Saturday, August 15, 2015

Empat Nasehat Syaikh Ahmad Khatib Sambas, Pemersatu Tarekat Qadiriyah dan Naqsabandiyah

Oleh Imam Qusyairi an-Nafaiz

Asy-Syaikh Ahmad Khatib Sambas, begitu ia dikenal, adalah tokoh sufi tanah air yang mempersatukan tarekat Qadiriyah dan Naqsabandiyah.

Beliau dilahirkan di kampung Dagang, Sambas, Kalimantan Barat, pada Shafar 1217 H (1803 M). Ayah beliau bernama Andul Ghaffar bin Abdullah bin Muhammad bin Jalaluddin. Sejak kecil Ahmad Khatib Sambas diasuh oleh pamannya yang terkenal sangat alim dan wara' di wilayah tersebut. Ahmad Khatib Sambas menghabiskan masa remajanya untuk mempelajari ilmu-ilmu agama. Beliau berguru dari satu guru ke guru lainnya di wilayah kesultanan Sambas. Salah satu gurunya yang terkenal di wilayah tersebut adalah H. Nuruddin Musthafa, imam masjid jami' di kesultanan Sambas.

Hingga saat ini ajaran Syaikh Ahmad Khatib Sambas dapat dikenali dari karyanya yang bertajuk Fathul Arifin yang merupakan notulensi dari ceramah-ceramahnya yang ditulis oleh salah seorang muridnya, Muhammad Ismail bin Abdurrahim. Notulensi ini dibukukan di Makkah pada tahun 1295 H. Kitab ini memuat tentang tata cara bai'at, talqin, dzikir, muqarrabah, dan silsilah tarekat Qadiriyah wan Naqsabandiyah.

Hingga saat ini, buku tersebut masih dijadikan pegangan oleh para mursyid dan pengikut tarekat Qadiriyah wan Naqsabandiyah untuk melaksanakan prosesi suluk mereka. Dengan demikian, maka tentu saja nama Syaikh Ahmad Khatib Sambas selalu dikenang dan dipanjatkan dalam setiap doa dan munajat para pengikut tarekat ini.

Beliau mempunyai pandangan filosofi yang sangat humanis mengenai hubungan kemasyarakatan, baik dengam sesama muslim maupun dengan yang bukan muslim. Pandangan filosofis beliau dapat dilihat dari beberapa poin berikut:

Satu, harus rukun dan saling menghargai terhadap orang-orang yang kedudukanya lebih tinggi, baik secara lahir maupun secara batin.

Dua, bersikap rendah hati terhadap orang-orang sederajat serta saling bergotong-royong dengan mereka dalam menjalankan perintah agama dan negara.

Tiga, bersikap lemah lembut dan penuh kasih sayang terhadap mereka yang derajatnya ada di bawah kita.

Empat, bersikap ramah, manis budi, murah hati, serta menyayangi terhadap mereka yang miskin dan kekurangan.

Abdullah Mirdad Abul Khair menyebutkan bahwa Syaikh Ahmad Khatib Sambas wafat pada 1280 H (kira-kira bersamaan 1863 M), namun menurut Umar Abdul Jabbar, beliau wafat pada 1289 H.

Dimuat di Istinbat edisi 219 J. Ula 1434.
Share:

1 comment:

  1. Nafak tilas perjalanan saya ke kampung dagang kesurau lama tempat khatif Sambas sholalt klau pulang dari mekah jais

    ReplyDelete

Home Style

Contact Form

Name

Email *

Message *

Ads

Ads

Latest News

Popular Posts

Blog Archive