Category 1

Theme Support

Perlunya Fenomena Analisis bagi Nahdliyin

Oleh: Mohammad Abror*

Pasti Aswaja – Belakangan ini banyak saya temukan Sahabat-sahabat di Time Line Facebook yang membagikan kiriman dari situs dan FP (Fans Page) yang didesain Islami, tapi nyatanya menebar kebencian, berprasangka buruk, dan menfonis salah terhadap orang lain.

Beberapa waktu yang lalu saya coba membandingkan member FP di Facebook antara situs Islam Ahlussunnah Wal Jamaah an-Nahdliyah dengan situs Islam yang hanya berlabel Ahlussunnah Wal Jamaah saja. Hasilnya benar-benar menyakitkan bagi saya pribadi.

NU Online, yang merupakan situs resmi Nahdlatul Ulama (NU) hanya memiliki member sebanyak 104.433. Hal ini berbanding terbalik dengan situs gerakan Islam Transnasional yang memiliki member sampai satu juta lebih.

Kalau diperhatikan lebih dalam lagi, propaganda konflik Sunni-Syiah yang disebarkan oleh satu kelompok (tidak perlu saya sebutkan, karena sudah jelas) melalui media dan informasi bisa dibilang sukses, hal ini terlihat dari semakin banyaknya Nahdliyin yang benci terhadap NU sendiri, terlebih Syiah secara umum.

Ironis memang, ketika situs-situs yang menprofokasi untuk membenci NU justru lebih dipercaya oleh Nahdliyin, dibandingkan dengan situs-situs yang memang benar-benar sesuai dengan visi dan misi NU. Ini menunjukkan adanya kekuatan luar biasa dibalik keberhasilan situs profokatif tersebut yang belum dikuasai oleh Nahdliyin.

Salah satu dosen Universitas Brawijaya, Malang, Fadillah Putra, dalam satu kesempatan forum yang pernah saya ikuti menyebutkan tentang kekalahan NU dalam perang media. Menurutnya, hal ini tidak lepas dari doktrinasi agama di dalam tubuh NU itu sendiri, sehingga saat melihat orang lain yang lebih memahami agama berdasarkan Fenomena Analisis dianggapnya keliru. Dia juga menilai, pengaruh finansial juga menjadi salah satu penyebab kekalah NU dalam menghadapi perang media saat ini.

Hal ini bisa dijadikan pelajaran bagi warga Nahdliyin, betapa pentingnya memahami agama berdasarkan fenomena analisis untuk terus melestarikan Islam yang damai, santun, dan Rahmatan lil 'Alamin, serta bisa keluar dari proxy war (perang boneka) yang memanfaatkan konflik timur tengah untuk dibawa ke bumi Nusantara.

Diakhir tulisan ini, sedikit saya kutip pernyataan dari KH. Nawawi Abd. Jalil, Pengasuh Pondok Pesantren Sidogiri: "Lebih baik berhusnudzon sekalipun salah, daripada bersuudzon sekalipun benar".

Semoga tulisan singkat ini bisa memberikan sedikit injeksi kepada pengguna media sosial untuk lebih berhati-hati dalam membaca, menganalisa, dan mengunjungi situs-situs yang hanya berlabel Islam Ahlussunnah Wal Jamaah.
*Kader PMII STAI-MU Pamekasan & Redaktur Pelaksana Pasti Aswaja.

0 Response to "Perlunya Fenomena Analisis bagi Nahdliyin"

Post a Comment

wdcfawqafwef