Sunday, November 1, 2015

Hakikat Waliyullah


Ada asumsi salah kaprah di kalangan masyarakat kita, tentang cara penilaian masyarakat kepada seseorang sehingga dianggap sebagai Waliyullah (kekasih Allah). Menurut kebanyakan mereka, Waliyullah diidentikkan dengan keanehan (khariq lil-‘adah), meskipun keanehan tersebut masih belum masuk dalam kategori keanehan yang sesungguhnya. Menurut kalangan ini, jika ada orang -yang entah karena kebetulan-, mengetahui isi hati seseorang yang datang untuk meminta pertolongan kepadanya, atau orang tersebut berhasil menyembuhkan orang yang sakit dan semacamnya, maka orang tersebut langsung diisukan sebagai Wali. Ada juga yang berasumsi, bahwa ketika seseorang memiliki prilaku yang berbeda dengan banyak orang, (dalam istilah madura disebut helap), maka orang tersebut langsung dicap sebagai Wali. Pada dasarnya asumsi salah kaprah tersebut perlu diluruskan. 

Dengan sangat jelas dan gamblang al-Qur’an menyatakan bahwa yang disebut wali Allah Swt adalah orang-orang yang selalu beriman dan bertakwa kepada Allah Swt. Allah Swt berfirman tentang para wali Allah dalam al-Qur’an al-Karim:

أَلاَ إِنَّ أَوْلِيَاءَ اللهِ لاَ خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلاَ هُمْ يَحْزَنُوْنَ، الَّذِيْنَ آَمَنُوْا وَكَانُوْا يَتَّقُوْنَ، لَهُمُ الْبُشْرَى فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي اْلآَخِرَةِ لاَ تَبْدِيْلَ لِكَلِمَاتِ اللهِ ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيْمُ.

“Ingatlah sesungguhnya wali-wali Allah, mereka tidak merasa takut dan tidak pula berduka cita. (Wali-wali Allah) yaitu orang-orang yang beriman dan selalu bertakwa. Mereka mendapat berita gembira (kemenangan) di dunia dan (kebahagiaan) di akhirat. Tidak ada perubahan janji-janji Allah. Itulah kemenangan yang besar.” (QS. Yunus [10]: 62-64).

Berdasarkan ayat inilah, para ulama mengemukakan beberapa pengertian waliyullah. Al-Imam Abu al-Qasim al-Qusyairi, ulama sufi terkemuka, menguraikan definisi wali Allah dalam tafsirnya sebagai berikut:

قَوْلُهُ جَلَّ ذِكْرُهُ: أَلاَ إِنَّ أَوْلِيَاءَ اللهِ لاَ خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلاَ هُمْ يَحْزَنُوْنَ، الوَلِيُّ وَهُوَ مَنْ تَوَالَتْ طَاعَاتُهُ، مِنْ غَيْرِ أَنْ يَتَخَلَّلَهَا عِصْيَانٌ، وَيَجُوْزُ أَنْ يَكُوْنَ الْوَلِيُّ مَنْ يَتَوَالَى عَلَيْهِ إِحْسَانُ اللهِ وَإِفْضَالُهُ، وَيَكُوْنُ بِمَعْنَى كَوْنِهِ مَحْفُوْظًا فِي عَامَّةِ أَحْوَالِهِ مِنَ الْمِحَنِ، وَأَشَدُّ الْمِحَنِ اِرْتِكَابُ الْمَعَاصِيْ، فَيَعْصِمُهُ الْحَقُّ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى عَلَى دَوَامِ أَوْقَاتِهِ مِنَ الزَّلاَّتِ، وَكَمَا أَنَّ النَّبِيَّ لاَ يَكُوْنُ إِلاَّ مَعْصُوْمًا، فَالْوَلِيُّ لاَ يَكُوْنُ إِلاَّ مَحْفُوْظًا.

“Firman Allah Swt: “Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah mereka tidak merasa takut dan tidak pula berduka cita.” Wali adalah orang yang selalu taat kepada Allah tanpa diselingi dengan perbuatan maksiat. Boleh juga yang dimaksud wali adalah orang yang selalu memperoleh kebaikan Allah dan anugerah-Nya. Demikian juga wali berarti orang yang dilindungi dalam seluruh waktunya dari berbagai ujian. Dan ujian yang terberat adalah melakukan maksiat. Allah Swt senantiasa melindu-nginya dari ketergelinciran. Apabila nabi itu harus ma‘shûm, maka wali itu harus mahfûzh.” (Al-Imam Zainul Islam Abu al-Qasim al-Qusyairi, Lathâ’iful-Isyârât, tahqîq Abdullathif Abdurrahman, Beirut, Darul-Kutub al-Ilmiyah, 2000, vol. III, hlm. 248).

Selanjutnya al-Qusyairi menjelaskan bahwa perbedaan mahfûzh dan ma‘shûm. Ma‘shûm adalah orang yang tidak pernah terbersit dalam hatinya untuk melakukan dosa. Sedangkan mahfûzh kadangkala melakukan kesalahan-kesalahan kecil. Dan terkadang dia tergelincir, tetapi tidak terus menerus. 

Al-Imam Syihabuddin Ibnu Hajar al-Haitami, ulama fikih terkemuka mazhab asy-Syafii dalam kitab al-Fath al-Mubin Syarh al-Arba’in menjelaskan tentang maksud wali Allah Swt.

فاَلْوَلِيُّ هُنَا الْقَرِيْبُ مِنَ اللهِ تَعَالَى لِتَقَرُّبِهِ إِلَيْهِ بِاتِّبَاعِ أَوَامِرِهِ وَاجْتِنَابِ نَوَاهِيْهِ، وَاْلإِكْثَارِ مِنْ نَوافِلِ الْعِبَادَاتِ، مَعَ كَوْنِهِ لاَ يَفْتُرُ عَنْ ذِكْرِهِ، وَلاَ يَرَى بِقَلْبِهِ غَيْرَهُ، لاِسْتِغْرَاقِهِ فِيْ نُوْرِ مَعْرِفَتِهِ، فَلاَ يرَىَ إِلاَّ دَلاَئِلَ قُدْرَتِهِ، وَلاَ يَسْمَعُ إِلاَّ آَيَاتِهِ، وَلاَ يَنْطِقُ إِلاَّ بِالثَّنَاءِ عَلَيْهِ وَلاَ يَتَحَرَّكُ إِلاَّ فِيْ طَاعَتِهِ، وَهَذَا هُوَ الْمُتَّقِيْ، قَالَ تَعَالىَ: إِنْ أَوْلِيَاؤُهُ إِلاَّ الْمُتَّقُوْنَ.

“Yang dimaksud wali di sini ialah orang yang dekat kepada Allah Swt, karena ia mendekatkan diri dengan cara mengikuti segala perintah-Nya, menjauhi semua larangan-Nya, memperbanyak ibadah-ibadah sunah, dia tidak pernah meninggalkan dzikir kepada Allah Swt, dan hatinya tidak pernah melihat selain keagungan Allah, karena ia tenggelam dalam cahaya ma’rifat kepada Allah Swt. Ia tidak melihat kecuali tanda-tanda kekuasaan Allah Swt. Tidak mendengar kecuali ayat-ayat-Nya. Tidak berbicara kecuali memuji kepada Allah Swt. Tidak bergerak kecuali dalam ketaatan kepada Allah Swt. Dan inilah sebenarnya orang yang bertakwa kepada Allah Swt. Allah Swt berfirman dalam al-Qur’an: “Orang-orang yang menjadi kekasih-Nya, hanyalah orang-orang yang bertakwa. (QS. Al-Anfal [8]: 34). (Al-Imam Syihabuddin Ibn Hajar al-Haitami, al-Fathul-Mubîn bi-Syarhil-Arba’în, Jeddah, Darul-Minhaj, 2009, hlm. 589.).

Karena kedekatannya kepada Allah Swt itu, para wali selalu menghindarkan dirinya dari sesuatu yang diharamkan. Begitu pula yang dimakruhkan. Bahkan beberapa hal yang mubah sekalipun ada yang dihindari. Al-Imam al-Ghazali dalam kitab Ihyâ’ ‘Ulûmid-Dîn menjelaskan:

مُبَاحَاتُ الْعَوَامِّ سَيِّئَاتُ اْلأَبْرَارِ، وَحَسَنَاتُ اْلأَبْرَارِ سَيِّئَاتُ الْمُقَرَّبِيْنَ.

“Perbuatan yang mubah apabila dilakukan orang awam, adalah suatu keburukan jika dikerjakan oleh orang mu’min yang berbakti. Dan kebaikan yang dilakukan oleh seorang mu’min yang berbakti, bernilai sebagai keburukan bagi orang-orang yang dekat kepada Allah Swt (Waliyullah).” (Al-Imam al-Ghazali, Ihyâ’ ‘Ulûmid-Dîn, Beirut, Darul-Fikr, 1991, vol. III, hlm. 305.).

Dalam hal ini al-Imam al-Ghazali memberikan perbandingan ketika ada seorang pengemis meminta-minta kepada rakyat jelata dan kepada pejabat, kemudian keduanya sama-sama memberikan sepotong roti, dengan kualitas yang rendah. Bagi si rakyat jelata, itu adalah perbuatan yang sangat mulia. Namun tidak pantas diberikan oleh seorang pejabat. Karena tidak sesuai dengan kedudukannya yang menempati kelas atas dalam kehidupan sosial.

Demikian pula dengan seorang wali Allah. Dengan kedudukannya yang tinggi di sisi Allah Swt, maka apa yang sebenarnya boleh dikerjakan oleh orang awam, menjadi tidak layak dilakukan oleh wali Allah. Misalnya menyantap makanan dan minuman yang lezat sepuas-puasnya adalah hal yang mubah bagi orang kebanyakan. Namun itu menjadi tidak pantas jika dilakukan oleh seorang wali Allah.

Pedoman utama mereka dalam melaksanakan perintah dan menjauhi larangan Allah Swt adalah syariat. Seorang yang sampai pada derajat kewalian akan selalu berpegang teguh kepada al-Qur’an dan Hadis sebagai rujukan utama dalam Islam. Sudah barang tentu di dalam mengamalkan syariat tersebut selalu dilandasi dengan ilmu yang memadai. Beramal tanpa ilmu selain mudah terjerumus pada kesesatan, amalnya juga tidak akan dikabulkan oleh Allah Swt. Kata al-Imam al-Junaid al-Baghdadi yang bergelar Sayyiduth-Thâ’ifah, yang berarti pemimpin dan rujukan para ahli tasawuf:

مَنْ لَمْ يَحْفَظِ الْقُرْآَنَ الْكَرِيْمَ وَلَمْ يَكْتُبِ الْحَدِيْثَ لاَ يُقْتَدَى بِهِ فِي هَذَا اْلأَمْرِ لأَنَّ عِلْمَنَا هَذَا مُقَيَّدٌ بِالْكِتَابِ وَالسُّنَّةِ

“Barang siapa yang tidak bisa memahami hukum-hukum al-Qur’an dan Hadis, dia tidak boleh dijadikan panutan dalam persoalan ini (tasawuf), karena ilmu kami para ahli tasawuf itu bersumberkan dari al-Qur’an dan as-Sunah.” (Al-Imam Abu al-Qasim al-Qusyairi, ar-Risâlah al-Qusyairiyyah, tahqîq Abdul Halim Mahmud, Kairo, Darul-Ma’arif, 1995, vol. I, hlm. 79.).
Share:

0 comments:

Post a Comment

Home Style

Contact Form

Name

Email *

Message *

Ads

Ads

Latest News

Popular Posts

Blog Archive