Wednesday, May 4, 2016

Aktivis, Jadilah Penerus bukan Pemutus!

Oleh: Gaara Boonk*

Pasti Aswaja Fenomena yang banyak terjadi di kalangan aktivis mahasiswa beberapa tahun terakhir menjadi salah satu penyebab semakin menurunnya minat mahasiswa baru untuk masuk ke dalam organisasi ekstra kampus untuk mendapatkan ilmu tambahan yang tidak ada di meja kuliah. Tulisan singkat ini hasil "kontemplasi" (hehehe) dan pengamatan penulis terhadap realita yang terjadi di kalangan aktivis mahasiswa, khususnya di kabupaten Pamekasan.

Pertama, banyak ditemukan oknum-oknum yang hanya menumpang tenar, demi memudahkan visi dan misinya untuk menggandeng Mahasiswi baru, terlebih yang memiliki paras cukup menawan. Kecelakaan semacam ini disebabkan adanya hegemoni senioritas yang kemudian dijadikan panutan oleh adik-adik tingkatnya untuk mengambil tindakan yang sama.

Memang tidak bisa dipungkiri, penulis pernah sekali mengalami kecelakaan yang tidak sengaja berkenalan dengan salah satu mahasiswi baru (tidak perlu muna, transparansi lebih mudah memberikan solusi). Namun demikian, penulis berkomitmen untuk tidak membawa urusan pribadi yang terlanjur terjadi ke dalam lingkup organisasi. Hasilnya, sekalipun kandas tengah jalan 'tak ada pengaruh sedikitpun terhadap proses yang dijalani dalam berorganisasi. (Curhat sedikit, siapa tahu bisa dijadikan pelajaran sama yang lain. Hehehe)

Kedua, marak terjadi juga aktivis mahasiswa yang hanya sekedar pandai dalam berdialektika, namun kurang memperhatikan etika dan estetika. Pandai dalam bicara dan bersuara, namun sebatas omong kosong belaka. Hal ini disebabkan oleh doktrinasi yang ada di dalamnya, bahwa seorang aktivis harus pandai dan bisa menjadi public speaking.

Sangat disayangkan, jika asumsi semacam ini yang justru dijadikan tolak ukur oleh mahasiswa dalam menikmati prosesnya sebagai aktivis kampus, karena hal demikian bisa menjadi salah satu penyebab adanya dosa turunan, jika suatu ketika memberikan jawaban dari pertanyaan adik tingkatnya yang hanya sesuai dengan esensi diri sendiri, tanpa memperhatikan referensi.

Ketiga, dan ini lebih parah. Banyak aktivis mahasiswa yang memanfaatkan organisasinya sebagai senjata untuk menikam para "penjahat" pemerintah yang memeras hak rakyat, sehingga hal tersebut menghasilkan sesuatu yang dapat mengisi kantongnya sendiri. Hal ini merupakan salah satu cara yang paling berbahaya, karena di dalamnya mempertaruhkan nama besar organisasi dan kelangsungan proses "budidaya" pemegang tongkat estafet dimasa mendatang.

Banyak sebenarnya yang ingin penulis sampaikan dari hasil analisis SWOT yang sudah dilakukan, tapi karena adanya tuntutan etika organisasi dan tulisan ini fokus pada weaknessnya saja, sehingga menyadarkan penulis untuk tidak terlalu banyak mengkritisi tanpa memberikan sebuah solusi yang sangat berarti. 

Semoga hasil iseng ini bisa menjadi pertimbangan bagi para aktivis mahasiswa dalam berproses, sehingga bisa menjadi generasi yang benar-benar loyal dan militan terhadap organisasinya untuk kemudian mendedikasikan diri kepada NKRI, serta menjadi generasi penerus, bukan pemutus generasi bangsa. 

"Akhirnya, Sekali bendera dikibarkan, hentikan ratapan dan tangisan. Mundur satu langka merupakan bentuk penghianatan, mundur dua langkah murtad selama-lamanya."
*Kader PMII Pamekasan
Share:

0 comments:

Post a Comment

Home Style

Contact Form

Name

Email *

Message *

Ads

Ads

Latest News

Popular Posts

Blog Archive