Thursday, July 16, 2015

Meninggalkan Ramadahan Menuju Kemenangan Idul Fitri

Oleh : H. Taufik*

Abstrak

Saat mendekati hari raya idul fitri, sering kita mendengar ucapan “meraih kemanangan” atau “mari kita raih kemenangan” atau “kita rebut kemenangan”. Lantas apa yang dimaksud kemenangan, dan apakah kita yakin bisa meninggalkan ramadhan dengan laba yang baik dan bisakah kita menuju idul fitri dengan kemangan yang betul-betul kemenangan..?

Renungan 

Dalam sebuah riwayat, pada hari raya idul fitri, Nabi Muhammad SAW keluar dari rumah untuk melakukan solat idul fitri, dalam perjalanan, beliau melihat beberapa anak kecil bermain gembira sembari memakai baju baru, namun diantara mereka ada seorang anak yang duduk diam dan terlihat sedih, muram dalam keadaan lapar sambil menangis. Kemudian nabi bertanya, apa  yang membuatmu menangis wahai anak kecil..? anak kecil itu menjawab, “ayahku wafat dalam salah satu peperangan bersama Rasulullah, sedang ibuku kawin lagi dengan laki-laki lain, meraka mengambil hartaku, menempati rumahku, maka jadilah aku seperti yang engkau lihat, yaitu sedih, gak punya baju, lapar dan menangis” dan anak kecil itu tidak tahu bahwa yang bericara itu adalah Rasulullah SAW. 

Lalu nabi bersabda: maukah kau jika aku mejadi ayahmu...? Aisyah menjadi ibumu..? Ali menjadi pamanmu..? fatimah menjadi saudaramu....? Hasan dan Husen menjadi saudara-saudara bagimu..? Lantas anak itu menjawa: Ya Rasulallah,, bagaimana aku tidak ridlo... aku ridlo wahai Rasulallah... kemudian Rasul mengajak anak itu kerumah beliau lalu diberi makan, diberi pakaian yang serba baru maka anak itu bermain dengan teman sebayanya dengan penuh  cadan tawa. 

Lalu anak-anak yang lain bertanya, apa yang membuatmu tertawa dan memaki baju baru, padahal tadi kami melihatmu sedih, lapar dan menangis. “iya betul, tadi aku lapar tapi sekarang kenyang, tadi aku tidak punya baju baru, sekarang aku punya baju baru, tadi aku tidak punya keluarga dan tidak punya siapa-siapa, sekarang Rasulullah menjadi ayahku, Aisyah menjadi ibuku, Fatimah menjadi saudara ku, Ali menjadi paman ku, Hasan Husen menjadi saudara-saudara ku. “jawabnya”. Lalu anak-anak kecil itu menjawab, alangkah senangnya engkau, andaikan ayahku dulu wafat dalam salah satu peperangan bersama Rasulullah. (Al-Hadis)

Sementara dalam riwayat lain disebutkan, bahwa suatu ketika  Rasulullah SAW hendak melaksanakan Khutbah solat jum’at (dalam riwayat lainkhutbah hari raya), ketika beliau sudah menaiki tangga pertama untuk menuju tempat khutbah, tiba-tiba beliau berkata “Amin”. Kemudian beliau naik ke tangga ke dua dan berkata “Amin”, naik tangga ketiga berata “Amin”. Setelah melakukan solat, ada salah satu sahabat yang bertanya. Wahai Rasulallah...? tadi ketika engaku menaiki tangga, kami mendengar kalimat “Amin” kira-kira ada apa wahai Rasulallah..?

Nabi Menjawab “ disaat Amin pertama, ada malikat jibril disampingku dan berkata: “Wahai Muhammad, seandainya ada orang mendengar namamu dan dia tidak membaca solawat, bagaimana jika orang itu didoakan jauh dari sorga? Maka aku menjawan “ Amin”. Untuk Amin kedua, Jibril berkata: Muhammad, seandainya ada orang yang tidak berbakti pada kedua orang tuanya, sedang orang tuanya masih hidup, bagaimana jika dia didoakan agar jauh dari sorga, aku pun menjawab “Amin”. Lalu jibril berkata lagi. Muhammad, seandainya ada orang hidup mendapati bulan ramadhan sebulan penuh, akan tetapi setelah bulan ramadhan dosa orang itu sama sekali tidak berkurang dan amal baiknya tidak bertambah, bagaimana seandainya orang ini juga di doakan agar jauh dari sorga, maka aku menjawab “Amin” (Al-Hadis)

Saudara ku, dari beberapa ungkapan yang sering terdengar ditelinga kita, bahwa kemenangan sejati adalah kemenangan bagi seorang muslim yang puasanya utuh satu bulan penuh sekaligus solat tarawihnya juga penuh. Ada juga ungkapan bahwa kemenangan hanya milik orang-orang yang puasanya penuh, tarawihnya penuh dan bisa menghatamkan qur’an hingga beberapa kali hataman. Sering juga kita dengar cerita fakta guru-guru kita, dari orang-orang saleh yang dalam bulan ramadhan ini ada yang hatam enam kali, ada yang delapan kali, ada yang sepuluh kali bahkan ada seorang kyai yang dalam ramadhan kali ini bisa menghatamkan qur’an dalam sehari semalam, itu artinya selama satu bulan ramadhan beliau bisa menghatamkan 30 kali. Masyaallah... lantas kita mampu menghatamkan berapa kali...?

Ada juga ungkapan bahwa kemenangan bisa diraih dengan menahan gejolak nafsu duniawi yang penuh syahwat kebinatangan dan kehewanan, mampu menahan amarah, dendam, benci, dengki, hasud, iri dan penyakit-penyakit hati lainnya yang bisa menciderai kemurnian ibadah puasa dibulan ramadhan yang mulia ini, hingga buah dari kemenangan itu akan terlihat pada hari-hari setelah ramadhan yang berwujud sikap terpuji dalam kehidupan sehari-hari.

Penutup

Dari tulisan singkat di atas, kita bisa interospeksi bisakah kita meninggalkan ramadhan dengan terhapusnya dosa serta bertambahnya amal ibadah..? lantas bisakah kita dihari idul fitri berbagi kebahagiaan bersama anak yatim dan kaum dlu’afa’..? mudah-mudahan dihari idul fitri nanti kita semua dan umat Islam umumnya bisa menemukan kemenangan hakiki. Amien 

* Pengasuh Pondok Pesantren Sumber Anom, Angsanah, Palengaan, Pamekasan, Madura.
Share:

0 comments:

Post a Comment

Home Style

Contact Form

Name

Email *

Message *

Ads

Ads

Latest News

Popular Posts

Blog Archive