• Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer

Theme Support

Pasti Aswaja's Content

Refleksi Akhir Muktamar NU Dengan Akhir Perang Jammal

 on Sunday, August 9, 2015  

Oleh: H. Taufik, M.Pd.I*

Muqaddimah

Perang Jammal terjadi antara sahabat Ali di satu pihak dan Aisyah, Thalhah dan Zubeir di pihak lain. Perang ini termasuk perang yang langka, sebab istri Nabi (Aisyah) melawan menantu Nabi (Ali bin Abi Thalib) demi sebuah ijtihad yang mereka yakini sebagai sebuah kebenaran.

Saat peperangan terjadi begitu dahsyat dengan memakan waktu yang panjang dan menguras tenaga serta biaya yang tidak sedikit, sebab Aisyah bersama ribuan pasukannya berangkat dari Mekkah sedangkan Ali dan pasukannya berada di Kufah, Iraq.

Perang ini akhirnya terjadi begitu dahsyat hingga memakan waktu beberapa hari lamanya. Tak sedikit dari kedua pasukan yang wafat menjadi korban, bahkan menurut satu riwayat, korban akibat dari perang ini mencapai 10.000 ribu jiwa. Riwayat lain menyebutkan korbannya lebih dari 12 ribu jiwa yang rata-rata para huffadz.

Dinsaat kedua pihak sadar bahwa peperangan tidak ada gunanya dan kedua sahabat utama pendukung Aisyah sudah wafat (Thalhah dan Zubeir) yang di bunuh oleh orang tak di kenal, serta ditambah lagi prajurit Aisyah sudah banyak yang wafat, maka tiada jalan lain kecuai berdamai.

Diadakankah pertemuan antara Ali bin Abi Thalib dan Aisyah utk menyepakati sebuah deklarasi damai.

Ketika waktu pertemuan, denga penuh hormat, Ali menyambut Aisyah dengan riang seperti layaknya menantu menyambut mertua. Ali lalu menyuruh Muhammad bin Abu Bakar (saudara Aisyah) untuk menyiapkan perlengkapan dan bekal kepulangan Aisyah. Ali memeriksa sendiri dan dengan tangannya sendiri menyiapkan segala kebutuhan termasuk binatang tunggangan kepulangan Aisyah ke Madinah melalui jalur Mekkah.

Ali juga  menyertakan 40 wanita dari Bashrah untuk mendampingi Aisyah sekaligus mengizinkan pengawal Aisyah menyertai pula. Sesudah itu, Ali menemui Aisyah dan berkata:

“Assalamu Alaiki, wahai ibunda.”

“Alaikassalam, wahai putraku." Jawab Aisyah.

“Bagaimana keadaan mu?” Lanjut Ali.

“Baik.” Kata Aisyah.

“Semoga Allah mengampunimu.”

“Dan mengampuni juga.” Timpal Aisyah.

Dari riwayat di atas, sungguh kita melihat akhir yang baik dari sebuah peperangan yang sebelumnya dahsyat, menyesakkan, menyakitkan, hingga memakan korban lebih dari 10 ribu jiwa.

Refleksi Muktamar ke-33 NU di Jombang

Muktamar ke-33 Nahdlatul Ulama (NU) yang berlangsung mulai 01-05 Agustus di Jombang, Jawa Timur sejak awal begitu panas. Bursa kandidat ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) mulai menghangat, bahkan di awal sidang pembacaan tata tertib (tatib) sidang terjadi kericuhan hingga —menurut beberapa media memberitakan sampai terjadi— adu jotos antar peserta sidang.

Perang isu dan saling serang antar kandidat tak terhindari.

Satu kubu mencalonkan DR. KH. Hasyim Muzadi sebagai calon Rais Am berpasangan dengan Ir. KH. Solahuddin Wahid (Gus Sholah) sebagai ketua Tanfidziyah, sedang kubu yang lain mencalonkan DR. KH. Mustofa Bisri (Gus Mus) sebagai Rais Am dan Prof. DR.KH Said Aqiel Siradj, MA. (Kang Said) sebagai ketua Tanfidiyah.

Masing-masing pendukung dan tim sukses mulai memainkan strategi mulai dari menyebar selebaran, menganggap panitia tidak netral, hingga “menculik” peserta muktamar dari tempat penginapan. Bahkan Sidang Pleno I dengan agenda pembahasan tatib harus diskors tanpa ada batas waktu tertentu.

Namun ketegangan mulai mencair ketika pejabat Rais Am KH. Mustafa Bisri memberikan tausyiah di hadapan muktamirin hingga meneteskan air mata bahkan Gus Mus meminta dan memohon pada peserta untuk mengedepankan akhlaqul karimah hingga Gus Mus tak segan untuk mencium kaki muktamirin untuk tidak lagi mengedepankan kepentingan sesaat melainkan lebih mengedepankan akhlaq.

Ceramah Gus Mus ini juga yang membuat ratusan muktamirin tak kuasa menahan tangis.

Ketika Gus Mus diminta untuk menjadi Rais Am, beliau bersikeras menolak jabatan itu dengan alasan tidak layak mendudukinya.

Sedang di satu pihak, pendukung KH. Hasyim Muzadi-Gus Sholah di kabarkan tidak menerima hasil muktamar, bahkan menurut berita, kelompok ini mengadakan muktamar tandingan di PP. Tebu Ireng asuhan Gus Solah dengan mengangkat KH. Hasyim Muzadi sebagai Rais Am, namun KH. Hasyim Muzadi tidak berkenan. Demikian juga hubungan antara Gus Solah dengan Kang Said dikabarkan retak dan tak saling sapa di antara keduanya, mengingat isu yang berkembang sangat panas hingga seakan keduanya tidak akan saling sapa, namun siapa sangka, beberapa hari setelah muktamar, di tengah tengah gencarnya pemberitaan ada muktamar tandingan dan NU tandingan, keduanya malah bertemu dan bersalaman. Sungguh akhir yang baik, sungguh kejadian yang baik, bahwa tradisi memaafkan, merendah, interospeksi dan kebersamaan masih melekat di tubuh NU.

Semoga kita bisa meniru beliau-beliau. Sekeras apapun hati kita, sepanas apapun dendam kita, kita harus tetap dalam nuansa ukhuwah, sebab orang yang saling mencinta karena Allah, besok di akhirat akan berada di tempat yang tinggi dan bercahaya, sampai para nabi dan para wali cemburu terhadap orang yang saling mencinta karena Allah, karena tingginya derajatnya.

* Khadimul ma'had Bustanul Ulum Sumber Anom, Angsanah, Palengaan Pamekasan, Madura.

Refleksi Akhir Muktamar NU Dengan Akhir Perang Jammal 4.5 5 Pasti Aswaja Sunday, August 9, 2015 Oleh: H. Taufik, M.Pd.I * Muqaddimah Perang Jammal terjadi antara sahabat Ali di satu pihak dan Aisyah, Thalhah dan Zubeir di piha...


No comments:

Post a Comment

Pasti Aswaja. Powered by Blogger.
J-Theme