• Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer

Theme Support

Pasti Aswaja's Content

Di Negeri Kami, Tambang Lebih Penting Dari Pada Nyawa

 on Wednesday, September 30, 2015  

Oleh: Abd. Ghani*

Pasti Aswaja – Mungkin saya bukan orang pintar, bukan ahli tambang, dan bukan pemerintah. Saya hanya orang tidak penting yang mencintai sesama dengan nyawa yang melekat pada dirinya, terutama mereka yang teraniaya secara batin saat mengetahui berita bahwa saudaranya seorang aktivis dibunuh dengan cara mengenaskan. Betapa teriris hati saya, tergoncang batin saya, dan gemetar tubuh saya. Berita mengenai pembunuhan aktivis tambang di Lumajang,  sungguh membuat saya miris.

Pada awalnya saya merasa takut kepada orang-orang yang akan menganggap saya berlebihan, meski sebenarnya sudah jelas  bahwa misi utama saya di dunia ini adalah menjaga keadilan dan mencintai sesama. Namun detik ini, saya merasa sangat percaya diri untuk mempublikasikan kekecewaan saya terhadap kebobrokan mental manusia yang menganggap tambang jauh lebih berharga dari pada nyawa manusia.

Saya kira tidak berlebihan, jika kekecewaan ini dipublikasikan. Karena  untuk yang kesekian kalinya aparat keamanan telah kecolongan dalam hal jaminan keamanannya pada rakyat khususnya para aktivis. Terserah bagaimanapun informasi yang saya dengar; ada yang mengatakan bahwa si aktivis itu sudah melaporkan tentang adanya ancaman atau tidak. Saat ini, yang pasti bagi saya, aparat yang bertugas memberikan jaminan aman pada rakyat kini benar-benar telah gagal total.

Tragedi pembunuhan aktivis pejuang kaum tertindas sudah terjadi, polisipun mulai menyibukkan diri dengan olah TKP. Sebelum-sebelumnya Anda kemana? Dan sekarang salah siapa?

Pembunuhan aktivis yang terjadi di Lumajang, sudah jelas hasil keegoisan ‘kaum kapital’ yang melihat bahwa tambang akan menghasilkan lembaran-lembaran uang yang bisa menghidupi keturunan mereka sampai 3-10 keturunan. Sehingga Rakyat menjadi korban, semua pihak akan menjadi korban.

Bahkan sesungguhnya para eksekutor pun adalah korban. Korban dari kemiskinan ekonomi, dan korban dari kemiskinan pendidikan. Bisakah kita menyamakan pemikiran kita dengan mereka? Di saat kita disini, melihat bahwa tindak kekejaman dari pria-pria berbadan besar dan bermuka seram, dengan celurit serta pedang di tangan, memburu para pejuang rakyat 'tak berdosa, hingga menghabisi nyawa aktivis. Padahal mereka (pembunuh) melakukan hal ini jelas karena sebuah motivasi: uang. Pembunuhnya pun adalah korban, tetapi mereka tidak menyadari karena kebodohannya.

Mungkin kejadian seperti ini sudah biasa terlihat sebelumnya, baik dengan membaca buku-buku sejarah atau bahkan secara langsung. Yang jelas kita semua berharap hal ini tidak terulang kembali. Sebab, selain berharap dan berdoa, saat ini saya tidak tahu apa yang harus saya lakukan, kecuali hanya membuat oretan yang tidak jelas ini. Saya buta hukum, buta politik. Mungkin tulisan ini pun tidak akan sampai kepada ‘yang bersangkutan’, siapapun itu. Saya hanya ingin menyampaikan, bahwa ternyata tambang lebih berharga dari pada nyawa. Dan setelah mengetahui fakta-fakta ini, saya jadi menyimpulkan satu hal: "di Negeri kami, lebih mahal tambang dari pada nyawa".
*Putra kepulauan Gili Rajeh, Sumenep.

Di Negeri Kami, Tambang Lebih Penting Dari Pada Nyawa 4.5 5 Pasti Aswaja Wednesday, September 30, 2015 Oleh: Abd. Ghani* Pasti Aswaja –  Mungkin saya bukan orang pintar, bukan ahli tambang, dan bukan pemerintah. Saya hanya orang tidak ...


No comments:

Post a Comment

Pasti Aswaja. Powered by Blogger.
J-Theme