Category 1

Theme Support

Ramadhan: Sebuah Upaya Untuk Mencari Pemimpin Sumenep

Oleh: Abd Ghani, M. Pd. I[*]

Seiring berjalannya waktu, bersamanya kekecewaan segera berlalu. Barangkali inilah harapan setiap manusia yang masih bertahan hidup. Mungkin di bulan Desember mendatang, masyarakat Sumenep akan melakukan apa yang disebut dengan pesta demokrasi. Yaitu pergantian kepemimpinan (bupati) yang sedang di nanti-nanti. Ada banyak faktor dari penantian panjang mereka; seluruh rakyat menanti harapan baru yang dititipkan pada cabub, sebagian dari mereka ada juga yang menanti kedermawanan hati (sodaqoh) dari cabub, dan bagi pembisnis percetakan tentu menanti segala macam bentuk spanduk untuk mengais hasil dari para cabub. Sungguh ini penantian yang menggairahkan, sama seperti halnya menunggu detik-detik malam pertama bagi pengantin baru.
Namun terlepas dari itu semua, biasanya setiap pesta pasti berakhir dengan bahagia. Dan untuk mencapai kebahagiaan ada penderitaan yang mesti dilalui oleh setiap orang, begitu juga masyarakat yang sebentar lagi akan terlibat langsung pada pesta rakyat atau pesta demokrasi. Penderitaan itu bisa saja kekecewaan-kekecewaan yang kita alami dari pemimpin sebelumnya, baik itu berupa janji kampanye yang tak terpenuhi, ataupun kurangnya rasa aman dalam hati kecil rakyat. Dan kebahagiaan akan benar-benar tercapai ketika rakyat memiliki pemimpin yang menjamin keamanan. Setidaknya keamanan pada tiga hal, yaitu hartanya tidak akan di korup, martabatnya tidak direndahkan, dan nyawanya tidak terancam. Demikian juga yang dirasakan oleh rakyat Sumenep, pemimpin yang baik menjadi dambaan mereka ditengah-tengah mencuatnya krisis kepemimpinan.
Masyarakat Sumenep masih memiliki banyak waktu untuk ‘bertafakkur’ sebagai upaya menemukan petunjuk dalam mencari pemimpin yang baik, atau setidaknya untuk menumbuhkan keyakinan yang kuat bahwa pilihan kita adalah terbaik di antara beberapa calon yang ada. Apalagi saat ini kita telah memasuki momentum Ramadhan, bulan yang selalu di sambut penuh suka cita oleh kaum muslimin. Barangkali memang tidak ada yang berduka dengan datangnya Ramadhan, seperti duka yang kita rasakan atas kepalsuan pencitraan politik para cabub, kecuali bagi sebagian anak-anak kecil yang terancam mulai esok pagi karena sudah tidak bisa menikmati jajanan makanan. Meskipun saat memasuki buka puasa, kompensasi kegembiraannya menghapuskan kesedihannya dalam menahan lapar.
Sebelum kita memilih pemimpin, marilah kita jernihkan dulu fikiran dan hati di bulan Ramadhan ini. Agar esensi puasa dapat kita jadikan sebagai pedoman dalam menyikapi perpolitikan yang kian menjijikkan. Sehingga mata batin kita mampu melihat kebaikan para cabub yang dipaksakan, pencitraan terencana, dan sampai pada prostitusi agama.
Selama ini kita semua masih meyakini bahwa Ramadhan adalah bulan penuh berkah. Oleh sebab itu, tidak ada yang menyangkal keberkahan bulan ini. Ulama, ustadz, para tokoh, pejabat pemerintah, calon bupati, dan orang-orang tua selalu menyampaikan kemuliaan Ramadhan. Semua menganjurkan berpuasa agar kita bisa merasakan penderitaan orang kelaparan. Dan mereka berceramah supaya umat islam senantiasa meningkatkan ibadah serta iman dan takwa, karena Allah akan melipat gandakan pahala ibadah kita di bulan Ramadhan ini. Begitu terus yang lazim kita dengar dari mereka pada saat kultum atau sambutan politik dan kampanye.
Mungkin karena kemandegan cara berfikir kita selama ini dan belum di galinya lebih dalam tentang cakrawala ilmu puasa, sehingga pemahaman kita tentang puasa tidak pernah naik kelas. Stagnan, dan lambat laun mengering. Kita belum lulus dalam merelevansikan hakikat dan makna puasa terhadap keseharian hidup kita. Lantas bagaimana kita mampu melihat cabub yang baik, jika puasa hanya dimaknai bulan ramadhan saja.  Kecuali kalau kita hanya mengharapkan untuk mendapat pahala dari Allah saja, meskipun itu juga sah dan baik juga.
Jika kita mau berfikir luas, rasanya kok kurang sreg dan ‘ngganjel’ juga. Kalau toh agama hanya mengurus soal pahala pribadi saja, dengan asyik merayu Tuhan agar memasukkan kita ke dalam sorga. Kok rasanya tidak sejalan dengan visi rahmatan lil alamin, rahmat bagi sekalian alam atau tentang mandat Allah atas manusia untuk menjadi khalifah di bumi.
Bertolak dari itu, tentunya bisa kita lebarkan ke wilayah lain semacam puasa Ramadhan yang kita jalani dengan membuka pintu pemahaman yang lebih luas dan aplikatif. Apakah puasa itu hanya untuk menahan lapar dan dahaga saja? Apakah puasa itu hanya untuk menahan nafsu untuk tidak bersenggama di siang hari? Apakah puasa itu hanya untuk merasakan penderitaan orang kelaparan saja? Ataukah memang tidak ada nilai lain yang terkandung dalam puasa yang lebih luas yang bisa kita gali bersama?
Umpamanya bila kita contohkan pada arena pertarungan pilbub yang akan datang, khususnya di kabupaten Sumenep. Apa yang kita lihat dengan mata hati kita? Sudah sejak beberapa bulan, setiap detik pendengaran dan mata kita selalu di suguhi oleh percekcokan politik yang tidak sehat dan cenderung saling menghujat. Padahal belum ada keputusan yang final dari KPU tentang para calon yang akan bertarung nanti. Tetapi sejak hari ini, hati dan kepala kita terasa di pecah belah dengan desas-desus calon yang belum tentu benar. Kalau tidak si A ya si B, jika tidak si B ya si F, begitu seterusnya. Pilihan kita seakan-akan tidak lagi untuk kepentingan Sumenep sejahtera, tapi sudah kita persempit hanya untuk bagaimana memenangkan si A atau si B dan si F. Cara-cara yang di tempuhnya pun betapa sudah sangat melanggar etika-etika kepantasan. Sungguh benar-benar menggelikan.
Kita ini rakyat jadi serba bingung. Padahal oleh ‘kiyai’, ustad, dan bapak-bapak pejabat kita disuruh jadi orang baik dan tidak boleh mencela orang lain. Tapi sesampai di rumah kita melihat bahwa mereka sendiri yang mencela dan saling merendahkan satu sama lainnya. Mereka mengajari kita Pancasila dan Bhineka Tunggal Ika, mereka pula yang mencontohkan bagaimana melanggarnya. Rupanya yang kita lihat selama ini dalam momentum pilbub adalah pelampiasan-pelampiasan dari yang buruk-buruk dalam diri manusia. Semuanya bernafsu untuk sangat ingin memenangkan jagoannya masing-masing, tidak peduli apakah dengan cara menghujat, bahkan menghancurkan yang lain. Jika demikian, lalu apa arti kemenangan yang sebenarnya bila kemenangan itu dengan memperhinakan dan memecah belah persaudaraan.
Jadi, kita sekarang akan memasuki bulan ramadhan, bulan puasa, bulan pengendalian. Kita akan di uji apakah kita lulus dalam menjalani “Ramadhan kebangsaan ini dengan saling berendah hati. Ataukah kita memang sudah buta tuli terhadap makna puasa yang sejati? Maka rakyat Sumenep harus hati-hati dalam memilih calon Bupati. Jika kita menghendaki pemimpin sejati, pilihlah calon sesuai nurani. Tidak perlu kiyai yang memilihkan, sebab di zaman sekarang sudah hampir tidak bisa dibedakan seperti apa (maaf) kiyai dan bagaiman politisi. Nilailah sendiri calon kita, kemudian ikuti hati, dan pilihlah bupati dengan niat mencari pemimpin yang baik dan amanah. Saya yakin, Allah pasti menilai niat baik kita, bukan siapa pilihan kita.



[*] Putra Gili Raja, Sumenep yang sedang mengabdikan diri sebagai dosen di Fakultas Pendidikan dan Keguruan UIN Sunan Ampel Surabaya, serta dosen di STAI Miftahul Ulum Panyepen Pamekasan.

0 Response to "Ramadhan: Sebuah Upaya Untuk Mencari Pemimpin Sumenep"

Post a Comment

wdcfawqafwef