• This is default featured slide 1 title

    Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

  • This is default featured slide 2 title

    Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

  • This is default featured slide 3 title

    Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

  • This is default featured slide 4 title

    Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

  • This is default featured slide 5 title

    Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Sunday, March 27, 2016

Ceramah Habib Abdullah Muhammad Baharun Yaman dalam Pembukaan KONFERCAB NU Pamekasan

Pamekasan - Pasti Aswaja - Pada rangkaian acara pembukaan KONFERCAB NU Pamekasan (Baca juga; KONFERCAB NU Pamekasan Resmi Dibuka) di dalamnya terdapat tausyiah yang disampaikan oleh Habib Abdullah Muhammad Baharun, Rektor Al-Ahqof, Yaman.

Dalam cermahnya, Ulama yang sebelumnya mengisi seminar Internasional Pra KONFERCAB NU di PPMU Panyeppen tersebut menyampaikan, bahwa berbicara tentang NU, beliau merasa seperti berada di rumah sendiri.

"NU bukan hal baru lagi bagi saya. Sudah sejak lama saya berhubungan dengan NU," jelasnya dalam bahasa Arab yang diterjemah oleh Idrus Rifli ke dalam Bahasa Indonesia.

Ulama Sunni tersebut menambahkan, jika keberadan NU adalah sebagai penjaga Manhaj Ahlussunnah Wal Jamaah.

"Sudah sejak lama, bahkan mulai masa penjajahan, NU sudah ada untuk menyebarkan faham Ahlussunnah Wal Jamaah," Imbuhnya.

Menurutnya, keberadaan negara Indonesia yang penuh dengan keberagaman mampu dipertahankan oleh NU.

"Kita contoh Timor-timor yang tidak mau bersatu dan memisahkan diri dari Indonesia, akhirnya tidak pernah damai," Ungkapnya lebih jelas.

Dalam akhir ceramahnya, Ulama yang memiliki gelar Profesor ini menyerukan, agar segenap ulama yang menjadi peserta KONFERCAB NU ini setelahnya tetap bersatu demi umat.

"Setelah terpilihnya ketua baru, nantinya diharapkan agar segenap ulama memiliki spirit baru dalam memberikan pembinaan terhadap umat muslim, karena selama ini ulama-ulama Madura dijadikan panutan oleh wilayah lainnya", Pungkasnya, disambut tepuk tangan audien.(mam/beb)


Share:

KONFERCAB NU Pamekasan Resmi Dibuka

Pamekasan - Pasti Aswaja - Konferensi Cabang Nahdlatul Ulama (KONFERCAB NU) Pamekasan yang dilaksanakan di Pondok Pesantren Miftahul Ulum (PPMU) Kebun Baru, Palengaan, Pamekasan, Madura, Jawa Timur mulai tanggal 26-27 Maret 2016 telah dibuka.

Rangkaian acara pembukaan diawali dengan pembacaan surat al-Fatihah bersama yang dilanjutkan dengan Qiraat Al-Qur'an dan Shalawat Nabi Muhammad SAW.

Selanjutnya, Habib Abdullah Muhammad Baharun, Rektor Al-Ahqof, Hadromaut, Yaman mengambil posisi untuk menyampaikan tausyiah di hadapan peserta yang hadir.

Ketua Umum Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Pamekasan, KH. Abdul Ghaffar memberikan sambutan pertama, sekaligus melaporkan rangkaian kegiatan KONFERCAB NU Pamekasan, mulai dari Pra sampai hari pelaksanaan.

Sambutan kemudian dilanjutkan oleh perwakilan Pengurus Wilayah (PW) NU Jawa Timur, sebelum akhirnya KH. Syaifullah Yusuf atau yang akrab disapa Gus Ipul mengisi tausyiah kedua.

Amanah NU Pamekasan disampaikan oleh Ketua Musytasar PCNU Pamekasan, KH. Muhammad Muddatstsir Badruddin yang juga Wakil Rais Syuriah PWNU Jawa Timur.

Untuk tausyiah terakhir diisi oleh KH. Miftahul Akhyar, Wakil Rais 'Aam Pengurus Besar (PB) NU yang sekaligus membuka KONFERCAB NU Pamekasan tersebut.

Rangkaian acara pembukaan KONFERCAB NU Pamekasan ini kemudian ditutup dengan pembacaan doa yang dipimpin oleh KH. Mohammad Kholilurrahman, mantan ketua PCNU Pamekasan.(bor)
Share:

Saturday, March 26, 2016

Seminar Internasional Pra KONFERCAB NU

Pamekasan - Pasti Aswaja - Menjelang dibukanya Konferensi Cabang Nahdlatul Ulama (KONFERCAB NU) Kabupaten Pamekasan PPMU Kebun Baru, panitia menggelar Seminar Internasional di Pondok Pesantren Miftahul Ulum (PPMU) Panyeppen, Palengaan, Pamekasan, Madura, Sabtu (26/03/16) pagi.

Acara yang bertajuk pendalaman dan penguatan aqidah Ahlussunnah Wal Jamaah (ASWAJA) ini diikuti oleh perwakilan NU dan Badan otonomnya, beberapa pesantren, Perguruan Tinggi se-Kabupaten Pamekasan, alumni Haromain, dan beberapa perwakilan dari Yaman dengan jumlah keseluruhan 423 orang peserta.

Acara yang merupakan rangkaian akhir Pra KONFERCAB NU Pamekasan ini menghadirkan Prof. Dr. Abdullah Mohammad Baharun dari Yaman yang menyampaikan materi Ensiklopedi Faham Ahlussunnah Wal Jamaah dan Faham Lainnya.

 Selain itu, ada juga KH. Abdurrahman Nafis, Pengurus ASWAJA NU Centre Jawa Timur yang menyampaikan materi Moderat dalam Perspektif Islam dan Tantangannya Pada Masa Kini.

"Seperti yang sudah kita ketahui, bahwa saat ini banyak yang menyerang aqidah Ahlussunnah Wal Jamaah An-Nahdliyah, jadi harus ada penguatan dari NU sendiri," jelas Ahmad Baiquni, panitia lokal dari PPMU Panyeppen kepada Pasti Aswaja.

Hadir dalam kesempatan ini, KH. Muhammad Muddatstsir Badruddin, Wakil Rais PWNU Jawa Timur, yang kemudian bertindak sebagai keynout speaker dalam acara tersebut.(mam)
Share:

Laka Lantas, Satu Orang Tewas

Pamekasan - Pasti Aswaja - Kecelakaan Lalu Lintas (Laka Lantas) terjadi di Jl. Raya Palengaan, Km. 10 Pamekasan, tepatnya di Desa Poto'an Laok, Palengaan, Pamekasan, Madura, Jumat (25/03/16) sore sekitar jam 18.00 WIB.

Akibat Kecelakaan maut tersebut, satu orang pengendara sepeda motor tewas di Tempat Kejadian Perkara (TKP), dan langsung ditangani aparat kepolisian.

"Korban dari arah timur ingin mendahului salah satu mobil, Kemudian ketemu dengan sepeda motor dari arah yang berlawanan sehingga tewas di tempat," ujar Muhammad, salah satu saksi mata yang ada di TKP.

Diketahui korban bernama Muhammad Duhan, warga Dusun Pasar Fajar, Palengaan Laok, Palengaan, Pamekasan, yang kesehariannya berprofesi sebagai kuli bangunan.

Ayah dari dua anak tersebut sedang dalam perjalanan pulang setelah menonton pertandingan sepak bola tim kesayangannya di SMAN 3 Pamekasan.

"Korban pulang setelah nonton sepak bola di pamekasan, dia termasuk salah satu suporter Binaul FC yang bertanding tadi," Ujar Ahmad Marsuki, salah satu tetangga korban. (uki)
Share:

Thursday, March 24, 2016

Bersama PPAI Polres Jember Sosialisasi Bahaya Narkoba di PP. Kaliglagah

Jember - Pasti Aswaja - Kepolisian dan Pengawas Pendidikan Agama Islam (PPAI) Kabupaten Jember bekerja sama dengan Pondok pesantren Miftahul Ulum (PPMU) Kaliglagah, Jember, Jawa Timut gelar penyuluhan anti narkoba, sabtu (19/03/16) di Masjid PPMU Kali Glagah.

Acara yang diikuti oleh semua santri putra PPMU kaliglagah, siswa dan guru MTs & SMA Al-Miftah Kaliglagah, serta asatidz dan pengurus PPMU Kaliglagah dengan jumlah peserta  keseluruhan 320 orang ini dihadiri oleh Ka. Polsek Sumber Baru, AKP. Edy Sudarto, SH.MH, yang kemudian menyanpaikan materi di hadapan peserta.

Budi Hartono, S.Pd, M.Si saat memberikan sambutan menuturkan, bahwa acara ini dilaksanakan untuk memberi pemahaman tentang devinisi dan bahaya narkoba, agar siswa dan santri tetap hati-hati dalam pergaulan remaja.

"Selain itu, agar ada kerja sama antara pemerintah dan masyarakat, lebih-lebih di lembaga-lembaga untuk selalu diadakan razia kepada murid-muridnya," Tegasnya.

Hadir dalam kesempatan ini beberpa perwakilan dan POLSEK Sumber Baru dan PPAI Wilayah Jember barat.(vix)

Share:

Wednesday, March 23, 2016

Restorasi NU Sebagai Organisasi Sosial dan Keagamaan

Sebuah Catatan Kecil Menjelang KONFERCAB NU Pamekasan
Oleh: Mohammad Ahnu Idris*

Nahdlatul Ulama (NU) merupakan organisasi kemasyarakatan dengan jumlah anggota terbanyak di Indonesia, bahkan dunia. Hal inilah, di antaranya, yang menjadikan NU memiliki peran strategis dalam geopolitik di Indonesia dan dunia; selain itu, hal ini juga yang kemudian menarik kalangan pemerhati dan pengamat seperti Prof. Martin van Bruinessen dari Belanda dan Prof. Mitsuo Nakamura dari Jepang. Tidak hanya mereka, jumlah anggota yang begitu besar, juga menarik perhatian kalangan politisi untuk ikut “bermain” dalam setiap permusyawaratan tertinggi NU baik tingkat nasional maupun daerah. Tujuannya tidak lain dan tidak bukan adalah untuk “kepentingan” kelompok dan partai mereka. Tidak heran jika di setiap permusyawaratan itu sering terjadi deadlock karena ulah “tangan-tangan” politisi, hingga persidangan diskorsing. Ketika “kepentingan” mereka tercapai, bisa dipastikan, jam’iyah ini akan keluar dari tujuan awal pendiriannya sebagai organisasi sosial dan keagamaan, dan secara otomatis organisasi ini akan “terbonsai” dengan sendirinya.

Permusyawaratan tertinggi NU merupakan momentum untuk membenahi kembali NU menuju perbaikan-perbaikan secara organisatoris, karena dalam momentum ini akan dipilih calon pimpinan tertinggi (Rais) dan ketua (Tanfidziyah), serta program-program yang diamanatkan untuk ketua terpilih selama lima tahun ke depan. Kesalahan dalam menentukan calon ketua, akan berdampak signifikan pada perjalanan organisasi, dan akan menyebabkan organisasi ini menjadi terpuruk. Itu pasti. Dan, mungkin, inilah menurut Musannan (Musannan dalam Pasti Aswaja, 2016) yang menyebabkan warga NU tidak merasakan kehadiran NU di tengah-tengah mereka.

Oleh sebab itu, idealisme calon pemimpin akan sangat dibutuhkan untuk mengantarkan NU ke tujuan awal berdirinya sebagaimana dicita-citakan para founding fathers organisasi yang sudah hampir berusia satu abad ini (sebagai organisasi yang bergerak di bidang sosial dan keagamaan).

Sebagai organiasi sosial, NU (baca: calon pemimpin NU) dituntut untuk memiliki kepedulian dan peka terhadap kondisi sosial di sekitarnya, wa bilkhushush kondisi warga NU itu sendiri, sehingga bisa mempersiapkan dan “meramu” sebuah konsep untuk melakukan al-taghayyur al-ijtima’iyah (perubahan sosial) yang dinilai senjang. Dengan kata lain, selain memiliki kepedulian dan kepekaan sosial calon pemimpin NU harus visioner.

Dalam bidang keagamaan, NU berhaluan ahlus sunnah wal jamaah (ASWAJA). Di bidang ini, posisi NU sudah tidak bisa diragukan lagi, karena organisasi ini didirikan dan diteruskan serta dijaga oleh kaum pesantren. Dalam rangka menyebarkan paham keagamaan yang tawassuth (moderat), tawazzun (netral), tasamuh (toleran), dan i’tidal (berkeadilan) sebagaimana ajaran ASWAJA, tidak sedikit lembaga, lajnah dan badan otonom NU yang bergerak di bidang ini, dan juga tidak jarang kegiatan-kegiatan keagamaan digelar sebagai bentuk pengejawantahannya dalam bidang keagamaan. Hanya saja, cara-cara dan metode yang digunakan dalam penyebaran paham ini masih tergolong konvensional, klasik dan terkesan sebatas seremonial, sehingga dakwah yang dilakukan tidak maksimal. Untuk itu, perlu konsepsi-konsepsi yang jelas dan baku demi tercapainya tujuan serta dakwah NU secara maksimal.

Permasalahan-permasalahan sebagaimana dipaparkan di atas, harus diurai untuk mengembalikan peran dan fungsi NU sebagai organisasi sosial dan keagamaan. Dan untuk itu, maka pemimpin yang menjunjung tinggi idealisme, energik, visioner dan memiliki kepekaan serta kepedulian sosial sangat dibutuhkan melihat kondisi NU saat ini. Kriteria ini merupakan pra-syarat bagi calon pemimpin NU. Menurut hemat penulis, kriteria-kriteria tersebut hanya ada pada kalangan muda NU. Bukan bermaksud untuk mendiskreditkan kalangan sepuh, tapi -dengan pertimbangan- kalangan sepuh ini sudah sibuk dengan urusan keumatan lainnya di kalangan grass root serta tenaga yang mulai berkurang (di bandingkan kalangan muda), sehingga perhatiannya terpecah.

Wallahul muwaffiq ila aqwamit thariq.
*Mantan Sekretaris Umum PC. PMII Pamekasan masa khidmat 2012-2013.
Share:

Tuesday, March 22, 2016

Sikecil Yang Mendaftar Menjadi Anggota Banser

Oleh: Romadhon

Hari ini, Senin, 21 Maret 2016, di Gedung PCNU Kab. Karanganyar, seorang anak kecil masih mengenakan seragam SMP datang ke PCNU atas kemauan sendiri dengan dihantar dan didampingi oleh Sang Ibu. Nama anak itu Panji. Masih sekolah di MTs Negeri Karanganyar kelas VIII D.

Dia pecinta Sholawat dan selalu bersemangat untuk bisa hadir di setiap Majelis Sholawat.

Kami (saya dan Kang Arif) pun bertanya, "enten nopo, Dik Panji?"

Panji menjawab, "mau daftar jadi BANSER, pak."

Sontak jawaban itu membuat kami terhenyak, antara takjub dan terdengar jawaban sebagai sebuah jawaban lucu.

"Dik Panji tahu dari mana tentang BANSER?"

"Pengajian", jawabnya singkat dengan suara lirih 

"Kenapa kok pengen jadi BANSER", tanya saya ke Panji lagi.

"Pengen ngamankan pengajian Pak..."

Sekali lagi, jawaban itu membuat kami tertawa bahagia.

Sementara waktu kemudian kami memberika informasi tentang IPNU, CBP dan BPUN kepada ibunya Panji. Sementara dia duduk tenang sambil mendengarkan di samping kiri saya. 

Hingga sebelum pulang Panji dengan suara lirihnya meminta bendera NU. "Dua," pintanya. Dia pingin mengibar-ngibarkan bendera itu di tengah-tengah jamaah pengajian akbar Sholawatan, suatu saat nanti.

Tulisan ini saya tuangkan dengan jemari yang gemetar dan sesekali menyeka airmata yang merembes hampir tumpah.

سبحان اللّه

Sementara itu, diantara kita masih haru terus dipertanyakan "keseriusan" kepada NU. Semoga, Panji kecil, yang dikirimkan Allah kepada kami, mampu menghidupkan kembali hati kita semua.

Semoga kisah Panji kecil ini bisa menginspirasi teman-teman untuk masuk menjadi anggota Banser.
Share:

Friday, March 18, 2016

Mempertegas Kembali Posisi NU Sebagai Gersosag

Refleksi KONFERCAB, Sebagai Media Berbenah dan Menciptakan Masa Depan NU Lebih Baik

Pasti Aswaja - Teks “Khittah Nahdhatul Ulama” hasil Muktamar di Situbondo tahun 1984, menjelaskan posisi NU sebagai Gersosag, atau organisasi keagamaan dan kemasyarakatan. Sebagai organisasi keagamaan jelas dijelaskan dalam bagian “Mukaddimah”, salah satunya disebutkan: “NU sebagai jam’iyah diniyah” di paragraf kedua. Ini juga ditambah dengan yang ada dalam bagian “Dasar-dasar Paham Keagamaan NU”, yang menyebut dasar-dasar paham keagamaan yang dianut dan digumuli NU sebagai organisasi keagamaan. (Nurhasim & Ridwan, 2004: 24-25).

Sedangkan NU sebagai organisasi sosial (kemasyarakatan) tampak jelas dalam bagian “Ikhtiar-ikhtiar yang dilakukan NU”, terutama di item c-d: membangun pelayanan sosial; dan meningkatkan kualitas hidup masyarakat, yang kemudian merujuk kepada statoeten NU 1926, yaitu “mendirikan badan-badan untuk memajukan urusan pertanian, perniagaan, dan perusahaan”. (Nurhasim & Ridwan, 2004: 25).

Melihat fenomena NU kekinian yang cenderung hanya mengedepankan nilai keagamaan saja telah menjauhkan NU itu sendiri dari tujuan awal terbentuknya organisasi ini. Dan ketimpangan ini membuat warga NU tidak merasakan kehadiran NU di tengah-tengah mereka. Karena selama ini bagi kaum akar rumput, yang dianggap jelas kontribusinya apabila kegiatan itu berdampak langsung terhadap kesejahteraan. Selain memang, persoalan-persoalan yang berkaitan dengan keagamaan, sudah didapatkan oleh masyarakat dari lembaga-lembaga pendidikan yang ada di sekitarnya. Sesungguhnya, pemahaman nilai keagamaan dalam tubuh dan warga NU sudah finish. Sehingga warga NU itu sendiri sudah tinggal merealisasikannya dalam kehidupan sehari-hari, selebihnya menyikapi persoalan-persoalan keagamaan yang bersifat kekinian.

Penting sekali para tokoh NU merenung dan merumuskan kembali strategi bagaimana konsepsi dasar yang dibangun oleh para tokoh NU teralisasi dengan baik, agar NU mendapatkan kembali posisinya di hati masyarakat; penting, memperbanyak kegiatan kemasyarakatan yang berorientasi pada pencerdasan masyarakat, baik secara intelektual dan finansial. Tetapi tidak berarti kegiatan keagamaan dalam tubuh NU tidak penting, tetapi bahwa kegiatan keagamaan saja tidak cukup, karena harus diimbangi dengan kegiatan yang berdampak langsung terhadap keberlangsungan hidup masyarakat.

Keputusan menjadikan NU sebagai Gersosag diobsesikan untuk memperkuat posisi warga Negara yang banyak dieksploitasi negara dan dihegemoni negara. Untuk itu, masyarakat harus meningkat pengetahuannya, berdaya dalam ekonomi dan sosial, sehingga posisi masyarakat memiliki daya tawar yang kuat di depan negara. Jadi, keputusan NU sebagai Gersosag, diobsesikan untuk memperbaiki warga masyarakat dari dalam dirinya sendiri, bukan mengandalkan dari negara; dan di saat yang sama bisa memiliki daya tawar yang kuat dengan negara untuk kepentingan-kepentingan yang melibatkan unsur negara. (Nurhasim & Ridwan, 2004: 26).

Hal demikian hanya bisa terjadi bila NU dipimpin oleh orang yang mempunyai kapabilitas dalam memimpin organisasi. Pemimpin yang mempunyai cita-cita untuk mewujudkan amanah AD/ART dan mampu berpikir jauh ke depan. Kontestasi tidak sehat dalam memilih pimpinan organisasi juga ikut andil dalam keterpurukan organisasi. Bila jatuh ke tangan yang salah, maka tidak akan pernah ada perbedaan yang signifikan dalam tubuh organisasi antara masa lalu dan masa yang akan datang. Perkembangan organisasi akan terhambat oleh pemikiran-pemikiran konvensional yang tidak membangun. Jiwa muda dengan ghairah dan idealisme yang masih kental harus menjadi prioritas dalam memimpin organisasi. Kalau tidak, maka organisasi akan mengalami nasib serupa seperti sebelum-sebelumnya.

Siapa yang salah bila NU tetap berjalan di tempat atau semakin mengalami kemunduran. Tentu, jawabannya sudah jelas, bahwa pemilik suara dalam kontestasi itu yang paling bersalah. Bahwa pemilik suara itu adalah PC, MWC, dan ranting, maka mereka ini yang harus bertanggung jawab kepada warga NU jika NU tidak mengalami perubahan yang signifikan pasca terpilihnya pimpinan orgnisasi.

Ada statemen seorang ulama yang menyampaikan bahwa NU adalah pondok besar yang santrinya adalah warga NU, dan pondok pesantren adalah pondok-pondok kecil. Bila NU selama ini dianggap sebagai pondok besar, tentu NU sudah saatnya dirasakan kehadirannya di masyarakat. Kenapa sebab, karena pondok-pondok pesantren yang dianggap sebagai pondok kecil saja sudah mampu berkembang dengan pesat dalam bidang perekonomian. Ambil contoh pondok pesantren yang ada di Jawa seumpanya, seperti Pondok Pesantren Sidogiri yang sudah mempunyai BMT (koperasi), swalayan (toko besar), beberapa perusahaan seperti air mineral, sarung, percetakan dan lain-lain—hanya sebagian contoh--dimana-mana.

Bisa dibayangkan, seandainya pondok besar ini jatuh ke tangan orang yang tepat, dan dikelola dengan benar. Sudah dapat dipastikan bahwa NU akan menjadi tumpuan masyarakat dalam banyak hal termasuk dalam hal memperbaiki tingkat ekonomi masyarakat. Tentu dalam keterpilihannya harus mampu meracik orang-orang yang kompeten dan masih mempunyai ghirah yang kuat untuk memperbaiki dan memajukan organisasi di masa yang akan datang.

Wallahua’lam…
Oleh: Musannan Abdul Hadi Al-Mankoni
Share:

Friday, March 11, 2016

Antara Imam Ghazali dan Mbah Sholeh Darat


Pasti Aswaja Semua kitab karya KH. Sholeh Darat berisi ajaran tasawuf. Meski membahas fiqih, isinyapun banyak ajaran tasawuf. Kitab kecil bab shalat dan wudhu, Lathaifut Thaharah wa Asrarus Shalat, juga berisi ajaran tentang tasawuf. Juga kitab Majmu’ Syariat  maupun Pasolatan, ada tasawuf di dalamnya. Terlebih dalam kitab yang memang membahas tentang tasawuf, seperti Munjiyat, Minhajul Atqiya fi Syarhi Ma’rifatil Adzkiya’, Tarjamah Al-Hikam, dan Syarah al-Burdah, penuh ajaran tentang pembersihan hati dan penghambaan sejati kepada Allah ta’âlâ. 

Karena keahlian Mbah Sholeh Darat sebagai ahli tasawuf (selain keahlian di banyak bidang lain), beliau dijuluki Imam Al-Ghazali-nya Jawa. Sebab semua kitab karyanya selalu mengutip ajaran tasawufnya Imam Al-Ghazali. Dan memang beliau sendiri menyebut bahwa karya-karyanya itu memetik dari kitab tasawuf Al-Ghazali.

Kebiasaan  beliau usai mulang (mengajar) ngaji adalah menulis. Mengarang kitab. Mbah Sholeh di dalam kamar, duduk di lantai menghadapi meja. Dengan penerangan lampu teplok, lembar demi lembar kertas beliau goresi dengan pena tutul dengan tinta Bak buatan China. Menuliskan gagasan atau ulasannya di atas kertas itu. Tinta yang diwadahi sebuah cupu kecil berbahan tembaga itu terbuat dari larutan batang Bak dengan air yang dicampuri minyak wangi. Menurut banyak narasumber, minyak yang dipakai adalah Misik. Terbukti di kitab tulisan tangan asli Mbah Sholeh Darat yang sampai kini masih terjaga dan disimpan oleh cicitnya, bau wangi Misik masih terasa jika dibuka lembaran-lembarannya.

Diriwayatkan, saat sedang tekun menulis kitab, suatu malam ada seorang tamu berbusana model Arab. Berjubah dan bersurban. Oleh para santri, tamu itu disalami lantas disuguhi minum wedang. Kemudian diantarkan bertemu Mbah Sholeh di ruang pribadi beliau. Kata perawi cerita ini, saat itu beliau sedang menulis kitab Munjiyat: Methik Saking Ihya Ulumiddin. 

Si santri pun kembali ke ruang depan lalu menghabiskan minuman sang tamu yang masih tersisa. Lalu mereka kembali ke langgar untuk nderes pengajian pelajarannya. Mereka mendengar sayup-sayup pembicaraan kiainya dengan sang tamu yang berbincang dalam bahasa Arab. Suara keduanya terdengar, tapi isi pembicaraan kurang jelas karena jarak dan dipisahkan dinding kayu di dalam ruangan.

Saat malam telah larut, sang tamu pamit pulang. Mbah Sholeh nguntapke (mengantarkan) sampai serambi rumahnya. Usai melambai di halaman langgar, si tamu itu melangkah ke arah jalan besar. Lantas menghilang di kegelapan malam. 

Para santri yang penasaran lantas bertanya kepada gurunya: 
“Itu tadi siapa, kiai? Rasanya belum pernah datang ke sini,” tanya seorang santri senior yang tadi menyuguhi wedang. 

“Itu tadi Imam Al-Ghazali. Beliau merestui kitab yang kutulis,” jawab Mbah Sholeh kalem.

“Lhoh. Subhanallah. Masya Allah. Bukankah Imam Al-Ghazali sudah wafat ratusan tahun lalu?” ujar mereka takjub sambil bertanya-tanya.

“Ya itulah karomah beliau. Mari kita berdoa tawassul kepada Imam Al-Ghazali agar ilmu kita diberkahi,” pungkas Mbah Sholeh seraya menyuruh santrinya kembali ke langgar.
disadur dari muslimoderat.com
Share:

Tuesday, March 8, 2016

James : Islam Nusantara Lebih Menghargai Budaya

Redaktur dan Reporter Pasti Aswaja Bersama Mr. James
Pamekasan — Pasti Aswaja — Hal menarik terlihat pada pelaksanaan Diklat Kader Penggerak Nahdlatul Ulama yang dilaksanakan oleh PC LAKPESDAM NU Pamekasan, (baca juga :  LAKPESDAM NU Pamekasan Gelar Diklat Kader Penggerak NU ) yaitu adanya salah satu peserta dari luar negeri.

Dia adalah Prof. James B. Hoesterey, guru besar Fakultas Keagamaan di Universitas Emory, Atlanta US, Amerika Serikat yang kebetulan berada di Indonesia untuk meneliti tentang Islam Moderat dan Islam Nusantara.

"Tujuan penelitian ini adalah untuk memahami gagasan dan tujuan Islam Nusantara, bagaimana agar konsep ini bisa disosialisasikan dan menjadi solusi bagi masyarakatnya," jelasnya kepada Pasti Aswaja dengan menggunakan Bahasa Indonesia.

Menurut james, sapaan akrabnya, NU sebagai organisasi masyarakat (ORMAS) terbesar di dunia  merupakan organisasi yang membawa pesan perdamaian.

"Saya sangat menghormati NU, karena prinsip-prinsip perdamaian yang dibawanya," jelas pria berusia 41 tahun tersebut.

Antropolog dan sosiolog yang sudah sering meneliti tentang NU tersebut menilai, bahwa NU patut untuk dijadikan kiblat agama Islam diseluruh dunia.

"Sekarang diseluruh dunia terjadi kekerasan dimana-mana, semoga NU bisa menjadi teladan yang sesungguhnya, yaitu Islam yang Rahmatan lil 'Alamin," Jelasnya pria jangkung tersebut.

Ketika ditanya seputar Islam Nusantara, pria yang sudah sering mengisi kuliah umum di beberapa perguruan tinggi di Indonesia ini mengaku kaget saat pertama kali mendengarnya.

"Ternyata, Islam Nusantara dengan Islam lainnya itu tetap satu, bedanya cuma dalam masalah menghargai budaya saja," pungkas pria yang mengaku sering ke Indonesia sejak tahun 1994 tersebut . (bor)
Share:

Mosi Tidak Percaya PKC Jatim Oleh PC PMII Zona Madura

Pamekasan ─ Pasti Aswaja ­─ Empat Ketua Umum (Ketum) PMII Cabang  zona Madura mengadakan konsolidasi untuk membahas kelangsungan roda organisasi PMII Jawa Timur, senin (07/03/16).

Berikut hasil konsolidasi yang dilaksanakan di Sumenep tersebut :

Secara insyaf dan sadar sebagai implementasi ikhtiar untuk menjaga kelangsungan roda organisasi PMII jawa timur dan sebagai implementasi tanggung jawab untuk tidak meninggalkan PMII dalam situasi dan kondisi apapun, khususnya PMII jawa timur, maka PMII Zona Madura yang terdiri dari PMII Cabang Bangkalan, PMII Cabang Sampang, PMII Cabang Pemekasan
dan PMII Cabang Sumenep, setelah menimbang bahwa PKC PMII Jawa timur telah secara jelas melakukan pelanggaran terhadap Aturan dan Produk Hukum PMII :


a. Tidak menjalankan amanah organisasi sebagai Kordinator PMII Jawa Timur dan penanggung jawab kelangsungan Organisasi PMII Jawa Timur
b. tidak patuh pada ketentuan waktu berakhirnya masa kepengurusan PKC PMII Jawa timur dengan tidak melakukan Konkorcab yang semestinya telah diselenggarakan pada bulan Desember lalu, maka dengan ini menyatakan dan menegaskan beberapa keresahan dan tuntutan sebagai berikut:

1. Menyatakan Mosi tidak percaya terhadap PKC PMII Jawa timur masa khidmat 2013/2015 di bawah pimpinan Sahabat Ahmad Junaidi
2. Menuntut PKC PMII Jawa timur masa khidmat 2013/2015 untuk segera melaksanakan kewajiban dan tanggung jawab berupa pelaksanaan Konkorcab  selambat-lambatnya bulan maret 2016
3. menuntut PB PMII untuk segera mengambil langkah tegas memberikan teguran dan sanksi atas pelanggarakan yang dilakukan oleh PKC PMII Jatim masa khidmat 2013/2015. (mif)
Share:

Sunday, March 6, 2016

LAKPESDAM NU Pamekasan Gelar Diklat Kader Penggerak NU


Pamekasan ─ Pasti Aswaja ­─ Pimpinan Cabang Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Nahdlatul Ulama (PC LAKPESDAM NU) Pamekasan menggelar Diklat Kader Penggerak NU di Pondok Pesantren Miftahul Ulum Nurul Hidayah, Masaran, Rek-kerrek, Palengaan, Pamekasan, Madura (kediaman Ketua MUI Pamekasan, KH Ali Rahbini Abd Latif).

Acara yang dilaksanakan pada sabtu-minggu (05-06 Maret 2016) ini diikuti oleh dua perwakilan dari tiga belas Majelis Wakil Cabang (MWC) NU se-Pamekasan dan empat orang dari PCNU Pamekasan.

Menurut Ketua Umum PC LAKPESDAM NU Pamekasan, Taufiqurrahman, acara ini dilaksanakan untuk menciptakan kader-kader penggerak di lingkungan NU Pamekasan sesuai dengan mandat PP (Pimpinan Pusat) LAKPESDAN PBNU, "selain itu, karena selama ini PC LAKPESDAM NU Pamekasan belum pernah adakan kegiatan untuk mengawal dan menggerakkan NU," tutur mantan aktivis PMII Pamekasan tersebut.

Hadir dalam acara ini Ketua Umum PCNU Pamekasan, KH. Abd. Ghaffar Muzakki yang dalam sambutannya mengajak kader NU untuk benar-benar memahami prinsip Ahlussunnah Wal Jamaah yang menjadi ideologi NU.

Selain itu, hadir juga Ketua Umum PP LAKPESDAM NU, Dr. Rumadi Ahmad, yang juga memberikan sambutan.

"Kader penggerak LAKPESDAM itu walau bagaimanapun tetap satu nafas dengan Nahdlah (NU.red)," jelasnya.

Setelah pembukaan, peserta langsung disuguhi dengan materi pertama dari empat materi yang ada, yaitu seputar ASWAJA yang disampaikan oleh KH. Muhammad Muddatstsir Badruddin, Wakil Rais Syuriah Pengurus Wilayah (PW) NU Jawa Timur. (bor)
Share:

Thursday, March 3, 2016

Masa Depan NU dan Konfigurasi Tokoh Ideal

Catatan menjelang Konferensi Cabang Nahdhatul Ulama Kabupaten Pamekasan

Oleh:  Musannan

NU bergolak. Kiai-kiai bersimpuh di hadapan kursi kekuasan. Elite-elite struktural NU menyandera Negeri Bintang Sembilan. Syuriah NU hanya memberi himbauan moral, tanpa sanksi dan tidak tegas. Faksi-faksi berkecambah. Kelompok politik yang tanpa menggunakan etika mengerat-ngerat Khittah NU. Menjunjung nilai kejujuran pun tergerus oleh badai syahwat pribadi dan oligarki elite-elite struktural NU. Kepentingan warga NU dan ketulusan sebagai ruh dari nilai kekiaian dan ke-NU-an terkunci oleh kunci-kunci para Qarun di NU. Sebuah potret buram dari organisasi kaum ulama. Nyata dan nyata.

Seperti yang disampaikan oleh, Dr. KH. Tolhah Hasan, “Aurat NU telah diobok-obok. Kiai dan pesantrean, sebagai aurat NU, sekarang sudah dijadikan permainan. Orang datang kapada kiai-kiai dan pesantren-pesantren kita, bukan untuk menghormati, melainkan untuk menawarkan ‘harganya’. Aurat NU sudah dibuka oleh siapa saja,” (Demoralisasi Kittah NU Dan Pembaharuan).

Deskripsi tersebut menunjukkan batapa organisasi keagamaan dan kemasyarakatan yang jumlah anggotanya terbesar di dunia ini sudah terkontaminasi oleh kepentingan politik praktis, NU memang seperti rumah besar yang menyediakan banyak madu, sehingga banyak orang yang datang untuk memanfaatkan, tetapi tentu pemanfaatnya dari kalangan menengah ke atas (para elite). Di sisi lain, di tingkat akar rumput, banyak warga  NU yang membutuhkan uluran tangan para pengurus NU. Para buruh, petani, nelayan, dan wiraswastawan kecil, yang mayoritas adalah warga NU, tidak pernah tersentuh oleh kebijakan NU. NU lebih banyak berkutat di lingkungan kiai, pesantren, lembaga pendidikan ma’arif, dan forum pengajian. Miris sekali.

Yang lebih memilukan, sampai saat ini NU hanya dibutuhkan pada dua momen: Pertama, untuk kepentingan pemilu, karena warga NU itu banyak, tetapi sehabis itu ditinggal begitu saja oleh “tamu-tamu” kekuasaan. Hal ini sudah sering terjadi berulang kali. Kedua, NU dibutuhkan jika di Negeri ini terjadi konflik. Sebagai organisasi besar NU hadir sebagai “pemadam kebakaran (penengah)”, antara kelompok yang berkonflik. Jika konflik sudah selesai, NU kembali seperti semula, ditinggal lagi.

Ini merupakan persoalan yang terjadi pada NU (bila kita sepakat bahwa ini adalah persoalan). Dan persoalan ini sudah merambah ke hampir seluruh lapisan struktural. Rasanya terlalu jauh bila berpikir NU secara umum—dari pusat sampai ke desa—, tetapi setidaknya bagaimana kita berkontrisbusi pemikiran untuk NU yang lebih baik khusunya di daerah sendiri yakni di Pamekasan. Momen menjelang konferensi cabang di Pamekasan, merupakan momen yang tepat untuk bersama-sama mengevaluasi dan merumuskan strategi pencapaian yang lebih maksimal dan mengandung lebih besar nilai maslahahahnya sampai pada lapisan masyarakat paling bawah. Tidak hanya menjawab persoalan-persoalan keagamaan, tetapi juga menjawab persoalan kesejahteraan masayarakat.

NU sekarang seperti kapal besar yang sedang oleng, karena pelayarannya sekarang sedang tanpa nakhoda. Diperlukan nakhoda yang tangguh dan visioner dengan gagasan cerdas yang mampu mengatasi kompleksitas persoalan dan membawa kapal besar NU menuju arah yang lebih baik. Menurut penulis, idealnya NU harus dipimpin oleh tokoh muda, pemimpin dari tokoh muda menjadi jawaban untuk menjawab persoalan-persoalan yang sekarang sedang terjadi di tubuh NU. Karena pemimpin muda lebih mempunyai visi-misi yang kreatif, lebih energik dan bersemangat, sedang pemimpin tua cenderung menunggu dan tidak peka terhadap keadaan sehingga membuat para kaum muda gregetan. Ketidakseimbangan ini akan melahirkan stagnasi dalam tubuh organisasi.

Untuk mengimbangi  semangat kaum muda ini, maka kaum tua harus memberikan kesempatan kepada kaum muda memimpin. Tetapi, dengan segala keterbatasannya kaum tua juga wajib memberikan pertimbangan-pertimbangan dalam setiap kebijakan kaum muda. Dan sepertinya hal ini memang diatur dalam perangkat (AD/ART) organisasi secara struktural, bahwa kaum sepuh yang terdiri kiai sepuh sebagai penyeimbang setiap kebijakan yang dilakukan. Sehingga terjadi sinergitas antara kaum muda dan kaum tua. Kaum muda bekerja, kaum tua sebagai badan penimbang.

Wallahu A’lam

Mohon maaf, Penulis hanya karena Peduli dengan NU.
Share:

Home Style

Contact Form

Name

Email *

Message *

Ads

Ads

Latest News

Popular Posts