Saturday, October 17, 2015

Lagi, Tentang Cinta dan Rindu

By: Tovix

Rindu dan Cinta
Mahabbah adalah kecenderungan watak terhadap sesuatu yang nikmat, dan jika kecenderungan itu sangat kuat, maka itu namanya rindu.

Rindu juga wujud dari cinta, dimana jika lama tidak bertemu dengan yang dicinta, maka akan timbul rasa yang sangat mendalam, rasa yang menyiksa, membuat pemilik cinta itu tak bisa tidur, tak enak makan, tak enak berbuat sesuatu dan rasa itu tak ada obatnya kecuali bertemu dengan yang dirinduinya.

Pengalaman dan Rasa Para Pecinta
Dalam satu riwayat, bahwa di saat Abu Manshur Al-Hallaj dipenjara selama 18 hari, datanglah Syekh al-Syibli , lalu berkata: "Wahai Manshur, apa itu mahabbah?" Manshur al-Hallaj menjawab, "jangan tanya sekarang, akan tetapi datanglah besok". Keesokan harinya, Abu Manshur dikeluarkan dari penjara untuk dihukum mati. Saat itu lewatlah Syekh Al-Syibli, kemudian Abu Manshur memanggilnya dan berkata: "Wahai Syibli, awal sebuah cinta adalah terbakar dan akhir dari cinta adalah kematian". Dari kisah ini, menurut pandangan Abu Manshur al-Hallaj, bahwa sesuatu selain Allah adalah batil dan tidak ada, sehingga dia bisa tahu dan paham bahwa jika hanya nama Allah yang Haq dan Wujud, maka nama dirinya dan eksistensi dirinya sebagai hamba tidak haq, hingga tak salah jika dia mengatakan bahwa dia adalah al-Haq/Tuhan. Oleh karenanya yang berhak untuk di cinta dan dirindui hanyalah Allah, Tuhan yang Haq.

Dalam riwayat lain di kisahkan, suatu ketika Majnun ditanya, "siapa namamu?" Dia menjawab, "saya Laila". Di katakan lagi, "apakah Laila sudah mati?" "Tidak, Laila tidak mati, dia ada di hatiku", jawabnya. Dan suatu saat Majnun lewat di depan rumah Laila, namun dia tidak melihat ke rumah Laila, dia justru melihat ke langit. Lalu orang-orang berkata: "Wahai Majnun, jangan kau lihat ke langit, tapi lihatlah ke tembok rumah Laila, siapa tahu engkau dapat melihatnya. Majnun menjawab: "tidak, cukup bagiku melihat bintang yang meletakkan bayangannya dirumah Laila," katanya.

Rabi'ah al-Adawiyah, seorang sufi perempuan, sebelum wafat, beliau sempat berziaroh ke makam Nabi Muhammad SAW. di akhir bacaannya sebelum meninggalkan makam, beliau sempat berkata: "maaf wahai Rasul, aku baru sempat berziaroh ke kuburan engkau, karena aku baru sadar, bahwa di dunia ini ada engkau, sebab selama ini jiwaku, ragaku, hatiku dan semua jasadku penuh dengan cinta pada Allah, hingga tak ada tempat di tubuhku selain-Nya," katanya sambil menangis.

Dalam kitab Mukasyafatul Qulub, Imam Ghazali menjelaskan, bahwa kebenaran cinta terdapat pada tiga hal, pertama: seorang pecinta akan memilih ucapan yang dicinta dan meninggal ucapan lain; kedua, seorang pecinta akan memilih majlis yang dicinta dari pada majlis lain dan; ketiga seorang pecinta akan berusaha mencari ridlo yang dicinta dan bukan ridlo yang lain.

Lantas bagaimana jika kita mencintai Alllah dan Rasul-Nya? Tentunya kita akan memilih ucapan dan kalam-Nya berupa al-Quran daripada selainnya. Kita juga akan memilih majlis yang di dalamnya disebut nama Allah dan Rasul-Nya, majlis yg di dalamnya diagungkan nama Allah dan Rasul-Nya. Kita juga tentunya akan berusa mencari dan mendapat ridlo dari-Nya.

Rasul SAW. bersabda: "akan datang pada umatku, mereka mencintai lima hal dan melupakan lima hal: pertama, mereka mencintai dunia dan meninggalkan akhirat; kedua, mereka mencintai dunia dan melupakan hisab; ketiga, mereka mencintai makhluq dan melupakan sang Khaliq (sang Pncipta); keempat, mereka mencinta dosa dan melupakan taubat dan; kelima, mereka mencintai istana dan melupakan kubur

Dari beberapa kisah di atas, bisalah kiranya kita berfikir, siapa yang layak dicinta dan yang layak dirindu. Akhirnya selamat mencinta dan merindu.

Wallhu a'lam bis shawab.
Share:

0 comments:

Post a Comment

Home Style

Contact Form

Name

Email *

Message *

Ads

Ads

Latest News

Popular Posts

Blog Archive