Category 1

Theme Support

Refleksi Ramadhan (Upaya Menyuap Malaikat Membeli [Tiket] ke Sorga)

Oleh: H Taufik Hasyim*

Abstrak

Ramadhan begitu berarti bagi mukmin sejati untuk senantiasa memperbaiki diri, mensucikan hati dengan menghidupkan malam-malam melalui shalat, tadarus qur’an, dzikir dan i’tikaf, sedangkan di siang hari harus puasa menahan lapar sembari bekerja dan menjaga sikap dari hal-hal yang membatalkan puasa seperti makan, minum, merasani, menggunjing, adu domba dan sifat buruk lainnya.

Dalam al-Qur’an, ayat tentang puasa terdapat pada surat al-Baqarah, ayat 183, 184, 185 dan 187 yang menjelaskan antara lain kewajiban puasa,  waktu puasa, keringanan bagi orang yang tidak mampu berpuasa dan tujuan puasa. Surat al-Baqarah adalah surat yang turun ketika Nabi sudah hijrah ke Madinah (madaniah), ini artinya bahwa perintah puasa turun di Madinah yang menurut para ahli sejarah kewajiban puasa Ramadhan turun pada tanggal 10 Sya’ban tahun kedua Hijriyah (Quraisy Syihab 1996).

Tujuan melakukan berbagai amalan-amalan dalam puasa tidak lain untuk memperoleh taqwa dengan jalan pengendalian diri terhadap nafsu yang bergejolak dalam jiwa baik nafsu lahir maupun nafsu batin. Pengendalian diri ini diperlukan oleh manusia baik secara individu maupun kelompok, baik yang kaya ataupun miskin, sebab syahwat manusia yang selalu ingin terpenuhi terus bergejolak sepanjang tahun, baik syahwat makan, minum, seksual hingga syahwat berkuasa. Saat bulan Ramadhan-lah pengendalian terhadap diri bisa dilakukan, dimana pengendalian lahir dengan cara puasa siang hari, sedang pengendalian batin dengan cara tarawih, tadarus, shalat malam, makan sahur dan ibadah-ibadah lainnya.

Ramadan di Tanah Air

Menjelang Ramadhan tiba, semua masyarakat seakan sibuk menyambut bulan mulia ini, hampir tiap daerah, propinsi, kabupaten memajang foto kepala daerahnya lengkap dengan baju kehormatan sambil diikuti senyum tipis sembari ada tulisan “Marhaban Ya Ramadhan” entah dengan maksud apa pemajangan foto itu.  Hal seperti ini tidak hanya di pajang di pinggir-pinggir jalan, melainkan juga di radio-radio swasta dan stasiun TV sering kita mendengar ucapan selamat berpuasa dari para pejabat negara baik pusat maupun daerah, baik ekskutif maupun legislatif dengan berbagai kata mutiara sembari sedikit mengutip Hadis nabi atau kalam ulama, entah juga apa maksud dari semua itu, namun kita husnu-dzon saja bahwa itu bagian manivestasi uswah dari pemimpin kepada rakyatnya, maka tak jarang hal ini juga menjadi berkah bagi pemilik stasiun radio dan tv tersebut.

Demikian juga di tiap masjid, desa, kampung juga terdapat tulisan “Marhaban Ya Ramadhan” dengan tulisan besar pada kertas banner ukuran 4x6 atau bahkan 7x6 diikuti lampu kelap kelip penuh warna warni lalu di pojok kiri ada foto iklan sebuah produk tertentu yang ikut berpartisipasi terhadap adanya spanduk itu, meskipun terkadang produk itu milik Yahudi Zionis yang terang-terangan selalu mendukung penghinaan terhadap Islam dan berusaha memerangi Islam, namun terlepas dari semua itu, patut diberi apresiasi bahwa hal itu menunjukkan bagian dari betapa riangnya kaum muslimin dalam menyambut bulan mulia nan agung ini, dimana sesuai sabda nabi bahwa “tidurnya orang puasa adalah ibadah” yang hadis ini hanya laku di bulan Ramadhan saja ‘kata seorang penceramah’.

Program televisi juga 'tak kalah semarak, program bertemakan religi hampir tiap waktu mengisi layar kaca di tanah air kita Indonesia, mulai dari menjelang sahur (jam 02:00 dini hari) hingga jam 00:00, artinya full penuh tayangan yang (katanya) untuk menyambut Ramadhan, baik hiburan, kajian keislaman, sejarah islam, tabligh akbar, sinetron hingga kuis bernilai jutaan rupiah (yang mestinya kuis itu sebagai hadiah, tapi justru membuat makin jelas ketidak-seimbangan ekonomi rakyat bawah yang menonton acara itu dengan pemilik televisi itu/kapital, dimana satu sisi kelompok manusia menghamburkan uang sedangkan disi lain rakyat masih banyak yang kekurangan).

Mirisnya juga, jam tayang dari program-program itu bersamaan dengan waktu pentingnya dalam ibadah, seperti waktu shalat tarawih dan tadarus bahkan program kuis yang bernilai jutaan rupiah terkadang bersamaan dengan waktu sahur hingga menjelang subuh, dimana waktu-waktu itu seharusnya seorang hamba sedang bersua dengan Tuhannya, sedang menyapa Khaliqnya, sedang munajat khusyu’ dalam kesendirian, khudlur dalam doanya untuk meraih ampunan, ma’unah dan pembebasan dari api neraka, namun inilah keyataannya, waktu berharga milik kaum mukminin, muslimin dan sha’imiin telah dirampas oleh hiburan dan impian ke-semarak-an program “menyambut Ramadhan” yang sebenarnya semu, namun sebagai sifat husnu-dzan saya, (mungkin) ini bagian dari ungkapan rasa senang akan datangnya bulan Ramadhan, dimana dalam sebuah hadis disebutkan, bahwa "barang siapa senang/bahagia akan datangnya bulan Ramadhan, maka akan masuk sorga", meskipun status hadits itu belum jelas ke-sahih-annya, namun begitukah caranya...? wallahu a’lam.

Demikian juga selebritis yang menjadi idola anak muda kita sekaligus menjadi kiblat ke-modern-an gaya hidup, dimana kalau selain bulan Ramadlan mereka sering kita lihat membuka aurat, pakaian ketat, bergaya hidup hedonis, glamour (meskipun tidak semuanya, bahkan banyak selebritis yang layak menjadi contoh dan suri tauladan serta istiqamah dalam bergama), tapi dibulan puasa ini mereka merubah penampilan, berjilbab, santun, baik, ramah, rajin ibadah, ikut pengajian bahkan mengumpulkan yatim piatu untuk diberi santunan atau datang ke panti asuhan dan memberi langsung santunan pada anak yatim meskipun setelah Ramadhan kita tidak tau akan apa yang akan terjadi terhadap sikap mereka. Mungkin (menurut mereka) mumpung bulan penuh berkah, penuh ampunan, mereka ingin cepat-cepat menghapus dosa dengan se-akan menyuap malaikat untuk mendapat tiket ke sorga, mungkin mereka juga ingin berbagi kebahagiaan, berbagi rizqi terhadap anak yatim yang memang membutuhkan, kita tentunya ikut bahagia jika sikap seperti ini bisa berlanjut pasca Ramadhan. Amiin.

Orang yang berpuasa memiliki dua kebahagiaan, kebahagiaan pertama disaat berbuka puasa dan kebahagiaan kedua besok ketika bertemu dengan Allah (al-Hadis) di akhirat, yaitu ketika orang-orang kafir, musyrikin dan munafiqin dimasukkan keneraka, maka para sha’imiin dan orang-orang yang murni ibadah karena Allah, yang menghidupkan malam-malam bulan Ramadhan dengan tadarus qur’an, munajat, menangis untuk meraih ampunan, maka orang-orang ini akan dimasukkan ke-sorga Allah melalui pintu sorga bernama “rayyan” dimana pintu sorga ini memang disiapkan oleh allah kepada sha’imiin dan sha’imaat.

Selamat ber-puasa untuk meraih rahmat, ampunan dan pembebasan dari api neraka.

Wallahu a’lam bishawab.

Jember, 05 Ramadhan, 1436. H.

* Penulis adalah Khadim di Ma’had Sumber Anom, Angsanah Palengaan, Pamekasan Madura Jawa Timur

0 Response to "Refleksi Ramadhan (Upaya Menyuap Malaikat Membeli [Tiket] ke Sorga)"

Post a Comment

wdcfawqafwef