Category 1

Theme Support

Kontroversi Ngaji Dengan Kaset

Oleh Ach. Wildan Al-faizi*

Beberapa hari yang lalu, Wakil Presiden Bapak Jusuf Kalla mengeluarkan stetmen yang di anggap kontroversi yaitu tentang larangan memutar kaset pengajian di Masjid. Awal kali saya mengetahui itu dari media online. Karena media online yang memuat berita tersebut adalah media yang selama ini selalu memelintir berita maka saya tak begitu merespon dan cuek saja. Dan ternyata betul, menurut pengakuan pak JK pernyataan beliau memang telah di pelintir dan di lebih-lebihkan oleh sekolompok orang yang sengaja memperkeruh suasana. Apalagi media-media tersebut sebelumnya sudah mempelitir pernyataan Menteri Agama di Twitter tentang buka warung di bulan puasa serta pernyataan Menteri Sosial yang berkaitan dengan perempuan perjilbab yang mayoritas menjadi korban HIV. tak segan-segan “mereka” menuduh Gus Lukman Hakim Syaifuddin dan Nyai Khofifah Indar Parawansa sebagai tokoh anti Islam, Tokoh Liberal dan pembela Syiah. Padahal yang saya tau, Gus Lukman itu putra dari seorang Kiai NU tulen yang juga pernah menjabat sebagai Menteri agama. Begitu juga sebaliknya. Nyai Khofifah salah satu tokoh perempuan NU yang sampai hari ini masih menjabat sebagai Ketua Umum PP Muslimat.


Tapi sudahlah, saya tidak ingin membahas itu. Yang ingin saya tulis dalam catatan ini adalah yang berkaitan dengan Kontroversi ngaji lewat kaset. Sebetulnya, saya kurang setuju dengan pernyataan Pak JK itu. Menurut saya, terlalu kecil kalau seorang Wakil Presiden hanya ngurus masalah orang ngaji atau ngurus persoalan suara kaset di masjid walaupun beliau menjabat sebagai ketua dewan Masjid Indonesia. Tapi saya tak ingin ikut-ikutan menvonis pak JK sebagai tokoh Anti Islam. bagi saya, pernyataan beliau juga ada benarnya.

Karena yang pak JK meminta adalah rekaman ayat Alquran yang diputar lewat kaset waktunya tidak terlalu lama. dirumah saya misalnya, dipastikan setiap jam 03.00 pagi suara ngaji akan terdengar dari langgar yang kebetulan berada di area rumah saya. Selain itu,suara ngaji lewat kaset juga terdengar dari masjid yang terletak disebelah barat rumah. suara ngaji juga terdengar dari salah satu pondok pesantren yang jaraknya tak begitu jauh. Maka bisa di pastikan di kampung saya sekitar jam 03.00 sampai tiba waktu Adzan Subuh akan ramai dengan suara-suara merdu bacaan Al-Qur’an walaupun hanya lewat kaset. Sehingga kalau secara pribadi, saya sebenarnya tidak merasa tergangguh dengan suara ngaji lewat kaset. Karena sejak kecil saya sudah terbiasa hidup di lingkungan agamis yang setiap hari suara-suara ngaji lewat kaset itu dengar di telinga saya. itulah yang membuat saya lebih nyaman tinggal di tempat yang dekat dengan masjid atau musolla baik saat masih kuliah di malang maupun saat hijrah ke Ibu Kota.

Akan tetapi, belum tentu apa yang saya alami itu juga sama dengan orang lain. Kadang kala ada juga orang yang merasa tergangguh dengan suara-suara nyaring dari masjid. Apalagi orang yang memiliki penyakit tertentu yang bisa mempengaruhi kondisi kesehatannya. Ada juga orang yang tidak suka dengan suara bising karena memang belum terbiasa dengan lingkungan yang ramai. Oleh karena itu, usulan Pak JK itu tidak bisa dipukul rata untuk seluruh masjid di Indonesia. Begitupun sebaliknya, menggunakan pengeras suara untuk menandai waktu Ibadah umat Islam juga tidak bisa di pukul rata.

Maka saya sangat sepakat kalau pemutaran kaset mengaji sebelum waktu Sholat sebaiknya jangan diputar satu atau dua jam sebelum tiba waktu Sholat. Katakanlah waktu Sholat Subuh jam 05.00 maka sebaiknya memutarkan kaset ngaji itu 30 atau 15 menit sebelum Adzan. Atau bisa di putar satu Jam sebelum Adzan asal menggunakan pengeras suara dalam. Sehingga tak begitu menggangguh orang lain yang lagi Istirahat.

Sebenarnya tidak hanya persoalan Ngaji lewat kaset, tapi Tadarus di bulan Ramadhan juga perlu mempertimbangan kondisi sosial dan lingkungan sekitar. Karena sekali lagi, tak semua orang dan lingkungan masyarakat yang terbiasa dengan hal-hal semacam itu. Kalau di kampung saya, biasanya tadarus di bulan ramadhan dengan menggunakan pengeras suara maksimal hanya sampai jam 12.00 malam. Sementara di Pesantren yang tak jauh dari rumah, biasanya kalau tadarus di bulan Ramdhan dengan menggunakan Pengeras suara hanya sampai jam 22.00/23.00 malam. Selebihnya menggunakan pengeras suara dalam (dengan suara kecil). Itu artinya kita menghormati umat Islam yang butuh butuh istirahat cukup karena mesti bangun sahur di pagi hari.Tidur lelap dengan mendengar suara bising seperti itu tentunya bisa sangat mengganggu.

Kalau ditinjau dari manfaat dan tujuan dari Bacaan Al Quran, tarhim dan lainnya yang sering kita dengar menjelang waktu sholat sebenarnya sangat baik. Yaitu agar umat Islam bisa terbantu untuk menunaikan kewajibannya sebagai seorang muslim yaitu Ibadah Sholat. Lebih-lebih bisa sholat berjamaah di masjid.

Kalau di kaitkan dengan pahala, sudah jelas orang yang mendengarkan Al Quran akan mendapatkan pahala. Dalam surat Al-A’raf Allah  Berfirman yang artinya “Dan apabila di bacakan Al Quran, maka dengarkanlah baik-baik, dan perhatikanlah dengan tenang agar kamu mendapat rahmat.”  Sebagaimana yang di sampaikan oleh SyekhAs-Sa’dy bahwa Perintah ini umum bagi semua orang yang mendengarkan Kitabullah ketika dibaca.

Maka kita perintahkan untuk mendengarkan dan memperhatikan dengan tenang. Perbedaan antara mendengarkan dan memperhatikan dengan tenang adalah kalau ‘Al-Inshot’ adalah dari sisi penampilan dengan tidak berbicara atau meninggalkan kesibukan yang dapat mengganggu dari mendengarkan. Sementara ‘Al-Istima’ adalah memasang telinga dan menghadirkan hati untuk mentadaburi dari apa yang didengarkan.

Kelaziman dari dua hal ini, ketika Al Quran dibaca, maka dia akan mendapatkan banyak kebaikan dan ilmu yang luas serta bisa terus memperbaharui keimanan pada sang maha pencipta. Dari situ menunjukkan, bahwa ketika dibacakan Al-Qur’an kepada seseorang sementara orang tersebut tidak mendengarkan dan memperhatikan dengan tenang,maka dia tidak mendapatkan bagian rahmat, dan terlepas dari banyak kebaikan.

Salah satu adab membaca Al Quran sebagaimana yang disampaikan oleh Abu Dawud, Tirmidzi bahwa boleh mengeraskan bacaan Al Quran, jika di perkirakan tidak akan menimbulkan riya, dapat menyemangatkan orang lain membaca Al Quran dan tidak menggangu orang lain. dan sebaiknya merendahkan suara bacaan Al Quran jika ada orang yang sedang sholat. dan jangan mengeraskannya untuk membangunkan orang ketika subuh.

Oleh karena itu, menurut pandangan saya membaca Al Quran dalam hal ini dengan menggunakan kaset harus tetap mempertimbangkan lingkungan sosial. kalau lingkungan sosialnya nyaman, masyarakatnya tidak merasa tergangguh maka menurut saya tak ada masalah. apalagi sekarang zaman teknologi. setiap Hanphone sudah ada alarmnya. bahkan Alarm Adzanpun sudah sudah tersedia di Hanphone.

*Mahasiswa Pasca Sarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta asal Sumenep, Madura

3 Responses to "Kontroversi Ngaji Dengan Kaset"

  1. Sebaik baiknya suara tadarus menggunakan kaset di masjid, alangkah lebih baik bila jama'ah mesjid itu sendiri yang tadarus langsung. Selain mereka belajar dan bisa lebih memantapkan bacaan Al-Qur'an mereka sendiri, bisa disimak dengan baik oleh jama'ah maupun masyarakat sekitar dengan baik, pahalanya pun langsung diterima oleh yang mengaji dan yang menyimak. Seandainya jama'ah di masjid-masjid manapun bisa mengerti tentang pahalanya tadarus, maka sudah pasti pahalanya diterima untuk yang membaca dan menyimak, bukan malah alat rekamannya yang mendapat pahala.

    ReplyDelete
  2. Sebaik baiknya suara tadarus menggunakan kaset di masjid, alangkah lebih baik bila jama'ah mesjid itu sendiri yang tadarus langsung. Selain mereka belajar dan bisa lebih memantapkan bacaan Al-Qur'an mereka sendiri, bisa disimak dengan baik oleh jama'ah maupun masyarakat sekitar dengan baik, pahalanya pun langsung diterima oleh yang mengaji dan yang menyimak. Seandainya jama'ah di masjid-masjid manapun bisa mengerti tentang pahalanya tadarus, maka sudah pasti pahalanya diterima untuk yang membaca dan menyimak, bukan malah alat rekamannya yang mendapat pahala.

    ReplyDelete
  3. betul mas, di saya juga ada pengurus DKM yang suka memutar kaset membaca al-Quran sangat Keras,

    saya juga terbiasa mendengarkan bacaan al-quran melalui headset, tetapi diatur volume nya. karena saya memang tipe orang yang tidak terlalu suka kebisingan...
    boleh-boleh saja diputar, tetapi harap diperhatikan etika dan estetikanya juga, agar lebih mengena...

    menurut saya orang yang suka memutar Sekencang-kencangnya itu belajar agamanya setengah mas....

    ReplyDelete

wdcfawqafwef