• Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer

Theme Support

Contact Form

Name

Email *

Message *

Latest News

Recent Posts

Popular Posts

Pasti Aswaja's Content

Makna Idul Fitri Menurut Kang Said

 on Thursday, July 16, 2015  


Pasti Aswaja – Berkenaan dengan momen Idul Fitri kali ini, ketua umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama, Prof. Dr. KH. Said Aqil Siraj, MA. atau yang akrab disapa Kang Said, melalui akun twitternya memaparkan tentang hubungan Ramadhan, Idul Fitri dengan akhlak dan nasionalisme ala #IslamNusantara

Berikut kutipan kultwit Guru Besar Bidang Tasawuf ini:

Selamat Hari Raya Idul Fitri 1436 H, mohon maaf lahir & batin. Semoga menjadi momentum untuk kembali pada diri sejati manusia yang suci. 
Idul Fitri telah mengetuk kesadaran kita untuk terus berusaha menjernihkan pikiran, membeningkan hati dan mengokohkan pondasi spiritual. 
Idul Fitri, seharusnya menjadi momentum untuk kembali pada diri sejati manusia yang suci. 
Dgn demikian, Idul Fitri tak sekedar bermakna mengkhatamkan puasa, akan tetapi kristalisasi nilai2 spiritual yg kita jernihkan saat Ramadhan 
Nilai2 spiritual inilah yg akan menjadi penggerak pikiran & penuntun langkah kita utk brbuat baik sebagai manusia, sebagai khalifah fil ardh 
Idul Fitri adalah gerbang bagi kita untuk terus melanjutkan puasa dalam konteks dzahir dan bathin. 
Melanggengkan puasa dlm 11 bulan kemudian dgn tetap menjaga hati, menahan nafsu, menggerakkan pikiran & langkah utk aktualisasi ajaran Islam
Yakni, dengan berbuat baik untuk sesama serta sebanyak mungkin berkarya untuk kemanfaatan publik 
Menjernihkan Hati adl target utama nilai keislaman yg tercermin dlm risalah Muhammad adl penyempurnaan akhlak (liutammima makaarimal akhlaq) 
Bahwa, akhlak menjadi pondasi utama bagi umat muslim untuk berkarya dan beribadah di dunia ini. 
Akhlak menjadi modal penting untuk mencerap pengetahuan dari Allah, yang telah terhampar di dunia ini melalui fenomena2 alam dan kemanusiaan 
Akhlak menjadi pintu gerbang untuk mengokohkan spiritualitas kita. Prinsipnya, muslim yang baik, adalah muslim yang berakhlak baik. 
Addinu khusnul khuluq. Agama itu mengajarkan akhlak yg baik, mentransformasikan nilai spiritual & mental menjadi perilaku yg beradab. 
Dalam istilah bahasa Arab, al-akhlaq adalah bentuk jamak dari al-khuluq, yang berarti budi pekerti atau moralitas. 
Kata al khuluq bersanding dengan al-khalq, yang berarti ciptaan. Antara ciptaan (makhluk) dengan akhlak ada benang merah yang sinergis. 
Artinya, seluruh ciptaan Allah di semesta ini, perlu berpegang teguh pada standar etika masing-masing. 
Mereka yang melampaui batas (mushrifin) akan mendapatkan sanksi negatif berupa kerusakan. 
Di sisi yang lain, al-khalq dan al-khuluq memiliki akar kata yang sama, yakni kha-la-qa. 
Inilah sebenarnya, bahwa manusia sebagai al-khalq harus terus berpegang teguh pada akhlaq atau standar etika yang beradab... 
... untuk menempuh jalan panjang menuju level manusia yang sempurna, sebagai insan kamil. 
Dgn aktualisasi akhlak yg baik untuk beribadah maupun berinteraksi dengan sesama manusia maupun semesta alam, utk mendapatkan Ridla Allah 
Jika direnungkan, berakhlak baik (akhlaq al-karimah) berarti selaras dengan hakikat penciptaan manusia di dunia ini. 
Sebaliknya, berakhlak buruk (akhlaq al-madzmumah) merupakan pintu bagi manusia untuk mempercepat kerusakan dirinya sendiri. 
Karena bergerak di luar rel yang telah ditetapkan oleh Allah, dengan segenap firman dalam al-Qur’an maupun yang diajarkan oleh Nabi Muhammad 
Inilah, hakikat dari penciptaan manusia, yang perlu direnungkan dalam momentum hari raya Idul Fitri kali ini 
Selanjutnya, manusia mempunyai sebuah radar sinyal bernama hati. Melalui hati, manusia akan mampu menentukan arah hidupnya. 
Hati juga menjadi alat pemancar gelombang-gelombang kebaikan maupun menerima sinyal-sinyal yang tepat untuk berbuat baik 
Orang yang baik akan dipertemukan dengan sesama orang baik, karena dilandasi kebaikan dan keikhlasan yang terpancar dari hatinya. 
Sebaliknya, orang yg hatinya sudah keras & rusak akibat sering berbuat dosa, maka tak mampu menangkap suara2 bathin yg didengungkan hatinya 
Inilah pentingnya menjaga hati, menguatkan spiritualitas melalui ibadah, riyadhah maupun amalan-amalan tarekat. 
Hati (qalb) mengandung lima pengertian. Pertama, hati berfungsi sebagai bashirah, yaitu untuk membedakan antara yang baik dan yang buruk. 
Setiap orang memiliki fitrah kemampuan membedakan mana yang baik dan yang buruk.
Kedua, hati berfungsi sebagai dhamir atau moral, yaitu yang memotivasi manusia untuk berbuat kebajikan. 
Ketiga, hati sebagai fuad, yaitu sebagai hakim yang menentukan apakah perbuatannya baik atau buruk. 
Sebagaimana firman Allah dalam al-Qur’an Surah an-Najm 11: hatinya tidak mendustakan apa yang telah dilihatnya 
Keempat, hati sebagai sirr, yaitu penyingkap rahasia. 
Kelima, hati sebagai lathifah, yaitu kelembutan batin yang mampu mengakses langsung Lauh Mahfudz 
Untuk memiliki hati yang lembut dan bersih seperti itu, perlu proses pensucian diri (tazkiyatu an-nafs) secara konsisten 
Apa yang menjadi risalah utama Islam dlm akhlak & kepribadian, telah menjadi strategi utama Wali Songo dan ulama Nusantara dalam berdakwah. 
Dakwah ala ulama Nusantara, tidak meminggirkan nilai-nilai budaya. #IslamNusantara 
Justru, khazanah kulturnya dibungkus & diisi ulang dengan ruh keislaman, dengan dasar tasamuh, tawassuth, tawazun dan konsep-konsep keadilan 
Maka, jelas sekali bahwa #IslamNusantara sudah tepat sebagai referensi pola kegamaan warga muslim dunia. 
Tentunya dengan jalan, terkoneksinya antara semangat keislaman dan nilai-nilai nasionalisme. 
#IslamNusantara merupakan pemikiran yg berlandaskan sejarah Islam masuk ke Indonesia tidak melalui peperangan, tapi kompromi terhadap budaya 
#IslamNusantara tetap tidak membenarkan adanya sebuah tradisi yang bertentangan dengan syariat Islam 
Inilah wajah Islam, sebagai nafas keagamaan di bumi Nusantara, yang menggaransi tegaknya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) 
Pada momentum Idul Fitri ini, sudah seharusnya kita menjernihkan pikiran & jernihkan hati utk melihat kembali fenomena & diskursus ttg Islam 
Jika kita mampu melihat hakikat Ramadhan dan Idul Fitri, kita akan mampu melihat kesungguhan dakwah para Wali. 
Jika kita mampu memahami pola dakwah auliya’, kita akan dapat mengerti apa sebenarnya #IslamNusantara (ahn)

Makna Idul Fitri Menurut Kang Said 4.5 5 Pasti Aswaja Thursday, July 16, 2015 Pasti Aswaja  – Berkenaan dengan momen Idul Fitri kali ini, ketua umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama, Prof. Dr. KH. Said Aqil Siraj, ...


No comments:

Post a Comment

Pasti Aswaja. Powered by Blogger.
J-Theme