Thursday, August 13, 2015

Klarifikasi Ustadz Idrus Ramli Terhadap Tulisannya Yang Mengkritisi Kang Said

Pasti Aswaja – Kritikan Ust. H. Muhammad Idrus Ramli terhadap buku Ketua Umum (Ketum) Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) hasil Muktamar ke-33 Jombang, Prof. Dr. KH. Said Aqil Siradj, MA. (Kang Said), melalui tulisannya yang berjudul “Said Aqil Siroj dan Pembusukan NU Dari Dalam” ternyata bukan tanpa alasan, dan bukan karena “sakit hati” pasca terpilihnya Kang Said sebagai Ketum PBNU untuk kali kedua (baca juga : Ustadz Idrus Ramli Nilai Kang Said “Busukkan” NU Dari Dalam). Hal itu dikarenakan buku karangan Kang Said “Tasawuf Sebagai Kritik Sosial, Mengedepankan Islam Sebagai Inspirasi, Bukan Aspirasi” diterbitkan kembali oleh PBNU dan dibagikan ke banyak Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU).

“Tahun 2010 saya dan Gus Aab (Dr. KH. Abdullah Syamsul Arifin. Red.) dialog terbuka dengan SAS (Said Aqil Siradj. Red.) di Sidoarjo. Pada saat itu SAS mengaku bersalah dalam bukunya. Saya pikir dengan pengakuan tersebut, SAS tidak akan menerbitkan lagi bukunya atau melakukan revisi.” Tutur Dewan Pakar ASWAJA NU Center Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jatim ini seperti dilansir salah satu situs Aswaja An-Nahdliyah, www.muslimedianews.com (MMN).

Alumni Pesantren Sidogiri, Pasuruan, Jatim ini menyampaikan bahwa tulisan yang di-posting di akun facebooknya itu setelah ia ditelpon oleh Rais Syuriah PCNU Nganjuk, Jatim, KH. Ahmad Baghawi, yang merasa perihatin dengan isi buku tersebut. Begitu dikutip Pasti Aswaja dari laman MMN.

“Ternyata buku tersebut diterbitkan lagi tahun 2012 secara resmi oleh LTN PBNU. Akhir Mei (2015) kemarin saya ditelepon oleh KH Ahmad Baghawi, Rais Syuriyah PCNU Nganjuk, mengeluhkan buku tersebut yang dibagikan ke cabang-cabang secara gratis. Beliau merasa prihatin dengan isinya yang sesat, liberal dan kufur.” Ungkap Rais Syuriah PCNU Kencong, Jember, Jatim ini. “Akhirnya beliau saya sarankan agar lapor ke KH Miftahul Akhyar, Rais Syuriyah PWNU Jawa Timur. Ternyata tidak ada tanggapan dari KH Miftahul Akhyar.” Lanjut Gus Idrus (sapaan akrabnya).

Masih dari laman yang sama, Gus Idrus juga menceritakan bahwa Kiai Baghawi juga melaporkan penerbitan ulang buku itu kepada Pengasuh Pondok Pesantren Bumi Shalawat, Tulangan, Sidoarjo, Jatim, Prof. Dr. KH. Agoes Ali Masyhuri (Gus Ali), tapi tidak ada tanggapan.

“Kiai Baghawi cerita sempat lapor ke Gus Ali Tulangan, juga tidak ada respon.” Tuturnya.

Karena waktu itu mendekati Muktamar ke-33 NU, dengan beberapa pertimbangan Gus Idrus menunda untuk memposting tulisannya tersebut. Jadi tulisan itu bukan karena “sakit hati” pasca Muktamar.

“Akhirnya karena waktu itu menjelang muktamar, beberapa teman menghalangi saya untuk memberikan tanggapan terhadap bukunya SAS. Khawatir dianggap menjatuhkan.” Jelsanya. “Setelah muktamar saya tulis. Ini saya lakukan, karena tidak ada Kiai yang peduli.” Pungkas aktivis NU yang sering mengisi kegiatan-kegiatan ke-Aswaja-an ini. (ahn)
Share:

0 comments:

Post a Comment

Home Style

Contact Form

Name

Email *

Message *

Ads

Ads

Latest News

Popular Posts

Blog Archive