• This is default featured slide 1 title

    Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

  • This is default featured slide 2 title

    Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

  • This is default featured slide 3 title

    Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

  • This is default featured slide 4 title

    Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

  • This is default featured slide 5 title

    Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Sunday, May 29, 2016

Panyeppen Juara I, Bata-Bata juara II dan III Lomba Baca Kitab Kuning se-Madura

Pamekasan – Pasti Aswaja Pondok Pesantren Miftahul Ulum (PPMU) Panyeppen, Palengaan, Pamekasan, Madura sukses meraih juara I lomba baca kitab kuning se-Madura yang digelar oleh Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Islam Madura (UIM) Pamekasan, Minggu (29/05/16).

Acara yang digelar dalam rangka memperingati Isra' Mi'raj Nabi Muhammad SAW itu diikuti oleh Lembaga Pendidikan Islam (LPI) dan Pesantren se-Madura dan dibuka langsung oleh Ahmad Asir, Rektor kampus berlatar belakang NU tersebut.

Sementara itu, Pondok Pesantren Mambaul Ulum Bata-Bata sukses meraih dua juara sekaligus, yaitu II dan III. Adapun juara IV diraih oleh Forum Santri Palengaan.

Acara yang digelar di aula UIM Pamekasan tersebut merupakan langkah tepat untuk meningkatkan minat santri, terlebih yang berstatus mahasiswa dalam mengembangkan potensinya. Hal ini diakui Abdul Majid, pendamping peserta dari PPMU Panyeppen.

"Ini sangat membantu dalam meningkatkan motivasi santri untuk terus bergemelut dengan budaya membaca yang akhir-akhir ini sudah mulai ditinggalkan," ujarnya kepada Pasti Aswaja

Untuk diketahui, PPMU Panyeppen merupakan pesantren asuhan Wakil Rois Syuriah Pengurus Wilayah (PW) NU Jawa Timur, KH. Muddatstsir Badruddin. (bor/ahn)
Share:

Menghina Lambang Negara, Pendukung ISIS Bikin Netizen Geram

Pasti Aswaja Sebuah akun facebook bernama Abuaisyah Mengko membuat geram para netizen, pasalnya akun pendukung kelompok teroris Islamic State of Iraq and Syria (ISIS) ini mengunggah foto yang menghina lambang negara Garuda Pancasila, Jumat (27/05/16).

Dalam foto itu terlihat kaki sedang menginjak lambang negara Indonesia Garuda Pancasila dengan caption "Maka matilah kalian demi thoghut berhala burung garuda kalian".

Sontak saja, foto yang diunggah pada field komentar postingan akun Auliya Ahsan di grup GUS DUR MANIA itu menuai kecaman dari para netizen anggota grup.

"Mengingkari pancasila = mengingkari nilai islam..itulah syetan yg nyata musuh manusia," komentar akun Opick Valentino.

"Lahir di indonesia,,makan di indonesia,,,,ko ga cinta,,NKRI,,,,siapakah,,,Dia,,,,,,," tulis akun Helmi Sajiwo. "Tolong cari infonya,,mas bro,,,yg nmya Abuaisyah Mengko,,,itu akunya,,masbro,,slm NKRI,," lanjut Helmi Sajiwo.

Foto yang diunggah Abuaisyah Mengko itu untuk mengomentari foto Auliya Ahsan yang berisi tentang kesesuaian antara Pancasila dan Al-Quran dengan caption "OJO DiBantahi Maneh Yo... NKRI Harga MATI. #Menolak KHILAFAH". (ahn)
Share:

Saturday, May 28, 2016

Arbiya: 'Terima Kasih PCNU Pamekasan'

Pamekasan – Pasti Aswaja Luapan rasa bahagia terlihat jelas dari raut muka Arbiyah, warga Desa Pamoroh, Kadur, Pamekasan, sesaat setelah keluar dari ruang instalasi bedah sentral RSUD Slamet Martodirdjo Pamekasan, Sabtu (28/05/16).

Perempuan usia 70 tahun tersebut merupakan salah satu dari warga NU Pamekasan yang mengikuti Operas Katarak Gratis yang dilaksanakan oleh PCNU Pamekasan ( baca juga : Harlah NU ke-93, PCNU Pamekasan Gelar BAKSOS Operasi Katarak Gratis)

Senang: Arbiya tampak tersenyum lebar setelah melewati proses operasi katarak gratis yang digelar PCNU Pamekasan.
"Senang sekali NU mengadakan acara seperti ini, saya sampai tidak tahu bagaimana caranya harus berterimakasih," ujarnya penuh bahagia.

Dengan didampingi anak dan menantunya, Arbiya mengungkapkan keinginannya untuk bertemu dengan KH. Taufiq Hasyim, Ketua PCNU Pamekasan, dan mengucapkan terima kasih di hadapannya.

"Sayangnya beliau (ketua PCNU Pamekasan.red) tidak ada, karena saya ingin sekali berterimakasih secara langsung," tangkasnya penuh harap.

Sekedar diketahui, Ketua Tanfidziyah PCNU Pamekasan tidak mendampingi operasi katarak gratis, dikarenakana menghadiri agenda lain di luar kota. (bor/fid/ahn)
Share:

Harlah NU ke-93, PCNU Pamekasan Gelar BAKSOS Operasi Katarak Gratis

Pamekasan – Pasti Aswaja Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Pamekasan gelar Bakti Sosial (BAKSOS) operasi katarak gratis dalam rangka memperingati Hari Lahir (Harlah) NU yang ke 93, Sabtu pagi (28/05/16) di RSUD Slamet Martodirdjo Pamekasan.

Rangkaian kegiatan diawali dengan pembukaan di kantor PCNU Jl. R. Abd. Aziz Pamekasan yang dihadiri oleh beberapa Rois Syuriah dan Tanfidziyah PCNU Pamekasan, serta perwakilan dari Bupati Pamekasan dan DPRD kab. Pamekasan.

Menurut data yang didapat Pasti Aswaja dari panitia pelaksana, operasi katarak gratis ini diikuti oleh 122 orang Nahdliyin se- Kabupaten Pamekasan.

Berdasarkan keterangan tim pendamping, bagi yang sudah dioperasi akan dilaksanakan pemeriksaan kembali oleh tim medis, Minggu (29/05/16) di Universitas Islam Madura (UIM) Pamekasan.

Sampai berita ini diturunkan, sebanyak 75 orang sudah selesai menjalani operasi. (bor/ahn)
Share:

Thursday, May 26, 2016

Besok, Rashdul Qiblat

Jakarta - Pasti Aswaja - Berdasarkan data hisab Lembaga Falakiyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Jumat (27/5) besok matahari melintas persis di atas Ka’bah di Makkah, Arab Saudi. Akibatnya, bayangan semua benda lurus yang berdiri tegak menuju ke arah kiblat.

Peristiwa yang kerap disebut istiwa’ a’dham atau rashdul qiblat ini merupakan kesempatan bagi umat Islam untuk mengetahui arah kiblat secara akurat dengan hanya berdasarkan bayangan yang dihasilkan oleh sinar matahari.

Almanak Lembaga Falakiyah PBNU mencatat, matahari berada tepat di atas Ka’bah pada pukul 16.18 WIB atau bersamaan dengan waktu dzuhur untuk wilayah Makkah. Peristiwa ini hanya terjadi dua kali dalam setahun. Untuk tahun 2016, rashdul qiblat juga berlangsung pada 15 Juli 2016, pukul 16.27 WIB.

Saat rashdul qiblat berlangsung, umat Islam dapat mengamati bayangan dari matahari dengan masa toleransi kira-kira dua menit. Di Indonesia, karena terjadi pada sore hari maka arah bayangan menuju ke timur. Arah kiblat adalah garis yang ditarik dari ujung bayangan ke pangkal benda (ke arah barat sedikit serong ke utara).
Lembaga Falakiyah PBNU pernah menjelaskan, secara geografis/astronomis, kota Mekkah terletak di 39 49’34” LU dan 21 25’21” BT. Dari Indonesia, koordinat ini berada pada arah barat laut dengan derajat bervariasi antara 21 -27 menurut koordinat (garis lintang dan garis bujur) masing-masing daerah.

Arah kiblat Indonesia bukanlah ke barat. Jika ke barat maka semua wilayah Indonesia yang terletak di 34 7’ LU dan seterusnya (ke utara), seperti Aceh, akan lurus dengan Negara Ethiopia atau melenceng ke selatan sejauh 1750 km dari Mekkah. Begitu juga yang terletak di 4 39’ LS sampai 3 47’ LU, menghadap barat berarti lurus dengan Negara Kenya.

Source: NU Online
Share:

Wednesday, May 25, 2016

Ma'had Tibyan li Al-Shibyan: 7 Tahun Mahir Baca Kitab Kuning

Pamekasan – Pasti Aswaja – Pondok Pesantren Miftahul Ulum (PPMU) Panyeppen, Palengaan, Pamekasan menggelar Haflatul Ikhtibar dalam rangka Wisuda 2 Ma'had Tibyan li Al-Shibyan, Rabu pagi (25/06/16).

Wisuda ini merupakan pengukuhan bagi 42 orang peserta didik yang telah menyelesaikan studinya melalui metode cepat baca kitab kuning Al-Miftah lil Ulum yang disusun oleh Pondok Pesantren Sidogiri, Kraton, Sidogiri.

Dalam menyelesaikan studinya, anak-anak tersebut berbeda satu sama lain: ada yang hanya ditempuh 10 bulan bahkan ada yang sampai satu tahun.

Sebelum anak-anak usia 7 – 15 tahun itu dikukuhkan, panitia mempersilahkan para undangan dan hadirin untuk menguji kemampuan baca kitab kuning anak-anak tersebut. Saat seorang undangan menguji kemampuan membaca kitab kuning calon wisudawan yang masih berusia 7 tahun, ada salah seorang undangan perempuan yang meneteskan air mata, "saya terharu, mas." Akunya saat ditanyakan oleh Pasti Aswaja.

Dalam memberikan sambutan, Ketua Umum Yayasan Al-Miftah PPMU Panyeppen, KH. Muhdlar Abdullah, SH, MM., menyampaikan pentingnya memasukkan anak-anak ke pondok pesantren.

"Kita sama-sama tahu kondisi negeri ini. Kerusakan di mana-mana, dan itu sangat mempengaruhi kehidupan anak bapak dan ibu. Pilihan emas satu-satunya adalah pondok pesantren," kata Abah Muhdlar, sapaan akrab KH. Muhdlar, sebelum menutup sambutannya.

Untuk memberikan tausyiah, panitia mempercayakan kepada pengasuh PPMU Panyeppen yang sekarang sedang menjabat sebagai Wakil Rais Syuriah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur. (ahn/zai)
Share:

Sunday, May 22, 2016

Pendaftaran Ditutup, Berikut Nama Bakal Calon Ketum PMII Sumenep

Sumenep – Pasti Aswaja Sejak dibuka mulai Senin (17/05/16) hingga ditutup Sabtu (21/05/16) jam 23:59 WIB sudah ada 4 orang pendaftar sebagai bakal calon ketua umum (Ketum) Pengurus Cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PC PMII) Sumenep periode 2016–2017, "semua berkas (persyaratan) calon sudah dimasukkan ke panitia," tutur ketua panitia Konferensi Cabang (KONFERCAB) PC PMII Sumenep, Hazmi, Minggu (22/0616) kepada Pasti Aswaja.

Proses pendaftaran Bakal Calon Ketua Umum PC PMII Sunenep
Hazmi melanjutkan, berkas-berkas itu akan diverifikasi mulai hari ini, Minggu (22/05/16) sampai hari Selasa (24/05/16), "baru setelah itu pengambilan nomer urut yang akan dilaksanakan pada saat kegiatan Pra-KONFERCAB tanggal 25 mendatang," lanjutnya.

Sekalipun pendaftaran calon ketua umum sudah ditutup, pendaftaran calon ketua Korp PMII Putri (KOPRI) diperpanjang sampai Minggu (22/06/16) jam 23:59 WIB, "soalnya calon masih dua orang," jelas Hazmi.

Berikut nama-nama calon ketua umum PC PMII Sumenep yang sudah terdaftar di kepanitiaan: Alif Rofik (Komisariat Unija Sumenep), Syaian Maulidi (Komisariat STKIP PGRI Sumenep), Saniman (Komisariat STKIP PGRI Sumenep), Imam Arifin (Komisariat STITA Sumenep). Sedangkan untuk calon ketua KOPRI PC PMII Sumenep adalah sebagai berikut: Sri Wahyuni (Komisariat Unija), Sofiyatul Insani (Komisariat STKIP PGRI).

Untuk diketahui, pelaksanaan Pra-Konfercab dan pengambilan nomer urut akan dilangsungkan pada hari Rabu (25/06/16) di Aula Kantor KOMINFO Sumenep. Sedangkan KONFERCAB akan dilaksanakan pada tanggal 2–4 Juni 2016 di kantor Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Sumenep. (ahn)
Share:

Biografi Singkat KH. Abd. Djalil bin Fadlil Sidogiri

Membaca Napak Tilas KH. Abd. Djalil Bin Fadlil Sidogiri; Berakhlak Bermartabat*

Pasti Aswaja – Kiai Abd. Djalil lahir dan besar dari keluarga yang agamis. Ayahnya bernama Kiai Fadlil bin Sulaiman bin Ahsan bin Zainal Abidin (Bujuk Cendana), nasabnya bersambung kepada Sayid Qasim (Sunan Drajat) bin Sayid Rahmatullah (Sunan Ampel). Sedangkan ibunya bernama Nyai Syaikhah binti Syarifah Lulu’ binti Sayid Abu Bakar asy-Syatha ad-Dimyathi, pengarang kitab I’ânah ath-Thâlibîn. Jadi, dari jalur ibu, Kiai Abd. Djalil adalah cicit dari pengarang kitab terkenal tersebut.

Abd. Djalil kecil tumbuh dan besar sebagaimana layaknya anak-anak yang lain, bergaul dan akrab dengan teman-temannya. Namun, menurut teman sepermainannya saat masih kanak-kanak, Abd Djalil sudah tampak kewara’annya. Disaat teman-temannya makan tebu atau mencari mangga jatuh, Abd Djalil selalu menghindar tidak mau ikut.

Suatu hari, Kiai Nawawie bin Noerhasan Sidogiri mendapatkan undangan menghadiri walimah di daerah timur Warungdowo, Pasuruan, berdekatan dengan rumah Abd. Djalil muda. Seusai acara Kiai Nawawie bertanya “Mana cucu Sayid Syatha?” Saat itu Abd. Djalil berada di tempat itu. 

“Kamu mondok di Sidogiri, ya?” kata Kiai Nawawie. Abd. Djalil pun mengangguk tanda setuju. Kiai Nawawie menawarkan Abd. Djalil mondok di Sidogiri karena merasa pernah berguru pada buyut Abd. Djalil, Sayid Syatha.

Di Sidogiri, Abd. Djalil dengan gigih dan bersungguh-sungguh mengikuti dan menyimak semua yang diajarkan oleh Kiai Nawawie. Bukan hanya ilmu dalam bentuk teori, akhlak dan pribadi luhur Kiai Nawawie juga membekas kuat dalam membentuk kepribadian Abd. Djalil.

Tidak ada kejelasan berapa tahun Abd. Djalil berguru kepada Kiai Nawawie. Yang jelas, saat mondok di Sidogiri Abd. Djalil sudah cukup alim.

Saat nyantri, sifat wara’ Abd. Djalil juga ditempa dan teruji. Selama di Pondok, ia tidak pernah menginjak sandal teman-temannya. Apalagi ghasab. Bila mau menanak (memasak), sisa kayu bakar milik temannya pasti dibersihkan terlebih dahulu, atau diminta halalnya. Saat menjemur pakaian, jika masih ada pakaian santri lain yang dijemur dan saat itu sudah kering serta tidak ada tempat lain, beliau tidak akan memindah pakaian itu, khawatir si empunya tidak rela.

Membaca cerita kewara’an Kiai Djalil, terbayang sosok yang tampil apa adanya atau berpakaian lusuh. Ternyata tidak. Dalam kesehariaannya, Kiai Djalil selalu berpakaian rapi bahkan terlihat necis. Pakaiannya selalu disetrika. Khususnya ketika akan salat, terlihat seperti orang yang akan melakukan perjalanan jauh. Dalam pandangan Kiai Djalil, sederhana, bukan berarti semrawut.

Di samping sosok yang wara’, Kiai Djalil juga dikenal ketekunannya dalam beribadah. Saat masih mondok, tiap malam beliau hanya tidur satu jam, yakni sekitar pukul 11.00. Jam 12.00 beliau bangun dan terus khusyuk beribadah sampai berjamaah salat Subuh. Ketekunan beliau terus berlanjut hingga beliau berkeluarga. Hanya sejak berkeluarga, tiap malam beliau tidur dua jam.

Setelah beberapa tahun nyantri di Sidogiri, Abd. Djalil bermaksud boyong (berhenti mondok). Nah, saat minta restu Kiai Nawawie, ia ditawari menikah dengan putri beliau, Nyai Hanifah. Dengan persetujuan keluarganya, Abd. Djalil mengiyakan.

Menurut cerita, Kiai Nawawie mengambil menantu Abd. Djalil disamping karena kewara’annya. Juga dilatarbelakangi dengan kejadian yang agak aneh.

Pada suatu malam, ketika semua santri terlelap tidur, Kiai Nawawie sambil wiridan berjalan-jalan melihat keadaan santri. Di tengah deretan bilik yang dilalui, beliau dikejutkan oleh cahaya yang memancar dari salah seorang santri yang sedang tertidur. Namun, karena dalam keadaan gelap, beliau kesulitan untuk mengenali santri yang memancarkan sinar itu. Kiai Nawawie lalu mengikat sarung anak yang memancarkan cahaya tersebut.

Keesokan harinya, sehabis menunaikan salat Subuh berjamaah, Kiai Nawawie bertanya siapa yang terikat sarungnya tadi malam. Ada yang menjawab, “Djalil, Kiai.” Lalu dipanggillah Abd. Djalil ke dalem (rumah) dan ditawari untuk ditunangkan dengan Nyai Hanifah, putri pertamanya.

“Koen dhe’ kene ta’ pe’ mantu, ya’ opo?” (kamu di sini saya jadikan menantu saya, bagaimana?” Abd. Djalil pun mengangguk.

Karena sudah ditunangkan, Kiai Abd. Djalil yang awalnya bermaksud boyong, malah dimondokkan ke Mekah oleh Kiai Nawawie. Di tanah suci itulah ia berguru kepada tokoh ulama ‘allâmah selama dua tahun.

Jumat 25 Syawal 1347 H, Kiai Nawawie wafat, menghadap Allah. Kabar ini pun sampai kepada Kiai Abd. Djalil yang sedang berada di Mekah, dan beliau diminta pulang untuk menggantikan Kiai Nawawie mengasuh Pondok Pesantren Sidogiri.

Awalnya Kiai Djalil keberatan dan meminta Kiai Abd. Adzim (juga menantu Kiai Nawawie) yang diangkat. Namun Kiai Abd. Adzim juga tidak bersedia. Maka akhirnya, Kiai Abd. Djalil menerima amanat berat itu, melanjutkan perjuangan Kiai Nawawie mendidik santri menjadi generasi handal.

Dalam menjalankan tugas sebagai Pengasuh, Kiai Djalil mengikuti pola sekaligus meneruskan tradisi yang telah dirintis oleh Kiai Nawawie. Pengajian kitab yang dibaca Kiai Nawawie dilangsungkan aktif. Khataman kitab Tafsir pada setiap bulan Ramadan juga dilestarikan. Hingga ada ungkapan, “Masa Kiai Djalil tak ubahnya adalah masa Kiai Nawawie.”

Hampir selama 12 tahun Kiai Djalil memangku Sidogiri. Dalam masa itu pula, beliau mempersiapkan putra-putra Kiai Nawawie, yang masih kecil-kecil agar siap menjadi Pengasuh. Praktis, semua putra Kiai Nawawie (KH. Noerhasan, KH. Cholil, KH Siradjul Millah Waddin, KH. Sa’doellah, dan KH. Hasani Nawawie) diasuh dan dibesarkan oleh Kiai Djalil.

Beliau sendiri pernah bilang, “Aku iki duduk Kiai Sidogiri, sing Kiai iku wong limo iku. (Saya ini bukan Kiai Sidogiri, yang jadi Pengasuh ya lima orang itu, putra-putra Kiai Nawawie).”

Ketika menjemur padi, Kiai Djalil berusaha agar padinya tidak berkumpul dengan milik orang lain, takut-takut ada milik orang yang terikut, walaupun hanya satu biji. Jika merasa ada yang tercampur, sekalipun tanpa sengaja, Kiai Djalil akan mengembalikan padi yang tercampur itu semua.

Uang yang dibuat belanja sehari-hari untuk kiai dan keluarganya murni dari hasil jerih payah sendiri. Beliau memperolehnya dari hasil pertaniannya. Uang dari tamu yang sowan ke Kiai Djalil sangat jarang dibuat untuk belanja rumah tangga. Biasanya uang dari tamu itu dibuat untuk membayar ongkos para pekerja atau diberikan kepada orang lain.

Yang menarik dari sikap wara’ beliau ini, Kiai Djalil menyuruh istrinya, Nyai Hanifah, untuk membuat sendiri masakan yang akan dimakan, seperti kecap, petis, tempe, serta bahan-bahan makanan lainnya yang bisa dibuat sendiri. Ibu Nyai Hanifah pernah sedikit proses perihal kehati-hatiannya tersebut, “Abah (Kiai Nawawi bin Noerhasan) saja tidak begitu” kata Nyai. Dengan ringan Kiai Djalil menjawab, “Abah wis wusul, aku durung (Abah sudah wusûl, aku belum).”

Sifat sederhana dan istikamah Kiai Djalil menyebabkan masyarakat sekitar menjadi segan. Tanpa disuruh, kaum perempuan di sekitar Sidogiri merasa malu bila tidak menutup aurat. Sulit menemukan perempuan berjalan sendirian tanpa disertai mahramnya. Bila naik dokar pun, pasti dokarnya selalu tertutup.

Sejak usia baligh sampai wafat, Kiai Djalil hanya satu kali tidak salat berjamaah. Hal ini beliau ungkapkan sendiri kepada santri-santrinya beberapa waktu menjelang wafatnya. Hal ini mengingatkan kita pada tabi’in bernama Said bin Musayyib yang dalam 50 tahun tidak pernah satu kalipun ketinggalan takbiratul ihram bersama Imam.

Awal-awal menjadi Pengasuh Pondok Pesantren Sidogiri, Kiai Djalil melakukan tirakat 7 hari di Batuampar Pamekasan. Selama 7 hari beliau berpuasa dan berbuka hanya dengan separuh pisang, sisanya dibuat makan sahur. Dan setiap harinya menghatamkan al-Qur’an.
* Disarikan dari; buku "Jejak Langkah 9 Masyayikh Sidogiri (1)". Sidogiri Penerbit.
Source: LAZ Sidogiri
Share:

Saturday, May 21, 2016

Mantapkan Kaderisasi, PC PMII Pamekasan Gelar PKL

Pamekasan – Pasti Aswaja Pengurus Cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PC PMII) Pamekasan menggelar Pelatihan Kader Lanjut (PKL) di Lembaga Pendidikan Islam Bustanul Mubtadiin Pangoraian, Proppo, Sabtu (21/06/16).

Menurut Mohammad Imron, Ketua Umum PC PMII Pamekasan, kegiatan ini merupakan kaderisasi terakhir setelah Masa Penerimaan Anggota Baru (MAPABA) dan Pelatihan Kader Dasar (PKD), "karena memang esensi PMII adalah organisasi kader," ujar Ron, sapaan akrabnya. "Dan (kegiatan kaderisasi. Red.) ini wajib dikedepankan dari urusan yang lain," lanjut Ron.

Kader PMII Universitas Madura (Unira) ini mengharapkan kegiatan itu mampu melahirkan pioner instruktur kaderisasi di komisariat maupun cabangnya masing-masing.

"Selaku ketua, saya berharap semua peserta dari komisariat-komisariat yang ada di Pamekasan maupun delegasi dari cabang-cabang se-Jawa Timur nantinya akan menjadi pioner instruktur yang mumpuni di cabang-cabang dan komisariat masing-masing," tuturnya penuh harap. "Dan penguatan intelektual adalah hal penting yang paling diprioritaskan untuk pengembangan kualitas kader," imbuhnya.

Kegiatan yang dimulai jam 08:30 itu mengangkat tema "Inilah Kami Wahai Indonesia". Pengambilan tema itu bertujuan untuk menunjukkan bahwa PMII peduli terhadap keutuhan NKRI, "karena saat ini sudah banyak ditemui gerakan-gerakan makar yang berbahaya. PMII akan ikut andil di dalamnya untuk melawan gerakan tersebut." Kata Ron dalam sambutannya saat pembukaan kegiatan tersebut.

Berdasarkan data yang ada pada panitia, kaderisasi tingkat akhir di lingkungan PMII ini awalnya diikuti 55 pendaftar yang terdiri dari delegasi cabang-cabang PMII se-Jawa Timur dan komisariat PMII se-Pamekasan,  "tapi yang lolos screening (penyaringan. Red.) yang dilakukan tim seleksi ada 39 orang baik lokal Pamekasan sendiri ataupun yang dari luar Pamekasan," Jelas Moh. Hakim, ketua panitia PKL.

Berikut ini rincian peserta PKL: PC PMII Mojokerto: 1 orang, PC Kota Malang: 2 orang, PC Kab. Malang: 2 orang, PC Probolinggo: 2 orang, PC Jombang: 3 orang, PC Sumenep: 2 orang, PC Tulungagung: 1 orang, PC Jember: 3 orang, PC Surabya: 2 orang, PC Sampang: 2 orang. Sedangkan delegasi dari Pengurus Komisariat (PK) PMII se-Pamekasan adalah sebagai berikut: PK PMII UIM: 7 orang, STAI-MU: 6 orang, UNIRA: 4 orang, Al-Khairat: 2 orang. (ahn)
Share:

Wednesday, May 18, 2016

Biografi Mbah Sahal Mahfudz

Pasti AswajaNama lengkap Mbah Sahal Mahfudz atau KH. MA. Sahal Mahfudz (selanjutnya disebut dengan Kyai Sahal) adalah Muhammad Ahmad Sahal bin Mahfudz bin Abd. Salam Al-Hajaini lahir di Desa Kajen, Margoyoso Pati pada tanggal 17 Desember 1937.

Beliau adalah anak ketiga dari enam bersaudara yang merupakan ulama kontemporer Indonesia yang disegani karena kehati-hatiannya dalam bersikap dan kedalaman ilmunya dalam memberikan fatwa terhadap masyarakat baik dalam ruang lingkup lokal (masyarakat dan pesantren yang dipimpinnya) dan ruang lingkup nasional.

Sebelum orang mengenal Kyai Sahal, orang akan mengenalnya sebagai sosok yang biasa-biasa saja. Dengan penampilan yang sederhana orang mengira, beliau sebagai orang biasa yang tidak punya pengetahuan apapun. Namun ternyata pengetahuan dan kepakaran Kyai Sahal sudah diakui. Salah satu contoh, sosok yang menjadi pengasuh pesantren2 ini pernah bergabung dengan institusi yang bergerak dalam bidang pendidikan, yaitu menjadi anggota BPPN3 selama 2 periode yaitu dari tahun 1993-2003.

Kyai Sahal lahir dari pasangan Kyai Mahfudz bin Abd. Salam al- Hafidz (w 1944 M) dan Hj. Badi’ah (w. 1945 M) yang sedari lahir hidup di pesantren, dibesarkan dalam lingkungan pesantren, belajar hingga ladang pengabdiannya pun ada di pesantren. Saudara Kyai Sahalyang berjumlah lima orang yaitu, M. Hasyim, Hj. Muzayyanah (istri KH. Mansyur Pengasuh PP An-Nur Lasem), Salamah (istri KH. Mawardi, pengasuh PP Bugel-Jepara, kakak istri KH. Abdullah Salam ), Hj. Fadhilah (istri KH. Rodhi Sholeh Jakarta), Hj. Khodijah (istriKH. Maddah, pengasuh PP Assuniyah Jember yang juga cucu KH. Nawawi, adik kandung KH. Abdussalam, kakek KH. Sahal.).

Pada tahun 1968/69 Kyai Sahal menikah dengan Dra Hj Nafisah binti KH. Abdul Fatah Hasyim, Pengasuh Pesantren Fathimiyah Tambak Beras Jombang dan berputra Abdul Ghofar Rozin yang sejak sekarang sudah dipersiapkan untuk menggantikan kepemimpinanKyai Sahal.

Latar Belakang Kehidupan 

KH. Sahal Mahfudz dididik oleh ayahnya yaitu KH. Mahfudz dan memiliki jalur nasab dengan Syekh Ahmad Mutamakkin, namun KH. Sahal Mahfudz sangat dipengaruhi oleh kekyainan pamannya sendiri, K.H. Abdullah Salam. Syekh Ahmad Mutamakkin sendiri termasuk salah seorang pejuang Islam yang gigih, seorang ahli hukum Islam (faqih) yang disegani, seorang guru besar agama dan lebih dari itu oleh pengikutnya dianggap sebagai salah seorang waliyullah.

Sedari kecil Kyai Sahal dididik dan dibesarkan dalam semangat memelihara derajat penguasaan ilmu-ilmu keagamaan tradisional. Apalagi Kiai Mahfudh Salam (yang juga bapaknya sendiri) seorang kiai ampuh, dan adik sepupu almarhum Rais Aam NU, Kiai Bisri Syamsuri. Selain itu juga terkenal sebagai hafidzul qur’an yang wira’i dan zuhud dengan pengetahuan agama yang mendalam terutama ilmu ushul.

Pesantren adalah tempat mencari ilmu sekaligus tempat pengabdian Kyai Sahal. Dedikasinya kepada pesantren, pengembangan masyarakat, dan pengembangan ilmu fiqh tidak pernah diragukan Pada dirinya terdapat tradisi ketundukan mutlak pada ketentuan hukum dalam kitab-kitab fiqih dan keserasian total dengan akhlak ideal yang dituntut dari ulama tradisional. Atau dalam istilah pesantren, ada semangat tafaqquh (memperdalam pengetahuan hukum agama) dan semangat tawarru’ (bermoral luhur).

Ada dua faktor yang mempengaruhi pemikiran Kyai Sahal yaitu, pertama adalah lingkungan keluarganya. Bapak beliau yaitu Kyai Mahfudz adalah orang yang sangat peduli pada masyarakat. Setelah Kyai Mahfudz meninggal, Kyai Sahal kemudian diasuh oleh KH. Abdullah Salam, orang yang sangat concern pada kepentingan masyarakat juga. Beliau adalah orang yang mendalami tasawuf juga orang yang berjiwa sosial tinggi. Dalam melakukan sesuatu ada nilai transendental yang diajarkan tidak hanya dilihat dari segi materi.Kyai Mahfudz orang yang cerdas, tegas dan peka terhadap persoalan sosial dan KH. Abdullah Salam juga orang yang tegas, cerdas, wira’I, muru’ah, dan murah hati. Di bawah asuhan dua orang yang luar biasa dan mempunyai karakter kuat inilah Kyai Sahal dibesarkan.

Yang kedua dari segi intelektual, Kyai Sahal sangat dipengaruhi oleh pemikiran Imam Ghazali. Dalam berbagai teori Kyai Sahal banyak mengutip pemikiran Imam Ghazali.13 Selama belajar di pesantren inilah Kyai Sahal berinteraksi dengan berbagai orang dari segala lapisan masyarakat baik kalangan jelata maupun kalangan elit masyarakat yang pada akhirnya mempengaruhi pemikiran beliau. Selepas dari pesantren beliau aktif di berbagai organisasi kemasyarakatan. Perpaduan antara pengalaman di dunia pesantren dan organisasi inilah yang diimplementasikan oleh Kyai Sahal dalam berbagai pemikiran beliau.

Minat baca Kyai Sahal sangat tinggi dan bacaannya cukup banyak terbukti beliau punya koleksi 1.800-an buku di rumahnya. Meskipun Kyai Sahal orang pesantren bacaannya cukup beragam, diantaranya tentang psikologi, bahkan novel detektif walaupun bacaan yang menjadi favoritnya adalah buku tentang agama. Beliau membaca dalam artian konteks kejadian. Tidak heran kalau Kiai Sahal—meminjam istilah Gus Dur—lalu ‘menjadi jago’ sejak usia muda. Belum lagi genap berusia 40 tahun, dirinya telah menunjukkan kemampuan ampuh itu dalam forum-forum fiqih. Terbukti pada berbagai sidang Bahtsu Al-Masail tiga bulanan yang diadakan Syuriah NU Jawa Tengah, beliau sudah aktif di dalamnya.

Kyai Sahal adalah pemimpin Pesantren Maslakul Huda Putra sejak tahun 1963. Pesantren di Kajen, Margoyoso, Pati, Jawa Tengah, ini didirikan oleh ayahnya, KH Mahfudz Salam, tahun 1910. Sebagai pemimpin pesantren, Kyai Sahal dikenal sebagai pendobrak pemikiran tradisional di kalangan NU yang mayoritas berasal dari kalangan akar rumput. Sikap demokratisnya menonjol dan dia mendorong kemandirian dengan memajukan kehidupan masyarakat di sekitar pesantrennya melalui pengembangan pendidikan, ekonomi dan kesehatan.

Pendidikan dan Guru-guru KH Sahal

Untuk urusan pendidikan, yang paling berperan dalam kehidupan Kyai Sahal adalah KH. Abdullah Salam yang mendidiknya akan pentingnya ilmu dan tingginya cita-cita. KH. Abdullah Salam tidak pernah mendikte seseorang. Kyai Sahal diberi kebebasan dalam menuntut ilmu dimanapun. Tujuannya agar Kyai Sahal bertanggung jawab pada pilihannya. Apalagi dalam menuntut ilmu Kyai Sahal menentukan adanya target, hal inilah yang menjadi kunci kesuksesan beliau dalam belajar. Ketika belajar di Mathali’ul Falah Kyai Sahalberkesempatan mendalami nahwu sharaf, di Pesantren Bendo memperdalam fiqh dan tasawuf, sedangkan sewaktu di Pesantren Sarang mendalami balaghah dan ushul fiqh.

Memulai pendidikannya di Madrasah Ibtidaiyah (1943-1949), Madrasah Tsanawiyah (1950-1953) Perguruan Islam Mathaliul Falah, Kajen, Pati. Setelah beberapa tahun belajar di lingkungannya sendiri, Kyai Sahal muda nyantri ke Pesantren Bendo, Pare], Kediri, Jawa Timur di bawah asuhan Kiai Muhajir, Selanjutnya tahun 1957-1960 dia belajar dipesantren Sarang, Rembang, di bawah bimbingan Kiai Zubair. Pada pertengahan tahun 1960-an, Kyai Sahal belajar ke Mekah di bawah bimbingan langsung Syaikh Yasin al-Fadani. Sementara itu, pendidikan umumnya hanya diperoleh dari kursus ilmu umum di Kajen (1951-1953).

Di Bendo Kyai Sahal mendalami keilmuan tasawuf dan fiqih termasuk kitab yang dikajinya adalah Ihya Ulumuddin, Mahalli, Fathul Wahab, Fathul Mu’in, Bajuri, Taqrib, Sulamut Taufiq, Sullam Safinah, Sullamul Munajat dan kitab-kitab kecil lainnya. Di samping itu juga aktif mengadakan halaqah- halaqah kecil-kecilan dengan teman-teman senior. Sedangkan di Pesantren Sarang Kyai Sahal mengaji pada Kyai Zubair tentang ushul fiqih, qawa’id fiqh dan balaghah. Dan kepada Kyai Ahmad beliau mengaji tentang Hikam. Kitab yang dipelajari waktu di Sarang antara lain, Jam’ul Jawami dan Uqudul Juman, Tafsir Baidlowi tidak sampai khatam, Lubbabun Nuqul sampai khatam, Manhaju Dzawin Nazharkarangan Syekh Mahfudz At-Tarmasi dan lain-lain.

Tugas dan Jabatan 

Kyai Sahal bukan saja seorang ulama yang senantiasa ditunggu fatwanya, atau seorang kiai yang dikelilingi ribuan santri, melainkan juga seorang pemikir yang menulis ratusan risalah (makalah) berbahasa Arab dan Indonesia, dan juga aktivis LSM yang mempunyai kepedulian tinggi terhadap problem masyarakat kecil di sekelilingnya. Penghargaan yang diterima beliau terkait dengan masyarakat kecil adalah penganugerahan gelar Doktor Kehormatan (Doctor Honoris Causa) dalam bidang pengembangan ilmu fiqh serta pengembangan pesantren dan masyarakat pada 18 Juni 2003 di Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.

Peran dalam organisasipun sangat signifikan, terbukti beliau dua periode menjabat Rais Aam Syuriah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (1999-2009) dan Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) masa bakti 2000-2010. Pada Musyawarah Nasional (Munas) MUI VII (28/7/2005) Rais Aam Syuriah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (NU), itu terpilih kembali untuk periode kedua menjabat Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) masa bakti 2005-2010.

Pada Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) di Donohudan, Boyolali, Jateng., Minggu (28/11-2/12/2004), beliau pun dipilih untuk periode kedua 2004-2009 menjadi Rais Aam SyuriahPengurus Besar Nahdlatul Ulama (NU). Pada 26 November 1999, untuk pertama kalinya dia dipercaya menjadi Rais Aam Syuriah PB NU, mengetuai lembaga yang menentukan arah dan kebijaksanaan organisasi kemasyarakatan yang beranggotakan lebih 30-an juta orang itu. KH Sahal yang sebelumnya selama 10 tahun memimpin Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Jawa Tengah, juga didaulat menjadi Ketua Umum Dewan Pimpinan MUI pada Juni 2000 sampai tahun 2005.

Selain jabatan-jabatan diatas, jabatan lain yang sekarang masih diemban oleh beliau adalah sebagai Rektor INISNU Jepara, Jawa Tengah (1989-sekarang) dan pengasuh Pengasuh Pondok Pesantren Maslakul Huda, Kajen, Pati (1963 - Sekarang).

Sedangkan pekerjaan yang pernah beliau lakukan, adalah guru di Pesantren Sarang, Rembang (1958-1961), Dosen kuliah takhassus fiqh di Kajen (1966-1970), Dosen di Fakultas Tarbiyah UNCOK, Pati (1974-1976), Dosen di Fak. Syariah IAIN Walisongo Semarang (1982-1985), Rektor Institut Islam Nahdlatul Ulama (INISNU) Jepara (1989-sekarang), Kolumnis tetap di Majalah AULA (1988-1990), Kolumnis tetap di Harian Suara Merdeka, Semarang (1991-sekarang), Rais 'Am Syuriyah PBNU (1999-2004), Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI, 2000-2005), Ketua Dewan Syari'ah Nasional (DSN, 2000-2005), dan sebagai Ketua Dewan Pengawas Syari'ah pada Asuransi Jiwa Bersama Putra (2002-sekarang).

Sosok seperti Kyai Sahal ini kiranya layak menjadi teladan bagi semua orang. Sebagai pengakuan atas ketokohannya, beliau telah banyak mendapatkan penghargaan, diantaranya Tokoh Perdamaian Dunia (1984), Manggala Kencana Kelas I (1985-1986), Bintang Maha Putra Utarna (2000) dan Tokoh Pemersatu Bangsa (2002).

Sepak terjang KH. Sahal tidak hanya lingkup dalam negeri saja. Pengalaman yang telah didapatkan dari luar negeri adalah, dalam rangka studi komparatif pengembangan masyarakat ke Filipina tahun 1983 atas sponsor USAID, studi komparatif pengembangan masyarakat ke Korea Selatan tahun 1983 atas sponsor USAID, mengunjungi pusat Islam di Jepang tahun 1983, studi komparatif pengembangan masyarakat ke Srilanka tahun 1984, studi komparatif pengembangan masyarakat ke Malaysia tahun 1984, delegasi NU berkunjung ke Arab Saudi atas sponsor Dar al-Ifta’ Riyadh tahun 1987, dialog ke Kairo atas sponsor BKKBN Pusat tahun 1992, berkunjung ke Malaysia dan Thailand untuk kepentingan Badan Pertimbangan Pendidikan Nasional (BPPN) tahun 1997.

Karya-karya KH. MA. Sahal Mahfudz 

Kyai Sahal adalah seorang pakar fiqih (hukum Islam), yang sejak menjadi santri seolah sudah terprogram untuk menguasai spesifikasi ilmu tertentu yaitu dalam bidang ilmu Ushul Fiqih, Bahasa Arab dan Ilmu Kemasyarakatan. Namun beliau juga mampu memberikan solusi permasalahan umat yang tak hanya terkait dengan tiga bidang tersebut, contohnya dalam bidang kesehatan dan beliau menemukan suatu bagian tersendiri dalam fiqh.

Dalam bidang kesehatan Kyai Sahal mendapat penghargaan dari WHO dengan gagasannya mendirikan taman gizi yang digerakkan para santri untuk menangani anak-anak balita (hampir seperti Posyandu). Selain itu juga mendirikan balai kesehatan yang sekarang berkembang menjadi Rumah Sakit Islam.

Berbicara tentang karya beliau, pada bagian fiqh beliau menulis seperti Al-Tsamarah al-Hajainiyah yang membicarakan masalah fuqaha, al-Barokatu al- Jumu’ah ini berbicara tentang gramatika Arab. Sedangkan karya Kyai Sahal yang berbentuk tulisan lainnya adalah:

Buku (kumpulan makalah yang diterbitkan) 
  • Thariqatal-Hushul ila Ghayahal-Ushul, (Surabaya: Diantarna, 2000)
  • Pesantren Mencari Makna, (Jakarta: Pustaka Ciganjur, 1999)
  • Al-Bayan al-Mulamma' 'an Alfdz al-Lumd", (Semarang: Thoha Putra, 1999)
  • Telaah Fikih Sosial, Dialog dengan KH. MA. Sahal Mahfudh, (Semarang: Suara Merdeka, 1997)
  • Nuansa Fiqh Sosial (Yogyakarta: LKiS, 1994)
  • Ensiklopedi Ijma' (terjemahan bersama KH. Mustofa Bisri dari kitab Mausu'ah al-Ij ma'). (Jakarta; Pustaka Firdaus, 1987).
  • Al-Tsamarah al-Hajainiyah, I960 (Nurussalam, t.t)
  • Luma' al-Hikmah ila Musalsalat al-Muhimmat, (Diktat Pesantren Maslakul Huda, Pati).
  • Al-Faraid al-Ajibah, 1959 (Diktat Pesantren Maslakul Huda, Pati)
dan masih banyak lagi makalah dan risalah karya Mbah Sahal yang tidak diterbitkan.
Source: moslemwiki.com
Share:

Monday, May 16, 2016

Ulama Sebagai Tokoh Sentral Umat

Oleh: Ali Wahdi*
 
Pasti Aswaja Sebelum mengupas lebih dekat tentang tokoh ulama sebagai tokoh sentral umat, saya ingin menyampaikan sedikit terminologi ulama.
 
Ulama' adalah orang-orang yang memiliki disiplin ilmu yang mendalam dan mendedikasikannya kepada umat manusia dengan ikhlas karena Allah, tanpa membedekan disiplin ilmu apa yang dimilikinya.

Imam Al-Ghazali dalam Ihya ‘Ulumuddin mengatakan, “tradisi ulama adalah mengoreksi penguasa untuk menerapkan hukum Allah. Kerusakan masyarakat adalah akibat kerusakan penguasa dan kerusakan penguasa itu akibat kerusakan ulama.”

Dari apa yang disampaikan oleh Imam Alghazali tersebut, sedikit saya bisa memahami bahwa ulama' adalah tokoh sentral segala persoalan yang berhungan dengan kepentingan umat, agama, politik, sosial, dan budaya. Kemudian tradisi mengoreksi penguasa menjadi sebuah keniscayaan, sebab pada penguasa sebagian besar urusan umat diamanahkan.

Untuk kepentingan agama, ulama menjadi rujukan pertama dan utama dalam menyelesaikan segala persoalan yang menyangkut keagamaan, menjadi tokoh yang dimintai fatwa, menjadi tempat konsultasi. Selain dari pada itu, ulama dihormati karena ilmu dan kharismanya. Oleh karenanya, dalam sebuat riwayat ulama disebut sebagai pewaris para nabi.

Pada tatanan sosial, ulama dijadikan contoh dalam kehidupan sehari-hari. Disini, ulama masih dipercaya sebagai tolok ukur penggerak kebaikan karena pergaulannya yang penuh etika. Sehingga, bila dalam tatanan sosial seorang ulama' bertindak di luar tradisi yang berlaku di masyarakat, sudah bisa dipastikan seorang tokoh tersebut akan menanggung sanksi sosial yang sangat berat nilainya.

Tokoh Ulama' adalah benteng terakhir dalam menjaga tradisi, menjaga budaya ketimuran. Ulama' dengan pesantrennya, ulama' dengan ilmu dan jamaahnya, menjadi perekat dalam menjaga nilai-nilai tradisi dan budaya yang ada, khusus epon e Madhura (khususnya di Madura. red.).

Dalam kontek politik, ulama' memiliki peran yang sangat strategis sebagai figur panutan. Dalam catatan saya, ulama tidak harus terlibat langsung dalam panggung politik, karena ulama' tanpa diminta sudah "dibaiat" oleh masyarkat secara umum sebagai tokoh: tokoh agama, tokoh masyarakat, tokoh politik. Ini terbukti ketika masyarakat menghadapi persoalan (baik menyangkut agama, politik, sosial dan budaya), masyarakat pasti mendatangi seorang tokoh ulama dalam meminta restu ataupun petunjuk.

Dalam hal ini seorang ulama' cukup menjadi tokoh dari semua kalangan, menjadi penasehat tentang bagaimana memilih seorang pemimpin yang baik, pemimpin yang memenuhi standart menurut agama dan negara ini. Ulama' cukup mulia menjadi guru tentang bagaimana berpolitik kebangsaan. Dan itu adalah harapan semua elemen masyarakat.

Memang, politik pada dasarnya adalah sesutu yang menarik, sesuatu yang indah dengan seninya, apalagi di negara yang menganut sistem demokrasi. Semua orang punya hak berpolitik, karena jalur politik adalah salah satu media penting untuk memperjuangkan kemaslahatan masyarakat dan umat. Dan partai politik tunggangan yang paling realistis untuk bisa merebut otoritas publik.

Tetapi, saat ini politik sudah lepas dari nalai-nilai politik kebangsaan. Sama sekali jauh dari apa yang pernah disampaikan oleh tokoh agama, tokoh politik, tokoh pluralisme, yaitu KH. Abdurrahman Wahid, “bahwa kemanusiaan lebih penting dari pada politik”. Faktanya, hanya karena politik, nilai kemanusiaan digilas; hanya karena politik, nilai persaudaraan dihancurkan; hanya karena politik, tali persahabatan diputuskan dan tidak jarang pula ditemukan seorang guru menjadi musuh bagi muridnya. Hanya karena persoalan politik. Bahkan yang sangat ironis, sesama tokoh ulama' saling adu pembenaran hanya karena perbedaan pandangan politik. Dan ini berdampak pada masyarakat umum secara sosial. Nah, fenomena ini yang dikhawatirkan bisa menyebabkan pudarnya aura kharismatik pada diri seorang tokoh ulama' sebagai panutan semua umat.

Kembali kepada apa yang disampaikan Imam Alghazali di atas, bahwa ulama memiliki tanggungjawab moral mengevaluasi, mengoreksi kebijakan-kebijalan penguasa. Tentu, posisi tokoh ulama dalam konteks ini memiliki peran besar untuk menguatkan kebijakan yang pro rakyat, dan menegur kebijakan yang merugikan rakyat. Kondisi ini sejalan dengan tradisi para ulama', menyampaikan kebaikan dengan cara yang baik, menolak kebathilan dengan cara yang baik pula.

Ini alasan kenapa ulama' harus menjadi tokoh sentral semua umat. Sebab, politik saat ini terlanjur distigma sebagai dunia yang kotor, dunianya orang-orang yang picik, dunia yang penuh dengan tipu daya. Pepatah mengatakan, “tidak ada kebenaran dalam politik. Yang ada adalah kemengan”. Sehingga, jangan salahkan masyarakat jika tokoh ulama' −yang selama ini menjadi figur semua golongan memilih terjun langsung dalam panggung politik− akan mendapakan pengakuan yang sama secara prilaku seperti prilaku para politisi busuk, politisi yang karir politiknya berakhir di jeruji besi.

Apakah ulama' harus alergi politik?. Jawabannya: "tidak", sebab negera ini dibangun atas nama politik. Hanya saja kondisi politik sekarang ini yang tidak memungkinkan bagi seorang ulama' untuk terlibat langsung sebagai penggerak politik praktis.
 
Maka, sebagai upaya untuk memperbaiki citra buruk wajah politik saat ini, tokoh ulama' mempunyai tanggungjawab sosial, tanggungjawab moral untuk terus berdakwah melalui kegiatan kultural, melalui kegiatan maiyah-an sembari menyiapkan generasi masa depan bangsa yang mapan agamanya, baik etika, bagus sosialnya.

Bisa dibayangkan, jika tokoh ulama' yang selama ini dikenal akrab dengan umat menyamapaikan ajaran agama, dari masjid ke masjid, dari desa ke desa lainnya, dari pesantren ke pesantren lainnya, kini harus sibuk dengan kelompoknya, harus sibuk dengan kepentingan politiknya seperti kondisi saat ini. Silahkan bayangkan nasib umatnya!!! Jujur, saya takut sekali untuk membayangkan....!!!
* Penulis adalah aktivis ALGHAZALI Pamekasan: Komunitas Cinta Baca dan Menulis


Share:

Ketua Umum MPP IKBAS PPMU Panyeppen: 'Lawan Kapitalisme!!!'

Pamekasan – Pasti Aswaja Ustad Bahrawi Kholil terpilih sebagai Ketua Umum Majelis Tanfidz Majelis Pengurus Pusat (MPP) Ikatan Keluarga Besar Alumni dan Simpatisan Pondok Pesantren Miftahul Ulum (IKBAS PPMU) Panyeppen pada pelaksanaan Musyawaroh Kubro (MUSKUB) II (Baca juga : Terpilih, Pimpinan MPP IKBAS PPMU Panyeppen).

Pria yang sebelumnya menjabat Ketua Majelis Taujih, Majelis Pengurus Wilayah (MPW) IKBAS PPMU Panyeppen Kecamatan Karang Penang, Sampang, Madura tersebut memiliki visi untuk menangkal ekonomi kapitali.

"Dulu, sebelum saya mengetahui tentang ekonomi kapitalis, saya sering belanja di mini market, tapi alhamdulillah berkat beliau (Pengasuh PPMU Panyeppen.red) yang mengajarkan, akhirnya saya bisa tahu dan berhenti belanja di sana (mini market.red)," Ujarnya Kepada Pasti Aswaja.

Pria asal Desa Gunung Kesan, Kecamatan Karang Penang tersebut bertekad melalui IKBAS PPMU Panyeppen untuk melawan dan tidak memberikan ruang bagi ekonomi kapitalisme di lingkungan masyarakat.

"Tidak ada istilah diam untuk menang (melawan kapitalisme.red). Kalau kita tidak menyerang, pasti kita sedang diserang. Jika kita diam saja, berarti kita menunggu yang namanya kekalahan," tegasnya dengan penuh semangat.

Pria yang gemar memakai baju putih tersebut tidak banyak memasang target untuk kepemimpinannya selama lima tahun kedepan. 

"Kami cuma ingin membenahi administrasi yang masih terkendala, serta melakukan konsolidasi dengan Pengurus tingkat Kecamatan dan Desa, karena merekalah yang memiliki peran besar terhadap masyarakat," imbuhnya.

Di bawah kepemimpinannya, pria yang akrab disapa Bahrawi tersebut mengharapkan, agar identitas santri yang sebenarnya benar-benar ditunjukkan ketika terjun dalam kehidupan masyarakat.

"Jadi, bagaimana gairah santri untuk mengamalkan ilmunya ketika pulang nanti benar-benar terlihat, karena seperti yang kita ketahui, saat ini Indonesia darurat narkoba dan santri tidak boleh sampai menjadi korban dari bahaya narkoba tersebut," tandasnya penuh harap.

Sekedar untuk diketahui,  IKBAS PPMU Panyeppen merupakan wadah bagi alumni dan simpatisan Pondok Pesantren Miftahul Ulum Panyeppen, Palengaan, Pamekasan, Madura yang berdiri pada 12 Juni 1995. (bor/ahn)
Share:

Sunday, May 15, 2016

Terpilih, Pimpinan MPP IKBAS PPMU Panyeppen Periode 2016-2021.

Pamekasan – Pasti Aswaja – Musyawarah Kubro (MUSKUB) II MPP IKBAS PPMU Panyeppen yang dimulai Minggu siang (15/05/16) sudah berakhir. (Baca juga : Kuliah Umum Pembukaan MUSKUB II MPP IKBAS PPMU Panyeppen)

Hasilnya, KH. Abdul Barri Rahman kembali terpilih sebagai Ketua Majelis Taujih MPP IKBAS PPMU Panyeppen Periode 2016 sampai 2021.

"Sebagaimana Sayyidina Umar, tugas yang dipercayakan kembali kepada saya merupakan amanah yang cukup berat, tapi saya sangat bersyukur, karena sejak dimulainya sidang sampai selesainya pemilihan semua berjalan lancar," ujarnya saat memberikan sambutan setelah ditetapkan dan disepakati oleh Ahlul Halli Wal 'Aqdi (AHWA).

Sementara untuk Majelis Tanfidz MPP IKBAS PPMU Panyeppen, terpilih Ustad Bahrawi Kholil sebagai Ketua Umum.

"Sejak saya beranjak dari Pondok Pesantren Miftahul Ulum Panyeppen, saya pernah bermimpi kembali lagi, ternyata mimpi itu benar-benar terjadi hari ini," terangnya saat memberikan sambutan.

Sekedar untuk diketahui, terpilihnya Ketua Majelis Taujih dan Ketua Umum Majelis Tanfidz melalui sidang AHWA yang diikuti oleh Ustad Hotibul Mahbub (Ketua Umum Tanfidz demisioner) sebagai Ketua, KH. Abdul Barri Rahman sebagai wakil, Ustad Taufiq, Ustad Baiquni, dan Ustad Bahrawi Kholil, ketiganya sebagai anggota.

Dalam tahap pengusulan calon Ketua Taujih, tiga nama dengan suara tertinggi diajukan kepada tim AHWA. Tiga nama tersebut adalah Ustad Hotibul Mahbub (7 suara) KH. Abdul Barri Rahman (7 suara) Ustad Taufiq (5 suara).

Sementara untuk tiga nama calon Ketua Umum Majelis Tanfidz yang diusulkan oleh peserta sidang adalah Ustad Bahrawi Kholil, Ustad Maltuful Anam, dan Ustad Taufiq. (bor/zai)
Share:

Kuliah Umum Pembukaan MUSKUB II MPP IKBAS PPMU Panyeppen.

Pamekasan - Pasti Aswaja - Majelis Pengurus Pusat Ikatan Keluaraga Besar Alumni dan Simpatisan Pondok Pesantren Miftahul Ulum (MPP IKBAS PPMU) Panyeppen Pamekasan gelar Kuliah Umum dalam rangka pembukaan Musyawarah Kubro (MUSKUB) II, Minggu pagi (15/05/16) di Aula SMK Al-Miftah, PPMU Panyeppen, Palengaan, Pamekasan, Madura.

Acara yang dihadiri oleh KH. Muhammad Muddatstsir Badruddin, Pengasuh PPMU Panyeppen tersebut menghadirkan Prof. Dr. KH. M. Ridwan Nasir, MA. Mantan Rektor Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UINSA) Surabaya sebagai pembicara.

Sebelum memasuki kuliah umum, Ketua Yayasan Al-Miftah, KH. Moh. Muhdlar Abdullah membacakan Surat Keputusan (SK) untuk mengukuhkan Prof. Dr. KH. M. Ridwan Nasir, MA. sebagai pembina Yayasan Al-Miftah bidang Pendidikan Tinggi.

"Diharapkan setelah pengukuhan ini, antara Yasayan Al-Miftah dengan bapak Profesor bisa menjalin komunikasi dan silaturahmi yang lebih inten," ujar Ketua Yayasan Al-Miftah setelah membacakan SK.

Setelah pembacaan SK pengukuhan, Pengasuh PPMU Panyeppen kemudian memberikan cendera mata kepada Prof. Dr. KH. M. Ridwan Nasir, MA. sebagai bentuk penghargaan dan ucapan terima kasih.

Dalam fokus pembicaraan yang disampaikan oleh Prof. Ridwan saat mengisi kuliah umum, Ia lebih banyak mengutip tentang kepemimpinan dan dakwah yang dilakukan oleh Rasulullah.

"Alhamdulillah, apa yang disampaikan oleh beliau sesuai dengan permintaan panitia, karena kuliah umum ini mengambil tema Kepemimpinan Rasulullah dalam Upaya Memantapkan Pendidikan dan Dakwah Islamiyah," ujar Sinhaji, Ketua Panitia Pelaksana kepada Pasti Aswaja.(bor/zai)
Share:

Silaturahmi ISHARI Pamekasan-Sampang

Pamekasan - Pasti Aswaja - Pimpinan Cabang (PC) Ikatan Seni Hadrah Indonesia (ISHARI) Nahdlatul Ulama (NU) gelar silaturahmi ISHARI Pamekasan-Sampang, Sabtu malam (14/05/16) di Pondok Pesantren Miftahul Ulum Sekar Anyar, Rombuh, Palengaan, Pamekasan, Madura.

Acara yang rutin dilaksanakan setiap tiga bulan dengan tempat-tempat berbeda tesebut kali ini terlihat istimewa, karena dihadiri oleh KH. Misbahul Munir, Wakil Rois Syuriah dan KH. Taufiq Hasyim, Ketua Tanfidziyah Pengurus Cabang (PC) NU Pamekasan. Hal ini diakui oleh KH. Ali Tohir Yazid, Ketua IHSARI Cabang Pamekasan.

"Sekitar tiga tahun yang lalu, bertepatan dengan tanggal 5 Januari 2014, Pengurus ISHARI Pamekasan dikukuhkan oleh Pimpinan Wilayah ISHARI (Jawa Timur.red) dengan anggota sebanyak 140 orang, tapi baru kali ini kegiatan ISHARI Pamekasan dihadiri langsung oleh Pengurus Cabang NU," jelasnya saat memberikan sambutan.

Menurutnya, kegiatan kali ini sengaja diletakkan di Pondok Pesantren Miftahul Ulum Sekar Anyar, karena tak lain merupakan kediaman Ketua Tanfidziyah Majelis Wakil Cabang (MWC) NU Palengaan, KH. Afifurrahman.

"Semoga dengan ini, ISHARI lebih diperhatikan lagi oleh NU yang merupakan orang tua kami, karena berdasarkan hasil Muktamar NU ke 33 di Jombang, ISHARI secara resmi diakui kembali sebagai Badan Otonom atau BANOM NU," harapnya.

Sementara itu, KH. Misbahul Munir dalam sambutannya menyatakan kebahagiaan, karena ternyata di Pamekasan ISHARI sudah dibentuk.

"Ini merupakan nikmat besar, karena sudah puluhan tahun saya tidak melihat secara langsung kesenian hadrah semacam ini. Oleh karena itu, saya pasrahkan ISHARI ini kepada Pengurus Cabang NU Pamekasan yang baru saja terpilih" jelas pengasuh Pondok Pesantren Miftahul Ulum Kebun Baru tersebut.

Pria usia 42 tahun tersebut mengemukakan dukungannya terhadap kegiatan-kegiatan IHSARI Pamekasan    ke depan.

"Rumah saya siap ditempati kegiatan IHSARI, dan saya juga akan mengutus beberapa anak didik dan alumni Kebun Baru untuk menjadi anggota di dalamnya," tegasnya, disambut tepuk tangan audien.

Sementara itu, KH. Taufiq Hasyim diawal sambutannya menyampaikan permohonan maaf kepada Pimpinan Cabang ISHARI Pamekasan. Pihaknya mengajak kepada seluruh pengurus dan anggota ISHARI Pamekasan untuk selalu berkordinasi dengan PCNU Pamekasan demi lancarnya rangkaian kegiatan yang akan dilaksanakan oleh ISHARI.

"Setelah ini, saya harap pengurus ataupun anggota ISHARI Pamekasan mau menyempatkan waktunya untuk datang ke Sekretarian PCNU Pamekasan, karena walau bagaimanapun tempat itu merupakan rumah kita bersama", jelas alumni Pondok Pesantren Lirboyo Kediri, Jawa Timur tersebut, disambut gemuruh tepuk tangan.(bor/NUm/zai)
Share:

Thursday, May 12, 2016

Perangi Narkoba, PKBI bersama BNN dan POLRES Pamekasan Gelar Sosialisasi.

Pamekasan - Pasti Aswaja Sebagai bentuk antisipasi penyalah gunaan narkoba, Guest House Adikasi Narkoba (GHANA), klinik kespro Gana Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) Pamekasan bekerja sama dengan Badan Narkotika Nasional (BNN) dan kapolres Pamekasan mengadakan sosialisasi dampak bahaya narkoba, Kamis (12/05/16) di Lembaga Pendidikan MTS dan SMA Miftahul Ulum Sumur Tengah Palengaan Laok, Palengaan, Pamekasan.

Acara yang di ikuti oleh Siswa-siswi MTS dan SMA Miftahul Ulum Sumur Tengah ini mengangkat tema "bijak dalam menentukan hidup sehat dan bebas narkoba".

"Dengan sosialisasi ini, Kami ingin memberi pemahaman kepada siswa agar nantinya mereka bisa lebih bijak dalam menghadapi peredaran narkoba yang semakin marak di kalangan pemuda". Tutur Eyoanda, konselor BNN saat di wawancarai di tempat acara.

Rusdiyono, dari PKBI yg sekaligus pemateri pada acara tersebut mengungkapkan bahwa tujuan  kegiatan ini tiada lain untuk membantu secara preventif.

"Maksudnya,pencegahan dan rehabilitatif, yaitu mengadakan rehab kepada para pecandu narkoba," Jelasnya

Ditemui di tempat yang sama, ketua OSIS SMA Miftahul Ulum Sumur Tengah, Masykur Riyadi sangat mengapresiasi adanya sosialisasi ini.

"Ini sangat bermanfaat dan nantinya akan kami adakan tindak lanjut dari acara tersebut," tutrnya.

Sementara itu, Khuzairi kepala sekolah SMA Miftahul Ulum Sumur Tengah berharap dengan adanya sosialisasi bahaya narkoba ini, siswanya bisa antisipasi untuk tidak pernah menyalahgunakan narkoba.

"Harapan saya, dengan adanya acara ini, semoga siswa semakin paham terhadap dampak negatif narkoba dan kemudian, dengan pemahaman itu, siswa bisa antisipasi untuk tidak pernah menggunakannya," tuturnya kepada Pasti Aswaja setetah acara.

Ia meyakini, dengan  penyuluhan ini anak didiknya bisa berfikir dua kali untuk mendekati narkoba.

"Saya yakin siswa-siswi di sini tidak akan pernah memakainya (narkoba.red) ketika mereka sudah memahami dampak dari narkoba ini," pungkasnya.(beb/bor/zai)
Share:

Tuesday, May 10, 2016

Acara Puncak ISOMIL, Shalawat Badar dan "Deklarasi Nahdlatul Ulama"

Jakarta – Pasti Aswaja Kegiatan International Summit of Moderate Islamic Leaders (ISOMIL) telah mencapai puncaknya, Selasa sore (10/05/16). Acara yang digelar di Jakarta Convention Center itu diakhiri pembacaan Shalawat Badar oleh seluruh ulama internasional yang hadir dalam kegiatan bertema "Islam Nusantara, Inspirasi Untuk Peradaban Dunia". Saat shalawat berkumandang, "Deklarasi Nahdlatul Ulama" juga dibacakan oleh Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH. Said Aqil Siradj di hadapan para ulama dari berbagai negara.

Naskah deklarasi tersebut dirumuskan setelah PBNU menggelar pertemuan terbatas dengan para ulama-ulama dunia yang hadir antara lain dari  Sudan, Libia, Aljazair, India, Rusia, Maroko, Thailand, Inggris, Senegal, Lithuania, Spanyol, Yunani, Korea Selatan, Yordan, Pakistan, Malaysia, Tunisia, Saudi Arabia, dan lain-lain.

Berikut naskah lengkap “Deklarasi Nahdlatul Ulama” di ujung forum internasional tersebut:

Deklarasi Nahdlatul Ulama 

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ

“Kami (Allah) tidak mengutus engkau (Muhammad) kecuali sebagai pembawa rahmat bagi semesta” (QS. Al-Anbiya`: 107)

وَلَقَدْ كَرَّمْنَا بَنِي آَدَمَ وَحَمَلْنَاهُمْ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ وَرَزَقْنَاهُمْ مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَفَضَّلْنَاهُمْ عَلَى كَثِيرٍ مِمَّنْ خَلَقْنَا تَفْضِيلًا

“Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan lautan, Kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan” (QS. Al-Isra`: 70)

وَمَا جَعَلَ عَلَيْكُمْ فِي الدِّينِ مِنْ حَرَجٍ 

“Dan Dia sekali-kali tidak menjadikan kesukaran untukmu dalam agama” (QS. Al-Hajj: 78)

إِنَّمَا بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ مَكَارِمَ الْأَخْلَاقِ 

“Sesungguhnya aku diutus hanya untuk menyempurnakan akhlaq yang mulia” (HR. Al-Baihaqi)

إِنَّ اللَّهَ لَمْ يَبْعَثْنِي مُعَنِّتًا وَلا مُتَعَنِّتًا ، وَلَكِنْ بَعَثَنِي مُعَلِّمًا مُيَسِّرً 

“Sesungguhnya Allah tidak mengutusku (Muhammad) sebagai orang yang mempersulit atau memperberat para hamba. Akan tetapi Allah mengutusku sebagai pengajar yang memudahkan (HR. Muslim).

الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ النَّاسُ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ وَالْمُؤْمِنُ مَنْ أَمِنَهُ النَّاسُ عَلَى دِمَائِهِمْ وَأَمْوَالِهِمْ 

“Seorang muslim sejatinya adalah orang yang seluruh manusia selamat dari lisan dan tangannya. Sedang seorang mukmin adalah orang yang mendatangkan rasa aman kepada orang lain dalam darah dan hartanya” (HR. An-Nasai)

إِنَّ اللهَ يُحِبُّ الرِفْقَ فِى الْأَمْرِ كُلِّهِ (متفق عليه)

“Sesungguhnya Allah menyukai kelembutan dalam semua urusan” (Muttafaq ‘Alaih)

الرَّاحِمُونَ يَرْحَمُهُمْ الرَّحْمَنُ ارْحَمُوا مَنْ فِي الْأَرْضِ يَرْحَمْكُمْ مَنْ فِي السَّمَاءِ

“Orang-orang yang menyayangi sesama, Sang Maha Penyayang menyayangi mereka. Sayangilah semua penduduk bumi niscaya penduduk langit akan menyayangimu” (HR. At-Tirmidzi)

قَالَ بْنُ بَطَّالٍ فِيهِ الحَضُّ عَلَى اسْتِعْمَالِ الرَّحْمَةِ لِجَمِيعِ الخَلقِ فَيَدْخُلُ الْمُؤْمِنُ وَالْكَافِرُ وَالْبَهَائِمُ الْمَمْلُوكُ مِنْهَا وَغَيْرُ الْمَمْلُوكِ وَيَدْخُلُ فِي الرَّحْمَةِ التَّعَاهُدُ بِالْإِطْعَامِ وَالسَّقْيِ وَالتَّخْفِيفُ فِي الْحَمْلِ وَتَرْكُ التَّعَدِّي بِالضَّرْبِ 
(انظر ابن حجر العسقلاني، فتح الباري بشرح صحيح البخاري، بيروت-دار المفرفة، 1379هـ، ج، 10، ص. 440)

“Ibnu Baththal berkata: ‘Hadits ini mengandung anjuran kuat untuk bersikap penuh kasih sayang terhadap semua makhluk, baik mukmin maupun kafir, binatang piaraan maupun binatang liar, dan termasuk juga di dalamnya adalah komitmen untuk memberikan bantuan makanan dan minuman (kepada yang membutuhkan), meringankan beban, dan menghindari berbuat kekerasan terhadap seluruh makhluk” (Lihat, Ibnu Hajar al-Asqalani, Fath al-Bari bi Syarhi Shahih al-Bukhari, Bairut-Dar al-Ma’rifah, 1379 H, juz, XI, h. 440) 

مِنَ الْمَعْلُوْمِ اَنَّ النَّاسَ لاَبُدَّ لَهُمْ مِنَ اْلاِجْتِمَاعِ وَالْمُخَالَطَةِ ِلأَنَّ الْفَرْدَ الْوَاحِدَ لاَيُمْكِنُ اَنْ يَسْتَقِلَّ بِجَمِيْعِ حَاجَاتِهِ، فَهُوَ مُضْظَرٌّ بِحُكْمِ الضَّرُوْرَة اِلَى اْلاِجْتِمَاعِ الَّذِيْ يَجْلِبُ اِلَى اُمَّتِهِ الْخَيْرَ وَيَدْفَعُ عَنْهَا الشَّرَّ وَالضَّيْرَ. فَاْلإِتِّحَادُ وَارْتِبَاطُ الْقُلُوْبِ بِبَعْضِهَا وَتَضَافُرُهَا عَلَى اَمْرِ وَاحِدٍ وَاجْتِمَاعُهَا عَلَى كَلِمَةٍ وَاحِدَةٍ مِنْ أَهَمِّ اَسْبَابِ السَعَادَةِ وَاَقْوَى دَوَاعِى الْمَحَبَّةِ وَاْلمَوَدَّةِ. وَكَمْ ِبهِ عُمِّرَتِ البِلاَدُ وَسَادَتِ الْعِبَادُ وَانْتَشَرَ الْعِمْرَانُ وَتَقَدَّمَتِ اْلاَوْطَانُ وَاُسِّسَتِ الْمَمَالِكُ وسُهِّلَتِ المسَاَلِكُ وَكَثُرَ التَّوَاصُلُ اِلَى غَيْرِ ذَلِكَ مِنْ فَوَائِدِ اْلاِتِّحَادِ الَّذِيْ هُوَ اَعْظَمُ الْفَضَائِلِ وَأَمْتَنُ اْلاَسْبَابِ وَالْوَسَائِلِ
 (الرئيس الأكبر لجمعية نهضة العلماء الشيج العالم العلامة هاشم أشعري, مقدمة القانون الأساسي لجمعية نهضة العلماء)

“Telah dimaklumi bahwa manusia niscaya bermasyarakat, bercampur dengan yang lain; sebab tak mungkin seorang pun mampu sendirian memenuhi segala kebutuhan--kebutuhannya. Maka mau tidak mau ia harus bermasyarakat dalam cara yang membawa kebaikan bagi umatnya dan menolak ancaman bahaya dari padanya. Karena itu, persatuan, ikatan batin satu dengan yang lain, saling bantu dalam memperjuangkan kepentingan bersama dan kebersamaan dalam satu kata adalah sumber paling penting bagi kebahagiaan dan faktor paling kuat bagi terciptanya persaudaraan dan kasih sayang. Berapa banyak negara-negara yang menjadi makmur, hamba-hamba menjadi pemimpin yang berkuasa, pembangunan merata, negeri-negeri menjadi maju, pemerintah ditegakkan, jalan-jalan menjadi lancar, perhubungan menjadi ramai dan masih banyak manfaat-manfaat lain dari hasil persatuan merupakan keutamaan yang paling besar dan merupakan sebab dan sarana paling ampuh” (Rais Akbar Jamiyah Nahdlatul Ulama Hadlratussyekh Muhammad Hasyim Asy’ari, Muqaddimah Qanun Asasi)

Nahdlatul Ulama telah merampungkan munaadharah dalam “International Summit of Moderate Islamic Leaders” (Isomil), “Muktamar Internasional Para Pemimpin Islam Moderat”, yang diselenggarakan pada tanggal 9-11 Mei di Jakarta, Indonesia. Setelah berkonsultasi dan berdikusi secara ekstensif bersama banyak ahli dari berbagai bidang yang ikut serta dalam Muktamar ini, Nahdlatul Ulama berbulat hati menyiarkan “Deklarasi Nahdlatul Ulama” sebagai berikut: 
  1. Nahdlatul Ulama menawarkan wawasan dan pengalaman Islam Nusantara kepada dunia sebagai paradigma Islam yang layak diteladani, bahwa agama menyumbang kepada peradaban dengan menghargai budaya yang telah ada serta mengedepankan harmoni dan perdamaian. 
  2. Nahdlatul Ulama tidak bermaksud untuk mengekspor Islam Nusantara ke kawasan lain di dunia, tapi sekadar mengajak komunitas-komunitas Muslim lainnya untuk mengingat kembali keindahan dan kedinamisan yang terbit dari pertemuan sejarah antara semangat dan ajaran-ajaran Islam dengan realitas budaya-budaya lokal di seantero dunia, yang telah melahirkan beragam peradaban-peradaban besar, sebagaimana di Nusanta 
  3. Islam Nusantara bukanlah agama atau madzhab baru melainkan sekadar pengejawantahan Islam yang secara alami berkembang di tengah budaya Nusantara dan tidak bertentangan dengan syari’at Islam sebagaimana dipahami, diajarkan dan diamalkan oleh kaum Ahlussunnah wal Jama’ah di seluruh dunia. 
  4. Dalam cara pandang Islam Nusantara, tidak ada pertentangan antara agama dan kebangsaan. Hubbul watan minal iman: “Cinta tanah air adalah bagian dari iman.” Barangsiapa tidak memiliki kebangsaan, tidak akan memiliki tanah air. Barangsiapa tidak memiliki tanah air, tidak akan punya sejarah. 
  5. Dalam cara pandang Islam Nusantara, Islam tidak menggalang pemeluk-pemeluknya untuk menaklukkan dunia, tapi mendorong untuk terus-menerus berupaya menyempurnakan akhlaqul karimah, karena hanya dengan cara itulah Islam dapat sungguh-sungguh mewujud sebagai rahmat bagi semesta alam (Rahmatan lil ‘Alamin). 
  6. Islam Nusantara secara teguh mengikuti dan menghidupkan ajaran-ajaran dan nilai-nilai Islam yang mendasar, termasuk tawassuth (jalan tengah, yaitu jalan moderat), tawaazun (keseimbangan; harmoni), tasaamuh (kelemah-lembutan dan kasih-sayang, bukan kekerasan dan pemaksaan) dan i‘tidaal (keadilan). 
  7. Sebagai organisasi Ahlussunnah wal Jama’ah terbesar di dunia, Nahdlatul Ulama berbagi keprihatinan yang dirasakan oleh sebagian besar warga Muslim dan non-Muslim di seluruh dunia, tentang merajalelanya ekstremisme agama, teror, konflik di Timur Tengah dan gelombang pasang Islamofobia di Barat. 
  8. Nahdlatul Ulama menilai bahwa model-model tertentu dalam penafsiran Islamlah yang merupakan faktor paling berpengaruh terhadap penyebaran ekstremisme agama di kalangan umat Islam. 
  9. Selama beberapa dekade ini, berbagai pemerintah negara di Timur Tengah telah mengeksploitasi perbedaan-perbedaan keagamaan dan sejarah permusuhan di antara aliran-aliran yang ada, tanpa mempertimbangkan akibat-akibatnya terhadap kemanusiaan secara luas. Dengan cara mengembuskan perbedaan-perbedaan sektarian, negara-negara tersebut memburu soft power (pengaruh opini) dan hard power (pengaruh politik, ekonomi serta militer) dan mengekspor konflik mereka ke seluruh dunia. Propaganda-propaganda sektarian tersebut dengan sengaja memupuk ekstremisme agama dan mendorong penyebaran terorisme ke seluruh dunia. 
  10. Penyebaran ektremisme agama dan terorisme ini secara langsung berperan menciptakan gelombang pasang Islamofobia di kalangan non-Muslim. 
  11. Pemerintahan negara-negara tertentu di Timur Tengah mendasarkan legitimasi politiknya diambil justru dari tafsir-tafsir keagamaan yang mendasari dan menggerakkan ekstremisme agama dan teror. Ancaman ekstremisme agama dan teror dapat diatasi hanya jika pemerintahan-pemerintahan tersebut bersedia membuka diri dan membangun sumber-sumber alternatif bagi legitimasi politik mereka. 
  12. Nahdlatul Ulama siap membantu dalam upaya ini. 
  13. Realitas ketidakadilan ekonomi dan politik serta kemiskinan massal di dunia Islam turut menyumbang pula terhadap berkembangnya ekstremisme agama dan terorisme. Realitas tersebut senantiasa dijadikan bahan propaganda ekstremisme dan terorisme, sebagai bagian dari alasan keberadaannya dan untuk memperkuat ilusi masa depan yang dijanjikannya. Maka masalah ketidakadilan dan kemiskinan ini tak dapat dipisahkan pula dari masalah ektremisme dan terorisme. 
  14. Walaupun maraknya konflik yang meminta korban tak terhitung jumlahnya di Timur Tengah seolah-olah tak dapat diselesaikan, kita tidak boleh memunggungi masalah ataupun berlepas diri dari mereka yang menjadi korban. Nahdlatul Ulama mendesak Pemerintah Indonesia untuk mengambil peran aktif dan konstruktif dalam mencari jalan keluar bagi konflik multi-faset yang merajalela di Timur Tengah. 
  15. Nahdlatul Ulama menyeru siapa saja yang memiliki iktikad baik dari semua agama dan kebangsaan untuk bergabung dalam upaya membangun konsensus global untuk tidak mempolitisasi Islam, dan memarjinalkan mereka yang hendak mengeksploitasi Islam sedemikian rupa untuk menyakiti sesama. 
  16. Nahdlatul Ulama akan berjuang untuk mengonsolidasikan kaum Ahlussunnah wal Jama’ah sedunia demi memperjuangkan terwujudnya dunia di mana Islam dan kaum Muslimin sungguh-sungguh menjadi pembawa kebaikan dan berkontribusi bagi kemaslahatan seluruh umat manusia.
Jakarta, 10 Mei 2016

                              Pengurus Besar Nahdlatul Ulama



Prof. Dr. K.H. Said Aqil Siroj, MA        Dr. Ir. Helmi Faisal Zaini
Ketua Umum                                          Sekretaris Jenderal




Dr. K.H. Ma’ruf Amin                            K.H. Yahya Cholil Staquf 
Rais ‘Aam                                               Katib ‘Aam

Share:

Lailatul Ijtima' NU Pakong dihadiri Ketua PCNU Pamekasan

Pamekasan - Pasti Aswaja - Pengurus Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWC NU) Kecamatan Pakong gelar Pengajian Lailatul Ijtima', Senin malam (09/05/16) di kediaman Ustad Ach Hanif, Pengurus Ranting NU Desa Seddur, Pakong, Pamekasan.

Acara yang rutin dilaksanakan setiap bulan tersebut kali ini dihadiri oleh KH. Taufiq Hasyim, Ketua Tanfidziyah Pengurus Cabang (PC) NU Pamekasan yang baru terpilih

Dalam kesempatannya untuk menyampaikan sambutan, Kaji Tovix, sapaan akrab KH. Taufiq Hasyim menyampaikan tentang tugas yang diemban oleh Nahdliyin (sebutan untuk warga NU).

"Tugas warga NU itu ada dua. Yang pertama, menjaga dan mengawal aqidah ahlussunnah wal jamaah. Ini lebih berat, karena juga berkaitan dengan keyakinan kita. Yang kedua, menjaga keutuhan dan  persatuan Negara Kesatuan Republik Indonesia," terang alumni Pondok Pesantren Haromain, Rosevah, Mekkah yang diasuh oleh Syekh Muhammad Ibn Ismail al-Makki.

Menurut Kiyai Muda yang juga alumni Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri, Jawa Timur tersebut, Nahdliyin juga harus memahami kondisi yang terjadi di Indonesia saat ini.

"Indonesia saat ini menghadapi serangan makar yang tidak mau dengan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945. NU harus terlibat aktif dalam menghentikan gerakan ini (makar.red)," tegas alumni PMII Kediri tersebut.

Sementara itu, Ketua MWC NU Pakong, KH. Zainul Waqud kepada Pasti Aswaja menuturkan bahwa kegiatan rutin tersebut tidak hanya dilatar belakang oleh Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) NU saja.

"Kegiatan ini juga untuk menjalin silaturahmi antar pengurus NU se-Kecamatan Pakong," jelasnya.

Diakuinya, kegiatan rutin yang dilaksanakan setiap bulan tersebut tidak hanya difokuskan pada satu tempat saja dengan diikuti oleh Pengurus Ranting NU se-Kecamatan Pakong dan beberapa Pengurus MWC NU Pakong. 

"Tempatnya pindah-pindah dari ranting ke ranting dan agenda di dalamnya tetap sama, yaitu tahlil dan yasin bersama, serta ditambah dengan ceramah agama," Imbuh pria yang akrab disapa Waqud tersebut.

Hadir pada kesempatan tersebut KH. Ahmad Muzammil  yang diundang khusus oleh pelaksana untuk menjadi penceramah.

Dalam ceramahnya, Wakil Rais Syuriah PCNU Pamekasan tersebut banyak membicarakan tentang pentingnya mengharap barokah dalam setiap pekerjaan.

"Kita berkumpul di pengajian ini akan mendapat barokah, apalagi berkumpul dengan para Ulama'. Insya Allah kita akan mendapatkan hikmah dan barokahnya". Ujarnya yang juga menjabat sebagai Rois MWC NU Pakong.

Dalam lanjutan ceramahnya, pria yang akrab disapa Kiyai Zammi tersebut berpesan kepada seluruh warga NU dan yang masuk struktural NU untuk berani bertanggung jawab. "yang lari dari perjuangan, maka dia akan ketinggalan karena perjuangan akan berjalan terus," terang pria bertubuh gempal tersebut.(bor/zai)
Share:

Monday, May 9, 2016

Atraksi Ekstreme Pendekar Pagar Nusa Dalam ISOMIL

Jakarta – Pasti Aswaja Tiga pendekar Pencak Silat NU Pagar Nusa memasuki area panggung International Summit of Moderate Islamic Leaders (Isomil) di Jakarta Convention Center (JCC), Senin malam (09/05/16).

Ketiganya memperagakan jurus-jurus, hingga tiga rekannya yang lain menyusul dengan membawa tiga butir kelapa hijau berikut nampan dan mejanya. Seorang dari mereka kemudian tampak seperti mengisikan kekuatan pada kelapa, lalu mendekati meja.

Tiba-tiba, meja kosong bekas tempat tiga buah kelapa itu melayang-layang seolah ada yang menggotongnya. Seorang pendekar yang bertugas memegangnya pun berlari terseret mengikuti ayunan meja bertaplak hitam itu. Sontak, ruangan ramai dengan gemuruh tepuk tangan hadirin dari kalangan ulama dalam negeri dan mancanegara.

Tak berhenti di situ, tiga pendekar menampilkan atraksi ekstremnya. Masing-masing menguliti kelapa hanya dengan gigi. Di sela pemandangan tak wajar itu, seorang dari keenam pesilat tersebut maju ke depan dengan membawa borgol.

Borgol disodorkan kepada hadirin. Beberapa ulama luar negeri memeriksa keasliannya dan memastikan bahwa tiada rekayasa, sebelum akhirnya dua belenggu besi itu mengunci dua pergelangan tangan pendekar Pagar Nusa.

Dengan berdiri setengah posisi kuda-kuda, sang pendekar berkomat-kamit sembari mempraktikkan beberapa jurus tangan. Sejenak kemudian ia berteriak, “Allaaaaahu akbar". Borgol rangkap dua pun pecah berkeping-keping.

Suasana atraksi berakhir dengan kejutan saat ketiga pendekar yang dari awal unjuk kesaktian gigi memecah batok kelapa masing-masing. Di dalam tempurung kelapa ternyata terdapat bendera Indonesia, bendera Nahdlatul Ulama, dan bendera berlogo Isomil.

Entah bagaimana proses masuknya ketiga kain itu, yang jelas suara riuh tepuk tangan terdengar semakin keras. Semua tampak bahagia menyaksikan ketiga bendera tersebut dibentangkan. (bor/ahn)
Share:

Home Style

Contact Form

Name

Email *

Message *

Ads

Ads

Latest News

Popular Posts

Blog Archive