• Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer

Theme Support

Contact Form

Name

Email *

Message *

Latest News

Recent Posts

Popular Posts

Pasti Aswaja's Content

Puasa Meneladani Sifat-Sifat Allah

 on Friday, July 10, 2015  

Oleh Prof. Dr. KH. M. Quraish Shihab, MA.

Beragama menurut sementara pakar adalah upaya manusia meneladani sifat-sifat Allah, sesuai dengan kedudukan manusia sebagai makhluk. Nabi SAW. memerintahkan, "takhallaqu bi akhlaq Allah" (berakhlaklah [teladanilah] sifat-sifat Allah).

Di sisi lain, manusia mempunyai kebutuhan beraneka ragam, dan yang terpenting adalah kebutuhan fa'ali, yaitu makan, minum dan hubungan seks. Allah SWT. memperkenalkan diri-Nya antara lain sebagai tidak mempunyai anak atau istri:

انى يكون له ولد ولم تكن له صاحبة

Bagaimana Dia memiliki anak, padahal Dia tidak memiliki istri? (QS. Al-An'am [6]: 101)

وأنه تعالى جد ربنا ما اتخذ صاحبة ولا ولدا

Dan sesungguhnya Maha Tinggi kebesaran Tuhan kami. Dia tidak beristri dan tidak pula beranak (QS. Al-Jin [72]: 3).

Al-Quran juga memerintahkan Nabi SAW. untuk menyampaikan.

اغير الله اتخذ وليافاطر السموات والأرض وهو يطعم ولا يطعم.

Apakah aku jadikan pelindung selain Allah yang menjadikan langit dan bumi padahal Dia memberi makan dan tidak diberi makan...? (QS. Al-An'am [6]: 14).

Dengan berpuasa, manusia berupaya dalam tahap awal dan minimal mencontohkan sifat-sifat tersebut. Tidak makan dan tidak minum, bahkan memberi makan orang lain (ketika berbuka puasa), dan tidak pula berhubungan seks, walaupun pasangan ada.

Tentu saja sifat-sifat Allah tidak terbatas pada ketiga hal itu, tetapi mencakup paling tidak sembilan puluh sembilan sifat yang kesemuanya harus diupayakan untuk diteladani sesuai sesuai dengan kemampuan dan kedudukan manusia sebagai makhluk Ilahi. Misalnya Maha Pengasih dan Penyayang, Maha Damai, Maha Kuat, Maha Mengetahui, dan lain-lain. Upaya peneladan ini dapat mengantarkan manusia menghadirkan Tuhan dalam kesadarannya, dan bila hal itu berhasil dilakukan, maka takwa dalam pengertian di atas dapat pula dicapai.

Karena itu, nilai puasa ditentukan oleh kadar pencapaian kesadaran tersebut—bukan pada sisi lapar dan dahaga—sehingga dari sini dapat dimengerti mengapa Nabi SAW. menyatakan bahwa, "banyak orang yang berpuasa, tetapi tidak memperoleh dari puasanya kecuali rasa lapar dan dahaga."

Dikutip dari Wawasan Al-Quran, Prof. DR. KH. M. Quraish Shihab, M.A, Bandung, Mizan, 1998 (Hal. 532-533).

Puasa Meneladani Sifat-Sifat Allah 4.5 5 Pasti Aswaja Friday, July 10, 2015 Oleh Prof. Dr. KH. M. Quraish Shihab, MA. Beragama menurut sementara pakar adalah upaya manusia meneladani sifat-sifat Allah, sesuai...


No comments:

Post a Comment

Pasti Aswaja. Powered by Blogger.
J-Theme