• This is default featured slide 1 title

    Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

  • This is default featured slide 2 title

    Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

  • This is default featured slide 3 title

    Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

  • This is default featured slide 4 title

    Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

  • This is default featured slide 5 title

    Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Saturday, October 31, 2015

PMII STAI Al-Khairat Mengajak Aktivis Back to Campus

Pamekasan – Pasti Aswaja Pengurus Komisariat Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Al-Khairat Pamekasan, Madura, Jawa Timur, resmi lantik (31/10/15).

Acara yang di hadiri oleh senioritas termasuk juga Pendiri PMII STAI Al-Khairat, sahabat Samsul Arifirin, dilaksanakan di aula kampus STAI Al-Khairat.

"Kepengurusan kali ini memang sengaja melaksanakan kagiatan di kampus dengan upaya kami bisa mengenalkan organisasi kemahasiswaan yang berideologi Ahlussunah Waljama'ah" kata ketua PMII Al-Khairat, Moh. Yasin, kepada Pasti Aswaja. "Kita juga mengajak aktivis PMII Al-Khairat supaya tidak hanya memikirkan PMII, tapi juga pendidikannya di kampus," lanjutnya.

Kegiatan yang dikemas dengan seminar regional itu mendapatkan apresiasi dari Moh. Imron, ketua umum PMII Pamekasan, "saya salut kepada kepengurusan kali ini, karena bisa melaksanakan kegiatan di dalam kampus, dan PK PMII STAI Al-Khairat menjadi PMII pertama yang melaksanakan Pelantikan di dalam kampus untuk PMII di bawah Cabang Pamekasan," kata Ron, sapaan akrab Moh. Imron, mengawali sambutannya.

Dilaksanakannya kegiatan yang dihadiri undangan dari perwakilan komisariat PMII se-Pamekasan ini di kompleks kampus, diharapkan menjadi awal baik untuk kinerja pengurus baru dalam merekrut mahasiswa yang baru saat menginjak perguruan tinggi.

Hadir sebagai pemateri dalam seminar regional itu mantan Aktivis PMII IAIN Sunan Ampel Surabaya, R. Abd. Adzim, M.Fil.I MA. (Mif)
Share:

Prihatin Kondisi Mahasiswa, Aktivis PMII STAI-MU Bentuk KORSI

Pamekasan – Pasti AswajaSemakin tergerusnya nuansa intelektual di kalangan mahasiswa membuat para aktivis Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) komisariat Sekolah Tinggi Agama Islam Miftahul Ulum (STAI-MU) Pamekasan, Madura, Jawa Timur prihatin. Kondisi itu kemudian mendorong aktivis-aktivis PMII STAI-MU untuk membentuk sebuah kelompok kecil bernama KORSI yang merupakan akronim dari Kopi, Rokok dan Diskusi yang dilaksanakan setiap Jumat malam dan Sabtu malam mulai jam 20:00 sampai dengan jam 24:00.

Pada awalnya, komunitas ini lahir dari kebiasaan beberapa aktivis PMII STAI-MU yang berkumpul sambil ngopi dan berdiskusi di area kampus, tapi kemudian tempatnya diperluas yaitu sekitar kota Pamekasan dan kemudian bernama KORSI.

"Sebenarnya KORSI ini lahir atas inisiatif wakil presiden mahasiswa STAI-MU yaitu sahabat Rahman," kata ketua PMII komisariat STAI-MU, Zainollah, Jumat malam (30/10/15) di area Eks-Stasiun Pamekasan. "Nama KORSI ini tidak melalui rapat, karena dalam komunitas ini tidak ada ketuanya," tambah pemuda yang akrab disapa Apache ini sesaat sebelum diskusi dimulai.

Moh. Rahman, inisiator KORSI, berharap kelompok ini bisa menjadi contoh bagi mahasiswa-mahasiswa Pamekasan untuk menghidupkan kembali nuansa intelektual, "makanya KORSI ini dilaksanakan di daerah kota, supaya bisa menjadi contoh bagi (mahasiswa. Red.) yang lainnya," harap Maman, sapaan akrabnya.

Sekalipun komunitas ini lahir dari inisiatif PMII STAI-MU, tapi tidak tertutup untuk aktivis PMII dari komisariat lain. (ahn)
Share:

Masyarakat Palengaan Digegerkan Penemuan Bayi

Pamekasan – Pasti Aswaja Masyarakat Dusun Kembang I Desa Palengaan Daja, Kecamatan Palengaan, Kabupaten Pamekasan, Madura, Jawa Timur digegerkan dengan penemuan bayi, Jumat malam (30/10/15) jam 22:00 WIB.

Bayi berjenis kelamin perempuan itu ditemukan oleh Moh. Arifin (18 th) bersama dua orang temannya, Rizal dan Abdullah Ali Akbar, dalam perjalanan pulang dari Kecamatan Pengantenan, Pamekasan menuju rumahnya di Desa Tlambah, Karangpenang, Sampang Madura. Sesampainya di Dusun Kembang I, dari arah berlawanan mereka melihat ada mobil pick up jenis L300 warna biru berhenti, dan dari mobil itu turun dua orang laki-laki seperti mencari sesuatu, "melihat mereka kebingungan, saya bertanya apa ada yang bisa dibantu," tutur Arifin saat dihubungi Pasti Aswaja melalui saluran seluler. "Mereka menjawab lagi cari barangnya yang jatuh dari mobil," lanjutnya.

Merasa tidak ada yang aneh, Arifin dan kedua temannya melanjutkan perjalanannya. Sekitar sepuluh meter dari mobil yang memuat banyak orang di bak belakangnya itu, tanpa disengaja lampu motor Arifin tersorot ke arah bayi. Melihat bayi itu, dia langsung memberitahukan kepada warga setempat. Sempat terjadi adu mulut antara warga dan pengendara mobil yang sempat ditegur oleh Arifin itu, karena warga menilai bahwa orang-orang di mobil itu yang membuang bayi malang tersebut.

Bayi yang ditemukan dalam kondisi pucat itu kemudian dibawa ke Puskesmas Palengaan oleh warga. Karena keterbatasan peralatan medis, bayi itu kemudian dirujuk ke RSUD Dr. H. Slamet Martodirdjo Pamekasan. Belum sampai RSUD, bayi yang hanya dibaluti sehelai selimut saat ditemukan itu menghembuskan nafas terakhir, Sabtu dini hari (30/10/15) jam 00:09 WIB.

Sampai berita ini diturunkan, kasus tersebut sudah ditangani oleh Polres Pamekasan. Pihak kepolisian juga sedang  menyelediki mobil warna biru itu sekalipun sampai saat ini masih belum bisa ditetapkan sebagai tersangka. (ahn)
Share:

Thursday, October 29, 2015

260 Anggota IHM NU Palengaan Ikuti Ziarah Maqbarah

bus-ihm-nu-palengaan
Pamekasan - Pasti Aswaja - Ikatan Hajah Muslimah Nahdlatul Ulama (IHM NU) Pengurus Anak Cabag  (PAC) Palengaan, Pamekasan laksanakan program tahunan, yaitu ziarah maqbarah (ziarah ke makam) Ulama NU.

Rombongan yang diikuti sebanyak 260 orang ini berangkat dari Pondok  Pesantren Kebun Baru, Palengan pada hari selasa (27/10/15) jam 08:00 WIB untuk kemudian menuju ke makam KH. As'ad Syamsul Arifin, Situbondo.

Sebanyak Empat bus disediakan untuk mengangkut rombongan peziarah ini.

"Kami menyediakan empat bus untuk mengangkut rombongan ibu-ibu hajah  ini," tutur kordinator rombongan, Ny. Hj. Nur Faizah Ali Hisyam.

Ny. Hj. Nur Faizah menambahkan, bahwa tujuan utama dari kegiatan ini, selain untuk mangharap barokah adalah untuk mengenang perjuangan ulama-ulama NU.

Ditanya perihal biaya yang digunakan dalam pelaksanaan program itu,  ketua Muslimat NU Palengaan ini menuturkan, bahwa pendaannya diambil dari iuran dan tabungan anggota IHM NU PAC Palengaan.

Setelah bermalam di Pondok Pesantren yang diasuh Ny. Hj.Makkiyah As'ad Syamsul Arifin, Situbondo, rombongan ini kemudian melanjutkan perjalanan ke PP. Sidogiri untuk mengikuti pengajian bersama Ny. Hj. Luluk Mukarromah, Pengasuh PP. Sidogiri.

Seusai mengikuti pengajian, rombongan yang diikuti ketua IHM NU PAC Palengaan, Ny. Hj. Nor Awaliyah ini langsung pulang dan sampai pada Kamis (29/10/15) jam 00:00 WiB.

Turut serta dalam rombongan ini, pengurus MWC NU Palengaan, KH. Wasik Hamzah (Pengasuh PP. Taman Sari), KH. Qoyyim Hamzah (Pengasuh PP. Karang Manggis), dan KH. Luthfi Ishaq (Pengasuh PP. Sumber Panjalin, Akkor). (bor)
Share:

UMK Dapat Dana Hibah Milyaran Rupiah

Kudus – Pasti Aswaja Universitas Muria Kudus (UMK) pada 2015 ini, mendapatkan milyaran dana hibah dari berbagai program. Tak hanya untuk para dosen, hibah juga didapat oleh para mahasiswa melalui Program Kreativitas Mahasiswa (PKM).

Hal itu disampaikan Rektor UMK, Dr. Suparnyo SH. MS. dalam sambutannya di depan 980 wisudawan dalam Rapat Senat Terbuka dengan agenda tunggal Upacara Wisuda ke-55 Tahun 2015 di Auditorium Kampus, Rabu (28/10/2015).

‘’Tahun ini UMK mendapatkan hibah lain penelitian dari Ditjen Dikti 2015 mencapai Rp. 1.300.000.000, untuk pengabdian kepada masyarakat (Rp. 1.069.000.000) yang terdiri atas Rp. 749.500.000 hibah dari Kemenristek-Dikti dan Rp. 320.000.000 dari pemerintah Provinsi Jawa Tengah, dan hibah dari Kemenristek-Dikti melalui Yayasan Pembina UMK untuk Pembinaan PTS kurang lebih Rp. 500.000.000,’’ ujarnya.

Wisuda terbaik UMK.
Tak hanya itu, Rektor menambahkan, tahun 2015 ini salah satu dosen UMK juga berhasil memperoleh beasiswa studi S3 (Program Doktoral) di Bristol Inggris selama tiga tahun dengan biaya negara (BPLN) kurang lebih senilai Rp. 1,5 milyar. ‘’Sedang untuk mahasiswa, tahun ini mendapatkan hibah melalui PKM senilai Rp. 126.609.000,’’ katanya.

Dalam upacara wisuda yang dihadiri oleh Koordinator Kopertis Wilayah VI Jawa Tengah, Bupati Kudus, Ketua DPRD Kudus, unsur Forkompinda Kudus, Ketua dan Anggota Pengurus, Pengawas serta Pembina Yayasan Pembina UMK, Pimpinan Perguruan Tinggi Negeri dan Swasta di Kudus dan sekitarnya, Suparnyo berpesan agar para wisudawan ikut mengambil peran dalam membangun bangsa di tengah persaingan global yang tak terhindarkan.

‘’Persaingan di masa depan akan semakin berat, karena per 31 Desember nanti, kita sudah memasuki Asean Economic Community atau Masyarakat Ekonomi Asean (MEA). Dalam persaingan yang sangat ketat ini, hard skills dan soft skills menjadi modal yang sangat penting untuk menyambut persaingan global dengan penuh optimisme,’’ ujarnya.

Wakil Rektor I Dr. A. Hilal Madjdi M.Pd., menyampaikan, wisudawan yang mencapai 980 Periode II Tahun 2015, berasal dari Program Pascasarjana (S-2), Sarjana (S-1), dan Diploma Tiga (D-III).  ‘’Jumlah yang lulus pada semester genap 2014/2015 adalah sebanyak 975 mahasiswa, sedang lima lainnya lulusan semester sebelumnya (Semester Gasal 2014/2015), namun mengikuti upacara wisuda periode ini,’’ jelasnya.

Secara rinci, wisudawan periode ini adalah 27 wisudawan dari Program Studi (Prodi) Magister Manajemen (S-2/MM), Prodi S-1 Manajemen (116),  Prodi S-1 Akuntansi (95), 9 wisudawan dari Prodi Magister Ilmu Hukum (S-2/MIH), Prodi S-1 Ilmu Hukum (27), Prodi S-1 Bimbingan dan Konseling (142), Prodi S-1 Pendidikan Bahasa Inggris (161), dan Prodi S-1 Pendidikan Guru SD (199).

Selanjutnya, wisudawan Prodi S-1 Agroteknologi (16), Prodi S-1 Teknik Informatika (77), Prodi S-1 Teknik Elektro (6), Prodi S-1 Sistem Informasi (83), Prodi D-III Teknik Mesin (6), serta Prodi S-1 Psikologi (16).

Sebagai wisudawan terbaik, Prodi Magister Manajemen (S-2/MM) yaitu Dwy Puspitasari (IPK: 3,97), Prodi S-1 Manajemen moh. Setian (IPK: 3,61), Prodi S-1 Akuntansi Anik Setiana (IPK: 3,55), Prodi Magister Ilmu Hukum (S-2/MIH) Burhanudin Iskak (IPK: 3,84), dan Prodi S-1 Ilmu Hukum Ari Agustina (IPK: 3,61).

Dari Prodi S-1 Bimbingan dan Konseling, sebagai wisudawan terbaik Hendrik Pratekto (IPK: 3,92), Prodi S-1 Pendidikan Bahasa Inggris Siti Rohmah (IPK: 3,97), Prodi S-1 PGSD Novieta Wahyu Widhi Astuti (IPK: 3,93), Prodi S-1 Agroteknologi Tukiyah (IPK: 3,93), Prodi S-1 Teknik Informatika Sri Masfu’ati (IPK: 3,91), Prodi S-1 Sistem Informasi Aulia Mufshihah (IPK: 3,81), Prodi S-1 Psikologi Emalia Ainur Rahmah (IPK: 3,41).

‘’Sejak tahun akademik 1984/1985, yakni mulai diselenggarakannya Pendidikan Program Sarjana (S-1) berdasarkan SK. Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI No. 220/P/1985, UMK sampai saat ini telah meluluskan 306 Magister (S-2) dari dua Prodi (MM dan MIH), 14.375 Sarjana (S-1) dari 12 Prodi dan 1.100 lulusan D-III dari tiga Prodi,’’ tutur Hilal. (*)
Kontributor: Suparno (Kudus)
Share:

Di Akhirat Nggak Butuh Pompa Air

Pasti Aswaja – Suatu siang musim kemarau, ketika Broodin sedang duduk santai menikmati secangkir kopi di teras rumahnya, ia melihat Atrawi kebingungan seperti sedang mencari sesuatu yang hilang. Atrawi mondar-mandir lewat depan rumah Broodin sambil menggerutu. Sesekali terdengar umpatan-umpatan kasar keluar dari mulut Atrawi. Melihat tetangganya yang kebingungan itu, Broodin menyapa Atrawi.

Broodin: "Mau kemana, Wi? Kok sepertinya kamu kebingungan?"

Atrawi: "Mesin pompa air yang baru aku beli kemarin hilang," jawab Atrawi dengan wajah yang tampak tak bisa menahan amarah.

Mendengar jawaban tetangga yang juga teman karibnya sejak kecil, Broodin mencoba menenangkan Atrawi.

Broodin: "Sudahlah, Wi, ikhlaskan saja," kata Broodin.

Atrawi: "Kalau mesin itu sudah lama, mungkin aku bisa ikhlas, Din. Masalahnya, mesin itu baru aku beli kemarin. Masak belum sempat make, udah dicolong orang?!"

Broodin: "Ia, Wi. Aku paham. Tapi percuma kamu marah-marah. Mesin itu sudah hilang. Mau gimana lagi?" Kata Broodin. "Ikhlaskan saja. Ketemu nanti di akhirat."

Atrawi: "Tapi di akhirat aku nggak pompa air." jawab Atrawi spontan dengan nada tinggi dan langsung ngeloyor pergi.

Broodin: "Hhhuuufff... Dasar Atrawi."
Share:

Fanatisme Dalam Perspektif Agama (Bag. 3. Habis)

Pasti AswajaFanatisme akan kebangsaan dan bahasa menjadikan kalian sebagai pribadi yang diperhitungkan (disegani) kekuatannya oleh bangsa lain dan sebagai orang tinggi kedudukannya dalam pandangan mereka. Sebaliknya, sikap kalian yang meremehkan kebangsaan dan bahasa kalian sendiri akan menjadikan kalian remeh dalam pandangan orang yang tidak sebahasa dan sebangsa dengan kalian. Persoalan ini jelas dan tidak lagi memerlukan bukti.

seperti halnya interpretasi fanatisme terhadap agama yang tidak semestinya itu tercela –sebagaimana kalian ketahui. Begitu pula pengertian fanatisme terhadap kebangsaan dan bahasa dengan melecehkan bahasa-bahasa orang lain dan kebangsaannya, menimpakan teror dan tekanan kepada mereka, itu sama sekali fanatisme yang sangat tidak terpuji dan tidak dapat dibenarkan. Oleh karena itu, wahai generasi muda, kalian wajib menghormati bahasa dan kebangsaan orang lain, sebagaimana kalian senang jika orang lain menghormati bahasa dan kebangsaan kalian.

Kemudian, fanatisme kalian terhadap apa yang kalian yakini benar, berupa partai-partai politik, organisasi massa dan perjuangan kalian membela sesuatu yang kalian yakini kebenarannya adalah suatu hal yang menyebabkan kalian harus melaksanakan kewajiban yang dituntut olehnya. Karenanya, perjuangkanlah apa yang kalian yakini kebenarannya dengan bukti-bukti yang jelas, dalil yang tepat, hujjah yang kuat dan dialog yang membawa manfaat, lalu bersihkanlah diri kalian (dari kepentingan materi). Dan jangan sampai menggunakan kata-kata yang yang terlampau tidak patut didengar untuk mencapai tujuan yang kalian inginkan. Ingatlah bahwa orang lain itu memiliki suatu pendapat yang wajib kalian hormati, dan itu hak yang dia miliki. Aliran yang tentu dia amat senang jika alirannya itu dihormati, sebagaimana kalian sendiri yang senang jika pendapat dan aliran kalian dihormati. Apabila kalian mempunyai kemampuan untuk mempengaruhi atau menarik orang lain bergabung dengan aliran yang kalian ikuti, dengan hujjah yang tepat, bukti yang kuat, dan kata-kata yang halus, maka laksanakanlah usaha kalian itu. Tetapi jika tidak mampu dengan cara-cara seperti itu, maka tinggalkanlah dan biarkan orang lain itu mengikuti pendapat dan alirannya, karena bagaimanapun kalian tidak mungkin bisa menguasainya.

Berhati-hatilah! Jangan sampai kalian menjadikan fanatisme sebagai lantaran untuk balas dendam, sebab hal seperti ini sama sekali bukan watak orang-orang yang berhati mulia. Janganlah kalian membiarkan perbedaan pendapat, agama, kebangsaan dan bahasa menimbulkan keresahan masyarakat, menghambat kemajuan dan merobek-robek persatuan, khususnya jika perbedaan itu terjadi antara sesama bangsa yang satu bahasa, satu tanah air dan satu haluan politik.

Wahai generasi muda, saya mengajak kalian semua pada sikap fanatisme yang terpuji, sebab fanatisme yang demikian itu bagaikan duta kebahagiaan dan utusan menuju kemajuan.

Fanatiklah terhadap apa yang kalian yakini kebenarannya dan berpeganglah erat-erat terhadap agama kalian, kebangsaan kalian dan bahasa kalian dengan cara seperti yang telah saya uraikan. Semoga kalian menjadi orang-orang yang berjaya.
Disadur dan diterjemahkan dari Idhatun Nasyiin karya Syaikh Dr. Mushthafa Al-Ghalayain.
Share:

Wednesday, October 28, 2015

Fanatisme Dalam Perspektif Agama (Bag. 2)

Pasti Aswaja – Sesungguhnya orang-orang yang mengaku fanatik terhadap agama, sebagian besar tidak mau berfikir dan mereka sebenarnya tidak mengenal agama. Mereka beragama hanya semata-mata karena bapak-bapaknya beragama. Mereka itu tampak agamis, tetapi hakikatnya mereka itu hanya ikut-ikutan. Kalau mereka berbicara tentang agama yang dipeluknya, sebenarnya tidak mengerti tentang apa yang dikatakannya, mereka bersandar pada sesuatu yang mereka tidak memakainya, mereka marah dan membenci orang-orang yang tidak seagama dengannya. Namun demikian, mereka itu yakin, bahwa dengan cara beragama seperti itulah mereka akan selamat dan dengan cara seperti itulah mereka bisa dekat kepada Allah. Sungguh betapa buruk apa yang mereka pukul itu dan alangkah jelek apa yang mereka lakukan.

Di sana ada lagi sekelompok orang yang bukan golongan orang awam yang bodoh, tetapi bukan pula golongan tertentu yang tinggi pengetahuan agamanya. Mereka itu mengklaim sebagai orang yang fanatik dalam beragama, tetapi tidak pernah menegakkan syiar-syiar agama, tidak berpegang pada ajaran agama yang telah digariskan, baik yang sunah maupun yang fardhu, dan menyeru kepada orang-orang dengan menggunakan nama agama yang dianutnya. Kelompok orang-orang seperti ini mungkin hatinya kosong, tidak berisi akidah, bahkan lebih kosong daripada gendang.

Bukankah fanatisme terhadap agama, sebagaimana yang kami uraikan, hanyalah berakhlak sesuai dengan tuntutan akhlak dalam agama, menjalankan apa yang diperintahkan agama dan menjauhi apa yang dilarangnya? Jadi apa yang dilakukan oleh orang-orang yang mengklaim dirinya fanatik dalam beragama (sebagaimana pemaparan di atas) sebenarnya mereka itu hendak menipu orang-orang awam untuk menyesatkan pemahaman mereka. Golongan orang-orang seperti ini tidak dapat menjadi hujjah atau tolak ukur agama yang dipeluknya. Karena pengakuan mereka sebagai pemeluk agama itu hanya untuk mengharapkan keuntungan tertentu dan tindakan mereka meneror orang-orang yang tidak seagama dengannya, karena mereka ingin menguasai atau menundukkan akal pikiran mereka dan untuk mengendalikan jiwa umat sesuai dengan kehendak hawa-nafsu mereka. Allah SWT. bebas dari golongan orang seperti tersebut di atas dan segala perbuatannya.

Dikutip dan diterjemahkan dari Idhatun Nasyii'in karya Syaikh Musthafa Al-Ghalayain.
Share:

Tuesday, October 27, 2015

Fanatisme Dalam Persepektif Agama

Pasti Aswaja – Berfanatiklah terhadap kebangsaan, bahasa, agama, paham sosial dan aliran politik yang kalian anut. Tetapi kalian jangan sakit hati jika melihat orang lain yang fanatik seperti kalian. Oleh karena itu, biarkanlah orang-orang lain mempunyai rasa fanatisme terhadap ideologinya, sebab kalian tidak bakalan mampu mengendalikan siapapun, dan setiap orang itu memiliki hak asasi dan kebebasan memeluk agama yang dia yakini kebenarannya, bahkan boleh memperlihatkan fanatismenya terhadap apa yang dikehendakinya.

Semua agama memutuskan, membolehkan kepada setiap orang untuk memiliki jiwa fanatik. Begitu pula semua aliran atau madzhab yang berkembang di kalangan masyarakat, tidak melarangnya. Cara seperti inilah yang ditempuh oleh bangsa-bangsa maju dengan pesat sekarang ini, sebagaimana dianut oleh nenek moyang kalian di masa lampau.

Fanatisme adalah suatu sikap yang baik, jalan yang lurus, jelas dan benar. Hanya dengan fanatisme seperti itulah umat dapat melestarikan bahasa, rasionalismenya, akhlak-akhlak terpuji, dan adat istiadat yang baik. Fanatisme itulah yang mendorong mereka menjadi bangsa yang kuat, berani dan tidak mudah goyah oleh pengaruh-pengaruh luar.

Manakala akhlak ini, yakni sikap fanatisme yang mulia ini lenyap dan tidak berkembang, akibat kesalahan pendidikan yang diterima bangsa itu, maka hilanglah ciri-ciri bangsa, lenyaplah kekuatan dan keberaniannya dan akhirnya menjadi bangsa yang lemah dan sirna dari permukaan bumi, mengikuti jejak bangsa-bangsa terdahulu. Kiranya yang menjadi sebab kebinasaan itu hanyalah karena matinya rasa fanatisme, kebejatan moral dan sebab kehilangan identitasnya. Sesungguhnya bangsa yang sempurna adalah bangsa yang berbudaya dan berakhlak mulia.

Sikap fanatisme kalian terhadap agama yang kalian anut dapat mendorong orang lain selalu menjaga kehormatan kalian, sedangkan sikap tidak tahu-menahu terhadap agama, menyebabkan orang lain tidak mau peduli kepada kalian.

Pengertian fanatisme terhadap agama adalah aktif menjalankan segala hal yang diwajibkan oleh agama, mengikuti semua petunjuk, melaksanakan semua perintah dan menjauhi segala larangannya serta berakhlaqul karimah, yang menjadi tujuan utama beragama. Memang tujuan utama beragama adalah, agar yang bersangkutan terdorong memupuk cita-cita menuju budi pekerti yang luhur.

Tidak benar sama sekali, jika fanatisme dalam agama itu diartikan harus membenci orang yang tidak menganut agama yang kalian anut, melakukan tipu daya untuk menyengsarakannya. Semua ini sama sekali bukan termasuk fanatisme agama. Tetapi yang demikian itu tidak lain hanyalah merupakan fanatisme liar, yang membahayakan terhadap proses kemajuan, merupakan suatu kebiadaban dan merupakan pelanggaran hak asasi manusia. Sebab, benci kepada orang yang berlainan agama dan melakukan teror kepadanya itu adalah perbuatan orang-orang yang tidak mengerti tentang agama yang dianutnya, kecuali namanya saja. Dia bukan penganut sejati agama tersebut. Ajaran agama dan perbuatan orang seperti itu jelas bertolak belakang.

Adapun tindakan-tindakan yang dilakukan oleh sebagian orang yang tidak mengerti isi ajaran agama dari kalangan orang-orang yang suka memutar balikkan agama untuk kepentingan pribadi, maka orang-orang seperti itu bukan orang-orang penting, tidak berarti bagi agama, dan mereka sama sekali tidak bisa menjadi hujjah atau bukti bagi agama. Allah memiliki hujjah yang kuat, apa yang mereka omongkan dan lakukan itu, tidak termasuk agama Allah sedikitpun.
Dikutip dan diterjemahkan dari Idhatun Nasyi'in karya Syaikh Musthafa Al-Ghalayain.
Share:

Monday, October 26, 2015

Sekolah Jurnalistik BEM STAI-MU Resmi Ditutup

Sampang – Pasti Aswaja Setelah tiga hari berjalan, Sekolah Jurnalistik yang dilaksanakan oleh Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Sekolah Tinggi Agama Islam Miftahul Ulum (STAI-MU) Pamekasan, Madura, Jawa Timur secara resmi di tutup, Minggu siang (25/10/15), oleh perwakilan Ketua STAI-MU, Abd. Ghani, M.Pd.I.

Dalam sambutannya, sebelum kegiatan yang bekerjasama dengan Pasti Aswaja itu ditutup, mantan aktivis PMII IAIN Sunan Ampel Surabaya itu berharap kepada para peserta untuk mengaplikasikan ilmu yang sudah di peroleh dari acara yang digelar di Hotel Pantai Wisata Camplong, Sampang, Madura, Jawa Timur itu.

Alumni Pondok Pesantren Nurul Jadid Paiton, Probolinggo, Jawa Timur itu juga berharap alumni kegiatan itu bisa membawa perubahan bagi masyarakat umum, khususnya di lingkungan STAI-MU. "Adik-adik ini nanti yang akan membawa angin perubahan di STAI-MU," harapnya.

Senada dengan itu, Presiden BEM STAI-MU juga meminta kepada peserta untuk terus mengaktualisasikan diri dengan memperbanyak referensi, "tidak mungkin menulis tanpa banyak baca buku," ujar aktivis PMII STAI-MU ini.

Dalam acara itu, panitia memberikan penghargaan kepada para tutor. Tidak hanya itu, panitia juga memberikan penghargaan kepada sepuluh besar peserta peraih nilai terbaik juga penghargaan dan uang tunai kepada peserta terbaik peraih nilai tertinggi.

Setelah sekitar satu jam acara penutupan berlangsung, akhirnya peserta check out dari hotel untuk kembali pulang dengan mobil yang disediakan panitia. (ahn)
Share:

Pengurus Baru PMII UIM Resmi Dilantik

Pamekasan – Pasti Aswaja Sebanyak 70 orang pengurus baru Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Komisariat Universitas Islam Madura (UIM) Pamekasan, Madura, Jawa Timur yang berada di bawah kepemimpinan Umar Faruq, secara resmi dilantik oleh Pengurus Cabang PMII Pamekasan, Minggu, (25/10/15), di Pendopo Agung Ronggosukowati Pamekasan.

Dalam acara yang di hadiri oleh senioritas PMII Komisariat  UIM dan Forum Alumni PMII Komisariat UIM itu, ketua umum PMII Cabang Pamekasan, Moh. Imron, menyampaikan dalam sambutannya bahwa dunia mahasiswa sudah beda dengan dunia putih abu-abu. Maha yang memiliki arti di atas segalanya dan memiliki segalanya, menunjukkan mahasiswa harus bisa menguasai semua bidang keilmuan tanpa melihat latar belakang jurusannya.

Ron, sapaan akrabnya, juga berharap kader PMII selaku Mahasiswa sebagai agen of change (agen perubahan) tetap berada di garda depan untuk kepentingan rakyat. "Tidak masalah ketika PMII di bilang tukang demo, asalkan Demo yang dilakukan berlandaskan kajian intlektual, demo yang dilakukan harus kebijakan yang tidak pro rakyat" mengahiri sambutannya.

Hadir sebagai pemateri dalam seminar itu, Staf Ahli Pasti Aswaja, H. Taufiq Hasyim, M.Pd.I. Acara kemudian diakhiri dengan doa oleh Ketua II PC. PMII Pamekasan, Jamaluddin. Dalam doanya, kader PMII UIM ini berdoa untuk kesembuhan sahabat Abd. Rohman yang terkena pukul oleh oknum Polisi pada demo beberapa hari yang lalu. (mif)
Share:

Sunday, October 25, 2015

Hari Kedua Sekolah Jurnalistik BEM STAI-MU Pamekasan

Sampang – Pasti Aswaja Setelah pembukaan (23/10/2015) sampai hari pertama (24/10/2015) Sekolah Jurnalistik Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Sekolah Tinggi Agama Islam Miftahul Ulum (STAI-MU) Pamekasan yang dilaksanakan di Hotel Wisata Camplong, Sampang, Madura peserta sudah mengikuti lima materi dari delapan materi yang disediakan (baca juga: Kerjasama Dengan Pasti Aswaja, BEM STAI-MU Pamekasan Laksanakan Sekolah Jurnalistik).

Pada pelaksanaan kegiatan ini, panitia pelaksana mendatangkan pemateri-pemateri handal dari Artha media, Surabaya.

Materi pertama (23/10/2015) yang dimulai jam 18:30-19:30, peserta menerima suguhan "Metode Berfikir Kritis". Hal ini tiada lain sebagai modal utama bagi jurnalis dalam menyikapi fenomena yang dihadapi. Materi ini diharapkan, agar peserta mampu berfikir jernih, rasional dan independen, sehingga bisa memiliki keteraturan dalam berfikir dan menulis.

Pada malam yang sama peserta menerima materi kedua, yaitu tentang "Pengenalan Pers dan Jurnalistik". Dalam materi ini, peserta diarahkan untuk mengetahui hal-hal yang berkaitan dengan dunia pers atau media dan kewartawanan.

Keesokan harinya, Sabtu (24/10/2015) jam 07:30 WIB peserta kembali memasuki forum untuk menerima materi ketiga, yaitu "Metode Penggalian Data". Yang mana, pada materi ini peserta diharapkan bisa melakukan pengamatan secara obyektif dan subyektif. Pada materi ini, peserta mulai diajarkan menulis dengan mengamati gambar yang disediakan pemateri.

Setelah dua jam mengikuti materi ketiga, acara kemudian dilanjutkan dengan materi keempat, yaitu "Bentuk Penulisan Berita -Straigh News". Dalam materi ini, peserta langsung dikenalkan pembuatan Berita langsung yang paling sederhana. Pada materi ini, pemateri menugaskan peserta untuk membaca sebuah berita, dan kemudian memerintahkan untuk menulis kembali dengan bahasa sendiri.

Seterlah istirahat siang, jam 13:30 peserta mengikuti materi kelima, yaitu "Teknik Pembuatan Berita Depth News". Dalam materi ini, peserta dibentuk kelompok untuk mendiskusikan perencanaan pembuatan berita yang lebih mendalam. Setelah membuat kerangka berita, kemudian peserta ditugaskan untuk melakukan wawancara dengan menentukan narasumber sendiri dan membuat berita dari hasil wawancara yang sudah dilakukan.

Acara yang bekerja sama dengan Pasti Aswaja ini diagendakan akan berakhir hari ini (25/10/2015) jam 15:00 WIB. (bor)
Share:

Saturday, October 24, 2015

Kerjasama Dengan Pasti Aswaja, BEM STAI-MU Pamekasan Laksanakan Sekolah Jurnalistik

Sampang – Pasti Aswaja Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Sekolah Tinggi Agama Islam Miftahul Ulum (STAI-MU) Pamekasan bekerja sama dengan Pasti Aswaja mengadakan sekolah jurnalistik yang dilaksanakan pada hari Jumat, (23/25/15) sampai Minggu, (25/10/15) di Hotel Wisata Camplong, Sampang, Madura.

Hadir dalam pembukaan acara Pembatu Ketua I, KH. Taufiq Hasyim, M.Pd.I yang membuka acara dan memberikan arahan di hadapan 30 orang peserta sekolah jurnalistik yang lolos seleksi.

Dalam memberikan arahan, pengasuh PP. Bustanum Ulum Sumber Anom Pamekasan itu, menyampaikan bahwa jurnalistik merupakan suatu hal yang sangat penting, dimana jurnalistik ini bisa membunuh karakter seseorang dalam waktu satu hari dan mampu mendongkrak popularitas seseorang dalam waktu satu hari.

Mantan Pengurus Cabang PMII Kediri ini menambahkan, bahwa pentingnya jurnalistik ini juga untuk menghadapi tantangan media-media radikal yang semakin gencar menyerang aqidah Ahlussunnah Wal Jamaah, sehingga diharapkan para peserta yang sudah mengikuti kegiatan ini bisa menjawab setiap serangan yang datang dari media-media yang menyerang aqidah dan Amaliah Ahlussunnah Wal Jamaah.

Alumni Pesantren Al-Mahrusiah Kediri, Jawa Timur ini juga mengharap, agar para peserta yang sudah mengikuti kegiatan ini bisa mengisi media-media Islam secara baik, serta bisa menjadi seorang jurnalis yang tidak hanya berada dalam ruang lingkup lokal, tapi juga Internasional.

Hadir juga dalam acara pembukaan sekolah jurnalistik ini beberapa dosen dan Pembantu Ketua III STAI-MU Pamekasan, Maltuful Anam, M.Pd.I, yang kemudian memimpin doa dalam penutupan rangkaian acara pembukaan Sekolah Jurnalistik ini. (bor)
Share:

Friday, October 23, 2015

Ribuan Santri Ikuti Apel dan Kirab Hari Santri Nasioal

Kudus – Pasti Aswaja – Lebih dari 6.000 santri dari di lingkungan Nahdlatul Ulama (NU) Cabang Kudus, mengikuti apel dan kirab Hari Santri Nasional (HSN), yang digelar di Alun-alun Simpang Tujuh Kudus,  Kamis (22/10/2015).

Apel dipimpin oleh Komandan Satkorcab Banser Kudus, Wawan Awaluddin, dengan inspektur H. Sanusi, ketua Gebyar Hari Santri Pengurus Cabang (PC) NU Kudus. Ribuan santri yang datang dari berbagai madrasah dan pesantren itu pun memenuhi Alun-alun yang berada di depan kantor kabupaten tersebut.

Panitia pengarah Gebyar HSN Kudus, H. Asyrofi, mengutarakan, apel dan kirab ini merupakan upaya mengingatkan kembali bangsa ini akan perjuangan para santri.  ‘’Keutuhan Indonesia sampai saat ini, tidak lepas dari jasa besar para santri. Santri berjuang untuk negeri ini tanpa pamrih. Niatnya untuk kejayaan Indonesia, meski untuk itu  harus mengorbankan jiwa raga,’’ katanya.

Dia mengemukakan, peristiwa 10 November 1945 di Surabaya yang tidak bisa dilepaskan dari keluarnya Resolusi Jihad yang dikeluarkan Hadlratusy Syaikh Hasyim Asy’ari, puluhan ribu santri gugur sebagai kusuma bangsa.

‘’Apel dan kirab ini, salah satu tujuannya adalah menghidupkan kembali nilai-nilai dan gelora perjuangan para kiai dan santri. Terlebih, akhir-akhir ini ada pihak-pihak yang sengaja ingin mengaburkan sejarah perjuangan santri dalam merebut dan menjaga keutuhan Negara Republik Indonesia,’’ tambahnya.

Di luar itu, Asyrofi menambahkan, karena keprihatinan terhadap lunturnya nilai-nilai nasionalisme di kalangan generasi muda dan rakyat negeri ini. ‘’Indikasinya, minimnya orang  yang rela berkorban pada bangsa dan negara, serta lebih mengedepankan kepentingan pribadi dan kelompok,’’ ungkapnya.

Praktik korupsi yang dilakukan oleh kalangan elit negeri ini, juga menjadi indikasi lain lunturnya nasionalisme. ‘’Korupsi adalah kolonialisme dan imparialisme dengan wajah baru di Indonesia. Juga kongkalikong elit dengan pihak asing untuk mengeruk kekayaan negeri ini,’’ paparnya.

Sanusi berharap, ditetapkannya 22 Oktober sebagai Hari Santri Nasional berdasarkan Keputusan Presiden (Keppres) No. 22 Tahun 2015, akan memperteguh rasa patriotisme dan heroisme di kalangan santri di Bumi Nusantara.

‘’Hari Santri Nasional ini sekaligus mata bangsa ini, bahwa di balik peristwa 10 November 1945, ada peristiwa luar biasa, yaitu lahirnya Resolusi Jihad. Resolusi Jihad inilah yang telah menggerakkan para santri berjuang mempertahankan kemerdekaan RI dari tangan penjajah, sehingga kedaulatan bangsa Indonesia bisa kita nikmati hingga saat ini,’’ jelasnya.

Sementara itu, kirab HSN usai apel, pesertanya membeludak. Dari target 1.000 mobil, berdasarkan catatan panitia, lebih dari 1.075 yang mengikutinya, belum lagi ratusan santri yang menggunakan sepeda motor. Tak ayal, rombongan kirab pun mengular hingga kurang lebih 10 km.

Mengambil start di Alun-alun Simpang Tujuh Kudus ke selatan melalui PLN lalu kiri, kemudian melaju ke Loram, sampai ke Pasar Doro Desa Jepang, kemudian ke  utara melewati SMA 1 Bae, kemudian melalui STAIN Kudus.

Selanjutnya ke utara hingga MA. Miftahul Falah Cendono (Dawe), sampai ke Tugu lalu ke barat sampai Sukun (Gebog), sampai di Polsek Gebog ke barat hingga ke Tulis, lalu ke selatan melalui perempatan Sudimoro, dan finish di Jalan Lingkar Klumpit.

‘’Ada perubahan rute kirab berdasarkan hasil checking terakhir panitia. Ini berdasarkan masukan dari pihak Polres saat audiensi. Tadinya mau melewati Jalur Pantura, namun dikhawatirkan akan menjadi pemicu kemacetan,’’ ujar Suparno, sekretaris panitia Gebyar HSN PCNU Kudus.  

Sepanjang jalan yang dilalui rombongan kirab, nampak masyarakat antusias menyambutnya. Tak hanya dari kalangan NU. Bahkan para siswa Taman Kanak-kanak di bawah naungan Muhammadiyah Desa Gondangmanis, Kecamatan Bae pun tertarik menyaksikan kirab, saat rombongan melintas.

H. Sarmanto, salah satu peserta kirab mengaku antusias mengikuti kegiatan ini, apalagi ini momentum pertama HSN. ‘’Saya berharap, kirab akan digelar setiap tahun, tidak sekadar momentum awal yang menandai HSN setelah ditetapkan oleh Presiden RI, Joko Widodo,’’ katanya. (UMK)
Kontributor: Suparno (Kudus)
Share:

Masyarakat Palengaan Kembali Gelar Sholat Istisqa'

Pamekasan – Pasti Aswaja Setelah beberarap minggu yang lalu melaksanakan sholat istisqa', masyarakat se-Kecamatan Palengaan, Pamekasan, Madura kembali menggelar shalat istisqo' (shalat memohon hujan), Jum'at pagi (23/10/15) di lapangan sepak bola Garuda Palengaan Laok, Palengaan (baca juga: Kemarau Panjang, Masyarakat Pamekasan Gelar Shalat Istisqa').

Sekitar 2000 orang hampir memenuhi seluruh lapangan yang menjadi basecamp Binaul FC itu. Mereka mendatangi lapangan sejak jam 05:30.

Sholat istisqa' yang digelar kedua kalinya ini merupakan hasil musyawarah para pengasuh beberapa pondok pesantren di Palengaan, "seperti yang disampaikan pada pelaksaan sholat istisqa' sebelumnya, apabila sampai jamaah haji pulang belum turun (hujan. Red.), maka kami akan menggelar sholat istisqa' kembali," kata K.H. Misbahul Munir, Lc. sesaat setelah pelaksanaan sholat istisqa'.

Ketua Tanfidziah MWCNU Palengaan ini berharap Sholat istisqa' kali akan dikabulkan oleh Allah, Sang Pemberi Hujan, "sholat istisqa' yang dilaksanakan bersama jama'ah haji ini insya Allah diterima oleh Allah, karena doa orang yang baru melaksanakan haji itu diistijabah".

Ini menjadi agenda sholat istisqa' yang terakhir bagi para ulama di Palengaan, namun tidak menutup kemungkinan untuk dilaksanakan ketiga kalinya, "hari ini merupakan sholat istisqa' yang terkhir, namun apabila masih belum turun hujan juga akan kami musyawarahkan kembali," pungkasnya. (mif)
Share:

Thursday, October 22, 2015

Ribuan Santri di Pamekasan Sambut HSN

Pamekasan – Pasti Aswaja Ribuan santri dari 50 pesantren se-Kabupaten Pamekasan bersama Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Pamekasan menggelar Kirab Resolusi Jihad dalam rangka menyambut Hari Santri Nasional (HSN), Kamis (22/10/15).

Peserta kirab, yang juga diikuti oleh Lajnah dan Banom NU Pamekasan, itu dilepas dan diberangkatkan secara resmi oleh Mustasyar PCNU Pamekasan, Dr. KH. Kholilurrahman, SH, M.Si, dari Monumen Arek Lancor melalui Jl. Diponegoro, Jl. Segara, Jl. R. Abd. Aziz, Jl. Trunojoyo, kemudian menuju finish di Monumen Arek Lancor.

Selama dalam perjalanan, berbagai atraksi kesenian ditampilkan oleh para peserta, mulai dari kesenian modern sampai kesenian tradisional.

Di bagian paling depan, diisi oleh kader-kader Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Pamekasan. Mereka berorasi secara bergantian tentang peran dan kontribusi santri dalam mempertahankan dan memperjuangkan kemerdekaan Indonesia.

Setelah seluruh peserta kirab sampai finish, kemudian mereka duduk bersila di bawah terik matahari untuk beritighatsah bersama dan mendengarkan orasi kebangsaan oleh Kiyai Kholil, sapaan KH. Kholilurrahman. Setelah semua rangkaian usai, para peserta membubarkan diri dengan tertib sambil melantunkan Shalawat Badar. (ahn)
Share:

Bersama NU, PMII Pamekasan Sambut Hari Santri Nasional

Pamekasan – Pasti Aswaja – Dalam rangka menyambut Hari Santri Nasional (HSN), Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Pamekasan melaksanakan Kirab HSN yang diisi dengan Pawai dan Istighasah bersama Ribuan Santri dari Pondok Pesantren se kabupaten Pamekasan.

Ada yang menarik perhatian saat pawai berlangsung, yaitu terdapat atribut dan bendera Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII).

Setelah dikonfirmasi, ternyata keikut sertaan PMII memang diundang secara khusus oleh PCNU Pamekasan selaku panitia pelaksana.

Dihubungi setelah acara, Ketua Cabang PMII Pamekasan, Moh Imron mengatakan, bahwa keikut sertaan PMII tidak lain adalah sebagai bentuk dukungan dan rasa syukur atas ditetapkannya tanggal 22 Oktober sebagai Hari Santri Nasional oleh Presiden Republik Indonesia, Ir. Joko Widodo.

Ron, sapaan akrab Moh. Imron, menambahkan bahwa kader PMII sekalipun tidak mengenyam dunia pesantren juga bisa disebut sebagai santri.

"Mayoritas kader kader PMII adalah santri, meskipun bukan santri asli, tapi karakternya tetap sama seperti santri".

Ron berharap, agar penetapan HSN ini bisa mengingatkan terhadap peran Ulama dan Pesantren dalam memperjuangkan kemerdekaan RI, serta menjadi motivasi belajar bagi santri.

"Semoga dengan ditetapkannya hari santri nasional ini, sejarah perjuangan santri dan ulama-ulama NU tidak dilupakan oleh negeri ini. Dan juga Hari Santri Nasional ini bisa memupuk semangat juang para santri untuk menununtut ilmu sebagai bekal untuk tetap berjuang mempertahankan NKRI". Pungkas Ron. (bor)
Share:

PMII Jawa Timur: Polres Harus Bertanggung Jawab

Pamekasan – Pasti Aswaja Ketua III Pengurus Koordinator Cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PKC PMII) Jawa Timur, Sudarsono, meminta pihak Polres Pamekasan bertanggung jawab atas tindak kekerasan oleh oknum Polisi terhadap Moh. Rahman, aktivis PMII Pamekasan yang cedera saat melakukan aksi demonstrasi di depan kantor Bupati Pamekasan (baca juga: Demonstrasi Ricuh, Demonstran Alami Cidera & Mahasiswa Korban Kekerasan Oknum Polisi Semakin Parah), Senin, (19/10/15), "Polres harus bertanggung jawab," kata Darso, sapaan akrab Sudarsono, Kamis (22/10/15).

Moh. Rahman saat dirawat di Puskesmas Palengaan
Menurunya, jika Polisi memang pelindung dan pengayom masyarakat, tidak seharusnya bertindak represif kepada mahasiswa yang hendak menyampaikan aspirasinya, "tindakan itu bertentangan dengan motto kepolisian (Melindungi, Mengayomi dan Melayani. Red.)," ujar pemuda kelahiran Sumenep itu.

Darso, atas nama PMII Jawa Timur, juga mengecam tindakan kekerasan oleh oknum Polisi terhadap aktivis PMII yang cedera akibat pentungan Polisi, "atas nama PMII Jawa Timur, saya mengecam tindak kekerasan terhadap aktivis PMII STAI-MU oleh oknum Polisi Pamekasan," pungkasnya.

Untuk diketahui, setelah mendapatkan perawatan di Puskesmas Palengaan, Moh. Rahman diperbolehkan untuk pulang dini hari tadi. (ahn)
Share:

Wednesday, October 21, 2015

Mahasiswa Korban Kekerasan Oknum Polisi Semakin Parah

Pamekasan – Pasti Aswaja – Moh. Rahman, mahasiswa yang menjadi korban tindakan represif oknum Polisi saat aksi demonstrasi oleh PC. PMII Pamekasan, kondisinya semakin parah (baca juga: Demonstrasi Ricuh, Demonstran Alami Cidera & PMII Pamekasan Lurug Bupati Pamekasan).

Saat ini, Rabu malam (21/10/15), Wapresma STAI-MU Pamekasan itu dirawat di Puskesmas Palengaan, Pamekasan, Madura, Jawa Timur, karena siku yang terkena pentungan oknum Polisi semakin membengkak.

Menurut pengakuan Maman, sapaan akrabnya, dia merasakan sikunya semakin membengkak sejak tadi pagi, "tadi pagi waktu saya bangun tidur, saya lihat kok semakin bengkak gini. Tapi tidak saya hiraukan," katanya saat ditemui Pasti Aswaja di ruang Mawar Puskesmas Palengaan.

Akibat semakin membengkaknya sikunya itu, Maman merasakan panas disekujur tubuhnya, "dari sini (siku. Red.) saya merasakan panas sampai sini (bahu. Red.), terus dari sini ke semua badan," tuturnya sambil menunjukkan anggota tubuhnya yang merasakan panas.

Sampai berita ini diturunkan, Maman masih terbaring dengan selang infus di bagian lengan kanan, ditemani sahabat-sahabatnya dari PMII Komisariat STAI-MU dan beberapa pengurus PMII Cabang Pamekasan. (ahn)
Share:

Perbedaan TNI dan TNU

Oleh: Abd. Ghani

Pasti Aswaja – Pasukan meliter NU sedang latihan baris berbaris; postur tubuh yang menjanjikan, membuat para musuh gentar memandangnya. Siap grak, sang komandan dengan suara lantang seperti singa. Tangan-tanga pasukanpun sigap siap melangkah. Hormat grak, dengan serentak telapak tangan tepat di depan alis yang melingkar diatas sorotan mata yang tajam.

Sungguh, betapa bangganya ketika melihat pasukan elit meliter NU ini. Berbagai latihan sudah dilalui, sang komandan memberi aba-aba istirahat ditempat. Pasukanpun kompak dengan kedua tangan dibelakang, kuda-kuda kokoh sepert beton pencakar bumi. Setelah sang kiyai memberikan mauidloh, tibalah saatnya pasukan harus dibubarkan. Komandanpun kembali melantangkan suaranya; bubar barisan jalan. Pasukan tetap dalam posisi istirahat ditempat, seakan mereka tak mendengar perintah. Berkali-kali komandan membubarkan barisan, pasukan tetap saja sigap tak beranjak.

Aku benar-benar heran sekaligus ada ruang kebanggaan tak terkirakan dalam relung hati; betapa besar semangat pasukan ini, hingga dengan perintah komandan membubarkan barisan, secuilpun tak digubris. Dan dengan tiba-tiba sang kiyai menoleh, dengan langkah yang penuh kharisma menghapiri pasukan tepat didepannya. Sang kiyaipun bersuara dengan lantang: "Allahumma sholli alaa saidinaa Muhammad". Pasukanpun menjawab; "Allahumma sholli wa sallim alaih", dengan ayunan kaki yang kocar kacor, sambil lalu menggeruti: "Latihan dari tadi kok baru di bubarkan".

Hehehe, akupun tertawa sambil memalingkan muka. Inilah perbedaan Tentara Nasional Indonesia (TNI) dengan Tentara Nahdlatul Ulama (TNU) alias Banser.
Cerita dibuat bukan dari hasil penelitian, hanya karanganku dewe. Dengan tujuan menuai tawa, menghilangkan beban masalah meski sejenak.
Share:

Tuesday, October 20, 2015

NU dan 50 Pesantren di Pamekasan Akan Sambut Hari Santri Nasional

Pamekasan – Pasti Aswaja Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Pamekasan akan menggelar Kirab Resolusi Jihad dalam rangka menyambut penetapan tanggal 22 Oktober sebagai Hari Santri Nasional oleh pemerintah.

Menurut Ketua Tanfidziyah PCNU Pamekasan, Drs. KH. Abdul Ghaffar, M.Si, dalam acara itu PCNU Pamekasan akan melibatkan 50 Pesantren se-Kabupaten Pamekasan, "dalam kegiatan itu, kurang lebih ada 50 pesantren yang kami libatkan. Kalo setiap pesantren mendelegasikan 50 santri, jadi tinggal dikalikan saja jumlahnya," katanya kepada wartawan saat diwawancarai setelah memberikan sambutan dalam acara Advokasi dan Sosialisasi Program Imunisasi di kantor PCNU Pamekasan, Selasa (20/10/15).

Adapun rute Kirab Resolusi Jihad itu, peserta akan berkumpul dan start di Monumen Arek Lancor, melalui Jl. Diponegoro, Jl. Kabupaten, Jl, Segara, Jl. R. Abd. Aziz dan kemudian kembali ke Monumen Arek Lancor untuk menggelar istighatsah bersama para pengasuh pesantren di Masjid Jamik Asy-Syuhada Pamekasan.

Saat ditanya tentang kontroversi penetapan tanggal 22 Oktober sebagai Hari Santri Nasional, dia menjelaskan bahwa itu bentuk apresiasi pemerintah terhadap para santri yang berjasa dalam memperjuangkan kemerdekaan NKRI, "pemerintah tidak akan memberikan penghargaan kepada orang-orang yang tidak berjasa. Artinya, penetapan itu adalah bentuk penghargaan pemerintah atas jasa santri itu," jelasnya. "Seharusnya, kalau mereka merasa dirinya adalah santri, mereka tidak akan menolak penetapan itu, bahkan seharusnya mereka mendukung," imbuhnya.

"Tidak akan ada pengkotak-kotakan dengan penetapan Hari Santri Nasional," pungkasnya. (ahn)
Share:

Kerjasama Dengan LKNU, Kemkes sosialisasikan Imunisasi

Pamekasan – Pasti AswajaKementerian Kesehetan (Kemkes) mensosialisasikan program Imunisasi DPT-HB-HIB (PENTAVALEN) di ruang auditorium PC. GP Ansor (Pengurus Cabang Gerakan Pemuda Ansor) Pamekasan, Selasa (20/10/15).

Acara yang terlaksana dari hasil kerjasama antara Kemkes dan Lembaga Kesehatan Nahdlatul Ulama (LKNU) Pamekasan itu dihadiri sekitar 90 orang perwakilan dari Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) dan badan otonom NU se-Pamekasan.

Dalam sambutannya, ketua PCNU Pamekasan, Drs. KH. Abdul Ghafar, M.Si, berharap peserta dapat memahami secara utuh tentang imunisasi, "karena mayoritas di Pamekasan ini adalah Islam, maka nanti dari forum ini masyarakat bisa paham apa itu imunisasi dalam persepektif Islam dan persepektif kesehatan," katanya.

Setelah opening ceremony dibuka secara resmi oleh Kepala Menkes Pamekasan, acara kemudian dilanjutkan dengan dialog interaktif seputar imunisasi.

Hadir dalam acara itu, perwakilan Kemkes Pusat, Kemkes Kabupaten Pamekasan, PW LKNU Jawa Timur.

Dalam penyampaian materinya, Wakil Ketua LKNU Jawa Timur, Moh. Masruri, memaparkan hasil bahtsul masa'il NU yang memutuskan bahwa imunisasi hukumnya halal sekalipun mengandung tripsin (zat babi) dengan syarat zat itu itu dicampur dengan air dua qullah (400 liter). (ahn)
Share:

Monday, October 19, 2015

Demonstrasi Ricuh, Demonstran Alami Cidera

Pamekasan – Pasti AswajaKericuhan yang terjadi saat aksi demonstrasi oleh Pengurus Cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PC PMII) Pamekasan, Senin (19/10/15), menyebabkan beberapa peserta demonstrasi cidera (baca juga: PMII Pamekasan Lurug Bupati Pamekasan). Salah satunya adalah Mohammad Rahman.

Maman, sapaan akrabnya, menceritakan bahwa dia sempat dicekik oleh salah seorang oknum Polisi, "leher saya dicekik sampai saya susah nafas," katanya kepada Pasti Aswaja saat mendapatkan pertolongan dari sahabat-sahabatnya di Pos Keamanan Kantor Bupati Pamekasan.

Selain itu, dia juga mengalami cidera di sikunya yang disebabkan oleh pukulan pihak keamanan, "ketika saya berusaha melepaskan cekikannya, tiba-tiba saya merasakan ada pentungan dari bawah mengenai pas di siku saya, "tutur Wakil Presiden Mahasiswa (Wapresma) Sekolah Tinggi Agama Islam Miftahul Ulum (STAI-MU) Pamekasan ini.

Saat berita ini diturunkan, Maman sudah mendapatkan perawatan dan kondisinya sudah membaik.

Menurut informasi yang dikumpulkan Pasti Aswaja, pihak Polres Pamekasan akan memberikan kompensasi kepada peserta aksi yang cidera, sebagai bentuk tanggung jawab. (ahn)
Share:

PMII Pamekasan Lurug Bupati Pamekasan

Pamekasan – Pasti Aswaja Ratusan mahasiswa yang tergabung dalam Pergerakan Mahasiswa Island Indonesia (PMII) cabang Pamekasan menggelar demonstrasi di depan kantor Bupati Pamekasan Jl. Kabupaten, Pamekasan, Madura, Jawa Timur, Senin (19/10/15).

Massa aksi gabungan dari 6 komisariat PMII di bawah naungan Pengurus Cabang PMII Pamekasan itu mengkritisi tiga tahun kepemimpinan Ach. Syafi'i yang dinilai tidak menghasilkan apa-apa. Selain itu, massa aksi juga menuntut Bupati Pamekasan untuk mempertanggungjawabkan hasil audit Badan Pengawas Keuangan RI (BPK-RI), yaitu tidak adanya berita acara serah terima dana hibah barang sebesar 99,7 Miliar yang diberikan kepada 2.418 POKMAS di Kabupaten Pamekasan, serta anggaran realisasi belanja sebesar 1,3 M yang dinilai tidak tepat diklasifikasikan dalam bantuan keuangan.

"Itu mengindikasikan, telah terjadi tindak pindana korupsi di tubuh Pemkab Pamekasan," kata ketua PC. PMII Pamekasan, Moh. Imron, dalam orasinya.

Untuk menyampaikan tuntutannya, mereka meminta untuk bertemu langsung dengan Bupati, tapi keinginan itu terhalangi barikade Polisi. Akibatnya, aksi demonstrasi diwarnai kericuhan sampai beberapa peserta massa aksi mengalami cidera dan patah tulang.

Setelah kericuhan reda dan negosiasi antara pihak demonstran dan pihak keamanan, akhirnya Polisi mengijinkan beberapa perwakilan demonstran, yang terdiri dari pengurus harian PC. PMII dan ketua-ketua komisariat PMII se-Pamekasan, untuk masuk ke dalam kantor untuk menemui Bupati, akan tetapi niat para demonstran juga tidak tercapai karena Bupati Pamekasan, sedang kunjungan ke luar kota.

Sebelumnya, massa aksi melakukan long march yang dimulai dari Monumen Arek Lancor melalui Jl. Diponegoro dan Jl. Kabupaten hingga kemudian berhenti di halaman kantor Bupati.

Setelah sekitar 2 jam melaksanakan demonstrasi, akhirnya para demonstran membubarkan diri, yang sebelumnya ditutup dengan shalat ghaib sebagai simbol matinya demokrasi dan transparansi di Kabupaten Pamekasan. (ahn)
Share:

Saturday, October 17, 2015

Lagi, Tentang Cinta dan Rindu

By: Tovix

Rindu dan Cinta
Mahabbah adalah kecenderungan watak terhadap sesuatu yang nikmat, dan jika kecenderungan itu sangat kuat, maka itu namanya rindu.

Rindu juga wujud dari cinta, dimana jika lama tidak bertemu dengan yang dicinta, maka akan timbul rasa yang sangat mendalam, rasa yang menyiksa, membuat pemilik cinta itu tak bisa tidur, tak enak makan, tak enak berbuat sesuatu dan rasa itu tak ada obatnya kecuali bertemu dengan yang dirinduinya.

Pengalaman dan Rasa Para Pecinta
Dalam satu riwayat, bahwa di saat Abu Manshur Al-Hallaj dipenjara selama 18 hari, datanglah Syekh al-Syibli , lalu berkata: "Wahai Manshur, apa itu mahabbah?" Manshur al-Hallaj menjawab, "jangan tanya sekarang, akan tetapi datanglah besok". Keesokan harinya, Abu Manshur dikeluarkan dari penjara untuk dihukum mati. Saat itu lewatlah Syekh Al-Syibli, kemudian Abu Manshur memanggilnya dan berkata: "Wahai Syibli, awal sebuah cinta adalah terbakar dan akhir dari cinta adalah kematian". Dari kisah ini, menurut pandangan Abu Manshur al-Hallaj, bahwa sesuatu selain Allah adalah batil dan tidak ada, sehingga dia bisa tahu dan paham bahwa jika hanya nama Allah yang Haq dan Wujud, maka nama dirinya dan eksistensi dirinya sebagai hamba tidak haq, hingga tak salah jika dia mengatakan bahwa dia adalah al-Haq/Tuhan. Oleh karenanya yang berhak untuk di cinta dan dirindui hanyalah Allah, Tuhan yang Haq.

Dalam riwayat lain di kisahkan, suatu ketika Majnun ditanya, "siapa namamu?" Dia menjawab, "saya Laila". Di katakan lagi, "apakah Laila sudah mati?" "Tidak, Laila tidak mati, dia ada di hatiku", jawabnya. Dan suatu saat Majnun lewat di depan rumah Laila, namun dia tidak melihat ke rumah Laila, dia justru melihat ke langit. Lalu orang-orang berkata: "Wahai Majnun, jangan kau lihat ke langit, tapi lihatlah ke tembok rumah Laila, siapa tahu engkau dapat melihatnya. Majnun menjawab: "tidak, cukup bagiku melihat bintang yang meletakkan bayangannya dirumah Laila," katanya.

Rabi'ah al-Adawiyah, seorang sufi perempuan, sebelum wafat, beliau sempat berziaroh ke makam Nabi Muhammad SAW. di akhir bacaannya sebelum meninggalkan makam, beliau sempat berkata: "maaf wahai Rasul, aku baru sempat berziaroh ke kuburan engkau, karena aku baru sadar, bahwa di dunia ini ada engkau, sebab selama ini jiwaku, ragaku, hatiku dan semua jasadku penuh dengan cinta pada Allah, hingga tak ada tempat di tubuhku selain-Nya," katanya sambil menangis.

Dalam kitab Mukasyafatul Qulub, Imam Ghazali menjelaskan, bahwa kebenaran cinta terdapat pada tiga hal, pertama: seorang pecinta akan memilih ucapan yang dicinta dan meninggal ucapan lain; kedua, seorang pecinta akan memilih majlis yang dicinta dari pada majlis lain dan; ketiga seorang pecinta akan berusaha mencari ridlo yang dicinta dan bukan ridlo yang lain.

Lantas bagaimana jika kita mencintai Alllah dan Rasul-Nya? Tentunya kita akan memilih ucapan dan kalam-Nya berupa al-Quran daripada selainnya. Kita juga akan memilih majlis yang di dalamnya disebut nama Allah dan Rasul-Nya, majlis yg di dalamnya diagungkan nama Allah dan Rasul-Nya. Kita juga tentunya akan berusa mencari dan mendapat ridlo dari-Nya.

Rasul SAW. bersabda: "akan datang pada umatku, mereka mencintai lima hal dan melupakan lima hal: pertama, mereka mencintai dunia dan meninggalkan akhirat; kedua, mereka mencintai dunia dan melupakan hisab; ketiga, mereka mencintai makhluq dan melupakan sang Khaliq (sang Pncipta); keempat, mereka mencinta dosa dan melupakan taubat dan; kelima, mereka mencintai istana dan melupakan kubur

Dari beberapa kisah di atas, bisalah kiranya kita berfikir, siapa yang layak dicinta dan yang layak dirindu. Akhirnya selamat mencinta dan merindu.

Wallhu a'lam bis shawab.
Share:

Friday, October 16, 2015

Kemarau Panjang, Masyarakat Pamekasan Gelar Shalat Istisqa'

Pamekasan – Pasti Aswaja Kemarau panjang yang menimpa masyarakat Madura, khususnya masyarakat di Kecamatan Palengaan, Pamekasan, Madura, Jawa Timur, menyebabkan kekeringan sehingga masyarakat kesulitan mendapatkan air untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.

Fenomena kekeringan ini menginisiasi ulama-ulama pengasuh pondok pesantren se-Kecamatan Palengaan untuk menggelar shalat istisqa' (shalat memohon turun hujan) yang dilaksanakan di Lapangan Sepak Bola Garuda, Palengaan Laok, Palengaan, Pamekasan, Jumat (16/10/15).

Ribuan masyarakat dari seluruh lapisan hampir memenuhi lapangan yang menjadi basecamp Binaul FC itu. Hampir seluruh ulama pengasuh pesantren se-Kecamatan Palengaan juga tampak hadir berada di barisan paling depan seperti KH. Muddatstsir Badruddin (PP. Panyeppen), KH. Misbahul Munir, Lc (PP. Kebun Baru), KH. Afifurrahman (PP. Sekar Anyar), KH. Wasi' Hamzah (PP. Taman Sari) dan pengasuh pesantren lainnya.

Muhariby, salah satu jamaah yang hadir dalam shalat itu mengatakan bahwa shalat istisqa' ini memang rutin dilakukan jika bencana kekeringan menimpa masyarakat Palengaan, "shalat istisqa' ini selalu dilaksanakan setiap kemarau panjang," katanya kepada Pasti Aswaja. "Ini juga kesempatan bagi masyarakat untuk berkumpul bersama ulama," timpal jamaah lainnya.

Bertindak sebagai imam dalam shalat itu, KH. Muddatstsir Badruddin. Wakil Rais Syuriah PWNU Jawa Timur ini, dalam acara itu, juga menyampaikan ceramah keagamaan yang berkaitan dengan keimanan masyarakat. Menurutnya, salah satu penyebab kemarau panjang hingga menyebabkan kekeringan adalah perilaku masyarakat yang mulai menjauh dari Allah dan semakin maraknya kemaksiatan. (ahn)
Share:

Thursday, October 15, 2015

Presiden Tandatangani Keppres Tentang Hari Santri Nasional

Jakarta – Pasti Aswaja Presiden Joko Widodo (Jokowi) sudah menandatangani dan menerbitkan Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 22 Tahun 2015 tentang Hari Santri Nasional, "Keppres telah ditandatangi pada 15 Oktober,” kata Pramono saat memberikan keterangan pers di Kantor Kepresidenan, Jakarta, Kamis (15/10/15).

Sekretaris Kabinet, Pramono Anung, mengatakan berdasarkan Keppres itu, pemerintah menetapkan tanggal 22 Oktober sebagai Hari Santri, "tanggal 22 Oktober ditetapkan sebagai Hari Santri," ucap Pramono.

Aktivis PDIP ini juga menegaskan bahwa tanggal 22 Oktober bukan hari libur, "sekali lagi, kami sampaikan dengan keputusan ini, maka tanggal 22 Oktober telah ditetapkan sebagai Hari Santri, tapi bukan untuk libur," tegasnya.

Sebagaimana dikabarkan sebelumnya, Pramono mengatakan, ditetapkannya 22 Oktober sebagai Hari Santri merupakan usulan dari internal kabinet dan pihak eksternal terkait.

Menurut Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Prof. Dr. KH. Said Aqil Sirih, MA, menjelaskan bahwa, pemilihan tanggal 22 Oktober sebagai Hari Santri Nasional sudah tepat, karena mempresentasikan substansi kesantrian, yakni spiritualitas dan patriotisme, ketika Kiai Hasyim Asyari mengumumkan fatwa yang masyhur disebut Resolusi Jihad untuk merespons Agresi Belanda II. "Resolusi Jihad memuat seruan-seruan penting yang memungkinkan Indonesia tetap bertahan serta berdaulat sebagai negara dan bangsa," kata Kang Said, sapaan akrabnya, dalam konferensi pers di kantor PBNU, Jakarta, Selasa, (06/10/15). (ahn)
Share:

Ketika Sang Beruang Mengamuk di Suriah


Ini adalah salah satu tulisan saya yang kemarin saya post di akun facebook saya Ahmed Zain Oul Mottaqin yang cukup banyak mendapat antusiasme dari pembaca, setidaknya hingga saat ini sudah mencapai 225 share (walaupun itu bukan share terbanyak dari tulisan-tulisan saya) dan juga dimuat oleh situs beritadunia.net tapi (sayangnya) tanpa menyertakan sumber.

Ketika Sang Beruang Mengamuk

Gelombang invasi para "jihadis" yang menyerang Suriah sejak 4,5 tahun yang lalu jauh lebih dahsyat daripada apa yang pernah menimpa Libya. (Kabar terbaru militan sudah berasal lebih dari 126 negara). Tapi bantuan yang diterima Suriah juga jauh lebih dahsyat daripada yang diterima Libya.

Bagi yang benar-benar mengikuti konflik ini pasti tahu siapa saja kekuatan-kekuatan adidaya di belakang masing-masing kubu yang bertempur. Untuk lebih spesifik, di kubu oposisi (baca: pemberontak) Suriah ada USA, NATO (utamanya Turki, Prancis, Inggris), Israel, Saudi, Qatar, Jordania dll yang membiayai, mensponsori dan mempersenjatai para militan, sedangkan di kubu Pemerintah Suriah ada Tentara Arab Suriah, Rusia, Iran, Hizbullah Lebanon dan China.

Rusia dan USA memang rival terbesar saat ini. Tidak seperti USA, Rusia bukan entitas yang hendak mengontrol dunia dengan kekuatannya. Rusia sudah cukup banyak diam dengan kekacauan-kekacauan yang dibuat USA dan sekutunya di berbagai wilayah dunia demi kepentingannya.

Tak terkecuali di Suriah, perang berlangsung selama lebih dari 4.5 tahun dimana Rusia menyaksikan USA, NATO dan Rezim-rezim Arab Teluk melatih, mempersenjatai dan mensponsori para teroris asing yang mengacau di negeri sahabatnya.

Apa kali ini Rusia akan diam saja?

Jika anda mengira iya maka anda salah besar. Rasa muak Rusia sudah mencapai puncaknya.

Kali ini sang Beruang turun tangan tidak membiarkan apa yang menimpa Muammar Qaddafi juga akan menimpa sahabatnya Bashar al Assad.

Sang Beruang mengamuk, memerintahkan koalisi USA yang (berpura-pura) memerangi ISIS angkat kaki dari Suriah. Kini sang Beruang mengambil alih, ia mengirim puluhan jet-jet tempur ke Suriah, kendaraan-kendaraan militer canggih, misil-misil dan senapan mutakhir lengkap beserta pasukan dan para staff ahlinya.

Sang Beruang tidak sebodoh itu mengira koalisi pimpinan USA benar-benar memerangi ISIS padahal di belakang mendanai dan menyuplai senjata kepada mereka.

Hari ini ia ajarkan bagaimana cara mencabik-cabik para teroris di sarangnya sendiri yang membuat dunia tahu "akting murahan" USA di Suriah. Dalam 7 x 24 jam Rusia melakukan 148 serangan udara yang telah menghancurkan 40% infrastruktur ISIS, bahkan para analis militer Suriah menyebut seminggu serangan Rusia hasilnya sudah jauh melebihi 13 bulan "serangan" koalisi pimpinan USA. Tidak heran, sang Papa Bear menyindir USA dengan berkata "USA mampu menemukan air di Planet Mars, tapi tidak mampu menemukan posisi-posisi ISIS di Suriah."

Bagaimana tidak, USA yang katanya pemilik Satelit dan Intel terbaik di dunia tapi selama setahun lebih tidak mampu melacak markas komando ISIS di Idlib, malah ISIS semakin ekspansi dan berjaya selepas "diserang" koalisi ilegal di tanah Suriah tersebut. Sedangkan Rusia baru 2 x 24 jam sejak dimulainya operasi militer sudah berhasil menemukan dan menyerang Pusat Komando ISIS di Idlib dan Raqqa. Tidak aneh Kepala Bidang Luar Negeri Parlemen Rusia Alexei Pushkov berkata "Koalisi pimpinan USA hanya berpura-pura memerangi ISIS di Suriah. Mereka menghabiskan sepanjang tahun hanya untuk mengebom gurun pasir."

Retorika dimainkan, USA dan NATO tidak terima kedoknya semakin terbongkar. Mereka justru mencari-cari celah memojokkan Rusia mulai dari menebar isu serangan Rusia menyasar warga sipil, menambah gelombang pengungsi, memperburuk pertumpahan darah sampai yang terakhir isu Hoax dimana dikabarkan 26 rudal jelajah yang ditembakkan 4 kapal perang Rusia di Laut Kaspia beberapa jatuh di Iran (yang langsung dicopas oleh media-media takfiri dalam negeri).

Putus asa dengan serangan Rusia, akhirnya USA, NATO dan Rezim-rezim Arab Teluk nyaris gila. Perjuangan mereka selama 5 tahun mempersenjatai pemberontak dengan senjata-senjata mutakhir mulai senapan sampai misil-misil TOW (yang tidak sembarang negara bisa memilikinya), melatih pemberontak di kamp-kamp pelatihan di Jordania, Turki dan Saudi, bahkan sampai menggaji ribuan misionaris mereka akhirnya menjadi sia-sia belaka. "Investasi" milyaran dollar mereka dihancurkan dalam sekejap mata oleh Rusia.

Jangan terkejut jika hari ini keluar fatwa-fatwa pesanan dari Rezim-rezim Arab Teluk kepada para ulama mereka untuk menyerukan para pengikutnya "berjihad" melawan Rusia, sebagaimana fatwa-fatwa pesanan dulu keluar untuk "jihad" melawan Qaddafi dan Bashar al Assad.

Fatwa politis memanfaatkan orang-orang bodoh yang buta konstelasi untuk "berjihad" dengan kedok agama. Tapi tenang saja, para Ksatria Syam dan sang Beruang sudah siap menyambut mereka.
Dikutip dari: kompasiana.com
Share:

Wednesday, October 14, 2015

PMII Pamekasan Gelar Refleksi 1 Muharram 1437 dan Sambut Hari Santri Nasional

Pamekasan – Pasti Aswaja Dalam rangka menunjukkan kebahagiaan dengan datangnya tahun baru Hijriah 1437, Pengurus Cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PC. PMII) Pamekasan menggelar refleksi di areal monumen Arek Lancor Pamekasan, Rabu (14/10/15).

"Saat semua orang larut dalam euphoria menyambut kedatangan tahun masehi, PMII Pamekasan akan tetap berkomitmen untuk merayakan datangnya tahun baru Hijriah, sekalipun dengan cara sederhana," kata ketua umum PC. PMII Pamekasan, Moh. Imron.

Dalam acara itu, semua hadirin yang datang memakai sarung dan kopiah membentuk lingkaran besar mengelilingi lilin yang disusun menyerupai angka 1437, "saya menginstruksikan sahabat-sahabat untuk memakai sarung, karena sebentar lagi pemerintah akan menetapkan tanggal 22 Oktober sebagai Hari Santri Nasional," kata Ron, sapaan akrab Moh. Imron. "Karena mayoritas sahabat-sahabati (sebutan untuk kader PMII. Red.) PMII ini adalah mayoritas alumni pesantren." Imbuhnya.

Untuk menyegarkan ingatan berkaitan sejarah tentang tahun Hijriah, PC. PMII Pamekasan mengundang Maltuful Anam, M.Pd.I. Dalam menyampaikan materinya, mantan aktivis PMII IAIN Sunan Ampel Surabaya ini, banyak menyinggung korelasi antara peristiwa hijrah Rasulullah dan persoalan kekinian. Pimpinan Umum Pasti Aswaja ini juga menyinggung alasan umat Islam mulai melupakan tahun Hijriah. (ahn)
Share:

Pemerintah Siapkan Keppres Hari Santri Nasional, PBNU Sambut Baik

Jakarta – Pasti Aswaja Sekretaris Kabinet (Seskab) Pramono Anung mengungkapkan pemerintah tengah menyiapkan Keputusan Presiden (Keppres) yang menetapkan 22 Oktober sebagai Hari Santri. Hal itu diungkapkan Pramono di Kompleks Istana Presiden, Jakarta, Selasa, (13/10/15).

"Tanggal 22 Oktober akan ditetapkan sebagai Hari Santri, sedang ditunggu Kepresnya," kata Pramono, seperti dilansir NU Online.

Ia menyebutkan penetapan 22 Oktober sebagai Hari Santri didasarkan pada masukan dari berbagai pihak termasuk menteri terkait.

"Mereka memberikan dukungan terhadap rencana penetapan Hari Santri tanggal 22 Oktober. Tanggal itu bukan hari libur nasional," katanya.

Dikutip dari NU Online, berkenaan dengan itu, ketua PBNU, H. Aizzuddin Abdurrahman, mengatakan, PBNU menyambut baik penetapan Hari Santri Nasional pada tanggal tersebut. “Kita bersyukur Alhamdulillah,” ungkapnya, Selasa malam, (13/10/15).

Menurut dia, pada tanggal tersebut, Hadrotussyekh KH Hasyim Asy'ari mencetuskan Resolusi Jihad. Resolusi tersebut adalah salah satu yang memicu perjuangan rakyat Surabaya untuk mempertahankan kemerdekaan yang beberapa bulan telah diraih.

“Ini saat yang tepat untuk meneladani spritualitas dan perjuangan para syuhada sholihin, pejuang-pejuang bangsa yang telah mendahului. Termasuk Hadrotusysyekh KH Hasyim Asy’ari,” katanya.

Berdasarkan informasi yang dihimpun Pasti Aswaja, pemerintah akan menggelar acara besar dalam rangka menyambut penetapan Hari Santri Nasional ppada tanggal 22 Oktober. (ahn)
Share:

Home Style

Contact Form

Name

Email *

Message *

Ads

Ads

Latest News

Popular Posts

Blog Archive