• Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer

Theme Support

Contact Form

Name

Email *

Message *

Latest News

Recent Posts

Popular Posts

Pasti Aswaja's Content

Membangun Madura IDAMAN

 on Saturday, July 18, 2015  

Oleh: RKH. Muhammad Muddatstsir Badruddin*

Kita pada saat akhir-akhir ini berada di dalam keadaan lingkungan yang mengarah kepada degradasi (kerusakan) moral, lemahnya etos kerja, dan malas belajar. Hal itu dikarenakan –di antaranya– murah dan mudahnya media elektronik: TV, hand phone, internet dan sebagainya. Semua itu merusak pembelajaran dan pendidikan, mutu keilmuan sangat menurun sehingga terjadilah jual-beli ijazah untuk dapat bekerja tanpa menguasai pengetahuan, pengalaman dan wawasan yang memadai. Terjadi pula jual-beli jabatan yang mengakibatkan korupsi dan sangat rendahnya kualitas kerja pelayanan publik. Hal ini memberi peluang bagi banyaknya tenaga ahli dan pemodal dari luar. Sementara kita menjadi penonton. Kekayaan alam kita dikuras bukan untuk kita atau negeri kita, melainkan oleh dan untuk orang luar. Sanak keturunan kita diwarisi hutang turun-menurun. Inilah kenyataan yang terjadi. Dan salah siapa yang demikian itu? Jawabnya ada pada kita semua.

Masing-masing kita bertanggung jawab untuk negeri dan generasi mendatang. Oleh karenanya, harus dirubah cara dan pola berfikir dan berperilaku agar dapat tercetak kader-kader yang tangguh, penuh semangat, penuh amanah, penuh kreasi dan wawasan serta penuh dengan budi luhur (al-akhlaqul karimah). Dalam mana pengkaderan tersebut harus dimulai dari lingkungan rumah tangga serta lingkungan umum yang jernih, bersih serta mendidik. Peribahasa Arab menyebutkan "pemuda-pemuda hari ini adalah pemimpin di masa mendatang".

Tergantung kepada kita semua, para pemimpin: mulai dari pemimpin negara hingga pemimpin rumah tangga. Untuk menciptakan lingkungan yang kondusif, ulama dan umara harus baik, kompak dan bersatu di dalam menciptakan generasi yang "sebaik-baik manusia adalah yang paling banyak manfaatnya bagi orang lain", yang di dalam dirinya tertanam iman dan taqwa dan penuh semangat. Sehingga tercapai cita negara yang adil dan makmur yang diridhai oleh Alloh SWT. yang juga disebut baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur.

Untuk tidak terjadinya ketimpangan kehidupan, baik di dunia maupun di akhirat sangat diperlukan keseimbangan pendidikan dan keilmuan tentang keduniaan dan keakhiratan. Pengertian seimbang dalam hal ini lebih ditekankan pada keakhiratan sesuai dengan tuntunan Alloh SWT.

"dan upayakanlah pada apa yang Alloh berikan kepadamu untuk kepentingan kesejahteraan hidup di rumah akhirat dan jangan lupa akan nasibmu (bagianmu) di dunia. Dan berbuat baiklah kepada orang dan makhluk lain sebagaimana Alloh telah memberi kebaikan kepada kamu. Dan janganlah kamu melakukan kerusakan atau kerusakan di muka bumi. Sesungguhnya Alloh tidak senang kepada orang yang berbuat kerusakan." (QS. Al-Qashsh: 77)

Hadits Rasulullah SAW. yang artinya, berbuatlah untuk kehidupan duniamu seakan engkau akan hidup selamanya [tidak perlu terburu-buru atau khawatir tidak kebagian] dan berbuatlah untuk akhiratmu seakan engkau akan mati besok [harus memperbanyak amal ibadah dan perbuatan baik].

Kecukupan duniawi dengan segala kelebihannya tidak menjamin untuk hidup sejahtera, karena di luar kemampuan dunia dan kemampuan pribadi, bahkan di luar alam semesta ada kekuasaan luar biasa yang tidak dapat kita lihat. Tapi, kita dapat melihat dan merasakan bukti kenyataan-Nya, antara lain di dalam diri kita masing-masing. Ada satu unsur yang tidak dapat dilihat dan tidak dapat diraba, seakan-akan tidak penting dan tidak bermakna, tapi kenyataannya bila unsur itu musnah, maka musnahlah kehidupan diri kita, yaitu nyawa.

Di luar itu, terdapat alam semesta yang kita dapat mengambil manfaat untuk hidup dan kepentingan lainnya. Tapi, kenyataanya kita tidak dapat menguasai sepenuhnya, dan terbukti bahwa alam yang amat besar manfaatnya itu tidak pula memiliki kekuasaan apa-apa. Bila terjadi gempa dahsyat, tsunami semuanya musnah. Bila terjadi tanah longsor akibat hujan yang turun terus-menerus rumah-rumah menjadi hanyut dan ambruk. Kita tidak berdaya dan tidak dapat menguasai sepenuhnya, padahal alam itu sendiri adalah benda mati yang tidak punya akal fikiran dan tidak punya kodrat apa-apa. Maka satu-satunya yang mengendalikan itu semua hanyalah Alloh SWT. Yang Maha Esa dan Maha Kuasa. Firman Alloh SWT. dalam Al-Quran:

"Akan Kami perlihatkan akan tanda-tanda kekuasaan Kami di seluruh penjuru alam semesta dan pada diri mereka supaya jelas dan nyata bahwa Dia adalah yang Haq." (QS. Fushshilat: 53)

Oleh karenanya, kita harus kembali beriman dan bertaqwa sepenuhnya kepada Alloh SWT., patuh, taat dan tawakkal lahir-batin. Dan dengan sendirinya akan menjelma budi luhur yang berimbas pada terciptanya lingkungan yang bersih, bagus, dan mendatangkan rahmat serta ridha Alloh SWT. dan kesejahteraan, keadilan dan kemakmuran, karena taqwa itu sendiri merupakan jaminan Alloh untuk mendatangkan kesejahteraan. Firman Alloh dalam Al-Quran:

"Dan barang siapa bertaqwa kepada Alloh, (pasti) Alloh memberikan jalan keluar (dari segala kesulitan) dan Alloh memberinya rezeki dari arah yang tidak diduga. Dan barang siapa bertawakal kepada Alloh, maka Alloh akan mencukupi keperluannya." (QS. At-Thalaq: 2-3)

Apabila tidak, maka setiap saat dapat murka Alloh berupa mala petaka, bermacam musibah, kesulitan dan beraneka bentujngan sebagai akibat perbuatan fasiq (melanggar hukum Alloh). Firman Alloh SWT:

"Dan jika Kami berkehendak membinasakan suatu negeri, maka Kami memerintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu (supaya mentaati Alloh), tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam negeri itu, maka sudah sepantasnya berlaku terhadapnya perkataan (ketentuan Kami) , kamudian kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya." (QS. Al-Isra': 16)

Tidak ada artinya kesejahteraan dan kemakmuran, jika dimurkai Alloh. Tidak dilarang melakukan eksplorasi dan eksploitasi kekayaan alam semesta atau dengan kata lain melakukan urusan-urusan duniawi, tetapi tentu harus selalu mengikuti tuntunan-tuntunan Alloh.

Karena di Madura pasca Suramadu akan terjadi pembangunan besar-besaran, maka semua elemen harus berpedoman pada ketentuan-ketentuan Alloh tersebut. Untuk lebih mempermudah, kita rumuskan dalam kata IDAMAN yaitu: Islami, Indonesiawi dan Manusiawi.

Yang banyak mengetahui tentang aturan-aturan Alloh adalah ulama. Sedangkan yang banyak mengetahui teknologi pembangunan adalah birokrasi dan para teknokrat, maka keduanya (ditambah dengan) tokoh-tokoh dan cendikiawan lainnya, termasuk para kader santri dan mahasiswa dengan segala kelompok yang ada di dalamnya harus baik dan sinergi. Jika tidak, maka masyarakat menjadi hambar dan bingung untuk menentukan mana yang benar, mana yang harus diikuti sehingga pembangunan terhambat.

Demikian juga jika elemen tersebut berjalan sendiri-sendiri dan bergerak masing-masing dapat menimbulkan kecemburuan-kecemburuan dan akhirnya gejolak sosial dan Madura akan amburaul.

Tuntunan Rasulullah SAW. dalam sabdanya, "dua kelompok besar dari umatku apabila keduanya baik, maka baiklah umat semuanya. Dan apabila keduanya rusak, maka rusaklah umat semuanya: yaitu ulama dan umara."

Alangkah indah dan bahagianya jika terbentuk badan kerja sama ataupun majelis bersama atau apapun namanya itu untuk persatuan dan kebersamaan ulama, umara, cendikiawan, teknokrat dan tokoh-tokoh se-Madura.

Mereka setiap dua bulan, misalnya, bertemu dan bermusyawarah. Bila perlu mengadakan pertemuan khusus di luar jadwal untuk memecahkan persoalan bersama, yaitu persoalan Madura dan warganya dengan cara kekeluargaan dan harmonis.

Investor seperti apa yang boleh masuk Madura, wisata seperti apa yang bisa masuk ke Madura, realestate seperti apa yang bagus dan tidak merubah kultur-kultur dan local wisdom Madura yang Islami dan tergolong unik, sehingga pembangunan betul-betul membawa kesejahteraan dan tidak akan timbul kecemburuan dan gejolak sosial.


*RKH. Muhammad Muddatstsir Badruddin: Pengasuh Pondok Pesantren Miftahul Ulum Panyeppen Pamekasan, Wakil Rais Syuriah PWNU Jatim, Penasehat ICMI Orsat Pesantren Pamekasan, Pembina Pasti Aswaja.

Membangun Madura IDAMAN 4.5 5 Pasti Aswaja Saturday, July 18, 2015 Oleh: RKH. Muhammad Muddatstsir Badruddin* Kita pada saat akhir-akhir ini berada di dalam keadaan lingkungan yang mengarah kepada de...


No comments:

Post a Comment

Pasti Aswaja. Powered by Blogger.
J-Theme