• This is default featured slide 1 title

    Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

  • This is default featured slide 2 title

    Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

  • This is default featured slide 3 title

    Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

  • This is default featured slide 4 title

    Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

  • This is default featured slide 5 title

    Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Sunday, August 30, 2015

Pasti Aswaja Resmi Diluncurkan

Pamekasan - Pasti Aswaja -Pemuda dan Santri Inspiratif Ahlus Sunnah Wal Jamaah (PASTI ASWAJA) resmi melaunching media online pastiaswaja.org, Ahad (30/08/15) di aula Perpustakaan Umum Pamekasan.

Acara yang dikemas sangat sederhana ini dihadiri oleh sekitar 150 peserta dari berbagai kalangan, baik kalangan Pejabat Pemerintah, akademisi dan asatidz dari beberapa Pesantren di Kabupaten Pamekasan. 

Pimpina Umum pastiaswaja.org, Maltuful Anam, M. Pd. I dalam sambutannya menyampaikan, bahwa tujuan dari launching pastiaswaja.org ini adalah untuk memberikan pemahaman terhadap aqidah Ahlus Sunnah Wal Jamaah yang saat ini sudah mulai banyak disalah artikan. "Tujuan dari Launching media online ini adalah untuk menjawab tantangan zaman yang saat ini mulai gaduh dengan adanya saling klaim kebenaran dari berbagai aliran yang mengaku befaham Ahlus Sunnah Wal Jamaah".

Anam (Sapaan akrab Maltuful Anam) menambahkan, bahwa media online ini juga untuk memberikan wadah bagi para pemuda yang ingin menyalurkan pemikirannya melalui tulisan ilmiah.

"Di dalam pastiaswaja.org terdapat beberapa rubrik, di antaranya ada rubrik opini, artikel dan satra, Yang mana dengan adanya rubrik ini diharapkan agar para pemuda bisa menyalurkan dan mengembangkan kemampuan menulisnya".

Acara yang dilaksanakan di Aula Perpustakaan Umum Pamekasan ini dihadiri oleh beberapa tokoh ulama se kabupaten Pamekasan, termasuk Ketua Umum PCNU Pamekasan, KH. Abd. Ghaffar, M. Hi, yang dalam sambutannya beliau sangat mengapresiasi atas dilaunchingnya media online pastiaswaja.org ini. (bor)
Share:

Ketua PCNU Pamekasan: Masyarakat Merindukan Media Seperti Pasti Aswaja

Pamekasan - Pasti Aswaja  Maraknya media-media online yang berhaluan radikal, menjadikan masyarakat resah. Psrnyataan itu xisampaikan oleh Ketua Tanfidziyah Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Pamekasan, KH. Abdul Hhaffar, M.H.I  saat memberikan sambutan pada acara Soft Launching Pasti Aswaja yang di laksanakan di aula Perpustakaan Umum Pamekasan, Minggu (30/08/15).

Pimpinan Umum Pasti Aswaja memberikan potongan tumpeng kepada ketua PCNU Pamekasan
Menurutnya, masyarakat membutuhkan media yang bisa membendung paham-paham radikal, "kondisi dunia maya saat ini sangat miris. Dari itu, masyarakat merindukan media seperti Pasti Aswaja ini, untuk memberikan pemahaman kepada masyarakat," jelasnya

Sebagai ketua PCNU, dia menyatakan sangat mendukung dan mengapresiasi Pasti Aswaja, "atas nama PCNU, saya sangat mendukung dan memberikan apresiasi kepada Pasti Aswaja. Sebagai warga NU, saya merasa bahagia dengan adanya media ini," ujarnya.

Laki-laki bertubuh gempal ini juga mengharapkan dukungan semua pihak, khususnya Dinas Perhubungan, Komunikasi dan Informasi (DISHUBKOMINFO) Kabupaten Pamekasan, "saya minta kepada semua pihak untuk mendukung website ini, khususnya kepada DISHUBKOMINFO," harapnya.


"Jika media seperti ini didukung oleh semua pihak, maka Pamekasan ini akan damai, sesuai dengan jargon Pasti Aswaja, 'Membumikan Cinta, Tuai Perdamaian," pungkasnya. (ahn)
Share:

Saturday, August 29, 2015

Tawasul

H. Taufik*

Devinisi Tawasul
 التوسل هو: طلب حصول منفعة أو انتفاع مضرة من الله بذ كر اسم نبي أو ولي أو اكراما للمتو سل به
 (شرح  القويم للعبداري : 378)
Artinya:
Tawasul adalah memohon pada Allah SWT. untuk datangnya manfaat (kebaikan) atau memohon agar terhindar dari bahaya (keburukan) dengan menyebut nama seorang nabi atau wali Allah untuk memuliakan keduanya. (Sarh Qowim  Al-‘Abdary, hlm 378)

 Keterangan:  Tawasul secara bahasa adalah perantara, sedangkan menurut istilah adalah berdo’a memohon pada Allah untuk suatu hajat dengan perantara para nabi Allah atau wali Allah dengan maksud untuk memuliakan keduanya itu. Tawasul ini dilakukan agar doa segera dikabulkan oleh Allah SWT. dengan perantaraan nabi atau wali atau bahkan para Syuhada’, sebab, seperti firman Allah disebutkan bahwa, meskipun para syuhada/wali sudah wafat di mata umat manusia dunia, namun pada hakekatnya mereka tidaklah wafat, melainkan mereka hidup akan tetapi manusia tidak merasakan dan tidak mengetahuinya. Sehingga tawasul pada para nabi, wali, syuhada’ diyakini akan lebih cepat dikabulkannya doa seseorang, sebab mereka adalah orang yang dekat dengan Allah SWT, karena manusia yang banyak dosa sulit dikabulkan oleh Allah, mungkin jika berdoa sambil ber-tawasul pada para nabi dan para wali doa yang dipanjatkan akan mudah terkabulkan

Dasar Tawasul
Ayat al-Qur’an surat al-Ma’idah: ayat 35)
يا أيها اللذين امنو اتقو الله وابتفو اليه الوسيلة وجاهدوا في سبيله لعلكم تفلحون (المائدة : 35)
Artinya:
Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dan carilah yang (bisa) mendekat kepadanya, dan berjihad-lah pada jalanNya supaya kamu mendapat keberuntungan. (QS Al-Maidah: 35)

Tawasul Dengan Wasilah (perantara) Ibadah
 عن أبي هريرة قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : ان الله قال من عا دى لي وليا فقد أذنته بالحرب  وما تقرب الي عبدي بشئ أحب الي مما افترضت عليه وما يزال عبدي يتقرب الي بالنوافل حتى أحبه فاءذا أحببته كنت سمعه الذي يسمع به وبصره الذي يبصر به ويده التي يبطش بها و رجله التي يمشي بها  وان سألني لأعطينه  ولاءن استعادني لأعيذنه  وما ترددت عن شئ أنا فاعله تردديعن نفس المؤمن يكره الموت وأنا أكره مسأته  (رواه البخاري)

Artinya:
Dari Abu Hurairah RA, dia berkata: Rasulullah SAW bersabda, Allah SWT. befirman: Barang siapa yang memusuhi wali-Ku, maka Aku akan menyatakan perang kepadanya. Tidaklah seorang hamba mendekatkan diri kepada-Ku dengan sesuatu (perantara) yang Aku cintai dari perbuatan yang Aku wajibkan kepadanya, dan tidaklah seorang hamba senantiasa mendekatkan diri kepada-Ku dengan (perantara) perbuatan-perbuatan sunnah hingga Aku mencintainya, ketika Aku mencintainya, maka Aku akan menjaga pendengarannya yang ia gunakan untuk mendengar, Aku akan menjaga penglihatannya yang ia gunakan untuk melihat, Aku akan menjaga tangannya yang ia gunakan untuk memegang, Aku akan menjaga kakinya yang ia gunakan untuk berjalan. Jika ia memohon sesuatu pada-Ku, Aku akan mengabulkannya, tidaklah aku ragu-ragu melakukan sesuatu seperti keraguan-Ku ketika hendak merenggut nyawa hamba-Ku yang beriman, dia membenci kematian sedang Aku tak suka menyakitinya.” (HR Bukhari)

Tawasul Dengan  Amal Shalih
 عن أبي سعيد ألخد ري قال قال رسو ل الله صلى الله عليه وسلم  من خرج من بيته له سبعونالى الصلاة  أللهم بحق السا ئلين عليك وأسألك  حق ممشاي هذا فاني لم أخرج أشرا ولا بطرا ولا ريأ ولا سمعة اتقأ سخطك  وابنغأ مرضاتك فأ سألك أن تعيذني من النار وأنتغفرلي ذنوبي انه لا يغفر الذنوب الا أنت أقبل الله  عليه بوجهه واستغفر له سبعونى ألف ملك (رواه ابن ماجه)
Artinya:
Dari Abi Sa’id al-Khudry, RA. Dia berkata: “Rasulullah SAW bersabda: ‘barang siapa keluar dari rumahnya untuk melaksanakan shalat, lalu berdoa: ‘Ya Allah sesungguhnya aku meminta-Mu melalui (perantara) orang-orang yang meminta pada-Mu dan melalui langkahku ini, bahwa aku tidak keluar untuk kejelekan, tidak keluar untuk kekerasan, tidak untuk ri’a dan tidak sombong, aku keluar karena takut murka-Mu dan mencari ridlo-Mu, maka aku meminta agar Engkau selamatkan aku dari api neraka, agar Engkau ampuni dosaku, sesungguhnya tiada yang mengampuni dosa kecuali engkau’, maka Allah akan  menerimanya dan tujuh puluh ribu malaikat memintakan ampun untuknya.” (HR: Ibnu Majah)

Tawasul Dengan Orang Shalih Saat Hidup dan Setelah Wafat
Disebutkan dalam kitab Mu’jam al-Ausat, Juz I hlm 67. Imam Thabrani berkata: Dari Anas RA. Berkata: ‘ketika Fathimah bin Asad bin Hasyim, yakni Ibu dari Ali meninggal, Rasulullah SAW mesuk dan melihat jenazahnya kemudian duduk disamping kepalanya dan berkata: ‘semoga Allah memberkatimu, Ibuku, sebelum engkau kenyang, kau memberiku makan. Sebelum engkau mengganti pakaian, kau memberiku pakaian. Sebelum engkau makan, kau memberiku makanan yang enak.  Engkau melakukan semua itu karena Allah semata dan karena akhirat.  Lalu Rasulullah memerintahkan supaya  memandikannya tiga kali-tiga kali, setalah air yang dicampur wewangian, Rasulullah menuangkan air diatas janazah dengan tangannya, kemudian Rasulullah melepaskan gamisnya untuk menutupi mayat yang diletakkan diatasnya, kemudian memerintahkan Usamah bin Zaid, Aba Ayub al-Anshari dan Umar bin Khattab dan beberapa hamba kulit hitam untuk menggali kuburnya. Setelah menggali selesai, Rasulullah  mengambil tanah dan melemparkan di atas kuburnya dengan tangan beliau sendiri. Maka setelah selesai penggalian, Rasulullah masuk kedalam kubur lalu membaringkan jasad di dalam kubur dan bersabda: Allah adalah Dzat yang menghidupkan dan mematikan, Dia adalah Maha Hidup dan tidak mati. Ampunilah Ibuku Fatimah binti Asad, ajarilah hujjah, yakni jawaban pertanyaan kubur dan lapangkanlah kuburannya dengan hak Nabi-Mu dan nabi-nabi serta para rasul sebelumku, sesungguhnya Engkau Maha Penyayang. Kemudian Rasulullah bertakbir di atasnya empat kali, lalu Nabi, Al-Abbas, Abu bakar al-Shiddiq memasukkan Jasad Fatimah binti Asad ke kuburnya. Tidak meriwayatkan Hadits ini dari Khatim al-‘Asham al-Khwal kecuali Imam as-Sufyan as-Tsauri, Rouh bin Shalah sendiri meriwayatkan Hadits ini (al-Thabrani: Mu’jam al-Ausath, Juz I,hlm 67).

Kesimpulan
Dari beberapa keterangan dan Hadis di atas, dapat dsimpulkkan bahwa Tawasul adalah memohon pada Allah untuk suatu kebaikan atau memohon terhindar dari keburukan melalui perantara para nabi, wali, syuhada’, baik yang sudah wafat atau masih hidup, bisa juga dengan perantara amal kebaikan seperti dalam hadits di atas. Jadi ziarah pada makam para wali, ulama dan orang-orang shalih seperti adat dan budaya masyarakat indonesia saat ini adalah dalam upaya tawasul memohon pada Allah dengan perantara para wali agar doa atau hajat yang diinginkan mudah tercapai, bukan memohon pada para wali-wali itu.

* Staf Ahli Pasti Aswaja
Gambar: media.abatasa.com
Share:

Saturday, August 22, 2015

Gus Miek dan Tiga Orang Preman Tanjung Priok

Pasti Aswaja – Ustadz Hamim Jazuli dari Tegal berkisah yang di dengar dari Ustadz Suhaimi, salah seorang alumni PP. al-Falah Ploso Kediri, saat acara Halal Bihalal di aula gedung Asrama Brimob Cipinang. Beliau berbicara mengenai kisah 3 orang preman yang bertaubat.

Di daerah Tanjung Priok pada tahun 1996, ada 3 orang preman yang kerjaannya cuma memalak setiap kendaraan truck kontainer yang hendak masuk pelabuhan. Setelah itu mereka akan menggunakan uang hasil palakannya itu untuk mabuk-mabukkan, main perempuan atau berjudi.

Hingga pada suatu hari datanglah seorang pria mengenalkan dirinya bernama Gus Miek. Lantas pria itu berbicara kesana-kemari tentang banyak hal, mulai dari masalah politik, ekonomi hingga menyentuh masalah agama. Begitu lembut dan inteleknya pria itu berbicara, hingga akhirnya ketiga preman ini tertarik dan mulai suka dengannya. Apalagi pria itu orangnya asyik diajak gaul ala preman dan suka traktir makan, minum dan rokok.

Hingga akhirnya masuk waktu shalat Dzuhur, lantas Gus Miek mengajak ketiga preman itu untuk ikut sholat. Pada mulanya mereka menolak, tapi Gus Miek merayu mereka dengan iming-iming barangsiapa yang mau sholat dengan beliau, maka akan dikasih uang Rp. 50.000. Maka walaupun terpaksa akhirnya ketiga preman ini mau ikut sholat di belakang Gus Miek, tentu saja niatnya demi mendapat uang.

Begitulah setiap waktu sholat, pasti mereka sholat berjamaah bersama teman barunya (Gus Miek). Kejadian ini berlangsung hingga 3 bulan lamanya. Hingga pada akhirnya ada kesadaran tersendiri bagi tiga preman itu untuk sholat, apalagi Gus Miek juga mengajarkan masalah agama yang selama ini belum pernah mereka dengar.

Dan memasuki bulan ke-4, Gus Miek sudah tidak menemui 3 preman tersebut. Tentu saja mereka kalang kabut, karena sudah terbiasa sholat berjamaah bersama Gus Miek. Mulai ada kerinduan dari ketiga preman itu akan sosok pria misterius yang selama ini selalu mengajak mereka kepada kebaikan dan mengajarkan mereka tentang masalah agama.

Rupanya tingkah mereka menarik perhatian Ustadz Suhaimi yang ketika itu baru pulang dari acara Maulid di Masjid Luar Batang. Lalu sang ustadz menghampiri mereka di teras masjid dan menanyakan banyak hal. Kemudian 3 preman itu bercerita tentang perjumpaan mereka dengan seorang pria misterius yang membuat mereka akhirnya mulai mendalami masalah agama.

Betapa kagetnya Ustadz Suhaimi ketika mendengar nama Gus Miek disebut oleh mereka. Lantas sang ustadz yang saat itu membawa buku saku tentang Dzikrul Ghofilin memperlihatkan foto seorang ulama kepada ketiga preman itu: “Apakah pria misterius itu seperti orang ini?”

Dengan nada heran, preman itu menjawab: “Iya benar. Apakah Ustadz kenal dengan dia?”

Ustadz Suhaimi menjawab: “Bukan kenal lagi, ini guru saya. Beliau seorang ulama besar yang merupakan seorang waliyullah. Dan beliau sudah wafat 3 tahun yang lalu.”

Seperti tersambar petir, terkejut bukan kepalang tiga preman ini mendengar penjelasan Ustadz Suhaimi. Jadi selama ini mereka mendapat pencerahan dari seorang ulama besar, waliyullaah masyhur, yang sudah lama wafat. Menangislah mereka sambil menciumi tangan Ustadz Suhaimi sambil menyatakan keinginan mereka untuk bertaubat dan meminta beliau mau mengajari mereka tentang masalah agama. Akhirnya sang ustadz pun menyanggupinya dengan berurai air mata.

Kisah ini mengandung pelajaran, bahwa Allah memberikan hidayah kepada siapa saja yang Ia kehendaki. Dan juga mengajarkan bahwa para wali Allah itu tiadaklah bagi mereka mati, walau jasad mereka mati, tapi da'wah mereka akan tetap hidup kapan pun dan di manapun.

Lahu Al-Fatihah!!!

Oleh: Den Raden
Share:

Gus Dur dan Sabotase Orde Baru

Oleh: H. Taufik Hasyim, M.Pd.I*

Pasti Aswaja Kisah ini dari adik kandung Gus Dur, yaitu Hasyim Wahid atau yang lebih di kenal dengan Gus Iim. Seperti diketahui bersama, bahwa pada akhir tahun 80-an hingga awal 90-an, Gus Dur banyak mendapat ujian berupa ancaman baik keluarga maupun pribadi hingga tak jarang nyawa menjadi taruhannya.

Setelah menghadiri kunjungan ke Jawa Barat, Gus Dur bersama Gus Iim melewati jalur antara kota Bandung-Jakarta melewati Purwakarta untuk pulang ke Jakarta, mobil yang di tumpangi Gus Dur berjalan santai karena cuaca agak mendung. Namun tiba-tiba muncul tiga truk besar bermuatan kertas dengan kecepatan tinggi menyalip mobil yang di tumpangi Gus Dur. Ketiga mobil truk itu berjalan beriringan berjarak sekitar 50 meter. 

Melihat hal itu, Gus Iim bilang sama Gus Dur, “pernahkan sampean melihat tiga truk besar bermuatan seperti ini beriringan?” Gus Dur pun menjawab, "iya agak aneh".

Melihat kakaknya juga berpikiran sama, maka Gus Iim berhenti di sebuah rumah makan yang memiliki area parkir cukup luas. Ahirnya mereka makan, berbincang-bincang sambil istirahat. Tak lama berbincang-bincang, terdengar kabar bahwa ada kecelakaan bruntun antara truk besar bermuatan kertas dengan kendaraan lainnya karena kertas yang di truk itu berjatuhan.

Setelah keadaan aman, Gus Dur dan Gus Iim berangkat ke Jakarta dengan berganti mobil, sedang mobil Gus Dur dititipkan di rumah makan itu.

Lain halnya cerita ketika Gus Dur menjabat ketua PBNU di tahun 90-an. Di kabupaten Gresik Jawa Timur, PCNU Gresik mengadakan pengajian akbar dengan menghadirkan Gus Dur sebagai penceramah tunggal. Menjelang malam puncak acara, ribuan masyarakat mendatangi lokasi acara untuk mendengarkan ceramah Gus Dur. Namun tak di sangka, setelah sholat maghrib, tiba-tiba datang petugas utusan bupati yang membawa surat berisi bahwa pengajian itu dicekal alias izinnya di cabut dan pengajian harus di gagalkan jika Gus Dur yang ceramah, padahal Gus Dur saat itu sudah ada di lokasi.

Namun dengan sabarnya Gus Dur mematuhi aturan bupati itu untuk tidak naik panggung, padahal masyarakat sudah meminta Gus Dur untuk naik pangung apapun resikonya, namun Gus Dur tetap tidak mau dan pulang meninggalkan lokasi acara sedang penceramah diganti oleh kyai lainnya dari Gresik.

Dari berbagai sumber

*Khadimul Ma'had Bustanul Ulum, Sumber Anom, Angsanah, Palengaan, Pamekasan, Madura.
Share:

Friday, August 21, 2015

Netizen Kecam Fanspage “Rodja” Karena Melecehkan Simbol Negara

Pasti Aswaja Sebuah fanspage (halaman) di jejaring sosial facebook yang mencatut nama media Rodja, mengunggah gambar yang menuai banyak kecaman dari netizen (18/08/15). Dalam gambar tersebut terdapat simbol Negara Kesatuan Republik Indonesia, Garuda Pancasila, dengan kepala dan sayap yang patah akibat sabetan sebilah kapak. Tidak hanya gambarnya yang bersifat melecehkan, caption yang dibubuhkan pada gambar tersebut juga melecehkan Pancasila sebagai falsafah kehidupan berbangsa dan bernegara masyarakat Indonesia.

Jika dilihat dari konten yang terdapat pada fanspage tersebut, hampir keseluruhan menggambarkan dukungan admin terhadap kelompok radikal Islamic State of Iraq and Syiria (ISIS).

“PANCASILA ?? Islam tak butuh pancasila.. Rosull Tak kenal pancasila.. Dasar Hukum itu Al quran dan Sunnah..bukan pancasila..” Begitu tulisan pada caption gambar itu.

Menurut fanspage itu, Islam pernah memimpin dunia selama 800 Tahun, dan itu semua tanpa Pancasila. Bahkan, menurut fanspage tersebut, Pancasila adalah “sumber” kehancuran di negeri ini.

Tidak sampai disitu, fanspage pendukung ISIS itu juga merendahkan ulama sebagai pewaris risalah kenabian.

“Petunjuk Hidup itu , apa kata Allah dan apa kata Rosull.. Bukan apa kata Nenek moyang ! Apakah ulama2 yg kalian banggakan itu Lebih suci daripada Rosull ??” Katanya.

Untuk memperkuat tindakan sparatisnya, fanspage ini mengutip Al-Quran surat Al-An'am ayat 115 dan ayat 153.

Menanggapi postingan itu, para netizen memanfaatkan kolom komentar untuk meluapkan kemarahannya.

“Diiiih parah nih stts tak berpendidikan buanget... Woooy islam itu punya pendidikan coooy... Yg bikin pancasila itu bukan orang sembarangan...” Komentar akun Dzikri Al-Wali.

“woooooyyyy ini bukan akun radio rodja.. ini akun simpatisan isis... dasar adminnya tukang fitnah, beginikah sikap dan akhlak para pengikut khilafah? khilafah model apa kaya gini kalau tukang fitnah kaya gini.. wooooyy ini sudah keterlaluan mencemarkan nama baik rodja.. peringatan ini bukan akun resmi rodja, ini akun palsu yg sengaja dibuat untuk menyerang rodja, ingat admin, tulisanmu akan dipertanggung jawabkan diakherat, takutlah sama Allah saudaraku!!!” Komentar akun Kecintaan Kita, geram.

“klo ga suka pancasila ... ga suka indonesia ... tapi masih aja makan minum kentut buang air besar dan kecil sampai cari makan di sini ... cermin ... mana cermin ...” Akun Abdurrahman Fadhil menimpali komentar akun-akun yang lain.

Dari ratusan komentar yang ada, tidak ada satupun yang dikomentari oleh pengelola halaman itu.

Sampai berita ini diturunkan, gambar sekitat jam 23:00 itu masih menuai komentar pedas dari para pengguna facebook. Rata-rata komentar mereka berisi kecaman dan cercaan. (ahn)
Share:

Thursday, August 20, 2015

NU dan Peta Gerakan Islam (Perspektif Sejarah, Pemikiran dan Aksi)

Oleh: Sudarsono*

JAUH sebelum terjadinya faksi-faksi (firqah) di kalangan umat Islam, Nabi Muhammad Saw telah memprediksi bahwa jika kelak akan muncul berbagai aliran dan golongan di kalangan umat Islam. Sebagaimana sabda Nabi Saw:

“Abu Hurairah meriwayatkan bahwa Rasulullah Saw bersabda: Orang-orang Yahudi terpecah ke dalam 71 atau 72 golongan, demikian juga orang-orang Nasrani. Dan umatku akan terbagi kedalam 73 golongan."  (HR. Sunan Abu Dawud).

“Demi Tuhan yang memegang jiwa Muhammad ditanganNya. Akan terpecah umatku sebanyak 73 firqah, yang satu masuk surga dan yang lain masuk neraka. Bertanya para sahabat: 'Siapakah yang tidak masuk neraka itu ya Rasulullah?' Nabi menjawab: 'Ahlussunnah wal Jamaah."  (HR. Imam Thabrani).

Sabda Nabi Saw di atas mengisyaratkan bahwa dinamika yang dialektis akan terjadi pada setiap kelompok agama, tak terkecuali Agama Islam. Perbedaan-perbedaan di kalangan umat Islam dalam perspektif akademik merupakan sunnatullah (natural), tergantung bagaimana kita menyikapinya dan memposisikan dirinya dalam sebuah proses dialektika keberagaman kemanusiaan dan keislaman itu sendiri. Pada konteks inilah kita harus cerdas dan bijak dalam membaca setiap gajala dialektis yang timbul di masyarakat, tanpa harus melakukan kekerasan, apalagi pertumpahan darah. Lebih-lebih pada dimensi kekinian, di mana umat manusia (umat Islam) semakin maju dan berkembang seiring dengan dinamika jamannya, tentu cara-cara kekerasan bukanlah sebuah tindakan yang bijak dalam membaca setiap perbedaan yang terjadi di kalangan umat Islam. Di bawah ini akan dipaparkan tentang pemikiran dan gerakan Islam dalam perspektif sejarah, pemikiran dan aksi, agar kita dapat mengambil pelajaran secara utuh terhadap dinamika yang terjadi di kalangan umat Islam tempo dulu, dan perkembangannya dalam konteks kekinian.

Embrio Lahirnya Aliran Dalam Islam

Ketika Nabi Muhammad Saw. mulai menyiarkan Islam di Mekkah, kota ini memiliki sistem kemasyarakatan terletak di bawah pimpinan suku bangsa Quraysy. Sistem pemerintahan kala itu dijalankan melalui majelis yang anggotanya terdiri dari kepala suku, dan dipilih berdasarkan kekayaan serta pengaruhnya di masyarakat. Ketika Nabi Muhammad Saw. diangkat menjadi pemimpin, terjadi perselisihan dan perlawanan dari mereka, khususnya para pedagang dan pebisnis Arab kala itu. Akhirnya Rasulullah Saw. hijrah ke Yasrib/Madinah (622 M). Di Madinah Rasulullah berperan ganda, selain sebagai pemimpin agama juga menjadi pemimpin negara/pemerintahan. Dari kota Madinah inilah syiar dan pemerintahan Islam dikelola, sampai akhirnya Mekkah dapat dikuasai. Bahkan daerah kekuasaannya telah meliputi seluruh semenanjung Arabia.

Pada jaman Rasulullah Saw. sesungguhnya telah muncul embrio kelompok penentang Nabi/Islam. Setidaknya ada tiga kelompok yang mengemuka saat itu, yaitu: (1) kelompok inkar as-sunnah (mengingkari hadits Nabi); (2) kelompok inkar Az-zakah (menolak membayar zakat), dan (3) kelompok murtad (meninggalkan Islam dan kembali ke jahiliyah). Namun tiga kelompok ini, kala itu tidak diperangi, karena masih berikrar sebagai penganut Islam, dan mengakui kenabian Muhammad Saw. selain itu, Nabi Muhammad Saw. lebih memilih cara-cara damai dalam menyelesaikan setiap masalah, sebagaimana sikap Nabi ketika ditekan orang-orang Quraysy di Thaif saat menyebarkan Islam.

Di jaman Abu Bakar Ash-shiddiq, kelompok-kelompok di atas semakin menunjukkan eksistensinya, bahkan menolak terhadap seluruh ajaran yang dibawa oleh Nabi Muhammad Saw., sehingga Abu Bakar meniscayakan peperangan atas mereka. Kelompok-kelompok penentang Nabi tersebut, akhirnya berhasil ditumpas, dan seluruh tokohnya tewas dalam pertempuran. Perang melawan mereka di jaman Abu Bakar disebut dengan “Perang Riddah” (perang melawan kaum murtad). Tokoh-tokohnya antara lain: (1) Al Aswad Al Ansi. Dia memimpin Pasukan Badui di Yaman dalam sebuah pertempuran melawan pasukan Abu Bakar. Ia terbunuh dalam pertempuran tersebut, dan pasukan Islam berhasil menguasai Yaman; (2) Thulaihah bin Khuwalid Al Asadi. Dia menganggap dirinya sebagai Nabi. Pengikutnya berasal dari: Bani Asad, Bani Gatafan, dan Bani Amir. Pasukan muslim berhasil mengalahkan mereka di bawah panglima perang Khalid bin Walid, dalam pertempuran di Bazakhah; (3) Malik bin Nuwairah. Dia merupakan pemimpin Bani Yarbu’ dan Bani Tamim. Sepeninggal Nabi, ia tidak mengakui Islam. Malik bin Nuwairah juga terbunuh dalam pertempuran yang dipimpin Khalid bin Walid; (4) Musailamah al-Kadzab (Sang Pembohong). Musailamah adalah tokoh yang paling berbahaya. Dia mengklaim sebagai Nabi ketika Nabi Muhammad Saw. masih hidup, baik di kalangan umat Islam maupun Kristen. Pengikut terbesar Musailamah adalah Bani Hanifah di Yamamah. Pasukan muslim yang dipimpin Ikrimah bin Abu Jahal dan Syurahbil bin Hasanah hampir kalah dalam pertempuran melawan Pasukan Musailamah. Namun setelah datang bantuan bala tentara muslim di bawah Khalid bin Walid, pasukan Musailamah berhasil dikalahkan. Tercatat ada 10 ribu kaum murtad terbunuh, dan ribuan kaum muslimin gugur menjadi syuhada dalam pertempuran ini (rata-rata huffadz: ini pula yang menjadi cikal bakal kodifikasi Al-Qur’an).

Sejarah Munculnya Aliran Dalam Islam

Bibit-bibit awal kemunculan aliran dalam Islam sesungguhnya mulai terjadi pada saat Rasulullah Saw. wafat (632 M). Persoalannya berkisar pada masalah siapa pengganti pemimpin umat Islam sepeninggal Nabi Muhammad Saw. Meski persoalan itu akhirnya dapat diselesaikan, namun bibit-bibit perpecahan sudah mulai muncul pada saat itu. Awal kemunculan aliran dalam Islam terjadi pada saat Khilafah Islamiyah mengalami suksesi kepemimpinan dari Utsman bin Affan ke Sayyidina Ali Ibn Abi Thalib. Perpecahan itu semakin kuat pada saat kekuasaan Ali Ibn Abi Thalib. Tercatat ada dua peperangan besar yang terjadi di jaman Khalifah Ali, yaitu (1) Perang Jamal (Perang Onta) yang terjadi antara Ali dan Aisyah, dibantu oleh Zubeir bin Awwam dan Thalhah bin Ubaidillah; (2) Perang Siffin, yang berlangsung antara pasukan Ali melawan tentara Muawiyah bin Abi Sufyan (Gubernur Damaskus kala itu).

Perselisihan antara Kubu Sayyidina Ali dan para penentangnya itu melahirkan aliran-aliran keagamaan dalam Islam, antara lain: Syiah, Khawarij, Murjiah, Mu’tazilah, Asy’ariyah, Jabariyah, Qadariyah, dan Ahlussunnah wal Jamaah. Aliran-aliran tersebut, dalam perkembangannya telah menginspirasi umat Islam dunia di berbagai bidang, seperti hukum (fiqh), akidah (teologi), dan filsafat.

Oleh karena itu, jika dipetakan perkembangan pemikiran Islam secara umum dibagi dalam empat kelompok, yaitu: (1) Pemikiran Ahli Fikih; (2) Pemikiran Teologi Islam; (3) Pemikiran Filsafat Islam; dan (4) Pemikiran Modern.

Pertama, Pemikiran fikih sudah dimulai sejak Rasulullah masih hidup. Pada masa itu, semua hukum fikih bisa langsung ditanyakan kepada Rasulullah. Setelah Nabi wafat, perkembangan fikih pada masa sahabat dibagi ke dalam dua macam kelompok, yaitu: (1) kelompok Ahl an Nash dan (2) kelompok Ahl al Ra’yi. Perkembangan fikih setelah masa kepemimpinan Ali ibn Abu Thalib disebut dengan Fikih Tabi’in.

Kedua, Pemikiran teologi Islam. Setelah kepemimpinan Islam dilanjutkan oleh para sahabat, banyak tumbuh dan berkembang golongan teologi Islam, sebagaimana diuraikan dalam penjelasan di atas. Tujuan dari golongan ini adalah menjelaskan dan membela akidah Islam, serta menolak akidah yang bertentangan dengan akidah Islam.

Ketiga, Pemikiran Filsafat Islam. Pada masa ini banyak muncul tokoh-tokoh pemikir filsafat Islam, antara lain: Al-Ghazali, Ibnu Rusyd, Syuhrowardi, Al-Kindi, Abu Bakar Arrazi, Al Farabi, Ibnu Sina, dan lain-lain.

Keempat, Pemikiran Modern. Pada kelompok ini muncul beberapa pemikiran Islam, antara lain: (a) Islam Tekstual, corak pemikiran ini bercorak fundamental dan tekstualis; (b) Islam Revivalisme, yakni pengkombinasian Islam dan modernitas, tapi masih kental nilai keislamannya; (c) Islam Modern. Coraknya lebih banyak memasukkan nilai-nilai kemodernan dalam pemikiran Islam; (d) Neo Modernisme. Pemikirannya lebih banyak ke liberalisme dan kontekstualis.

Keberagaman pandangan dan pemikiran di kalangan umat Islam seperti dipaparkan di atas, pada satu sisi telah berhasil membawa citra Islam yang maju, berkembang dan modern pada sejumlah dinasti setelah era kekhalifahan, namun pada sisi yang lain juga telah membawa citra Islam terpuruk akibat pertentangan politik di kalangan mereka sendiri.

Sejarah Masuknya Agama Islam di Indonesia

Berbicara tentang peta pemikiran dan gerakan Islam di Indonesia, sesungguhnya tidak dapat dilepaskan dari sejarah masuknya agama Islam di negeri ini. Terdapat dua versi mengenai kapan dan dari mana agama Islam itu disebarkan. Pertama, pendapat dari Snouck Hurgronje yang menyebut bahwa pada abad ke-13 M. merupakan awal dari masuknya agama Islam ke tanah air, melalui Persi dan Gujarat (India). Versi ini cukup banyak menghiasi buku-buku sejarah masuknya agama Islam ke Indonesia mulai dari pendidikan dasar sampai PT. Kedua, pendapat Thomas W. Arnold, yang menyebut Agama Islam masuk ke Indonesia pada abad 7 M dibawa oleh para saudagar Arab (Mekah dan Mesir) sejak abad pertama Hijriyah. Pendapat ini diperkuat oleh Buya Hamka (1982), seperti dikutip dalam bukunya “Sejarah Umat Islam di Indonesia”. Corak dan ajaran Islam yang pertama kali berkembang menurutnya banyak dipengaruhi oleh Madzhab Syafi'i.

Hamka memiliki sejumlah argumentasi mengenai pendapatnya itu, antara lain: (1) dalam buku catatan perjalanannya, Ibnu Batutah menulis, ia menyaksikan Raja-raja Samudera Pasai bermadzhab Syafi'i. Dan madzhab Syafi'i kala itu kebanyakan dianut oleh umat Islam di Mekah (sebelum jatuh ke ibnu Saud) dan Mesir. (2) Al Malik, gelar yang dipakai oleh raja-raja Pasai adalah sama dengan gelar yang dipakai oleh raja-raja Mesir. Tiruan gelar ini tidak ditemukan di Iran (Persia) atau di India. Gelar “Syah” raja-raja Malaka baru dipakai pada permulaan abad 15 M. Ini berarti bahwa pengaruh India dan Persia datang setelah pengaruh Arab dan Mesir. Masih menurut Hamka, jika pengaruh India yang besar maka Madzhab Hanafiyah yang paling berpengaruh di sini. Dan Jika pengaruh Iran yang kuat, tentu Madzhab Syiah yang paling berpengaruh di sini. Faktanya kedua madzhab tersebut tidak populer di negeri ini, sejak permulaan Islam masuk sampai sekarang. (3) Sebelum Ibnu Batutah melawat ke Kerajaan Pasai sudah ada ulama besar Indonesia yang mengajar ilmu tasawuf di Adn dan Arab, yakni Syaikh Abu Mas’ud Abdullah bin Mas’ud Al-Jawi. Ini merupakan bukti bahwa hubungan dalam mencari ilmu pengetahuan Islam langsung ke tanah Arab, bukan ke India atau Malabar.

Sejalan dengan pendapat di atas, KH Abdul Muhith Muzadi (2006) menjelaskan bahwa sejak awal para muballigh dunia Islam memilih Indonesia sebagai lahan baru yang dapat ditanami Islam secara damai dan sukarela, setelah penyiaran agama Islam di tempat lain diwarnai kekerasan dan peperangan. Islam yang disiarkan di Indonesia beraliran Ahlussunnah wal Jamaah dan berhaluan madzhab yang berwatak tawasuth dan rahmatan lil alamin. Tradisi keislaman seperti ini terus berkembang dan dikembangkan pada masa Wali Songo sekitar abad 13-15 M.  Setelah era Wali Songo, lahirlah ulama-ulama Nusantara yang sangat terkenal yang mewarisi tokoh Islam sebelumnya, seperti Hamzah Fansyuri, Syamsudin al Sumaterani, dan Nuruddin Arraniri dan sebagainya sebagai ulama generasi 16 M. Karya-karya mereka antara lain Syarah al Asyiqin (Minuman orang birahi), Asrar Al Arifin (Rahasia Ahli Ma’rifat), muncul juga karya-karya lain bercorak sastra Taj al Salatin (Mahkota raja-raja) dan lain-lain.

Para ulama generasi selanjutnya, sebagaimana dikutip Ahmad Ginanjar Sya’ban (2009), antara lain:  syaikh Abdurrauf Asingkili Al-Jawi (Aceh, Singkil), Syaikh Yusuf Al Makasari (Sulawesi), Syaikh Abdul Muhyi Pamijahan (Tasikmalaya, Sunda), sebagai generasi abad 17 M. Lalu, Syaikh Burhanuddin Al-Jawi (Ulakan Minang), Syaikh Arsyad Al-Banjari (Banjarmasin), Syaikh Abdusshomad Al-Falambangi (Palembang), sebagai generasi abad 18 M. Kemudian, Syaikh Muhammad Nawawi Al-Bantani (Banten), Syaikh Ahmad Khatib Al Minangkabawi (Minangkabau), dan Syaikh Muhammad Kholil Bangkalan (Madura) sebagai generasi abad 19 M. yang kemudian dilanjutkan generasi ulama pesantren sampai sekarang.

Corak keislaman Nusantara yang syafiiyah ini mengalami proses polarisasi setelah dunia Arab dilanda gerakan pemurnian dan pembaharuan, yang dipelopori oleh Muhammad Ibnu Abdul Wahab dengan paham Wahabiyahnya berkolaborasi dengan penguasa baru Arab yakni Ibnu Saud. Gerakan ini tidak hanya menyangkut aspek ibadah dan akidah, namun juga muamalah. Sejak paham Wahabi merambah tanah air, maka sejak itulah umat Islam Indonesia yang awalnya “homogen” menjadi terpolarisasi dengan paham Wahabi sampai sekarang dengan varian-varian yang lebih beragam.

Peta Pemikiran dan Gerakan Islam di Indonesia

Peta pemikiran dan gerakan Islam di Indonesia dapat dirunut sejarahnya pada dekade tahun 1800-1900-an, setelah Haramain jatuh ke Ibnu Saud. Penguasa baru di tanah Arab itu kemudian menggandeng Ibnu Abdul Wahab dalam gerakan pemurnian dan pembaharuan Islam. Ada dua missi besar yang diinginkan, (1) menjadi Khilifah Islamiyah yang bersifat tunggal di kalangan dunia Islam, untuk menggantikan Khilifah Usmaniyah di Turki yang baru digulingkan oleh Gerakan Turki Muda pimpinan Kemal Attaturk; (2) menjadikan paham Wahabi sebagai satu-satunya madzhab tunggal di kalangan umat Islam dunia.

Sejumlah tokoh dan organisasi yang memainkan peranan penting dalam gerakan pemurnian dan pembaharuan Islam menurut Ricklefs dalam Muhibbin (2010) di antaranya: Syaikh Thaher bin Jamaluddin Al-Azhari (wafat, 1857), terlibat aktif dalam penyebaran gagasan pemurnian dan pembaharuan Islam melalui surat kabar “Al Imam” yang terbit di Singapura. Selain itu,  dikenal pula nama Syaikh Muhammad Djamil Djambek (wafat, 1947) dan Haji Rasul/Haji Karim Amrullah (wafat, 1945). Ketiga putra minang ini dengan terang-terangan mencela  tarekat dan praktek-praktek beragama muslim melayu. Gerakan ini juga menyebar ke Tanah Jawa. Jam’iyatul Khayr (1905) merupakan komunitas Arab di Batavia, tercatat sebagai organisasi Islam yang mengambil prakarsa pertama dalam penyebaran paham Wahabi di tanah air. Kemudian Perserikatan Ulama (1911) di Jawa Barat, Muhammadiyah (1912) di Yogyakarta,  dan Al-Irsyad atau Jam’iyatul Ishlah wal Irsyad (1915), serta Persis (1923) di Bandung.

Paham Wahabiah yang merambah ke tanah air melalui sejumlah tokoh dan organisasi di atas menimbulkan ketegangan di internal umat Islam Indonesia. Masalah  pokok yang menjadi sumber ketegangan sesungguhnya bukanlah substansi dari nilai ajaran Islam, tetapi lebih menunjuk kepada aspek khilafiyah, seperti soal taqlid, upacara kematian, tahlil dan talqin, ushalli dan sebagainya atau isu yang terkenal kala itu adalah TBC (taklid, bid’ah dan churafat). Upaya untuk menyatukan perbedaan ini bukan tidak ada, tetapi selalu gagal dalam beberapa kali pertemuan. Fenomena inilah yang kemudian menjadi salah satu sebab atau motivasi kenapa Nahdlatul Ulama (NU) harus berdiri pada tahun 1926.

Setelah NU berdiri, ketegangan di kalangan umat Islam Indonesia bukan tidak ada, tetapi berpindah dari ranah kultural ke ranah politik. Dijelaskan oleh Djohan Effendi (2010), sejak pembentukannya pada tahun 1926, NU menempati posisi sentral dan memainkan peranan penting di kalangan masyarakat santri, terutama di pedesaan. Ia menunjukkan kemampuan membangkitkan kesadaran kolektif umat Islam Indonesia, terutama di bidang agama, sosial, kebangsaan, pendidikan dan sebagainya.

Beberapa catatan yang menjadi prestasi NU sejak jaman kolonial, revolusi dan kemerdekaan, antara lain: (1) keputusan (ijtihat politik) NU tentang status Indonesia di jaman Belanda; (2) Resolusi Jihad untuk mempertahankan kemerdekaan RI; (3) Pemberian gelar kepada Presiden Soekarno; (4) Kembali ke UUD 1945; (5) Pembubaran PKI; dan (6) Keputusan tentang asas tunggal dan NKRI. Seluruh keputusan NU tersebut menjadi landasan bagi seluruh bangsa, baik Islam maupun non Islam, dan baik NU maupun non NU. Dinamika yang terjadi di tubuh NU, baik pada jaman Kolonial, Revolusi Kemerdekaan, era Orla dan era Soeharto merupakan salah satu bentuk gerakan pemikiran di tengah kompetisi politik dan budaya umat Islam Indonesia kala itu.

*********

Berdasarkan catatan di atas, jelas sekali bahwa paham Wahabi dunia, merupakan satu-satunya aliran yang cukup massif melakukan penetrasi terhadap kantong-kantong umat Islam di Indonesia, sementara aliran lain, seperti Syiah dan sebagainya (meski) diakui pernah masuk ke Indonesia tetapi tidak berdampak signifikan terhadap mainstream Islam di negeri ini. Kini, Islam Indonesia semakin memiliki corak dan karakter yang beragam, baik dari sisi pemikiran maupun gerakan. Keragaman ini tercermin dari jumlah organisasi keislaman dan kelompok kepentingan atas nama Islam yang dari waktu ke waktu semakin bervariasi.

Dari segi gerakan dan organisasi massa/orpol, kita mengenal beberapa segmen, antara lain: Sarekat Dagang Islam-SDI (1905); Jamiatul Khoiriyah (1905); SDI berubah menjadi SI (1911); Muhammadiyah (1912); Al Irsyad (tt); Persis (1923); NU (1926); Perti (1928); Al Washliyah (1930); dll. Adapun yang berbentuk partai politik, antara lain: PSI (1923); Perti (tt); Partai Arab (tt); Masyumi (1943); NU (1953), PSII (tt), Parmusi (tt), dll. Kini, partai politik Islam terfragmentasi pada berbagai partai, antara lain: PKB, PPP, PAN, PKS, dan PBB. Dikalangan pemuda dan mahasiswanya, terdapat sejumlah organisasi kepemudaan dan kemahasiswaan, antara lain: PMII, HMI, IPNU/IPPNU, PEMUDA MUHAMMADIYAH, IMM, PII, dan lain-lain. Pada kelompok kepentingan (interest group), terdapat beberapa organisasi, antara lain: FPI, HTI, KISDI, Lasykar Jihad, JAT, MMI, DDII, JIL, JIM dan lain-lain.

Sedangkan dari sisi pemikiran, kita mengenal ada sejumlah kategori yang biasa dilekatkan dalam pemikiran Islam di Indonesia, yakni Islam tradisionalis, Islam modernis, Islam neo-tradisionalis, Islam neo-modernis, Islam liberal, Islam post-tradisionalis, Islam radikal, Islam ekstrim, Islam moderat, Islam fundamentalis, Islam kanan, Islam kiri, dan sebagainya.

Menurut catatan yang diambil dari Workshop Islam dan Pluralisme (2008) Semua varian yang disebutkan di atas dalam sejarah keindonesiaan tidak jarang satu sama lain mengalami benturan, ketegangan, pergesekan, dan persaingan yang sangat dinamis. Dinamika itu terjadi karena didorong oleh banyak faktor. Di antara faktor yang dominan adalah perebutan kekuasaan (akses) politik dan ekonomi. Relasi antar organisasi ini juga tidak simetris atau paralel, tetapi seperti sarang laba-laba yang satu titik dengan titik lain bisa saling berhubungan. Jaring laba-laba ini bukan untuk memperkuat atau melemahkan, melainkan semata-mata untuk memperjuangkan kepentingan masing-masing.

Oleh karena itu, jika dilihat dari perspektif politik, tidak selalu orang NU memilih atau mendukung PKB, meski PKB secara resmi didirikan oleh orang-orang NU. Banyak orang NU yang mendukung PPP, PBB, Golkar, PDIP, bahkan PKS. Begitu juga orang Muhammadiyah tidak dapat diidentikkan dengan PAN atau PKB. Di beberapa daerah, seperti Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Sumatera Barat, Nangroe Aceh Darussalam, Sumatera Utara, NTB, tidak sedikit orang NU adalah orang Perti, al-Washliyah, al-Khairat, DDI, Nahdlatul Wathan. Satu orang aktif di dua organisasi sosial keagamaan sekaligus. Bahkan, ada orang NU yang menjadi aktivis Muhammadiyah, Lasykar Jihad, FPI, dan Hizbut Tahrir. Ini betapa cair dan dinamisnya organisasi sosial keagamaan di Indonesia, yang sekaligus juga menandai betapa sulitnya membuat identifikasi dan kategorisasi berdasarkan organisasi keagamaan.

Ragam gerakan dan pemikiran tersebut secara makro dan simplistis dapat dikategorikan menjadi dua saja, yakni, Pertama, Islam yang orientasi perjuangan dan cita-cita sosialnya menjunjung tinggi keluruhan Islam dan kaum muslimin (’izzul Islâm wal Muslimîn), yakni “Islam Eksklusif”. Yang masuk dalam kategori ini secara umum adalah organisasi DDII, LDII, FPI, MMI, HTI, Persis, dan sebagian orang Muhammadiyah. Kedua, Islam yang berorientasi pada kerahmatan semesta (rahmatan lil ‘âlamîn), yakni “Islam Inklusif”. Masuk dalam kategori inklusif secara umum adalah organisasi NU, orang-orang (bukan keorganisasiannya) Muhammadiyyah, al-Washliyyah, Perti, al-Khairat, dan Nahdlatul Wathan.

Pertanyaannya adalah, di mana posisi PMII di tengah pergumulan pemikiran dan gerakan Islam Indonesia? untuk menjawab pertanyaan tersebut, dapat ditelisik dari akar kesejarahannya, ideologi gerakannya, komunitasnya, dan segala performance yang melekat pada organisasi ini dan orang-orangnya. Di sini saya tidak akan memberikan stigma dan kategorisasi apapun kepada PMII. Karena hanya PMII-lah yang sejatinya tahu akan jati dirinya. Yang terpenting adalah bagaimana PMII tetap menjaga komitmennya sebagai organisasi yang berbasis akademik, berbasis keislaman, dan keindonesiaan, yang secara dinamis terus dikontekstualisasikan dalam dimensi kekinian dan keakanan, untuk sebesar-besarnya kepentingan masyarakat, bangsa, agama dan kemanusiaan.

Wallahul Muwaffiq Ilaa Aqwamith Thoriq

*Penulis adalah Ketua III Pengurus Koordinator Cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PKC PMII) Jawa Timur asal Sumenep yang sekarang bermukim di Palengaan, Pamekasan, Madura.
Share:

Innalillahi! Dr. Umar Abdullah Kamil Berpulang ke Ramatullah

Pasti Aswaja – Belum genap dua pekan dunia Islam digemparkan dengan wafatnya ulama Ahlussunnah, Dr. Wahbah Zuhayli. Tadi malam, Rabu, 19/8 kembali Ahlussunnah kehilangan ulama besar, Dr. Umar Abdullah Kamil di usia 63 tahun. Beliau adalah Doktor kebanggaan Universitas Al-Azhar, Mesir di bidang Syari’ah dan Ushul Fiqih .

Dr. Umar Abdullah Kamil lahir di Mekah pada tahun 1952, Beliau sangat aktif membela akidah ahlussunnah melalui karya-karyanya

Jenazah akan di shalati bersama jamaah Shalat Dzuhur Masjid Nabawi siang ini Kamis 20/8/2015.

Ila hadlratin Nabi Shallallahu alayhi wa sallam wa ila ruhi, Ad-Duktur Umar Abdullah Kamil . AL FATIHAH…!

Berikut daftar karya beliau dalam bahasa Arab

التحذير من المجازفة في التكفير :

نقض قواعد التشبيه :

تهذيب واختصار شروح السنوسية (أم البراهين) :

بيان خطأ التقسيم الثلاثي للتوحيد :

المسائل الخلافية بين الأشاعرة والماتريدية :

ارتباط علم المنطق بعلم الكلام :

شرح أركان الإيمان لأمة الإسلام من منظومة عقيدة العوام 

إحكام الأحكام :

جداول الفقه الموازي (المقارن) على المذاهب الأربعة :

تهذيب شروح الزبد في الفقه الشافعي :

معين الألباب في شرح الكتاب (مختصر القدوري) في الفقه الحنفي :

تسهيل الطرقات شرح متن الورقات في أصول الفقه :

البلسم المريح من شفاء القلب الجريح (شرح لبردة الإمام البوصيري) :

التصوف بين الإفراط والتفريط :

طريق المساكين إلى مرضاة رب العالمين :

المتطرفون خوارج العصر (قدم له د. يوسف القرضاوي) :

سلسلة مفاهيم يجب أن تصحح الجزء الأول، كلمة هادئة في:

الحياة البرزخية.

التوسل.

الاستغاثة.

أحكام القبور.

الزيارة وشد الرحال.

التبرك.

البدعة.

الترك لا ينتج حكما للشريف/ عبدالله فراج العبدلي

الاحتفال بالمولد.

حديث لا تطروني. :

سلسلة مفاهيم يجب أن تصحح الجزء الثاني، كلمة هادئة في:

آداب الحوار والاختلاف.

التصوف بين الإفراط والتفريط.

التنزيه.

المجاز.

حديث افتراق الأمة.

حديث الجارية.

حقوق غير المسلمين.

فهم السلف للأحاديث الموهمة للتشبيه.

التطرف طريق الإرهاب.

نجاة الأبوين. :

التوسل بين الكتاب والسنة وأفعال الأمة :

السعودية تحديات وآفاق :

الذخائر المحمدية بين المؤيدين والمعارضين :

فريضة الحوار :

كفى تفريقا للأمة باسم السلف
مناقشة لكتاب سفر الحوالي نقد منهج الأشاعرة في العقيدة :

لا ذرائع لهدم آثار النبوة :

مبدآن هدامان :

ظاهرة الغلو وانعكاساتها على المناهج التعليمية :

آداب الحوار وقواعد الاختلاف :

كتاب اقتصاد

الآفاق المستقبلية للاقتصاد السعودي :

الآفاق المستقبلية للاقتصاد السوري :

الاندماج المصرفي والتحديات التي تواجه البنوك العربية :

الاقتصاد العالمي على حافة أزمة مصرفية عالمية :

التأمين المعاصر ومدى شرعيته إسلاميا :

كورس التمويل الإسلامي :

السوق العربية المشتركة السياج الواقي للاقتصاد العربي :

الصناعات البتروكيماوية العربية ومعوقات تسويقها :

العولمة وتأثيرها على العمل المصرفي الإسلامي :

نحو اقتصاد فقهي حول النقود والأسواق المالية :

برامج الإصلاح الاقتصادي في الدول العربية الإيجابيات والسلبيات :

12. برنامج للغد دراسات مستقبلية في الاقتصاد السعودي :

حول اتفاقية الجات رسالة للعرب قبل أن تقع الواقعة :

كتاب رسائل ماجستير ودكتوراه

القواعد الفقهية الكبرى وأثرها في المعاملات المالية
(رسالة لنيل الدكتوراه في كلية الدراسات العربية والإسلامية بجامعة الأزهر الشريف) :

النظرة الوسطى لبعض القضايا الاقتصادية المعاصرة
(رسالة لنيل الدكتوراه في الاقتصاد الإسلامي من جامعة ويلز – المملكة المتحدة) :

كتاب مؤلفات حول العلمانية

الإسلام في مواجهة العلمنة :

دفاع عن الرسول والصحابة عما جاء في افتراءات صاحب شدو الربابه :

قراءة نقدية في فكر محمد سعيد عشماوي والرد على افتراءاته :

كتاب أخرى متنوعة

مذكرة في تيسير المنطق :-

دائرة الفتنة وسبل الخروج منها :

قراءة في فكر ونبض إسرائيل عن السلام :

دور الوحي في بناء الحضارة الإسلامية :

الأدلة الباهرة على نفي البغضاء بين الصحابة والعترة الطاهرة :

رسالة إلى إخواننا الشيعة الإمامية (تعالوا إلى كلمة سواء بيننا وبينكم) :

(santri.net)
Share:

Kiprah Islam Nusantara dalam Kemerdekaan Indonesia

Oleh: Muhammad Zidni Nafi’*

Dari hari ke hari wacana Islam Nusantara telah yang diangkat menjadi tema Muktamar ke-33 Nahdlatul Ulama (NU) awal Agustus 2015 lalu terus mendapat perhatian berbagai kalangan, mulai diskusi kecil di warung kopi, ruang akademis hingga pejabat pemerintahan pun tak mau ketinggalan. Islam Nusantara bak artis sedang  naik daun lantaran pemberitaannya di berbagai media entertain yang biasa meng‘gosip’kan sesuatu yang banyak mengundang pro dan kontra. Tulisan ini bukan untuk memperuncing perdebatan, namun hendak menyampaikan suatu gagasan yang berangkat fakta sejarah bagaimana kiprah Islam Nusantara ikut serta dalam meraih kemerdekaan Indonesia yang diproklamirkan pada 17 Agustus 1945.

Kini sudah 70 tahun masyarakat Indonesia merayakan kemerdekaannya. Tiada kekuatan tunggal dalam merebut kemerdekaan tersebut. Segenap masyarakat pribumi saling kerjasama berjibaku melawan kolonialisme. Dari sekian kekuatan, gerakan Islam Nusantara pada waktu itu menjadi salah satu entitas yang tidak bisa dianggap sepele, dan sangat disayangkan apabila sampai tidak tercatat di dalam sejarah Nusantara yang kini sebagian besar wilayahnya dikenal menjadi Indonesia.

Produk Baru dalam Fakta Sejarah

Istilah 'Islam Nusantara' diakui ataupun tidak merupakan produk baru namun subtansinya sudah ada sejak masuk ke Nusantara. Dalam konteks ini mempunyai mata rantai dengan hasil riset KH Hasyim Asyari yang kemudian mencetuskan terma 'muslimul aqtharil jawiyyah' (masyarakat Islam Jawa dan sekitarnya) pada 1912 M. Memilih terma 'Islam Nusantara' agar masyarakat Muslim Indonesia lebih nyaman dan mudah memahami dibanding menyebut 'Islam Negeri Jawa'. Meskipun di era lampau penyebutan kata 'Jawa' itu bermaksud menunjuk teritorial Asia Tenggara di era kini namun faktanya hanya segelintir orang yang mengetahui hal tersebut.

Kalimat 'muslimul aqtharil jawiyyah' yang dipopulerkan KH Hasyim Asyari seratus tahun lalu adalah gambaran mayoritas Muslim dalam berpikir dan bertindak (manhajan wa ibadatan). Istilah 'muslimul aqtharil jawiyyah' menembus 14 abad. Sebab kalimat 'muslimul aqtharil jawiyyah' itu implementasi dari nash syariah, 'sawadul a'dham' (corak Muslim mayoritas) yang disabdakan oleh Rasulullah Saw. dalam sebuah hadist yang diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi.

Begitu juga term 'muslimul aqtharil jawiyyah' sebagai implementasi atas teks suci tersebut yang dikreasi oleh KH Hasyim Asyari 14 abad setelah term ‘sawadul a'dham’. Sedangkan NU memperkenalkan 'Islam Nusantara' seratus tahun setelah KH Hasyim Asyari memperkenalkan terma 'muslimul aqtharil jawiyyah'. Semua itu dirancang, dikreasikan, diwujudkan, diciptakan dan bukan tumbuh secara spontan (Sulton Fatoni, 2015).

Dari situ dapat dipahami bahwa Islam Nusantara dalam masa kolonial saat itu merupakan mayoritas umat Islam di Nusantara dengan berbagai macam elemen yang bersatu padu untuk meraih kemerdekaan. Fakta sejarah Islam Nusantara dalam tulisan ini diharapkan sedikit atau banyak dapat diaktualisasikan dalam konteks kekinian, dimana bangsa ini sedang membutuhkan ‘angin segar’ untuk mengarungi masa kemerdekaannya.

Islam Nusantara dan Nasionalisme

Sudah tidak menjadi rahasia umum lagi bahwa konsep Islam Nusantara merupakan karakterisktik Wali Songo dalam membumikan Islam di kepulauan Nusantara. Wali Songo sebagai aktor utama yang hingga kini diteruskan oleh ulama Nusantara telah berhasil melakukan dialektika antara teks ajaran Islam dengan realita budaya lokal setempat. Tentu hadirnya Islam Nusantara tidak berniat untuk menggerogoti supaya Islam menjadi rapuh, justru Islam Nusantara hendak melahirkan, membentuk hingga menguatkan kembali masyarakat agar tetap berbudaya dan taat beragama.

Sebagaimana kajian Islam Nusantara yang dikaji oleh Prof Dr KH Said Aqil Siroj (2015) menyebutkan bahwa Islam yang dikembangkan di Nusantara ini mempunya tiga pilar; (1) Ukhuwah Islamiyah; landasan teologis dalam menjalin persaudaraan tidak hanya dengan sesama Islam, juga agama atau kepercayan lain; (2) Ukhuwah Wathaniyah; landasan persaudaraan antar bangsa sebagai dimensi nasionalisme religius –bermula dari doktrin hubbul wathan minal iman (cinta bangsa sebagian dari iman)— yakni nasionalisme yang disinari dan disemangati agama. Selain itu, sikap nasionalisme yang muncul menjadi sebuah gerakan lantaran masyarakat mengalami nasib serupa dalam upaya meraih kehidupan yang sejahtera, bebas dan aman dari pengaruh kolonialisme; lebih lanjut, kedua pilar tersebut dapat ditingkat sampai pada (3) Ukhuwah Insaniyah; sebagai dimensi paling tinggi yang menjalin persaudaraan kemanusiaan universal.

Abdurrrahman Wahid (Gus Dur) dalam “Pribumisasi Islam” yang ia populerkan juga menekankan nilai dasar ajaran Islam (Weltanschauung Islam) dalam tiga bagian; persamaan, keadilan dan demokrasi. Ketiga ini diejawantahkan dalam sikap keislaman, kebangsaan dan kemanusiaan. Itulah kenapa ada agenda prioritas dimana Gus Dur mengajak untuk menciptakan kesadaran masyarakat tentang apa yang harus dilakukan umat Islam dalam bangsa Indonesia majmuk ini. Dengan kata lain, nasionalisme umat Islam di Indonesia harus beriringan dengan menjalin dan menjaga hubungan dengan setiap unsur bangsa. Bukan malah mengaktualisasikan spirit Islam guna mengagendakan pertumpahan darah seperti yang kini dialami oleh sebagian negara-negara Timur Tengah.

Pesantren Mengambil Alih Basis Perlawanan

Sejak Maret 1602, pada saat Belanda mendirikan serikat dagang VOC (Verenigde Oostindische Compagnie), salah satu gerakannya yakni memonopoli perdagangan rempah-rempah di kawasan Nusantara pada kala itu berbuntut pada perlawanan-perlawanan yang dilakukan oleh kerajaan yang ada di Nusantara misalnya Kerajaan Banten dan Kerajaan Mataram. Namun kiprah kerajaan tersebut tidak berlangsung lama. Pihak VOC berhasil mengajak ‘damai’ pihak kerajaan dalam upaya mengelola hasil bumi Nusantara. Sehingga kemelut VOC dengan pribumi khususnya di Jawa meletus ditandai dengan Perang Jawa yang dikomandoi oleh Pangeran Diponegoro salah satu anak Sultan Hamengkubuwono III yang keluar dari istana kerajaan untuk menghimpun kekuatan masyarakat di luar kerajaan.

Karenanya, upaya  protes dan inisiatif perlawanan mulai diambil alih oleh kalangan luar istana dengan subjek yang memiliki latar belakang sebagai pemuka lokal, orang biasa, dan para pemuka agama. Dengana adanya kecenderungan ini maka di daerah Jawa Tengah dan Jawa Timur, beberapa kawasan Jawa Barat dan Batavia mulai bermunculan gerakan-gerakan tradisional yang berusaha untuk melakukan perubahan dan perlawanan. 

Dalam konteks inilah, institusi pesantren sebagai lembaga pendidikan tradisional Islam di Jawa, memiliki peran yang sangat penting dalam membangun gerakan yang bersifat messianistik. Oleh karenanya, Belanda sangat mencurigai keberadaan pesantren dan tarekat sebagai tempat dalam mendukung dan melakukan pembentukan unitas kemasyarakatan dan tempat konsentrasi dalam menanamkan rasa kebencian dan permusuhan  terhadap pemerintah kolonial  Hindia Belanda.

Pesantren tidak hanya sekedar menjadi tempat pendidikan, melainkan juga menjadi tempat penanaman para kader dan pemimpin agama yang pada kelanjutannya sanggup mempengaruhi serta memimpin beberapa gerakan perlawanan terhadap kolonial (Zainul Milal Bizawie, 2014: 53-55). 

Sebagai subjek vital dalam menjaga, mengembangkan dan melestarikan budaya lokal, pesantren mampu mendialogkan dengan ajaran Islam yang bertahan hingga dewasa ini, sehingga kreatifitas ijtihad ala Islam (di) Nusantara tersebut tidak sebatas membangun romantisme agama dan budaya yang melahirkan gerakan perlawanan kultural, namun juga mengkristal menjadi spirit membela bangsa sebagaimana ditunjukkan oleh ulama pesantren.

Ulama: Garda Depan

Semenjak kolonial masuk pada akhir abad 16, sebagian besar wilayah Nusantara telah memeluk Islam berkat prestasi Wali Songo dengan metode dakwah yang persuasif. Usai periode Wali Songo berakhir, mulai bermunculan ulama yang bersamaan dengan masuknya kolonialisme di Nusantara. Sehingga proses yang begitu panjang mereka bisa mengadakan hubungan dengan kerajaan-kerajaan yang ada di Timur Tengah, praktis terbentuklah jaringan ulama Timur Tengah pada abad 17-18 yang dipelopori oleh Syekh Abdul Rauf Al-Sinkili  dan Syekh Nuruddin A-Raniri (w. 1068/1658), Syeikh Yusuf Al-Maqassari (w. 1111/1699), Syekh Abdus Shomad Al-Palimbani, Syekh Arsyad Al-Banjari. Dakwah dan penyebaran ilmu ulama ini sangat dengan karakteristik sufisme. Lebih hebatnya, mereka juga mengajarkan kepada murid beserta masyarakatnya untuk terlibat jihad melawan Belanda pada saat itu (Azyumardi Azra, 2004).

Para ulama pada abad 19 seperti Pangeran Diponegoro, Kiai Maja, Imam Bonjol, ulama-ulama gerakan Paderi, Syekh Nawawi Al-Bantani, dan lain-lain. Milal Bizawie (2014: 61) menyebutkan peranan ulama pada abad ini tidak bisa dilepas dalam upaya membebaskan negeri dari penjajahan. Para ulama memiliki minimal dua peran, yaitu sebagai pengajar, pemikir maupun pembaharu, juga sebagai panglima atau pemimpin perang melawan imperialisme Barat. Peran-peran inilah menjadi ciri khas keberadaaan jaringan ulama pada sekitar abad 19.

Perlawanan kultural dan peperangan yang dipimpin kiai-kiai pesantren juga masih konsisten pada abad 20 melawan kolonialisme Belanda, juga Jepang masuk menggantikan Belanda. Terbukti terbentuknya Laskar Hizbullah pada tahun 1944 yang berisikan kiai-santri yang bergabung sebagai tentara PETA (Pembela Tanah Air). Peran kiai –sebagaimana dikutip Ali Maschan Moesa— dalam perang kemerdekaan tidak hanya dalam laskar Hizbullah-Sabilillah saja, tetapi banyak di antara mereka menjadi komandan dan anggota tentara PETA (Gugun Al-Guyanie, 2012: 35).

Laskar ulama-santri yang tergabung dalam tentara Hizbullah-Sabilillah mengawal sampai Proklamasi kemerdekaan Indonesia, bahkan menjadi subjek utama dalam Resolusi Jihad yang difatwakan pada 22 Oktober 1945 guna mempertahakan kemerdekaan Indonesia saat Belanda dan sekutunya melakukan agresi militer.

Inilah rangkaian bukti sejarah kiprah Islam Nusantara yang diwariskan oleh Wali Songo, lalu diteruskan ulama dan pesantren sebagai basisnya ikut serta menyumbangkan kekuatan untuk meraih kemerdekaan atas pengaruh kolonialisme selama berabad-abad yang mendiami bumi Nusantara ini.

Mengawal Kemerdekaan

Selain mempertahankan kemerdekaan, Islam Nusantara yang juga relevan dengan kondisi geopolitik dan geokultural global, saat ini pula perlu terus dilestarikan guna membentengi pengaruh asing maupun dalam negeri yang hendak memperkeruh suasana di Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Pengawalan kemerdekaan tersebut tentu tetap harus menunjukkan sikap berislam yang berbudaya luhur, ramah dan rukun antarsesama entis dan umat beragama. Juga, tidak berapi-berapi demi tegaknya simbol-simbol Islam yang tak bersubtansi kemaslahatannya.

Pekerjaan Rumah (PR) kita kali ini bagaimana Islam Nusantara terus mewarnai kemerdekaan Bangsa Indonesia yang sejati dengan berbagai khazanah yang diwariskan para pendahulu. Dari situ muncul pertanyaan, sejauh mana kecanggihan Islam Nusantara, khususnya para pegiatnya untuk menjawab kebutuhan masyarakat global akan perdamaian dan kesejahteraan dalam berbagai bidang menjadi tantangan ke depan?
Penulis adalah santri alumni Ma’had Qudsiyyah Kudus, aktivis CSSMORA dan PMII Rayon Ushuluddin UIN Sunan Gunung Djati Bandung.
Dimuat di NU Online (17/08/2015).

Share:

Home Style

Contact Form

Name

Email *

Message *

Ads

Ads

Latest News

Popular Posts

Blog Archive