Friday, July 29, 2016

Kisah Khatib Jumat dan Kiyai Maslah

Kisah Khatib Jumat dan Kiyai Maslah

Baca Juga

Pasti Aswaja — Dalam khutbah di suatu masjid, si khotib menyirikkan amaliah orang-orang NU, meng-khurofatkan-nya pula, dan tentu membid’ahkannya pula. “tidak ada bid’ah hasanah, semua bid’ah sesat, segala yang sesat aka nada di neraka”, Kyai Maslah menirukan si khotib saat berkhutbah.

Setelah shalat jum’at selesai, Kyai Maslah mengajak duduk bersama dengan si khotib tadi itu untuk berdialog tentang materi khutbah.

“Mas, khutbah anda jos mas, saya acungin jempol,” Kyai Maslah membuka obrolan. Kyai berkata kepada si khotib,” tapi sayang mas, anda itu khutbahnya memakai Bahasa Indonesia. Apakah dulu Rasullah itu berkhutbah memakai Bahasa Indonesia?”.

” Ya, saya rasa tidak”, si khotib menjawab yang sepertinya mungkin dengan sedikit khawatir ia akan dituduh melakukan bid’ah juga, sehingga bertentangan dengan materi khutbahnya tadi.

Kyai Maslah melanjutkan,” lalu kenapa anda itu berkhutbah memakai Bahasa Indonesia? Mana Qur’annya? Mana haditsnya?”

Si khotib tidak bisa menjawab pertanyaan Kyai Maslah, sehingga ia gemroyos keringet. Karena merasa kasihan, akhirnya Kyai Maslah menjelaskan tentang kebolehan berkhutbah bahasa Indonesia dengan disertai dalilnya.

Pada akhirnya pula, Kyai Maslah menjelaskan tentang amaliah-amilah NU yang dibid’ahdhlalahkan oleh si khotib dalam khutbahnya tadi. Kyai Maslah membantah kalau amaliah-amaliah NU itu dituduh bid’ah. Semua itu ada dalilnya.
Source: Zahra Alhabsyi (facebook)
Share:

0 comments:

Post a Comment

Home Style

Contact Form

Name

Email *

Message *

Ads

Ads

Latest News

Popular Posts

Blog Archive