Category 1

Theme Support

Menuju Satu Abad Indonesia : Unity in Diversity

Oleh: Mohammad Abror*

Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) merupakan negara yang majemuk, artinya di dalamnya tidak hanya terdapat suku, ras, ataupun bangsa yang beraneka ragam, tetapi juga ada enam agama yang diakui secara resmi di dalamnya. Adanya keberagaman ini, jika tidak dibarengi dengan kesadaran warga negaranya, maka NKRI akan sangat berpotensi menjadi negara yang rawan konflik. Di satu sisi, perbedaan-perbedaan itu bisa dilihat dan dinilai sebagai kekayaan bangsa, dimana para penganut agama yang berbeda-beda bisa saling menghargai dan menghormati, saling belajar satu sama lain, saling menimba, serta memperkaya dan memperkuat nilai keimanan masing-masing.

Setelah lebih dari enam dasawarsa menjadi negara persatuan, Indonesia tetap kaya akan keragaman, baik dari sisi sejarah, agama, suku, bahasa, golongan, warna kulit, hingga genetik Indonesia memiliki lebih dari 300 suku bangsa dengan karakter fisik dan budaya yang bergam, serta sekitar 700 bahasa daerah. Dalam hal agama, selain enam yang memiliki perwakilan di Kementerian Agama, yaitu Islam, Katolik, Protestan, Hindu, Budha, dan Konghucu, banyak agama maupun kepercayaan lain yang masih hidup sampai sekarang, seperti; Kaharingan yang merupakan salah satu agama asli di Kalimantan. (AIPI, Sains45 edisi konsultasi.2015:37).

Selain itu, adanya perbedaan dalam keaneka ragaman ini tidak perlu dipertentangkan, tetapi dilihat dan dijadikan sebagai pembanding, pendorong, bahkan penguat dan pemurni terhadap apa yang telah dimiliki. Warga negara yang memilik keyakinan berbeda-beda dalam menganut agama semestinya bisa hidup bersama dengan rukun dan damai selalu, bisa bersatu, saling menghargai, saling membantu, dan saling mengasihi. Dengan demikian, maka tidak akan ada konflik lintas agama yang berkepanjangan.

Namun dalam sejarah kehidupan umat beragama, perbedaan keagamaan dan keimanan sering dijadikan sebagai alasan pertentangan dan perpecahan. Di banyak tempat telah terjadi konflik berdarah dan berap-api yang menelan banyak korban manusia, harta-benda, serta menghancurkan sendi-sendi kehidupan di berbagai bidang dalam lingkungan masyarakat. Unsur-unsur keagamaan itulah yang kemudian dijadikan sebagai pemicu dan sasaran dalam konflik.

Kerukunan adalah istilah yang dipenuhi oleh muatan makna baik dan damai. Intinya, hidup bersama dalam masyarakat dengan kesatuan hati dan bersepakat untuk tidak menimbulkan perselisihan dan pertengkaran. (Depdikbud.1985:850). Bila pemaknaan itu dijadikan sebagai pedoman, maka kerukunan adalah sesuatu yang ideal dan didambakan oleh warga negara Indonesia. Akan tetapi, jika melihat realita yang ada di masyarakat, istilah kerukunan masih belum terimplementasi secara mondial, sehingga konflik yang disebabkan oleh perbedaan keyakinan kerap terjadi.

Pada hakikatnya, manusia diciptakan oleh Allah sebagai makhluk sosial. Manusia memerlukan kerja sama dengan orang lain dalam memenuhi kebutuhan hidupnya, baik kebutuhan material maupun kebutuhan spiritual. Oleh karena itu, maka membangun persaudaraan antar umat beragama sangatlah penting. Esensi dari persaudaraan terletak pada kasih sayang yang ditampilkan dalam bentuk perhatian, kepedulian, hubungan yang akrab, dan merasa senasib dan sepenanggungan.

Selain itu, keharmonisan dalam komunikasi dan interaksi sehari-hari antar sesama penganut umat beragama juga merupakan tujuan dari kerukunan beragama, agar bisa tercipta masyarakat yang bebas dari ancaman kekerasan akibat konflik agama.

Erat kaitannya dengan beberapa pemaparan di atas adalah tantangan menuju satu abad Indonesia yang akan dihadapi warga negaranya pada tahun 2045, karena melihat banyaknya aliran-aliran radikal dan faham-faham yang bermacam-macam bisa memicu perpecahan antar umat beragama, bahkan kini pertikaian antar agama maupun intra-agama, seperti kasus Islam-Kristen, Sunni-Syiah, dan Sunni-Ahmadiyah kerap terjadi. Jadi, adanya hal semacam ini sangat mengganggu konsentrasi untuk mempertahankan NKRI dari dalam.

Jika diperhatikan secara seksama, masalah yang sebenarnya terletak pada persoalan ekonomi, khususnya ketimpangan kesejahteraan dan kepentingan politik kelompok tertentu, seperti yang terjadi di Ambon, Poso, dan Sambas. Demikianlah, jika tidak dikelola dengan baik, keberagaman dapat menjadi sumber konflik dan perpecahan.

Oleh karena itu, keberbagaian agama yang ada di Indonesia harus benar-benar berada dalam kerukunan, meski sebenarnya tidak mudah untuk menjaga persatuannya. Hal ini disebabkan oleh negara lain yang menjadikan Indonesia sebagai kiblat dalam menjalin persatuan dan kesatuan, meski sebenarnya negara-negara tersebut lebih mampu dalam mengoptimalkan potensi kemajemukan mereka.

Dalam sejarah perjalanannya, persatuan negara Indonesia pernah dirongrong oleh beberapa kelompok pemberontak dan sparatis, seperti yang pernah dilakukan oleh Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII), Republik Maluku Selatan (RMS), atau Gerakan Aceh Merdeka (GAM), dan yang paling baru adalah Organisasi Papua Merdeka (OPM). Tapi, semua upaya yang mereka lakukan untuk memisahkan diri dari NKRI berakhir dengan kegagalan.

Kelompok-kelompok tersebut yang menimbulakan prediksi, bahwa setelah masa Reformasi 1998, beberapa wilayah di Indonesia akan terpecah-belah menjadi negara-negara kecil. Nyatanya, hanya provinsi Timor Timur yang memisahkan diri menjadi Timor Leste, sedangkan wilayah lain yang banyak muncul kelompok sparatis tersebut justru masih tetap menjadi bagian dari NKRI, meski sebenarnya persoalan yang ada di dalamnya belum sepenuhnya bisa dituntaskan secara maksimal.

Alhasil, sampai pada usianya yang ke 70 tahun dari hari kemerdekaan, Indonesia masih tetap menjadi negara yang kokoh dengan semangat persatuan dan kesatuan membara dari kalangan pemuda, tokoh dan bangsa Indonesia yang memang benar-benar peduli. Indonesia juga masih merupakan bangsa yang berbeda, tapi tetap satu. Hal ini tidak lepas dari adanya peran dari kelompok yang menjadikan Pancasila dan Undang-undang Dasar (UUD) 1945 sebagai pedoman menjadi warga negara yang baik. Maka dari itu, kalangan pemuda NU haruslah ambil bagian dan melestarikan kelompok tersebut. Jadi, terealisasinya semboyan Negara Indonesia, Bhinneka Tunggal Ika (Unity ini Diversity) atau berbeda-beda tapi tetap satu tersebut harus melalui kesadaran bersama.

Dengan banyak belajar dan menimba pengalaman dari keberagaman Indonesia, bisa berpotensi menjadi solusi alternatif bagi berbagai permasalahan sosial yang dihadapi oleh masyarakat. Solusi ini juga bisa menjadi penyebab eratnya ikatan sosial yang dapat membantu memulihkan hubungan antar masyarakat dan kelompok masyarakat yang mengatas namakan agama.

Akhirnya, kesadaran bagi warga Indonesia sangat memungkinkan terjadinya interaksi sosial yang lebih berwarna, membuka peluang untuk saling belajar, serta memicu inovasi dan persaingan di antara masyarakat untuk menjadi yang terbaik. Oleh karenanya, dengan memaksimalkan kesadaran tersebut akan menjadi jawaban bagi bangsa Indonesia menuju satu abad.

Jadi, adanya keberagaman di Indonesia tidaklah harus dijadikan sebagai "wahana" untuk menciptakan konfik yang berkepanjang. Keberadaannya harus dimanfaatkan untuk menimba ilmu dan pengalaman. Jika demikian, maka persaingan yang timbul pada masyarakat akan mengarah pada perubahan bangsa Indonesia menuju arah yang lebih baik.
*Kader PMII STAI Miftahul Ulum Pamekasan.

0 Response to "Menuju Satu Abad Indonesia : Unity in Diversity"

Post a Comment

wdcfawqafwef