• Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer

Theme Support

Contact Form

Name

Email *

Message *

Latest News

Recent Posts

Popular Posts

Pasti Aswaja's Content

Pondok Pesantren Panyepen Kirim Dai Ke Pelosok Nusantara Untuk Dakwahkan Islam Ahlus Sunnah wal Jamaah

 on Tuesday, July 7, 2015  

SEBELUM beranjak ke Sumenep, saya menyempatkan acabis ke Pondok Pesantren (PP) Miftahul Ulum Panyepen di Desa Potoan Laok, Kecamatan Palengaan, Pamekasan. Pengasuh PP Miftahul Ulum Panyepen RKH Mudatstsir Badruddin tidak bisa ditemui karena ada kegiatan dakwah di luar Madura.

Dai Pon.Pes. Miftahul Ulum Panyepen yang diutus ke Batam
Mengikuti saran keluarga pengasuh, saya menemui Ketua Yayasan Al-Miftah PP Miftahul Ulum Panyepen KH Muhdlar Abdullah. Kediamannya berada di Kota Pamekasan. Kiai yang juga menjabat Ketua Sekolah Tinggi Ilmu Dakwah dan Komunikasi Islam Alhamidi Banyuanyar ini paham betul dengan rubrik Acabis karena memang berlangganan Jawa Pos Radar Madura.

Kiai alumnus PP Sidogiri ini mulai memaparkan tentang PP Miftahul Ulum. Dia menyampaikan, PP Miftahul Ulum tetap mempertahankan kepeloporannya dalam misi penyebaran agama Islam ala thatiqati Ahlis Sunnah wal Jamaah. Hingga saat ini PP Miftahul Ulum terus mengutus santrinya untuk menjadi pendakwah atau dai ke pelosok desa di Indonesia. Jumlahnya tak sedikit, ada sekitar 50 hingga 70 santri yang diutus menjadi dai setiap tahunnya.

Program pengiriman santri menjadi dai ke pelosok desa sudah berlangsung cukup lama. Bahkan, ada santri yang pernah terkena imbas konflik Sampit saat berdakwah di Kalimantan. Beruntung santri PP Miftahul Ulum tersebut bisa selamat, hanya pondok dan asrama yang dirusak dan dibakar.

Santri yang menjadi dai merupakan orang pilihan karena sudah lulus seleksi dari PP Miftahul Ulum Panyepen. Mereka dipilih dari ratusan santri yang sudah menyelesaikan pengabdian menjadi guru tugas. PP Miftahul Ulum memang mengirimkan santri menjadi guru tugas ke lembaga-lembaga yang membutuhkan.

Ada 250 hingga 300 santri yang setiap tahunnya menjadi guru tugas. Mereka merupakan santri yang sudah dinyatakan tamat dari jenjang pendidikan madrasah aliyah atau SMA. Sebelum menjalani masa tugas selama satu tahun, terlebih dahulu santri dibina dan dilatih untuk mendapatkan bekal saat terjun ke masyarakat.

Baru setelah selesai menjadi guru tugas, santri akan diseleksi untuk menjadi dai. Santri yang terpilih tentu yang berprestasi semasa menjalani guru tugas. Santri juga dibekali kemampuan berkomunikasi yang bagus dengan masyarakat luas. Tidak hanya itu, santri diharuskan memiliki mental kuat dan tahan banting. Yang lebih penting lagi, santri yang diutus menjadi dai memiliki pemahaman ilmu agama yang mumpuni.

Alasan PP Miftahul Ulum mengirim santrinya menjadi dai karena pesantren ini memiliki prinsip untuk selalu menyebarkan dan memperjuangkan syiar Islam kepada masyarakat luas. Tidak hanya di Madura, tapi di seluruh pedalaman dan pelosok desa di Indonesia.

Bagaimana dengan biaya dan kebutuhan santri saat berdakwah? KH Muhdlar Abdullah menegaskan, biayanya ditanggung Yayasan Miftahul Ulum. Tapi tidak secara keseluruhan, yaitu hanya ongkos berangkatnya dan bekal menuju tempat dakwah. Biasanya setelah tiba di tempat dakwah, santri tidak kekurangan apa pun karena masyarakat setempat yang menanggungnya, termasuk saat hendak pulang nanti.

Pengiriman santri untuk berdakwah itu sesuai dengan permintaan masyarakat. Ada juga yang memang diutus langsung dari pesantren ke suatu tempat. Pernah ada santri yang dikirim ke Kalimantan untuk berdakwah. Santri tersebut kemudian dipercaya oleh masyarakat sehingga diberi tanah untuk mendirikan pondok pesantren. Hingga kini, santri yang awalnya ditugaskan menjadi dai itu sudah menjadi pengasuh setelah mendirikan pesantren dan hidup bersama keluarganya di Kalimantan.

Selain menjadi dai, santri selama di PP Miftahul Ulum Panyepen akan dicetak sebagai insan yang beriman dan bertakwa (imtak) serta menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek). Pesantren ini tidak memisahkan antara ilmu agama dengan pengetahuan umum. Santri sama-sama diajari ilmu umum dan llmu agama serta dibina supaya menjadi pribadi yang berakhlak mulia.

PP Miftahul Ulum Panyepen menggalakkan sistem terpadu atau sama-sama menyajikan pendidikan nonformal dan formal. Untuk nonformal, yang diajarkan semuanya adalah ilmu agama dan tata krama. Di antaranya kajian kitab kuning, Alquran, diniyah ibtidaiyah, diniyah tsanawiyah, dan diniyah aliyah, serta pendidikan lainnya.

Sementara untuk pendidikan formal ada PAUD, MI, SD, MTs, SMP, MA, SMA, dan SMK. Selain pendikan dasar hingga pendidikan menengah atas, juga ada perguruan tinggi, yakni Sekolah Tinggi Agama Islam Miftahul Ulum (STAIMU).

Tak hanya pendidikan formal dan nonformal yang diberikan kepada santri, keterampilan kerja juga diajarkan, seperti kursus menjahit, perbengkelan, elektronik, pertukangan, pertanian, dan lain sebagainya. Pelatihan keterampilan ini sebagai bekal bagi santri saat lulus nanti bisa bermanfaat di tengah-tengah masyarakat.

Kini jumlah santri di PP Miftahul Ulum Panyepen mencapai 2.000 orang, baik putra maupun putri. Jumlah tersebut hanya santri yang menetap di asrama, karena memang ada warga sekitar yang tidak mondok. ”Kami mempertahankan hal lama yang baik dan mengambil hal baru yang lebih baik,” kata KH Muhdlar Abdullah di kediamannya.

Dulu, lanjut KH Muhdlar Abdullah, pada 1972 PP Miftahul Ulum Panyepen menjadi pembicaraan dan gunjingan banyak pesantren karena mengajarkan ilmu umum kepada santri. Apalagi, saat itu tidak ada pesantren yang mengajarkan ilmu umum kepada santrinya. Namun dengan tekad yang kuat, pesantren ini tidak menggubris cibiran dari berbagai pihak itu.

Nyatanya, kata KH Muhdlar Abdullah, saat ini konsep PP Miftahul Ulum sudah banyak diterapkan di pesantren lain. Pengetahuan umum saat ini juga diajarkan di banyak pesantren. Langkah yang cukup berani itu karena pemikiran Pengasuh PP Miftahul Ulum Panyepen RKH Mudatstsir Badruddin memang jauh ke depan.

Punya Belasan Cabang Se-Indonesia

PP Miftahul Ulum Panyepen dirintis dan didirikan oleh RKH Nashrudin bin Itsbat pada 1827 silam. Kiai karismatik ini tidak hanya mendirikan pesantren di Kampung Panyepen, Desa Potoan Laok, Kecamatan Palengaan, Pamekasan, tapi juga di daerah lainnya. Beliau memimpin PP Miftahul Ulum Panyepen selama 82 tahun dari 1827 hingga 1909.

Pesantren yang pernah didirikan RKH Nashrudin bin Itsbat di antaranya PP Banyu Ayu, PP Sumber Arasy, PP Miftahul Ulum Bettet di kota Pamekasan, dan PP Banyu Putih Kidul Lumajang. RKH Nashrudin wafat di usianya yang ke 123 pada 1951.

Setelah RKH Nashrudin bin Itsbat wafat, PP Miftahul Ulum Panyepen diasuh oleh salah seorang putranya yang bernama RKH Shirojuddin. Namun, RKH Shirojuddin menjadi pengasuh hanya lebih kurang 3 tahun dari 1909 sampai 1912. Sebab, RKH Shirojuddin hijrah ke Pamekasan untuk menjadi pengasuh di PP Miftahul Ulum Bettet.

Sementara PP Miftahul Ulum Panyepen dilanjutkan oleh putra RKH Nashrudin yang lain, yakni RKH Badruddin. RKH Badruddin memimpin PP Miftahul Ulum Panyepen selama 45 tahun dari 1912 hingga 1957.  Pada 1958, RKH Badruddin dibantu putra keduanya bernama RKH Moh. Shaleh.

Menjelang wafatnya RKH Badruddin pada 1964, kepemimpinan PP Miftahul Ulum Panyepen diserahkan kepada salah seorang menantunya yang bernama RKH Asy’ari Bashiruddin. RKH Asy’ari memimpin PP Miftahul Ulum selama 14 tahun dari 1957 hingga 1971. Karena memang saat itu putra RKH Badruddin yaitu RKH Mudatstsir Badruddin sedang mondok di PP Sidogiri Pasuruan.

Setelah menyelesaikan studinya, PP Miftahul Ulum kemudian diasuh oleh RKH Mudatstsir Badruddin. Kiai yang juga menjabat sebagai Wakil Rais Syuriah PWNU Jawa Timur ini memimpin PP Miftahul Ulum Panyepen sejak 1971 sampai sekarang. PP Miftahul Ulum Panyepen kini banyak kemajuan dan berkembang pesat. Pondok ini menyajikan sistem pendidikan yang lengkap, baik fisik maupun nonfisik, sehingga tak heran sarana dan prasarana pendikan formal dan nonformal lengkap, termasuk perguruan tinggi.

PP Miftahul Ulum saat ini sudah memiliki belasan cabang yang tersebar di Indonesia. Di antaranya di Batam, Padang, Kalimantan Timur, Sampit, Pangkalan Bun, Palangkaraya, Jambi, dan Manado. Selain itu juga ada di Mamuju, Jakarta, Surabaya, Jember, Bondowoso, Situbondo, Probolinggo, dan Sampang. Semua cabang tersebut namanya PP Miftahul Ulum diikuti dengan nama daerah di belakangnya.

Sistem pendidikan dan manajemen di pesantren cabang mengikuti di PP Miftahul Ulum Panyepen, karena memang pesantren ini menjadi pusat dari semua cabang yang ada. Setiap tahun santri yang menjadi guru tugas juga diutus mengajar ke pesantren-pesantren cabang.

Dari kiri: RKH. Muhammad Muddatstsir Badruddin, Prof. Dr. Moh. Mahfud MD, SH, SU, KH. Miftahul Akhyar saat menjadi pembicara dalam salahsatu kegiatan IKBAS PPMU Panyeppen.

Dalam meningkatkan misi dakwah, PP Miftahul Ulum Panyepen juga melibatkan alumni. Namanya IKBAS PPMU Panueppen, singkatan dari Ikatan Keluarga Besar Alumni dan Simpatisan Pondok Pesantren Miftahul Ulum Panyeppen. Kegiatan utama IKBAS PPMU Panyeppen sama dengan misi utama PP Miftahul Ulum, yaitu menyebarkan syiar Islam dan dakwah.

Disadur dari Radar Madura dengan penyempurnaan seperlunya.

Pondok Pesantren Panyepen Kirim Dai Ke Pelosok Nusantara Untuk Dakwahkan Islam Ahlus Sunnah wal Jamaah 4.5 5 Pasti Aswaja Tuesday, July 7, 2015 SEBELUM beranjak ke Sumenep, saya menyempatkan acabis ke Pondok Pesantren (PP) Miftahul Ulum Panyepen di Desa Potoan Laok, Kecamatan Palen...


No comments:

Post a Comment

Pasti Aswaja. Powered by Blogger.
J-Theme