• Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer

Pasti Aswaja's Content

Debat Murid Abuya Al-Maliki Tentang "Kesesatan" Gus Dur dan Kang Said

 on Wednesday, August 19, 2015  


Pasti Aswaja Seorang laskar Front Pembela Islam (FPI) asal Madura bernama Saifuddin Surur mengunggah sebuah foto Abuya al-Maliki yang menggandeng tangan Gus Dur dan KH. Said Aqil Siraj atau yang sering dipanggil Kang Said dengan membubuhi caption berikut ini:

"Foto ini adalah kampanye yang sengaja disebarkan oleh kelompok liberal, supaya ada kesan dan penilaian dari publik bahwa pemikiran guru besar kita Abuya Sayyid Muhammad Alawy Al-maliky sama dengan pemikirin kedua orang ini yang ada di sampingnya. Setidak-tidaknya supaya ada opini bahwa Abuya tidak mempermasalahkan pemikiran orang-orang ini. Saya katakan: Demi Alloh tidak! sekali lagi TIDAK! Pemikiran Abuya sangat bertolak belakang dengan pemikiran orang-orang ini dan Abuya sangat ingkar terhadap pemikiran orang ini."

Lalu disambut oleh salah satu murid Abuya Sayyid Muhammad Alawi al-Maliki yang angkat bicara. Beliau adalah kyai asal Madura, KH. Ahmad Madzkur Awab. Berikut adalah percakapan dalam kolom komentar:

"Jangan menyesatkan orang, ingat term ‘sesat’ bahaya. Jangan sekali-kali menyesatkan orang alim, apalagi beliau sudah sama-sama wafat. Kta belum punya barometer dan standard kuat di hadapan Allah Swt. atau di hadapan makhluk untuk dapat dipertanggungjawabkan, utamanya vonis sesat. Apalagi rahmat dan maghfirah Allah Swt. bukan hak kapling kita. Hati-hati, saya masih belum berani masuk dalam ranah perogratif Allah Swt. Dan saya al-faqir yang berguru langsung pada Abuya Allah Yarhamuh tidak yakin beliau menyesatkan Gus Dur. Hati-hatilah menulis."

Kyai Madzkur melanjutkan: "Ingat, bukan tugas kita menjadi hakim antara kedua orang yang alim ini. Kiprah dan jasa mereka utamanya di bidang sosial dan pada kaum Muslimin hususnya lebih banyak dari kita yang hanya pengais rejeki amplop seperti saya. Saya tidak berani memvonis ‘sesat' karena ini final banget dan menjadi titik pemisah antara Muslim dan Kafir. Daging para ulama sangat beracun. Saya barii'.
اللهم إني بريء منهم وثبتني على الهدى وسداد الخطا

Dijawab oleh Saifuddin Surur: "Hanya orang sesat yang tidak berani menyesetkn orang sesat karena sama-sama sesat. Saya berani mubahalah bahwa pemikiran kedua orang itu berbahaya. Dan saya lepas diri dari pemikirannya yang menyesatkan."

Kyai Ahmad Madzkur Awab menegaskan: "Gus Dur tidak sesat TITIK!!! Allah Yarhamuh."

Saifuddin Surur: "Habib Rizieq dzurriyah utusan Allah: "Dia sesat, buta hatinya dll." LEBIH TITIK.....!!!! Seribu titik!!!

Ahmad Madzkur Awab: "Kok situ kayak Ahmadiyah? Atau kamu Kong Hucu? Kita belum tentu husnul khatimah. Pun belum tentu kita menyesatkan orang lain -apalagi sudah wafat- dalam keadaan yang lebih utama dari yang disesatkan."

Saifuddin Surur: "Tak ada cara berhusnudzan pada pemikiran yang dhalal yang sudah menyebar kefasadannya."

Ahmad Madzkur Awab: "Coba apa kedhalalan Gus Dur, Fud. Apa bisa dipertanggungjawabkan ben be'en? (Madura. Oleh kamu. Red.)”

Saifuddin Surur: "Buannyakkkkkkk..."

Ahmad Madzkur Awab: "Sengak jek ngaplingan soargeh, kenga'ih bidayanah, hajjaj kejjem tapeh pangaporanah pangiran padeh tak ning tambha' dulih atobet kakeh afateha sengak Gus Dur wafat lah, Allah Yarhamuh rahmatan wasi'ah. Polanah ta'yiin jia sangat privatif pada beliau  (Madura. Hati-hati jangan mengkapling sorga, ingat bidayah, Hajjaj kejam, tapi pengampunan Tuhan tidak bisa dibendung. Segeralah kamu bertobat, kirim fatihah untuk Gus Dur. Karena ta'yiin itu sangat privatif. Red.) Kalau membahas pemikiran liberal secara umum ya itu majlis ilmiy, tapi kalau vonis-memvonis saya tak berani, bahaya itu sy gik level mabhe (Madura. Masih level bawah. Red.).”
Saifuddin Surur: "Kita doakn semoga Gus Dur diampuni dosanya dan mati dalam Islam. Tapi untuk pemikirannya yang sudah berkembang di masyarakat wajib kita hantam."

Ahmad Madzkur Awab: "Awas statusmu ada pengeklaiman. Wijhat nadzar bisa beda tapi kamu sudah main klaim layaknya kitab Hiwar yang mendhalalkan Abuya Sayyid Muhammad oleh Sulaiman bin Mani'. Lebih baik kita bebicara isu liberalnya tanpa mencatut nama, apalagi wafat. Dan kiprahnya belum tentu kita lebih banyak berbuat daripada beliau. Sengak-sengak dhuweh parajeh ka Allah Swt. polanah kok ben be'en padeh andhi' potoh (Madura. Hati-hati, berdoa minta ampun kepada Allah Swt., karena saya dan kamu sama-sama punya keturunan. Red.).”

Komentator lain dengan nama akun Bindara Saod Pangabdirakjat, turut angkat bicara: "Orang yang paling sesat adalah orang yang suka menyesat-nyesatkan orang lain dan tidak sadar bahwa dirinya juga punya kemungkinan sesat. Dhalla sa'yuhum fil hayatiddunyaa wahum yahsabuna annahum yuhsinuna shun'aa."

Saifuddin Surur: "Lebih tepatnya ayat itu diarahkan pada kaum liberal dan kaum pendukung aliran sesat.
الَّذِينَ ضَلَّ سَعْيُهُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ يَحْسَبُونَ أَنَّهُمْ يُحْسِنُونَ صُنْعًا
فقال " الذين ضل سعيهم" في الحياة الدنيا " أي عملوا أعمالا باطلة على غير شريعة مشروعة مرضية مقبولة وهم يحسبون أنهم يحسنون صنعًا " أي يعتقدون أنهم على شيء وأنهم مقبولون محبوبون.
Perbuatannya melenceng dari syariat mardliyah. Apakah mereka tidak sesat!?"

Bindara Saod Pangabdirakjat: "Saat ayat itu turun tidak ada yang namanya liberal, Syiah, dan Ahmadiyah. Itu ayat peringatan buat semuanya. Hati-hati dalam kehidupan lebih baik. Orang lain akan simpatik jika ulama berperilaku wara', tidak menjelekkan golongan lain. Memahami nash itu harus kontekstual. Hadits tentang kencing ‘syarriqu aw gharribu’ harus dimaknai utara dan selatan dalam konteks letak geografis Indonesia. Anda perlu belajar tentang kaidah fiqih. Di surat at-Taubah ada ayat ‘faqtulul musyrikiina haytsu wajadtumuhum’, sebagai pengamal nash secara serampangan berapa orang yang sdh anda bunuh? Kalau belum apa-apa dan masih takut sama polisi mending diam saja deh."

Ahmad Madzkur Awab: "Yang jelas jangan mengutip al-Quran jika itu pemvonisan dhalal yang masih belum defenitif dengan ayat. Istilah "العبرة" Si Fud itu sifatnya hanya efek hukum bukan pada pemvonisan Gus Dur Allah Yarhamuh. Pemvonisan Gus Dur sesat tidak pas dengan mafhum ayat di atas baik secara inplisit ataupun explisit. Bahkan secara efekpun ayat itu tidak saklek dan syncron dengan status dan beberapa komen yang menyatakan dhalal pada Gus Dur.

Contoh kecil saja, Syaikh M. Said Ramadhan al-Buthi menurut sebagian kita dia membela rezim Basyar. Padahal beliau punya alasan yang kuat dan sesuai dengan sikon yang beliau geluti. Dan mohon kita jangan gegabah. Kita hanya sibuk menyalahkan orang dengan beban tanggung jawab sosial yang hanya sektoral atau sekelas kiai kacangan dan sikon budaya dan adat yang sangat terbatas sekali. Sehingga mafsadah mashlahah hanya berkurat di itu-itu saja. Ingat kaliber Gus Dur bukan kiai kacangan seperti kita yang hanya ngurus desa-desa pelosok. Semua punya wijhat nadzar. Hati-hati memakai ayat. Dan Partai manapun saya pribadi tidak suka jika mencatut ayat yang pada akhirnya hanya dibuat 'nyareh gengan' (Madur. Mencari sayur. Red.) alias insentif politik melalui kebijakan-kebijakan yang hanya spj rampung. Ingat-ingat ujian dan peliknya masalah negara dan Indonesia tak semudah ketika kita hanya ngurusi desa saja."

"Sejarah kuat bahwa dimasa sahabat saja sudah tergiur dengan dunia apalagi zaman sekarang. Di zaman sahabat saja Sayyidina Ali Kw. dan Sayyidina Mu'awiyah Ra. sudah saling 'syatm' dan misuh-misuh dengan kalimat "ya 'aduwwallah". Ingat, kemurnian dan kemulusan dakwah di zaman ini sulit untuk dibersihkan dari intres pribadi dan golongan. Kita hanya mendukung kemaslahatan dan keamanan, baik maslahat umum dan khusus bagi kita Muslimin. Masalah menghakimi dengan nada yang spesifik dan takyiin dhalal saya belum bisa jika itu bukan kufur bawwaahan."

Saifuddin Surur: "Situ masih belum paham komen di atas, yang mengutip ayat dulu siapa? Mungkin kiai yang nyareh gengan zitu, Kur...?! Hehe. Suatu kesalahan besar jika yang membawa kesesatan adalah orang yang masyhur lalu kita membiarkan bahkan disuruh husnudzan padanya padahal bahanya sudah menyebar ke masyarakat. Ingat, diamnya kita akan memunculkan penilaian di masyarakat bahwa pemikiran mereka benar. Saya katakan: "Pemikiran Nur Cholis Majid, Ulil, Gus Dur, Nuril, Said Aqil adalah sesat dan menyesatkan!!!! Wajib dihadang dan wajib ditantang."

Ahmad Madzkur Awab: "Yang jelas kompleksitas yang dihadapi mereka tidak sama dengan masalah kita, tekanan dan ukuran maslahah mafsadah juga jauh beda dengan yang dihadapi kita. Kalau Kiai Said Aqil Siraj terus terang saya TIDAK BERANI menyatakan BELIAU sesat. Kalau selain saya silakan. Tapi ingat, setiap iktikad dan apalagi pemvonisan sangat besar tanggungjawabnya."

Bindara Saod Pangabdirakjat:"Orang yang bilang sesat sama orang lain itu hanya ngukur kebenaran berdasarkan yang ada dalam otaknya. Merasa benar sendiri, kemudian memprovokasi orang-orang di sekitarnya. Biasanya dibumbui dengan kata "bahaya, zionis, amerika, antek, liberal, syiah, JIL, awas, iluminati, freemason, dan kata aneh gak nyambung lainnya".

Disadur dari padhang-mbulan.org dengan perubahan seperlunya

Debat Murid Abuya Al-Maliki Tentang "Kesesatan" Gus Dur dan Kang Said 4.5 5 Pasti Aswaja Wednesday, August 19, 2015 Pasti Aswaja – Seorang laskar Front Pembela Islam (FPI) asal Madura bernama Saifuddin Surur mengunggah sebuah foto Abuya al-Maliki y...


1 comment:

  1. Ukuran kesesatan itu bukan didalam otak mulai bukan didalam hati ,tapi ukurannya adalah alquran! Kalau gusdur,nurkholis,saidi agil,ulil cs,saya naik saksi bahwa pemikiran yg mereka promosikan melenceng dari alquran,dan wajib diperangi pemikirannya,dan wajib dirangkul dan dinasehati org nya,karena mereka saudara atas nama islam

    ReplyDelete

Pasti Aswaja. Powered by Blogger.
J-Theme