• This is default featured slide 1 title

    Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

  • This is default featured slide 2 title

    Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

  • This is default featured slide 3 title

    Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

  • This is default featured slide 4 title

    Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

  • This is default featured slide 5 title

    Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Friday, July 31, 2015

Download Buku Panduan Lengkap Muktamar ke-33 Nahdlatul Ulama


Pasti Aswaja — Muktamar ke-33 Nahdlatul Ulama tinggal hitungan jam. Berkenaan dengan agenda acara 5 tahunan itu, banyak beredar pesan berantai melalui pesan BlackBerry, SMS, Sosmed dan lain semacamnya.

Demi validasi informasi dan lain-lain yang berhubungan dengan Muktamar NU, berikut buku panduan lengkap Muktamar ke-33 Nahdlatul Ulama yang akan dilaksanakan di Jombang. (klik disini)

Sekretariat Panitia Nasional Muktamar ke-33 Nahdlatul Ulama Tahun 2015 M/ 1436 H:
Jln. Kramat Raya No. 164 Jakarta Pusat 10430 Telp/Fax. (021) 3907876, Email: muktamar@nu.or.id/ sekretariat.muktamar@gmail.com, Website: http//www.muktamar.nu.or.id atau http://www.muktamarnu.com(ahn)
Share:

Thursday, July 30, 2015

PMII Pamekasan Keberatan Kembali Ke NU

Pamekasan Pasti Aswaja – Ultimatum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) yang meminta organisasi kemahasiswaan Pergerakan Mahasiswa Islam Imdonesia (PMII) untuk kembali menjadi Badan Otonom (BANOM) NU kembali mendapat penolakan. Kali ini penolakan datang dari PMII Pamekasan.

Penolakan itu, bukan berarti PMII Pamekasan tidak mau terhadap NU, malah sebaliknya, penolakam iti justru karena kecintaan PMII terhadap NU.

"Kami menolak PMII kembali ke NU, bukan karena kami benci, anti atau tidak mau terhadap NU. Justru sebaliknya, itu semua karena kami sampai detik ini, bahkan sampai masuk kubur, kami tetap mencintai NU." Kata Moh. Imron, Ketua Umum Pengurus Cabang (PC) PMII Pamekasan di kantornya.

Dia melanjutkan, jika selama ini PMII menjadi garda terdepan dalam menanamkan paham Ahlus Sunnah wal Jamaah (Aswaja) di kampus-kampus.

"Selama ini PMII selalu menjadi garda depan dalam mendakwahkan paham Aswaja An-Nahdliyah (Aswaja ala NU. Red.) ke mahasiswa di kampus-kampus." Lanjut Ron, sapaan akrab Imron.

Saat ditanyakan terkait ultimatum NU untuk mengaktifkan kembali KMNU (Keluarga Mahasiswa Nahdlatul Ulama) jika PMII menolak kembali ke NU, Ron menyikapinya dengan santai.

"PMII ini lahir dari NU. Tapi saya juga tidak mengharapkan hal itu (mengaktifkan kembali KMNU. Red.) terjadi. Nanti apa kata organisasi kemahasiswaan yang lain." Jawabnya sambil tersenyum.

Jika hal itu terjadi, masih menurut Ron, akan semakin banyak organisasi-organisasi NU yang masuk ke kampus-kampus dan akan semakin merepotkan dan membingungkan calon mahasiswa.

"Uaduh... Gawat itu. Sekarang saja IPNU-IPPNU (Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama-Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama. Red.) sudah masuk kampus, bahkan di Kalimantan GP Anshor juga masuk kampus. Kan semakin repot itu. Nanti calon mahasiswa kebingungan mau gabung yang mana. Keluhnya.

Ron menambahkan, selama PMII memilih untuk independen, kaderisasi di PMII sudah berjalan sangat baik.

"PMII sudah sangat kental dan nyaman dalam independensinya dalam mengawal pola kaderisasi di kampus-kampus umum maupun kampus agama." Imbuhnya. "Dan itu sudah sangat baik dan mampu menanamkan nilai-nilai Aswaja pada setiap kader." Lanjutnya.

Menurutnya, jika PMII kembali ke NU, maka yang akan terjadi adalah pembatasan oleh oknum yang mengatas namakan NU, sedangkan mereka tidak paham tentang PMII.

"Ketika PMII kembali ke NU, maka yang akan didapatkan PMII adalah pembatasan pola gerakan yang akan dibangun PMII oleh pihak-pihak yang nanti akan mengatas namakan NU. Dan tidak akan menutup kemungkinan akan dimanfaatkan pada kepentingan individu." Jelas kader PMII Unira (Umiversitas Madura) ini.

Hal itu menurutnya, dikarenakan di NU tidak semuanya alumni PMII.

"Dikarenakan di NU itu mulai dari pusat sampai di daerah tidak semua pengurusnya adalah orang pernah ber-PMII. Maka ketika melihat itu yang jelas mereka tidak akan pernah mengerti tentang PMII dan pola-pola kaderisasi dan gerakan yang selama ini kita bangun." Jelasnya.

"Maka dari itu, PC PMII Pamekasan akan tetap konsisten menolak PMII menjadi Banom NU." Pungkas Ron.

Untuk diketahui, deadline ultimatum PBNU itu adalah sampai pada pelaksanaan Muktamar ke-33 NU tanggal 1-5 Agustus mendatang di Jombang. (ahn)
Share:

Tuesday, July 28, 2015

Antara Gus Dur, Qashidah Burdah dan Maulid Nabi

Suatu saat, ketika Gus Dur berziarah di makam Syeikh Jumadil Kubro, Mojokerto, ia meminta Pak Maman Imadulhaq Faqieh, untuk membaca syair shalawat "ya rabbi bil Musthafa balligh maqashidana waghfir lana maa madla ya wasi'al karami."

Rangkaian bait yang sangat disukai Gus Dur itu adalah qashidah yang disusun oleh seorang pujangga hebat, yakni Imam Syarafuddin Abu Abdillah Muhammad bin Zaid Al-Bushiri (610-695 H./1296 M.). Beliau lahir di Maroko, dan dibesarkan di Bushir, Mesir. Dan beliau seorang murid dari Shufi besar, yakni Syaikh Abil Hasan Al-Syadzili dan penerusnya yang bernama Abul Abbas Al-Mursi (anggota tarekat Syadziliyah).

Kasidah Burdah adalah salah satu karya paling populer dalam khazanah sastra Islam. Isinya adalah sajak-sajak pujian kepada Nabi Muhammad SAW, pesan moral, nilai-nilai spiritual, dan semangat perjuangan. Hingga saat ini tetap populer dan selalu dibaca saat peringatan Maulid Nabi. Buku ini telah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa seperti Persia, Turki, Urdu, Punjabi, Swahili, Pastum, Melayu, Sindi, Inggris, Prancis, Jerman dan Italia.

Setiap kali ada orang yang membaca syair tersebut, bibir Gus Dur secara refleks ikut bergetar, wajahnya cerah berkaca-kaca dan tangannya ikut memukul paha, seakan-akan ada musik yang mengiringi syair tersebut. Kecintaan Gus Dur kepada Rasulullah Muhammad SAW. sangatlah dalam, hingga mendarah daging. Bahkan suatu saat ada salah satu ketua PBNU, Masdar F. Mas'udi yang sering menyebut sang Nabi dengan kata "Muhammad". Gus Dur mengkritiknya. Dan iapun bertanya, "Pak Masdar, Muhammad itu banyak. Kiai-kiai bingung, Muhammad mana yang Anda Maksud? Apa pekerjaannya?" Sebagai bentuk kecintaannya kepada Nabi Muhammad SAW, cerita ini sering ia ungkapkan.

Gus Dur menjelaskan bahwa Qashidah Burdah ini merupakan al-madaih al-nabawiyah (ungkapan hormat dan salut pada Rasulullah SAW) yang dikembangkan oleh para shufi sebagai cara untuk mengungkapkan rasa cinta yang sangat dalam. Kasidah ini terdiri atas 160 bait (sajak), ditulis dengan gaya bahasa yang menarik, lembut dan elegan. Di samping itu juga berisi panduan ringkas mengenai kehidupan Nabi Muhammad SAW, cinta kasih, mengendalikan hawa nafsu, doa, pujian terhadap Al-Quran, Isra' Mi'raj, jihad dan tawassul.

Dengan memaparkan kehidupan Nabi secara puitis, Al-Bushiri bukan saja menanamkan kecintaan umat Islam kepada nabinya. Lebih dari itu, beliau juga mengajarkan sastra, sejarah Islam, dan nilai-nilai moral kepada kaum muslimin. Oleh karena itu, tidaklah mengherankan jika Qashidah Burdah selalu dibaca di pesantren-pesantren salafiyah, dan bahkan diajarkan di pada tiap hari Kamis dan Jumat di Universitas Al-Azhar, Kairo, suatu tempat dimana Gus Dur pernah belajar disana.

Ketika suatu saat ada teman akrab Gus Dur bercerita tentang ekspresi masyarakat di daerahnya akan kecintaan pada Nabi Muhammad SAW. Gus Dur menyimak dengan seksama apa yang sedang diceritakan. Karena ia salah satu sosok pendengar yang setia dan menghargai pendapat orang lain. Sehingga, siapapun yang berbicara di hadapannya, ia selalu menyimak dengan baik.

Begitu juga Gus Dur menjelaskan panjang lebar tentang hikmah kecintaan pada Nabi Muhammad SAW. melalui acara maulid. Menurutnya, keteladanan Rasulullah menjadi nilai tersendiri dalam konteks memperingati kelahirannya. Namun yang lebih penting adalah, sejauh mana nilai-nilai kemanusiaan dan keteladanan tersebut dapat diterjemahkan dalam kehidupan sehari-hari. Pandangan ini mendorong kita untuk melakukan refleksi diri atas realitas kehidupan umat Islam yang semakin bertolak belakang dengan nilai-nilai kemanusiaan dan keadilan sebagai mana yang telah dibawa oleh Rasulullah SAW. itu sendiri.

Gus Dur menambahkan bahwa perlu kiranya, secara seksama untuk menumbuhkan dan memaknai kembali nilai-nilai keutamaan dan keteladanan Rasulullah SAW. dalam konteks kehidupan kita hari ini dan disini, khususnya yang sesuai dengan realitas kehidupan keberagamaan dan kebangsaan yang tengah dilanda multikrisis ini.

Diutusnya Rasulullah SAW. ke muka bumi ini menurut Gus Dur, tidak lain dan tidak bukan hanyalah memberi suri tauladan kepada umat manusia pada umumnya. Bahkan Allah SWT. menegaskan dalam firman-Nya: "sungguh telah ada pada (diri) Rasul itu suri tauladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut nama Allah".

Penegasan ayat ini, secara tersirat telah mengharuskan bawahi tentang kehidupan Rasulullah SAW. ke muka bumi ini hanya untuk menyempurnakan akhlak umat manusia. Nilai-nilai kemanusiaan dan keadilan yang ditanamkan oleh Rasulullah akan menjadi cermin bagi umatnya yang akan datang.

Akan tetapi bagi Gus Dur, menghormati dan mencintai Rasulullah SAW. tidak cukup hanya sebatas merayakan mauludan atau memperingati hari kelahirannya semata, seperti dengan membacakan sifat-sifat dan kepribadian Rasulullah. Karena, hal itu hanya akan menjadi rutinitas tahunan belaka, dan terjebak pada rutinitas dan sakralisasi dari maulid itu sendiri. Hanya disibukkan untuk mempersiapkan!n acara dan kegiatan testimoni yang dilakukan berulang-ulang setiap tahunnya, tanpa menghiraukan dan menghayati inti tujuan mengadakan acara maulud tersebut.

Sedangkan nilai kenabian yang membawa kabar gembira untuk melakukan perubahan di tingkat akar rumput tidak terkuak. Padahal, yang lebih penting dari semua itu ialah, membangkitkan kembali semangat kenabian dalam melakukan transformasi sosial, agar seluruh umat Islam mampu melakukan perubahan yang dapat diawali dari dirinya sendiri masing-masing.

Oleh karena itu, nilai kecintaan yang sejati terhadap Rasulullah SAW, adalah dengan menerjemahkan nilai-nilai kenabian dalam bentuk praktik kehidupan sehari-hari. Sebagaimana gerakan dakwah Rasulullah SAW. yang dimulai dari praktik kehidupan masyarakat sekitarnya, dan baru menyebar ke berbagai wilayah lain.

Sebagaimana upaya yang pertama kali dilakukan oleh Rasulullah SAW. di Madinah dengan melakukan program persaudaraan, yaitu mempersaudarakan antara komunitas pendatang/pengungsi/imigran (Muhajirin) dengan penduduk pribumi (Anshar). Sebagai salah satu pendekatannya adalah dengan cara pernikahan, antara laki-laki Muhajirin dengan perempuan Anshar, begitu juga sebaliknya.

Dalam proses penempatan tinggalnya-pun, Rasulullah tidak menempatkan rombongan Muhajirin pada wilayah tertentu, tetapi semuanya dititipkan secara merata di pemukiman-pemukiman kelompok Anshar. Sehingga terbangun ikatan persaudaraan di antara kediaman, serta menjalin kebersamaan di tengah perbedaan.

Pendekatan seperti ini menurut Gus Dur, telah mampu menumbuhkan ikatan dan komitmen sosial lintas suku di antara mereka, yang mampu mendorong terbangunnya penyatuan masyarakat secara utuh sebagai suatu masyarakat cosmopolitan (ammah).

Pada tahap ini, terbangun pola kebersamaan antara hak dan kewajiban sesama manusia. Karena itu, secara psikologis mental superior dan inferior mulai terkikis. Dan secara sistematis dalam masyarakat ammah seperti ini, tampak adanya pembelaan dan pengakuan terhadap hak-hak keadaannya, pembelaan dan pengakuan terhadap hak-hak kelompok minoritas, yaitu kalangan perempuan dan budak pada waktu itu.

Bahkan, penyebutan terhadap nama kelompok pendatang sebagai Muhajirin, dan masyarakat Yatsrib (sekarang Madinah) sebagai Anshar, adalah bentuk dari pendekatan Rasulullah SAW. untuk menghilangkan ke-ego-an ras dan suku yang dapat menyulut konflik. Akan tetapi, dengan memberi gelar tersebut bahwa Rasulullah SAW, mampu membangun rasa persaudaraan atas dasar nilai-nilai kemanusiaan dan keadilan.

Sebagai pola yang dilakukan oleh Rasulullah SAW, khususnya dalam menyatukan masyarakat yang heterogen menjadi masyarakat yang pluralisme, akan sangat cocok untuk melakukan pendekatan terhadap pola hidup masyarakat yang sangat plural, mulai dari ras, etnis, agama, suku, dan budaya yang sering menjadi sumbu konflik dan ketegangan.

Dalam pola pembentukan negara-bangsa telah menjadi semangat untuk bisa dijadikan pelajaran dalam membangun tata kehidupan yang menjunjung tinggi hak-hak dasar warganya, sebagai kasus Poso, Ambon, Ahmadiyah, aliran kepercayaan, Sampit, Negara Islam, terorisme, dan sebagainya.

Pandangan tersebut di atas, dapat kita lihat bahwa Rasulullah SAW. ingin mengajarkan jauh lebih penting arti nilai-nilai ketakwaan, ketauhidan, keadilan, kemanusiaan, dan pernikahan terhadap lain mustadl'afun (kaum lemah). Karena nilai tersebut dapat dimaknai dalam konteks kehidupan sosial yang lebih nyata (hablun minang nas). Sehingga ajaran Islam sebagai agama rahmatan lil 'alamin (menyayangi seluruh alam semesta) akan me:kunjung tinggi tentang persoalan hubungan antara manusia. Oleh karena itu, Nabi Muhammad SAW. diutus oleh Allah SWT. ke muka bumi ini adalah sebagai penyampaian wahyu dan pembawa pesan kenabian sebagai cerminan bagi kehidupan umat manusia yang lebih manusiawi.

Gus Dur menambahkan bahwa perayaan maulid Nabi yang diselenggarakan di berbagai wilayah secara beragam menunjukkan dua hal: cinta adalah bahasa universal dan pluralitas adalah keniscayaan yang harus diterima sebagai sikap tauhid. Namun, pembahasan ini seiring berjalannya waktu semakin mendalam, karena ada sekte lain yang membid'ahkan perayaan maulid Nabi. Mereka memperdebatkan bahwa peringatan maulid Nabi, termasuk membaca barzanji, diba' dan kasidah Burdah adalah sikap berlebihan kepada Nabi. Menurut mereka (kaum Salafiyah atau Wahabiyah), mengangkat derajat Nabi melebihi derajat kenabian dan menjadikannya sekutu bagi Allah SWT. dalam perkara ghaib dengan memohon kepada beliau dan bersumpah atas nama beliau merupakan sikap yang sangat dibencinya. Bahkan termasuk perbuatan syirik. Karena, menurut mereka, memuja Rasulullah SAW. dengan cara seperti itu sama halnya menduakan Allah SWT.

Menanggapi hal tersebut, Gus Dur selalu berkomentar, "boleh saja berbeda pendapat. Perbedaan pendapat itu rahmat, selama disampaikan dengan santun dan argumentatif." Kekuatan logika harus dikedepankan, bukan mengedepankan logika kekuatan. Memang kasus seperti ini merupakan bagian dari kasus far'iyah (cabang) dan tidak ditemukan dalil yang menyerukan atau bahkan melarangnya. Ini bagian dari ranah dzanniyat (hal spekulatif). Pemikirannya bisa juga benar dan bisa juga salah. Oleh karenanya, sikap toleransilah yang hanya bisa mereda perbedaan pendapat seperti itu, sehingga tidak menyulut konflik antara umat Islam.


disadur dari: Ajaran Sang Wali, Pemikiran Gus Dur Dari Tasawuf Hingga Demokrasi, M. Yahya Al-Mustaufi, Jombang, Pustaka Al-Khumul, 2014.
Share:

Kisah Damai Antara Sahabat Ali, Thalhah dan Zubeir Di Balik Dahsyatnya Perang Jamal

Muqaddimah

Seperti tertulis dalam sejarah Islam, bahwa perang jamal terjadi antara pasukan Ummul Mukminin 'A’isyah (istri Nabi), Thalhah bin Ubaidillah dan Zubeir bin Awwam di satu pihak, melawan pasukan Khalifah Ali bin Abi Thalib di pihak lain. Dimana kedua sahabat Nabi ini (Thalhah dan Zubeir) adalah sahabat yang utama, sahabat yang dijamin masuk sorga berdasarkan hadits shahih sekaligus sahabat yang ikut perang Badar yang dosanya sudah diampuni oleh Allah SWT baik dosa yang sudah lewat maupun dosa yang akan datang.

Pasca terbunuhnya khalifah Utsman bin Affan oleh para pemberontak, Ali bin Abi Thalib bai’at sebagai Khalifah ke empat untuk menggantikan Utsman. Ali tahu betul kondisi saat itu, bahwa masa-masa itu adalah masa yang sulit dimana fitnah besar sedang terjadi, pembentorakan hampir dimana-mana dan Ali juga tahu bahwa keluarga Utsman dan pihak yang tidak suka padanya pasti tidak akan tinggal diam.

Damai Di balik Perang Jamal

Perang jamal sungguh terjadi, perang yang dipimpin oleh tiga orang mulia yaitu Istri Nabi ‘A'isyah binti Abu Bakar, Thalhah Bin Ubaidillah dan Zubeir bin Awwam melawan Khalifah Ali bin Abi Thalib dengan maksud menuntut agar khalifah Ali menghukum pembunuh Utsman, meskipun hampir dipastikan bahwa tidak seorang-pun yang tahu tentang siapa sebenarnya pembunuh Utsman bin affan mengingat saat itu kondisi belum ada intelejen, camera dan CCTV seperti sekarang, namun karena suatu ijtihad yang diyakini-lah,  ‘Aisyah, Thalhah dan Zubeir berperang melawan Amirul mukminin Ali bin Abi Thalib yang dikenal dengan perang jamal (Waqi’atul Jamal).

Dalam satu riwayat, di tengah perang jamal yang memakan korban lebih dari 10.000 orang itu sedang berkecamuk, Ali mengutus seseorang untuk menemui kedua sahabatnya, yaitu Thalhah dan Zubeir. Akhirnya ketika malam hari tiba, saat kedua pasukan sedang beristirahat, mereka berdua datang dan bertemulah ketiga sahabat yang dulu pernah hidup bersama Nabi, pernah berperang  bersama Nabi, dan tahu persis turunnya wahyu. Mereka bertiga berpelukan, tak terasa air mata mereka bertiga meleleh. Kenangan-kenangan ketiganya berjuang bersama Rasulullah terbayang begitu indah. Namun kini keadaan terasa  menyakitkan dan menyedihkan. Dulu pedang mereka berbaris se-ayun, langkah mereka sama untuk perang melawan kaum kafir, tangan mereka bergandengan, tapi kini. Mereka harus berhadapan saling menghunus pedang dan seakan harus bermusuhan.

Sesudah Ali menghapus air mata, Ali memegang tangan Thalhah dan menatap dalam lalu berkata: “ingatkah engkau wahai Thalhah, mengapa Allah menurunkan ayat hijab bagi istri-istri Nabi? dan mengapa Allah melarang kita untuk menikahi janda beliau? Bukankah ayat hijab itu turun karena Nabi melihatmu berada bersama ‘Aisyah..? Wahai, Thalhah. Allah melarangmu mengajak wanita muslimah membuka hijab, tapi mengapa engkau sekarang membawa ‘Aisyah ke medan perang?" Mendengar ucapan Ali, Thalhah semakin menangis tersendu-sendu. Lalu Ali berkata lagi “ ingatkah engkau, wahai sahabatku? Bahwa ayat yang melarang untuk menikahi janda-janda Nabi itu juga turun karena niatmu untuk menikahi ‘Aisyah jikalau Nabi wafat?” mendenganr ucapan Ali, Thalhah makin tak kuasa menahan tangis, ia lalu memeluk Ali dan menangis di bahunya. Suasana saat itu betul haru, ketiga sahabat itu saling berpelukan dan menangis. Hal itu membuat mereka sepakat berdamai untuk mengahiri perang.

Namun fakta berkata lain, keesokan harinya tak disangka, dua orang sahabat nabi itu (Thalhah dan Zubeir) sudah dibunuh oleh orang tak dikenal yang tidak setuju dengan perdaiamaian. Dan Ali bin Abi Thalib dengan duka yang sangat dalam, sore itu juga menggali sendiri kuburan untuk kedua sahabatnya itu. disaat penguburan selesai, Ali menggendong putra Thalhah yang masih kecil. Ali berbisik ditelinga anak kecil itu “Nak,  aku sungguh berharap, aku dan ayahmu termasuk orang-orang yang difirmankan Allah dalam surat Al-Hijr ayat 47  'Dan Kami lenyapkan rasa dendam dalam hati mereka, sedang mereka bersaudara duduk berhadap-hadapan  di atas dipandipan (sorga).”

Penutup

Semoga dengan kisah ini, kita bisa menghilangkan dendam, menghapus dosa, melupakan segala yang menyakitkan untuk bersama-sama masuk ke sorganya Allah SWT sambil duduk dan berhadapan di atas dipan-dipan sorga yang indah terbuat dari emas. Amiien.

Sumber Anom, Pamekasan, 20 Juli 20015
H. Taufik
Share:

Monday, July 27, 2015

Pelantikan IKBAS Karangpenang Berjalan Khidmat

Sampang Pasti Aswaja – Sebanyak 191 orang pengurus wilayah Karangpenang Ikatan Keluarga Besar Alumni dan Simpatisan (IKBAS) Pondok Pesantren Miftahul Ulum (PPMU) Panyeppen masa khidmat 2015-2018 dilantik, Senin (27/07/15) di lapangan indoor Jakarta Futsal Karangpenang Oloh, Karangpenang, Sampang, Madura.

Prosesi pelantikan berjalan khidmat, pasalnya para pengurus baru itu dibaiat di hadapan pengasuh Pondok Pesantren Miftahul Ulum Panyeppen, KH. Mudatstsir.

Saat memberikan sambutan, ketua definitif, Bahrowi Kholil, S.Sos.I, menyampaikan bahwa kegiatan melalui organisasi yang dipimpinnya itu merupakan salah satu jalan untuk menjaga hubungan emosional antara guru dan murid, "kegiatan halal bihalal melalui organisasi ini, tidak ada lain hanya untuk terjaganya ikatan bathiniyah antara guru dan murid." Kata pimpinan Yayasan Al-Jazirah Sampang ini.

"Allah, Rasulullah dan ulama-ulama terdahulu mengajarkan kepada kita untuk senantiasa menghormati guru-guru kita." Lanjutnya.

Setelah rangkaian prosesi pelantikan selesai, pembawa acara mempersilahkan KH. Mudatstsir memberikan ceramah agama. Dalam ceramahnya itu, Wakil Rais Syuriah PWNU Jawa Timur ini menyampaikan apresiasi dan harapannya kepada kepengurusan yang baru untuk senantiasa memperjuangkan Islam Aswaja (Ahlus Sunnah wal Jamaah) dan selalu berkhidmat kepada bangsa, agama dan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Berdasarkan daftar hadir, pelantikan sekaligus halal bi halal itu dihadiri oleh 1520 orang peserta, yang terdiri dari alumni dan simpatisan Pondok Pesantren Miftahul Ulum Panyeppen se-Kecamatan Karangpenang.

Pada kegiatan itu, panitia juga mengundang pengurus IKBAS pusat, dihadiri pula oleh jajaran MUSPIKA (Musyawarah Pimpinan Kecamatan) di lingkungan kecamatan Karangpenang, tokoh agama, tokoh masyarakat dan kepala desa se-kecamatan Karangpenang. (ahn)
Share:

Sunday, July 26, 2015

Syaikh al-Syanqithi dan Wahhabi Tuna Netra


Ketika orang-orang Wahhabi memasuki Hijaz dan membantai kaum Muslimin dengan alasan bahwa mereka telah syirik, sebagaimana yang telah dikabarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sabdanya, “Orang-orang Khawarij akan membunuh orang-orang yang beriman dan membiarkan para penyembah berhala.” Mereka juga membunuh seorang ulama terkemuka. 

Mereka menyembelih Syaikh Abdullah al-Zawawi, guru para ulama madzhab al-Syafi’i, sebagaimana layaknya menyembelih kambing. Padahal usia beliau sudah di atas 90 tahun. Mertua Syaikh al-Zawawi yang juga sudah memasuki usia senja juga mereka sembelih.

Kemudian mereka memanggil sisa-sisa ulama yang belum dibunuh untuk diajak berdebat tentang tauhid, Asma Allah subhanahu wa ta‘ala dan sifat-sifat-Nya. Ulama yang setuju dengan pendapat mereka akan dibebaskan. Sedangkan ulama yang membantah pendapat mereka akan dibunuh atau dideportasi dari Hijaz.  

Di antara ulama yang diajak berdebat oleh mereka adalah Syaikh Abdullah al-Syanqithi, salah seorang ulama kharismatik yang dikenal hafal Sirah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sedangkan dari pihak Wahhabi yang mendebatnya, di antaranya seorang ulama mereka yang buta mata dan buta hati. Kebetulan perdebatan berkisar tentang teks-teks al-Qur’an dan hadits yang berkenaan dengan sifat-sifat Allah subhanahu wa ta‘ala. Mereka bersikeras bahwa teks-teks tersebut harus diartikan secara literal dan tekstual, dan tidak boleh diartikan secara kontekstual dan majazi.

Si tuna netra itu juga mengingkari adanya majaz dalam al-Qur’an. Bahkan lebih jauh lagi, ia menafikan majaz dalam bahasa Arab, karena taklid buta kepada pendapat Ibn Taimiyah dan Ibn al-Qayyim. Lalu Syaikh Abdullah al-Syanqithi berkata kepada si tuna netra itu:

“Apabila Anda berpendapat bahwa majaz itu tidak ada dalam al-Qur’an, maka sesungguhnya Allah subhanahu wa ta‘ala telah berfirman dalam al-Qur’an:




‘Dan barangsiapa yang buta di dunia ini, niscaya di akhirat (nanti) ia akan lebih buta (pula) dan lebih tersesat dari jalan (yang benar).’ (QS. al-Isra’ : 72).

Berdasarkan ayat di atas, apakah Anda berpendapat bahwa setiap orang yang tuna netra di dunia, maka di akhirat nanti akan menjadi lebih buta dan lebih tersesat, sesuai dengan pendapat Anda bahwa dalam al-Qur’an tidak ada majaz?”

Mendengar sanggahan Syaikh al-Syanqithi, ulama Wahhabi yang tuna netra itu pun tidak mampu menjawab. Ia hanya berteriak dan memerintahkan anak buahnya agar Syaikh al-Syanqithi dikeluarkan dari majlis perdebatan. Kemudian si tuna netra itu meminta kepada Ibn Saud agar mendeportasi al-Syanqithi dari Hijaz. Akhirnya ia pun dideportasi ke Mesir. Kisah  ini dituturkan oleh al-Hafizh Ahmad al-Ghumari dalam kitabnya, Ju’nat al-’Aththar.


Disadur dari: Buku Pintar Berdebat Dengan Wahhabi, LBM NU Jember, Surabaya, Bina Aswaja, 2010.
Share:

Saturday, July 25, 2015

Lawatan Ulama Aswaja Arab Saudi ke Jawa dan Madura

Surabaya Pasti Aswaja – Sekitar jam 17:00 WIB, Syaikh Dr. Muhammad Ismail  Utsman Al-Zain Al-Makki mendarat di Bandar Udara (Bandara) Internasional  Juanda Surabaya, Jumat (24/0715).

Kehadiran ulama bermadzhab Syafi'iyah ini dalam rangka lawatan sekaligus untuk dakwah dan untuk memperingati haul masyayikh Haramain, Rabu malam, (12/08/15) di Pondok Pesantren Buduran Sidoarjo, Jawa Timur.

"Beliau ke Indonesia dalam rangka rihlah (lawatan. Red.), dakwah dan haul masyayikh haromain tanggal 27 Syawal." Tutur sekretaris pribadinya, KH. Saiful Islam. "Beliau dijadwadkan akan berada di Indonesia selama 26 hari, meliputi Jawa dan Madura." Tambahnya.

Selain itu, menurut salah satu pengurus Khurrijil Haramain (organisasi alumni Haramain), KH. Muddatstsir, Guru Besar Universitas King Abdul Aziz Jeddah ini juga akan menghadiri Pembukaan Muktamar ke-33 Nahdlatul Ulama di Jombang, Sabtu (01/08/15).

"Insya Allah, Syaikh Muhammad juga dijadwalkan akan menghadiri pembukaan Muktamar NU ke-33 di Jombang." Jelas Wakil Rais Syuriah PWNU (Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama) Jawa Timur ini.

Kedatangan putra Syaikh Ismail ini disambut dengan sangat antusias oleh santri-santri beliau yang ada di Indonesia.  Ratusan alumni Haromain (Makkah-Madinah) dan sekitarnya, termasuk alumni Mesir, Yaman, Yordania, dan lainnya turut menjemput ke bandara.

Untuk diketahui, Syeikh Muhammad merupakan putra dari Al-'Alim Al-'Allamah Al-Maghfurlah Syaikh Ismail yang menjadi guru ulama-ulama Nusantara, khususnya ulama-ulama Jawa dan Madura sekitar tahun 80-an di Tanah Suci Makkah.

Nama lengkapnya adalah Asy-Syaikh Dr. Muhammad bin Ismail bin Ismail bin Usman bin Ali bin Salim bin Abdurrahman bin Abi Ghaits bin Ibrahim bin Ismail bin Muhammad az-Zain Al-Makki. Ulama muda ini merupakan salah satu tokoh berpengaruh berhaluan Aswaja (Ahlus Sunnah wal Jamaah) bermadzhab Syafi'i yang ada di Arab Saudi. Setiap harinya, selain menjadi dosen dan Guru Besar dan mengisi kuliah umum di beberapa negara, Syaikh Muhammad juga senantiasa membuka pengajian kitab umum untuk santri-santrinya yang kebanyakan dari Indonesia. (bor/vix)
Share:

Friday, July 24, 2015

Penjelasan KH. Yahya Cholil Staquf Tentang AHWA

Pasti Aswaja – Pemilihan Rais 'Aam Jam'iyah Nahdlatul Ulama (NU) melalui mekanisme Ahlul Halli wal 'Aqdi (AHWA) tidak sepenuhnya diterima oleh beberapa orang NU sendiri. Banyak alasan yang mereka lontarkan berkenaan dengan penolakannya itu.

Melihat fenomena itu Katib Syuriah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH. Yahya Cholik Staquf, angkat bicara melalui akun twitternya, @Staquf.

Berikut kultwit pemilik website www.teronggosong.com ini:
1. Belakangan ini ada suara-suara yang melontarkan isu seolah-olah keputusan untuk menerapkan sistem Ahlul Halli Wal 'Aqdi dalam pemilihan - 
2. kepemimpinan Jam'iyyah Nahdlatul Ulama merupakan akal-akalan yang dilatarbelakangi motif-motif tercela. Dan bahwa Munas Alim Ulama NU ke3 
3. , 14-15 Juni 2015 berlangsung runyam dan penuh rekayasa. Saya harus membuat klarifikasi soal ini, 
4. Saya, Yahya Cholil Staquf, Katib Syuriah PBNU, adalah sekretaris pimpinan sidang dalam Munas tersebut, yang diketuai oleh K.H. Ishomuddin 
5. , salah seorang Rais Syuriah PBNU. Saya bersaksi, tidak ada yang runyam dari Munas itu dari awal sampai akhir. Transkrip sidang terekam 
6. lengkap dan dapat diperiksa siapa pun. Keputusan diambil secara aklamasi setelah perdebatan yang ala kadarnya tapi jujur, 
7. normal dan jernih. Hasilnya adalah penetapan suatu mekanisme bagi pelaksanaan model pemilihan Rais 'Aam melalui "Ahlul Halli Wal 'Aqdi". 
8. Perlu diketahui bahwa diskusi tentang "Ahlul Halli Wal 'Aqdi" ini telah dimulai sejak 2012, ketika tak seorang pun berpikir ttg Muktamar. 
9.  Latar belakangnya adalah keprihatinan tentang realitas proses pemilihan kepemimpinan NU di berbagai tingkatan yg semakin kuat dicampuri 
10. oleh pihak2 diluar NU demi kepentingan2 politik sesaat: calon2 pilkada yg bertarung mendukung calon pimpinan NU dari kubu masing-masing. 
11. Pada waktu itu, PWNU Jawa Timur hendak menerapkan model Ahlul Halli Wal 'Aqdi itu dalam Konferensi Wilayah mereka. 
12. Tapi karena belum ada payung hukum yang memadai, PBNU meminta agar maksud itu ditunda. Selanjutnya, dalam Rapat Pleno PBNU di Wonosobo, 
13. Rais 'Aam K.H. M. A. Sahal Mahfudh rahimahullah memerintahkan agar PBNU segera memproses gagasan tentang Ahlul Halli Wal 'Aqdi itu 
14.  menjadi aturan yang dapat diterapkan dalam pemilihan kepemimpinan di seluruh jajaran kepengurusan NU. 
15. Maka sebuah tim dibentuk, dipimpin oleh K.H. Masdar F. Mas'udi (Rais Syuriah PBNU) dan Drs. Abdul Mun'im DZ (Wakil Sekjen PBNU). 
16. Tim itu segera melaksanakan penelitian dan kajian-kajian hingga dihasilkan suatu naskah akademis yang cukup mendalam, 
17. mencakup landasan nilai-nilai keagamaan, dasar-dasar filosofis, acuan historis hingga pertimbangan-pertimbangan 
18. terkait dinamika sosial-politik mutakhir yang mengharuskan diterapkannya model Ahlul Halli Wal 'Aqdi itu. 
19.  Naskah akademis tersebut kemudian dibahas dalam Munas dan Kombes Nopember 2014. Hasilnya adalah kesepakatan bahwa: 
20. 1. Munas/Kombes menyepakati dan menetapkan digunakannya sistem Ahlul Halli Wal 'Aqdi dan pemilihan kepemimpinan NU, tapi penerapannya 
21. dilaksanakan dengan cara bertahap untuk mengidentifikasi hal-hal yang perlu disempurnakan di masa depan, 
22.  dimulai dengan pemilihan/penetapan Rais 'Aam dan rais-rais syuriah di semua tingkatan, 
23. sedangkan untuk Ketua Umum dan ketua-ketua tanfidziah masih dengan pemilihan langsung; 
24. 2. Munas/Kombes memandati PBNU utk menyusun aturan operasional  untuk dibahas lebih lanjut menjadi produk aturan yang berlaku efektif. 
25.  Maka Munas (Juni) 2015 diselenggarakan sebagai pelaksanaan mandat/perintah Munas/Kombes 2014 tersebut. 
26. Dalam Munas 2015 itu, keberatan-keberatan disampaikan secara terbuka dan lugas, termasuk mempertanyakan motif politik dibalik gagasan 
27. Ahlul Halli Wal 'Aqdi. Keberatan-keberatan itu dijawab dengan lugas dan tandas pula. Maka disepakatilah wawasan bersama yg intinya sbb: 
28. 1. Rais 'Aam adalah jabatan "shohibul maqom", tidak boleh ditempati kecuali oleh orang yang memang telah mencapai maqom yang sesuai. 
29. Didalam maqom itu terkandung kriteria: faqih (memiliki penguasaan yang mendalam atas ilmu-ilmu syari'at), 
30. wara' (terjaga martabat keulamaannya dari akhlak dan haliyah yang tidak pantas, 
31. termasuk keterlibatan yang terlampau vulgar dalam politik praktis) --karena Nahdlatul Ulama bukan sekedar organisasi biasa, 
32. tapi merupakan "qiyaadah diiniyyah", acuan keagamaan bagi warganya--, munadhdhim (mampu memimpin manajemen organisasi), dan muharrik. 
33. 2. Karena kriteria tersebut diatas menyangkut hal-hal yang tidak sepenuhnya kasat mata (misalnya: laa ya'riful 'aalim illahl 'aalim, 
34.  tidak dapat mengukur kealiman seseorang kecuali orang yang alim), maka hanya orang-orang yang memenuhi syarat-syarat tertentu saja 
35. yang bisa memilih dengan benar, yaitu orang-orang yang 'alim/faqih, wara', zuhud, mengerti kebutuhan organisasi 
36. dan sungguh-sungguh memahami ketentuan-ketentuan agama dalam memilih pemimpin. Orang-orang dengan syarat-syarat seperti itulah 
37. yang nantinya akan dipilih untuk menjadi anggota-anggota Ahlul Halli Wal 'Aqdi; 
38.  3. Ahlul Halli Wal 'Aqdi ini akan menyumbat intervensi pihak luar dalam pemilihan kepemimpinan NU karena pemegang wewenangnya adalah 
39. para ulama yang paling matang secara keilmuan dan maqom ruhaniyahnya, yang tak dapat digoda dengan bujukan-bujukan duniawi. 
40. Berdasarkan kriteria diatas, maka menurut saya orang-orang yang pantas menjadi anggota Ahlul Halli Wal 'Aqdi adalah para ulama paripurna 
41. seperti: K. H. Maimun Zubair (Sarang), K. H. Muchith Muzadi (Jember), K. H. Sya'roni Ahmadi (Kudus), K. H. Tholchah Hasan (Malang), 
42. K. H. Ma'ruf Amin (Jakarta), K.H. Sanusi Baco (Makassar), K. H. Tg. Turmudzi Badruddin (Lombok), dan ulama2 lain yg setara dg mereka. 
43. Saya sebagai sekretaris pimpinan sidang (yang hanya mencatat tanpa berpendapat apa pun) menyaksikan proses persidangan sejernih kristal. 
44. Dihadiri oleh para utusan dari 29 PWNU se-Indonesia, tak ada pandangan yang dihalangi atau pun pendapat yang diabaikan. 
45.  Aklamasi diketok tanpa ada interupsi. Bahkan sepanjang persidangan, dari awal sampai akhir, tak satu pun interupsi terlontar. 
46.  Doa penutup diamini dengan khusyuk. Dan saya tidak melihat ada wajah yang tidak cerah saat keluar dari ruang sidang sesudah itu. 
47. Saya sungguh percaya bahwa keputusan Munas tersebut menupakan irsyad yang dapat memperbaiki 
48. kehidupan jam'iyyah Nahdlatul Ulama di masa depan, terutama demi mengukuhkan hakikatnya sebagai qiyaadah diiniyyah, 
49. panutan keagamaan bagi warganya, yang akan memikul tanggung jawab di hadapan hisab Allah Subhaanahu Wa Ta'ala. 
50.  Semoga Gusti Allah Subhaanahu Wa Ta'aala memberikan hidayah bagi Nahdlatul Ulama dan Nahdliyyin. Amin. (ahn)
Share:

Yasmin Bukan Siti Nurbaya

Oleh Ibnu Abdil Barr

Malam itu adalah malam yang paling menyedihkan bagi Yasmin. Betapa tidak, besok dia harus berpisah dengan teman-teman belajarnya di Pesantren yang sangat ia cintai. Pesantren yang mengajarkan kemandirian dan telah memberinya banyak ilmu pengetahuan.

Di pesantren Darul Albab Yasmin adalah salah satu santri dengan segudang prestasi. Tidak hanya berprestasi di bidang akademik, Yasmin juga berprestasi di berbagai kegiatan ekstrakurikuler. Yasmin juga pernah mengharumkan nama pesantren di tingkat internasional dengan meraih juara satu pada lomba kaligrafi arab di Doha, Qatar, waktu dia duduk di kelas satu MA di pesantren itu. Di kelas dua dia juga menjadi juara dua Musabaqah Hifdzil Quran di Mesir. Di kelas tiga Yasmin menjuarai lomba pidato bahasa Inggris tingkat nasional yang diadakan oleh salah satu perguruan tinggi negeri di Jakarta. Maka tidak heran jika setelah ujian nasional dia ditawari beasiswa oleh yayasan Pesantren Darul Albab untuk kuliah di salah satu perguruan tinggi terkenal di ibu kota, tempat dia mengikuti lomba pidato bahasa Inggris, tapi Yasmin menolak dan memilih untuk kuliah di Pesantren saja. Dia memilih kuliah di Darul Albab, karena nuansa religiusnya sangat kental dan tidak bisa didapat di perguruan tinggi lainnya di luar pesantren yang pergaulannya bebas bahkan sangat bebas. Selain alasan itu, Yasmin juga ingin memantapkan hafalan Al-Qurannya. Syukur-syukur bisa hafal dengan tafsirannya.

Tradisi juara bagi Yasmin masih berlanjut sampai dia duduk di bangku kuliah. Pada saat Yasmin masih semester dua, dia menjadi juara satu lomba sastra Arab antar mahasiswa jurusan sastra Arab yang diadakan Kementerian Agama Republik Indonesia. Meskipun prestasi yang diraih Yasmin tidak sedikit, akan tetapi semua prestasi itu seakan tidak berarti lagi baginya. Bahkan gairahpun tidak ada.

Kemarin Pak Burhan dan Ibu Khadijah, orang tua Yasmin, sowan ke Kiai Syafi’i, pengasuh pesantren Darul Albab, untuk menjemput Yasmin boyong dari pesantren. Yasmin dijemput oleh kedua orang tuanya untuk dinikahkan dengan laki-laki pilihan ayahnya setelah tiga tahun dijodohkan tanpa sepengetahuan Yasmin. Laki-laki itu adalah Brian. Brian adalah anak orang kaya raya bernama Pak Anton.

Hayo... Melamun terus.” Nabila, teman akrab Yasmin, mencoba membubarkan kesedihan Yasmin yang sedang menggelayuti wajahnya yang biasa dihiasi senyum.

“Ah, kamu, Bil. Mengagetkan aku saja.” Timpal Yasmin.

“Ada apa sich, Yas, malam-malam kok melamun di taman sendirian? Malam jumat lagi.” “Kemarin ayam-ayam tetanggaku mati semua lho gara gara melamun.” Lanjut Nabila, bercanda.

“Apa hubungannya melamun dengan ayam-ayam yang mati? Kamu ini ada-ada saja, Bil.”

“He. He. Memang tidak ada.” Jawab Nabila sambil tertawa kecil. “Habisnya kamu malam jumat bukannya berkumpul bersama teman-teman, malah melamun.” “Nama kamu Yasmin. Yasmin itu bahasa Arab yang berarti melati. Masak melati mukanya kusut seperti baju yang belum disetrika?”

“Aku sedang sedih, Bil.”

“Sedih kenapa?” Nabila penasaran.

“Kamu tahu kan kemarin orang tuaku sowan ke kiai?”

“Iya, tahu. Terus kenapa kamu harus bersedih?” Nabila semakin penasaran.

Sambil meneteskan air mata, Yasmin menjelaskan kesedihannya juga maksud tujuan orang tuanya sowan ke pengasuh pesantren, termasuk soal perjodohannya dengan Brian.

“Oh, jadi begitu.” Nabila mengangguk-anggukkan kepala. “Ya, sudah kamu jangan bersedih lagi!” Lanjut Nabila sambil memeluk Yasmin. “Kamu kan masih bisa tetap kuliah, jadi kamu masih bisa bertemu dengan aku dan teman-teman di sini.”

“Bukan itu saja, Bil, yang membuat aku sedih.”

“Terus apa dong?” Nabila melepaskan pelukannya.

“Brian itu hanya tamatan SD. Dia juga tidak pernah belajar agama, Bil. Bagaimana dia bisa menjadi imam dalam rumah tangga?”

“Sudah, jangan menangis lagi!” Nabila mengusap air mata Yasmin. “Kalau kamu memang tidak setuju dengan perjodohan yang dilakukan ayah kamu, kamu bisa jelaskan dengan baik-baik, tanpa mengurangi hormat kamu kepada ayah dan ibu kamu.”

“Bagaimana aku harus menjelaskan kepada orang tuaku, Bil?”

“Kamu kan santri. Sedikit-banyak kamu faham agama, jadi kamu jelaskan kalau perjodohan yang dilakukan ayah kamu itu kurang tepat dalam syari’at islam.” Jawab Nabila sambil memegangi kedua pundak Yasmin. “Kamu ingat, tidak? Dulu kita pernah berdiskusi dengan teman-teman tentang pemaksaan perjodohan yang dilakukan oleh orang tua kepada anaknya. Waktu itu kamu pernah mengutip hadits yang diriwayatkan oleh Nasa’i, Ibnu Majah, Daruquthni dan Abdurrazaq. Dalam mengutip hadits itu kamu bercerita tentang seorang gadis yang mengadu pada Ummul Mu’minin, ‘Aisyah, karena dipaksa oleh bapaknya untuk menikah dengan sepupunya sedangkan gadis itu tidak menyukainya...”

“Iya aku ingat sekarang.” Yasmin memotong penjelasan Nabila dengan wajah berbinar-binar. “’Aisyah kemudian mengadukan hal itu kepada Rasulullah dan kemudian Rasulullah memanggil ayah gadis itu dan Rasulullah menjelaskan kalau keputusan sepenuhnya ada di tangan anak gadisnya. Betul, ‘kan?” Yasmin menatap wajah Nabila dengan senyuman mengembang.

Nah, itu kamu ingat.” Jawab Nabila. “Kamu dulu juga mengutip pendapat Al-Habib Abdullah bin Husain bin Thohir bin Muhammad bin Hasyim,pengarang kitab Is’adur Rafiq, yang berpendapat kalau anak yang menolak perjodohan yang dilakukan orang tuanya tidak termasuk...”

’Uququl walidain, ‘kan?” Lagi-lagi Yasmin memotong penjelasan Nabila.

“Hem... Semangat sekali kamu?” Nabila menggoda Yasmin dengan mencolek dagu Yasmin.

“Terimakasih, ya, Bil. Kamu memang temanku yang bisa mengerti keadaanku.” Sambil memeluk Nabila, Yasmin melanjutkan: “kalau seperti itu penjelasannya, orang tuaku pasti bisa menerima pendapatku. Selain masuk akal, penjelasan itu bersumber dari hadits dan pendapat ulama.”

Nabila melepaskan pelukan Yasmin. “Ayo sekarang kita ke kamar. Tidur. Sudah jam sepuluh ‘ni. Nanti jam tiga kita harus bangun dan waktu itu kamu bisa manfaatkan untuk meminta petunjuk dan pertolongan Allah.”

“Ayo.” Timpal Yasmin singkat.
Mereka berdua kemudian beranjak dari taman pesantren menuju ke kamar masing-masing.

*****

Mobil Jazz warna putih, penjemput Yasmin sudah siap di depan balai tamu. Yasmin keluar dari kamarnya menuju orang tuanya yang sudah menunggu di mobil. Yasmin mencium tangan kedua orang tuanya kemudian memasukkan tasnya ke bagasi.

Mobil yang dikemudiakan oleh Pak Mursyid, sopir pribadi Pak Burhan, berangkat bertolak dari pesantren menuju rumah Yasmin. Di tengah laju mobil, Yasmin membuka pembicaraan: “ayah. Ibu, nanti malam ayah dan ibu ada acara, tidak?”

“Sepertinya tidak ada, ya, bu?” tanya Pak Burhan sambil melihat ke belakang ke arah Ibu Khadijah.

“Iya, tidak ada. Memangnya ada apa, Yas? Sepertinya ada sesuatu yang penting.” Ibu Khadijah melihat ke arah Yasmin.

“Ada yang mau Yasmin bicarakan kepada ayah dan ibu.”

“Soal apa?” Pak Burhan penasaran.

“Nanti saja, yah.”

“Ya, sudah.”

*****

Adzan ‘isya’ berkumandang. Yasmin bersama orang tuanya langsung shalat berjamaah. Setelah dzikir dan doa bersama, Yasmin bersalaman dan mencium tangan kedua orang tuanya kemudian melipat mukenah yang ia kenakan dan langsung naik ke lantai dua rumah menuju kamarnya. Di kamarnya Yasmin menyalakan komputer untuk menyapa teman-teman dunia mayanya melalaui jejaring sosial Twitter. Setelah bercengkrama dengan teman-teman Twitter-nya, Yasmin beralih ke Facebook. Yasmin asyik online ditemani alunan merdu lagu pop masa kini sambil membalas teman-teman dunia mayanya yang mengomentari status yang dia update. Saat asyik online, terdengar suara Ibu Khadijah memanggilnya: “Yasmin, turun! Makan malam sudah siap ‘ni.”

“Iya, bu.” Yasmin langsung turun menuju meja makan setelah komputernya di-shut down.

“Wah, ibu masih ingat makanan kesukaan Yasmin.” Yasmin senang melihat ayam rendang dan sayur asam kesukaannya.

“Iya dong. Tidak mungkin ibu lupa makanan kesukaan anak ibu sendiri?”

“Oh, iya. Tadi Yasmin bilang mau bicara sama ayah dan ibu?” Pak Burhan mengingatkan Yasmin.

“Nanti saja, yah, setelah makan.”
Setelah makan, Pak Burhan menuju ruang keluarga sedangkan Yasmin dan Ibu Khadijah membereskan piring-piring.

“Yasmin, kalau sudah beres-beres, ayah tunggu di sini, ya?”

“Iya, yah. Sudah selesai ‘ni.” Yasmin dan Ibu Khadijah menuju Pak Burhan yang sudah menunggu di ruang keluarga. Yasmin langsung duduk dekat Ibu Khadijah.

“Soal apa yang mau Yasmin bicarakan?” Pak Burhan membuka pembicaraan.

“Soal perjodohan Yasmin dengan Brian, yah.”

“Memang kenapa, anakku?” Tanya Ibu Khadijah sambil mengelus-elus kepala Yasmin.

Yasmin menjelaskan ketidak setujuannya dengan perjodohan yang dilakukan oleh orang tuanya dengan alasan yang sudah dia persiapkan dari pesantren dengan Nabila, teman akrabnya.

Setelah mendengar penjelasan Yasmin, sambil menghela nafas panjang Pak Burhan menanggapi: “itulah tujuan ayah dan ibu memondokkan Yasmin di pesantren: supaya Yasmin berpengetahuan luas. Ayah dan ibu ini kan awam dalam bidang agama, jadi ayah dan ibu tidak boleh membiarkan Yasmin seperti ayah ini. Dan kalau memang perjodohan ini kurang tepat dalam pandangan syari’at, ayah dan ibu akan membatalkan perjodohan ini. InsyaAllah, hari minggu ini ayah dan ibu akan ke rumah Pak Anton untuk membicarakan hal ini.”

“Yasmin minta maaf telah merepotkan ayah dan ibu.”

“Seharusnya kita yang minta maaf kepada Yasmin. Bukan Yasmin yang meminta maaf.” Jawab Ibu Khadijah sambil memeluk Yasmin yang duduk di sampingnya.

“Jadi besok Yasmin bisa balik lagi ke pesantren dan melanjutkan kembali kuliah Yasmin di Darul Albab.” Sambung Pak Burhan.

“Terimakasih, Yah, Bu. Ayah dan ibu sudah mengerti keinginan Yasmin.” Yasmin tidak dapat membendung air mata yang memaksa keluar dari bola matanya.

Keesokan harinya Pak Burhan sowan ke Kiai Syafi’i untuk mengembalikan Yasmin ke pesantren dan Kiai Syafi’i dengan senang hati menerima kembail Yasmin untuk menimba ilmu di Darul Albab.

Yasmin merasa senang setelah Pak Burhan mengabarkan kalau Kiai Syafi’i mengijinkannya untuk menimba ilmu kembali di pesantren yang ia cintai. Yasmin juga merasa bangga dengan kedua orang tuanya yang mau mengerti akan keinginannya.
Share:

Thursday, July 23, 2015

Jaga Kerukunan Umat Beragama, Polres Pamekasan Undang Tokoh

Pamekasan – Pasti Aswaja – Konflik yang terjadi di Tolikara, Papua, yang oleh sebagian media diisukan sebagai peristiwa SARA, telah menorehkan luka bagi keberlangsungan kehidupan berbangsa dan bernegara. Tidak mau tragedi di Bumi Cenderawasih itu merembet ke Kota Pamekasan, Polres mengundang tokoh-tokoh yang ada di Kota Gerbang Salam itu, Rabu malam (22/07/15) di ruang rapat Tim Penggerak PKK Kabupaten Pamekasan.

Dalam sambutannya, Kapolres Pamekasan, AKBP. Sugeng Muntaha, SIP, menyampaikan bahwa acara itu digelar guna mengantisipasi peristiwa serupa terjadi di Pamekasan, "tragedi Tolikara itu tidak kita inginkan terjadi di Pamekasan." Kata mantan Analis Muda di Ro SDM Polda Jawa Timur ini.

Kapolres juga meminta supaya masyarakat menunggu hasil investigasi pemerintah, "apapun yang terjadi di sana (Tolikara. Red.), kita harus menunggu hasil investigasi dari pemerintah." Katanya.

Sugeng menambahkan, tragedi seperti di Tolikara hanya akan menjadikan rakyat sebagai korban, "peristiwa Tolikara akan mengganggu stabilitas. Jika daerah tidak stabil, maka ekonomi tidak akan stabil dan lain semacamnya. Yang jadi korban, masyarakat." Imbuhnya.

Tidak jauh berbeda dengan Kapolres, Bupati Pamekasan, Drs. Ach. Syafii, M.Si, meminta masyarakat untuk hati-hati dalam menyikapi kasus di Tolikara, "kita harus berhati-hati dalam menyikapi kasus di Tolikara." Kata Syafii.

"Kasus ini patut kita kaji bersama secara mendalam. Bagaimana bisa kerukunan yang sudah terbina di Tolikara, rusak hanya dalam tempo satu hari?" Tambahnya. "Bisa jadi, di balik itu, ada pihak-pihak luar yang ingin 'memancing di air yang keruh." Kata Bupati, sebelum mengakhiri sambutannya.

Polres sengaja mengundang FORPIMDA (Forum Pimpinan Daerah), FORPIMKA (Forum Pimpinan Kecamatan), para tokoh masyarakat, tokoh agama dan tokoh lintas agama dalam acara itu guna menandatangani surat  kesepakatan bersama untuk bersama-sama menjaga kerukunan antar umat beragama. Selain itu, turut juga diundang pimpinan-pimpinan Ormas.

Ada empat point yang terdapat dalam surat itu: 1. Akan selalu hormat-meghormati antar umat beragama; 2. Mewaspadai dan menolak pihak-pihak yang mengadu domba antar umat beragama dan menjadkan sentimen agama sebagai komoditas politik  yang akan memecah belah antar umat beragama dan persatuan masyarakat Pamekasan; 3. Menghimbau tokoh agama agar mengedepankan kerukunan antar umat beragma; 4. Mengedepankan kerukunan dan gotong-royong untuk mewujudkan keamanan dan ketertiban.

Surat itu ditandangani oleh Bupati Pamekasan, Kapolres Pamekasan, Kepala Pengadilan Negeri Kabupaten Pamekasan, Kepala Kejaksaan Negeri Kabupaten Pamekasan, Ketua DPRD Kabupaten Pamekasan, Dandim 0826 Pamekasan, Ketua MUI (sebagai perwakilan umat Islam), Ketua Forum Musyawarah Ulama (FMU), Ketua Forum Kerukunan Antar Umat Beragama (FKUB), perwakilan umat Katolik, perwakilan umat Protestan, perwakilan umat Tri Dharma. (ahn)
Share:

Wednesday, July 22, 2015

Hikmah Di Balik Husnu Dzan Kepada Allah

Oleh: Moh. Bahrowi Kholil*

Suatu hari Raja bepergian keluar kota bersama Perdana Menteri. Satu musibah menimpa Raja saat ia turun dari kudanya, Raja terpeleset dan kakinya patah. Perdana Menteri terkejut dan bersyukur, "Al-hamdulillah, syukurlah pasti dibalik ini ada hikmah besar akan terjadi." Mendengar Perdana Menterinya mensyukuri musibahnya, Raja marah dan memecatnya, kemudian dijebloskan ke penjara dan Perdana menteri pun bersyukur atas hal itu dan meyakini dibalik itu pastinya ada hikmah yang besar.

Waktu berlalu dan kaki raja telah sembuh, kemudian ia berburu kehutan dan karena saking asyiknya berburu hingga ia masuk ke kawasan kerajaan lain. Iapun ditangkap dan dijebloskan kedalam penjara. Di kerajaan itu setiap tahunnya ada upacara sesembahan pada Dewa Gali dengan menyembelih seorang lelaki paling tampan dan kepalanya di persembahkan pada dewa.

Maka dicari lelaki dengan kriteria terbaik, dan jatuhlah pilihan itu pada tahanan yang berwajah tampan dan berkulit putih, dihadapkan pada ketua suku dan disetujui. Di saat mau dipenggal lehernya, maka ditemukan kekurangan pada kakinya yang bengkok. Maka ditanya, "kenapa kakimu?" Ia menjawab: "Kakiku patah dan bengkok." Maka gagallah ia untuk dijadikan tumbal dan dijebloskan kembali kepenjara.

Selang beberapa hari ia dihadapkan pada hakim dan ditanya dari mana dan apa maksudnya masuk kekerajaan tanpa idzin, maka dijelaskan sebagaimana adanya, kemudian mereka saling memaafkan dan dikembalikan ke istana kerajaannya.

Sesampainya di istana Raja bersyukur sekali dan menjumpai Perdana Menterinya di penjara, dan berkata : "Wahai Perdana Menteri, sekarang kau bebas. Dan ternyata benar apa yang kau ucapkan. Aku bersyukur kakiku patah. Kalau tidak, maka saat ini Aku sudah mati dijadikan tumbal." Perdana Menteri pun menyahut : "Hamba juga begitu, Tuanku. Seandainya Hamba tetap bersama tuan dan tidak tinggal dip enjara ini, tentunya setelah tuan gagal dieksekusi karna patah kaki, pastilah Hamba yang dijadikan sasaran berikutnya."

Maka keduanya sangat bersyukur atas kejadian yang menimpa yang dengan musibah itu ternyata keduanya selamat dari mara bahaya yang lebih besar.



*Ketua Majelis Taujih MPW Karang Penang Ikatan Keluarga Besar Alumni dan Simpatisan Pondok Pesantren Miftahul Ulum (IKBAS PPMU) Panyeppen.
Share:

Home Style

Contact Form

Name

Email *

Message *

Ads

Ads

Latest News

Popular Posts

Blog Archive