• Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer

Pasti Aswaja's Content

Restorasi NU Sebagai Organisasi Sosial dan Keagamaan

 on Wednesday, March 23, 2016  

Sebuah Catatan Kecil Menjelang KONFERCAB NU Pamekasan
Oleh: Mohammad Ahnu Idris*

Nahdlatul Ulama (NU) merupakan organisasi kemasyarakatan dengan jumlah anggota terbanyak di Indonesia, bahkan dunia. Hal inilah, di antaranya, yang menjadikan NU memiliki peran strategis dalam geopolitik di Indonesia dan dunia; selain itu, hal ini juga yang kemudian menarik kalangan pemerhati dan pengamat seperti Prof. Martin van Bruinessen dari Belanda dan Prof. Mitsuo Nakamura dari Jepang. Tidak hanya mereka, jumlah anggota yang begitu besar, juga menarik perhatian kalangan politisi untuk ikut “bermain” dalam setiap permusyawaratan tertinggi NU baik tingkat nasional maupun daerah. Tujuannya tidak lain dan tidak bukan adalah untuk “kepentingan” kelompok dan partai mereka. Tidak heran jika di setiap permusyawaratan itu sering terjadi deadlock karena ulah “tangan-tangan” politisi, hingga persidangan diskorsing. Ketika “kepentingan” mereka tercapai, bisa dipastikan, jam’iyah ini akan keluar dari tujuan awal pendiriannya sebagai organisasi sosial dan keagamaan, dan secara otomatis organisasi ini akan “terbonsai” dengan sendirinya.

Permusyawaratan tertinggi NU merupakan momentum untuk membenahi kembali NU menuju perbaikan-perbaikan secara organisatoris, karena dalam momentum ini akan dipilih calon pimpinan tertinggi (Rais) dan ketua (Tanfidziyah), serta program-program yang diamanatkan untuk ketua terpilih selama lima tahun ke depan. Kesalahan dalam menentukan calon ketua, akan berdampak signifikan pada perjalanan organisasi, dan akan menyebabkan organisasi ini menjadi terpuruk. Itu pasti. Dan, mungkin, inilah menurut Musannan (Musannan dalam Pasti Aswaja, 2016) yang menyebabkan warga NU tidak merasakan kehadiran NU di tengah-tengah mereka.

Oleh sebab itu, idealisme calon pemimpin akan sangat dibutuhkan untuk mengantarkan NU ke tujuan awal berdirinya sebagaimana dicita-citakan para founding fathers organisasi yang sudah hampir berusia satu abad ini (sebagai organisasi yang bergerak di bidang sosial dan keagamaan).

Sebagai organiasi sosial, NU (baca: calon pemimpin NU) dituntut untuk memiliki kepedulian dan peka terhadap kondisi sosial di sekitarnya, wa bilkhushush kondisi warga NU itu sendiri, sehingga bisa mempersiapkan dan “meramu” sebuah konsep untuk melakukan al-taghayyur al-ijtima’iyah (perubahan sosial) yang dinilai senjang. Dengan kata lain, selain memiliki kepedulian dan kepekaan sosial calon pemimpin NU harus visioner.

Dalam bidang keagamaan, NU berhaluan ahlus sunnah wal jamaah (ASWAJA). Di bidang ini, posisi NU sudah tidak bisa diragukan lagi, karena organisasi ini didirikan dan diteruskan serta dijaga oleh kaum pesantren. Dalam rangka menyebarkan paham keagamaan yang tawassuth (moderat), tawazzun (netral), tasamuh (toleran), dan i’tidal (berkeadilan) sebagaimana ajaran ASWAJA, tidak sedikit lembaga, lajnah dan badan otonom NU yang bergerak di bidang ini, dan juga tidak jarang kegiatan-kegiatan keagamaan digelar sebagai bentuk pengejawantahannya dalam bidang keagamaan. Hanya saja, cara-cara dan metode yang digunakan dalam penyebaran paham ini masih tergolong konvensional, klasik dan terkesan sebatas seremonial, sehingga dakwah yang dilakukan tidak maksimal. Untuk itu, perlu konsepsi-konsepsi yang jelas dan baku demi tercapainya tujuan serta dakwah NU secara maksimal.

Permasalahan-permasalahan sebagaimana dipaparkan di atas, harus diurai untuk mengembalikan peran dan fungsi NU sebagai organisasi sosial dan keagamaan. Dan untuk itu, maka pemimpin yang menjunjung tinggi idealisme, energik, visioner dan memiliki kepekaan serta kepedulian sosial sangat dibutuhkan melihat kondisi NU saat ini. Kriteria ini merupakan pra-syarat bagi calon pemimpin NU. Menurut hemat penulis, kriteria-kriteria tersebut hanya ada pada kalangan muda NU. Bukan bermaksud untuk mendiskreditkan kalangan sepuh, tapi -dengan pertimbangan- kalangan sepuh ini sudah sibuk dengan urusan keumatan lainnya di kalangan grass root serta tenaga yang mulai berkurang (di bandingkan kalangan muda), sehingga perhatiannya terpecah.

Wallahul muwaffiq ila aqwamit thariq.
*Mantan Sekretaris Umum PC. PMII Pamekasan masa khidmat 2012-2013.

Restorasi NU Sebagai Organisasi Sosial dan Keagamaan 4.5 5 Pasti Aswaja Wednesday, March 23, 2016 Sebuah Catatan Kecil Menjelang KONFERCAB NU Pamekasan Oleh: Mohammad Ahnu Idris* Nahdlatul Ulama (NU) merupakan organisasi kemasya...


No comments:

Post a Comment

Pasti Aswaja. Powered by Blogger.
J-Theme