Tuesday, October 27, 2015

Fanatisme Dalam Persepektif Agama

Pasti Aswaja – Berfanatiklah terhadap kebangsaan, bahasa, agama, paham sosial dan aliran politik yang kalian anut. Tetapi kalian jangan sakit hati jika melihat orang lain yang fanatik seperti kalian. Oleh karena itu, biarkanlah orang-orang lain mempunyai rasa fanatisme terhadap ideologinya, sebab kalian tidak bakalan mampu mengendalikan siapapun, dan setiap orang itu memiliki hak asasi dan kebebasan memeluk agama yang dia yakini kebenarannya, bahkan boleh memperlihatkan fanatismenya terhadap apa yang dikehendakinya.

Semua agama memutuskan, membolehkan kepada setiap orang untuk memiliki jiwa fanatik. Begitu pula semua aliran atau madzhab yang berkembang di kalangan masyarakat, tidak melarangnya. Cara seperti inilah yang ditempuh oleh bangsa-bangsa maju dengan pesat sekarang ini, sebagaimana dianut oleh nenek moyang kalian di masa lampau.

Fanatisme adalah suatu sikap yang baik, jalan yang lurus, jelas dan benar. Hanya dengan fanatisme seperti itulah umat dapat melestarikan bahasa, rasionalismenya, akhlak-akhlak terpuji, dan adat istiadat yang baik. Fanatisme itulah yang mendorong mereka menjadi bangsa yang kuat, berani dan tidak mudah goyah oleh pengaruh-pengaruh luar.

Manakala akhlak ini, yakni sikap fanatisme yang mulia ini lenyap dan tidak berkembang, akibat kesalahan pendidikan yang diterima bangsa itu, maka hilanglah ciri-ciri bangsa, lenyaplah kekuatan dan keberaniannya dan akhirnya menjadi bangsa yang lemah dan sirna dari permukaan bumi, mengikuti jejak bangsa-bangsa terdahulu. Kiranya yang menjadi sebab kebinasaan itu hanyalah karena matinya rasa fanatisme, kebejatan moral dan sebab kehilangan identitasnya. Sesungguhnya bangsa yang sempurna adalah bangsa yang berbudaya dan berakhlak mulia.

Sikap fanatisme kalian terhadap agama yang kalian anut dapat mendorong orang lain selalu menjaga kehormatan kalian, sedangkan sikap tidak tahu-menahu terhadap agama, menyebabkan orang lain tidak mau peduli kepada kalian.

Pengertian fanatisme terhadap agama adalah aktif menjalankan segala hal yang diwajibkan oleh agama, mengikuti semua petunjuk, melaksanakan semua perintah dan menjauhi segala larangannya serta berakhlaqul karimah, yang menjadi tujuan utama beragama. Memang tujuan utama beragama adalah, agar yang bersangkutan terdorong memupuk cita-cita menuju budi pekerti yang luhur.

Tidak benar sama sekali, jika fanatisme dalam agama itu diartikan harus membenci orang yang tidak menganut agama yang kalian anut, melakukan tipu daya untuk menyengsarakannya. Semua ini sama sekali bukan termasuk fanatisme agama. Tetapi yang demikian itu tidak lain hanyalah merupakan fanatisme liar, yang membahayakan terhadap proses kemajuan, merupakan suatu kebiadaban dan merupakan pelanggaran hak asasi manusia. Sebab, benci kepada orang yang berlainan agama dan melakukan teror kepadanya itu adalah perbuatan orang-orang yang tidak mengerti tentang agama yang dianutnya, kecuali namanya saja. Dia bukan penganut sejati agama tersebut. Ajaran agama dan perbuatan orang seperti itu jelas bertolak belakang.

Adapun tindakan-tindakan yang dilakukan oleh sebagian orang yang tidak mengerti isi ajaran agama dari kalangan orang-orang yang suka memutar balikkan agama untuk kepentingan pribadi, maka orang-orang seperti itu bukan orang-orang penting, tidak berarti bagi agama, dan mereka sama sekali tidak bisa menjadi hujjah atau bukti bagi agama. Allah memiliki hujjah yang kuat, apa yang mereka omongkan dan lakukan itu, tidak termasuk agama Allah sedikitpun.
Dikutip dan diterjemahkan dari Idhatun Nasyi'in karya Syaikh Musthafa Al-Ghalayain.
Share:

0 comments:

Post a Comment

Home Style

Contact Form

Name

Email *

Message *

Ads

Ads

Latest News

Popular Posts

Blog Archive

Theme Support