Category 1

Theme Support

Nahi Munkar Harus Dengan Ma'ruf

Pasti Aswaja - Dalam sebuah perjalanan, Amirul Mukminin Umar bin Khatthab mencurigai adanya kemaksiatan yang terjadi di dalam rumah seorang pria. Dipicu perasaan tanggung jawabnya sebagai pemimpin, Khalifah kedua yang terkenal sangat tegas ini lantas mencoba mencari tahu apa yang terjadi di dalam rumah tersebut.

Setelah bisa dipastikan bahwa di dalam rumah tersebut memang ada kemunkaran yang sedang dilakukan oleh shahibul bait (pemilik rumah), Umar menerobos masuk ke dalam dengan memanjatnya lantaran pintu rumah terkunci rapat. Dijumpainya pria tersebut memang sedang melakukan kemunkaran (tidak ada riwayat yang menjelaskan kemunkaran apa yang diperbuat pria tersebut: Red).

Melihat sang Khalifah tiba-tiba berada di dalam rumahnya, pria tersebut justru marah. Ia mengakui dirinya memang telah berbuat dosa, tetapi menurut dia kesalahannya cuma satu, "tetapi engkau telah berbuat tiga kesalahan sekaligus, hai Amirul Mukminin." Ujarnya.

Kesalahan pertama, dia melanjutkan, engkau telah mencari-cari keburukan orang lain (tajassus) yang jelas dilarang dalam Al-Qur’an (surat Al-Hujurat:12); kedua, engkau memasuki rumah orang lain dengan memanjat dan tidak melalui pintu seperti yang diperintahkan Al-Qur’an (surat Al-Baqarah:189); ketiga, engkau masuk ke rumah orang lain tanpa izin dan tanpa mengucapkan salam, padahal Allah memerintahkannya dalam Al-Quran (surat Al-Nuur:27).

Menyadari kesalahan dari apa yang telah diperbuatnya, Khalifah Umar akhirnya meninggalkan orang tersebut dan hanya menyuruhnya bertaubat. Sesampainya di rumah, Umar mengumpulkan sahabat untuk diajak bermusyawarah, beliau bertanya: "bagaimana jika seorang pemimpin menyaksikan kemunkaran di depan matanya dengan sendirian (tanpa saksi)? Apakah ia masih terkena kewajiban untuk memberikan hukuman?"

Sahabat Ali bin Abu Thalib lantas menjawab, hukuman itu bisa dilaksanakan minimal dengan dua saksi yang adil. Tidak cukup hanya satu orang.

Disadur dari Ihya' Ulumuddin, Vol. 2, hal. 320

Dalam menyimpulkan kisah tersebut, Hujjatul Islam Imam Al-Ghazali menyaratkan bahwa nahi munkar hanya bisa dilakukan jika kemunkaran itu terjadi di ruang publik. Jika kemungkaran dilakukan secara diam-diam di dalam rumah sendiri yang tertutup rapat dan tidak menimbulkan kegaduhan, maka tidak ada hak bagi orang lain untuk menerobos masuk agar bisa menyaksikan kemungkaran tersebut. Artinya, kewajiban nahi mungkar gugur.

Kisah ini juga mengagajarkan kepada seluruh umat muslimin, bahwa nahi munkar tidak bisa dilakukan begitu saja, tanpa mempertimbangkan baik dan buruknya. Artinya, pelaksanaan nahi munkar harus dengan cara yang ma'ruf dan tidak menimbulkan kemunkaran dan mafsadat yang lain.

Wallahu a'lam bis shawab.

0 Response to "Nahi Munkar Harus Dengan Ma'ruf"

Post a Comment

wdcfawqafwef