• Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer

Theme Support

Pasti Aswaja's Content

Biografi Singkat KH. Abd. Djalil bin Fadlil Sidogiri

 on Sunday, May 22, 2016  

Membaca Napak Tilas KH. Abd. Djalil Bin Fadlil Sidogiri; Berakhlak Bermartabat*

Pasti Aswaja – Kiai Abd. Djalil lahir dan besar dari keluarga yang agamis. Ayahnya bernama Kiai Fadlil bin Sulaiman bin Ahsan bin Zainal Abidin (Bujuk Cendana), nasabnya bersambung kepada Sayid Qasim (Sunan Drajat) bin Sayid Rahmatullah (Sunan Ampel). Sedangkan ibunya bernama Nyai Syaikhah binti Syarifah Lulu’ binti Sayid Abu Bakar asy-Syatha ad-Dimyathi, pengarang kitab I’ânah ath-Thâlibîn. Jadi, dari jalur ibu, Kiai Abd. Djalil adalah cicit dari pengarang kitab terkenal tersebut.

Abd. Djalil kecil tumbuh dan besar sebagaimana layaknya anak-anak yang lain, bergaul dan akrab dengan teman-temannya. Namun, menurut teman sepermainannya saat masih kanak-kanak, Abd Djalil sudah tampak kewara’annya. Disaat teman-temannya makan tebu atau mencari mangga jatuh, Abd Djalil selalu menghindar tidak mau ikut.

Suatu hari, Kiai Nawawie bin Noerhasan Sidogiri mendapatkan undangan menghadiri walimah di daerah timur Warungdowo, Pasuruan, berdekatan dengan rumah Abd. Djalil muda. Seusai acara Kiai Nawawie bertanya “Mana cucu Sayid Syatha?” Saat itu Abd. Djalil berada di tempat itu. 

“Kamu mondok di Sidogiri, ya?” kata Kiai Nawawie. Abd. Djalil pun mengangguk tanda setuju. Kiai Nawawie menawarkan Abd. Djalil mondok di Sidogiri karena merasa pernah berguru pada buyut Abd. Djalil, Sayid Syatha.

Di Sidogiri, Abd. Djalil dengan gigih dan bersungguh-sungguh mengikuti dan menyimak semua yang diajarkan oleh Kiai Nawawie. Bukan hanya ilmu dalam bentuk teori, akhlak dan pribadi luhur Kiai Nawawie juga membekas kuat dalam membentuk kepribadian Abd. Djalil.

Tidak ada kejelasan berapa tahun Abd. Djalil berguru kepada Kiai Nawawie. Yang jelas, saat mondok di Sidogiri Abd. Djalil sudah cukup alim.

Saat nyantri, sifat wara’ Abd. Djalil juga ditempa dan teruji. Selama di Pondok, ia tidak pernah menginjak sandal teman-temannya. Apalagi ghasab. Bila mau menanak (memasak), sisa kayu bakar milik temannya pasti dibersihkan terlebih dahulu, atau diminta halalnya. Saat menjemur pakaian, jika masih ada pakaian santri lain yang dijemur dan saat itu sudah kering serta tidak ada tempat lain, beliau tidak akan memindah pakaian itu, khawatir si empunya tidak rela.

Membaca cerita kewara’an Kiai Djalil, terbayang sosok yang tampil apa adanya atau berpakaian lusuh. Ternyata tidak. Dalam kesehariaannya, Kiai Djalil selalu berpakaian rapi bahkan terlihat necis. Pakaiannya selalu disetrika. Khususnya ketika akan salat, terlihat seperti orang yang akan melakukan perjalanan jauh. Dalam pandangan Kiai Djalil, sederhana, bukan berarti semrawut.

Di samping sosok yang wara’, Kiai Djalil juga dikenal ketekunannya dalam beribadah. Saat masih mondok, tiap malam beliau hanya tidur satu jam, yakni sekitar pukul 11.00. Jam 12.00 beliau bangun dan terus khusyuk beribadah sampai berjamaah salat Subuh. Ketekunan beliau terus berlanjut hingga beliau berkeluarga. Hanya sejak berkeluarga, tiap malam beliau tidur dua jam.

Setelah beberapa tahun nyantri di Sidogiri, Abd. Djalil bermaksud boyong (berhenti mondok). Nah, saat minta restu Kiai Nawawie, ia ditawari menikah dengan putri beliau, Nyai Hanifah. Dengan persetujuan keluarganya, Abd. Djalil mengiyakan.

Menurut cerita, Kiai Nawawie mengambil menantu Abd. Djalil disamping karena kewara’annya. Juga dilatarbelakangi dengan kejadian yang agak aneh.

Pada suatu malam, ketika semua santri terlelap tidur, Kiai Nawawie sambil wiridan berjalan-jalan melihat keadaan santri. Di tengah deretan bilik yang dilalui, beliau dikejutkan oleh cahaya yang memancar dari salah seorang santri yang sedang tertidur. Namun, karena dalam keadaan gelap, beliau kesulitan untuk mengenali santri yang memancarkan sinar itu. Kiai Nawawie lalu mengikat sarung anak yang memancarkan cahaya tersebut.

Keesokan harinya, sehabis menunaikan salat Subuh berjamaah, Kiai Nawawie bertanya siapa yang terikat sarungnya tadi malam. Ada yang menjawab, “Djalil, Kiai.” Lalu dipanggillah Abd. Djalil ke dalem (rumah) dan ditawari untuk ditunangkan dengan Nyai Hanifah, putri pertamanya.

“Koen dhe’ kene ta’ pe’ mantu, ya’ opo?” (kamu di sini saya jadikan menantu saya, bagaimana?” Abd. Djalil pun mengangguk.

Karena sudah ditunangkan, Kiai Abd. Djalil yang awalnya bermaksud boyong, malah dimondokkan ke Mekah oleh Kiai Nawawie. Di tanah suci itulah ia berguru kepada tokoh ulama ‘allâmah selama dua tahun.

Jumat 25 Syawal 1347 H, Kiai Nawawie wafat, menghadap Allah. Kabar ini pun sampai kepada Kiai Abd. Djalil yang sedang berada di Mekah, dan beliau diminta pulang untuk menggantikan Kiai Nawawie mengasuh Pondok Pesantren Sidogiri.

Awalnya Kiai Djalil keberatan dan meminta Kiai Abd. Adzim (juga menantu Kiai Nawawie) yang diangkat. Namun Kiai Abd. Adzim juga tidak bersedia. Maka akhirnya, Kiai Abd. Djalil menerima amanat berat itu, melanjutkan perjuangan Kiai Nawawie mendidik santri menjadi generasi handal.

Dalam menjalankan tugas sebagai Pengasuh, Kiai Djalil mengikuti pola sekaligus meneruskan tradisi yang telah dirintis oleh Kiai Nawawie. Pengajian kitab yang dibaca Kiai Nawawie dilangsungkan aktif. Khataman kitab Tafsir pada setiap bulan Ramadan juga dilestarikan. Hingga ada ungkapan, “Masa Kiai Djalil tak ubahnya adalah masa Kiai Nawawie.”

Hampir selama 12 tahun Kiai Djalil memangku Sidogiri. Dalam masa itu pula, beliau mempersiapkan putra-putra Kiai Nawawie, yang masih kecil-kecil agar siap menjadi Pengasuh. Praktis, semua putra Kiai Nawawie (KH. Noerhasan, KH. Cholil, KH Siradjul Millah Waddin, KH. Sa’doellah, dan KH. Hasani Nawawie) diasuh dan dibesarkan oleh Kiai Djalil.

Beliau sendiri pernah bilang, “Aku iki duduk Kiai Sidogiri, sing Kiai iku wong limo iku. (Saya ini bukan Kiai Sidogiri, yang jadi Pengasuh ya lima orang itu, putra-putra Kiai Nawawie).”

Ketika menjemur padi, Kiai Djalil berusaha agar padinya tidak berkumpul dengan milik orang lain, takut-takut ada milik orang yang terikut, walaupun hanya satu biji. Jika merasa ada yang tercampur, sekalipun tanpa sengaja, Kiai Djalil akan mengembalikan padi yang tercampur itu semua.

Uang yang dibuat belanja sehari-hari untuk kiai dan keluarganya murni dari hasil jerih payah sendiri. Beliau memperolehnya dari hasil pertaniannya. Uang dari tamu yang sowan ke Kiai Djalil sangat jarang dibuat untuk belanja rumah tangga. Biasanya uang dari tamu itu dibuat untuk membayar ongkos para pekerja atau diberikan kepada orang lain.

Yang menarik dari sikap wara’ beliau ini, Kiai Djalil menyuruh istrinya, Nyai Hanifah, untuk membuat sendiri masakan yang akan dimakan, seperti kecap, petis, tempe, serta bahan-bahan makanan lainnya yang bisa dibuat sendiri. Ibu Nyai Hanifah pernah sedikit proses perihal kehati-hatiannya tersebut, “Abah (Kiai Nawawi bin Noerhasan) saja tidak begitu” kata Nyai. Dengan ringan Kiai Djalil menjawab, “Abah wis wusul, aku durung (Abah sudah wusûl, aku belum).”

Sifat sederhana dan istikamah Kiai Djalil menyebabkan masyarakat sekitar menjadi segan. Tanpa disuruh, kaum perempuan di sekitar Sidogiri merasa malu bila tidak menutup aurat. Sulit menemukan perempuan berjalan sendirian tanpa disertai mahramnya. Bila naik dokar pun, pasti dokarnya selalu tertutup.

Sejak usia baligh sampai wafat, Kiai Djalil hanya satu kali tidak salat berjamaah. Hal ini beliau ungkapkan sendiri kepada santri-santrinya beberapa waktu menjelang wafatnya. Hal ini mengingatkan kita pada tabi’in bernama Said bin Musayyib yang dalam 50 tahun tidak pernah satu kalipun ketinggalan takbiratul ihram bersama Imam.

Awal-awal menjadi Pengasuh Pondok Pesantren Sidogiri, Kiai Djalil melakukan tirakat 7 hari di Batuampar Pamekasan. Selama 7 hari beliau berpuasa dan berbuka hanya dengan separuh pisang, sisanya dibuat makan sahur. Dan setiap harinya menghatamkan al-Qur’an.
* Disarikan dari; buku "Jejak Langkah 9 Masyayikh Sidogiri (1)". Sidogiri Penerbit.
Source: LAZ Sidogiri

Biografi Singkat KH. Abd. Djalil bin Fadlil Sidogiri 4.5 5 Pasti Aswaja Sunday, May 22, 2016 Membaca Napak Tilas KH. Abd. Djalil Bin Fadlil Sidogiri; Berakhlak Bermartabat* Pasti Aswaja –  Kiai Abd. Djalil lahir dan besar dar...


No comments:

Post a Comment

Pasti Aswaja. Powered by Blogger.
J-Theme