Category 1

Theme Support

Martin Van Bruinessen: Pengamat NU Yang Akhirnya Memeluk Islam

"Waktunya yang terus mempertanyakan apa-apa yang telah dianggap sebagai kemapanan ilmiah membuatnya terus bertanya dan mempertahankan segala sesuatu. Ia mempertanyakan kebenaran anggapan bahwa pondok pesantren dengan kurikulum yang dikenal sekarang, dengan 14 cabang kajian yang disilabuskan Imam Jalaluddin Al-Suyuthi dalam Itmam Al-Dirayah, memang telah ada sejak zaman wali songo (abad ke 15 dan 14 M) itu."
Catatan di atas adalah cuplikan pengantar yang ditulis Gus Dur pada buku "Kitab Kuning, Pesantren dan Tarekat". Gus Dur menggambarkan Martin Van Bruinessen sebagai sosok yang selalu kritis terhadap kemampuan ilmiah. Ini adalah satu sisi pribadi seorang Martin yang telah lama mengenal Islam dan Indonesia.

Dr. Martin Van Bruinessen lahir di Schoonhoven Belanda pada 1946. Belajar Fisika teoritis dan Matematika di Universitas Utrcht. Pada 1978 ia berhasil mempertahankan disertasi doktornya, Ahha, Shaikh and State, hasil penelitian tentang gerakan sosial keagamaan minoritas Kursi di Turki, Iran dan Irak. Dari pergumulannya dengan masyarakat Kursi inilah yang mengantarkan Martin mengenal Islam terutama pada sisi spritualnya. Dan akhirnya membawa Martin untuk mengakui kebenaran Islam.

'Tak tanggung-tanggung semenjak masuk Islam, Martin terus menggerus keislamannya melalui penelaahan terhadap khazanah keislaman. Dan Martinpun sadar, bahasa Arab merupakan "jendela" untuk mengkaji keilmuan Islam.

Setelah menguasai bahasa Arab, Martin terus bergerak dan melanglangi samudera keislaman. Ibarat seorang Socrates yang selalu "gerah" dengan kebenaran, dalam pengembaraannya, Martin dapat memasuki wilayah kedalaman kebenaran, karena ia telah melampaui sekat-sekat logika yang parsial, menukik misteri kalbu, menyibak semesta keilahian. Dan akhirnya Martin memilih lelaki sufi sebagai jalannya.

Martin mulai memasuki Indonesia sejak 1980. Martin yang kritis dan suka meneliti seolah menemukan lahannya di negeri yang pernah dijajah negeri tempat Martin dilahirkan, Belanda. Indonesia sebagai negara yang sedang berkembang rupanya telah menyimpan berbagai masalah dan tantangan. Mulailah ia meneliti kemiskinan kota dan gerakan Islam. Dari penelitian ini mengantarkan Martin pada 1986 – 1990 menjadi konsultan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) untuk sebuah penelitian besar tentang pandangan hidup ulama Indonesia. Aktif di LIPI membuat Martin Van Bruinessen lebih jauh mengenal Islam tradisional setelah sebelumnya berkenalan dengan kalangan Islam modernist. Islam di Indonesia mengguratkan dinamika yang menarik terutama menyeruaknya tarik ulur antara Islam tradisional dan Islam modernis. Selain itu, yang menarik perhatiannya juga tentang sufi khususnya yang sudah berkecambah sejak munculnya kerajaan Islam, zaman penjajahan Belanda hingga sekarang. Bahkan telah merambah dalam masyarakat Indonesia modern. "Perkenalan saya dengan Islam tradisional berawal ketika saya bekerja di LIPI sebagai konsultan metodologi penelitian dan ikut terlibat dalam sebuah proyek penelitian tentang pandangan hidup ulama. Selama berlangsungnya proyek ini saya mengunjungi banyak pesantren dan madrasah dan madrasah serta bertemu dengan banyak ulama, baik tradisionalis maupun modernis." Demikian penuh dituturkan Martin dalam bukunya yang bertajuk "NU Tradisi: Relasi-relasi Kuasa Pencarian Wacana Baru" yang diterbitkan LKiS.
Disadur dari buletin Idaf

0 Response to "Martin Van Bruinessen: Pengamat NU Yang Akhirnya Memeluk Islam"

Post a Comment

wdcfawqafwef