Category 1

Theme Support

Kisah Damai Antara Sahabat Ali, Thalhah dan Zubeir Di Balik Dahsyatnya Perang Jamal

Muqaddimah

Seperti tertulis dalam sejarah Islam, bahwa perang jamal terjadi antara pasukan Ummul Mukminin 'A’isyah (istri Nabi), Thalhah bin Ubaidillah dan Zubeir bin Awwam di satu pihak, melawan pasukan Khalifah Ali bin Abi Thalib di pihak lain. Dimana kedua sahabat Nabi ini (Thalhah dan Zubeir) adalah sahabat yang utama, sahabat yang dijamin masuk sorga berdasarkan hadits shahih sekaligus sahabat yang ikut perang Badar yang dosanya sudah diampuni oleh Allah SWT baik dosa yang sudah lewat maupun dosa yang akan datang.

Pasca terbunuhnya khalifah Utsman bin Affan oleh para pemberontak, Ali bin Abi Thalib bai’at sebagai Khalifah ke empat untuk menggantikan Utsman. Ali tahu betul kondisi saat itu, bahwa masa-masa itu adalah masa yang sulit dimana fitnah besar sedang terjadi, pembentorakan hampir dimana-mana dan Ali juga tahu bahwa keluarga Utsman dan pihak yang tidak suka padanya pasti tidak akan tinggal diam.

Damai Di balik Perang Jamal

Perang jamal sungguh terjadi, perang yang dipimpin oleh tiga orang mulia yaitu Istri Nabi ‘A'isyah binti Abu Bakar, Thalhah Bin Ubaidillah dan Zubeir bin Awwam melawan Khalifah Ali bin Abi Thalib dengan maksud menuntut agar khalifah Ali menghukum pembunuh Utsman, meskipun hampir dipastikan bahwa tidak seorang-pun yang tahu tentang siapa sebenarnya pembunuh Utsman bin affan mengingat saat itu kondisi belum ada intelejen, camera dan CCTV seperti sekarang, namun karena suatu ijtihad yang diyakini-lah,  ‘Aisyah, Thalhah dan Zubeir berperang melawan Amirul mukminin Ali bin Abi Thalib yang dikenal dengan perang jamal (Waqi’atul Jamal).

Dalam satu riwayat, di tengah perang jamal yang memakan korban lebih dari 10.000 orang itu sedang berkecamuk, Ali mengutus seseorang untuk menemui kedua sahabatnya, yaitu Thalhah dan Zubeir. Akhirnya ketika malam hari tiba, saat kedua pasukan sedang beristirahat, mereka berdua datang dan bertemulah ketiga sahabat yang dulu pernah hidup bersama Nabi, pernah berperang  bersama Nabi, dan tahu persis turunnya wahyu. Mereka bertiga berpelukan, tak terasa air mata mereka bertiga meleleh. Kenangan-kenangan ketiganya berjuang bersama Rasulullah terbayang begitu indah. Namun kini keadaan terasa  menyakitkan dan menyedihkan. Dulu pedang mereka berbaris se-ayun, langkah mereka sama untuk perang melawan kaum kafir, tangan mereka bergandengan, tapi kini. Mereka harus berhadapan saling menghunus pedang dan seakan harus bermusuhan.

Sesudah Ali menghapus air mata, Ali memegang tangan Thalhah dan menatap dalam lalu berkata: “ingatkah engkau wahai Thalhah, mengapa Allah menurunkan ayat hijab bagi istri-istri Nabi? dan mengapa Allah melarang kita untuk menikahi janda beliau? Bukankah ayat hijab itu turun karena Nabi melihatmu berada bersama ‘Aisyah..? Wahai, Thalhah. Allah melarangmu mengajak wanita muslimah membuka hijab, tapi mengapa engkau sekarang membawa ‘Aisyah ke medan perang?" Mendengar ucapan Ali, Thalhah semakin menangis tersendu-sendu. Lalu Ali berkata lagi “ ingatkah engkau, wahai sahabatku? Bahwa ayat yang melarang untuk menikahi janda-janda Nabi itu juga turun karena niatmu untuk menikahi ‘Aisyah jikalau Nabi wafat?” mendenganr ucapan Ali, Thalhah makin tak kuasa menahan tangis, ia lalu memeluk Ali dan menangis di bahunya. Suasana saat itu betul haru, ketiga sahabat itu saling berpelukan dan menangis. Hal itu membuat mereka sepakat berdamai untuk mengahiri perang.

Namun fakta berkata lain, keesokan harinya tak disangka, dua orang sahabat nabi itu (Thalhah dan Zubeir) sudah dibunuh oleh orang tak dikenal yang tidak setuju dengan perdaiamaian. Dan Ali bin Abi Thalib dengan duka yang sangat dalam, sore itu juga menggali sendiri kuburan untuk kedua sahabatnya itu. disaat penguburan selesai, Ali menggendong putra Thalhah yang masih kecil. Ali berbisik ditelinga anak kecil itu “Nak,  aku sungguh berharap, aku dan ayahmu termasuk orang-orang yang difirmankan Allah dalam surat Al-Hijr ayat 47  'Dan Kami lenyapkan rasa dendam dalam hati mereka, sedang mereka bersaudara duduk berhadap-hadapan  di atas dipandipan (sorga).”

Penutup

Semoga dengan kisah ini, kita bisa menghilangkan dendam, menghapus dosa, melupakan segala yang menyakitkan untuk bersama-sama masuk ke sorganya Allah SWT sambil duduk dan berhadapan di atas dipan-dipan sorga yang indah terbuat dari emas. Amiien.

Sumber Anom, Pamekasan, 20 Juli 20015
H. Taufik

0 Response to "Kisah Damai Antara Sahabat Ali, Thalhah dan Zubeir Di Balik Dahsyatnya Perang Jamal"

Post a Comment

wdcfawqafwef