• Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer

Pasti Aswaja's Content

Tentang Hati dan "Tentaranya"

 on Wednesday, October 7, 2015  

Oleh: H. Taufik*

Abstrak

Hati bisa dilihat dari dua makna, yaitu makna secara dzahir dan makna secara bathin. Hati menurut makna dzahir adalah sebuah darah kental yang berwarna merah kehitam-hitaman yang terletak di dada sebelah kiri berbentuk seperti jantung pisang persis di bawah susu kiri, hati  ini yang menjadi salah satu sumber kehidupan karena tempat ini merupakan pusatnya ruh. Hati jenis ini erat kaitannya dengan ilmu kedokteran dan tidak banyak yang menyangkut tentang keagamaan karena hati ini dimiliki oleh semua jenis hewan. 

Sedang hati dalam makna bathin adalah ruh ketuhanan yang merupakan hakikat dalam diri manusia untuk menerima pengetahuan dan dapat menerima ilham dari Allah. Hati inilah yang disebut hati nurani dalam setiap diri manusia, hati dalam makna ini adalah tempatnya kebajikan. Oleh karenanya, jika seseorang sedang melakukan maksiat, pasti tidak dapat dipungkiri bahwa dalam hati nuraninya mengatakan bahwa pekerjaan yang sedang di lakukan adalah perbuatan yang salah.

"Tentara" Hati

Hati memiliki dua tentara (Junudul Qalb) yaitu tentara yang bisa dilihat dengan kepala mata, dan yang satu lagi tidak bisa dilihat dengan kepala mata melainkan harus dilihat dengan mata hati. Dalam struktur tubuh, hati ibarat raja dan anggota tubuh yang lain ibarat pembantunya. Adapun tentara hati yang dapat dilihat dengan mata adalah mata itu sendiri, tangan, kaki, telinga, mulut, kepala dan seluruh anggota tubuh lainnya. Semua itu merupakan tentara hati yang tunduk dan patuh pada hati, sedang hati sebagai penggerak dan pengemudi yang senantiasa diikuti oleh seluruh tentaranya tadi. Maka jika hati memerintah untuk bergerak, bergeraklah seluruh tubuh. Jika hati memerintah mata untuk terbuka, maka terbukalah mata itu, jika hati memerintah kaki untuk melangkah, maka melangkahlah kaki itu, jika hati menyuruh leher untuk menoleh, maka menolehlah leher itu, begitulah seterusnya.

Kebutuhan hati terhadap tentaranya itu ibarat kebutuhan sopir terhadap semua komponen yang ada dalam mobil, di mana mulai dari roda, rem, mesin, knalpot, jok, kaca, kaca spion, setir, mesin, gardan, hingga bensin dan oli. Semua merupakan satu komponen yang tak terpisahkan. Kendaraan hati itu adalah badan dan bekalnya (bensin dan olinya) adalah ilmu, sementara sebab-sebab yang mengantarkan dan memperoleh bekal adalah amal kebajikan. Hati dalam perjalannya memerlukan kendaraan berupa tubuh, oleh karena itu menjaga dan merawat badan merupakan suatu keharusan seperti memberi makanan dan menjaganya dari hal-hal yang bisa merusak, badan sendiri dalam melangsungkan hidupnya membutuhkan tentara baik tentara lahir maupun batin, seperti syahwat dan tentara lahir seperti tangan, kaki dan anggota tubuh yang lain.

Sehingga jikalau ada salah satu komponen dari tubuh yang kurang sehat, tentu hal itu akan berpengaruh terhadap semua gerak-gerik tubuh dalam melaksanakan aktivitasnya. Demikan itu terjadi pada mobil, jika salah satu perangkat mobil belum juga siap secara maksimal, tentulah mobil itu tidak bisa digunakan perjalanan secara maksimal, sebab jika dipaksakan, akan mengancam kesalamatan penumpang. Oleh karenanya, agar keselamatan terjamin dan tujuan bisa tercapai secara baik, maka mobil itu harus dijaga dan dirawat dengan maksimal.  

Adapun syahwat, yang dalam hal ini sebagai tentara hati yang tidak tampak (bathin), ia diciptakan dan bertempat di dalam hati. Untuk kepentingan syahwat ini Allah menciptakan beberapa "pembantu" guna menjaga  keutuhan  dari setiap hal yang akan merusaknya. Untuk itu ia butuh dua tentara pembantu yaitu (al-ghadhab) marah yang berfungsi sebagai bentuk pertahanan dari segala kemungkinan serangan dari luar. Selain itu juga berfungsi untuk balas dendam terhadap musuh-musuhnya. Sedang anggota lahir seperti tangan, kaki, dan anggota tubuh lainnya untuk merealisasikan kehendak amarah berupa perlawanan dan atau pertahanan dari stimulus eksternal.

Jenis-Jenis "Tentara Hati"

Secara garis besar, tentara hati dapat dibagi ke dalam tiga bagian yaitu:

Pertama: tentara hati yang berfungsi sebagai motivator (perangsang). Tentara jenis ini, suatu saat berfungsi mendorong manusia untuk mendapat hal-hal yang bermanfaat dan yang cocok baginya seperti syahwat. Syahwat dalam hal ini bisa bermanfaat jika pemiliknya menggunakan untuk hal-hal yang positif, seperti syahwat agar cepat-cepat melaksanakan kebaikan, syahwat untuk cepat-cepat melaksanakan ibadah. Dan adakalanya berfungsi menjadi alat untuk menepis kemudharatan seperti emosi atau marah, emosi dalam hal ini bisa menjadi benteng bagi tubuh dalam menolak serangan dari luar (orang lain) yang meremehkan jiwa dan merusak harga diri. Pada saat inilah emosi dan nafsu dibutuhkan dalam rangka menjaga eksistensi dan keberadaan diri dan jiwa.

Kedua: tentara hati yang berfungsi sebagai pengggerak (motorik) yang menggerakkan seluruh anggota tubuh dalam mencapai tujuannya. Jenis ini bisa juga disebut al-qudrah (kemampuan) yang tersebar di seluruh anggota tubuh terutama di dalam otot-otot dan urat. Tentara inilah yang melaksanakan kehendak (krentek: jawa) hati yang kemudian diaplikasikan (dilaksanakan) ke dalam sikap dan perbuatan. Contoh: jika hati punya keinginan untuk pergi ke pasar, maka tentara ini yang melaksanakan kehendak hati dengan melangkahkan kaki dan seluruh tubuh pergi ke pasar.

Ketiga: tentara hati yang berfungsi sebagai pengenal, atau bisa disebut juga instrumen yang yang dapat mengenal sesuatu. Tentara ini bisa juga berfungsi sebagai mata-mata, dan hal ini lebih sering difungsikan oleh indera pendengar, perasa, penglihat, peraba dan sebagainya. Tentara jenis ini disebut dengan instrumen pengetahuan (al-'ila) dan pencerapan (al-Idrak) . 

Setiap tentara lahir pasti disertai tentara batin, yang proses kejadiannya terdiri dari unsur-unsur campuran, seperti tulang, rusuk, lemak dan darah yang kesemua itu  menjadi bahan dasar pokok bagi tentara lahir, seperti memegang misalnya,  terdapat pada tangan, melihat misalnya, terdapat pada mata, mencium terdapat pada hidung, merasa terdapat pada lidah yang kesemua itu antara satu dengan yang lain tetap saling berkaitan.

Hal paling menakjubkan dari kedua tentara hati ini, ialah proses  yang terdapat pada tentara batin yang tidak tampak dalam diri manusia, yaitu tipe jenis tentara ketiga yang merupakan instrumen penyerap dan pengenal. Daya instrumen ini terbagai menjadi dua bagian, pertama: daya lahiriyah berupa panca indera seperti pendengaran, penglihatan, penciuman, peraba dan perasa. Kedua: daya yang menempati posisi batiniyah berupa rongga-rongga otak. Di mana setiap manusia melakukan sesuatu, ia lalu memejamkan mata, lalu ia melihat gambar tadi dari penglihatan jiwanya dan itulah yang disebut dengan "khayal". Dan setelah gambar khayal itu disimpan cukup lama, maka  proses selanjutnya adalah disimpan oleh sebuah kekuatan yang disebut al-hafidz (hafalan), lalu setelah hasil hafalan itu disimpan cukup lama,  maka timbullah daya untuk memikirkan apa yang telah dihafal. Hasil dari proses pikiran tersebut akan dapat saling keterkaitan antara satu gambar dengan gambar yang lain, sehingga memungkinkan untuk dapat mengingat kembali terhadap ingatan yang hampir terlupakan, kemudian setelah itu akan terkumpul  makna yang dirasakan untuk dimunculkan ke dalam suatu sikap. Ini artinya, bahwa hati dan otak merupakan suatu hal yang tak terpisahkan karena antara satu dengan yang lain haruslah saling mengisi. Maka andaikan Allah tidak menciptakan pikiran, ingatan, dan khayalan niscaya otak manusia tidak ada bedanya dengan otak yang terdapat pada hewan.

Penutup

Dari tulisan di atas kita bisa mengenal tentang hati agar bisa menata hati untuk digerakkan kearah yang lebih baik dan menjadi orang yang ber-hati.
* Pembantu Ketua I Sekolah Tinggi Agama Islam Miftahul Ulum (STAI-MU) Pamekasan dan Pengasuh Pondok Pesantren Bustanul Ulum Sumber Anom, Palengaan, Pamekasan, Madura.

Tentang Hati dan "Tentaranya" 4.5 5 Pasti Aswaja Wednesday, October 7, 2015 Oleh: H. Taufik* Abstrak Hati bisa dilihat dari dua makna, yaitu makna secara dzahir dan makna secara bathin . Hati menuru...


No comments:

Post a Comment

Pasti Aswaja. Powered by Blogger.
J-Theme