• Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer

Pasti Aswaja's Content

Refleksi Tahun Baru Hijriah

 on Wednesday, October 14, 2015  

Oleh: H Taufik Hasyim*

Ada dua hal yang menjadi renungan saya di saat menghadapi tahun baru islam seperti saat ini.

pertama, saya teringat ungkapan Khalifah Umar Bin Khattab Ra, di waktu mendeklarasikan tahun baru umat Islam ini. Ungkapan yang terkenal, yaitu "hasibu anfusakum qabla an tuhasabu" yang artinya kira-kira begini, "hisablah diri kalian semua sebelum dihisab (oleh Allah). Maksudnya perbanyaklah kalian interospeksi diri, perbanyaklah kalian mengingat kesalahan diri untuk kemudian bertaubat, karena dengan datangnya tahun baru ini menunjukkan bahwa umur kalian semakin berkurang dan itu artinya maut semakin dekat, jika kalian belum bertobat lalu maut datang, maka neraka sedang menunggu kalian (begitu mungkin maksud khalifah Umar bin Khattab) 

Oleh karenanya, jika melihat umur yang semakin berkurang mestinya setiap muslim harus semakin mengurangi dosa dan memperbanyak tobat, namun yang terjadi justru sebaliknya dimana seseorang semakin tua semakin menjadi-jadi dalam berbuat maksiat, berbuat dosa dan kerusakan. 

Selanjutnya yang ingin saya sampaikan terkait ungkapan Umar Bin Khattab Ra di atas, adalah perihal banyaknya orang yang justru sibuk menghisab orang lain, sibuk mencari kesalahan orang lain, sibuk mengoreksi celah dan keburukan orang lain hingga saking sibuknya tidak sempat untuk melihat kesalahan dirinya sendiri.

Padahal sebaiknya, seperti apa yang di ungkapkan oleh KH Mustofa Bishri (Gus Mus), bahwa manusia harus punya dua cermin, dimana satu cermin digunakan untuk melihat kelebihan orang lain dan yang satu cermin lagi digunakan untuk melihat kekurangan diri sendiri, bukanlah malah sebaliknya.

Atau seperti lagunya Bang Haji Rhoma Irama, bahwa semut di seberang lautan bisa kelihatan dan gajah di pelupuk mata tidak kelihatan. Artinya kesalahan orang lain meskipun kecil, bisa tampak kelihatan, sedang kesalahan diri sendiri meskipin besar malah tidak kelihatan.

Sekali lagi dengan momen tahun baru hijriah ini, mari kita interospeksi, interospeksi yang betul-betul interospeksi untuk menuju kemaslahatan umat, sebab munculnya permusuhan, perpecahan dan ketidak rukunan diawali dari saling menyalahkan, saling membuka aib dan saling menyalahkan.

Hal kedua yang ingin saya sampaikan dan ini selalu menjadi pemikiran saya tiap tahunnya, kenapa jika menjelang tahun baru masehi seluruh umat Islam seakan bahagia, senang hingga kebahagiaan itu terluap dengan jelas baik dengan terompet, pesta pora, gemerlapnya lampu warna warni, mulai dari acara dimuka umum hingga acara spesial khusus di rumah-rumah. Namun jika tiba tahun baru Islam berupa hijriah, mana itu terompet, mana itu gemerlapnya lampu, mana itu pesta pora kegembiraan di jalan-jalan, di toko-toko, di pusat perbelanjaan, bahkan seakan malu jika menyebut tahun baru Hijriah di muka umum. 

Pertanyaannya adalah, apakah ini yang di sebut kemunduran Islam dan umat Islam? Atau ini memang sengaja dibikin oleh umat Islam agar supaya diisi dengan do'a awal tahun dan akhir tahun di masing-masing rumah saja dan tidak perlu di muka umum? Atau ini sebuah skenario besar dari ideologi besar dunia yang sengaja menjajah umat Islam dengan berbagai macam cara agar umat Islam lupa terhadap simbol-simbol agamanya?

Wallahu a'lam bishowab
*Pengasuh PP. Bustanul Ulum Sumber Anom Palengaan & Pembantu Ketua I Sekolah Tinggi Agama Islam Miftahul Ulum (STAI-MU) Pamekasan.

Refleksi Tahun Baru Hijriah 4.5 5 Pasti Aswaja Wednesday, October 14, 2015 Oleh: H Taufik Hasyim* Ada dua hal yang menjadi renungan saya di saat menghadapi tahun baru islam seperti saat ini. pertama, s...


No comments:

Post a Comment

Pasti Aswaja. Powered by Blogger.
J-Theme