• Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer

Theme Support

Pasti Aswaja's Content

"Perbedaan" Fiqih Mbah Wahab Chasbullah dan Mbah Bisri Syansuri

 on Friday, August 14, 2015  


Pasti Aswaja – Para kiai selalu menjadi tumpuan masyarakat untuk menyelesaikan berbagai persoalannya, yang kadangkala unik dan perlu penyelesaian yang bijak tanpa meninggalkan kaidah agama. KH. Wahab Chasbullah pernah mengizinkan kurban sapi untuk berdelapan orang, padahal ketentuannya adalah kurban sapi maksimal untuk bertujuh. 

Kisah berikut bahkan melibatkan dua tokoh besar NU, berhadapan dengan masyarakat desa yang awam. Seorang warga desa berkeinginan untuk berkurban sapi. Persoalannya orang tersebut menginginkan agar kurban tersebut dapat diniatkan untuk delapan orang, bukan tujuh. 

Pertama-tama, warga tersebut mengunjungi kediaman KH. Bisri Syansuri di daerah Denanyar Jombang. Singkat cerita, ia mengutarakan maksudnya untuk berkurban sapi yang diniatkan untuk delapan orang. Tentu saja, Mbah Bisri yang sangat ketat menjaga kaidah fikih menolak permintaan itu. 

“Kalau kurban berdelapan, ya harus satu sapi ditambah satu kambing.” 

Orang kampung tentu punya logika berpikir sendiri, ia protes, karena dengan prinsip mangan ora mangan kumpul, ia berharap nanti di akhirat, sapi tersebut bisa menjadi kendaraan bagi seluruh anggota keluarganya.

“Bisa nggak kiai, kita korban satu sapi yang gemuk biar muat delapan orang, kan anak saya masih kecil-kecil. Masak ngak ada sapi yang muat delapan orang. Soalnya kalau satu sapi dan satu kambing, nanti kalau di oro-oro mahsyar ketlingsut, susah nanti carinya. Kita ingin masuk surga bareng-bareng.” 

Kiai Bisri dengan tegas menyatakan ngak bisa kurban sapi untuk berdelapan karena memang kaidah fikihnya begitu.

Singkat cerita, orang desa tersebut keukeuh dengan keinginannya dan tidak mau menerima saran dari Mbah Bisri. Karena tidak ada penyelesaian, ia lalu pulang.

Karena sudah mantap dengan niatnya, ia kemudian mendatangi kediaman KH. Wahab Chasbullah di daerah Tambak Beras Jombang. 

Di rumah Mbah Wahab, ia menceritakan maksudnya. 

“Saya ingin kurban satu sapi yang gemuk untuk delapan orang.”

Mbah Wahab pertama terteguh dengan permintaan tersebut, setelah berpikir sejenak, kemudian ia menjawab, “Ya nggak apa-apa, bisa buat berdelapan, sembelih kurbannya di sini saja.” 

Tapi ia masih ragu, “Kata Kiai Bisri nggak bisa kurban sapi  untuk berdelapan.” 

“Itu fikihnya Kiai Bisri, fikih di sini bisa,” jawab Mbah Wahab.

Kemudian Mbah Wahab bertanya, “Sekarang gini, anakmu umur berapa yang paling kecil.” 

“Baru usia tiga bulan Kiai,” jawab warga desa itu. 

“Gini, anakmu kan kecil, nah, tambah kambing satu untuk tangga supaya bisa buat ancik-ancik. Kalau nggak kamu tambahi kambing satu, nggak bisa naik, nanti malah ditinggal sapi. Nggak mlebu suwargo bareng.”

Bujukan MbahbWahab tersebut masuk di logika warga kampung tersebut, “Ya sudah nanti saya tambahin kambing satu yang gemuk, biar kuat buat ancik-ancik."

Akhirnya, ketemulah solusi yang diinginkan oleh warga desa tersebut, secara fikih tetap sah dan memuaskan keinginan warga desa tersebut.

Disadur dari NU Online

"Perbedaan" Fiqih Mbah Wahab Chasbullah dan Mbah Bisri Syansuri 4.5 5 Pasti Aswaja Friday, August 14, 2015 Pasti Aswaja –  Para kiai selalu menjadi tumpuan masyarakat untuk menyelesaikan berbagai persoalannya, yang kadangkala unik dan perlu ...


No comments:

Post a Comment

Pasti Aswaja. Powered by Blogger.
J-Theme