• Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer

Theme Support

Contact Form

Name

Email *

Message *

Latest News

Recent Posts

Popular Posts

Pasti Aswaja's Content

Yasmin Bukan Siti Nurbaya

 on Friday, July 24, 2015  

Oleh Ibnu Abdil Barr

Malam itu adalah malam yang paling menyedihkan bagi Yasmin. Betapa tidak, besok dia harus berpisah dengan teman-teman belajarnya di Pesantren yang sangat ia cintai. Pesantren yang mengajarkan kemandirian dan telah memberinya banyak ilmu pengetahuan.

Di pesantren Darul Albab Yasmin adalah salah satu santri dengan segudang prestasi. Tidak hanya berprestasi di bidang akademik, Yasmin juga berprestasi di berbagai kegiatan ekstrakurikuler. Yasmin juga pernah mengharumkan nama pesantren di tingkat internasional dengan meraih juara satu pada lomba kaligrafi arab di Doha, Qatar, waktu dia duduk di kelas satu MA di pesantren itu. Di kelas dua dia juga menjadi juara dua Musabaqah Hifdzil Quran di Mesir. Di kelas tiga Yasmin menjuarai lomba pidato bahasa Inggris tingkat nasional yang diadakan oleh salah satu perguruan tinggi negeri di Jakarta. Maka tidak heran jika setelah ujian nasional dia ditawari beasiswa oleh yayasan Pesantren Darul Albab untuk kuliah di salah satu perguruan tinggi terkenal di ibu kota, tempat dia mengikuti lomba pidato bahasa Inggris, tapi Yasmin menolak dan memilih untuk kuliah di Pesantren saja. Dia memilih kuliah di Darul Albab, karena nuansa religiusnya sangat kental dan tidak bisa didapat di perguruan tinggi lainnya di luar pesantren yang pergaulannya bebas bahkan sangat bebas. Selain alasan itu, Yasmin juga ingin memantapkan hafalan Al-Qurannya. Syukur-syukur bisa hafal dengan tafsirannya.

Tradisi juara bagi Yasmin masih berlanjut sampai dia duduk di bangku kuliah. Pada saat Yasmin masih semester dua, dia menjadi juara satu lomba sastra Arab antar mahasiswa jurusan sastra Arab yang diadakan Kementerian Agama Republik Indonesia. Meskipun prestasi yang diraih Yasmin tidak sedikit, akan tetapi semua prestasi itu seakan tidak berarti lagi baginya. Bahkan gairahpun tidak ada.

Kemarin Pak Burhan dan Ibu Khadijah, orang tua Yasmin, sowan ke Kiai Syafi’i, pengasuh pesantren Darul Albab, untuk menjemput Yasmin boyong dari pesantren. Yasmin dijemput oleh kedua orang tuanya untuk dinikahkan dengan laki-laki pilihan ayahnya setelah tiga tahun dijodohkan tanpa sepengetahuan Yasmin. Laki-laki itu adalah Brian. Brian adalah anak orang kaya raya bernama Pak Anton.

Hayo... Melamun terus.” Nabila, teman akrab Yasmin, mencoba membubarkan kesedihan Yasmin yang sedang menggelayuti wajahnya yang biasa dihiasi senyum.

“Ah, kamu, Bil. Mengagetkan aku saja.” Timpal Yasmin.

“Ada apa sich, Yas, malam-malam kok melamun di taman sendirian? Malam jumat lagi.” “Kemarin ayam-ayam tetanggaku mati semua lho gara gara melamun.” Lanjut Nabila, bercanda.

“Apa hubungannya melamun dengan ayam-ayam yang mati? Kamu ini ada-ada saja, Bil.”

“He. He. Memang tidak ada.” Jawab Nabila sambil tertawa kecil. “Habisnya kamu malam jumat bukannya berkumpul bersama teman-teman, malah melamun.” “Nama kamu Yasmin. Yasmin itu bahasa Arab yang berarti melati. Masak melati mukanya kusut seperti baju yang belum disetrika?”

“Aku sedang sedih, Bil.”

“Sedih kenapa?” Nabila penasaran.

“Kamu tahu kan kemarin orang tuaku sowan ke kiai?”

“Iya, tahu. Terus kenapa kamu harus bersedih?” Nabila semakin penasaran.

Sambil meneteskan air mata, Yasmin menjelaskan kesedihannya juga maksud tujuan orang tuanya sowan ke pengasuh pesantren, termasuk soal perjodohannya dengan Brian.

“Oh, jadi begitu.” Nabila mengangguk-anggukkan kepala. “Ya, sudah kamu jangan bersedih lagi!” Lanjut Nabila sambil memeluk Yasmin. “Kamu kan masih bisa tetap kuliah, jadi kamu masih bisa bertemu dengan aku dan teman-teman di sini.”

“Bukan itu saja, Bil, yang membuat aku sedih.”

“Terus apa dong?” Nabila melepaskan pelukannya.

“Brian itu hanya tamatan SD. Dia juga tidak pernah belajar agama, Bil. Bagaimana dia bisa menjadi imam dalam rumah tangga?”

“Sudah, jangan menangis lagi!” Nabila mengusap air mata Yasmin. “Kalau kamu memang tidak setuju dengan perjodohan yang dilakukan ayah kamu, kamu bisa jelaskan dengan baik-baik, tanpa mengurangi hormat kamu kepada ayah dan ibu kamu.”

“Bagaimana aku harus menjelaskan kepada orang tuaku, Bil?”

“Kamu kan santri. Sedikit-banyak kamu faham agama, jadi kamu jelaskan kalau perjodohan yang dilakukan ayah kamu itu kurang tepat dalam syari’at islam.” Jawab Nabila sambil memegangi kedua pundak Yasmin. “Kamu ingat, tidak? Dulu kita pernah berdiskusi dengan teman-teman tentang pemaksaan perjodohan yang dilakukan oleh orang tua kepada anaknya. Waktu itu kamu pernah mengutip hadits yang diriwayatkan oleh Nasa’i, Ibnu Majah, Daruquthni dan Abdurrazaq. Dalam mengutip hadits itu kamu bercerita tentang seorang gadis yang mengadu pada Ummul Mu’minin, ‘Aisyah, karena dipaksa oleh bapaknya untuk menikah dengan sepupunya sedangkan gadis itu tidak menyukainya...”

“Iya aku ingat sekarang.” Yasmin memotong penjelasan Nabila dengan wajah berbinar-binar. “’Aisyah kemudian mengadukan hal itu kepada Rasulullah dan kemudian Rasulullah memanggil ayah gadis itu dan Rasulullah menjelaskan kalau keputusan sepenuhnya ada di tangan anak gadisnya. Betul, ‘kan?” Yasmin menatap wajah Nabila dengan senyuman mengembang.

Nah, itu kamu ingat.” Jawab Nabila. “Kamu dulu juga mengutip pendapat Al-Habib Abdullah bin Husain bin Thohir bin Muhammad bin Hasyim,pengarang kitab Is’adur Rafiq, yang berpendapat kalau anak yang menolak perjodohan yang dilakukan orang tuanya tidak termasuk...”

’Uququl walidain, ‘kan?” Lagi-lagi Yasmin memotong penjelasan Nabila.

“Hem... Semangat sekali kamu?” Nabila menggoda Yasmin dengan mencolek dagu Yasmin.

“Terimakasih, ya, Bil. Kamu memang temanku yang bisa mengerti keadaanku.” Sambil memeluk Nabila, Yasmin melanjutkan: “kalau seperti itu penjelasannya, orang tuaku pasti bisa menerima pendapatku. Selain masuk akal, penjelasan itu bersumber dari hadits dan pendapat ulama.”

Nabila melepaskan pelukan Yasmin. “Ayo sekarang kita ke kamar. Tidur. Sudah jam sepuluh ‘ni. Nanti jam tiga kita harus bangun dan waktu itu kamu bisa manfaatkan untuk meminta petunjuk dan pertolongan Allah.”

“Ayo.” Timpal Yasmin singkat.
Mereka berdua kemudian beranjak dari taman pesantren menuju ke kamar masing-masing.

*****

Mobil Jazz warna putih, penjemput Yasmin sudah siap di depan balai tamu. Yasmin keluar dari kamarnya menuju orang tuanya yang sudah menunggu di mobil. Yasmin mencium tangan kedua orang tuanya kemudian memasukkan tasnya ke bagasi.

Mobil yang dikemudiakan oleh Pak Mursyid, sopir pribadi Pak Burhan, berangkat bertolak dari pesantren menuju rumah Yasmin. Di tengah laju mobil, Yasmin membuka pembicaraan: “ayah. Ibu, nanti malam ayah dan ibu ada acara, tidak?”

“Sepertinya tidak ada, ya, bu?” tanya Pak Burhan sambil melihat ke belakang ke arah Ibu Khadijah.

“Iya, tidak ada. Memangnya ada apa, Yas? Sepertinya ada sesuatu yang penting.” Ibu Khadijah melihat ke arah Yasmin.

“Ada yang mau Yasmin bicarakan kepada ayah dan ibu.”

“Soal apa?” Pak Burhan penasaran.

“Nanti saja, yah.”

“Ya, sudah.”

*****

Adzan ‘isya’ berkumandang. Yasmin bersama orang tuanya langsung shalat berjamaah. Setelah dzikir dan doa bersama, Yasmin bersalaman dan mencium tangan kedua orang tuanya kemudian melipat mukenah yang ia kenakan dan langsung naik ke lantai dua rumah menuju kamarnya. Di kamarnya Yasmin menyalakan komputer untuk menyapa teman-teman dunia mayanya melalaui jejaring sosial Twitter. Setelah bercengkrama dengan teman-teman Twitter-nya, Yasmin beralih ke Facebook. Yasmin asyik online ditemani alunan merdu lagu pop masa kini sambil membalas teman-teman dunia mayanya yang mengomentari status yang dia update. Saat asyik online, terdengar suara Ibu Khadijah memanggilnya: “Yasmin, turun! Makan malam sudah siap ‘ni.”

“Iya, bu.” Yasmin langsung turun menuju meja makan setelah komputernya di-shut down.

“Wah, ibu masih ingat makanan kesukaan Yasmin.” Yasmin senang melihat ayam rendang dan sayur asam kesukaannya.

“Iya dong. Tidak mungkin ibu lupa makanan kesukaan anak ibu sendiri?”

“Oh, iya. Tadi Yasmin bilang mau bicara sama ayah dan ibu?” Pak Burhan mengingatkan Yasmin.

“Nanti saja, yah, setelah makan.”
Setelah makan, Pak Burhan menuju ruang keluarga sedangkan Yasmin dan Ibu Khadijah membereskan piring-piring.

“Yasmin, kalau sudah beres-beres, ayah tunggu di sini, ya?”

“Iya, yah. Sudah selesai ‘ni.” Yasmin dan Ibu Khadijah menuju Pak Burhan yang sudah menunggu di ruang keluarga. Yasmin langsung duduk dekat Ibu Khadijah.

“Soal apa yang mau Yasmin bicarakan?” Pak Burhan membuka pembicaraan.

“Soal perjodohan Yasmin dengan Brian, yah.”

“Memang kenapa, anakku?” Tanya Ibu Khadijah sambil mengelus-elus kepala Yasmin.

Yasmin menjelaskan ketidak setujuannya dengan perjodohan yang dilakukan oleh orang tuanya dengan alasan yang sudah dia persiapkan dari pesantren dengan Nabila, teman akrabnya.

Setelah mendengar penjelasan Yasmin, sambil menghela nafas panjang Pak Burhan menanggapi: “itulah tujuan ayah dan ibu memondokkan Yasmin di pesantren: supaya Yasmin berpengetahuan luas. Ayah dan ibu ini kan awam dalam bidang agama, jadi ayah dan ibu tidak boleh membiarkan Yasmin seperti ayah ini. Dan kalau memang perjodohan ini kurang tepat dalam pandangan syari’at, ayah dan ibu akan membatalkan perjodohan ini. InsyaAllah, hari minggu ini ayah dan ibu akan ke rumah Pak Anton untuk membicarakan hal ini.”

“Yasmin minta maaf telah merepotkan ayah dan ibu.”

“Seharusnya kita yang minta maaf kepada Yasmin. Bukan Yasmin yang meminta maaf.” Jawab Ibu Khadijah sambil memeluk Yasmin yang duduk di sampingnya.

“Jadi besok Yasmin bisa balik lagi ke pesantren dan melanjutkan kembali kuliah Yasmin di Darul Albab.” Sambung Pak Burhan.

“Terimakasih, Yah, Bu. Ayah dan ibu sudah mengerti keinginan Yasmin.” Yasmin tidak dapat membendung air mata yang memaksa keluar dari bola matanya.

Keesokan harinya Pak Burhan sowan ke Kiai Syafi’i untuk mengembalikan Yasmin ke pesantren dan Kiai Syafi’i dengan senang hati menerima kembail Yasmin untuk menimba ilmu di Darul Albab.

Yasmin merasa senang setelah Pak Burhan mengabarkan kalau Kiai Syafi’i mengijinkannya untuk menimba ilmu kembali di pesantren yang ia cintai. Yasmin juga merasa bangga dengan kedua orang tuanya yang mau mengerti akan keinginannya.

Yasmin Bukan Siti Nurbaya 4.5 5 Pasti Aswaja Friday, July 24, 2015 Oleh Ibnu Abdil Barr Malam itu adalah malam yang paling menyedihkan bagi Yasmin. Betapa tidak, besok dia harus berpisah dengan teman...


No comments:

Post a Comment

Pasti Aswaja. Powered by Blogger.
J-Theme