Category 1

Theme Support

Surat Mbah Liem Kepada Gus Dur


KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dan KH Muslim Rifa'i Imampuro (Mbah Liem) dikenal sebagai teman yang sangat akrab. Banyak orang mengatakan beliau berdua adalah waliyullah (kekasihnya Allah).

Sekitar tahun 2007 akhir Mbah Liem mengutus langsung putri menantunya, Yayuk Madayani (yang dipersunting Gus Muh) untuk menyampaikan pesan penting kepada Gus Dur. Pesan tersebut ditulis tangan langsung oleh Mbah Liem dan dimasukan ke sebuah map.

Pesan tersebut tampaknya sangat sangat penting karena yang diutus putri beliau sendiri. Dawuh Mbah Liem, “Iki kudu langsung kowe kekno neng Gus Dur! (ini harus kamu berikan sendiri kepada Gus Du, tidak boleh lewat perantara). Saat itu Ning Yayuk posisinya di Pekalongan karena masih menjadi anggota DPRD Kabupaten Pekalongan. 

Pesan tersebut sudah sampai di tangan Ning Yayuk saat Gus Dur punya program penghijauan di Pekalongan. Ning Yayuk pun menemui Pak Fuadi (korlap kegiatan). Yayuk diajak menemui Gus Dur di bandara Semarang karena waktu yang paling tepat, ya saat itu.

“Gus ini ada utusan Mbah Liem bade (hendak) menyampaikan pesan untuk Panjenengan,”  kata Pak Fuadi kepada Gus Dur.

“Oh yo, ono opo (Ada apa)?” Sahut  Gus Dur.

Ning Yayuk langsung duduk membuka isi map dan membacakan pesan Mbah Liem. Isi pesan tersebut demikian, “HAMANDITO HAMANDITO LUWEH APEK! REGENERASI REGENERASI!” Sesaat Gus Dur terdiam mendengar isi pesan tersebut kemudian berkata, “NggihNggih, Insya Allah, amiin.” 

Gus Dur mengucapkannya seolah berhadapan langsung dengan Mbah Liem. Dalam isi pesan itu Mbah Liem mengingatkan dan meminta Gus Dur untuk merelakan PKB, biar PKB diurus yang muda–muda karena waktu itu PKB sedang dilanda konflik berat. Lahumal Faatihah...


Ali Mahbub, Wakil Ketua PW GP Ansor Jateng 2014-2018, asal Wonogiri
* Kisah ini ditulis berdasarkan cerita Ning Yayuk Madayani kepada penulis pada 24 maret 2014, pukul 09.40 pagi.

0 Response to "Surat Mbah Liem Kepada Gus Dur"

Post a Comment

wdcfawqafwef