Sunday, August 9, 2015

Ketawadlu'an Mbah Sahal Mahfudh


Pasti Aswaja – Muktamar NU, di Yogyakarta, 1989. DR. KH. Muhammad Ahmad Sahal Mahfudh (Mbah Sahal) dengan penampilannya yang (sangat) sederhana mau memasuki gedung acara. Beliau, seperti biasa, datang tepat waktu bahkan sebelum acara dimulai.

Sebelumnya, Banser yang menjadi penjaga gedung telah dikasih kabar kalau Kiai Sahal bakal rawuh. Dalam bayangan Banser yang sama sekali belum pernah bertemu maestro Fiqh Sosial itu, Mbah Sahal adalah sosok kiai yang gagah, dikawal pendereknya, dan memakai sorban melilit kepala.

Begitu si Mbah Sahal rawuh dengan penampilannya yang bersahaja, Banser curiga, ini jelas tak sesuai ekspektasi dan bayangan mereka.

"Bapak siapa?"

"Saya Sahal."

Si Banser menatap lekat-lekat pria di depannya, dari ujung kaki hingga pucuk kepala. Kesimpulannya, pria di depannya ini bukan KH. Sahal Mahfudh. Wong kiai kok penampilannya nggak meyakinkan begitu.

"Oh, jadi begini, Pak. Mungkin Bapak bisa nunggu di luar gedung dulu ya, pak..." Si Banser ini bermaksud mengusir Mbah Sahal dengan halus.

Di dalam gedung, panitia ketar-ketir menunggu Mbah Sahal yang nggak juga tiba. Salah seorang panitia akhirnya bertanya ke Banser apakah ada pria bernama Sahal mau masuk. "Ya, kang. Ada, tadi. Orang biasa saja. Kayaknya bukan kiai. Wong nggak pakai sorban di kepalanya gitu."

"Aduh, mati aku." sahut panitia yang langsung melesat mencari Mbah Sahal di sekitar gedung dan menemukannya duduk santai bersama penjual dawet!

"Lha wong tadi nggak boleh masuk sama Banser dan diminta nunggu di sekitar gedung, ya wis. Saya manut sama Banser." jawab Mbah Sahal sambil tersenyum.
Share:

0 comments:

Post a Comment

Home Style

Contact Form

Name

Email *

Message *

Ads

Ads

Latest News

Popular Posts

Blog Archive