keagungan"
 Tentang kedatangan Syeikh Marbad At Tamimi ini, Ash Shon'ani juga menuturkan:
Telah datang kepadaku, seorang alim dari Najd bernama Marbad bin Ahmad At Tamimi. Dia tiba bulan Shofar tahun 1170 H dan tinggal di negeri kami selama 8 bulan 
Dia kembali ke negerinya  bulan Syawal tahun 1170 bersama dengan jamaah haji 
Dia mengabariku, bahwa bait-bait qasidahku telah disampaikan kepada Muhammad bin Abdul Wahab, namun dia hanya diam tak menjawab 
Sebelumnyanya, pernah datang juga kepadaku, Asy Syaikh al Fadhil Abdurrahman An Najdi. 
Dia bercerita kepadaku tentang muhammad bin abdul wahab banyak hal. 
Suka menumpahkan darah, perampokan, pembunuhan dan tudingan kafirnya pada umat nabi Muhammad di mana-mana. 
Aku diam memikirkan apa yang disampaikan syaikh abdurrahman, hingga datanglah marbad at tamimi membawa beberapa pernyataan Muhammad bin Abdul Wahab 
Semua menjadi jelas bagiku, tampaknya Muhammad bin abdul Wahab ini orangnya baru mengenal syari'at baru setengah, tak melihat secara teliti. Tak mau belajar dari orang yang telah berjasa padanya (syeikh Abdul wahab) membimbingnya dan mengajarinya ilmu yang bermanfaat 
Sebaliknya, dia malah mempelajari tulisan Ibnu Taimiyah, Ibnul Qoyyim dan bertaklid buta pada keduanya, padahal mereka berdua tidaklah layak ditaklidi 
Saat telah jelas bagiku tentang pribadi Muhammad bin Abdul Wahab, dan telah kulihat ucapan-ucapannya, bagaimana ketika bait-baitku telah sampai padanya, dia berusaha mengelak dari apa yang kusampaikan, kulihat tanggapannya atas perkataanku, adalah jawaban yang jauh dari keinsafan 
Semua telah kujelaskan semua pada Syaikh Marbad, bahkan banyak kunukil pula ucapan Ibnul Qoyyim dan Al Jauzi
Wallahu a'lam
--------
Semoga kita senantiasa istiqomah dalam manhaj salaf, berpegang teguh pada sunnah nabawiyyah serta selalu tegar menantang ahli bid'ah dholalah.
Share:

Thursday, June 25, 2015

Teroris Wahabi Bubarkan Kegiatan Maulid


Yaman – Pasti Aswaja – Kelompok teroris Al Qaeda yang berhasil menguasai kota Mukalla Hadramaut Yaman pada waktu konflik memanas beberapa bulan yang lalu terus berusaha mengusik ketenangan masyarakat yang berhalauan Ahlussunnah di kota Mukalla tersebut.

Kelompok teroris yang menggunakan ideologi wahabi ini berhasil membubarkan acara Maulidan sekaligus Marawisan di ribath Ar- Raudlah yang berlokasi di keramaian kota Mukalla. Sebagaimana dilansir NU Online, kamis, (25/06/15). Bukan hanya itu mereka juga merusak alat - alat marawis pada acara itu.

Kota Mukalla memang mayoritas berakidah Wahabi yang di mulai ketika wahabi berhasil menguasai Arab Saudi. Tetapi meskipun begitu, antara Ahlussunnah dengan wahabi tetap menjaga toleransi dan perdamaian antar keduanya. Ahlussunnah masih bisa melakukan kegiatan seperti Maulidan, ziarah kubur, Wiridan sebelum shalat dll. Setelah Al Qaeda menguasai kota ini, Ahlussunnah tidak bisa menjalankan kegiatan apa-apa kecuali harus secara sembunyi-sembunyi.

Universitas Al Ahgaf yang terkenal di Indonesia bersama Ribat Alawiyah yang biasanya melakukan kegiatan maulid (hadlrah) di ndalem Al Habib Baharun (rektor Al Ahgaf sekaligus pengasuh ribath Alawiyah) terpaksa harus melakukan Hadlrah tanpa microfon dan alat- alat terbang demimengantisipasi terjadinya pembubaran dari kelompok Al Qaeda.

Lebih tragis lagi nasib Univrsitas Sekaligus ribath Al Imam Asy-Syafi'i, sebuah lembaga pendidikan yang di buka secara resmi pada tahun 2012 yang biasanya secara terang- terangan menampakkan ajaran Ahlussunnah dengan mengadakan kegiatan Maulidan (hadlrah) , Burdah, wiridan sebelum dan sesudah shalat di masjidnya yang bisa di bilang paling besar se kota Mukalla, sekarang harus mengungsi sementara ke Kota Tarim demi mengantisipasi hal - hal yang tidak di inginkan dari kelompok ini.

Semoga keadaan semakin membaik dan kota Mukalla bisa lepas dari kekuasaan kelompok teroris Al Qaeda agar keadaan bisa kembali normal seperti semula. (ahn)
Share:

Islam, NU dan Nusantara

Oleh M. IsomYusqi


Islam merupakan pedoman hidup bagi seluruh umat manusia. Islam datang dari Allah SWT melalui utusan-Nya, Muhammad SAW. Islam hadir bukan hanya untuk mengislamkan bangsa Arab tapi juga untuk umat manusia dimana dan kapanpun mereka berada. Islam bukan monopoli bangsa, suku, daerah ataupun ras tertentu.Universalitas Islam sebagai agama langit melampaui sekat-sekat territorial dan perbedaan suku, ras dan jenis manusia.


Kendatipun demikian, Islam tidaklah terlahir dari ruang dan waktu yang kosong.Ia dibawa oleh Nabi Muhammad SAW, yang secara teritori berasal dari Arab. Karenanya, proses dialog ajaran Islam dengan budaya Arab tidak dapat dihindarkan. Kearaban Nabi Muhammad SAW dan Al-Qur'an tidak serta merta dapat mengeneralisir bahwa semua yang berbau Arab itu pasti sakral,suci dan tidak ada sisi negatifnya.Tentu harus dipilih dan dipilah mana subtansi ajaran yang menjadi bagian Islam yang patut dimuliakan, dan mana yang tidak subtansial. Substansi ajaran Islam itulah yang melampaui budaya dan peradaban tertentu serta melampaui ras kemanusiaan. Rahmat Allah SWT berupa Islam, Nabi Muammad dan al-Quran diperuntukkan bagi semua semesta tanpa harus mengunggulkan dan melemahkan bangsa, suku dan ras tertentu atas yang lain.

Dengan demikian, Islam sebagai agama dan ajaran akan dapat berdialog dengan budaya dan peradaban manusia di mana dan kapanpun,termasuk dengan budaya dan peradaban Nusantara. Kendati harus diakui bahwa tidak semua budaya Nusantara identik dan sejalan dengan ajaran  Islam. Namun, baik budaya Arab maupun Nusantara, tentu mengalami proses dialog yang saling mengisi, menyempurnakan dan tidak saling menegasikan terhadap ajaran Islam. Bahkan ajaran Islam yang  justru menyempurnakan budaya-budaya tersebut agar seiring sejalan dengan nilai-nilai kemanusiaan universal dalam segala dimensi ruang dan waktunya.

Islam Nusantara bukanlah agama baru.Ia ada sejak agama Islam hadir di bumi Nusantara. Ia merupakan istilah yang digunakan untuk merangkai ajaran dan paham keislaman dengan budaya dan kearifan lokal Nusantara yang secara prinsipil tidak bertentangan dengan nilai-nilai dasar ajaran Islam. Islam Nusantara adalah sebuah ungkapan yang mencoba menegaskan bahwa ada Islam di wilayah Nusantara dengan segenap jati diri dan karakteristiknya yang khas. Dengan demikian, orang Islam yang kehilangan jati dirinya dan tampil dengan wajah kebarat-baratan atau kearab-araban, sehingga mereduksi tradisi, budaya dan adat istiadat bangsanya yang mungkin lebih relevan dengan ajaran Islam, tidak dapat disebut sebagai Muslim Nusantara.

Islam Nusantara tidak bermaksud mereduksi ajaran Islam seperti kewajiban berjilbab/menutup aurat, tahiyyat salam dan hal lain yang berbau kearaban. Justru Islam Nusantara sangat akomodatif dan inklusif terhadap hal-hal di atas sepanjang tidak bertentangan dengan subtansi ajaran Islam. Lokus kerja Islam Nusantara adalah pengaintegrasian antara nilai-nilai universal Islam dengan tradisi dan peradaban lokal kenusantaraan yang hidup dan tidak bertentangan dengan Islam. Hal ini penting agar mampu melahirkan kembali umat manusia yang berbudaya dan berkeadaban gotong royong, ramah, murah senyum, toleran, moderat, tentram, teposeliromagayu bagyo, andap asor dan tidak mudah marah atau mencaci maki orang yang berbeda dan tidak sependapat dengan dirinya.

Islam Nusantara ingin membangun peradaban dan melahirkan umat yang tidak adigang adigung adiguna, umat yang selalu menghargai perbedaan, berprinsip bhineka tunggal ika serta tidak hobi menebar rasa kebencian, kecurigaan dan hasud kepada sesama, hanya karena perbedaan keyakinan, agama, suku, ras dan bangsa. Islam Nusantara ingin mencetak manusia-manusia yang tidak beringas, merasa paling benar, eksklusif dan merasa superior di atas manusia lainnya. Intinya, Islam Nusantara adalah sebuah ikhtiar untuk melahirkan manusia yang berbudaya dan berkeadaban mulia yang selalu memanusiakan manusia tanpa ada diskriminasi.

NU dan Islam Nusantara

Gagasan baru tentang Islam Nusantara baru muncul secara terstruktur sekitar dua tahun terakhir. Pro kontra terhadap sebuah gagasan baru pasti datang silih berganti. Bahkan tidak jarang yang menuduh dan memberikan stigma negative atas sebuah gagasan tanpa berdialog terlebih dahulu dengan komunitas yang memunculkan gagasan tersebut.

Diakui atau tidak, NU adalah ormas Islam pertama yang mengarusutamakan gagasan Islam Nusantara itu, kendatipun harus diakui belum semua warga nahdliyin mengetahui dan memahami gagasan tersebut. Sejatinya gagasan itu lahir dari pergumulan akademik para elit intelektual NU, terutama Prof. Dr. KH. Said Agil Siraj dan para akademisi STAINU serta UNU Jakarta, terhitung sejak dibukanya Program Pascasarjana Kajian Islam Nusantara di penghujung tahun 2012 lalu. Kendatipun lahir dari rahim NU, Islam Nusantara akan dipersembahkan untuk peradaban dan keadaban seluruh umat manusia.

Ide Islam Nusantara sebenarnya sangat bersahaja. Bertitik tolak dari fakta bahwa mayoritas umat Islam Indonesia berpaham dan mengikuti ajaran AhlussunnahWaljamaah (Aswaja), dan sebagian besar pengikut Aswaja itu adalah warga NU. Dalam diskursus para elit intelektual NU, Aswaja adalah manhajul hayat wal fikr (pedoman hidup dan metode berfikir) dengan berbasis pada sikap mulia yaitu tawassuth (moderat), tawâzun (seimbang/equal), tasâmuh (toleran) dan i'tidal (selalu berpihak pada kebenaran). Keempat pilar mulia itulah yang menjadi pijakan dalam bersikap, bertindak, bertutur kata, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Bahkan keempat pilar tersebut diharapkan dapat menjadi pisau analisis dalam pergumulan keilmuan dan dalam menghadapi benturan peradaban yang saling berpenetrasi, berinfiltrasi dan berakulturasi satu dengan lainnya.

Selain itu, NU dengan Aswajanya tetap menjadi garda terdepan dalam menjaga tradisi dan kearifan lokal Nusantara. Hal itu terlihat dan terkonstruk secara terstruktur dan massif dalam tardisi dan laku “Arumaniz” (baca; tradisi baca Aurad/wiridan, Ratib, Manaqib, Maulid, Nasyid, Istighotsah dan Ziarah ulama atau makam auliya').

Islam Nusantara sejatinya adalah gagasan progresif yang berikhtiar untuk mendialogkan antara inti sari ajaran Islam ala Aswaja dengan budaya dan peradaban Nusantara yang tidak saling bertentangan bahkan saling menyempurnakan satu sama lainnya. Sama sekali tidak bermaksud mereduksi ajaran Islam, mempertentangkan antara Islam Arab dan Islam Nusantara, apalagi anti budaya Arab, rasis dan lain sebagainya.

Sesungguhnya Islam Nusantara adalah sebuah ijtihad untuk menampilkan ajaran Islam yang membumi di Nusantara. Islam Nusantara mengimpikan ajaran Islam yang inklusif dengan peradaban bahari dan continental yang ada di dalamnya. Sehingga ajaran Islam tidak selalu dihadap-hadapkan dengan peradaban Nusantara. Dangan cara pandang seperti ini, diharapkan Islam Nusantara akan mampu melahirkan berbagai disiplin keilmuan yang khas Nusantara, seperti fikih nusantara, siyasah nusantara, muamalah nusantara, qanûn nusantara, perbankan Islam nusantara, ekonomi Islam nusantara dan berbagai cabang ilmu Islam lain atas dasar sosio-episteme kenusantaraan.

Tidak berhenti pada titik itu, ilmu-ilmu sosial dan eksakta pun akan coba dieksplorasi sedemikian rupa sehingga ilmu astronomi, teknik, pelayaran, pertanian, dan peternakan nusantara yang pernah menguasai dunia pada masa nenek moyang kita juga akan digali dan diketengahkan kembali body of knowledgenya dengan baik. Sehingga bangsa ini akan bangkit kembali dari keterpurukannya. Usaha ini sesungguhnya mirip dengan proyek keilmuan yang bernama islamisasi ilmu dan teknologi atau integrasi keilmuan (sains dan Islam).

Lebih jauh lagi, gagasan Islam Nusantara bertujuan untuk meng-counter discourse terhadap paradigm keilmuan yang sangat sekularistik-positivistik, yang serba teknologistik-materialistik dan juga penyeimbang terhadap budaya sosial masyarkat modern yang cenderung materialistis, hedonistis dan pragmatis. Bahkan, Islam Nusantara hendak mewujudkan budaya dan peradaban baru dunia yang berbasis pada nilai-nilai luhur dan universal keislaman dan kenusantaraan. Dengan demikian gagasan Islam Nusantara bukan sekadar pepesan kosong, namun merupakan proyek akademik, budaya dan peradaban sekaligus. Sebuah ikhtiar mulia dari anak manusia Nusantara untuk mengangkat harkat dan martabatnya dalam kontestasi global demi menggapai ridhaTuhan dan mengaktualisasikan risalah Islam rahmatan lil alamin bagi semesta alam.

Prof. Dr. M. IsomYusqi, MA, Direktur Pascasarjana STAINU Jakarta
Share:

Mengenang 70 Tahun Kepergian Mbah Hasyim

kh_hasyim_asyari
Bulan Ramadhan salah satu bulan yang istimewa dalam Islam. Di dalamnya Allah SWT memberikan rahmat dan karuniaNya secara berlipat ganda, pintu maaf dibuka secara lebar, doa para makhluk mustajabah dalam bulan suci ini. Umat Islam menunggu-nunggu hadirnya bulan suci ini dan berharap mereka dapat secara penuh bermunajat kepada Allah SWT dengan rangkaian ibadah yang dijalankan.

Namun tak banyak yang tahu bahwa dalam bulan Ramadhan terdapat peristiwa bersejarah sekaligus peristiwa yang sangat menyedihkan khususnya bagi warga Nahdlatul Ulama. Peristiwa itu ialah kembalinya Sang Rais Akbar Nahdlatul Ulama Hadratussyaikh  Hasyim Asy’ari kepada sang pemilik kehidupan abadi, Allah subhanahu wata’ala.

Tepat pada waktu sepertiga malam terakhir, atau sekitar pukul 03. 00 WIB, tanggal 7 Ramadhan 1366 H bertepatan dengan 21 Juli 1947 pendiri NU itu wafat. Tidak seperti ulama agung lainnya, wafatnya KH Hasyim Asy’ari hampir tidak dijumpai peringatan haulnya. Hal itu memang selaras dengan keinginan beliau yang tak mau hari wafatnya diperingati secara khusus, bukti bahwa kezuhudannya tidak mengada-ada. Beliau enggan jasa-jasanya disebut dan dipuja-puja sesama manusia.

Walaupun beliau enggan untuk dipuja-puja namun apa salahnya ketika bangsa Indonesia menyanjung beliau karena kiprahnya yang sangat besar dalam agama maupun dalam menjaga dan memerdekakan bangsa Indonesia. Mungkin sudah ribuan, bahkan jutaan pujian yang diitujukan kepadanya. Hadratussyaikh adalah manusia dengan nilai kemanfaatan yang tinggi bagi umat manusia.

Capaian kemanfaatan dalam hal agama tak lepas dari latar belakang beliau sebagai seorang kiai, ulama yang mendidik ribuan santrinya.  Ditambah lagi karya-karya monumental Hadratussyaikh seperti Kitab An-Nurul-Mubin fi Mahabbati Sayidial Mursalinyang berisi biografi dan akhlaq suci Baginda Nabi Muhammad SAW, kitab Risalah fi Ta’kidil Akhdzi bi Mazhab al-A’immah al-Arba’ah yang memuat anjuran untuk mengikuti manhaj para imam empat, kitab Arba’ina Hadistan Tata’allaqu bi Mabadi’ Jam’iyyat Nahadlatul Ulamaberupa kodifikasi 40 hadist sebagai pedoman warga Nahdlatul Ulama dan masih banyak lagi karya-karya beliau yang sangat lezat dinikmati dalam khasanah keilmuan agama Islam.

Hadratussyaikh juga pendiri organisasi sosial keagamaan terbesar di Indonesia, yaitu Nahdlatul Ulama, organisasi perjuangan yang didirikan atas dasar kecintaan kepada Allah SWT. Organisasi yang beliau dirikan mendapat restu dari Syaikhona Kholil Bangkalan dan Habib Hasyim bin Yahya. Berkat kegigihan KH Hasyim Asy’ari, NU menjadi pendorong dalam perkembangan syiar agama islam pada saat itu.

Selanjutnya capaian kemanfaatan yang telah diraih Hadratussyaikh yaitu jiwa kesatria beliau dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Jiwa Ksatria Hadratussyaikh sangat kuat. Hal ini tak lepas dari leluhurnya, dari jalur Ibu beliau merupakan keturunan Prabu Brawijaya VI. Sementara sang ayah dari keturunan Jaka Tingkir, Raja Kerajaan Pajang. Jiwa ksatriaannya diimplimentasikan dalam peristiwa heroik resolusi jihad pada tanggal 22 Oktober 1945 yang menyeru segenap bangsa Indonesia untuk berperang melawan penjajahan yang kini resolusi jihad dijadikan manifestasi sikap nasionalisme ulama dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

Implimentasi lain dari jiwa ksatria beliau yang berbuah kemanfaatan yaitu keberanian Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari untuk masuk dalam dunia birokrasi pemerintah penjajah untuk membawa kepentingan umat Islam dan segenap rakyat Indonesia agar tidak terzalimi oleh kebijakan pemerintah penjajah, walau pada awalnya menuai perdebatan karena Hadratussyaikh dianggap pro terhadap pemerintah penjajah.  Faktanya, perjuangan beliau membuahkan hasil, yakni lunaknya pemerintah penjajah terhadap rakyat pribumi.

Hadratussyaikh juga menjadi rujukan kaum pergerakan seperti Ir Soekarno, Bung Tomo, dan Jenderal Sudirman. Para tokoh pejuang ini tak sungkan meminta nasihat langkah dan kodisi perjuangan yang mereka lakukan. Ditambah lagi dasar negara Indonesia berupa Pancasila juga bagian dari ijtihad beliau yang diwakilkan oleh KH Wahid Hasyim sebagi tim perumus Pancasila. Dari sebagian kecil kiprah Beliau yang penulis sampaikan merupakan wujud nyata perjuangannya untuk memerdekakan Bangsa Indonesia. Karena dengan merdekanya bangsa Indonesia akan terwujud keamanan negara yang berimbas kenyamanan umat Islam dalam menjalankan peribadatan.

Akhirnya, 70 tahun sudah (7 Ramadhan 1366 H – 7 Ramadhan 1436 H) Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari meninggalkan dunia ini. Seyogianya estafet perjuangannya terus dilaksanakan, perjuangan dalam kehidupan agama melalui pelaksanaan risalah Allah SWT yang diturunkan kepada Baginda Nabi Muhammad SAW. Dalam hal berbangsa dan bernegara perjuangan yang dapat dilakukan yaitu menumbuhkan rasa nasionalisme di dalam setiap diri kita, dengan semangat nasionalisme yang nyata akan terwujud kedaulatan dalam segala sendi yang mengakibatkan kemerdekaan Indonesia yang abadi. Semoga Allah SWT memberikan kemudahan untuk meniru segenap perjuangan beliau dalam segala sendi kehidupan.

Oleh Muhammad Nur Rohman, Mahasiswa Jurusan Ilmu Hukum UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta
Share:

Wednesday, June 24, 2015

Karya-Karya Mbah Sahal Mahfudh


Almarhum KH MA Sahal Mahfudh termasuk sedikit dari ulama Nusantara yang produktif di dunia penulisan. Rais Aam PBNU ini mewariskan setidaknya 10 karya kitab, yang seluruhnya berbahasa Arab kecuali satu karya terjemahan yang ditulis dengan bahasa Jawa (Pegon).

Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj pada peringatan Harlah ke-88 NU Jumat (31/1) malam lalu menjelaskan sebagian kitab Kiai Sahal itu. Karya-karya tersebut, katanya, membuat Kiai Sahal istimewa di antara ulama-ulama lain. “Kealiman beliau itu luar biasa. Susah menemukan kiai seperti beliau,” katanya.

Sepuluh kitab Kiai Sahal tersebut mayoritas ditulis ketika masih berstatus santri Pesantren Sarang dalam usia yang relatif muda, yakni 24-25 tahun. Penjelasan kesepuluh kitab dan buku-buku karangan peraih doktor kehormatan dari UIN Syarif Hidayatullah Jakarta ini merujuk pada buku Kiai Sahal: Sebuah Biografi yang ditulis Tim KMF Jakarta. Dilihat dari waktu selesai menulis, maka urutannya adalah sebagai berikut.

Pertama, Thariqat al-Hushul ‘ala Ghayatil Wushul. Diselesaikan pada 15 Ramadan 1380 H (3 Maret 1961), kitab ini berisi ta’liqat (penjelas) atas Ghayatul Wushul yang merupakan syarah(penjelasan) atas Lubbul Ushul (kedua kitab terakhir adalah karya Zakaria al-Anshari). KitabLubbul Ushul masuk kategori usul fiqih dan dikenal sebagai kitab yang sulit dipahami para santri karena kalimatnya sangat padat dan mengandung makna yang dalam. 

Kedua, ats-Tsamarat al-Hajayniyah yang selesai ditulis pada 15 Rabi’ al-Tsani 1381 (26 September 1961). Kitab ini termasuk salah satu karya orisinal Kiai Sahal, alias bukansyarah atau hasyiah terhadap karya ulama lain. Ditulis dalam bentuk nadham dan dilengkapi penjelasan di bawahnya, kitab ini menerangkan makna dari istilah-istilah yang sering dipakai dalam kitab-kitab fiqih. Misalnya, ketika disebutkan al-imam dalam fiqih, tanpa nama seseorang di belakangnya, maka ia merujuk pada Imam al-Kharamayn Abd al-Malik ibn Abi Muhammad Abdullah al-Juwaini (419-478 H/1028-1085 M). Jika kata yang sama muncul dalam usul fiqih dan mantiq, maka itu merujuk pada Fakhr al-Din Muhammad al-Razi (543-606 H/1149-1210 M). Sementara itu, kalau disebutkan kata al-syaykh dalam fiqih, itu berarti Abu Ishaq Ibrahim ibn Ali al-Syairazi  (393-476 H/1003-1083).

Ketiga, al-Fawa’id al-Najibah. Selesai ditulis pada 8 Jumadil Ula 1381 (18 Oktober 1961), kitab ini merupakan syarah atas matan yang ditulis sendiri oleh Kiai Sahal, yakni al-Faraid al-Ajibah fi Bayan I’rab al-Kalimat al-Gharibah. Dengan demikian, kitab ini juga termasuk dalam kategori karya orisinal. Matan yang disusun dalam bentuk nadham ini terdiri dari 89 bait dan, sebagaimana terbaca dari judulnya, menjelaskan i’rab (tata bahasa) kata-kata dalam bahasa Arab yang dianggap aneh. Dari sekian kata-kata yang secara ilmu nahwu aneh, Kiai Sahal membahas 34 kata, seperti kata aidlan dan ashlan yang selalu dibaca nasab, baik dalam bentuknya sebagai masdar maupun hal.

Keempat, al-Bayanul Malma’ an Alfadhil Luma’. Dari judulnya, dapat diphami bahwa ini adalah penjelas atas kitab al-Luma’ fi Ushulil Fiqh karya Abu Ishaq Ibrahim al-Syairazi. Kitab ini sebetulnya telah rampung ditulis dalam bentuk ta’liqat di kitab al-Luma’ pada Jumadil Ula 1381 H (Oktober 1961), tapi baru disalin secara terpisah pada 28 Rabi’ul Awal 1418 H (18 Oktober 1997). 

Kelima, Intifakhul Wadajayn ‘inda Munadharat Ulama Hajayn fi Ru’yatil Mabi’ bi-Zujajil ‘Aynayn. Ini adalah salah satu karya orisinal Sahal yang selesai ditulis pada 25 Sya’ban 1381 H (1 Februari 1962). Ia membahas perdebatan ulama Kajen pada akhir tahun 1950-an tentang keabsahan penglihatan yang menggunakan kacamata terhadap barang yang hendak diperdagangkan. 

Keenam, Faydlul Hija ala Nayl al-Raja yang selesai ditulis pada 18 Dzulhijjah 1381 H (23 Mei 1962). Kitab ini merupakan karya penjelas atas kitab Safinat al-Naja karya Salim ibn Samir al-Khudri yang cukup populer di kalangan santri. 

Ketujuh, terjemahan bahasa Jawa (Pegon) atas Qasidah Munfarijah. Qasidah yang terdiri dari 43 bait ini adalah gubahan Yusuf ibn Muhammad al-Ansari (1041-1119 M) dan banyak dibaca umat Islam, khususnya kalangan santri, jika menghadapi kesusahan atau kesulitan. Diyakini bahwa pembacaan bait-bait yang mengandung nama-nama agung (al-asma’ al-a’dham) Allah ini akan mendatangkan kemudahan bagi pembacanya. Ini adalah satu-satunya kitab Kiai Sahal yang merupakan terjemahan dalam bahasa Jawa.

Ada dua karya Kiai Sahal yang merupakan penjelas atas Sullam al-Munawraq, kitab mantiq (logika) yang banyak digunakan di pesantren. Keduanya diberi judul Al-Murannaq dan Izalat al-Muttaham. Kitab terakhir merupakan karya elaborasi atas Idlah al-Mubham ‘an Ma’ani al-Sullam, karya Ahmad ibn Abd al-Mun’im al-Damanhuri, yang merupakan syarah atas Sullam al-Munawraq. Tidak terdapat catatan, kapan kedua kitab tersebut selesai ditulis, yang pasti menurut ingatan Kiai Sahal, keduanya ditulis ketika dia masih nyantri di Sarang.

Terakhir, Anwarul Bashair yang merupakan penjelas atas kitab Al-Asybah wan Nadhairkarangan Jalal al-Din Abd al-Rahman al-Suyuti. Kitab ini ditulis setelah dia menetap di Kajen, meski tidak ada catatan kapan tepatnya dia menyelesaikan karya penting ini. Asybahsendiri adalah kitab yang membahas qawa’id fiqhiyah (kaidah-kaidah fiqih) dan diajarkan di berbagai pesantren di Jawa. 

Selain kitab-kitab berbahasa Arab, Kiai Sahal juga telah menghasilkan beberapa buku berbahasa Indonesia. Setidaknya ada empat buku berisi kumpulan berbagai artikel yang telah diterbitkan, antara lain Nuansa Fiqih Sosial (Yogyakarta: LKIS, 1994 dan 2007),Pesantren Mencari Makna (Jakarta: Pustaka Ciganjur, 1999), Wajah Baru Fiqh Pesantren(Jakarta: Citra Pustaka, 2004, dan Dialog dengan KH MA Sahal Mahfudh: Telaah Fikih Sosial(Semarang: Yayasan Karyawan Suara Merdeka, 1997). Kiai Sahal juga menulis buku bersama KH A Mustofa Bisri, yang diberi judul Ensiklopedi Ijma’.

Oleh Mahbib Khoiron (redaksi NU Online)

Foto: Gus Dur dan Mbah Sahal (rmi.co.id)
Share:

Kemampuan Otak dan Humor Warga NU

Oleh Saiful Ridjal*


Pemimpin yang cerdas, yang memiliki kecerdasan jauh melebihi orang-orang yang dipimpin akan dihormati. Termasuk juga di NU. Akan tetapi di lingkungan NU diperlukan juga pemimpin yang memiliki rasa humor tinggi untuk menciptakan suasana segar ketika harus berpidato berjam-jam  di depan warga NU yang sebagian besar kalangan menengah-bawah.


Gus Dur, pimpinan NU tiga periode, dikenal memiliki kekayaan humor yang tak pernah habis disamping dikaruniai kecerdasan jauh melampaui orang kebanyakan,sebagaimana testimoni Mahfud MD dan kolega.

Kedatangan Gus Dur ke suatu tempat selalu dinanti warga karena pasti ada cerita baru, humor baru. Wartawan pun mendapat berkah bisa membuat berita head line. Tak jarang pernyataannya menjadi kontroversial. Tapi lagi-lagi semua ketegangan atas kontroversi itu ditanggapi secara santai dengan humor. Ragam cerita humor Gus Dur sudah banyak ditulis.

Berbeda lagi KH Said Aqil Siroj. Sense of humornya kurang. Tapi kiai asal Cirebon ini punya kelebihan lainmemiliki ingatan luar biasa tentang sejarah islam dan urut-urutan silsilah. Daya ingatnya yang tinggi menggambarkan kecerdasan seorang pemimpin, membuat decak kagum serta kebanggaan tersendiri bagi pengikutnya. Audiens betah di tempatnya mendengarkan paparan kiai meski sampai 2 jam.

Dalam sebuah rekaman video pengajian di Kebumen, Jawa Tengah2014 KH Said Aqil Siroj secara lancar  menjelaskan urutan silsilah mulai dari Nabi Muhamad ditarik ke atas hingga sampai pada Nabi Adam Alaihis Salam.

Dalam pengajian lain lagi KH Said Aqil Siroj mampu menyebutkan urutan silsilah mulai KH Hasyim Asy’ari (pendiri NU) hingga sampai pada Nabi Muhammad SAW secara lancar pula. Bahkan silsilah penyambungan sanad keilmuan antara guru-murid, mulai dari KH Hasyim Asy’ari sampai pada Imam Syafii beserta jumlah hasil karya kitab serta judulnya masing-masing mampu dijlentrehkan di luar kepala.

Cara itu cukup efektif dilakukan untuk memberi keyakinan kepada Nahdliyin, bahwa faham keagamaan dari ulama yang mereka ikuti selama inibenar-benar memiliki alur sahih. Terbukti bisa dirunut berujung pada sumber utamanya Nabi Muhammad. Bukan alur sembarangan.

Mengokohkan keyakinan ini sangat penting di tengah gencarnya serangan faham lain yang berseberangan dengan NU dan sering menyerang dengan tuduhan bid’ah menyimpang dari tuntunan Al-Qur’an dan Sunnah nabi.

Memadukan kecerdasan berwujud kreatifitasdengan humor yang melekat pada realitas keseharian Nahdliyin, dilakukan oleh Kiai Yasin Yusuf (almarhum), sebagaimana diungkap Gus Ipul dalam Harlah NU di Malang 2015 (TV9 Nusantara).

Kiai Yasin (panggilan familiarnya) adalah salah satu muballigh kondang di Jawa Timur asal Blitar di era awal orde baru. Di suatu daerah bila terdengar ada pengajian Kiai Yasin pasti masyarakat akan berduyun-duyun datang dengan berjalan kaki berombongan sampai sejauh 10 km. Maklum saat itu transportasi tidak secanggih dan sebanyak sekarang. Hp atau media komunikasi lain juga masih belum ada.

Dalam ceramahnya saat itu Kiai Yasin sudah menyinggung soal Pancasila. Katanya kalau ingin melihat bagaimana praktek pengamalan Pancasila yang baik lihatlah tahlil.

Bila ada orang meninggal dunia, warga Nahdliyin biasa melakukan tahlil. Dalam tahlil dibaca ayat-ayat Al-Qur’an diantaranya surat al-Ikhlas. Qul huwallahu ahaddan seterusnya itu bukankah merupakan pencerminan dari sila Ketuhanan Yang Maha Esa?

Di dalam tahlil mendoakan orang meninggal hingga 7 hari, anggota masyarakat sekitar datang  mengikutitanpa harus dibuatkan undangan. Kesediaan dan ketulusan masyarakat mendoakan tetangga yang meninggal dunia adalah cerminan sila Kemanusiaan yang adil dan beradab.

Dalam tahlil mereka duduk bersama, bersila di atas tikar dalam sebuah ruangan atau di pelataran terbuka tanpa memandang kaya atau miskin, pejabat atau penjual jajan keliling menunjukkan guyup-rukunnya warga. Masuklah itu barang: sila ke-3 Persatuan Indonesia.

Dalam menunjuk pembaca tawashul, surat yasin, bacaan tahlil serta do’a pembawa acara tidak asal menunjuk orang. Akan dipilih orang-orang yang dianggap mampu, memiliki kredibilitas baik, sepuh (lebih tua). Khusus bagi pembaca doa penutup pasti akan dipilih orang yang dianggap paling kiai diantara yang lain. Bukankah ini menggambarkan pengamalan sila Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/ perwakilan.

Pada hari ke-7 setelah tahlil selesai dilaksanakan biasanya tuan rumah memberikan berkatkepada jamaah untuk oleh-oleh keluarga di rumah. Bentuk ungkapan terima kasih atas doa yang diberikan. Berkat yang diberikan bentuk dan kemasannya sama, baik itu kiai maupun masyarakat biasa ataupun pejabat. Semua dianggap setara.  Adil bagi semua. Mencerminkan  sila Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Humor yang melekat dengan realitas keseharian warga Nahdliyin itulah yang menyebabkan masyarakat selalu antusias dan berbondong-bondong mendatangi pengajian kiai Yasin Yusuf meski harus berjalan kaki 2-3 jam.

Untuk tetap bisa menarik perhatian audiens seringkali mubaligh di NU harus selalu meng up-date idiom-idiom atau singkatan kata baru.

Ketika meresmikan Klinik NU di Lumajang, beberapa waktu lalu, Gus Ipul (Saifullah Yusuf) hadir bersama Ketua Komisi C DPRD Jawa Timur. Bupati Lumajang juga hadir bersama ribuan audiens lain. Bupati Lumajang adalah warga NU, sampai saat terakhir menjabat sebagai Ketua MWCNU.

Dalam sambutannya Gus Ipul mengatakan, warga NU Lumajang harus bersyukur mempunyai bupati NU, sehingga banyak program NU bisa dibantu. Klinik NU agar bisa berjalan dengan baik perlu bantuan dari bupati.

Dia melanjutkan, jadi bupati itu harus ‘komunikasi’ yaitu teko-muni-kasih (ngasih). Artinya datang-bicara-memberi bantuan. Jangan datang bicara lalu pergi tidak memberi. Suasana pun cair dan hadirin tergelak-gelak. Sejak awal hingga akhir Gus Ipul sering meluncurkan joke-joke. (NU Online, 20/03/2015)

Kebetulan istri Bupati Lumajang juga Ketua Muslimat NU dua periode. Baru beberapa waktu lalu terpilih dalam konferensi muslimat cabang. Konferensi Cabang Muslimat NU ke 11 yang diadakan di pendopo kabupaten itu menghadirkan pimpinan wilayah Hj Masruroh Wahid.

Dalam pengarahan sebelum dilakukan sidang pemilihan ketua, Hj. Masruroh Wahid menekankan pentingnya ibu-ibu muslimat cermat dalam memilih pemimpin. Dikatakan, memilih pemimpin itu ada 4 kriterianya. Pertama haruspinter. Kedua seser (benar, istiqomah). Ketiga harus kober (mau bekerja). Keempat, ini yang penting yaitu harus nyumber (membiayai). Langsung disambut gerr oleh ibu-ibu muslimat. (NU Online,12/06/2015)

Memang sudah sepantasnya kalau ibu bupati harus banyak nyumber untuk muslimat NU. Ibu bupati memperoleh suara hampir mutlak saat pemilihan bukan kebetulan. Warga punya harapan kalau istri bupati terpilih kegiatan kemuslimatan akan di-back up. Paling tidak, ibu-ibu muslimat yang dari lereng gunung tidak kikuk lagi menginjakkan kaki di pendopo memakai sendal lely.

warga NU tinggal di Lumajang, Jawa Timur
Share:

MK Batalkan Uji Materi Undang-Undang Perkawinan Beda Agama, Menag Apresiasi


Jakarta – Pasti Aswaja  Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin mengapresiasi Mahkamah Konstitusi yang membatalkan uji materi Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 Pasal 2 ayat (1) tentang perkawinan terkait perkawinan beda agama.

"Kita bersyukur, itu putusan yang patut kita syukuri, karena itu mencerminkan ke-Indonesiaan kita, masyarakat kita adalah masyarakat yang religius," kata Menag Lukman di Jakarta, Senin.

Lukman mengatakan pernikahan adalah yang sakral, jadi pernikahan tidak hanya peristiwa hukum semata.

Di Indonesia, kata dia, masyarakatnya religius sehingga pernikahan merupakan peristiwa sakral, bahkan pernikahan adalah ibadah.

"Maka agama menjadi sesuatu yang tidak bisa dipisahkan dari agama itu sendiri sehingga tidak ada kemungkinan untuk bisa nikah beda agama," kata dia.

Tidak diakuinya nikah beda agama, kata dia, merupakan salah satu ketentuan agama. 

"Nikah itu resmi dicatat negara jika dilakukan menurut agama yang bersangkutan, itu yang dikukuhkan MK kemarin," katanya.

Sebelumnya, permohonan uji materi Undang Undang Nomor 1 Tahun 1974 Pasal 2 ayat (1) UU Perkawinan terkait perkawinan beda agama telah ditolak oleh Mahkamah Konstitusi.

Pemohon uji materi berpendapat dampak dari penolakan itu adalah adanya ketidakpastian dari pasangan-pasangan beda agama yang akan melakukan pernikahan. (ahn / nu.or.id)
Share:

Home Style

Contact Form

Name

Email *

Message *

Ads

Ads

Latest News

Popular Posts

Blog Archive