Thursday, September 3, 2015

Aswaja Dalam Jam’iyah Nahdlatul Ulama

Oleh Putra NUsantara*

Prolog

Dalam sebuah hadits, Rasulullah SAW. bersabda yang menjelaskan tentang perpecahan di tubuh ummatnya.

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: والذي نفس محمد بيده لتفترق امتي على ثلاث وسبعين فرقة فواحدة في الجنة وثنتان وسبعون في النار. قيل: من هم يا رسول الله, قال: اهل اسنة والجماعة. (رواه الطبرني)

Artinya: "Rasulullah SAW. bersabda: ‘demi Dzat yang menguasai jiwa Muhammad, sungguh ummatku akan terpecah menjadi tujuh puluh tiga golongan, satu golongan masuk surga, dan yang tujuh puluh dua akan masuk neraka.’ Seorang sahabat bertanya: ‘siapakah mereka (yang masuk surga itu), ya Rasulullah?’ Rasulullah menjawag: ‘mereka adalah ahlus sunnah wal jamaah." (HR. Thabrani)

Sekalipun redaksinya berbeda, tapi secara substansial sama, dalam hadits lain Rasulullah bersabda:
عن عبد الله بن عمرو قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: ان بني اسرائيل تفرقت على ثنتين وسبعين ملة وتفترقت امتي على ثلاث وسبعين ملة كلهم في النار الا ملة واحدة, قالوا ومن هي يا رسول الله؟ قال ما انا عليه واصحابي.

Artinya: "dari Abdullah bin Umar, ia berkata: ‘Rasulullah SAW. bersabda: ‘sesungguhnya kaum Bani Israel telah terpecah menjadi tujuh puluh dua golongan, dan umatku akan terpecah menjadi tujuh puluh tiga golongan. Semuanya akan masuk neraka, kecuali sastu golongan.’ Lalu sahabat bertanya: ‘siapakah mereka, wahai Rasulullah?’ Nabi menjawab’(orang-orang yang berpegangan pada) semua perbuatan yang telah aku lakukan, serta semua perbuatan yang dikerjakan sahabat-sahabatku." (HR. Tirmidzi)

Hadits-hadits itulah yang kemudian melahirkan istilah Ahlus Sunnah wal Jamaah (Aswaja). Kurang lebih ada tiga hadits yang membicarakan tentang Ahlus Sunnah wal Jamaah, sekalipun dalam redaksinya berbeda, akan tetapi secara substantif memiliki kesamaan.

Hadits sebagaimana tersebut di atas menjelaskan bahwa Ahlus Sunnah wal Jamaah (Aswaja) merupakan ajaran Islam sebagaimana diajarkan oleh Rasulullah SAW. dan para sahabat. Oleh karena itu, secara embrional, Aswaja sudah muncul sejak munculnya Islam itu sendiri.

Menurut mayoritas ulama, sejak generasi salaf yang saleh, Ahlus Sunnah wal Jamaah adalah kelompok yang mengikuti ajaran Islam murni dan asli, seperti yang diajarkan oleh Nabi dan sahabatnya. Ahlus Sunnah wal Jamaah merupakan kelangsungan alamiah dari perjalanan panjang sejarah Islam yang masih asli dan murni, yang pada gilirannya layak menjadi golongan yang selamat (al-friqah al-najiyah).

Jam’iyah Nahdlatul Ulama, sebagai organisasi dengan jumlah anggota terbanyak di dunia, menjadikan Aswaja sebagai landasan dalam beragama, sebagaimana tercantum dalam Anggaran Dasae Nahdlatul Ulama BAB II Pasal (5).

Definisi dan Pengertian ASWAJA

Ahlus Sunnah wal Jamaah atau biasa disingkat Aswaja adalah istilah yang terdiri dari tiga kata: ahlun, sunnah dan al-jamaah.

Pertama, kata Ahlun yang berarti keluarga, kelompok atau golongan; Kedua, As-Sunnah yang berarti segala sesuatu yang diajarkan oleh Nabi Muhammad, baik perbuatan, ucapan dan pengakuan Nabi; Ketiga, Al-Jamaah adalah kelompok mayoritas umat Islam. Ada juga yang mengartikan dengan para sahabat, tabi’in dan tabi’ut tabi’in.

Dengan kata lain, arti dari istilah Ahlus Sunnah wal Jamaah adalah kelompok yang mengikuti mayoritas ummat Islam yang menjadikan perbuatan, ucapan dan pengakuan Nabi Muhammad sebagai pedoman.

Dalam kitab Risalah Ahlus Sunnah wal Jamaah, Hadlratus Syaikh KH. Muhammad Hasyim Asyari menyebutkan bahwa yang dimaksud dengan Ahlus Sunnah wal Jamaah adalah kelompok umat Islam yang dalam bidang aqidah mengikuti pemikiran Abu Hasan Al-Asyari dan Abu Manshur Al-Maturidi, dalam bidang fiqih mengikuti madzahibul arba’ (Hanafi, Maliki, Syafi’i, Hanbali), serta dalam bidang tasawuf mengikuti Imam Al-Ghazali dan dan Imam Junaid Al-Baghdadi.

Berbeda dengan Rais Akbar NU, ketua umum PBNU, Prof. Dr. KH. Said Aqil Siraj, M.A mendefinisikan Aswaja sebagai "orang-orang yang memiliki metode berfikir keagamaan yang mencakup semua aspek kehidupan yang berlandaskan atas dasar-dasar tawassuth (moderasi), tawazun (seimbang) dan i’tidal (tegak lurus dan berkeadilan).”

Historical Lahirnya Ahlus Sunnah wal Jamaah

Islam sebagai agama yang menjadikan segala tindak-tanduk Rasulullah sebagai pedoman, dalam sejarah perkembangannya pada zaman Rasulullah relatif tidak mengalami guncangan dan pertentangan. Hal itu dikarenakan segala persoalan, perbedaan pendapat tentang suatu masalah dapat langsung ditanyakan kepada Nabi dan para sahabat pun dengan lapang dada menerima setiap keputusan Nabi. Tapi, setelah beliau wafat, bibit perpecahan perbedaan pendapat itu itu mulai tanpak naik ke permukaan dan terjadi tarik-menarik yang cukup kuat antara kaum Muhajir dan Anshor. Bibit perpecahan itu disebabkan oleh perbedaan pendapat tentang siapa yang paling berhak menjadi khalifah menggantikan Rasulullah, hingga pemakaman Nabi menjadi persoalan yang dinomer duakan oleh mereka.

Akan tetapi, setelah kedua kelompok itu berembug di Balairung Bani Sa’idah, mereka menyepakati Abu Bakar menggantikan Rasulullah sebagai khalifah, menyusul kemudian Umar bin Khtthab, Utsma bin Affan dan Ali bin Abi Thalib. Pada masa pemerintahan Abu Bakar dan Umar perbedaan paham yang menjurus pada sparatisme relatif dapat diminimalisir. Dan agak aneh, memang, bahwa persoalan yang pertama timbul munculnya perbedaan paham itu justeru permasalahan politik.

Ahli sejarah menggambarkan bahwa khalifah ketiga, Utsman bin Affan sebagai seorang yang lemah dan tidak sanggup menentang ambisi keluarganya yang kaya dan berpengaruh. Ia mengangkatnya menjadi gubernur di daerah-daerah menggantikan gubernur-gubernur yang diangkat oleh Umar bin Khatthab yang terkenal sebagai orang yang kuat dan tidak memikirkan keluarga. Perasaan tidak puas bermunculan dan menangguk di air keruh untuk menggoyang pemerintahan Utsman, yang pada perkembangan selanjutnya membawa pada pembunuhan Utsman oleh pemuka-pemuka pemberontak. Yang pada selanjutnya, terpilihlah Ali bin Abi Thalib untuk menggantikan Utsman bin Affan. Dari sinilah sejarah kemunculan Ahlus Sunnah wal Jamaah bisa ditelusuri.

Pada masa kepemimpinan Utsman ada seorang gubernur Syria yang bernama Muawiyah bin Abi Sufyan. Setelah Ali bin Abi Thalib terpilih menggantikan Utsman, Muawiyah menolak kepemimpinan Ali dan melakukan pemberontakan. Dia merasa dirinya yang pantas menggantikan Utsman, karena dia diangkat oleh Utsman menjadi gubernur Syria. Versi lain menyebutkan bahwa pemberontakan itu untuk menuntut kematian Utsman. Dari sinilah kemudian terjadi peperangan antara kubu Ali dan Muawiyah yang dikenal dengan nama Perang Shiffin yang terjadi pada 26 sampai 28 Juli 657 M. (1 Shafar 37 H).

Dalam perang saudara pertama dalam sejarah Islam itu pasukan Muawiyah terdesak dan menyerah dengan mengangkat bendera putih yang diujungnya ditaruh Al-Quran, kemudian mereka meminta berdamai dan berunding. Dalam perundingan itu kelompok Muawiyah diwakili oleh Amru bin Ash, sedangkan kelompok Ali mempercayakan kepada Abu Musa Al-Asyari. Peristiwa ini dalam sejarah disebut Tahkim (arbitrase). Proses tahkim sepertinya akan berjalan tidak seimbang, Abu Musa Al-Asyari yang seorang tokoh ulama "melawan" Amru bin Ash yang politisi.

Sebelum proses tahkim dimulai, Amru bin Ash meminta kesepakatan Abu Musa untuk meletakkan jabatan kepemerintahannya dan menyepakati bahwa pada saat itu pemerintahan berada di tengah-tengah kelompok Muawiyah dan Ali atau vacum of power. Tidak hanya itu saja, Amru bin Ash juga meminta kepada Abu Musa untuk mengumumkan kekosongan pemimpin itu. Permintaan tersebut disepakati oleh Abu Musa, dan ia mengumumkan kondisi vacum of power itu. Setelah kondisi diumumkan, naiklah Amru bin Ash ke atas mimbar dan bukan menguatkan pernyataan Abu Musa, dia menyampaikan kepada masyarakat bahwa kelompok Ali telah meletakkan jabatannya dan dan kekosongan itu diambil alih oleh Muawiyah. Dari sinilah konflik dimulai.

Pasca proses arbitrase itu (sekitar tahun 40 H.) umat Islam terpecah menjadi tiga kelompok, kelompok pendukung Muawiyah, kelompok pendukung Ali yang kemudian menjadi Syiah dan kelompok yang tidak setuju dengan kesepakatan itu (tidak pro Ali atau Muawiyah). Kelompok ini kemudian menjadi Khawarij.

Untuk memperkuat kursi kepemimpinannya, Muawiyah menciptakan paham keagamaan baru yang oleh pakar Ilmu Kalam disebut kelompok Jabariyah. Inti dari ajaran ini adalah "apapun yang dilakukan manusia adalah kehendak Allah", termasuk perebutan kekuasaan dari tangan Ali oleh Muawiyah. Untuk memperkuat pahamnya itu, mereka menjadikan ayat Allah yang berbunyi:

وما رميت اذ رميت ولكن الله رمى

Artinya: "dan bukanlah engkau yang melempar ketika engkau melempar, tetapi Allah-lah yang melempar." (QS. Al-Anfal:17)

Akibat paham ini banyak terjadi kesenjangan sosial di masyarakat, ekonomi yang tidak stabil hingga melahirkan banyak pengemis. Mereka beranggapan semuanya sudah ada yang mengatur. Mereka hanya menjalankan rutinitas ritual peribadatan tanpa berusaha mencari rizki, karena rizki sudah ada yang mengatur.

Sebagai perimbangan dari paham Jabariyah ini, muncullah paham baru yang dipimpin oleh Ma’bad Al-Juhani, Ghailan Al-Damisyqi dan Ja’ad bin Dirham. Kelompok ini bernama Qadariyah. Paham ini mengajarkan sebaliknya dari paham Jabariyah. Menurut kelompok ini, manusia mempunyai kehendak mutlak dan tidak ada campur tangan Tuhan dalam setiap perbuatan manusia. Mereka menjadikan firman Allah sebagai landasan:

ان الله لا يغير ما بقوم حتى يغيروا ما بانفسهم

Artinya: "sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan suatu kaum, sampai mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri." (QS. Ar-Ra’du:11)

Paham ini telah "berhasil" mengantarkan masyarakat pada reformasi, bahkan sampai berhasil menggulingkan dinasti Bani Umayyah dan digantikan oleh Abbasiyah.

Jika awal kelahirannya paham ini hanya sebagai kritik atas Jabariyah, Qadariyah berevolusi menjadi spirit perubahan dan pembangunan sehingga mengalami kemajuan yang sangat pesat.

Pada kelanjutannya, paham Qadariyah ini mempunyai turunan yang dipelopori oleh Washil bin Atha’ (700-750 M.), yakni paham Mu’tazilah. Pada mulanya, paham ini hanya sebatas memberikan kekuatan kepada manusia bahwa manusia mempunyai kehendak, dan perinsipnya Mu’tazilah lebih menekankan pada fungsi akal. Dan dikemudian hari paham Mu’tazilah ini menjadi paham resmi negara.

Dari kelompok ini akhirnya ada seorang tokoh sentral yang merasa tidak puas dengan ajaran Mu’tazilah dan kemudian keluar. Dialah Abu Hasan Al-Asyari. Al-Asyari berada di tengah (tawassuth) dan tidak berada di antara kelompok Fatalisme (Qadariyah) maupun kelompok Jabariyah. Beliau memproklamasikan untuk kembali ke "ma ana ‘alaihi wa ashhabi", seperti pada masa Rasulullah. Kelompok ini yang kemudian oleh Al-Asyari disebut kelompok Ahlus Sunnah wal Jamaah.

Secara historis, menurut Dr. Roibin, MHI, pengenalan term Ahlus Sunnah wal Jamaah sebagai satu aliran baru mulai nampak pada ashhabu Al-Asyari atau yang biasa disebut Asya’irah. Mereka itu adalah Al-Baqillani (403 H.), Al-Baghdadi (429 H.), Al-Juwaini (478). Meskipun demikian tidak berarti secara tegas mereka membawa bendera Aswaja sebagai madzhabnya. Baru pernyataan itu mulai tegas ketika Al-Zabidi (1205 H.) dalam Ithaf Sadat Al-Muttaqin mengatakan ‘idza uthliqa ahlus sunnati fa al-muradu bihi al-asya’irah wal maturidiyah’ (jika diungkapkan kata ahlus sunnah, maka yang dimaksud adalah penganut Al-Asyari dan Al-Maturidi).

Jika Qadariyah menyatakan bahwa manusia mempunyai kehendak bebas (free will) dan kelompok Jabariyah mengatakan bahwa manusi tidak punya kehendak, maka kelompok Ahlus Sunnah wal Jamaah ini merumuskan bahwa manusia punya kehendak dan kehendak itu diketahui oleh Allah; manusia punya kehendak, tapi kehendak itu dibatasi dengan taqdir Allah.

Sejarah Perkembangan Aswaja di Indonesia

Kedatangan Aswaja sendiri dari perspektif historis dapat dibuktikan dengan adanya bukti-bukti sejarah yang ada, mulai adanya kabar dari Ibnu Batutah mengenai Islam yang ada di Indonesia, nama-nama raja Samudera Pasai yang cenderung sesuai dengan nama raja yang beraliran Syafi’i di Timur Tengah serta ditemukannya makam Siti Fatimah binti Maimun di Leran Gresik, pada abad XI ditambah pula dengan cerita dari raja-raja/babad/tanah pada raja-raja Sunda (Banten) yang cenderung beraliran Syafi’i.

Kecenderungan Aswaja yang beraliran Syafi’i, hal ini apa bila perhatian lebih kepada setting kedatangan Islam di Indonesia yang ternyata Islam datang kebanyakan berasal dari daerah Hadlramaut dan Yaman, bukan berasal dari Persia yang cenderung bermadzhab Hanafii.

Sebagaimana diketahui Islam dikembangkan di Indonesia oleh para pedagang. Sambil berdagang para muballigh ini juga mendirikan pesantren-pesantren untuk membentuk kader-kader ulama’ yang sangat berperan dalam pengembangan Islam pada masa berikutnya. Dan salah satu tradisi dalam proses pengajaran agama Islam di pesantren adalah tradisi pengajaran melalui kajian-kajian kitab klasik "kitab kuning".

Kandungan dari kitab-kitab di pesantren di Indonesia, khususnya di Jawa, adalah kitab fiqih madzhab Syafi’i, dengan pola pengajaran kitab fiqih madzhab inilah sangat kuat pengaruhnya di Indonesia.

Di pesisir Jawa Islam dibawa oleh muballigh yang diberi gelar wali dan biasa disebut Wali Songo. Ajaran Wali Songo ini pada masa selanjutnya dilanjutkan oleh jam’iyah Nahdlatul Ulama.

Fungsi Aswaja Dalam Tubuh NU

Dalam tubuh jam’iah NU, ada dua kelompok bessar yang berbeda dalam menfungsikan Aswaja. Yaitu kelompok yang menjadikan Aswaja sebagai madzhab dan kelompok yang menjadikan Aswaja sebagai manhaj.

Aswaja sebagai madzhab

Jika mengacu pada pendapat Rais Akbar NU, Hadlratus Syaik KH. Muhammad Hasyim Asyari, dalam karyanya yang berjudul Risalah Ahlus Sunnah wal Jamaah, Aswaja sebagai madzhab adalah kelompok umat Islam yang dalam bidang aqidah mengikuti pemikiran Abu Hasan Al-Asyari dan Abu Manshur Al-Maturidi, dalam bidang fiqih mengikuti madzahibul arba’ (Hanafi, Maliki, Syafi’i, Hanbali), serta dalam bidang tasawuf mengikuti Imam Al-Ghazali dan dan Imam Junaid Al-Baghdadi.

Aswaja selama ini sering dipandang hanya sebagai madzhab (aliran, sekte, ideologi atau sejenisnya). Hal ini menyebabkan Aswaja dianut sebagai doktrin yang diyakini kebenarannya, secara apriori (begitu saja). Kondisi ini menabukan kritik, apalagi mempertanyakan keabsahannya.

Jadi, tatkala menganut Aswaja sebagai madzhab, seseorang hanya mengamalkan apa yang menjadi doktrin Aswaja. Doktrin-doktrin ini sedemikian banyak dan menyatu dalam kumpulan kitab yang pernah dikarang para ulama terdahulu, di kalangan pesantren Nusantara, kiranya ada beberapa tulisan yang secara eksplisit menyangkut dan membahas doktrin Aswaja

Hadlratus Syaikh Hasyim Asyari menjelaskan Aswaja dalam kitab Qanun NU dengan melakukan pembakuan atas ajaran Aswaja, sebagaiaman telah dipaparkan di atas.

Selain itu, KH. Ali Maksum Krapyak, Jogjakarta juga menuliskan doktrin Aswaja dengan judul Hujjah Ahlus Sunnah wal Jamaah, kitab yang cukup populer di madrasah dan pesantren NU. Kitab ini membuka pembahasan dengan mengajukan landasan normatif Aswaja.

Itu hanya salah satu di antara sekian pembakuan yang telah terjadi ratusan tahun sebelumnya. Akhirnya, kejumudan (stagnasi) melanda doktrin Aswaja. Dipastikan tidak banyak pemahaman baru atas teks-teks keagamaan yang muncul dari para penganut Aswaja. Yang terjadi hanyalah daur ulang atas pemahaman ulama-ulama klasik, tanpa menambahkan metodologi baru dalam memahami agama.

Aswaja sebagai manhajul fikr (metodologi berfikir)

Aswaja sebagai manhajul fikr pertama kali diintrodusir oleh KH. Said Aqil Siradj, sebagaimana telah dipaparkan di atas. Baginya, Aswaja harus diletakkan secara proporsional, yakni Aswaja bukan sebagai madzhab, melainkan sebagai manhajul fikr yang digariskan oleh sahabat dan para muridnya, yaitu generasi tabi’in yang memiliki intelektualitas tinggi danrelatif netral. Namun harus diakui bahwa kelahiran Aswaja sebagai manhajul fikr tidak terlepas dari pengaruh tuntutan sosio kultural dan sosio politik yang melingkupinya.

Dalam merespon berbagai persoalan yang berkenaan dengan persoalan keagamaan maupun kemasyarakatan, NU memiliki manhaj Aswaja yang dijadikan sebagai kerangka berfikir NU (fikrah nahdliyah). Adapun ciri-ciri fikrah nahdliyah antara lain:
  • Fikrah tawassuthiyah (pola pikir moderat), artinya NU senantiasa bersikap tawazzun (seimbang) dan i’tidal (tegak, lurus, adil) dalam menyikapi persoalan
  • Fikrah tasammuhiyah (pola pikir toleran), artinya NU dapat hidup berdampingan secara damai dengan berbagai pihak lain walaupun aqidah, cara pikir, dan budaya yang berbeda.
  • Fikrah ishlahiyah (pola pikir reformatif), artinya NU selalu mengupayakan perbaikan menuju arah yang lebih baik (al-ishlah ila ma huwa ashlah)
  • Fikrah tathawwuriyah (pola pikir dinamis), artinya NU selalu melakukan kontekstualisasi dalam merespon berbagai persoalan.
  • Fikrah manhajiyah (pola pikir metodologis), artinya NU senantiasa menggunakan kerangka berpikir yang mengacu kepada manhaj yang telah ditetapkan oleh Nahdlatul Ulama.
Konsep fikrah nahdliyah ituah yang menyebabkan NU nampak sebagai organisasi sosial keagamaan yang sangat moderat, toleran, dinamis, progresif dan modern. Secara konseptual sebenarnya pola pikir NU tidak tradisionalis, ortodok ataupun konservatif. Hal ini bisa dilihat pada perkembangan intelektual di lingkungan NU khususnya kaum muda NU yang menunjukkan kecenderungan berpikir radikal dan moderat dalam bertindak sebagaimana laporan penelitian Mitsuo Nakamura saat mengikuti Muktamar Nahdlatul Ulama ke-26 di Semarang (1979), demikian pula Martin van Bruinessen (1994).

Nahdlatul Ulama berpendirian bahwa paham Ahlus Sunnah wal Jamaah harus diterapkan dalam tata kehidupan nyata di masyarakat dengan serangkaian sikap yang bertumpu pada karakter Ahlus Sunnah wal Jamaah. Ada lima istilah utama yang diambil dari Al-Quran dan hadits dalam menggambarkan karakteristik Ahlus Sunnah wal Jamaah sebagai landasan NU dalam bermasyarakat atau biasa disebut mabadi’u khaira ummah, yakni sebuah gerakan untuk mengembangkan identitas dan karakteristik angota NU dengan pengaturan nilai-nilai mulia dari konsep keagamaan NU antara lain:

A. At-tawassuth

Yang berarti pertengahan, maksudnya menempatkan diri antara dua kutub dalam berbagai masalah dan keadaan untuk mencapai kebenaranserta menghindari keterlanjuran ke kiri atau ke kanan secara berlebihan.

B. Al-i'tidal

Yang berarti tegak lurus, tidak condong ke kanan dan tidak condong ke kiri. I’tidal juga berarti berlaku adil, tidak berpihak kecuali pada yang benar dan yang harus dibela.

C. At-tasamuh

Sikap toleran pada pihak lain, lapang dada, mengerti dan menghargai sikap dan kepentingan pihak lain tanpa mengorbankan pendirian dan harga diri, bersedia berbeda pendapat, baik dalam masalah keagamaan maupun masalah kebangsaan, kemasyarakatan dan kebudayaan.

D. At-tawazun

Tawazun berarti keseimbangan, tidak berat sebelah, tidak kelebihan suatu unsur atau kekurangan unsur lain.

E. Amar ma’ruf nahi munkar

Amar ma’ruf nahi munkar artinya menyeru dan mendorong berbuat baik yang bermanfaat bagi kehidupan duniawi maupun ukhrawi, serta mencegah dan menghilangkan segala hal yang dapat merugikan, merusak, merendahkan dan menjerumuskan nilai-nilai moral keagamaan dan kemanusiaan.

Penutup

Dari berbagai macam kelompok keagamaan dalam Islam, Ahlus Sunnah wal Jamaah, yang dijadikan pedoman dalam tata cara “beragama” NU, menjadi pembeda antara kelompok-kelompok yang lain, NU yang tawassuth dan tasamuh menjadikan cara “beragama” NU menjadi kiblat Islam di seluruh dunia.

Wallahu a’lam bis shawab

Wallahul muwaffiq ila aqwamit thariq
Dari berbagai sumber
*Putra NUsantara: kader muda NU Palengaan, Pamekasan, Madura.
Share:

0 comments:

Post a Comment

Home Style

Contact Form

Name

Email *

Message *

Ads

Ads

Latest News

Popular Posts

Blog Archive