• This is default featured slide 1 title

    Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

  • This is default featured slide 2 title

    Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

  • This is default featured slide 3 title

    Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

  • This is default featured slide 4 title

    Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

  • This is default featured slide 5 title

    Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Saturday, April 30, 2016

Surat Suara Pemilihan Ketum dan Ketua KOPRI PKC PMII Jatim Siap Digunakan

Ponorogo – Pasti Aswaja Pasca mengambilan nomer urut calon ketua Pengurus Koordinator Cabang (PKC) dan Korps PMII Puteri (KOPRI) PKC Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Jawa Timur, kini para calon siap untuk bertempur pada pemilihan Ketua Umum dalam pelaksanaan Konferensi Koordinator Cabang (Konkoorcab) XXII PMII Jawa Timur yang menurut agenda akan dilaksanakan Minggu (01/05/16) besok.

"Pra Konkoorcab yang dilaksanakan kemarin telah resmi menetapkan Calon Ketua dan Ketua Kopri PKC PMII Jawa Timur. 8 (delapan) Calon Ketua dan 3 (tiga) Calon Ketua Kopri, masing-masing sudah mengambil nomor urut dan berkampanye" jelas Aqib Ma'rufin, Tim Seleksi Calon Ketua Konkoorcab, seperti rilis yang diterima redaksi Pasti Aswaja, Sabtu (30/04/16).

Persiapan logistik dalam pemilihan orang nomor satu di PMII Jawa Timur ini pun sudah rampung. Menurut Aqib, panitia telah menyiapkan surat suara yang akan digunakan dalam pemilihan yang dilaksanakan di Penginapan Tlogorejo, Ngebel, Kota Reog, Ponorogo.

"Surat suara sudah siap digunakan, jumlahnya sesuai dengan peserta cabang," kata Aqib.

Mekanisme pemilihan yakni perserta akan mencontreng surat suara yang bersisi nomor urut dan nama calon serta foto. Peserta akan memilih secara langsung, bersih, jujur dan adil (luberjurdil) selayaknya pemilihan umum Presiden dan Wakil Presiden, "mekanisme pemilihan dengan mencontreng surat suara, kita pilih mencontreng karena lebih mudah. Peserta akan dipanggil satu-persatu dan memilih calonnya seperti pelaksanaan pemilu," terangnya.

Mekanisme ini diharapkan akan mampu meningkatkan kualitas demokrasi serta marwah berorganisasi yang berjalan di tubuh PMII, "semoga pelaksanaan bisa berjalan sesuai rencana, demokratis dan melahirkan pemimpin yang sesuai dengan kriteria," kata Aqib.

Berikut nomor urut dan nama calon Ketua Umum (Ketum) PKC dan Ketua KOPRI PKC PMII Jawa Timur dalam Konkoorcab XXII PMII Jawa Timur: 1. Mahathir Muhammad (Blitar); 2. Ahmad Syuhadak (Trenggalek); 3. Zainuddin (Surabaya); 4. A. Haryadi (Lumajang); 5. Moh. Fathul Hasan (Malang Kota); 6. Alfi Hafidh Ishaqro (Madiun); 7. Arief Rachman (Situbondo); dan 8. Helmi Fuad (Bangkalan). Sedangkan untuk Calon Ketua KOPRI PMII Jawa Timur: 1. Maryam (Banyuwangi); 2. Hodaifah (Sumenep); dan 3. Nafisatul Qudsiyah (Sidoarjo). (ahn)
Share:

Friday, April 29, 2016

Sidang Tatib KONKOORCAB PMII Jatim dihujani Interupsi

Ponorogo – Pasti Aswaja Sidang KONKOORCAB PMII Jatim XXII memasuki pembacaan Tata Tertib (Tatib), Jumat (29/04/16), jam 20.00 WIB.

Diawal-awal sidang, peserta silih berganti mengajukan interupsi perihal Pimpinan Sidang (PINDANG) sementara.

Menurut interupsi dari peserta, Pimpinan Sidang seharusnya didampingi Wakil Pimpinan Sidang dan Sekretaris, tapi nyatanya di hadapan peserta hanya ada Pindang dan Sekretaris sidang.

Setelah redaksi Pasti Aswaja menelusuri perihal kondisi tersebut, ternyata Wakil Pindang, Mohammad Ishak yang juga panitia Steering Comitee (SC) menyatakan dirinya tidak siap dengan alasan tidak adanya panitia yang mendampingi berjalannya forum.

Akibat hujan interupsi tersebut, sidang diskors selama 2 x 10 menit. Setelah masa skors habis, sidang kembali dilanjutkan. (bor/ahn)
Share:

Hari Kedua KONKOORCAB XXII PMII Jawa Timur Belum Kondusif

Ponorogo - Pasti Aswaja -Seluruh peserta KONKOORCAB XXII PMII Jawa Timur sudah berada di Penginapan Tlogorejo, Ngebel, Ponorogo sejak Kamis (28/04/16) siang dan mengikuti Seminar Nasional, Malam harinya panitia menggelar Pengakraban Peserta sebelum istirahat malam.

Kesokan harinya, Jumat (29/04/16) permulaan sidang yang direncanakan pagi ternyata molor sampai malam. Hal ini disebabkan adanya mis-komunikasi antara panitia dari PKC dengan panitia lokal.

"Tadi sore peserta sudah ada di (ruang. Red.) forum, tapi karena adanya kesalahan teknis, jadinya permulaan sidang dimulai malam ini jam 20.00 (WIB. Red.)," Ujar Sudarsono, salah satu panitia.

Sampai berita ini diturunkan, peserta masih berada di dalam forum untuk mengikuti sidang tata tertib KONKOORCAB XXII.(bor/NUm/zai)
Share:

Thursday, April 28, 2016

PKC PMII Jawa Timur Gelar Harlah PMII ke 56 dan Kongkoorcab XXII

Ponorogo - Pasti Aswaja - Pengurus Koordinator Cabang (PKC) Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Jawa Timur gelar Hari Lahir (Harlah) PMII ke 56 dan Konferensi Koordinator Cabang (KONKOORCAB) ke 22.

Acara yang digelar di Kota Reog, Ponorogo tersebut dimulai dari Rabu (27/04/16) dan direncanakan berakhir Sabtu (30/04/16).

Acara diawali dengan Refleksi Harlah PMII yang dilaksanakan di Pendopo Ponorogo, Rabu (27/04) jam 20.00 WIB, dengan dihadiri ribuan kader PMII se-Jawa Timur. Selain itu, acara tersebut  menjadi awal dari rangkaian seluruh kegiatan yang dibuka langsung oleh KH. Nuril Huda Suaibi, salah satu pendiri PMII. 

Setelah berakhirnya acara, seluruh peserta kemudian direlokasi ke Institut Sunan Giri (INSURI) Ponorogo untuk istirahat malam.

Keesokan harinya, jam 11.30 seluruh peserta yang terdiri dari Pengurus Cabang (PC) PMII se-Jawa Timur diarahkan ke Penginapan Tlogorejo, Ngebel, Ponorogo untuk kemudian mengikuti seminar nasional dengan tema "Menjalin Ukhuwah Islamiah Menuju Islam Nusantara".

Sampai berita ini diturunkan, peserta masih menunggu instruksi panitia untuk memasuki ruang forum, guna mengikuti sidang pertama KONKOORCAB Jawa Timur ke 22. (bor/zai)
Share:

Tuesday, April 26, 2016

Perlunya Fenomena Analisis bagi Nahdliyin

Oleh: Mohammad Abror*

Pasti Aswaja – Belakangan ini banyak saya temukan Sahabat-sahabat di Time Line Facebook yang membagikan kiriman dari situs dan FP (Fans Page) yang didesain Islami, tapi nyatanya menebar kebencian, berprasangka buruk, dan menfonis salah terhadap orang lain.

Beberapa waktu yang lalu saya coba membandingkan member FP di Facebook antara situs Islam Ahlussunnah Wal Jamaah an-Nahdliyah dengan situs Islam yang hanya berlabel Ahlussunnah Wal Jamaah saja. Hasilnya benar-benar menyakitkan bagi saya pribadi.

NU Online, yang merupakan situs resmi Nahdlatul Ulama (NU) hanya memiliki member sebanyak 104.433. Hal ini berbanding terbalik dengan situs gerakan Islam Transnasional yang memiliki member sampai satu juta lebih.

Kalau diperhatikan lebih dalam lagi, propaganda konflik Sunni-Syiah yang disebarkan oleh satu kelompok (tidak perlu saya sebutkan, karena sudah jelas) melalui media dan informasi bisa dibilang sukses, hal ini terlihat dari semakin banyaknya Nahdliyin yang benci terhadap NU sendiri, terlebih Syiah secara umum.

Ironis memang, ketika situs-situs yang menprofokasi untuk membenci NU justru lebih dipercaya oleh Nahdliyin, dibandingkan dengan situs-situs yang memang benar-benar sesuai dengan visi dan misi NU. Ini menunjukkan adanya kekuatan luar biasa dibalik keberhasilan situs profokatif tersebut yang belum dikuasai oleh Nahdliyin.

Salah satu dosen Universitas Brawijaya, Malang, Fadillah Putra, dalam satu kesempatan forum yang pernah saya ikuti menyebutkan tentang kekalahan NU dalam perang media. Menurutnya, hal ini tidak lepas dari doktrinasi agama di dalam tubuh NU itu sendiri, sehingga saat melihat orang lain yang lebih memahami agama berdasarkan Fenomena Analisis dianggapnya keliru. Dia juga menilai, pengaruh finansial juga menjadi salah satu penyebab kekalah NU dalam menghadapi perang media saat ini.

Hal ini bisa dijadikan pelajaran bagi warga Nahdliyin, betapa pentingnya memahami agama berdasarkan fenomena analisis untuk terus melestarikan Islam yang damai, santun, dan Rahmatan lil 'Alamin, serta bisa keluar dari proxy war (perang boneka) yang memanfaatkan konflik timur tengah untuk dibawa ke bumi Nusantara.

Diakhir tulisan ini, sedikit saya kutip pernyataan dari KH. Nawawi Abd. Jalil, Pengasuh Pondok Pesantren Sidogiri: "Lebih baik berhusnudzon sekalipun salah, daripada bersuudzon sekalipun benar".

Semoga tulisan singkat ini bisa memberikan sedikit injeksi kepada pengguna media sosial untuk lebih berhati-hati dalam membaca, menganalisa, dan mengunjungi situs-situs yang hanya berlabel Islam Ahlussunnah Wal Jamaah.
*Kader PMII STAI-MU Pamekasan & Redaktur Pelaksana Pasti Aswaja.
Share:

PK PMII UNIRA Pamekasan Gelar BAKSOS

Pamekasan - Pasti Aswaja - Pengurus Komisarian Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia Universitas Madura (PK. PMII UNIRA) Pamekasan gelar Bakti Sosial (BAKSOS) di Dusun Duko, Desa Tolontoh Rajeh, Pasean, Pamekasan.

Acara yang digelar pada Minggu-Senin (24-25/04/16) tersebut memberikan pengobatan dan sunatan massal secara gratis kepada masyarakat sekitar. Tidak hanya itu, Panitia Pelaksana jua mengadakan penyuluhan pertanian, penanaman 1000 pohon, serta santunan anak yatim dan duafa.

Kepada Pasti Aswaja Samsul Arifin, Sekertaris Komisariat PMII UNIRA menuturkan, acara tersebut merupakan salah satu bentuk implementasi dari Nilai Dasar Pergeraka (NDP) yang tertanam dalam PMII.

"Tujuan dari  acara ini (BAKSOS.red) adalah untuk mengubah pola fikir masyarakat terhadap PMII yang hanya mengenalnya sebagai organisasi yang cuma mampu menyikapi kebijakan pemerintah," Ujar pria yang akrab disapa Samsul "Gerrard" tersebut.

Pihaknya juga ingin membuktikan, bahwa PMII bisa memberikan sesuatu yang sangat bermanfaat untuk rakyat kecil.

"Jadi saya mengharap, kegiatan ini sedikit banyak bisa membantu masyarakat setempat," Jelasnya, yang tak lain juga menjadi Ketua Panitia Pelaksana.

Senada dengan Panitia Pelaksana, Ketua Cabang PMII Pamekasan, Mohammad Imron sangat mengapresiasi terhadap kegiatan yang telah dilaksanakan oleh PK. PMII UNIRA tersebut.

"ini adalah bentuk komitmen PMII terhadap masyarakat, bahwa PMII akan trus menjadi organisasi yg mampu bermasyarakat dg baik," terang Imron kepada Pasti Aswaja, sesaat setelah menghadiri penutupuan acara.

Menurut Imron, kegiatan yang dilakukan oleh Sahabat-sahabat PMII UNIRA merupakan suatu hal yang sangat membanggakan.

"Saya merasa sangat bangga sekali, Karena PMII dalam hal ini mampu turun langsung membantu masyarakat," tandasnya.

Rangkaian acara tersebut kemudian diakhiri dengan pengajian akbar yang menghadirkan KH. Wazir Sya'rani asal Jungcangcang, Pamekasan sebagai penceramahnya.(bor/zai)
Share:

Monday, April 25, 2016

PKC PMII Jatim, Calon Ketum Itu Bukan Hanya Lolos Verifikasi Saja

Surabaya – Pasti Aswaja Seiring dengan akan dilaksanakannya Konfrensi Koordinataor Cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (Konkorcab PMII) Jawa Timur di Ponorogo pada tanggal 27-30 April 2016, Ketua III Pengurus Koordintar Cabang (PKC) PMII Jawa Timur, Sudarsono, menyampaikan harapannya kepada Pasti Aswaja, Minggu sore (24/04/16) di Masjid Al-Akbar Surabaya sesaat setelah shalat Ashar. Ia berharap Konkoorcab nantinya dapat berjalan dengan sukses dan lancar.

Sudarsono: Ketua III PKC PMII Jatim.
Sudarsono mengatakan bahwa Konkoorcab nantinya diharapkan mampu mencetuskan ide serta gagasan dalam rangka meningkatkan mutu dan kualitas pengkaderan PMII Jawa Timur. Selain itu, ia juga berharap PMII akan mampu meneguhkan diri sebagai salah satu organisasi kemahasiswaan yang ikut berpartisipasi dalam proses  demokrasi dan pembangunan masyarakat Jawa Timur.

"Tantangan PMII ke depan sangatlah Kompleks, oleh karena itu dibutuhkan ide dan terobosan untuk meningkatkan kualitas pengkaderan PMII Jawa Timur," tandas kader PMII Pamekasan ini.

Selain itu, Darso, sapaan akrabnya, juga berharap bahwa Ketua Umum PKC PMII Jawa Timur yang nantinya akan dipilih oleh 32 peserta cabang-cabang se-Jawa Timur pada pelaksanaan Konkoorcab adalah pribadi yang memiliki intelektualitas, kapasitas, dan mental kepemimpinan yang telah teruji.

"Ketum (Ketua Umum PKC. Red.) itu 'kan pimpinan organisasi. Jangan sembarang pilih lah. Harus jelas profilnya. Track Record dan mental kepemimpinannya juga telah teruji. Kader harus tahu itu, mana yang pernah berpengalaman memimpin di cabang, dan mana yang tidak berpengalaman. Bukan hanya sekedar lolos verifikasi saja." Kata pria kelahiran Sumenep ini.

Dalam Konkoorcab nanti, ada 8 Calon Ketua Umum yang akan dipilih oleh perserta. Berikut Calon Ketua Umum PKC PMII Jawa Timur beserta nomer urutnya:
1. Mahathir Muhammad (PC PMII Blitar)
2. Ahmad Syuhadak (PC PMII Trenggalek)
3. Zainuddin (PC PMII Surabaya)
4. A. Haryadi (PC PMII Lumajang)
5. Moh. Fathul Hasan (PC PMII Malang Kota)
6. Alfi Hafidh Ishaqro (PC PMII Madiun)
7. Arief Rachman (PC PMII Situbondo)
8. Helmi Fuad (PC PMII Bangkalan). (ahn)
Share:

Sunday, April 24, 2016

Warga Taiwan Nyatakan Ke-NU-annya di YouTube

Pasti AswajaDalam sebuah video berdurasi 00:11 yang diunggah di YouTube terlihat seorang pria bertopi menggunakan bahasa campuran Indonesia, Mandari, dan Inggris yang menyebutkan dirinya warga Taiwan yang cinta NU.

Dalam video yang diposting tepat pada Hari Lahir (HARLAH) NU ke 93, Minggu (24/04/16) tersebut berjudul Warga NU Taiwan #HarlahNU dengan keterangan "Greeting warga asli Taiwan yang menyatakan ke-NU-annya dalam Bahasa Mandarin".

Di bawah ini video selengkapnya. (bor/ahn)


Share:

Cucu Syekh Abdu al-Qodir al-Jailani Meriahkan Harlah NU ke 93

Bojonegoro - Pasti Aswaja - Syekh Muhammad Fadhil al-Jailani al-Hasani, cucu dari Syekh Abdu al-Qodir al-Jailani asal Turki, hadiri Refleksi Hari Lahir (HARLAH) Nahdlatul Ulama ke 93 yang dilaksanakan oleh Majelis Wakil Cabang NU (MWCNU) Kecamatan Balen, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, Sabtu (23/04/16) di halaman Yayasan Pondok Pesantren Raudlotut Tholibini, Balen.

Saat memberikan ceramah di hadapan ribuan Nahdliyin, Ia mengakui Indonesia sebagai negara yang paling disenanginya.

"Sudah sembilan tahun datang ke Indonesia, tidak pernah merasa menjadi orang asing di Indonesia. Indonesia negera kedua saya," kata Syekh Fadhil, melalui penerjemah Abdul Aziz Ibnu Abdil, Seperti dikutip NU Online, Minggu (24/06/16).

Syekh Fadhil juga menjelaskan tentang keistimewaan angka tujuh.

"Hikmah angka 7 banyak, angka itu keramat, angka istimewa, karena setiap perbuatan itu baik diganjar 10, dan setiap sepuluh itu berlipat tujuh, sehingga menjadi 70." katanya yang juga memaparkan bahwa Syekh Abdul Qodir juga dikatakan sebagai wali tingkat tujuh di antara wali-wali yang lain.

Pada kesempatan itu, para jamaah yang mengenakan pakaian serba putih mendapatkan kesempatan untuk menerima ijazah (sanad keilmuan) dari Syekh Fadhil berupa shalawat dan lainnya, yang dibacakan dengan menggunakan bahasa Arab. Setelah membacakan ijazah itu, para jamaah secara serentak mengucapkan "qabilna" atau kami terima.(bor/zai)
Share:

Ketua PCNU Pamekasan : "Mari Bersama-sama Membangun NU"

Pamekasan - Pasti Aswaja - Dalam rangka refleksei Harlah NU ke 93, PCNU Pamekasan melaksanakannya bersamaan dengan Ta'aruf pengurus baru yang akan dilantik beberapa hari ke depan. (baca juga; Harlah ke 93, Pengurus Baru NU Pamekasan Gelar Ta'aruf dan Dzikir Bersama)

Dalam sambutannya saat memperkenalkan diri sebagai Ketua PCNU Pamekasan terpilih hasil Konferensi Cabang (KONFERCAB) NU di Pondok Pesantren Kebun Baru, Palengaan, Pamekasan beberapa waktu yang lalu, KH. Taufiq Hasyim mengajak kepada seluruh elemen NU untuk bersatu demi membangun NU di Pamekasan.

"Banyak saya temukan warga NU yang merasa malu mengaku NU. Oleh karena itu, mari kita bersama-sama bangun kembali NU dengan menunjukkan kalau NU ini besar," terangnya.

Menurut alumni Haromain, Mekkah, asuhan Dr. syekh Muhammad bin Ismail tersebut, sistem kaderisasi NU di Pamekasan saat ini masih kurang efektif.

"Anak-anak NU harus lebih faham tentang NU dengan cara memperbaiki media kaderisasi. Kalau perlu, sekolah-sekolah yang berlatar belakang NU diharuskan memasukkan mata pelajaran Ahlussunnah Wal Jamaah," tegas pria yang akrab disapa Kaji Tovix tersebut.

Alumni Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri, Jawa Timur tersebut menghimbau agar kedepannya NU lebih gemuk lagi.

"Sekarang banyak aliran yang berbahaya bagi NU. Jangan sampai Aqidah Ahlussunnah Wal Jamaah an-Nahdliyah dihabiskan oleh faham lain, karena ini urusan hidup dan mati," jelasnya disambut tepuk tangan seluruh audien.

Tidak hanya itu, Pengasuh Pondok Pesantren Bustanul Ulum Sumber Anom, Angsanah, Palengaan, Pamekasan tersebut menyerukan, agar kepengurusan yang akan dilantik nantinya memperbaiki pola komunikasi yang berkaitan NU.

"Segala yang berkaitan dengan NU, baik itu hubungan pemerintah dan yang lainnya harus lebih inten, ini demi kemajuan NU Pamekasan," cetusnya.

Selain itu, pihaknya menegaskan posisi NU yang tidak boleh menjadi tunggangan politik.

"Ideologisasi Ahlussunnah Wal Jamaah harus steril, bersih dari tunggangan politik, dan NU harus menjadi rumah besar di Pamekasan," tegasnya lagi, disambut tepuk tangan gemuruh seisi ruangan.

Pada akhir sambutannya, dosen di beberapa perguruan tinggi tersebut meminta masukan dan teguran kepada kiyai sepuh dan seluruh komponen NU lainnya.

"Seperti yang saudara-saudara ketahui, saya ini masih muda. Tanpa mengurangi rasa hormat, saya mohon kepada kiyai-kiyai sepuh dan komponen NU lainnya, agar tidak sungkan untuk memberikan teguran, kritkan, dan saran selama saya melaksanakan amanat ini," pungkasnya.(bor/zai)
Share:

PMII Pamekasan Ramaikan Khotmil Quran PCNU Pamekasan

Pamekasan - Pasti AswajaSebagaimana instruksi Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur, Pengurus Cabang (PC) NU Pamekasan gelar Dzikir dan Istighasah Hari Lahir NU ke 93 yang diawali dengan Khotmil Quran, Sabtu (23/04/16) pagi, yang dimulai jam 07.00, dan berakhir jam 16.00 WIB.

Pembacaan Khotmil Quran yang dilaksanakan di Sekretariat PCNU Pamekasan, Jl. R. Abd. Aziz no. 95 Pamekasan tersebut diikuti oleh seluruh Badan Otonom (BANOM) NU. Uniknya, tampak terlihat juga beberapa Kader Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Pamekasan yang ikut meramaikan.

Menurut KH. Taufiq Hasyim, Ketua PCNU Pamekasan beberapa Kader PMII yang hadir karena diundang oleh panitia pelaksana.

"Untuk sementara, berdasarkan hasil Muktamar NU ke 33 di Jombang, PMII kan masih BANOM NU, jadi kami undang juga," ujar Alumni PMII Kediri tersebut kepada Pasti Aswaja.

Pihaknya menuturkan, bahwa diakui atau tidak, PMII lahir dr NU dan merupakan tempat berkumpulnya anak muda NU.

"Itu faktanya. Masalah nanti hasil Kongres PMII menyatakan independen, itu bukan urusan kami lagi secara struktural," Jelas Ketua PCNU termuda dalam sejarah perjalanan NU Pamekasan tersebut.

Sementara itu, menurut Miftahul Munir, Sekretaris Umum PC PMII Pamekasan, pihaknya menghadiri acara tersebut sebagai bentuk penghormatan atas undangan yang diterimanya.

"Kami menghadiri acara itu (Khotmil Quran.red), karena adanya undangan yang dilayangkan oleh PCNU kepada PC PMII," Ujar Miftah, sapaan akrabnya.

Tidak hanya itu, alasan lain dari keterlibatan PMII dikarenakan adanya ikatan kuat antara NU dan PMII secara kultural.

"Berdasarkan hasil kongres PMII ke X di Jakarta, PMII menyatakan interdependensi dengan NU. Jadi, kehadiran kami juga karena adanya visi yang sama antara NU dan PMII, yaitu menyebarkan faham Ahlussunnah Wal Jamaah," Ujar Mantan Ketua Komisariat PMII STAI-MU Pamekasan tersebut.

Masih menurut Miftah, pihaknya mengklaim kehadiran beberapa kader PMII bukan karena Ketua PCNU saat ini juga kader PMII.

"Memang tidak dipungkiri, bahwa beliau,Ketua PCNU juga kader  PMII, namun terlepas dari semua itu, PMII hadir atas kultur Ahlussunnah Wal Jamaah," pungkas pemuda yang gemar musik reggae tersebut.(bor/NUm/zai)
Share:

Saturday, April 23, 2016

Harlah ke 93, Pengurus Baru NU Pamekasan Gelar Ta'aruf dan Dzikir Bersama

Pamekasan – Pasti Aswaja – Dalam rangka Refleksi Harlah (Hari Lahir) Nahdlatul Ulama (NU) Rajabiyah ke 93, Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Pamekasan menggelar dzikir bersama, Sabtu malam (23/04/16).

Dalam sambutannya, Rais Syuriah, KH. Abd. Mannan Fadhali, meminta doa para hadirin, "karena kepengurusan NU Pamekasan periode kali ini merupakan kepengurusan termuda di antara kepengurusan NU di kabupaten yang lain," ujarnya.

Menurut pengasuh Pondok Pesantren Miftahul Qulub Polagan, Galis, Pamekasan kegiatan yang dilaksanakan di kantor PCNU Jl. R. Abd. Aziz ini, ditekankan pada ta'aruf pengurus. Untuk kegiatan Harlah akan dilaksanakan bersamaan dengan pelantikan pengurus setelah terbitnya Surat Keputusan (SK) Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), "tinggal nunggu SK dari PB," jelasnya.

Acara yang digelar mulai jam 07:00 WIB itu dihadiri oleh semua jajaran kepengurusan baru dan Banom yang ada di lingkungan NU Pamekasan. Selain itu, kegiatan ini merupakan rangkaian yang digelar sejak tadi pagi atas instruksi Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur untuk menggelar Istighatsah dan Khatmil Quran dalam rangka refleksi Harlah Rajabiyah NU.

Selain itu, menurut Ketua Panitia Harlah NU ke 93, Ahmad Asir, Panitia juga akan menggelar bakti sosial di antaranya operasi katarak untuk 1000 pasang mata pada tanggal 21 Mei 2016 di RSUD Slamet Martodirdjo Pamekasan, "kegiatan ini hasil kerjasama antara PCNU, RSUD Slamet Martodirdjo Pamekasan, PT. Insan Indah Cemerlang Pamekasan, PT. Sido Muncul Jakarta dan UIM (Universitas Islam Madura. Red.) Pamekasan," Jelasnya.

Rektor UIM Pamekasan ini juga menambahkan bahwa kegiatan ini khusus bagi warga NU, baik yang memiliki KARTANU ( Kartu Tanda NU) maupun yang tidak, "pendaftaran bisa di sini (kantor PCNU. Red.) bisa juga di UIM, mulai tanggal 20 April sampai 20 Mei." Pungkasnya. (ahn/zai)
Share:

Wednesday, April 20, 2016

PCNU Pamekasan : "PMII Harus Tetap Menjadi Benteng Aswaja"

Pamekasan - Pasti Aswaja - KH. Taufiq Hasyim, MABINCAB PMII Pamekasan yang saat ini menjabat ketua PCNU Pamekasan menyampaikan sambutannya pada pelaksanaan HARLAH PMII ke 56 yang digelar oleh PC PMII Pamekasan.(baca juga: PC PMII Pamekasan Gelar Harlah PMII ke 56)

Pada awal prakatanya, pengasuh Pondok Pesantren Bustanul Ulum Sumber Anom, Angsanah, Palengaan, Pamekasan, Madura tersebut mengajak kepada seluruh kader PMII se-Kabupaten Pamekasan untuk bersama-sama mengkaji ulang paradigma PMII yang ada saat ini.

"Oleh karena itu, dengan tetap berpegang pada nilai-nilai gerakan kita, harus kita evaluasi arah gerakan kita," tegas mantan aktivis PMII Kediri tersebut.

Menurutnya lagi, carut marutnya Indonesia saat ini bisa dijadikan tolak ukur dalam mempertimbangkan paradigma PMII.

"Dulu ada Paradigma Arus Balik, kemudian pada era reformasi berubah menjadi Paradigma Kritis Transformatif yang digunakan sampai sekarang. Apakah ini cocok dengan kondisi saat ini? Perlu kita kaji bersama demi terciptanya kader yang militan, agar tujuan pendiri PMII bisa tercapai," jelasnya.

Dalam lanjutan sambutannya, Ia menekankan agar PMII harus tetap berada di garda terdepan dalam mengawal dan membentengi Ahlussunnah Wal Jamaah.

"Saat ini banyak aliran-aliran radikal yang berbahaya bagi keberlangsungan kehidupan di Indonesia, seperti mengkafir-kafirkan, itu tidak bisa dibiarkan oleh PMII," Imbuh alumni Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri, Jawa Timur tersebut.

Saat sebelum mengakhiri sambutannya, pria yang akrab disapa Kaji Tovix tersebut menegaskan, bahwa PMII harus terus berkembang dan besar.

"PMII harus birukan kampus-kampus di Pamekasan sebagai basis Nahdliyin, karena diakui atau tidak, PMII tetap anaknya NU secara kultural," tegasnya, disambut tepuk tangan riuh audien.

Pada akhir sambutannya, Ketua PCNU termuda dalam sejarah perjalanan NU Pamekasan tersebut tetap akan bersama-sama PMII dalam mengemban amanahnya.

"Saya mengenal NU berkat PMII, dan saya menjadi Ketua PCNU saat ini berangkat dari PMII. Jadi, pintu sekretariat PCNU Pamekasan sangat terbuka lebar untuk adik-adik PMII," Tegasnya disambut gemuruh tepuk tangan seisi ruangan.(bor/zai)
Share:

PC PMII Pamekasan Gelar Harlah PMII ke 56

Pamekasan - Pasti Aswaja - Pengurus Cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PC PMII) .Pamekasan gelar refleksi Hari Lahir (HARLAH) PMII ke 56, Rabu (20/04/16) pagi di aula SMKN 3 Pamekasan.

Acara yang dihadiri oleh ratusan kader PMII se-Kabupaten Pamekasan tersebut digelar dengan konsep ceramah pergerakan yang menghadirkan salah satu pendiri PMII, KH. Nuril Huda Suadi.

Dengan tema Berkhidmat Untuk PMII, diharapkan nantinya semangat juang kader PMII Pamekasan tidak pernah surut. Hal ini disampaikan oleh Mohammad Imron, Ketua Cabang PMII Pamekasan saat memberikan sambutan.

Hadir dalam kesempatan ini, Ach. Syafi'i, Bupati Pamekasan dan KH. Taufiq Hasyim, salah satu Majelis Pembina Cabang (MABINCAB) PMII Pamekasan yang saat ini menjabat Ketua Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Pamekasan.

Sekedar untuk diketahui, sebelum memasuki ceramah pergerakan dilakukan peniupan lilin dan pemotongan tumpeng oleh Ketua Cabang PMII Pamekasan. (bor/zai)
Share:

Tuesday, April 19, 2016

FP Situs Aswaja An-Nahdliyah Kalah Bersaing di Facebook

Pasti Aswaja - Belakangan ini, banyak netizen yang kurang memahami dan tidak bisa membedakan antara situs-situs Islam Aswaja An-Nahdliyah dengan situs gerakan radikal dan transnasional yang anti NU dan NKRI.

Berdasarkan hasil penelusuran redaksi Pasti Aswaja, Fans Page (FP) situs-situs Aswaja An-Nahdliyah ternyata kalah bersaing dengan FP situs-situs gerakan radikal dan transnasional anti NU dan NKRI  di Facebook.

Berikut perbandingan jumlah member di Facebook pertanggal 19 April 2016:

FP Islam Aswaja An-Nahdliyah:
  1. NU Online : 104.443
  2. Muslimedia News : 37.152
  3. PISS-KTB : 314.091
  4. Ngaji Yuk : 23.175
  5. Suara Muslim : 2.819
  6. Aswaja NU Jatim : 8.184
  7. Santri Thoriqoh Sarkubiyah Nusantara : 11.694
  8. Santri Online Net : 14.156
  9. Islamuna : 36.812
  10. Pasti Aswaja : 171
  11. Arrahmah.co.id : 15
FP Islam Transnasional :
  1. Islampos : 1.932.659
  2. Eramuslim : 4.814
  3. Dakwatuna : 1.172.043
  4. Hidayatullah Online : 92.828
  5. Muslim.or.id : 244.771
  6. Arrahmah.com : 25.514
  7. Voa-Islam : 3.472
  8. PKS Piyungan : 8.012. (bor/ahn)
Share:

Sunday, April 17, 2016

Hujan Deras, Beberapa Rumah Warga Terendam Banjir

Pamekasan – Pasti Aswaja Hujan deras yang mengguyur hampir 3 jam membuat beberapa rumah warga di Dusun Londhelem, Palengaan Daja, Palengaan, Pamekasan, Madura terendam banjir, Minggu (16/4/2016) sore.

Luapan air sungai yang cukup tinggi mengakibatkan air masuk ke ruman warga, hingga ketinggian air mencapai pinggang orang dewasa.

"Air mulai menggenangi sekitar rumah warga sejak tadi siang, tapi alhamdulillah memasuki sore hari sudah mulai surut," kata salah satu warga setempat, Arif kepada sejumlah wartawan, seperti dikutip beritajatim.com.

Setelah air mulai surut, warga langsung ambil tindakan cepat dengan membersihkan sisa-sia genangan air yang mengkotori sekitar rumahnya.

Menyikapi kejadian ini, Kepala Desa (Kades) setempat, Syamsul Arifin langsung menyambangi lokasi banjir dengan didampingi beberapa perangkat desa lainnya. (bor/ahn)
Share:

Pra KONKOORCAB, PMII Jatim Tetapkan Calon Ketua Umum dan Ketua KOPRI.

Surabaya – Pasti Aswaja Pelaksanaan Pra Konferensi Koordinator Cabang (KONKOORCAB) PMII Jawa Timur yang dilaksanakan di Museum NU Surabaya, Sabtu (16/04/16) berjalan dengan lancar dan khidmat.

Acara yang dibuka oleh Sahabat Amin, mantan Ketua Umum Pengurus Koordinator Cabang (PKC)  PMII Jawa Timur dan Kang Muslik selaku Majelis Pembina Daerah PKC PMII Jawa Timur tersebut menghasilkan keputusan ditetapkannya delapan Calon Ketua Umum dan Ketua Korp. PMII Putri (KOPRI) PKC PMII Jawa Timur.

"Acaranya berlangsung lancar dan khidmat, serta menghasilkan keputusan penetapan calon ketua umum dan Ketua KOPRI PKC PMII Jawa Timur," ujar Sudarsono kepada Pasti Aswaja, Minggu (17/04/16).

Berikut Calon Ketua Umum PKC PMII Jawa Timur beserta nomer urutnya :
 1. Mahathir Muhammad (Blitar)
2. Ahmad Syuhadak (Trenggalek)
3. Zainuddin (Surabaya)
4. A. Haryadi (Lumajang)
5. Moh. Fathul Hasan (Malang Kota)
6. Alfi Hafidh Ishaqro (Madiun)
7. Arief Rachman (Situbondo)
8. Helmi Fuad (Bangkalan).

Sedangkan untuk Calon Ketua KOPRI :
1. Maryam (Banyuwangi)
2. Hodaifah (Sumenep)
3. Nafisatul Qudsiyah (Sidoarjo).

Menurut Darso, sapaan akrab Sudarsono, hasil ini nantinya akan diserahkan kepada pimpinan sidang KONKOORCAB PMII Jawa Timur ke XXII yang akan berlangsung tanggal 27 April 2016 di Ponorogo untuk memilih Ketua Umum dan Ketua KOPRI PKC PMII Jawa Timur melalui sidang.

"Melalui ketetapan ini, semua calon sudah mendapat kepastian untuk melakukan sosialisasi kepada cabang-caban yang ada di bawah PKC PMII Jawa Timur," pungkasnya. (bor/ahn)
Share:

Harlah PMII ke 56, Kampus UNISMA "Menguning"

Malang – Pasti Aswaja Dalam rangka menyambut Hari Lahir (Harlah) Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) ke 56 banyak cara untuk merefleksikannya, seperti yang dilakukan oleh PMII KOMUNIS (Komisariat UNISMA) Malang yang membentangkan banyak bendera PMII di hampir semua area kampus Universitas Malang (UNISMA) sejak Rabu (13/04/16).

Menurut penuturan Amran Umar, Ketua PMII KOMUNIS, terbentangnya banyak bendera di sekitar kampus UNISMA berawal dari rencana PMII Cabang Kota Malang yang ingin melaksanakan Harlah PMII di kampus berlatar belakang NU itu.

"Saya beserta ketua pelaksana harlah ke 56 PMII cabang kota malang mendatangi Kantor Kerumah Tanggaan UNISMA untuk meminta ijin memasang bendera di lingkungan kampus, dan pada 13 april 2016 di Acc," jelas Amran, sapaan akrab Amran Umar kepada Pasti Aswaja, Minggu (17/04/16).

Pemuda asal Nusa Tenggara Timur tersebut menambahkan, adanya bendera besar yang diambil dari sembilan Rayon PMII KOMUNIS itu bukan menunjukkan arogansi dari organisasi yang saat ini digelutinya.

"Kita memasang bendera itu bukan karena arogansi atau menganggap PMII sebagai penguasa di kampus UNISMA, tapi ini murni kita lakukan setelah mendapatkan ijin dari pihak kampus," tegasnya.

Masih menurut Amran. Sampai sejauh ini, tindakan yang dilakukan oleh pihaknya mendapat respon yang luar biasa dari sebagian besar mahasiswa UNISMA.

"PMII merupakan satu-satunya organisasi kemahasiswaan di UNISMA yang selalu menjaga Ahlussunnah Wal Jamaah. Karena pada nyatanya, UNISMA didirikan oleh kaum intelektual NU. Jadi, kelompok kecil yang mempermasalahkan (bendera.red) itu, berarti kurang memahami sejarah berdirinya UNISMA," pungkasnya. (bor/ahn)
Share:

Wednesday, April 13, 2016

Pendaftaran Calon Ketum PKC PMII Jatim Resmi Ditutup

Surabaya – Pasti Aswaja Pendaftaran Calon Ketua Umum dan Ketua Korps PMII Puteri (KOPRI) Pengurus Koordinator Cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PKC) PMII Jawa Timur resmi ditutup kemarin, Selasa (12/04/16). Sebanyak 10 kandidat sudah resmi mendaftarkan diri, di antaranya: zona Tapal Kuda, ada Arief Rahman dari Situbondo, Arya dari Lumajang, dan Kholilullah dari Probolinggo; zona Metropolis ada Zainuddin dari Surabaya, Fathul Hasan dari Kota Malang dan Zain Haq dari Sidoarjo. Untuk zona Mataraman ada Mahathir Muhammad dari Blitar, Ahmad Syuhada' dari Trenggalek dan Alfi Hafidh Ishaqro dari Madiun. Sedangkan zona Madura ada Helmi Fuad dari Bangkalan.

"Setelah proses pendaftaran, para kandidat akan diverifikasi mengenai kelengkapan dan kebenaran dokumen persyaratannya," terang Ketua III PKC PMII Jatim, Sudarsono, Rabu (13/04/16).

Banyaknya calon yang mendaftar, setelah kemarin satu hari menjelang penutupan hanya satu calon, menunjukkan bahwa kepedulian terhadap PMII Jawa Timur masih tinggi. "Ini merupakan perang bintang dikarenakan kandidat yang mendaftar adalah tokoh-tokoh di cabang nya masing-masing," ujar Darso, sapaan akrab Sudarsono.

"Semoga konkoorcab (Konferensi Koordinator Cabang. Red.) kali ini menjadi perang adu visi dan misi, adu ide dan gagasan bagaimana PMII menempatkan diri dalam era globalisasi saat ini," harap pemuda yang juga masuk pada tim seleksi ini.

Hal tersebut berbanding terbalik dengan apa yang terjadi pada KOPRI. Sampai pendaftaran resmi ditutup kemarin, belum ada satu pun kader putri yang mendaftar, "sehingga sesuai dengan aturan yang berlaku, kami memperpanjang masa pendaftaran Calon Ketua KOPRI Jawa Timur selama 3 hari, terhitung mulai hari ini," paparnya.

"Semoga dengan masa perpanjangan ini, bermunculan banyak kader putri yang berani tidak hanya di wacana, tetapi juga aksi nyata," pungkas jaka kelahiran Sumenep ini. (ahn)
Share:

Paradigma Kritis Transformatif

Oleh: Marlaf Sucipto*

Saya disodori tema sebagaimana judul tulisan untuk didiskusikan di acara Pelatihan Kader Dasar (PKD) 2016, Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Rayon Psikologi & Kesehatan, Komisariat Sunan Ampel, Cabang Surabaya, pada Sabtu (9/4) lalu.

Membaca Term of Reference (TOR) yang diberikan panitia, saya mengernyitkan kening. Lagi-lagi, kerangka teori yang digunakan lahir dari mereka yang memposisikan "timur" sebagai "the other". Eropa centris. Hal ini telah diperteguh oleh "Orientalisme"-nya Edward W. Said. Ambil contoh seperti: Edwar C. Tolman, Rene Descartes, Thomas Khun, Robert Friederichs, Philips, dlsb. Memperteguh kesan, bahwa yang maju, modern, beradab, ialah mereka orang Eropa. Seakan, kita sendiri sebagai bangsa yang mewarisi keluhuran orang Nusantara tidak memiliki konsepsi tersendiri.

Paradigma, (saya lebih nyaman memaknai: bagaimana manusia berfikir). Kita tercekoki oleh pola-pola konsepsi orang Eropa. Apakah ini salah? Tidak, bila didudukkan sebagai perbandingan konsepsi dari konsep yang memang harus kita rumuskan sendiri. Pandangan-pandangan Eropa tidak kemudian harus kita jadikan jujukan, cukup sebagai pelengkap referensi pandangan. Pertama, kita harus mengacu dulu atas sekian konsepsi yang telah ditentukan moyang.

Karena paradigma menyangkut soal pandangan-pandangan, maka pandangan kita dalam semua aspek kehidupan di Indonesia tidak harus sebagaimana padangan orang Eropa. Misal, orang Eropa dalam membangun rumah, cenderung individualistik. Pagar rumahnya tinggi-tinggi karena persaingan penguasaan materi yang begitu ketat menjadikan kriminalitas meninggi. Indonesia, dengan ciri masyarakatnya yang tidak individualistik, bangunan rumahnya tidak setertutup orang Eropa. Angka kriminalitas tidak setinggi di Eropa karena tingkat berbagi, masyarakatnya masih tinggi. Dalam hal ini kita masih bisa melacaknya di desa-desa dan perkampungan-perkampungan. Masyarakat ini guyub, terbuka, saling tolong-menolong. Tidak "sekering" kehidupan orang kota kini yang memang sudah terkonstruksi oleh pengaruh kehidupan orang Eropa. Ini hanya satu contoh, cantoh-contoh lain bisa saudara pembaca kembangkan sendiri.

Jadi, paradigma, dalam semua aspek, mari kita prioritaskan dulu bagaimana cara pandang nenek moyang. Jangan tiba-tiba turut ikut cara pandang orang lain yang jelas dari sisi budaya, sosial, hukum, dan dinamika politiknya berbeda dengan kita. Mereka mengatakan lebih hebat dan lebih baik itu murni propaganda supaya kita nunut kepada mereka seperti sapi yang sudah dicocok hidungnya.

Ingat, kita ini adalah pewaris peradaban agung, di mana saat negeri ini masih di bawah kerajaan Majapahit, moyang kita yang maritim, kapalnya sudah lebih maju ketimbang China. Saat kapal China masih terbuat dari kayu dan panjangnya hanya 5 meter, kapal nenek moyang kita sudah terbuat dari logam dan tembaga dengan panjang sampai 20 meter. Di bidang persenjataan perang juga demikian. Hal ini dapat pembaca lacak dari buku "Atlas Nusantara"-nya Agus Sunyoto.

Kenapa nenek moyang kita hancur? Alasanya sederhana, karena penjajah berhasil menghasud, mengadu-domba moyang kita dulu sebab perbedaan-perbedaaan berdasarkan suku, agama, ras, dan etnis. Oleh perintis kemerdekaan, seperti Soekarno, Hatta, Sjahrir, Tan Malaka, Soepomo, dan lain-lain, kemudian dirumuskan Pancasila untuk menyatukan perbedaan-perbedaan itu. Sampai kini istilah salah satu empu saat negeri ini masih bernama Nusantara tetap dijadikan pegangan. Apa itu? Bhinneka Tunggal Ika, sebuah istilah dari Bahasa Sangsakerta yang bermakna, "berbeda-beda tetapi tetap satu jua". Istilah ini kini sudah mulai bergeser dari pegangan ke slogan. Generasi kita kini hanya pandai mempidatokan di podium, mimbar-mimbar, dan kertas kerja akademik. Tapi dalam kesehariannya perbedaan-perbedaan itu tetap dijadikan alat untuk berpolemik.

Ini masih soal paradigma. Dalam hal ini, saya mengajak saudara sebangsa agar kembali berkenan untuk berpradigma sebagaimana dulu telah dirintis dan dititahkan oleh moyang-moyang kita yang lahur nan agung itu.

Kemudian, kritis. Berangkat dari paradigma sebagaimana telah saya urai di atas, maka menjadi tepat bila kita memulainya dengan kritik atas diri kita masing-masing yang selama ini telah terkondisi untuk berfikir dan bertindak sebagaimana faham-faham orang Eropa. Saat kita menyadari, mari mulailah untuk kembali mengali khazanah kenusantaraan kita dengan belajar kembali kepada para tetua yang masih hidup, dan mau membuka-mempelajari manuskrip-manuskrip warisan moyang. Kita dedah lagi kearifan-kearifan nenak moyang untuk kita kontekstualisasikan dalam kehidupan kita kini.

Supaya kritik ini bernilai transformatif, maka selain menyampaikan secara lisan tentang bagaimana bangsa nusantara dengan segala keluhurannya, juga yang tak boleh ditanggalkan adalah bagaimana kita mencontohkan. Karena inilah makna pendidikan yang hakiki perspektif moyang kita yang luhur itu. Beda dengan pendidikan perspektif Eropa yang telah mem-virus ke universitas-universitas bahkan sudah ke pesantren-pesantren, yang memaknai pendidikan hanya sekedar transformasi pengetahuan tanpa transformasi nilai (percontohan).

Hal-hal yang saya kemukakan di atas hanyalah percontohan-percontohan kecil dari sekian cara pandang kita kini yang memandang apa pun rata-rata menggunakan cara pandang orang Eropa. Termasuk cara pandang sahabat-sahabat saat meminta saya menjadi mitra diskusi dalam pelatihan formal PMII sebagaimana terulas di TOR yang disodorkan kepada saya.

Kedepan, mari kita tata pradigma dalam berfikir kritis yang transformatif dengan menomorsatukan cara pandang-cara pandang warisan nenek moyang. Cara pandang Eropa, cukup kita ketahui sebagai bahan perbandingan. Saatnya "Timur" mengkritisi "Barat" dengan gagasan yang diekspresikan secara sopan.

Allahu A'lam.
*Aktivis PMII Surabaya
Share:

Tuesday, April 12, 2016

Ketua PCNU Pamekasan Hadiri Talk Show Guru Profesional

Pamekasan - Pasti AswajaKetua Tanfidziyah Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Pamekasan terpilih periode 2016-2021, KH. Taufik Hasyim, M.Pd.I hadiri sebagai pembicara dalam Talk Show Guru Profesional yang dilaksanakan oleh Himpunan Mahasiswa Program Studi (HIMAPRODI) Tarbiyah, Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Pamekasan, Selasa (11/04/16) di Auditorium STAIN Pamekasan.

Dihubungi Pasti Aswaja setelah mengisi acara, alumni Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri, Jawa Timur tersebut menuturkan, bahwa guru profesional adalah yang menyertakan murid-muridnya saat memanjatkan doa.

"Guru profesional adalah guru yang mengerti bahwa dirinya adalah seorang guru, dan menyebut muridnya ketika dia berdoa," jelas mantan aktivis PMII Kediri tersebut.

Ketika ditanya seputar krisis profesionalisme guru dan overload output pengajar, pengasuh muda Pondok Pesantren Bustanul Ulum Sumber Anom Pamekasan tersebut menyebutkan, agar seorang guru juga harus memahami profesinya.

"Kalau upaya untuk membuat guru profesional, saya kira (mendoakan murid.red) sudh cukup, tapi lebih mengarah pada teknis itu sendiri," Ujarnya.

Hadir juga dalam acara ini, Drs. Moch Tarsun M.Si (Kepala Dinas Pendidikan Kab. Pamekasan), Apik S.Pd.I (Ketua Komisi IV DPRD Pamekasan, bidang Pendidikan), dan Afiful Hair M.Pd.I (Dosen Favorit STAIN Pamekasan). (bor/zai)
Share:

Menuju Satu Abad Indonesia : Unity in Diversity

Oleh: Mohammad Abror*

Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) merupakan negara yang majemuk, artinya di dalamnya tidak hanya terdapat suku, ras, ataupun bangsa yang beraneka ragam, tetapi juga ada enam agama yang diakui secara resmi di dalamnya. Adanya keberagaman ini, jika tidak dibarengi dengan kesadaran warga negaranya, maka NKRI akan sangat berpotensi menjadi negara yang rawan konflik. Di satu sisi, perbedaan-perbedaan itu bisa dilihat dan dinilai sebagai kekayaan bangsa, dimana para penganut agama yang berbeda-beda bisa saling menghargai dan menghormati, saling belajar satu sama lain, saling menimba, serta memperkaya dan memperkuat nilai keimanan masing-masing.

Setelah lebih dari enam dasawarsa menjadi negara persatuan, Indonesia tetap kaya akan keragaman, baik dari sisi sejarah, agama, suku, bahasa, golongan, warna kulit, hingga genetik Indonesia memiliki lebih dari 300 suku bangsa dengan karakter fisik dan budaya yang bergam, serta sekitar 700 bahasa daerah. Dalam hal agama, selain enam yang memiliki perwakilan di Kementerian Agama, yaitu Islam, Katolik, Protestan, Hindu, Budha, dan Konghucu, banyak agama maupun kepercayaan lain yang masih hidup sampai sekarang, seperti; Kaharingan yang merupakan salah satu agama asli di Kalimantan. (AIPI, Sains45 edisi konsultasi.2015:37).

Selain itu, adanya perbedaan dalam keaneka ragaman ini tidak perlu dipertentangkan, tetapi dilihat dan dijadikan sebagai pembanding, pendorong, bahkan penguat dan pemurni terhadap apa yang telah dimiliki. Warga negara yang memilik keyakinan berbeda-beda dalam menganut agama semestinya bisa hidup bersama dengan rukun dan damai selalu, bisa bersatu, saling menghargai, saling membantu, dan saling mengasihi. Dengan demikian, maka tidak akan ada konflik lintas agama yang berkepanjangan.

Namun dalam sejarah kehidupan umat beragama, perbedaan keagamaan dan keimanan sering dijadikan sebagai alasan pertentangan dan perpecahan. Di banyak tempat telah terjadi konflik berdarah dan berap-api yang menelan banyak korban manusia, harta-benda, serta menghancurkan sendi-sendi kehidupan di berbagai bidang dalam lingkungan masyarakat. Unsur-unsur keagamaan itulah yang kemudian dijadikan sebagai pemicu dan sasaran dalam konflik.

Kerukunan adalah istilah yang dipenuhi oleh muatan makna baik dan damai. Intinya, hidup bersama dalam masyarakat dengan kesatuan hati dan bersepakat untuk tidak menimbulkan perselisihan dan pertengkaran. (Depdikbud.1985:850). Bila pemaknaan itu dijadikan sebagai pedoman, maka kerukunan adalah sesuatu yang ideal dan didambakan oleh warga negara Indonesia. Akan tetapi, jika melihat realita yang ada di masyarakat, istilah kerukunan masih belum terimplementasi secara mondial, sehingga konflik yang disebabkan oleh perbedaan keyakinan kerap terjadi.

Pada hakikatnya, manusia diciptakan oleh Allah sebagai makhluk sosial. Manusia memerlukan kerja sama dengan orang lain dalam memenuhi kebutuhan hidupnya, baik kebutuhan material maupun kebutuhan spiritual. Oleh karena itu, maka membangun persaudaraan antar umat beragama sangatlah penting. Esensi dari persaudaraan terletak pada kasih sayang yang ditampilkan dalam bentuk perhatian, kepedulian, hubungan yang akrab, dan merasa senasib dan sepenanggungan.

Selain itu, keharmonisan dalam komunikasi dan interaksi sehari-hari antar sesama penganut umat beragama juga merupakan tujuan dari kerukunan beragama, agar bisa tercipta masyarakat yang bebas dari ancaman kekerasan akibat konflik agama.

Erat kaitannya dengan beberapa pemaparan di atas adalah tantangan menuju satu abad Indonesia yang akan dihadapi warga negaranya pada tahun 2045, karena melihat banyaknya aliran-aliran radikal dan faham-faham yang bermacam-macam bisa memicu perpecahan antar umat beragama, bahkan kini pertikaian antar agama maupun intra-agama, seperti kasus Islam-Kristen, Sunni-Syiah, dan Sunni-Ahmadiyah kerap terjadi. Jadi, adanya hal semacam ini sangat mengganggu konsentrasi untuk mempertahankan NKRI dari dalam.

Jika diperhatikan secara seksama, masalah yang sebenarnya terletak pada persoalan ekonomi, khususnya ketimpangan kesejahteraan dan kepentingan politik kelompok tertentu, seperti yang terjadi di Ambon, Poso, dan Sambas. Demikianlah, jika tidak dikelola dengan baik, keberagaman dapat menjadi sumber konflik dan perpecahan.

Oleh karena itu, keberbagaian agama yang ada di Indonesia harus benar-benar berada dalam kerukunan, meski sebenarnya tidak mudah untuk menjaga persatuannya. Hal ini disebabkan oleh negara lain yang menjadikan Indonesia sebagai kiblat dalam menjalin persatuan dan kesatuan, meski sebenarnya negara-negara tersebut lebih mampu dalam mengoptimalkan potensi kemajemukan mereka.

Dalam sejarah perjalanannya, persatuan negara Indonesia pernah dirongrong oleh beberapa kelompok pemberontak dan sparatis, seperti yang pernah dilakukan oleh Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII), Republik Maluku Selatan (RMS), atau Gerakan Aceh Merdeka (GAM), dan yang paling baru adalah Organisasi Papua Merdeka (OPM). Tapi, semua upaya yang mereka lakukan untuk memisahkan diri dari NKRI berakhir dengan kegagalan.

Kelompok-kelompok tersebut yang menimbulakan prediksi, bahwa setelah masa Reformasi 1998, beberapa wilayah di Indonesia akan terpecah-belah menjadi negara-negara kecil. Nyatanya, hanya provinsi Timor Timur yang memisahkan diri menjadi Timor Leste, sedangkan wilayah lain yang banyak muncul kelompok sparatis tersebut justru masih tetap menjadi bagian dari NKRI, meski sebenarnya persoalan yang ada di dalamnya belum sepenuhnya bisa dituntaskan secara maksimal.

Alhasil, sampai pada usianya yang ke 70 tahun dari hari kemerdekaan, Indonesia masih tetap menjadi negara yang kokoh dengan semangat persatuan dan kesatuan membara dari kalangan pemuda, tokoh dan bangsa Indonesia yang memang benar-benar peduli. Indonesia juga masih merupakan bangsa yang berbeda, tapi tetap satu. Hal ini tidak lepas dari adanya peran dari kelompok yang menjadikan Pancasila dan Undang-undang Dasar (UUD) 1945 sebagai pedoman menjadi warga negara yang baik. Maka dari itu, kalangan pemuda NU haruslah ambil bagian dan melestarikan kelompok tersebut. Jadi, terealisasinya semboyan Negara Indonesia, Bhinneka Tunggal Ika (Unity ini Diversity) atau berbeda-beda tapi tetap satu tersebut harus melalui kesadaran bersama.

Dengan banyak belajar dan menimba pengalaman dari keberagaman Indonesia, bisa berpotensi menjadi solusi alternatif bagi berbagai permasalahan sosial yang dihadapi oleh masyarakat. Solusi ini juga bisa menjadi penyebab eratnya ikatan sosial yang dapat membantu memulihkan hubungan antar masyarakat dan kelompok masyarakat yang mengatas namakan agama.

Akhirnya, kesadaran bagi warga Indonesia sangat memungkinkan terjadinya interaksi sosial yang lebih berwarna, membuka peluang untuk saling belajar, serta memicu inovasi dan persaingan di antara masyarakat untuk menjadi yang terbaik. Oleh karenanya, dengan memaksimalkan kesadaran tersebut akan menjadi jawaban bagi bangsa Indonesia menuju satu abad.

Jadi, adanya keberagaman di Indonesia tidaklah harus dijadikan sebagai "wahana" untuk menciptakan konfik yang berkepanjang. Keberadaannya harus dimanfaatkan untuk menimba ilmu dan pengalaman. Jika demikian, maka persaingan yang timbul pada masyarakat akan mengarah pada perubahan bangsa Indonesia menuju arah yang lebih baik.
*Kader PMII STAI Miftahul Ulum Pamekasan.
Share:

Humor Poligami

Oleh: K. Abdullah Aziz

دخل رجل على زوجته في المطبخ وسألها من أحب أولادك إليك؟
Suatu ketika sang suami nyamperin istrinya di dapur, lalu ia bertanya: "siapa di antara anak-anakmu yang paling engkau cinta?”

قالت,جميعهم، كبيرهم وصغيرهم ذكورا وإناثا.
“Semuanya. Besar, kecil, baik laki atau perempuan,” jawab sang istri.

فقال الزوج : وكيف وسع قلبك لهم جميعا
“Bagaimana engkau bisa melapangkan hatimu, untuk mencintai mereka semua?” tanya si suami, penasaran.

فأجابته : هذا من خلق الله ، فالأم يتسع قلبها لجميع أبنائها.
“Entahlah, ini terjadi atas kehendak Allah. Seorang ibu mampu membagi hatinya, untuk semua anak-anaknya," jawab sang istri.

فابتسم الزوج وقال لها : الآن قد تفهمين كيف قلب الزوج يتسع لأربعة نساء معا
Dengan tersenyum (licik tentunya), si suami menimpalinya: “sekarang, kalian, kaum wanita, mestinya faham. Bagaimana satu hati seorang suami mampu mengayomi dan membaginya di antara empat wanita bersamaan”.
Photo source: kompasiana.com
Share:

Nurleni Pardiawati, Ketua Komisariat Putri Pertama PMII BSI

Jakarta – Pasti Aswaja RTK XI PK. PMII BSI Cabang Jakarta Pusat menghasilkan sejarah baru, yaitu terpilihnya Nurleni Pardiawati sebagai Ketua Komisariat masa khidmat 2016-2017. (baca juga: RTK XI PMII Komisariat BSI Jakarta Pusat)

Dihubungi Pasti Aswaja, Leni, sapaan akrabnya mengaku sebagai Ketua Komisariat putri pertama yang memimpin PMII BSI.

"Terpilihanya saya sebagai ketua Komisariat merupakan sejarah baru untuk PMII BSI, karena merupakan kader perempuan PMII BSI pertama yang menduduki posisi ketua Komisariat," ujarnya.

Perempuan yang pada kepengurusan sebelumnya menjabat sebagai ketua KOPRI (Korp PMII  Puteri) BSI tersebut mengharap agar bisa  membawa amanah  perjuangan organisasi, membawa perubahan dan kemajuan untuk PMII BSI ke depan.

"Sebagaimana tema pada RTK kali ini, saya bertekad untuk menciptakan PMII BSI yang berkepribadian religius, sehingga diharapkan kader-kader PMII bisa mengamalkan nilai-nilai islam Ahlussunnah Wal Jama'ah," pungkasnya. (bor/ahn)
Share:

RTK XI PMII Komisariat BSI Jakarta Pusat

Jakarta - Pasti AswajaPengurus Komisariat Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia Bina Sarana Informatika (PK. PMII BSI) Cabang Jakarta Pusat masa khidmat 2015-2016 menggelar Rapat Tahunan Komisariat (RTK) ke-XI (baca; sebelas), Senin (11/04/16) di gedung sekretariat Ikatan Keluarga Alumni PMII (IKA PMII) DKI Jakarta, Cipinang, Jakarta Timur.

Acara yang dimulai jam 13.00 WIB tersebut mengambil tema “Membentuk Intelektual Muda Yang Religius Berkarakter dan Berjiwa Pemimpin”, dan dibuka langsung oleh Sahabat Jaenuddin, perwakilan Pengurus Cabang (PC) PMII Jakarta Pusat.

Setelah melalui proses persidangan yang cukup alot, akhirnya dua kandidat terpilih sebagai calon ketua komisariat, yaitu Sahabati Nurleni Pardiawati dan Sahabat Adit.

"Dua kandidat terpilih saling beradu visi-misi berkompetisi untuk menempati posisi sebagi ketua komisariat masa khidmat 2016-2017," ujar Leni, salah satu panitia pelaksana kepada Pasti Aswaja.

Setelah penyampaian visi-misi, dilangsungkan pemilihan yang menghasilkan terpilihnya Nurleni Pardiawati sebagai ketua komisariat PMII BSI masa khidmat 2016-2017 dengan memperoleh dukungan sebanyak lima suara, unggul satu suara dari kandidat lainnya.

Acara yang dihadiri oleh jajaran alumni PMII BSI, Ketua Komisariat PMII se-Jakarta Pusat, dan segenap jajaran PC. PMII Jakarta Pusat tersebut ditutup tepat jam 21.30 WIB oleh Rico Kiat Sanjaya, Ketua Umum PC. PMII Jakarta Pusat. (bor/zai)
Share:

Monday, April 11, 2016

Nikah Itu Santai, Vroh

Pasti AswajaSetelah selesai menjelaskan materi saat ngaji kitab Jurumiyah, ustadz ingin mencoba kemampuan murid-muridnya men-tarkib sebuah kalimat.

"Anak-anak coba tarkib kalimat ﺍﻟﻨﻜﺎﺡ ﺳﻨﺘﻲ sesuai materi kita hari ini dan sekalian jelaskan maksudnya." Ustadz Ali memulai diskusi.

Saat terlihat masing-masing santri sibuk men-tarkib kalimat tersebut, ustadz berjalan menuju arah mereka.

"Coba Yusuf yang menjelaskan pertama." Pinta ustadz saat berdiri di samping Yusuf.

"Kalimat ﺍﻟﻨﻜﺎﺡ ﺳﻨﺘﻲ merupakan susunan Mubtada-Khobar. An-nikahu: utawi nikah, iku sunnaty: sunnah ingsun Kanjeng Nabi. Lafadz ﺍﻟﻨﻜﺎﺡ sebagai mubtada dan ﺳﻨﺘﻲ sebagai khobar-nya. Yang mempunyai arti, nikah adalah sunnahku, yaitu sunnah Rasulullah. Maksudnya, barang siapa menjalankan pernikahan berarti dia mengamalkan sunnah Nabi." Yusuf menjelaskan dengan gamblang di depan kelas.

"Sekarang coba giliran Amad yang menerangkan!" Suruh sang ustadz.

Sambil maju ke depan kelas menuju papan tulis, Amad mecoba menerangkan semampunya.

"An-nikahu utawi nikah, iku santai, ora kesusu. Lafadz ﺍﻟﻨﻜﺎﺡ dadi mubtada lan lafadz ﺳﻨﺘﻲ dadi khobar. Maksude menikah iku ojo cepet-cepet lan grasa-grusu, santai wae! Soale perkoro sing grasa-grusu iku ajarane setan lan setan iku musuhe menungso."

Mendengar penjelasan dan gaya bicara Amad, hampir siisi kelas tertawa gaduh,tak terkecuali ustadz Ali pun terlihat ikut menahan tawanya. Amad yang merasa telah menerangkan dengan benar pun jadi bingung dibuatnya.

"Salah geh Ustadz?" Amad bertanya kebingungan.

Melihat kegaduhan para santri, Ustadz Ali mencoba menenangkan dan kembali ke tempat duduknya. Karena waktu ngaji hampir habis, dia menyimpulkan penjelasan dari Yusuf dan Amad.

"Sudah anak-anak, penjelasan tarkib dari Yusuf dan Amad semuanya benar yaitu susunan mubtada khobar. Bedanya cuma cara membaca khobar, Yusuf bacanya 'sunnaty', Amad membacanya 'santai'.

Sebenarnya semuanya benar, cuma penjelasan dari Amad kurang tepat sedikit saja. Jika pernikahan adalah santai, itu maksudnya pasangan yang sudah menjalankan nikah, maka kehidupan mereka berdua akan menjadi lebih santai dan tenang, tidak galau dan bingung mencari dan memilih calon pasangan. Kalau dimaknai santai itu maksudnya sakinah tenang."

Sebelum selesai menjelaskan, Amad mengangkat jarinya dan langsung bertanya pada ustadnya.

"Ustadz, berarti orang-orang yang masih jomblo belum nikah belum pada tenang yah? termasuk ustadz? Kan ustadz belum nikah." tanya Amad dengan polosnya.

Tanpa pikir panjang, ustadz Ali langsung menjawabnya, "Loh kan kata Amad nikah itu santai, jadi saya gak kesusu pengin cepet-cepet nikah toh..."

"Oooooooo....." jawab seluruh santri sambil ketawa saat melihat wajah ustadznya berubah jadi merah.
Dikutip dari fiqhmenjawab.blogspot.com
Share:

Santri Kena Tilang

Pasti Aswaja – Kejadian ini kerap terjadi di Indonesia, di mana ada seorang pengemudi kendaraan bermotor yang diberhentikan oleh petugas (oknum) Polisi yang dianggap telah melanggar peraturan lalu lintas.

Berikut ini adalah kisah iseng seorang santri yang sedang di tindak oleh (oknum) Polisi; sekedar hiburan saja ya.

Pada suatu hari seorang Santri mendapat tugas dari Abah Yai sang pengasuh Ponpes. Ia kemudian berkendara dengan sepeda motor. Pas di tengah jalan ternyata ada operasi razia (gadungan) Satlantas...!!

POLISI: "priiiit...!! Maaf, ke pinggir, mas...!!"

SANTRI: "iyaa, pak."

POLISI: "maaf, coba tunjukkan STNK dan SIM!"

SANTRI: "maaf, pak.. STNK saya ketinggalan di Pondok, SIM saya nggak punya. Kalau kartu santri ada, pak."

POLISI: "yaa sudah, berarti anda saya tilang...!!"

SANTRI: "maaf pak, ini motor Abah Yai, pak. Damai aja ya, pak."

POLISI: "yaa sudah ada uang berapa?"

SANTRI: "pak saya nggak punya uang. Gimana kalau yang lain aja, pak?"

POLISI: "yaa sudah. Saya minta rokok kretek. Tiga bungkus yaa."

SANTRI: "siap, pak. Saya beli dulu ke warung seberang ya, pak."

Sang santripun pergi ke warung, motornya dijagain Polisi.

Percakapan di warung

SANTRI: "mas, maaf. Minta rokok kretek tiga bungkus, mas."

WARUNG: "ini, mas." Penjaga warung menyodorkan tiga bungkus rokok kretek.

SANTRI: "terima kasih, mas. Uangnya sama pak Polisi yang itu ya, mas." Santri menunjuk pak Polisi di seberang jalan.

WARUN: "aahh... Kamu bohong yaa...???"

SANTRI: "masa bohong sih, mas...?!"

Lalu si santri teriak sambil memperlihatkan rokok ke Polisi.

SANTRI: "paaaak, rokok ini yaa...?"

POLISI: "iyaaaa...!!"

WARUNG: "oh... Yaa sudah. Polisi itu memang sering ngopi disini."

Terus sang santri kembali ke motornya dan menyerahkan tiga bungkus rokok ke pak Polisi.

POLISI: "yaa... Mkasih ya."

SANTRI: "sama-sama, pak."

Santri pergi naik motor sambil membatin, "sekali-kali 'cicak' boleh dong isengin 'buaya".

Karena terjepit situasi, terpaksa deh sang santri berbohong. Padahal Dilarang Agama.

Adegan ini jangan di tiru yaa...!!! Kalau nekat, tanggung sendiri resikonya...!! Hehehe..
source: http://liputan75.blogspot.com
Share:

KH. Maemoen Zubair; "Uang Mahar Nikah itu Berkah"

Pasti Aswaja - Nasehat Mbah Kyai Maemoen Zubair buat cowok-cowok yang masih jomblo dan hendak nikah: 
"Nak, kamu kalo nikah usahakan mahar istrimu yang banyak, walaupun calon istrimu cuman minta mahar seperangkat sholat, jika nggak punya uang kalo bisa ya nyari-nyari dulu, karena uang mahar itu berkah jika dipakai usaha, jadi nanti setelah nikah kamu minta izin istri jika uang itu dipakai modal usahamu. Insya Allah nanti usaha kamu berkah."

Rasulullah SAW memberikan mahar senilai 500 dirham kepada Aisyah. Setara dengan 50 dinar atau 200 gram emas atau sekitar 100 juta rupiah. Pada zaman itu 1 dinar setara 10 dirham. Pada saat itu harga seekor kambing hanya 5-10 dirham, jadi maharnya cukup untuk membeli 50-100 ekor kambing.

Aisyah berkata,”Mahar Rasulullah kepada para isteri beliau adalah 12 Uqiyah dan satu nasy”. Aisyah berkata,”Tahukah engkau apakah nash itu?”. Abdur Rahman berkata,”Tidak”. Aisyah berkata,”Setengah Uqiyah”. Jadi semuanya 500 dirham. Inilah mahar Rasulullah kepada para isteri beliau. (HR. Muslim)

Saat menikah dengan Khadijah ra. diriwayatkan bahwa Rasulullah memberi mahar 20 ekor unta (nilainya setara 400-an juta rupiah). Sedangkan saat menikahi Hindun (Ummu Habibah radhiyallahu’anha) diriwayatkan bahwa Rasulullah memberikan mahar 4000 dirham (setara 800 juta rupiah),. 

Saat menikahi Shafiyah radhiyallahu’anha maharnya berupa pembebasan dirinya dari perbudakan, meski tidak berwujud harta namun nilainya bisa ratusan juta sampai milyaran rupiah (yaitu biaya normal penebusan budak agar merdeka).

Dikutip dari FP umdah.co
Share:

Pemuda Tionghoa Ucap Kalimat Syahadat di Hadapan Pengasuh Banyuanyar.

Pamekasan – Pasti Aswaja Banyak beredar di jejaring sosial Facebook foto RKH. Syamsul Arifin sedang duduk bersama dua orang pemuda. Berdasarkan caption pada foto tersebut, di antara pemuda dalam gambar itu adalah Lie Julian Stefanus. Pemuda Tionghoa yang diberi hidayah oleh Allah untuk memeluk Islam, Minggu (10/04/2016).

Dia menyatakan diri memeluk agama Islam di hadapan Pengasuh dan Dewan Pengasuh PP. Darul Ulum Banyuanyar, Palengaan, Pamekasan, Madura dan disaksikan oleh ribuan santri yang memadati masjid Banyuanyar sebagai tempat ikrarnya.

Setelah mengucap dua kalimat syahadat, diapun kemudian diberi nama Muhammad Nurul Huda sebagai tanda telah memeluk agama Islam. (bor/ahn)
Share:

Sunday, April 10, 2016

Ketua STAI-MU: "KH. Said Aqil Siradj Bukan Ahlussunah"

Pamekasan - Pasti Aswaja - Sekolah Tinggi Agama Islam Miftahul Ulum (STAI-MU) Pamekasan gelar bedah buku "Sidogiri Menolak Pemikiran KH. Said Aqil Siradj" dengan mendatangkan langsung penulis dari Pondok Pesantren Miftahul Ulum (PPMU) Sidogiri, Qusyairi Ismail, Sabtu (09/04/16) di auditorium BMT Mawaddah (PPMU) Panyeppen lantai II.

Selain itu, hadir Moh. Achyat Achmad, staf pengajar PPMU Sidogiri sebagai pembedah mendampingi Qusyairi Ismail, serta Chabib Musthofa dan Mashuri, keduanya dosen di UIN Sunan Ampel Surabaya sebagai pembanding.

Ada yang menjadikan suasana forum menjadi alot saat sesi tanya jawab, yaitu adanya pernyataan dari Ketua STAI-MU, Drs.H. M. Noer Hidayat, M.Si

"Sampai sekarang, KH. Said Aqil itu tidak asli Ahlussunnah," Jelas Ketua STAI-MU, seperti yang diceritakan oleh Syaifullah Y, mantan Presiden Mahasiswa STAI-MU yang kebetulan hadir dalam acara tersebut kepada Pasti Aswaja.

Ipunk, sapaan akrabnya menjelaskan, bahwa ketua STAI-MU tidak pantas mengeluarkan pernyataan tersebut, apalagi di dalam forum terdapat banyak mahasiswa.

"Pak Nor itu tidak pantas melontarkan pernyataannya di hadapan peserta yang mayoritas mahasiswa. Selain itu juga ada banyak kiyai, asatidz dan santri. Harusnya beliau bisa menunjukkan diri sebagai ketua," Ujarnya.

Sekedar untuk diketahui, saat pernyataan itu dilontarkan, sempat terjadi perdebatan yang sengit antara Ketua STAI MU dan moderator, yang tak lain adalah Pembantu Ketua II. (bor/zai)
Share:

Home Style

Contact Form

Name

Email *

Message *

Ads

Ads

Latest News

Popular Posts

Blog Archive