Category 1

Theme Support

Ustadz dan SMS Premium

Oleh Muhammad Ahnu Idris*

Bulan Ramadhan adalah bulan yang sangat mulia. Dianjurkan bagi setiap muslim untuk menjadikan bulan ini sebagai bulan pembelajaran dan mengagungkannya dengan lebih mendekatkan diri kepada Sang Khaliq dan mengisinya dengan kegiatan-kegiatan positif.

Tapi sangat disayangkan, bulan ini juga dimanfaatkan oleh beberapa oknum pelaku bisnis untuk mengeruk untung sebanyak-banyaknya dari masyarakat, sehingga masyarakat mengalami kerugian. Ironisnya, masyarakat tidak sadar jika mereka sedang dimanfaatkan oleh para pemilik modal. Sebut saja seperti acara pencarian bakat dai dan muballigh melalui SMS premium. Pintarnya oknum ini, mereka melibatkan ustadz dan ustadzah dalam bisnisnya itu, sehingga mengesankan bahwa acara penjaringan bakat tersebut adalah praktek yang dilegalkan oleh agama. (Baca juga: Pandangan Aswaja An-Nahdliyah Terhadap Acara Talent Show Melalui SMS Premium). Bahkan jika sahabat-sahabat penulis yang sedang aktif di organisasi Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) STAI-MU Pamekasan ketika melihat acara penjaringan muballigh di televisi, mereka berujar "ah, acaranya ustadz kapital!" sambil memalingkan mukanya.

Pertanyaannya, apa tujuan dari penjaringan bakat calon dai dan muballigh melalui SMS premium? Siapa yang diuntungkan dalam program tersebut? Adakah pihak yang dirugikan?
Islam mengajarkan kepada umatnya untuk berkarya dan berusaha untuk mencari karunia dan keuntungan dari usahanya. Tapi perlu diketahui, Islam tidak membenarkan usaha yang hanya menguntungkan sebelah pihak.

Berkenaan dengan "keikutsertaan" ustadz dan ustadzah dalam acara penjaringan bakat melalui SMS premium, berikut pandangan Islam dan ulama-ulama Ahlus Sunnah wal Jamaah: 

Di riwayatkan dari Anas bin Malik ra. menuturkan sebuah hadis:

ﻭَﻳْﻞٌ ِﻷُﻣَّﺘِﻲْ ﻣِﻦْ ﻋُﻠَﻤَﺎﺀِ ﺍﻟﺴُّﻮْﺀِ ﻳَِﺘَّﺨِﺬُﻭْﻥَ ﻫَﺬَﺍ ﺍﻟْﻌِﻠْﻢَ ﺗِﺠَﺎﺭَﺓً ﻳَﺒِﻴْﻌُﻮْﻧَﻬَﺎ ﻣِﻦْ ﺃُﻣَﺮَﺍﺀِ ﺯَﻣَﺎﻧِﻬِﻢْ ﺭِﺑْﺤﺎً ِﻟﻸَﻧْﻔُﺴِﻬِﻢْ ﻻَ ﺃَﺭْﺑَﺢَ ﺍﻟﻠﻪُ ﺗِﺠَﺎﺭَﺗَﻬُﻢْ

"Kebinasaan bagi umatku (datang) dari ulama su’ mereka menjadikan ilmu sebagai barang dagangan yang mereka jual kepada para penguasa masa mereka untuk mendapatkan keuntungan bagi diri mereka sendiri. Allah tidak akan memberikan keuntungan dalam perniagaan mereka itu." (HR al-Hakim)

Sayidina Anas ra juga meriwayatkan:

ﺍﻟْﻌُﻠَﻤَﺎﺀُ ﺃَﻣَﻨَﺎﺀُ ﺍﻟﺮُّﺳُﻞِ ﻣَﺎ ﻟَﻢْ ﻳُﺨَﺎﻟِﻄُﻮْﺍ ﺍﻟﺴُّﻠْﻄَﺎﻥَ ﻭَ ﻳُﺪَﺍﺧِﻠُﻮْﺍ ﺍﻟﺪُّﻧْﻴَﺎ ﻓَﺎِﺫَﺍ ﺧَﺎﻟَﻄُﻮْﺍ ﺍﻟﺴُّﻠْﻄَﺎﻥَ ﻭَ ﺩَﺍﺧَﻠُﻮْﺍ ﺍﻟﺪُّﻧْﻴَﺎ ﻓَﻘَﺪْ ﺧَﺎﻧُﻮْﺍ ﺍﻟﺮُّﺳُﻞَ ﻓَﺎﺣْﺬَﺭُﻭْﻫُﻢْ ﻭَﻓِﻲْ ﺭِﻭَﺍﻳَﺔٍ ﻟِﻠْﺤَﺎﻛِﻢِ ﻓَﺎﻋْﺘَﺰِﻟُﻮْﻫُﻢْ

"Ulama adalah kepercayaan para rasul selama mereka tidak bergaul dengan penguasa dan tidak asyik dengan dunia. Jika mereka bergaul dengan penguasa dan asyik dengan dunia maka mereka telah mengkhianati para rasul. Karena itu, jauhilah mereka." (HR al-Hakim)

Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi
wa sallam bersabda;

ﻣَﻦْ ﺗَﻌَﻠَّﻢَ ﻋِﻠْﻤًﺎ ﻣِﻤَّﺎ ﻳُﺒْﺘَﻐَﻰ ﺑِﻪِ ﻭَﺟْﻪُ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﻋَﺰَّ ﻭَﺟَﻞَّ ﻻَ ﻳَﺘَﻌَﻠَّﻤُﻪُ ﺇِﻻَّ ﻟِﻴُﺼِﻴﺐَ ﺑِﻪِ ﻋَﺮَﺿًﺎ ﻣِﻦَ ﺍﻟﺪُّﻧْﻴَﺎ ﻟَﻢْ ﻳَﺠِﺪْ ﻋَﺮْﻑَ ﺍﻟْﺠَﻨَّﺔِ ﻳَﻮْﻡَ ﺍﻟْﻘِﻴَﺎﻣَﺔِ

“Barangsiapa yang mempelajari suatu ilmu (belajar agama) yang seharusnya diharap adalah wajah Allah, tetapi ia mempelajarinya hanyalah untuk mencari harta benda dunia, maka dia tidak akan mendapatkan wangi surga di hari kiamat.” (HR. Abu Daud no. 3664, Ibnu Majah no. 252 dan Ahmad 2: 338)

Rasulullah saw. bersabda:

« ﺃَﻻَ ﺇِﻥَّ ﺷَﺮَّ ﺍﻟﺸَّﺮِّ ﺷِﺮَﺍﺭُ ﺍﻟْﻌُﻠَﻤَﺎﺀِ ﻭَﺇِﻥَّ ﺧَﻴْﺮَ ﺍﻟْﺨَﻴْﺮِ ﺧِﻴَﺎﺭُ ﺍﻟْﻌُﻠَﻤَﺎﺀِ »

"Ingatlah, sejelek-jelek keburukan adalah keburukan ulama dan sebaik-baik kebaikan adalah kebaikan ulama." (HR ad-Darimi)

Abu Hurairah ra. menuturkan hadis:

ﻣَﻦْ ﺃَﻛَﻞَ ﺑِﺎﻟْﻌِﻠْﻢِ ﻃَﻤَﺲَ ﺍﻟﻠﻪُ ﻋَﻴْﻨَﻴْﻪِ ( ﺃَﻭْ ﻭَﺟْﻬَﻪُ ﻓﻲِْ ﺭِﻭَﺍﻳَﺔِ ﺍﻟﺪَّﻳْﻠَﻤِﻲْ) ﻭَﻛَﺎﻧَﺖِ ﺍﻟﻨَّﺎﺭُ ﺃَﻭْﻟَﻰ ﺑِﻪِ

"Siapa yang makan dengan (memperalat) ilmu, Allah membutakan kedua matanya (atau wajahnya: di dalam riwayat ad-Dailami), dan neraka lebih layak untuknya." (HR Abu Nu‘aim dan ad-Dailami)

Al Allamah Al-Minawi dalam Faydh al-Qadîr Syarah Jami’ Shogir dari Imam Syuyuthi , mengatakan:

“Bencana bagi umatku (datang) dari ulama sû’, yaitu ulama yang dengan ilmunya bertujuan mencari kenikmatan dunia, meraih gengsi dan kedudukan. Setiap orang dari mereka adalah tawanan setan. Ia telah dibinasakan oleh hawa nafsunya dan dikuasai oleh kesengsaraannya. Siapa saja yang kondisinya demikian, maka bahayanya terhadap umat datang dari beberapa sisi. Dari sisi umat; mereka mengikuti ucapan- ucapan dan perbuatan-perbuatannya. Ia memperindah penguasa yang menzalimi manusia dan gampang mengeluarkan fatwa untuk penguasa. Pena dan lisannya mengeluarkan kebohongan dan kedustaan. Karena sombong, ia mengatakan sesuatu yang tidak ia ketahui.” ( Faydh al-Qadîr , VI/369.)

Karena semua itu, Hujjatul Islam Imam al-Ghazali mengingatkan;

“Hati-hatilah terhadap tipudaya ulama su’. Sungguh, keburukan mereka bagi agama lebih buruk daripada setan. Sebab, melalui merekalah setan mampu menanggalkan agama dari hati kaum mukmin. Atas dasar itu, ketika Rasul saw. ditanya tentang sejahat-jahat makhluk, Beliau menjawab, “Ya Allah berilah ampunan.” Beliau mengatakannya sebanyak tiga kali, lalu bersabda, “mereka adalah ulama sû’.”

Saat ini, adakah ulama su'? Sepertinya banyak... Bergelar ustadz dan ustadzah atau intelektual muslim, tapi tindakannya membingungkan masyarakat. Mereka yang seharusnya memberikan penyadaran dan pencerahan kepada masyarakat tentang kerugian yang akan diderita dengan mengirimkan dukungannya kepada para kontestan melalui SMS premium, malah mengajak masyarakat untuk mengirimkan SMS sebanyak-banyaknya.

Dinukil dari kitab Ihya' 'Ulumuddin karya Hujjatul Islam Imam Al Gazzali.

قال صلى الله عليه وسلم " إن أشد الناس عذاباً يوم القيامة عالم لم ينفعه الله بعلمه "

"Nabi shollallohu alaihi wasalaam bersabda : "sesungguhnya siksaan manusia yg paling berat dihari kiyamat adalah orang alim yang Allah tidak memberikan manfa'atnya ilmu kepadanya."

وعنه صلى الله عليه وسلم أنه قال " لا يكون المرء عالماً حتى يكون بعلمه عاملاً "

"Dan dari Nabi shollallohu alaihi wasalaam bersabda : " seseorang tidaklah menjadi orang alim sehingga dia mengamalkan ilmunya."

وقال صلى الله عليه وسلم " من ازداد علماً ولم يزدد هدى لم يزدد من الله إلا بعداً "

"Nabi shollallohu alaihi wasalaam bersabda : "Barang siapa yang bertambah ilmunya tetapi tidk bertambah hidayahnya maka tidaklah bertambah dari Allah kecuali bertambah jauh."

قال عمر رضي الله عنه: إن أخوف ما أخاف على هذه الأمة المنافق العليم. قالوا: وكيف يكون منافقاً عليماً؟ قال: عليم اللسان جاهل القلب والعمل.

Sayyidina Umar Bin Khoththob ra berkata “Sesungguhnya paling mengkhawatirkannya umat ini adalah para munafiq yang berilmu” Para sahabat bertanya “Bagaimana orang munafiq tapi ia alim?” Sayyidina Umar menjawab “Mereka alim dalam lisannya tapi tidak dalam hati dan amaliahnya.”

وقال الحسن رحمه الله: لا تكن ممن يجمع علم العلماء وطرائف الحكماء ويجري في العمل مجرى السفهاء.

Hasan al-Bashri rh berkata “Janganlah kalian menjadi pengumpul ilmu-ilmu ulama dan kata-kata bijak ahli hikmah namun dalam pengamalannya sebagaimana pengamalan orang-orang pandir.”

وقال ابن المبارك: لا يزال المرء عالماً ما طلب العلم فإذا ظن أنه قط علم فقد جهل.

Ibn al-Mubaarak berkata “Selama seseorang mau belajar ilmu ia akan menjadi orang alim namun saat ia merasa dirinya telah alim sesungguhnya ia adalah orang bodoh.”

Demikian pandangan Islam. Semoga saja para ustadz dan ustadzah sebagaimana disebutkan di atas tidak termasuk pada kriteria ulama su'. Dan semoga ini hanya bentuk su'u dzan dan kebodohan penulis dalam menyikapi kondisi sosial yang ada di negeri ini. Penulis sadar bahwa beliau para ustadz yang menjadi juri dalam program itu adalah ustadz yang sangat paham agama.

Wallahu a'lam bisshawab.

* kader muda NU (Nahdlatul Ulama) Pamekasan.

2 Responses to "Ustadz dan SMS Premium"

  1. Sepakat dan mantaf pak ahnu,,,
    Karena sangat kurang pas sekali, jika caranya habya sperti itu lgsung jdi muballingh kondang,....

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ustadz hasil produksi media biasanya pasang tarif, pres.

      Delete

wdcfawqafwef