Tuesday, July 28, 2015

Antara Gus Dur, Qashidah Burdah dan Maulid Nabi

Suatu saat, ketika Gus Dur berziarah di makam Syeikh Jumadil Kubro, Mojokerto, ia meminta Pak Maman Imadulhaq Faqieh, untuk membaca syair shalawat "ya rabbi bil Musthafa balligh maqashidana waghfir lana maa madla ya wasi'al karami."

Rangkaian bait yang sangat disukai Gus Dur itu adalah qashidah yang disusun oleh seorang pujangga hebat, yakni Imam Syarafuddin Abu Abdillah Muhammad bin Zaid Al-Bushiri (610-695 H./1296 M.). Beliau lahir di Maroko, dan dibesarkan di Bushir, Mesir. Dan beliau seorang murid dari Shufi besar, yakni Syaikh Abil Hasan Al-Syadzili dan penerusnya yang bernama Abul Abbas Al-Mursi (anggota tarekat Syadziliyah).

Kasidah Burdah adalah salah satu karya paling populer dalam khazanah sastra Islam. Isinya adalah sajak-sajak pujian kepada Nabi Muhammad SAW, pesan moral, nilai-nilai spiritual, dan semangat perjuangan. Hingga saat ini tetap populer dan selalu dibaca saat peringatan Maulid Nabi. Buku ini telah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa seperti Persia, Turki, Urdu, Punjabi, Swahili, Pastum, Melayu, Sindi, Inggris, Prancis, Jerman dan Italia.

Setiap kali ada orang yang membaca syair tersebut, bibir Gus Dur secara refleks ikut bergetar, wajahnya cerah berkaca-kaca dan tangannya ikut memukul paha, seakan-akan ada musik yang mengiringi syair tersebut. Kecintaan Gus Dur kepada Rasulullah Muhammad SAW. sangatlah dalam, hingga mendarah daging. Bahkan suatu saat ada salah satu ketua PBNU, Masdar F. Mas'udi yang sering menyebut sang Nabi dengan kata "Muhammad". Gus Dur mengkritiknya. Dan iapun bertanya, "Pak Masdar, Muhammad itu banyak. Kiai-kiai bingung, Muhammad mana yang Anda Maksud? Apa pekerjaannya?" Sebagai bentuk kecintaannya kepada Nabi Muhammad SAW, cerita ini sering ia ungkapkan.

Gus Dur menjelaskan bahwa Qashidah Burdah ini merupakan al-madaih al-nabawiyah (ungkapan hormat dan salut pada Rasulullah SAW) yang dikembangkan oleh para shufi sebagai cara untuk mengungkapkan rasa cinta yang sangat dalam. Kasidah ini terdiri atas 160 bait (sajak), ditulis dengan gaya bahasa yang menarik, lembut dan elegan. Di samping itu juga berisi panduan ringkas mengenai kehidupan Nabi Muhammad SAW, cinta kasih, mengendalikan hawa nafsu, doa, pujian terhadap Al-Quran, Isra' Mi'raj, jihad dan tawassul.

Dengan memaparkan kehidupan Nabi secara puitis, Al-Bushiri bukan saja menanamkan kecintaan umat Islam kepada nabinya. Lebih dari itu, beliau juga mengajarkan sastra, sejarah Islam, dan nilai-nilai moral kepada kaum muslimin. Oleh karena itu, tidaklah mengherankan jika Qashidah Burdah selalu dibaca di pesantren-pesantren salafiyah, dan bahkan diajarkan di pada tiap hari Kamis dan Jumat di Universitas Al-Azhar, Kairo, suatu tempat dimana Gus Dur pernah belajar disana.

Ketika suatu saat ada teman akrab Gus Dur bercerita tentang ekspresi masyarakat di daerahnya akan kecintaan pada Nabi Muhammad SAW. Gus Dur menyimak dengan seksama apa yang sedang diceritakan. Karena ia salah satu sosok pendengar yang setia dan menghargai pendapat orang lain. Sehingga, siapapun yang berbicara di hadapannya, ia selalu menyimak dengan baik.

Begitu juga Gus Dur menjelaskan panjang lebar tentang hikmah kecintaan pada Nabi Muhammad SAW. melalui acara maulid. Menurutnya, keteladanan Rasulullah menjadi nilai tersendiri dalam konteks memperingati kelahirannya. Namun yang lebih penting adalah, sejauh mana nilai-nilai kemanusiaan dan keteladanan tersebut dapat diterjemahkan dalam kehidupan sehari-hari. Pandangan ini mendorong kita untuk melakukan refleksi diri atas realitas kehidupan umat Islam yang semakin bertolak belakang dengan nilai-nilai kemanusiaan dan keadilan sebagai mana yang telah dibawa oleh Rasulullah SAW. itu sendiri.

Gus Dur menambahkan bahwa perlu kiranya, secara seksama untuk menumbuhkan dan memaknai kembali nilai-nilai keutamaan dan keteladanan Rasulullah SAW. dalam konteks kehidupan kita hari ini dan disini, khususnya yang sesuai dengan realitas kehidupan keberagamaan dan kebangsaan yang tengah dilanda multikrisis ini.

Diutusnya Rasulullah SAW. ke muka bumi ini menurut Gus Dur, tidak lain dan tidak bukan hanyalah memberi suri tauladan kepada umat manusia pada umumnya. Bahkan Allah SWT. menegaskan dalam firman-Nya: "sungguh telah ada pada (diri) Rasul itu suri tauladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut nama Allah".

Penegasan ayat ini, secara tersirat telah mengharuskan bawahi tentang kehidupan Rasulullah SAW. ke muka bumi ini hanya untuk menyempurnakan akhlak umat manusia. Nilai-nilai kemanusiaan dan keadilan yang ditanamkan oleh Rasulullah akan menjadi cermin bagi umatnya yang akan datang.

Akan tetapi bagi Gus Dur, menghormati dan mencintai Rasulullah SAW. tidak cukup hanya sebatas merayakan mauludan atau memperingati hari kelahirannya semata, seperti dengan membacakan sifat-sifat dan kepribadian Rasulullah. Karena, hal itu hanya akan menjadi rutinitas tahunan belaka, dan terjebak pada rutinitas dan sakralisasi dari maulid itu sendiri. Hanya disibukkan untuk mempersiapkan!n acara dan kegiatan testimoni yang dilakukan berulang-ulang setiap tahunnya, tanpa menghiraukan dan menghayati inti tujuan mengadakan acara maulud tersebut.

Sedangkan nilai kenabian yang membawa kabar gembira untuk melakukan perubahan di tingkat akar rumput tidak terkuak. Padahal, yang lebih penting dari semua itu ialah, membangkitkan kembali semangat kenabian dalam melakukan transformasi sosial, agar seluruh umat Islam mampu melakukan perubahan yang dapat diawali dari dirinya sendiri masing-masing.

Oleh karena itu, nilai kecintaan yang sejati terhadap Rasulullah SAW, adalah dengan menerjemahkan nilai-nilai kenabian dalam bentuk praktik kehidupan sehari-hari. Sebagaimana gerakan dakwah Rasulullah SAW. yang dimulai dari praktik kehidupan masyarakat sekitarnya, dan baru menyebar ke berbagai wilayah lain.

Sebagaimana upaya yang pertama kali dilakukan oleh Rasulullah SAW. di Madinah dengan melakukan program persaudaraan, yaitu mempersaudarakan antara komunitas pendatang/pengungsi/imigran (Muhajirin) dengan penduduk pribumi (Anshar). Sebagai salah satu pendekatannya adalah dengan cara pernikahan, antara laki-laki Muhajirin dengan perempuan Anshar, begitu juga sebaliknya.

Dalam proses penempatan tinggalnya-pun, Rasulullah tidak menempatkan rombongan Muhajirin pada wilayah tertentu, tetapi semuanya dititipkan secara merata di pemukiman-pemukiman kelompok Anshar. Sehingga terbangun ikatan persaudaraan di antara kediaman, serta menjalin kebersamaan di tengah perbedaan.

Pendekatan seperti ini menurut Gus Dur, telah mampu menumbuhkan ikatan dan komitmen sosial lintas suku di antara mereka, yang mampu mendorong terbangunnya penyatuan masyarakat secara utuh sebagai suatu masyarakat cosmopolitan (ammah).

Pada tahap ini, terbangun pola kebersamaan antara hak dan kewajiban sesama manusia. Karena itu, secara psikologis mental superior dan inferior mulai terkikis. Dan secara sistematis dalam masyarakat ammah seperti ini, tampak adanya pembelaan dan pengakuan terhadap hak-hak keadaannya, pembelaan dan pengakuan terhadap hak-hak kelompok minoritas, yaitu kalangan perempuan dan budak pada waktu itu.

Bahkan, penyebutan terhadap nama kelompok pendatang sebagai Muhajirin, dan masyarakat Yatsrib (sekarang Madinah) sebagai Anshar, adalah bentuk dari pendekatan Rasulullah SAW. untuk menghilangkan ke-ego-an ras dan suku yang dapat menyulut konflik. Akan tetapi, dengan memberi gelar tersebut bahwa Rasulullah SAW, mampu membangun rasa persaudaraan atas dasar nilai-nilai kemanusiaan dan keadilan.

Sebagai pola yang dilakukan oleh Rasulullah SAW, khususnya dalam menyatukan masyarakat yang heterogen menjadi masyarakat yang pluralisme, akan sangat cocok untuk melakukan pendekatan terhadap pola hidup masyarakat yang sangat plural, mulai dari ras, etnis, agama, suku, dan budaya yang sering menjadi sumbu konflik dan ketegangan.

Dalam pola pembentukan negara-bangsa telah menjadi semangat untuk bisa dijadikan pelajaran dalam membangun tata kehidupan yang menjunjung tinggi hak-hak dasar warganya, sebagai kasus Poso, Ambon, Ahmadiyah, aliran kepercayaan, Sampit, Negara Islam, terorisme, dan sebagainya.

Pandangan tersebut di atas, dapat kita lihat bahwa Rasulullah SAW. ingin mengajarkan jauh lebih penting arti nilai-nilai ketakwaan, ketauhidan, keadilan, kemanusiaan, dan pernikahan terhadap lain mustadl'afun (kaum lemah). Karena nilai tersebut dapat dimaknai dalam konteks kehidupan sosial yang lebih nyata (hablun minang nas). Sehingga ajaran Islam sebagai agama rahmatan lil 'alamin (menyayangi seluruh alam semesta) akan me:kunjung tinggi tentang persoalan hubungan antara manusia. Oleh karena itu, Nabi Muhammad SAW. diutus oleh Allah SWT. ke muka bumi ini adalah sebagai penyampaian wahyu dan pembawa pesan kenabian sebagai cerminan bagi kehidupan umat manusia yang lebih manusiawi.

Gus Dur menambahkan bahwa perayaan maulid Nabi yang diselenggarakan di berbagai wilayah secara beragam menunjukkan dua hal: cinta adalah bahasa universal dan pluralitas adalah keniscayaan yang harus diterima sebagai sikap tauhid. Namun, pembahasan ini seiring berjalannya waktu semakin mendalam, karena ada sekte lain yang membid'ahkan perayaan maulid Nabi. Mereka memperdebatkan bahwa peringatan maulid Nabi, termasuk membaca barzanji, diba' dan kasidah Burdah adalah sikap berlebihan kepada Nabi. Menurut mereka (kaum Salafiyah atau Wahabiyah), mengangkat derajat Nabi melebihi derajat kenabian dan menjadikannya sekutu bagi Allah SWT. dalam perkara ghaib dengan memohon kepada beliau dan bersumpah atas nama beliau merupakan sikap yang sangat dibencinya. Bahkan termasuk perbuatan syirik. Karena, menurut mereka, memuja Rasulullah SAW. dengan cara seperti itu sama halnya menduakan Allah SWT.

Menanggapi hal tersebut, Gus Dur selalu berkomentar, "boleh saja berbeda pendapat. Perbedaan pendapat itu rahmat, selama disampaikan dengan santun dan argumentatif." Kekuatan logika harus dikedepankan, bukan mengedepankan logika kekuatan. Memang kasus seperti ini merupakan bagian dari kasus far'iyah (cabang) dan tidak ditemukan dalil yang menyerukan atau bahkan melarangnya. Ini bagian dari ranah dzanniyat (hal spekulatif). Pemikirannya bisa juga benar dan bisa juga salah. Oleh karenanya, sikap toleransilah yang hanya bisa mereda perbedaan pendapat seperti itu, sehingga tidak menyulut konflik antara umat Islam.


disadur dari: Ajaran Sang Wali, Pemikiran Gus Dur Dari Tasawuf Hingga Demokrasi, M. Yahya Al-Mustaufi, Jombang, Pustaka Al-Khumul, 2014.
Share:

0 comments:

Post a Comment

Home Style

Contact Form

Name

Email *

Message *

Ads

Ads

Latest News

Popular Posts

Blog Archive