• This is default featured slide 1 title

    Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

  • This is default featured slide 2 title

    Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

  • This is default featured slide 3 title

    Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

  • This is default featured slide 4 title

    Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

  • This is default featured slide 5 title

    Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Monday, February 29, 2016

Dunia Apresiasi Islam Nusantara

Purwakarta – Pasti Aswaja – Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) mendapatkan respon positif dari publik internasional setelah menggagas istilah Islam Nusantara, dan hal ini dibuktikan dengan munculnya dukungan dari tamu luar negeri dan negara sahabat.

Sekjend PBNU, H. Helmy Faizal Zaini saat mengisi kegiatan pendidikan kader NU di Purwakarta, Jum'at (26/02/16), mengungkapkan bahwasanya NU mendapatkan apresiasi dari negara-negara lain, "hampir setiap hari kita kedatangan dari negara-negara lain, mereka sangat tertarik terhadap Islam Nusantara yang toleran, dan damai, sehingga mereka juga mendorong agar Islam Nusantara ini segera diekspos agar dunia mengetahuinya," jelasnya.

"Sejak Wali Songo berdakwah di bumi Nusantara, sejak saat itu pula Islam Nusantara ada, sehingga istilah Islam Nusantara bukanlah hal yang baru dan tidak perlu dicurigai apalagi dipermasalahkan," lanjut Helmy. 

Ia pun menegaskan, dalam berdakwah tidak perlu menggunakan cara-cara kekerasan karena hal itu akan menjatuhkan keluhuran agama islam dan menjatuhkan umat islam dari pergaulan internasional, sedangkan Islam Nusantara menjunjug tinggi nilai-nilai toleransi dan perdamaian. 

Kemudian dalam memberikan contoh dakwah yang damai, iapun menceritakan sosok ketua umum PBNU, KH. Said Aqil Siroj, yang telah mengislamkan beberapa orang yang sebelumnya tidak islam, "kemarin saja Kiyai said sudah mengislamkan lebih dari 20 warga Jepang dan Kiyai Said sering diundang mengisi pengajian oleh para TKI yang ada di Hongkong, Taiwan, dan beberapa negara lain," ujarnya lagi.

Lebih lanjut lagi, Helmi menjelaskan bahwa PBNU berencana pada bulan Mei berencana mengundang 30 ulama dari berbagai negara dalam pertemuan International Summit of the Moderate Islamic Leaders agar Islam Nusantara bisa diketahui dunia internasional. (AS)
Share:

PP. Karang Durin Juara Umum MUAMMAR ke-IV PP Sidogiri

Sampang – Pasti Aswaja Pondok Pesantren Miftahul Ulum (PPMU) Sidogiri, Keraton, Pasuruan, Jawa Timur menggelar Musabaqoh Antar Madrasah Ranting (MUAMMAR) ke IV tingkat Tsanawiyah di PPMU Karang Durin, Tlambah, Karang Penang, Sampang, Madura, Minggu (28/02/16) siang.

Kegiatan rutin yang biasa dilaksanakan setiap tahun dengan lokasi yang berbeda-beda ini diikuti oleh madrasah dan pesantren yang menjadi ranting dari PP. MU Sidogiri tipe B, meliputi wilayah Madura

Dalam rangkaian acara ini, madrasah dan pesantren ranting mendelegasikan anak didik pilihannya untuk diikutkan lomba yang sudah ditentukan oleh panitia pelaksana dari PPMU Sidogiri, meliputi: lomba muhafadzoh alfiyah, tartil al-Quran, baca kitab kuning untuk kategori kelas satu, baca kitab kuning untuk kategori kelas dua, dan cerdas cermat khusus kelas satu.

Untuk periode tahun ini, juara umum MUAMMAR diraih oleh PPMU Karang Durin yang juga menjadi tuan rumah.

Pesantren di bawah asuhan KH. Fauzan Zaini ini dinobatkan sebagai juara umum setelah menjuarai semua jenis lomba dan menyingkirna nama-nama besar yang masuk nominasi, yaitu PPMU kebun baru, Palengaan, Pamekasan  dan PPMU Mor Angsanah, Bangkalan.

"Peserta memberikan yang terbaik dan mereka betul-betul berusaha maksimal," tutur Bahrullah, salah satu asatidz PPMU Karang Durin kepada Pasti Aswaja.

Sebelumnya, PPMU Karang Durin juga dinobatkan sebagai juara umum pada pelaksanaan MUAMMAR ke XXVI tingkat Ibtidaiyah, Minggu (21/02/16) lalu di Patengteng, Bangkalan. (bor)
Share:

Saturday, February 27, 2016

Dialog Agama Antara Mbah Wahab dan Van der Plas

Pasti Aswaja – Dalam suatu kesempatan diplomasi antara Van der Plas (Gubernur Hindia Belanda untuk wilayah Jawa Timur sebelum Jepang mengalahkan Belanda tahun 1942) dengan KH A Wahab Chasbullah, diceritakan sebelum masuk ke pembicaraan inti, Van der Plas terlebih dahulu hendak menguji kecakapan Kiai Wahab Chasbullah dalam bidang teologi. 

Ia mengajukan satu pertanyaan  dan lewat pertanyaan ini ia menduga Kiai Wahab akan terperangkap pada pertanyaan pembuka tersebut.

“Kiai, menurut Kiai lebih enak dan nyaman mana antara bernaung di bawah pohon hidup dengan bernaung di bawah pohon yang mati,” tanya Van der Plas.

Demi mendengar pertanyaan di atas, Kiai Wabab langsung paham, bahwa yang dimaksud dengan “pohon mati” dan “pohon hidup” dalam kalimat pertanyaan tersebut bukanlah arti harfiah atau makna hakiki yang dikehendaki Van der Plas, melainkan arti majazi, ada makna tersirat dalam kalimat tersebut yang sengaja disajikan secara implisit untuk menjebaknya di awal pembicaraan.

Kiai Wahab Chasbullah sebagai Kiai yang sekian lama nyantri di banyak pesantren termasuk berguru ilmu alat kepada Syaikhona Kholil Bangkalan, pastilah beliau telah matang dalam menguasai ilmu mantiq (logika Aristoteles) dan balaghoh (susastra arab) sehingga tidak sulit bagi Kiai Wahab memahami esensi yang terkandung di balik kalimat pertanyaan tersebut.

Kiai Wahab dengan cepat mampu menafsirkan bahwa “pohon hidup” yang dikehendaki Van der Plas ialah Nabi Isa yang masih hidup sampai kini di langit. Hal ini sebagai representasi agama Kristen agamanaya pemerintah Hindia Belanda, dan “pohon mati” diinterpretasikan dengan Nabi Muhammad yang sudah wafat sebagai representasi agama Islam, agamanya mayoritas orang pribumi Nusantara.

“Saya lebih memilih beteteduh di pohon mati,” jawab Kiai Wahab mantap.

Mendengar jawaban Kiai Wahab, Van der Plas kaget, tak mengira sebelumnya bila Kiai Wahab akan menjawab demikian.

“Bagaimana bisa Kiai memilih berteduh di bawah pohon mati, apa argumentasinya?”

“Sejam saja saya berada di bawah pohon hidup di waktu malam sudah begitu tersiksa, ada gigitan nyamuk, hawa dingin, suasana senyap, semua itu membuat saya tidak tahan. Tapi tiap malam saya berteduh di pohon mati justru begitu nikmat dan nyamannya. Lihat dalam gedung ini, itu reng-reng di atas, balok-balok,  bukankah itu semua pohon mati,” jawab Kiai Wahab begitu taktisnya.

Fragmen cerita perdebatan di atas beberapa kali penulis dengar dari cerita almagfurlah KH Abdul Aziz Mansyur, Pengasuh Pondok Pesantren Pacul Gowang Jombang dan Pimpinan Badan Pembina dan Kesejahteraan Pondok Pesantren Lirboyo (BPK P2L) dalam beberapa kesempatan ceramahnya. 

Meskipun belum ditemukan dalam literatur tertentu atau buku sejarah, tapi setidaknya fragmen seperti ini dapat kita golongkan sebagai sejarah lisan munurut Kuntowijoyo. Pasti almarhum KH Abdul Aziz Mansur yang wafat pada akhir tahun lalu punya referensi. Setidaknya pernah mendapat tuturan cerita di atas dari orang tua terdahulu yang menjumpai langsung zaman kolonialisme Belanda. (M Haromain)
Disadur sepenuhnya dari NU Online
Foto source: NU Online
Share:

Wednesday, February 24, 2016

Tahlil Hari ke-7 KH. Mawardi Dihadiri Ribuan Nahdliyin

Pamekasan – Pasti Aswaja Tahlilan hari ketujuh wafatnya Rais Syuriah Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Pamekasan, KH. Mawardi Baidlawi yang juga Pengasuh Pondok Pesantren Miftahul Ulum Toronan Bere' Leke, Larangan Badung, Palengaan, Pamekasan dihadiri ribuan masyarakat khususnya warga NU, Selasa (23/02/16) malam.

Al-Marhum Al-Maghfurlah KH. Mawardi Baidlawi
Acara yang dimulai  selepas adzan isya' ini  diawali dengan pembacaan surat Al-Fatihah yang kemudian dilanjutkan dengan surat Yasin, surat Al-Mulk dan tahlil bersama.

Dalam acara ini, sambutan atas nama keluarga almarhum diwakili oleh KH. Muhammad Muddatstsir Badruddin, Pengasuh Pondok Pesantren Miftahul Ulum Panyeppen, Palengaan, Pamekasan, Madura.

Dalam sambutannya, Wakil Rais Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur ini menyampaikan, bahwa  semasa hidupnya almarhum dipercaya sebagai Rais Syuriah PCNU Pamekasan selama dua periode.

"Almarhum dikenal sebagai orang yang sabar," jelas alumni Pon. Pes. Sidogiri, Keraton, Pasuruan, Jawa Timur tersebut.

Menurut salah seorang Pengurus Cabang NU Pamekasan, almarhum termasuk orang yang sangat cinta dan semangat dalam urusan ke-NU-an, "bahkan meskipun beliau sakit, kalau ada acara NU beliau menyempatkan hadir," tuturnya.

Pengurus Cabang NU Pamekasan yang tidak mau disebutkan namanya tersebut menuturkan, bahwa almarhum pernah menyampaikan hadis Nabi, yang artinya: "seseorang besok di akhirat akan dikumpulkan dengan apa yang dicintainya".

"Kalau ada undangan saya tidak pernah hadir, karena kondisi kesehatan yang tidak memungkinkan. Tapi sekarang, di acara NU saya paksakan untuk hadir, karena saya cinta kepada NU. Saya berharap masuk ke dalam sabda Rasul tersebut, agar besok di akhirat dikumpulkan dengan para ulama pendiri NU," tuturnya, seraya menirukan logat almarhum saat mengisi ceramah. (vix/bor)
Share:

Tuesday, February 23, 2016

Foto-Foto "Asal" Hasil Jepretan Kamera HP Redaksi Pasti Aswaja

Pasti Aswaja – Tanpa disadari, terkadang banyak momen-momen unik dan lucu yang ada di sekitar kita. Hal ini pula yang mengundang kita untuk mengeluarkan Handphone (maaf, buat yang tidak ada Cameranya tidak masuk) untuk menangkapnya.

Berikut ini redaksi Pasti Aswaja berhasil menangkap momen-momen lucu  saat sedang tugas mencari berita.

Anak Gaul itu : Gaya rambut mohawk, "full collour", tapi tidak lupa bantu orang tua.

Musim hujan enaknya rujak bareng teman-teman, apalgi rujak es batu!!!

Ini maksudnya apa ya??? Yang dijual "bensin", tapi tulisannya "isi pulsa"

Pedagang itu harus tahu cara menfungsikan barang dagangannya.

 Tak ada akar, rotanpun jadi!!! Pikir aja sendiri....




LGBT (Lagi Galau Berat Taretan).
Share:

Hukum Ziarah ke Makam Keluarga Non Muslim

Apa hukumnya dalam Islam dan apakah diperbolehkan berziarah ke makam non Islam (Kristen). Kakek dari ayah saya adalah seorang muallaf. Jadi kami tiap tahun atau pas lebaran pergi berziarah ke makam ayah kakek saya yang masih Kristen. Mohon tanggapannya.

Jawaban:
Penanya yang budiman, semoga Allah selalu merahmatinya. Pada mulanya berziarah kubur ke makam orang-orang muslim itu dilarang oleh baginda Rasulullah saw, tetapi kemudian hal tersebut diperintahkan karena bisa mengingatkan kita akan kematian atau alam akhirat. Dengan mengingat kematian maka akan menambahakan keimanan dan ketakwaan kita kepada Allah swt.  

Lantas bagaimana jika kita menziarahi kuburan orang non-muslim? Menurut keterangan yang terdapat dalam kitab Fathul Wahhab karya Syaikhul Islam Zakariya al-Anshari, bahwa berziarah ke kuburan orang non-Muslim itu diperbolehkan.

أَمَّا زِيَارَةُ قُبُورِ الْكُفَّارِ فَمُبَاحَةٌ --زكريا الأنصاري، فتح الوهاب، بيروت-دار الكتب العلمية، 1418هـ، ج، 1، ص. 176

“Bahwa berziarah ke kuburan orang-orang kafir itu mubah (diperbolehkan)”. (Zakariya al-Anshari, Fathul Wahhab, Bairut-Darul Kutub al-‘Ilmiyyah, 1418 H, juz, 1, h. 176). 

Namun sepanjang berziarah kubur ke kuburan orang non-muslim dilakukan untuk mengingatkan kita akan kematian dan alam akhirat atau i’tibar (pelajaran) dan peringatan kepada kita akan kematian. Jika menziarahi kuburan orang yang non-muslim saja diperbolehkan, maka logikanya adalah menziarahinya ketika masih hidup itu lebih utama (awla). Inilah yang kemudian ditegaskan oleh Imam an-Nawawi dalam kitab Syarh Muslim-nya.

إِذَا جَازَتْ زِيَارَتُهُمْ بَعْدَ الْوَفَاةِ فَفِي الْحَيَاةِ أَوْلَى (محي الدين شرف النووي، شرح  النووي، على صحيح مسلم، بيروت-دار إحياء التراث العربي، الطبعة الثانية، 1392 هـ، ج، 8، ص. 45)

“Jika boleh menziarahi mereka (non-muslim) setelah meninggal dunia, maka menziarahi mereka ketika masih hidup itu lebih utama”. (Muhyiddin Syaraf an-Nawawi, Syarhun Nawawi ala Shahihi Muslim, Bairut-Daru Ihya`it Turats al-‘Arabi, cet ke-II, 1392 H, juz, VIII, h. 45)

Pesan penting yang ingin disampaikan di sini adalah bahwa perbedaan keyakinan tidak dibisa dijadikan alasan untuk memutuskan tali silaturahim dan persaudaraan kemanusian (al-ukhuwwah al-basyariyyah).

Mahbub Ma’afi Ramdlan
Disadur dar: NU Online (www.nu.or.id)
Share:

Monday, February 22, 2016

Ketum PBNU Kembali Islamkan Pengusaha Jepang

Jakarta – Pasti Aswaja Ketua Umum (Ketum) Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH. Said Aqil Siradj melakukan kunjungan ke Jepang, 13-17 Februari 2016 yang lalu. Di sana, Kang Said, sapaan akrab KH. Said Aqil Siradj, diminta untuk mengislamkan 12 pengusaha asal Negeri Matahari Terbit tersebut.

“Saya diajak ke Jepang oleh dua orang pengusaha muallaf. Di sana saya juga diminta mensyahadatkan 12 Muslim baru. Ada pemilik hotel, ada pengusaha pelabuhan, asisten walikota, dan lainnya. Saya sangat terkesan,” katanya, seperti dilansir NU Online, Sabtu (20/11/16).

Saat berada di Tokyo, ia juga sempat diajak untuk mengelilingi ibu kota negara tersebut melalu udara dengan mengendarai helikopter.

"Saya merasa sangat terkesan dengan sikap dan perilaku orang Jepang, yang sangat sopan," imbuhnya.

Sebelumnya, dua pengusaha asal Jepang, Ogawa Hideo dan Suzuki Nobukazu resmi memeluk agama Islam akhir tahun 2015 lalu. Keduanya dibimbing membaca syahadat oleh KH. Said Aqil Siradj di gedung PBNU lantai tiga, Jakarta.

Setelah memeluk Islam, Kang Said menambahkan Muhammad di depan nama Suzuki dan Ahmad untuk Ogawa. Keduanya menerima dengan tersenyum, sambil mengulang-ulang lafal nama depan barunya tersebut.

Dua pengusaha yang sekarang sudah menjadi Muslim tersebut juga berjanji kepada Kiai Said untuk terus mendakwahkan Islam damai kepada teman, dan kawannya, serta bersedia menyediakan bangunan besar untuk Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU) Jepang. (bor)
Share:

Sunday, February 21, 2016

KOPRI Pamekasan Gelar Seminar Keperempuanan

Pamekasan – Pasti Aswaja Korp PMII PUTRI (KOPRI) Cabang Pamekasan menggelar seminar keperempuanan dengan tema "Darah Perempuan Dalam Perspektif Agama dan Medis", Minggu (21/02/16) di aula Kementerian Agama (KEMENAG) Pamekasan urusan haji.

Acara yang diikuti oleh sekitar lima ratus peserta, yang terdiri dari kader PMII dan siswa-siswi SMA sederajat se-Kabupaten Pamekasan ini, menghadirkan dua pembicara yaitu Hasanatul Jannah, S.Ag, M.Si. dari Kemenag Pamekasan dan Johan Agung Darsono, S.Kep. NS., M.M.Kep. dari Dinas Kesehatan (DINKES) Pamekasan.

Sesuai dengan tema, pembicara dari Kemenag menfokuskan pembahasan terhadap darah perempuan dalam perspektif agama. Adapun pembicara dari Dinkes lebih menfokuskan terhadap darah perempuan dari sudut pandang medis.

Memurut Selvi, Ketua KOPRI Pamekasan, acara ini dilaksanakan untuk membuka wawasan peserta dalam memahami jenis-jenis darah perempuan.

"Bagi yang pernah nyantri mungkin lebih faham terhadap darah perempuan dalam pandangan agama, tapi bagi yang belum kegiatan ini sangat penting dan membantu," jelas kader PMII UIM Pamekasan tersebut.

Selain itu, dalam perspektif medis peserta bisa memahami terhadap siklus darah yang keluar dari perempuan, seperti menstruasi, darah penyakit, dan darah yang keluar setelah melahirkan.

"Setelah ini diharapkan, agar peserta putri yang hadir bisa mengamalkan terhadap ilmu yang diperoleh dari acara ini, sedangkan bagi peserta putra, agar bisa berbagi dengan lainnya," pungkasnya.

Senada dengan Selvi, Mohamad Imron, Ketua Umum PMII Cabang Pamekasan juga mengharap agar KOPRI Pamekasan terus berlanjut untuk meperdalam pengetahuan tentang darah perempuan, "karena selama ini memang persoalan darah perempuan sering dilewatkan dalam diskusi-diskusi organisasi kemahasiswaan," jelasnya.

Selai itu, Ron, sapaan akrab Mohammad Imron, menghimbau agar KOPRI juga mendengungkan kegiatan semacam ini dalam setiap kajian kajian rutin di komisariat, dan di kampus kampus. (mam)
Share:

Friday, February 19, 2016

Kerjasama Dengan Media Sidogiri, Al-Miftah Magazine Gelar Diklat Jurnalistik

Pamekasan – Pasti Aswaja Redaksi Al-Miftah Magazine Pondok Pesantren Miftahul Ulum (PPMU) Panyeppen, Palengaan, Pamekasan, Madura mengadakan Diklat Jurnalistik Investigasi yang bekerja sama dengan Media Sidogiri, Pon Pes Miftahul Ulum Sidogiri, Keraton, Pasuruan, Jawa Timur, Jumat (19/02/16) di aula SMK Al-Miftah Pamekasan.

Acara yang diikuti oleh santri-santri pilihan PPMU Panyeppen ini diadakan untuk mewadahi santri dalam bidang tulis menulis, sebagaimana yang diungkapkan oleh Mohammad Abdullah Sa'en, Panitia pelaksana kegiatan tersebut.

Menurutnya, saat ini dunia pesantren krisis penulis, mengingat minimnya wadah bagi santri untuk mengembangkan potensi menulisnya.

"Oleh karena itu, Al-Miftah Magazine yang merupakan media terbesar di Pondok Pesantren Miftahul Ulum Panyeppen bekerja sama dengan Media Sidogiri untuk melatih santri dibidang jurnalis," tutur Aab, sapaan akrab Abdullah Sa'en kepada Pasti Aswaja

Dalam kegiatan ini,  santri-santri pilihan yang berjumlah lima puluh orang dibagi menjadi tiga fokus materi, yaitu artikel, wawancara, dan desain grafis dengan delapan pemateri yang didatangkan dari lembaga pers PPMU Sidogiri. (mam/bor)
Share:

Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un, Pengasuh Pon. Pes. Sumur Tengah Wafat

Pamekasan – Pasti Aswaja KH. Ja'far Shadiq, salah satu ulama kharismatik asal Palengaan, Pamekasan, Madura, Jawa Timur, meninggal dunia, Jumat siang (19/02/16) sekitar  jam 12:30 WIB di RS. As-Syifa Pamekasan, setelah sempat menjalani rawat inap selama satu malam.

Menurut informasi yang dihimpun Pasti Aswaja, pengasuh Pon. Pes. Miftahul Ulum Sumur Tengah, Palengaan Laok, Palengaan, Pamekasan ini meninggal karena komplikasi penyakit yang dideritanya.

Dua hari sebelum kiyai sepuh NU Palengaan ini wafat, almarhum sempat berpesan kepada salah satu tetangganya, Mukib, supaya jangan sampai bertengkar sesama saudara, "ja' sampe' atokaran sataretanan (jangan sampai bertengkar dengan sesama saudara)," tutur Mukib menirukan pesan terakhir gurunya, dengan suara serak dan mata sembab.

Tidak hanya Mukib, Ahmad Marsuki, salah satu alumni Pon. Pes. Sumur Tengah juga merasa sangat kehilangan sosok yang low profile dan suka bergaul ini.

"Sebagai alumni, saya merasa sangat kehilangan. Beliau itu setiap pagi pasti pergi ke rumah tetangga sekitar pondok untuk sekedar nanya kabar dan ngopi. Beliau sangat low profile," ujar pengurus GP. Ansor Palengaan Laok ini.

Sampai berita ini diturunkan, masyarakat terus berdatangan ke rumah duka untuk mendoakan, menshalati dan untuk memberikan penghormatan terakhir. Jenazah akan dimakamkan besok jam 07:30 WIB.

Untuk diketahui, pengajar di Pon. Pes. Miftahul Ulum Panyeppen, Potoan Laok, Palengaan, Pamekasan ini meninggalkan tiga orang putera dan dua orang puteri. Kiyai Shadiq, sapaan akrabnya, merupakan ayah kandung R. Bahrullah Shadiq, salah satu anggota DPRD Kabupaten Pamekasan. (ahn)
Share:

Imam Masjid Dipukul Jamaahnya

Pasti Aswaja – Seorang imam masjid mengadukan kepada qadhi tentang pemukulan dirinya. Qadhipun memerintahkan untuk menghadirkan pemukul dan meminta keterangan darinya.

Pemukul berkata: "Tuan Qadhi, benar saya memukulnya. Saya menjadi ma'mum di shalat Isya yang diimami olehnya bersama banyak ma'mum lainnya. Setelah membaca Al-Fatihah di rakaat pertama, dia melanjutkan dengan membaca surat Al-Baqarah. Saya pikir hanya beberapa ayat saja, akan tetapi dibacanya sampai selesai surat. Dan di rakaat kedua setelah Al-Fatihah, saya pikir dia hanya akan baca surat Al-Ikhlas, ternyata dia baca Ali Imran dan sampai selesai, dan waktu sudah melewati tengah malam. Dan sewaktu dia salam, dia menoleh ke kami dan mengatakan: 'Ulangi shalat kalian, saya lupa belum wudhu!' Di situlah saya hampiri dia, dan saya jitak kepalanya."
Share:

Wednesday, February 17, 2016

Banci Bukan Panci

Seorang banci LGBT melakukan ziarah kubur, sementara itu dimakam sebelahnya ada pak haji yg juga melakukan ziarah. Setelah selesai ziarah, banci tersebut menghampiri Pak Haji.

Banci: "Pak Haji, maaf ganggu nie. Akika mau tenyong, boleh dongse?"

Pak Haji: "Oh, silahkan. Apa yang mau kamu tanyakan?"

Banci: "Pak Haji kalau cewe metong kan disebut almarhumah, kalau lekong metong disebut almarhum. Kalo banci macem Akika metong ntar disebut apa dongse?"

Pak Haji terdiam sejenak, sambil garuk-garuk kepala.

Pak Haji: "Hhhmm... kalau banci yang meninggal mungkin disebut alumunium kali, ya."

Banci: "Hellllloooowwww... Plliiss dong aah, pak Haji. Akika banci bukan panci!!!"
Gambar: pinterest.com
Share:

Tuesday, February 16, 2016

Innalillahi, Rais Syuriah PCNU Pamekasan Wafat

Pamekasan – Pasti Aswaja – KH. Mawardi Baidlawi, Rais Syuriah Pimpinan Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) pamekasan, yang juga Pengasuh Pondok Pesantren (Pon. Pes.) Miftahul Ulum Toronan Bere' Leke, Larangan Badung, Palengaan, Pamekasan, Madura meninggal dunia, Selasa dini hari (16/02/16) jam 00.45 WIB.

Menurut keterangan dokter, penyakit terakhir yang dideritanya adalah batu empedu, setelah sebelumnya berulang kali masuk rumah sakit.

Jenazah alumni Pon. Pes. Sidogiri Pasuruan Jawa Timur ini dimakamkan Selasa pagi, sekitar jam 10.00 WIB di pemakaman keluarga Pon. Pes. Toronan, Bere' Leke.

Berdasarkan informasi yang dihimpun oleh Pasti Aswaja, pria yang menjabat Rais Syuriyah PCNU Pamekasan selama dua periode ini wafat pada usia 72 tahun dengan meninggalkan tiga putra dan empat putri. (vix)

Lahu al-fatihah...!!!
Gambar: timesindonesia.co.id
Share:

Monday, February 15, 2016

Islam NUsantara

Keputusan Bahtsul Masail Maudhu'iyah 
PWNU Jawa Timur Tentang Islam Nusantara 
di Universitas Negeri Malang
13 Februari 2016

I. Mukadimah
Pakar sejarah Ibn Khaldun (1332-1406 M) dalam karyanya, Muqaddimah (37-38) mengatakan:

أَنَّ أَحْوَالَ الْعَالَمِ وَالْأُمَمِ وَعَوَائِدَهُمْ وَنِحَلَهُمْ لَا تَدُومُ عَلىٰ وَتِيرَةٍ وَاحِدَةٍ وَمِنْهَاجٍ مُسْتَقِرٍّ، إِنَّمَا هُوَ اخْتِلَافٌ عَلىٰ الْأَيَّامِ وَالْأَزْمِنَةِ، وَانْتِقَالٌ مِنْ حَالٍ إِلىٰ حَالٍ. وَكَمَا يَكُونُ ذٰلِكَ فِي الْأَشْخَاصِ وَالْأَوْقَاتِ وَالْأَمْصَارِ، فَكَذٰلِكَ يَقَعُ فِي الْآفَاقِ وَالْأَقْطَارِ وَالْأَزْمِنَةِ وَالدُّوَلِ سُنَّةُ اللهِ الَّتِي قَدْ خَلَتْ فِي عِبَادِهِ.

“Sungguh keadaan dunia, bangsa-bangsa, adat-istiadat dan keyakinan mereka tidak selalu mengikuti satu model dan sistem yang tetap, melainkan selalu berbeda-beda (berubah) seiring perjalanan hari dan masa, berpindah dari satu kondisi menuju kondisi lainnya. Sebagaimana hal itu terjadi pada manusia, waktu, dan kota, di berbagai kawasan, zaman, dan negeri juga terjadi/berlangsung sunnah Allah (sunnatullah) yang telah terjadi pada hamba-hambaNya.”

Di bumi Nusantara (Negara Kesatuan Republik Indonesia/NKRI) terdapat tradisi dan budaya dalam sistem pengimplementasian ajaran agama, sehingga hal itu menjadi ciri khas Islam di Nusantara yang tidak dimililiki dan tidak ada di negeri lain. Perbedaan tersebut sangat tampak dan dapat dilihat secara riil dalam beberapa hal, antara lain:
  1. Dalam implementasi amalan Islam di Nusantara ada tradisi halal bihalal setiap tahun, haul, silaturrahim setiap hari raya (Idul Fitri), hari raya ketupat, baca solawat diiringi terbangan, sedekahan yang diistilahkan selamatan 7 hari, 40 hari, 100 hari, dan 1000 hari, tingkepan, sepasaran bayi, sepasaran pengantin, arak-arak pengantin yang meliputi undang mantu, ngunduh mantu, sekaligus diadakan Walimatul 'Urs baik oleh keluarhga wanita maupun keluarga laki-laki,dan tradisi lainnya.
  2. Dalam hal berpakaian ada yang memakai sarung, berkopyah, pakaian adat Betawi, Jawa, Papua, Bali, Madura, dan masih banyak model pakian adat lain, terutama telihat dalam pakian pernikahan dimana pengantin dirias dan dipajang di pelaminan, dan lain sebagainya.
  3. Dalam hal toleransi pengamalan ajaran Islam, ada yang solat Id di lapangan, di masjid, musalla, bahkan ada hari raya dua kali. Ada yang shalat tarawih 20 rakaat, ada pula yang delapan rakaat. Di antara pelaksanaan tarawih ada yang memisahnya dengan taradhi bagi empat al-Khulafa' ar-Rasyidin, dengan shalawat, dan ada yang memisahnya dengan doa. Dalam acara akikah ada yang diisi dengan shalawatan, dan ada yang diisi tahlilan, dan selainnya.
  4. Dalam hal toleransi dengan budaya yang mengandung sejarah atau ajaran, ada di sebagian daerah dilarang menyembelih sapi seperti di Kudus Jawa tengah yang konon merupakan bentuk toleransi Sunan Kudus pada ajaran Hindu yang menyucikannya, adat pengantin dengan menggunakan janur kuning, kembang mayang, dan selainnya.
  5. Dalam toleransi dengan agama lain ada hari libur nasional karena hari raya Islam, hari raya Kristen, Hindu, Budha, Konghucu, dan ada hari libur lainnya.
Kemudian Islam Nusantara menjadi tema utama pada Muktamar NU ke 33 di Jombang. Munculnya istilah Islam Nusantara mengundang reaksi yang beragam, baik yang pro maupun yang kontra sejak sebelum muktamar digelar sampai sekarang. Karena itu, PW LBM NU Jawa Timur memandang sangat perlu membuat rumusan tentang Islam Nusantara secara objektif dan komprehensif dalam rangka menyatukan persepsi tentang Islam Nusantara.

II. Pembahasan
A. Maksud Islam Nusantara
Islam adalah agama yang dibawa Rasulullah Saw, sedangkan kata “Nusantara” menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, adalah sebutan atau nama bagi seluruh kepulauan Indonesia. Wikipedia menambahkan, wilayah kepulauan yang membentang dari Sumatera sampai Papua itu, sekarang sebagian besar merupakan wilayah negara Indonesia.

Ketika penggunaan nama “Indonesia” (berarti Kepulauan Hindia) disetujui untuk dipakai untuk ide itu, kata Nusantara tetap dipakai sebagai sinonim untuk kepulauan Indonesia. Pengertian ini sampai sekarang dipakai di Indonesia.

Sebenarnya belum ada pengertian definitif bagi Islam Nusantara. Namun demikian Islam Nusantara yang dimaksud NU adalah: a) Islam Ahlussunnah wal Jamaah yang diamalkan, didakwahkan, dan dikembangkan di bumi Nusantara oleh para pendakwahnya, yang di antara tujuannya untuk mengantisipasi dan membentengi umat dari paham radikalisme, liberalisme, Syi’ah, Wahabi, dan paham-paham lain yang tidak sejalan dengan Ahlussunnah wal Jamaah, sebagaimana tersirat dalam penjelasan Rais Akbar Nahdlatul Ulama Hadhratus Syaikh KH. Hasyim Asy'ari dalam Risalah Ahlussunnah wal Jama'ah (h. 9):

فَصْلٌ فِيْ بَيَانِ تَمَسُّكِ أَهْلِ جَاوَى بِمَذْهَبِ أَهْلِ السُّنَّةِ وَالجَمَاعَةِ، وَبَيَانِ ابْتِدَاءِ ظُهُوْرِ البِدَعِ وَانْتِشَارِهَا فِي أَرْضِ جَاوَى، وَبَيَانِ أَنْوَاعِ المُبْتَدِعِيْنَ فِي هَذَا الزَّمَانِ. قَدْ كَانَ مُسْلِمُوْا الأَقْطَارِ الجَاوِيَّةِ فِي الأَزْمَانِ السَّالِفَةِ الخَالِيَةِ مُتَّفِقِي الآرَاءِ وَالمَذْهَبِ وَمُتَّحِدِي المَأْخَذِ وَالمَشْرَبِ، فَكُلُّهُمْ فِي الفِقْهِ عَلَى المَذْهَبِ النَّفِيْسِ مَذْهَبِ الإِمَامِ مُحَمَّدِ بْنِ إِدْرِيْس، وَفِي أُصُوْلِ الدِّيْنِ عَلَى مَذْهَبِ الإِمَامِ أَبِي الحَسَنِ الأَشْعَرِي، وَفِي التَّصَوُّفِ عَلَى مَذْهَبِ الإِمَامِ الغَزالِي وَالإِمَامِ أَبِي الحَسَنِ الشَّاذِلِي رَضِيَ اللهُ عَنْهُمْ أَجْمَعِيْنَ.

Selain itu, Islam Nusantara menurut NU juga dimaksudkan sebagai b) metode (manhaj) dakwah Islam di bumi Nusantara di tengah penduduknya yang multi etnis, multi budaya, dan multi agama yang dilakukan secara santun dan damai, seperti tersirat dalam pernyataan Syaikh Abu al-Fadhl as-Senori Tuban dalam Ahla al-Musamarah fi Hikayah al-Aulia' al-'Asyrah, (h. 23-24) saat menghikayatkan dakwah santun Sayyid Rahmad (Sunan Ampel):

ثم قال السيد رحمة أنه لم يوجد في هذه الجزيرة مسلم إلا أنا وأخي السيد رجا فنديتا وصاحبي أبو هريرة. فنحن أول مسلم في جريرة جاوه ... فلم يزل السيد رحمة يدعون الناس إلى دين الله تعالى وإلى عبادته حتى أتبعه في الإسلام جميع أهل عمفيل وما حوله وأكثر أهل سوربايا. وما ذلك إلا بحسن موعظته وحكمته في الدعوة وحسن خلقه مع الناس وحسن مجادلتهم إياهم امتثالا لقوله تعالى: ادْعُ إِلَى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ الآية (النحل: 125) وقوله تعالى: وَاخْفِضْ جَنَاحَكَ لِلْمُؤْمِنِينَ (الحجر: 88)، وقوله تعالى: وَأْمُرْ بِالْمَعْرُوفِ وَانْهَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَاصْبِرْ عَلَى مَا أَصَابَكَ إِنَّ ذَلِكَ مِنْ عَزْمِ الْأُمُورِ (لقمان: 17). وهكذا ينبغي أن يكون أئمة المسلمين ومشايخهم على هذه الطريقة حتى يكون الناس يدخلون في دين الله أفواجا.

Dalam kitab yang sama, Syaikh Abu al-Fadhl as-Senori juga memaparkan dakwah Maulana Ishaq (paman Sunan Ampel) yang didahului dengan khalwat untuk riyadhah (tirakat) menjaga konsistensi mengamalkan syariat, baik ibadah fardhu maupun sunnah. Kemudian dengan karamahnya mampu menyembuhkan Dewi Sekardadu putri Minak Sembayu Raja Blambangan Banyuwangi yang sedang sakit dan tidak dapat disembuhkan para Tabib saat itu, sehingga dinikahkan dengannya dan diberi hadiah separuh wilayah Blambangan. Jasa besar, posisi strategis, dan keistikamahan dakwahnya menjadi sebab keberhasilan dakwahnya mengislamkan banyak penduduk Blambangan, Banyuwangi (Ahla al-Musamarah, h. 24-26).

B. Metode Dakwah Islam Nusantara
Sampai kini masih terjadi perbedaan pendapat di kalangan sejarawan tentang masuknya Islam di Nusantara. Di antara yang menjelaskannya adalah Ulama Nusantara Syaikh Abu al-Fadhl as-Senori dalam Ahla al-Musamarah, Islam masuk ke Nusantara (Jawa secara lebih khusus) pada akhir abad keenam Hijriyyah, bersamaan dengan kedatangan Sayyid Rahmat dan Sayyid Raja Pandita dari Negeri Campa (Vietnam sekarang) ke Majapahit untuk menjenguk Bibinya Martanigrum yang menjadi istri Raja Brawijaya. Sementara menurut Sayyid Muhammad Dhiya' Syahab, dalam ta'liqatnya atas kitab Syams azh-Zhahirah, Sayyid Ali Rahmat datang ke Jawa pada 751 H (1351 M). Meskipun demikian, semua sepakat bahwa Islam masuk ke Nusantara dengan dakwah santun dan penuh hikmah.

Metode dakwah Islam Nusantara yang ramah, santun dan penuh hikmah, setidaknya meliputi metode dakwah Islam Nusantara masa Walisongo dan masa kekinian. Pertama, metode dakwah Islam Nusantara pada masa Walisongo sebagaimana tergambar dalam Ahla al-Musamarah fi al-Auliya' al-'Asyrah yang antara lain dengan:
  1. Pendidikan: pendidikan agama Islam yang kokoh meliputi syariat, tarekat, dan hakikat sebagaimana pendidikan yang dilangsungkan oleh Sunan Ampel.
  2. Kaderisasi: menghasilkan generasi penerus yang konsisten menjalankan syariat, riyadhah, dan menjauhi segala kemungkaran, sehingga mampu menjadi pimpinan yang mengayomi sekaligus disegani di tengah masyarakatnya dan mampu mengajaknya untuk memeluk agama Islam, seperti halnya yang dilakukan oleh Sunan Ampel dan Pamannya, Maulana Ishaq dalam mendidik anak-anak dan murid-muridnya.
  3. Dakwah: konsistensi menjalankan
Share:

Sunday, February 14, 2016

Pon. Pes. Kali Glagah Gelar Seminar Pendidikan Pesantren

Jember – Pasti Aswaja Pondok Pesantren Miftahul Ulum Kali Glagah, Jember, mengadakan Seminar Pendidikan Pesantren, Minggu (14/02/16), yang diikuti oleh 110 peserta.

Acara yang mengambil tema "Pengembangan Pendidikan Pesantren dan Masa Depan" ini menghadirkan dua narasumber, Prof. Dr. KH. Abd. Halim Soebahar, MA. dan RH. Taufik Hasyim. M.Pd.I.

Acara yang diikuti oleh seluruh dewan guru, asatidz, tenaga pengajar dan pendidik di lingkungan pesantren Kali Glagah ini diharapkan bisa menyadarkan semua pihak dalam memajukan lembaga pendidikan yang ada.

"Dengan pelaksanaan seminar ini, para guru dan asatidz bisa mengerti dan mengetahui problematika dan tantangan pendidikan Islam pada masa mendatang," tegas KH. Shofi Sholeh, Pengasuh PP. Miftahul Ulum Kali Glagah dalam sambutannya.

Dalam penyampaian materi, RH. Taufiq Hasyim lebih banyak menyampaikan tentang antisipasi pesantren terhadap globalisasi negatif.

"Harusnya pesantren mempersiapkan diri dalam menghadapi bahaya negatif kapitalisme dan liberalisme global," jelas pengasuh muda Pon. Pes. Sumber Anom, Pamekasan, Madura tersebut.

Berbeda dengan RH. Taufiq Hasyim, Prof. KH. Abd. Halim banyak penyampaikan tentang peluang pesantren di masa depan.

Menurutnya, pendidikan pesantren sudah mendapat tempat yang layak di negeri ini melalui UUD maupun peraturan menteri agama (PMA).

"Lulusan pesantren tidak usah ragu dan jangan ragu untuk menyekolahkan anaknya dan saudaranya di pesantren," terang Ketua MUI Jember tersebut.

"Warga pesantren harus tetap menjaga tradisi dan budaya pesantren sebagai qaidah al-muhafadzatu alal qadimisshalih wal akhdzu bil jadidil ashlah," imbuh Guru Besar IAIN Jember tersebut.

Sekedar diketahui, bahwa Pon. Pes. Kali Glagah adalah cabang khusus dari Pon. Pes. Miftahul Ulum Panyeppen. Hingga saat ini, yayasannya tetap bernaung di bawah yayasan Al-Miftah Panyeppen, Palengaan, Pamekasan, Madura.

Pesantren yang berdiri tahun 1992 ini pertama kali dirintis oleh KH. Moh. Muddatstsir Badruddin dan di bantu oleh KH. Moh. Soleh Badruddin, yang tak lain adalah kakak kandung dari KH. Moh. Muddatstsir Badruddin. (vix)
Share:

Friday, February 12, 2016

PBNU Bahas Pengembangan Program Dalam Rapat Harian

Jakarta – Pasti Aswaja Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) di bawah kepemimpinan KH. Said Aqil Siradj menggelar rapat harian Syuriyah dan Tanfidziyah di kantor PBNU, Jl. Kramat Raya 164, Jakarta, Kamis (11/02/16).

Rapat yang dipimpin oleh Rois 'Aam PBNU, KH. Ma'ruf Amin dan Ketua Umum PBNU, KH. Said Aqil Siradj ini membahas sejumlah hasil yang telah dicapai oleh kepengurusan, rencana, dan tantangan ke depannya.

Pimpinan rapat yang didampingi Wakil Rois 'Aam, KH. Miftahul Ahyar dan Katib 'Aam, KH. Yahya Kholil Tsaquf juga mendorong kepada ketua-ketua PBNU dibidngnya masing-masing, agar lebih meningkatkan semangat pengabdiannya kepada organisasi masyarakat (ORMAS) Islam terbesar di Indonesia tersebut.

M. Nuh, Ketua PBNU bidang Perguruan Tinggi Nahdlatul Ulama (PTNU) dalam presentasinya menyampaikan, perlunya PTNU mengejar ketertinggalan dari perguruan tinggi dan universitas dengan cara menggarapnya secara serius.

"Sementara ini kita tunda dulu pendirian lagi Perguruan Tinggi Nahdlatul Ulama (PTNU.red)," jelas mantan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) tersebut.

Menurutnya, keberadaan PTNU yang sudah banyak tersebar di seluruh Indonesia ini harus dikelola secara maksimal.

"Bukan maksud menghalangi ekspansi perguruan tinggi NU lebih luas, tapi sekedar memastikan, bahwa yang sudah ada saat ini bisa terkelola secara maksimal," Imbuh mantan Rektor Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) Surabaya tersebut, seperti dikutip NU Online. (bor)
Share:

Sunday, February 7, 2016

Hari Ini DPM STAI-MU Pamekasan Gelar Kongres KBM II

Pamekasan – Pasti Aswaja – Dewan Perwakilan Mahasiswa (DPM) STAI Miftahul Ulum Pamekasan menggelar Kongres Keluarga Besar Mahasiswa (KBM) kedua, Minggu (07/02/16) di Gedung Olah Raga (GOR) Kecamatan Palengaan.

Suasana sidang salah satu komisi dalam Kongres KBM STAI-MU
Rapat besar yang membahas tentang perundang-undangan keorganisasian mahasiswa STAI-MU ini diikuti oleh  DPM, ketua dan wakil Komisariat Mahasiswa (KOSMA) sebagai peserta penuh, serta Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) dan Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) sebagai peserta peninjau.

Kegiatan tahunan ini diharapkan bisa meningkatkan sumber daya manusia di lingkungan STAI-MU.

"Nantinya, agar mahasiswa STAI-MU bisa meningkatkan semangat dalam berorganisasi," tutur Muhammad Abror, Ketua DPM STAI-MU Pamekasan.

Dalam pelaksanaan kongres ini juga membahas sidang istimewa Laporan Pertanggung Jawaban (LPJ) BEM periode 2015-2016.

"Biar ada evaluasi dari kinerja BEM yang belum tercapai, sehingga kepengurusan selanjutnya bisa lebih baik lagi," pungkas Bong, sapaan akrab Muhammad Abror. (mam/mad)
Share:

Friday, February 5, 2016

Aliyadi Mustofa: Penurunan Tarif Tol Suramadu Tidak Akan Berdampak Maksimal

Surabaya – Pasti Aswaja Penurunan tarif tol jembatan Suramadu sebesar 50 persen dinilai tidak akan berdampak maksimal terhadap pertumbuhan ekonomi di Madura. Hal ini diungkapkan oleh anggota komisi D DPRD Jatim, Aliyadi Mustofa.

Menurutnya, jika penurunan tarif ini tidak diimbangi dengan pembangunan infrastruktur di Madura, maka masyarakat madura tidak bisa menikmati perkembangan ekonomi.

"Penurunan tarif tol suramadu ini sangat diinginkan oleh masyarakat Madura, tapi jika tidak didukung dengan pembangunan infrastruktur, maka tidak akan berdampak maksimal," Ujar alumni Pondok Pesantren Miftahul Ulum Panyeppen tersebut, seperti dirilis pojokpitu.com, Jumat (05/02/16).

Sekitar 600 hektar tanah di kaki jembatan penghubung antara Surabaya dan Madura ini yang belum tersentuh sama sekali.

"Ini yang seharusnya mendapat perhatian penuh dari pemerintah pusat melalui BPWS (Badan Pengembangan Wilayah Suramadu.red)," Imbuh politisi dari fraksi PKB tersebut.

Anggota DPRD dari daerah pemilihan sebelas, Madura ini juga menilai, bahwa anggaran dana pembangunan tol jembatan SURAMADU yang setiap tahunnya mencapai ratusan juta rupiah terbuang percuma.

"Pemerintah pusat harus mendesak BPWS untuk meningkatkan fungsinya dalam mengembangkan Suramadu, tidak sekedar membuang anggaran, tapi benar-benar untuk meningkatkan Madura" Tangkasnya kader NU Sampang ini. (bor)
Gambar: pojokpitu.com
Share:

Thursday, February 4, 2016

Innalillahi, Mas Mohammad Sidogiri Wafat


Jember – Pasti AswajaKH. Mohammad Kholil Rochman atau yang lebih akrab disapa Mas Mohammad, Pondok Pesantren (PP) Sidogiri, Sidogiri Kraton, Pasuruan, Jawa Timur meninggal dunia, Kamis dini hari (05/02/16).

Dikutip dari laman facebook Pondok Pesantren Sidogiri, putra pengasuh PP. Sidogiri,  KH. Abd. Alim bin Abd. Djalil ini wafat di RS. Jember Klinik pada jam 01.50 WIB.

Jenazah bendahara umum PP. Sidogiri selama beberapa periode ini dibawa ke masjid Sidogiri sekitar jam 03.00 WIB untuk dishalati, dan kemudian dikuburkan di pasarean PP. Sidogiri. (bor)
Share:

Home Style

Contact Form

Name

Email *

Message *

Ads

Ads

Latest News

Popular Posts

Blog Archive