• This is default featured slide 1 title

    Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

  • This is default featured slide 2 title

    Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

  • This is default featured slide 3 title

    Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

  • This is default featured slide 4 title

    Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

  • This is default featured slide 5 title

    Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Monday, August 22, 2016

Bentengi NKRI, PAC GP Ansor Proppo Gelar Orasi Kebangsaan

Pamekasan — Pasti Aswaja Pimpinan Anak Cabang Gerakan Pemuda (PAC GP) Ansor Kecamatan Proppo, Pamekasan, Jawa Timur menggelar orasi kebangsaan, Senin (22/08/16). Kegiatan ini merupakan rangkaian dari pelantikan pengurus PAC GP Ansor Kecamatan Proppo.

Moh. Elman, Ketua PAC GP Ansor Proppo, dalam sambutannya menyampaikan bahwa dipilihnya orasi kebangsaan dalam pelantikan itu karena masih dalam nuansa HUT RI ke-71.

Selain itu, menurut alumni PMII Pamekasan ini, kegiatan tersebut juga bertujuan untuk membendung gerakan-gerakan anti NKRI, "sekarang ini marak organisasi-organisasi yang mengaharamkan hormat kepada bendera Merah-Putih, mengharamkan Pancasila, anti NKRI," katanya penuh semangat. "GP Ansor Proppo siap membentengi NKRI," pungkasnya.

Berkenaan dengan kegiatan yang dimulai jam 08:35 itu, camat Proppo sangat bahagia dan sangat mengapresiasi, "semoga dengan dilantiknya pengurus GP Ansor ini dapat memberikan kontribusi bagi kemajuan Kecamatan Proppo dalam segala sektor," katanya penuh harap.

Hadir dalam kegiatan yang dilaksanakan di Pendopo Kecamatan Proppo itu Kasdim 0826 Pamekasan sebagai orator, Kapolsek Proppo, Camat Proppo, kiai-kiai NU sepuh kecamatan Proppo, MWC NU Proppo dan pengurus PR GP Ansor se-Proppo. (ahn)
Share:

Peran Kaum Santri Bagi Kemerdekaan Indonesia

Oleh: HM. Jailani*

Pondok pesantren itu sejak awal didirikan di samping untuk mendalami ilmu agama juga ada misi melawan dan mengusir penjajah dari bumi pertiwi. Beda dengan sekolah umum, di Indonesia tidak sedikit sekolah umum yang justru  didirikan oleh penjajah untuk kepentingan penjajah juga.

Di tanah Jawa ini, yang paling ditakuti oleh penjajah Belanda adalah kaum santri. Salah satu contoh fakta sejarah —mari pembaca telusuri— dari ketiga orang santri berikut ini:

Pertama, ada seorang santri, namanya Abdul Hamid. Ia lahir di Dusun Tegalrejo, Kecamatan Tegalrejo, Yogyakarta. Mondok pertama kali di Tegalsari, Jetis, Ponorogo kepada KH. Hasan Besari. KH. Hasan Besari adalah peletak dasar pendirian Pesantren Gontor.

Abdul Hamid ngaji kitab kuning kepada Kiai Taftazani Kertosuro. Ngaji Tafsir Jalalain kepada KH. Baidlowi Bagelen yang dikebumikan di Glodegan, Bantul, Jogjakarta. Terakhir Abdul Hamid ngaji ilmu hikmah kepada KH. Nur Muhammad Ngadiwongso, Salaman, Magelang. Abdul Hamid sangat berani dalam berperang melawan penjajah Belanda selama 5 tahun (1825-1830 M).

Abdul Hamid wafat dan dikebumikan di Makassar, dekat Pantai Losari. Abdul Hamid adalah putra Sultan Hamengkubuwono ke-III.

Abdul Hamid patungnya memakai jubah dipasang di Alun-alun kota Magelang. Menjadi nama Kodam dan Universitas di Jawa Tengah. Terkenal dengan nama Pangeran Diponegoro.

Belanda resah menghadapi perang Diponegoro. Dalam kurun 5 tahun itu, uang kas Hindia Belanda habis, bahkan punya banyak hutang luar negeri. Nama aslinya Abdul Hamid. Nama populernya Diponegoro.

Adapun nama lengkapnya adalah Kiai Haji (KH) Bendoro Raden Mas Abdul Hamid Ontowiryo Mustahar Herucokro Senopati Ing Alogo Sayyidin Pranotogomo Amirul Mu’minin Khalifatullah Tanah Jawi Pangeran Diponegoro Pahlawan Goa Selarong.

Jika pembaca  pergi ke Magelang dan melihat kamar Diponegoro di eks-Karesidenan Kedu —istilah sekarang di Bakorwil— di situ ada tiga peninggalan Diponegoro yaitu: al-Quran, Tasbeh dan Taqrib (kitab Fath al-Qarib). Ini bukti yang tidak terbantahkan bahwa beliau adalah benar benar santri sejati.

Dua, Ki Hajar Dewantara (Suwardi Suryaningrat) itu adalah santri. Tidak hanya Diponegoro anak bangsa yang dididik para ulama menjadi tokoh bangsa.

Di antaranya, di Jogjakarta ada seorang kiai bernama Romo Kiai Sulaiman Zainudin di Kalasan Prambanan. Beliau punya santri banyak, salah satunya bernama Suwardi Suryaningrat.

Suwardi Suryaningrat ini kemudian oleh pemerintah diangkat menjadi Bapak Pendidikan Nasional yang terkenal dengan nama Ki Hajar Dewantara.

Jadi, Ki Hajar Dewantara itu santri, ngaji, murid seorang kiai. Sungguh amat sayang, sejarah Ki Hajar mengaji al-Quran tidak pernah diterangkan di Sekolah-sekolah umum,  yang diterangkan hanya "ing ngarso sung tulodo, ing madyo mangun karso, tut wuri handayani"Itu sudah baik, namun belum komplit. Belum utuh. Sehingga siapa Ki Hajar yang sebenarnya tidak banyak di ketahui oleh murid.

Maka untuk itu rekan-rekan guru, mohon diterangkan bahwa Ki Hajar Dewantara selain punya ajaran "tut wuri handayani", juga punya ajaran al-Quran Al-Kabir dan al-sunnah.

Tiga, Sayyid Husein al-Mutahhar adalah cucu nabi yang patriotis. Malah-malah, ketika Indonesia merdeka, ada sayyid warga Kauman Semarang yang mengajak bangsa kita untuk bersyukur.

Sang Sayyid tersebut menyusun lagu Syukur. Dalam pelajaran Sekolah Dasar disebutkan Habib Husein al-Mutahar yang menciptakan lagu Syukur.

Beliau adalah Pakdenya Habib Umar Muthahar SH Semarang. Jadi, yang menciptakan lagu Syukur —yang kita semua hafal— adalah seorang sayyid, cucu baginda Nabi Saw. Mari kita nyanyikan bersama-sama:

Dari yakinku teguh
Hati ikhlasku penuh
Akan karuniaMu
Tanah air pusaka
Indonesia merdeka
Syukur aku sembahkan
Ke hadiratMu, Tuhan

Lagu itu disusun oleh cucu Nabi, Sayyid Husein Muthahar, warga Kauman Semarang. Akhirnya oleh pemerintah waktu itu diangkat menjadi Dirjen Pemuda dan Olahraga.

Terakhir oleh pemerintah dipercaya menjadi Duta Besar di Vatikan, negara yang berpenduduk Katholik.

Di Vatikan, Habib Husein tidak larut dengan kondisi, malah justru membangun masjid. Hebat.

Malah-malah, Habib Husein Muthahar menyusun lagu yang hampir se-Indonesia hafal semua.

Suatu ketika Habib Husein Muthahar sedang duduk, lalu mendengar adzan shalat Dzuhur.

Sampai pada kalimat "hayya 'alasshalâh", terngiang suara adzan. Sampai sehabis shalat berjamaah, masih juga terngiang.

Akhirnya hatinya terdorong untuk membuat lagu yang cengkoknya mirip adzan, ada “S”nya, “A”nya, “H”nya. Kemudian pena berjalan, tertulislah:

17 Agustus tahun 45
Itulah hari kemerdekaan kita
Hari merdeka Nusa dan Bangsa
Hari lahirnya Bangsa Indonesia
Merdeka
Sekali merdeka tetap merdeka
Selama hayat masih di kandung badan
Kita tetap setia, tetap setia
Mempertahankan Indonesia
Kita tetap setia, tetap setia
Membela Negara kita.

Maka peran para kiai dan para sayyid tidak sedikit dalam pembinaan patriotisme bangsa.

Jadi, Anda jangan ragu jika hendak mengirim anak-anak Anda ke pondok pesantren.

Malahan, Bung Karno, ketika mau membaca teks proklamasi di Pegangsaan Timur, Jakarta, minta didampingi putra kiai.

Tampillah putra seorang kiai, dari kampung Batuampar, Mayakumbung, Sumatera Barat. Siapa beliau?

H. Mohammad Hatta putra seorang kiai. Bung Hatta adalah putra Ustadz Kiai Haji Jamil, Guru Thariqah Naqsyabandiyyah Kholidiyyah.

Sayang, sejarah Bung Hatta sebagai seorang putra kiai dan putra penganut thariqah tidak pernah dijelaskan di sekolah, yang diterangkan hanya Bung Hatta sebagai Bapak Koperasi.

Mulai sekarang, mari kita terangkan sejarah dengan utuh. Jangan sekali-kali memotong sejarah.

Jika Anda memotong sejarah, suatu saat, sejarah Anda akan dipotong oleh  Allah Swt.

Akhirnya, Bung Hatta menjadi Wakil Presiden pertama.

Coba pembaca pelajari tentang resolusi jihad (wajib perang melawan penjajah), pasti semakin paham bahwa peran kiai dan kaum santri sangat besar dalam meraih kemerdekaan ini. Maka, jangan berkecil hati mengirim putra-putri Anda ke Pondok-pesantren.

Semoga bermanfaat. Amin.
*Mantan staf BATARTAMA ATM Pondok Pesantren Sidogiri.
Share:

Sunday, August 21, 2016

Setan Juga Takut Istri Cerewet


Pasti Aswaja Alkisah ada seorang suami yang penyabar, sedangkan istrinya bertabiat cerewet, ketus dan suka marah.

Karena suaminya tidak tahan atas cerewetnya, pada suatu pagi hari suaminya mendorong istrinya ke sumur yang tidak begitu dalam.

Pada siang hari, suami berkata dalam hati "enaknyaaaa... Nggak ada yg marah-marah".

Sore harinya sang suami masih menikmati ketenangansuasana.

Saat malam tiba, sang suami mulai gelisah. Lalu memutuskan untuk mengeluarkan istrinya dari dalam sumur.

Setelah melemparkan tali, suaminya berkata: "Istriku yang cantik, maafkan aku, aku khilaf, kita ini saling melengkapi, keluarlah sayang. Aku kangen banget. Yuk."

Talipun bergerak perlahan, tiba-tiba dari bibir sumur muncullah sesosok orang tua dengan jenggot dan rambut putih panjang dan sangat menakutkan.

Suami: "siapa lu???"

Sosok: "gua jin penunggu sumur!"

Suami: "mana bini gua? Gua rindu padanya, lu apain dia??!"

Sosok: "bini lu baik-baik aja di dalam sumur."

Suami: "lalu ngapain lu yang muncul dari dalam sumur??"

Sosok: Gua nggak tahan di dalam sumur, soalnya gua nggak tahan dengerin omelan bini lu!!!"

Suami dalam hati: "hehehe... Kalau begitu sama. Tapi sekarang aku kangen sama istriku."
Source: facebook
Share:

Saturday, August 20, 2016

Alami Kecelakaan di Tol Cipali, Buya Yahya Masuk RS

Cirebon — Pasti Aswaja Pengasuh Pondok Pesantren Al–Bahjah Sendang Cirebon, KH. Yahya Zainal Ma’arif atau yang akrab dipanggil Buya Yahya, sedang menjalani perawatan di RS. Mitra Plumbon karena kecelakaan yang dialaminya di jalan Tol Cipali, Sabtu (20/8) pukul 03.00.

Menurut informasi, kendaraan putih yang ditumpangi Buya Yahya bersama sang istri, Umi Fairuz Ar-Rahbini, menabrak truk dari belakang hingga bagian depan mobil ringsek berat.

Untuk mendapatkan pertolongan dan perawatan intensif, Buya Yahya dan Umi Fairuz langsung dilarikan ke RS. Mitra Plumbon.

Menurut status fanspage Buya Yahya, kondisi pengasuh Al-Bahjah TV itu sekarang sudah membaik meskipun masih membutuhkan cukup istirahat untuk proses penyembuhan.

Tidak sedikit masyarakat Cirebon yang terkejut mendengar kecelakaan yang menimpa alumni Universitas Al-Ahqaf Yaman itu.

Ucapan kesembuhan juga disampaikan oleh Sekretaris Kecamatan Kapetakan, H. Anwar Sadat, MSi, “mohon kita semua berdoa untuk kesembuhan Buya Yahya,” katanya, seperti dikutip Radar Cirebon.

Ucapan yang sama disampaikan juga oleh Ketua Yayasan Santa Maria Cirebon, Arlbertine, “semoga cepat diberi kesembuhan,” katanya. (ahn)
Share:

Thursday, August 18, 2016

"Dialog" Dengan Hadhratus Syaikh KH. Hasyim Asy'ari

Oleh: KH. A. Musthofa Bisri (Pengasuh Pon. Pes. Raudlatut Thalibin, Leteh, Rembang)

Ungkapan saya ‘berkangen-kangenan’ mungkin kurang tepat meskipun sekadar imajiner, karenanya saya beri tanda kutip. Soalnya yang kangen hanya saya dan saya tidak ‘menangi’ (pernah bertemu-red) tokoh yang saya kangeni itu. Dari apa yang saya dengar tentang Hadhratus Syaikh dan rekaman-rekaman buah pikiran beliau yang berhasil saya kumpulkan sampai saat ini, saya memperoleh gambaran yang demikian jelas mengenai Bapak NU ini sehingga seolah-olah saya ‘menangi’ beliau.

Ketika saya, baru-baru ini dihadiahi oleh Kiai Muchith Muzadi sebuah copy kitab susunan Sayyid Muhammad Asad Syihab (cetakan Beirut) berjudul “al-‘Allamah Muhammad Hasyim Asy’ari Waadhi’u Labinati Istiqlali Indonesia” (Mahakiai Muhammad Hasyim Asy’ari Peletak Batu Pertama Kemerdekaan Indonesia) dan dua khutbah Hadhratus Syaikh, ‘kangen’ saya pun kian menjadi-jadi.

Keinginan untuk melakukan wawancara imajiner dengan beliau pun tidak bisa saya ‘empet’ (tahan-red). Tiba-tiba saya sudah berada dalam majelis yang luar biasa itu. Suatu halaqah raksasa yang menebarkan wibawa bukan main mendebarkan. Kalau saja tidak karena senyum-senyum lembut yang memancar dari wajah-wajah jernih sekalian yang hadir, niscaya saya tak akan tahan duduk di majelis ini. Mereka yang duduk berhalawah dengan anggun di sekeliling saya tampak bagaikan sekelompok gunung yang memberikan rasa teduh dan damai. Sehingga rasa ‘ngeri’ dan gelisah saya berkurang karenanya. 

Begitu banyak wajah ratusan atau bahkan ribuan memancarkan cahaya, menyinari majelis, ada yang sudah saya kenal secara langsung atau melalui foto dan cerita-cerita, ada yang sebelumnya hanya saya kenal namanya dan masih banyak lagi yang namanya pun tidak saya ketahui. “Itu tentu Kiai Abdul Wahab Hasbullah!” Wajahnya yang kecil masih tetap berseri-seri menyembunyikan kekuatan yang tak terhingga.

Duduk di sampingnya Kiai Bishri Syansuri, Kiai Raden Asnawi Kudus, Kiai Nawawi Pasuruan, Kiai Ridhwan Semarang, Kiai Maksum Lasem, Kiai Nahrowi Malang, Kiai Ndoro Munthah Bangkalan, Kiai Abdul Hamid Faqih Gresik, Kiai Abdul Halim Majalengka (salah seorang perintis PUI), Kiai Ridhwan Abdullah, Kiai Mas Alwi Abdul Aziz dan Kiai Abdullah Ubaid dari Surabaya.

Yang pakai torpus tinggi itu tentu Syaikh Ahmad Ghanaim al-Mishri dan yang disampingnya itu Syaikh Abdul ‘Alim ash-Shiddiqi. “Oh, itu Kiai Saleh Darat, Kiai Subki Parakan, Kiai Abbas Abdul Jamil Buntet, Kiai Ma’ruf Kediri, Kiai Baidlowi Lasem, Kiai Dalhar Magelang, Kiai Amir Pekalongan, Kiai Mandur Temanggung!” kembali batinku memekik. 

Yang asyik berbisik-bisik itu pastilah Kiai Abdul Wahid Hasyim dan Kyai Mahfudz Shiddiq, Kiai Dahlan dan Kiai Ilyas. Saya melihat juga Kiai Sulaiman Kurdi Kalimantan, Sayyid Abdullah Gathmyr Palembang, Sayyid Ahmad al-Habsyi Bogor, Kiai Djunaidi dan Kiai Marzuki Jakarta, Kiai Raden Adnan dan Kiai Mayud Sala, Kiai Mustain Tuban, Kiai Hambali dan Kiai Abdul Jalil Kudus, Kiai Yasin Banten, Kiai Manab Kediri, Kiai Munawwir Jogja, Kiai Dimyati Termas, Kiai Cholil Lasem, Kiai Cholil Rembang, Kiai Saleh Tayu, Kiai Machfud Sedan, Kiai Zuhdi Pekalongan, Kiai Maksum Seblak, Kiai Abu Bakar Palembang, Kiai Dimyati Pemalang, Kiai Faqihuddin Sekar Putih, Kiai Abdul Latif Cibeber, Haji Hasan Gipo, Haji Mochtar Banyumas, Kiai Said dan Kiai Anwar Surabaya, Kiai Muhammadun Pondohan , Kiai Siradj Payaman, Kiai Chudlori Tegalrejo, Kiai Abdul Hamid Pasuruan, Kiai Badruddin Honggowongso Salatiga, Kiai Machrus Ali Lirboyo, Kiai, Kiai… 

Di tengah-tengah lautan kiai dan tokoh-tokoh NU itu, Hadhratus Syaikh bersila dengan agung, dengan wajah teduh yang senantiasa tersenyum. Namun, betapa pun jernih wajah-wajah meraka, saya masih melihat sebersit keprihatinan yang getir. Karenanya pertanyaan pertama yang saya ajukan setelah berhasil mengalahkan rasa rendah diri yang luar biasa adalah, “Hadhratus Syaikh, saya melihat Hadhratus Syaikh dan sekalian masyayikh yang berada di sini begitu murung. Bahkan di kedua mata Hadhratus Syaikh yang teduh, saya melihat air mata yang menggenang. Apakah dalam keadaan yang damai dan bahagia begini, masih ada sesuatu yang membuat Hadhratus Syaikh dan sekian masyayikh berprihatin? Apakah gerangan yang diprihatinkan?” 

Hampir serentak, Hadhratus Syaikh dan sekian masyayikh tersenyum. Senyum yang sulit saya ketahui maknanya. Tampaknya Kiai Abdul Wahab Hasbullah sudah akan menjawab pertanyaan saya, tapi buru-buru Hadhratus Syaikh memberi isyarat dengan lembut. Ditatapnya saya dengan senyum yang masih tersungging, seolah-olah beliau hendak membantu mengikis kegelisahan saya akibat wibawa yang mengepung dari segala jurusan. Baru kemudian beliau berkata dengan suara lunak namun jelas. “Cucuku, kau benar. Kami semua di sini, Alhamdulillah hidup dalam keadaan damai dan bahagia. Seperti yang kau lihat, kami tidak kurang suatu apa. Kalau ada yang memprihatinkan kami, itu justru keadaan kalian. Kami selalu mengikuti terus apa yang kamu lakukan dengan dan dalam jam’iyyah yang dulu kami dirikan. Kami sebenarnya berharap, setelah kami, jam’iyyah ini akan semakin kompak dan kokoh. Akan semakin berkembang. Semakin bermanfaat bagi agama, nusa dan bangsa. Semakin mendekati cita-citanya. Untuk itu kami telah meninggalkan bekal yang cukup. Ilmu yang lumayan, garis yang jelas dan tuntunan yang gamblang.” 

“Jam’iyyah ini dulu kami dirikan untuk mempersatukan ulama Ahlussunnah wal Jama’ah dan pengikutnya, tidak saja dalam rangka memelihara, melestarikan, mengembangkan dan mengajarkan ajaran Islam Ahlussunnah wal Jama’ah, tetapi juga bagi khidmah kepada bangsa, negara dan umat manusia.” 

“Sebenarnya kami sudah bersyukur bahwa khittah kami telah berhasil dirumuskan dengan jelas dan rinci sehingga generasi yang datang belakangan tidak kehilangan jejak para pendahulunya. Dengan demikian, langkah-langkah perjuangan semakin mantap. Tapi kenapa rumusan itu tidak dipelajari dan dihayati secara cermat untuk diamalkan? Kenapa kemudian malah banyak warga jam’iyyah yang kaget, bahkan seperti lepas kendali? Satu dengan yang lain, saling bertengkar dan saling mencerca. Tidak cukup sekadar berbeda pendapat (ikhtilaf), saling ‘ungkur-ungkuran’ (tadabur), bahkan saling memutuskan hubungan (tawathu’). Padahal mereka, satu dengan yang lain bersaudara. Sebangsa. Setanah-air. Se-agama. Se-Ahlussunah wal Jama’ah. Se-jam’iyyah.” 

“La haula wala quwwata illa billah…”, gumam semua yang hadir serempak, membuat tunduk saya semakin dalam. Saya merasakan berpasang-pasang mata menghujam ke diri saya bagai pisau-pisau yang panas. Sementara Hadhratus Syaikh melanjutkan masih dengan nada yang lembut, penuh kebapakkan. “Yang sedang bertikai itu sebenarnya masing-masing sedang membela kemuliaan apa? Mempertahankan prinsip apa? Sehingga begitu ringan mengorbankan prinsip persaudaraan yang agung?” 

“Sejak awal saya kan sudah memperingatkan, baik dalam Muqaddimah al-Qanuun al-Asasi maupun di banyak kesempatan yang lain, akan bahayanya perpecahan dan pentingnya menjaga persatuan. Dengan perpecahan tak ada sesuatu yang bisa dilakukan dengan baik. Sebaliknya dengan persatuan, tantangan yang bagaimana pun beratnya Insya Allah akan dapat diatasi.” 

“Perbedaan pendapat mungkin dapat meluaskan wawasan, tetapi tabaghudh, tahasud, tadabur dan taqathu’, apapun alasannya hanya membuahkan kerugian yang besar dan dilarang oleh agama kita.” 

“Kalau di dalam organisasi, tabaghudh, tahasud, tadabur dan taqathu’ itu merupakan malapetaka. Maka apa pula itu namanya jika terjadi dalam tubuh organisasi ulama dan para pengikutnya?” Hadhratus Syaikh menarik nafas panjang, diikuti serentak oleh ribuan gunung kiai. Suatu tarikan nafas yang disusul gemuruh dzikir dalam nada keluhan, “La haula wala quwwata illa billah…” 

Saya sedang mengumpulkan kebenaran untuk mengatakan kepada Hadhratus Syaikh bahwa warga jam’iyyah baik-baik saja. Kalaupun ada sedikit ketegangan itu wajar, kini sudah membaik tak ada yang perlu diprihatinkan. Ketika beliau berkata, “Engkau tidak perlu menutup-nutupi keadaan yang sebenarnya. Kami tahu semuanya. Mungkin keadaan yang sebenarnya tidak separah yang tampak oleh kami. Namun yang tampak itu sudah membuat kami prihatin. Kami ingin khidmah yang dilakukan oleh jam’iyyah ini sebanding dengan kebesarannya.” 

“Lalu apa nasphat Hadhratus Syaikh?” pertanyaan ini meluncur begitu saja tanpa saya sadari.

“Nasihatku, lebih mendekatlah kepada Allah. Bacalah lagi lebih cermat khittah jam’iyyah. Pahami dan hayati maknanya, lalu amalkan! Waspadalah terhadap provokasi kepentingan sesaat! Itu saja.” 

Mendengar nasihat singkat itu, tanpa saya sadari, saya melayangkan ke wajah-wajah jernih berwibawa di sekeliling saya. Semuanya mengangguk lembut seolah-olah meyakinkan saya bahwa nasihat Hadhratus Syaikh itu tidaklah sesederhana yang saya duga. 

“Dan belajarlah berbeda pendapat!” seru sebuah suara yang ternyata adalah suara Kiai Abdul Wahid Hasyim. “Berbeda pendapat dengan saudara adalah wajar. Yang tidak wajar dan sangat kekanak-kanakan adalah jika perbedaan pendapat menyebabkan permusuhan di antara sesama saudara.” 

Sekali lagi semuanya mengangguk-angguk lembut. Saya tidak bisa dan tidak ingin lagi meneruskan wawancara. Saya hanya menunggu. Ingin lebih banyak lagi nasihat. Tapi yang saya dengar kemudian adalah ayat al-Quran yang dibaca dengan khusyuk oleh –masya Allah- Kiai Abdul Wahab Hasbullah.

وَاصْبِرْ نَفْسَكَ مَعَ الَّذِينَ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ بِالْغَدَاةِ وَالْعَشِيِّ يُرِيدُونَ وَجْهَهُ ۖ وَلَا تَعْدُ عَيْنَاكَ عَنْهُمْ تُرِيدُ زِينَةَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا ۖ وَلَا تُطِعْ مَنْ أَغْفَلْنَا قَلْبَهُ عَنْ ذِكْرِنَا وَاتَّبَعَ هَوَاهُ وَكَانَ أَمْرُهُ فُرُطًا

“Dan bersabarlah kamu bersama orang-orang yang menyeru Tuhan mereka di pagi dan petang hari mengharapkan keridhaanNya dan jangan palingkan kedua matamu dari mereka karena mengharap gemerlap kehidupan dunia ini dan jangan ikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingat Kami dan menuruti hawa nafsunya serta adalah keadaannya melampaui batas.” 

Dan dengan berakhirnya bacaan ayat 28 al-Kahfi itu, saya tak mendengar lagi kecuali dzikir dan dzikir yang gemuruhnya serasa hendak mengoyak langit.
(Diedit ulang dari Keluarga Mahasiswa Nahdlatul Ulama) 
Source: Pustaka Muhibbin
Share:

Wednesday, August 17, 2016

Upacara Bendera Awali Lomba Agustusan di MTLS Panyeppen

Pamekasan — Pasti Aswaja Jam 07:30 santri-santri cilik Ma'had Tibyan li al-Shibyan (MTLS) usia 7 sampai 8 tahun berbaris rapi di halaman SMP Terpadu Al-Miftah Pondok Pesantren Miftahul Ulum (PPMU) Panyeppen, Palengaan, Pamekasan. Dengan mengenakan baju putih dan sarung warna hijau, anak-anak ini rela berpanas-panasan untuk mengikuti upacara bendera dalam rangka memperingati HUT RI ke-71, Rabu (17/08/16). Bertindak sebagai pembina upacara, Ust. Wadi al-Salam, Kepala Bidang Pendidikan PPMU Panyeppen.

Upacara bendera tersebut sekaligus pembukaan perlombaan khas 17 Agustus-an. Berbagai jenis lomba yang dilombakan: jalan-jalan santai, gerak jalan dan baris berbaris, pidato dan nadzam berirama.

Abdullah Sa'ien, salah satu pengurus MTLS, menuturkan kegiatan itu bertujuan untuk menanamkan jiwa nasionalisme sejak dini bagi para santri.

"Santri merupakan garda terdepan dalam memperjuangkan dan mempertahankan kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia ini. Oleh karena itu, wajib ditanamkan nilai-nilai nasionalisme ke dalam jiwa santri sejak dini," jelas Abdullah. "KH. Wahid Hasyim adalah santri, KH. Wahab Chasbullah adalah santri, Bung Tomo adalah santri. Jadi, bagi santri, NKRI adalah harga mati," lanjutnya.

Untuk diketahui, MTLS adalah salah satu asrama di PPMU Panyeppen dengan program khusus untuk santri usia 7 sampai 8 tahun. Tapi, pengurus pesantren juga menerima dalam masa sekolah yang ingin mengikuti program khusus ini. (zai/ahn)
Share:

71 Tahun Indonesia, PK.PMII UNIRA Gelar Lomba Kemerdekaan

Pamekasan — Pasti Aswaja — Pengurus Komisariat Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia Universitas Madura (PK. PMII UNIRA) Pamekasan rayakan hari kemerdekaan Republik Indonesia ke-71 dengan menggelar Lomba Kemerdekaan, Rabu pagi (17/08/16) di sisi utara Monumen Arek Lancor Pamekasan.

Ketua Komisariat PMII Unira (kiri) melawan ketua umun PC PMII Pamekasan (kanan) mengawali perlombaan lari karung.
Acara yang diikuti oleh Pengurus Rayon, Kader dan Anggota PMII se-UNIRA tersebut dilaksanakan untuk mengenang sejarah kemerdekaan Indonesia. Hal ini sebagaimana diungkapkan oleh Samsul Arifin, Ketua Komisariat PMII UNIRA Pamekasan.


"Hari ini merupakan hari kemerdekaan Indonesia ke 71, yang mana kemerdekaan itu merupakan suatu hasil perjuangan dan bebas dari belenggu," jelasnya, saat memberikan sambutan dalam pembukaan acara.

Pria yang akrab disapa Gerrard tersebut mengharapkan adanya kegiatan ini bisa menumbuhkan semangat juang dan rasa nasionalisme kader PMII.

"Adanya lomba ini tidak hanya sebatas senang-senang dan hura-hura semata, tapi bagaimana momentum ini bisa menanamkan rasa nasionalisme dalam jiwa kader-kader PMII," pungkasnya.

Sementara itu, Miftahul Munir, Ketua Umum Pengurus Cabang (PC) PMII Pamekasan mengungkapkan apresiasinya.

"Saya apresiasi kegiatan yang dilaksanakan oleh sahabat-sahabat PMII UNIRA, karena lomba ini tidak hanya untuk mengenang proklamasi kemerdekaan Indonesia saja, tapi di antara esensi di dalamnya adalah persaingan. Yang mana, persaingan ini bukan berarti antar lawan, tapi untuk mempererat persahabatan," tegasnya.

Mantan Ketua Komisariat PMII STAI Miftahul Ulum (STAIMU) Pamekasan tersebut menghimbau kepada semua peserta, agar momentum besar ini dijadikan sebagai bahan ajar untuk bersatu dalam NKRI.

"Meskipun kita berbeda, tapi kita tetap sama, yaitu merayakan hari kemerdekaan Indonesia," jelas Miftah, dilanjutkan denga membuka acara Lomba Kemerdekaan.

Sekedar untuk diketahui, panitia menggelar lima macam perlombaan, yaitu: menyanyikan Mars PMII, orasi kemerdekaan, lari kelereng, tusuk jarum dan lari karung. (bor/ahn)
Share:

Rayakan HUT RI ke-71, Sidogiri Gelar Istighatsah, Upacara Bendera dan Lomba Agustusan

Pasuruan — Pasti Aswaja Dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun Republik Indonesia ke-71, Pondok Pesantren Sidogiri (PPS), Kraton Pasuruan menggelar istighatsah, tahlil dan doa bersama untuk para pahlawan pejuang kemerdekaan, Selasa malam (16/08/16).

Kegiatan yang digelar di lapangan barat Mabna as-Suyuti PPS itu diikuti oleh semua santri PPS, guru dan simpatisan.

Dikutip dari laman resmi PPS, pengurus pesantren berbasis NU ini berharap dapat menumbuhkan kecintaan santri terhadap Negara Kesatuan Republik Indonesia, “sebagaimana para masyayikh dulu merebut dan mempertahankan kemerdakaan,” ujar Ust. Abdul Qadir Ghufron, Kepala MMU Aliyah PPS saat menyampaikan sambutannya sebelum tahlil berlangsung.

Tidak sampai di situ saja, untuk memeriahkan HUT RI ke-71, pengurus pesantren juga menggelar upacara bendera di lapangan olahraga Sidogiri diikuti oleh Majelis Keluarga PPS, Pengurus Harian, Dewan Guru, dan Santri utusan dari Daerah A-0 dan Z, Rabu (17/08/16). Seluruh santri yang tidak bisa ikut dalam barisan, berjajar di pinggir lapangan.

Sebagaimana perayaan HUT RI biasanya, setelah pelaksanaan upacara bendera, pengurus pesantren juga menggelar beberapa perlombaan dan game-game berhadiah khusus untuk santri seperti lomba lari sarung, lomba makan kerupuk, lomba mengambil koin yang ditancapkan pada buah pepaya dengan mulut dan berbagai lomba olahraga. (ahn)
Share:

Monday, August 15, 2016

Kompetisi Robot Internasional, Murid Madrasah Bawa Pulang 4 Medali

Jakarta — Pasti Aswaja Syahrozad Zalfa Nadia, siswa Madrasah Pembangunan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta berhasil mencatat prestasi pada kompetisi robot internasional di Korea Selatan.

Dalam International Youth Robot Competition (IYRC) itu, Ocha, sapaan akrabnya, mambawa pulang 4 medali. Keempat medali itu adalah Gold Medal Coding Mission, Excelent Award Steam Mission, Excelent Award Creatif Design A, dan Bronze Medal Creatif Design B.

Menurut Himmatul Laily Waisnaini, Penanggung Jawab Klub Robotik Madrasah Pembangunan UIN Jakarta yang juga mendampingi selama lomba berlangsung, sukses bocah 10 tahun itu tidak terlepas dari kemampuannya menyelesaikan tantangan yang diberikan dalam waktu yang sangat cepat. Ocha yang sekarang duduk di kelas 5 Madrash Ibtidaiyah (MI) ini bisa menyelesaikan track coding mission dalam waktu yang singkat.

"Hanya butuh waktu sepuluh detik," tegas alumni Pondok Pesantren Paiton Probolinggo ini, seperti dilansir situs resmi Kementerian Agama Republik Indonesia, Senin (15/08/16).

Tidak hanya Ocha, tim robotic senior Madrasah Pembangunan UIN Jakarta yang digawangi Azka Hafizh juga menyabet silver medal dalam kategori Coding Mission. Sedangkan dalam kategori grup, tim robotic Madrasah Pembangunan UIN Jakarta memperoleh Bronze Medal dan Excelent Award dalam kategori robot kreatif.

"Tema yang diusung dalam robot kreatif adalah Mesin Cap Batik Otomatis," papar Laily.

Laily menambahkan, Tim Mesin Batik otomatis ini terdiri dari Ocha (MI), Azka Hafizh (MTs), dan Andi Faiz Naufal Zain (MTs). Menurut penilaian Dewan Juri, tim ini mampu bekerja sama dan kompak. "Kerja Tim kreatif sangat kompak, memadukan unsur nilai budaya bangsa dan teknologi robot," imbuh Laily.

Sebagai wali murid, Laily berterima kasih kepada para pendidik dan pembina Madrasah Pembangunan. Dia menilai bahwa pilihannya untuk mempercayakan pendidikan anak-anaknya di madrasah tidaklah keliru. Dia merasa siswa madrasah saat ini juga memiliki kesempatan yang sama dan bahkan lebih dalam mengukir prestasi.

"Selain belajar pelajaran umum dan agama, di madrasah anak-anak saya juga belajar sains dan teknologi," pungkasnya. (ahn)
Share:

Sunday, August 14, 2016

Unggah Foto Sedang Injak Al-Quran, Pemuda Lanpung Diamankan Polisi

Lampung Selatan — Pasti Aswaja Tiga hari ini netizen digegerkan oleh akum facebook bernama Agung LaEh yang mengunggah 2 foto dirinya sedang duduk jongkok menginjak Al-Quran. Satu gambar lagi sedang duduk bersila dengan Al-Quran di kepalanya, Kamis (11/08/16). Sontak saja kelakuan pemuda asal Lampung itu menuai kecaman dari para pengguna facebook dan foto itu langsung menjadi viral.

Belakangan, terungkap pemuda dalam foto tersebut berinisial AH. Akibat ulahnya ini, pemuda 26 tahun itu ditahan di Polres Lampung Selatan untuk menghindari Amuk Warga akibat foto yang diambil di sebuah bekas warung di Kecamatan Sidomulyo itu.

Menurut penuturan Kapolres Lampung Selatan, AKBP. Adi Ferdian, AH ditahan sejak Sabtu kemarin, "untuk menghindari aksi anarkis dan kemarahan warga, sementara ini (Agung) kami tahan di Satreskim Lampung Selatan," katanya, Minggu (14/08/16).

Selain AH, Polisi juga menahan 2 orang temannya berinisial Ri dan Ra yang turut terlibat dalam pengambilan foto itu, "dia (AH) meminta saksi Ri untuk memfoto aksinya bersumpah dengan menginjak Al-Quran," kata Adi.

Setelah difoto menggunakan ponsel miliknya, AH menyuruh Ra mengunggah foto itu ke akun miliknya sendiri, "AH lalu mendiktekan kalimat dan ditulis oleh (saksi) Ra sesuai dengan ucapan AH, jelasnya.

Selain menahan pelaku, Polisi juga menyita barang bukti berupa handphone dan foto penginjak Al-Quran.

Masih menurut Adi, AH melakukan aksinya itu untuk meyakinkan kekasihnya berinisial Ju, bahwa dia benar-benar mencintai dan sungguh-sungguh akan menikahi Ju.

"Pelaku bersumpah bahwa dia mencintai Ju, dan ingin segera menikahinya, namun cara bersumpaj justeru salah. Dia menistakan agama dengan menginjak Al-Quran," katanya.

Sampai saat ini pihak kepolisian masih meminta keterangan dari pelaku dan dua orang saksi yang menemani pelaku saat kejadian, "perkembangan kasusnya akan kami teruskan nanti," pungkasnya. (ahn)



Share:

Sunan Al-Muhtadin li Al-Mawwaq: Kitab yang NU Banget

Oleh: Ahmad Nuriz Zain Tibyan

Ada kitab yang sangat layak untuk segera dibaca, khususnya bagi santri atau warga NU. Sebab kitab ini mengandung konten yang sangat dibutuhkan, untuk Indonesia, khususnya kondisi Indonesia, bahkan dunia saat ini. Akan saya sebutkan di bawah ini beberapa poin-poin penting yang menjadi konten di dalamnya. Sunan al-Muhtadîn fî Maqâmât ad-Dîn, karya Ibnu al-Mawwaq (w. 897 H).

Pertama, kitab ini, saya katakan Indonesia banget, tradisionalis banget, NU banget, pokoknya. Sebab apa? Sebab konten di dalamnya, sangat luas sekali penjabarannya, tentang banyak tradisi-tradisi yang biasa dilakukan oleh masyarakat Indonesia. Bagus sekali, karena dalil serta metodologi istidlal-nya juga dijelaskan. Maka, kalau kitab ini dikatakan mengandung unsur “tad’im”, atau upaya penguatan argumentatif terhadap sebagian tradisi-keagamaan kita di Indonesia, dan juga unsur “naqd”, atau upaya counter kepada pemikiran yang tidak sejalan dengan garis mayoritas di Indonesia, itu benar sekali.

Termasuk misalanya, objek kritiknya kitab ini adalah kitab al-I’tisham, karya Imam asy-Syathibi (w. 790 H), yang kontennya sarat dengan kritik terhadap tradisi-sufi di sana (Maghrib Arabi), yang diasumsikan semakin jauh dari tuntunan agama, dan menampung perkara-perkara baru yang tidak dicontohkan oleh salaf. Menolak kesan secara tidak langsung, bahwa sufi mampu bergerak secara otonom, dan sedikit bisa terlepas dari kontrol syariat. Oleh karena itu, al-I’tisham muncul, mengulurkan tangan ingin menyelamatkan. Sehingga tak heran karakter al-I’tisham seperti itu.

Sebetulnya al-I’tisham tidak sendiri. Kitab sejenis al-I’tisham seperti kitab al-Madkhal karya murid besar Abi Jamrah (pemilik kitab Bahjah an-Nufûs), yaitu Imam Ibnul Hajj al-Maliki (w. 737 H). Ada juga, kitab ‘Umdat al-Muridi ash-Shâdiq, karya Zarrouq al-Fasi (w. 899 H). Kitab-kitab ini, memang sarat dengan kritik, terhadap beberapa pemalsu-pemalsu ajaran sufi di dunia Islam, bagian barat sana. Jadi, untuk membaca kitab-kitab ini, kita lihat terlebih dahulu, beberapa aspek yang ada hubungannya dengan pemicu karya itu muncul di permukaan.

Tapi akhir-akhir ini, kitab-kitab di atas, khususnya al-I’tisham, memang sering dialihfahamkan terhadap pemikiran ekstrim kanan. Memang! Kebiasaan Salafi-Wahabi demikian, tidak sportif; pokoknya ada kitab searah dengan (selera) mereka, mereka catut: disyarahi, dita’liq, bahkan kadang diubah. Seperti al-Ibanah-nya Imam al-Asy’ari, ‘Aqidah Imam ath-Thahawi, dan (yang jelas) kitab-kitab Ibnu Taymiyyah, dlsb.

Kedua, banyak keterangan unik dalam kitab ini. Misalnya, pembahasan mengenai kebiasaan pembacaan pujian-pujian seusai shalat, yang sangat populer di Indonesia. Beliau menjadikan hujjah apa yang dilakukan oleh Sayyidina Umar Ra. di waktu ada yang melapor padanya, bahwa ada seseorang yang punya kebiasaan melantunkan nyanyian (taghanni) setiap selesai shalat. Singkat cerita, bahwa setelah Sayyidina Umar tahu sendiri apa yang biasa dibaca oleh orang tersebut, kemudian Sayyidina Umar memperbolehkan.

Ada juga pembahasan tentang tujuh-harian pasca wafat, apa yang disebut dengan tradisi “at-Tashbîh” yaitu kebiasaan di sana, bahwa selama 7 hari pasca wafatnya seseorang, itu ada semacam ritual yang dilakukan selama 7 hari. Bahkan, sampai sekarang, di Maroko ada tradisi yang disebut “Dzikrâ Arba’îniyyah” atau peringatan 40 hari wafatnya mayat. Belum lagi keterangan Imam as-Suyuthi dalam kitabnya, al-Hawî li al-Fatâwi (2/183), juga membahas tradisi 7 harian. Dalil yang digunakan hujjah adalah:

ﻗَﺎﻝَ ﻃَﺎﻭُﺱِ : ﺍِﻥَّ ﺍْﻟﻤَﻮْﺗَﻰ ﻳُﻔْﺘَﻨُﻮْﻥَ ﻓِﻰْ ﻗُﺒُﻮْﺭِﻫِﻢْ ﺳَﺒﻌﺎ ﻓَﻜَﺎﻧُﻮْﺍ ﻳُﺴْﺘَﺤَﺒُّﻮْﻥَ ﺃَﻥْ ﻳُﻄْﻌِﻤُﻮْﺍ ﻋَﻨْﻬُﻢْ ﺗِﻠْﻚَ ﺍْﻻَﻳَّﺎﻡِ - ﺍِﻟَﻰ ﺍَﻥْ ﻗَﺎﻝَ - ﻋَﻦْ ﻋُﺒَﻴْﺪِ ﺑْﻦِ ﻋُﻤَﻴْﺮِ ﻗَﺎﻝَ : ﻳُﻔْﺘَﻦُ ﺭَﺟُﻠَﺎﻥِ ﻣُﺆْﻣِﻦٍ ﻭَﻣُﻨَﺎﻓِﻖٍ ﻓَﺄَﻣَّﺎ ﺍْﻟﻤُﺆْﻣِﻦُ ﻓَﻴُﻔْﺘَﻦُ ﺳَﺒْﻌًﺎ ﻭَﺍَﻣَّﺎ ﺍﻟْﻤُﻨَﺎﻓِﻖُ ﻳُﻔْﺘَﻦُ ﺍَﺭْﺑَﻌِﻴْﻦَ ﺻَﺒَﺎﺣًﺎ .

Imam Thawus berkata: “Seorang yang mati akan peroleh ujian dari Allah dalam kuburnya selama 7 hari. Untuk itu, sebaiknya mereka (yang masih hidup) mengadakan sebuah jamuan makan (sedekah) untuknya selama hari-hari tersebut.” Sampai kata-kata: “Dari sahabat Ubaid bin Umair Ra., dia berkata: 'Seorang mukmin dan seorang munafiq sama-sama akan mengalami ujian dalam kubur. Bagi seorang mukmin akan peroleh ujian selama 7 hari, sedang seorang munafik selama 40 hari di waktu pagi.”

Dalil di atas adalah sebuah atsar yang menurut Imam as-Suyuthi derajatnya sama dengan hadis marfu’ mursal, maka sudah dapat dijadikan hujjah makna penjelasannya:

ﺍِﻥَّ ﺃَﺛَﺮَ ﻃَﺎﻭُﺱَ ﺣُﻜْﻤُﻪُ ﺣُﻜْﻢُ ﺍْﻟﺤَﺪِﻳْﺚِ ﺍﻟْﻤَﺮْﻓُﻮْﻉِ ﺍْﻟﻤُﺮْﺳَﻞِ ﻭَﺍِﺳْﻨَﺎﺩُﻩُ ﺍِﻟَﻰ ﺍﻟﺘَّﺎﺑِﻌِﻰ ﺻَﺤِﻴْﺢٌ ﻛَﺎﻥَ ﺣُﺠَّﺔً ﻋِﻨْﺪَ ﺍْﻻَﺋِﻤَّﺔِ ﺍﻟﺜَّﻠَﺎﺛَﺔِ ﺍَﺑِﻲ ﺣَﻨِﻴْﻔَﺔَ ﻭَﻣَﺎﻟِﻚٍ ﻭَﺍَﺣْﻤَﺪَ ﻣُﻄْﻠَﻘًﺎ ﻣِﻦْ ﻏَﻴْﺮِ ﺷَﺮْﻁٍ ﻭَﺍَﻣَّﺎ ﻋِﻨْﺪَ ﺍﻟﺸَّﺎﻓِﻌِﻲ ﺭَﺿِﻲَ ﺍﻟﻠﻪُ ﻋَﻨْﻪُ ﻓَﺎِﻧَّﻪُ ﻳَﺤْﺘَﺞُ ﺑِﺎْﻟﻤُﺮْﺳَﻞِ ﺍِﺫَﺍ ﺍﻋْﺘَﻀَﺪَ ﺑِﺎَﺣَﺪِ ﺃُﻣُﻮْﺭٍ ﻣُﻘَﺮَّﺭَﺓٍ ﻓِﻰ ﻣَﺤَﻠِﻬَﺎ ﻓِﻴْﻬَﺎ ﻣَﺠِﻴْﺊِ ﺁﺧَﺮَ ﺍَﻭْ ﺻَﺤَﺎﺑِﻲِّ ﻳُﻮَﺍﻓِﻘُﻪُ ﻭَﺍﻟْﺎِﻋْﺘِﻀَﺎﺩ ِ ﻫَﻬُﻨَﺎ ﻣَﻮْﺟُﻮْﺩٌ ﻓَﺎِﻧَّﻪُ ﺭُﻭِﻱَ ﻣِﺜْﻠُﻪُ ﻋَﻦْ ﻣُﺠَﺎﻫْﺪِ ﻭَﻋﻦ ﻋُﺒَﻴْﺪِ ﺑْﻦِ ﻋُﻤَﻴْﺮِ ﻭَﻫُﻤَﺎ ﺗَﺎﺑِﻌِﻴَﺎﻥِ ﺍِﻥْ ﻟَﻢْ ﻳَﻜُﻦْ ﻋُﺒَﻴْﺪٌ ﺻَﺤَﺎﺑِﻴًﺎ .

Kemudian kebiasaan doa dengan dipimpin satu orang, setiap setelah shalat, atau dalam perkumpulan-perkumpulan tertentu. Berdasar pada sebuah riwayat pada waktu Sayyidina Umar Ra. meminta untuk didoakan kepada semua orang yang berkumpul waktu itu, akhirnya Sayyidina Umar diminta memimpin doa untuk mereka semua. Dan juga permintaannya seorang laki-laki pada sahabat Anas Ra. untuk didoakan, kepada semua orang yang berkumpul waktu itu. Ada juga masalah talqin, dan masalah-masalah lainnya, yang sangat marak sekali dilakukan di sini, Indonesia, dengan corak argumentasinya yang sangat khas dari al-Mawwaq.

Ketiga, bagi saya kitab ini mampu menjadikan cara berfikir yang (cenderung) "kolot", baik merasa atau tidak, menjadi lebih luwes, luas, lembut dan santun. Sebab di dalamnya, seakan kitab ini adalah alat pijat refleksi yang bekerja mengendorkan ketegangan saraf cara berfikir, menjadi lebih lunak. Sehingga, kitab ini memang sangat penting dibaca, bukan hanya untuk meng-counter pemikiran keras Salafi-Wahabi, tapi juga bisa dijadikan pijatan refleksi, bagi warga kita sendiri. Misalnya, pemicunya adalah sebab belum tahu klasikal atau maqam tiap orang.

Beberapa maqam, atau tingkatan-tingkatan dalam beragama (tadayyun) bagi setiap umat Islam, perlu diketahui. Karena, kadang kita (saya utamanya) kurang objektif dalam memahami sesuatu, sebab dikira maqam-nya orang itu sama. Padahal, menurut Imam al-Mawardi misalnya, dalam kitab Adab ad-Dunya wa ad-Din dijelaskan, bahwa salah satu yang perlu dilihat bagi setiap pembicara (Mutakallim) adalah: situasi, kondisi, dan kata yang harus melalu seleksi, sehingga kalimatnya bijaksana dan kontekstual.

Keempat, ada 9 maqam dalam kitab ini, yang disebut dengan urutan ke bawah (Tadalli) kemudian urutan ke atas (Taraqqi) bagi setiap orang yang menjalankan agamanya. Sehingga, kitab ini, kata pengarangnya, bisa disebut “at-Tadalli wa at-Taraqqi”. Salah satu implikasi penting ketika mengetahui beberapa maqam ini, adalah akan mampu membaca tingkatan manusia, sekaligus model pesan-pesannya, dan akan pula tahu bagaimana sikap proporsionalitas dalam menempatkan posisi mereka, dan memahami kata-kata mereka, yang berbicara sesuai dengan tingkatannya masing-masing, dan konteksnya masing-masing pembicaranya.

Di dalam kitab ini, tidak sedikit penjelasan mengenai kata-kata hikmah para pembesar-pembesar agama, yang kadang disalah-artikan. Misalnya, perkataan Sayyidah Rabi’ah al-Adawiyah: “Istighfarku, butuh diistighfari lagi”, yang kadang membuat orang yang maqam-nya rendah menjadi putus asa, tidak PD dengan istighfarnya sendiri, akhirnya memilih tidak istighfar. Tapi dengan mengetahui beberapa tingkatan-tingkatan manusia, maka juga akan mengerti bagaimana cara mendudukkan kalam hikmah mereka. Jadinya, tidak mudah akan menyalahkan.

Sangat memilukan, ketika ada perkataan mulia dari orang mulia, kemudian difahami dengan salah. Apalagi sampai salah faham terhadap yang berkata. Misalnya, al-Burdah karya al-Bushiri, masih ada, dari kalangan Salafi abad ini, bahkan yang terkenal dengan lembutnya (dibanding yang lain), masih mengatakan bahwa dalam al-Burdah ini masih terdapat “ghuluw” atau keterlaluan dalam menyanjung Nabi Muhammad Saw. Ya itu, karena tidak sampai maqam-nya, tidak faham maqamnya, dan -sayangnya- juga tidak pernah mau mengerti maqam al-Bushiri.

Kelima, dalam kitab ini, juga banyak menjelaskan hakikat amar ma'ruf dan nahi munkar. Bahwa tugas ini, adalah tugas mulia, dan jangan sekali-kali menggunakan cara yang tidak mulia. Seperti dijelaskan, seorang pelaku amar ma'ruf atau nahi munkar, harus lebih dulu mengerti, bagaimana cara itu bisa disebut “nahi munkar”, misalnya. Apakah perkara khilafiyah termasuk yang harus diintimidasi atas nama kemunkaran juga?

Beliau, al-Mawwaq, banyak mengajak kita untuk luas cara berfikir, tidak mudah menyalahkan, dan tidak mudah mengambil sikap sesuatu apapun, kecuali didasari dengan ilmu yang konprehensif, dan dengan dada yang lapang. Kitab ini sama sekali tidak menafikan keragaman cara-cara yang bisa saja berbeda, tapi kitab ini, paling tidak memberikan penyeimbangan, dalam hal mengambil sikap. Tidak otoriter, dan tidak keras. Lembut, tapi tidak lembek.

Misalnya ketika ingin menyikapi orang yang maqam-nya masih sangat bawah, sehingga, pertimbangan perjalanan hidupnya masih labil, dan sangat disesuaikan dengan porsinya. Misalnya, katagori orang ini adalah “Dzâlim li Nafsih”, dengan tiga macam bentuknya. Maka cara menyikapi model orang seperti ini, tentu tidak akan sama dengan kelas menengah (Muqtashid) apalagi kelas VIP (Sâbiq).

Misalnya, bagi orang tertentu, dia berada pada satu model kejelekan (tentu harus terus dikembangkan), lebih baik, karena kalau semakin dibiarkan, maka akan melakukan dua, tiga, sampai empat macam dosa, misalnya. Atau orang yang sudah mampu mengambil hukum yang berat (‘Azimah) bagi dirinya, maka jangan sekali-kali memaksa orang lain untuk bersikap seperti dirinya, terhadap orang lain yang persneling-nya masih rendah, apalagi (tambah) mobilnya tidak sehat.

Keenam, kitab ini asyik. Karena nuansa sufinya, sangat kental sekali. Mushannif seringkali menyebut keterangan dari Ihya’-ya Imam al-Ghazali, Hikam-nya Ibnu Athaillah, dan ulama-ulama sufi yang lain. Jadi sekalipun kitab ini lahir di negara Islam bagian barat, yang nuansanya biasanya sering berbeda, tapi kali ini tidak. Al-Mawwaq, banyak, bahkan dominan menyebut tokoh sufi dari timur (Masyriq Arabi).

Ketujuh, kitab al-Mawwaq ini, juga seakan menjadi obat bagi pengidap "penyakit" kritis yang hampir membuat dokter menyerah. Kenapa saya katakan demikian? Sebab dalam kitab ini, banyak menjelaskan tentang bagaimana semestinya sikap hamba Allah yang berlumuran dosa, di hadapan Tuhannya. Mereka yang kadang menggunakan jurus “sekalian aja”, sehingga merasa sekalian menjadi orang buruk, biar tambah buruk saja. Beliau tidak; beliau tetap mengajak untuk tidak boleh berputus asa.

Ada, yang karena sudah merasa punya banyak dosa dalam satu hal, kemudian menjadi lemas, tidak ada spirit untuk berbuat kebaikan dalam hal lain. Padahal, Allah Mahabijaksana, Maha-adil, dan perbuatan baik itu bisa menghapus pebuatan buruk sebelumnya. Bukankah justru akan lebih membuat ia semangat berbuat baik, dalam hal yang ia masih semangat di situ, sekalipun ada dosa pada sebagian yang lain?

Bagi orang lain yang melihatnya, juga tidak akan menjadi memandangnya dengan pandangan merendahkan, sebab ada dosa yang udah diperbuat. Apalagi kita masih diperintahkan untuk baik sangka, dan tidak ada yang tahu penutup hidup seseorang.

Misalnya, orang yang mempunyai ilmu, kemudian tidak menyebarkan ilmunya, dengan alasan karena belum mengamalkan ilmunya, atau belum taat, itu salah. Menurut al-Mawwaq, orang punya ilmu yang tidak menyebarkan ilmunya, sebab merasa belum menjadi orang baik, adalah salah (maksiat) dua kali.

Begitu juga, orang yang tidak bisa hadir (khusyuk) dalam ibadah, misalnya dzikir, maka bukan berarti memilih tidak berdzikir. Seperti dawuh Imam al-Ghazali, bahwa berdzikir dengan hati yang lupa (ghaflah) itu lebih baik daripada lupa dzikir (tidak dzikir sama sekali). Begitu bijaknya al-Mawwaq, Imam al-Ghazali, dalam membimbing hati orang-orang menengah kebawah, kayak kita-kita ini.

Kedelapan, kitab ini juga menjelaskan pentingnya refreshing, piknik, selebihnya dari belajar dan ibadah. Karena manusia punya sifat bosan, dan manusia punya sifat lemah. Sedangkan nafsu perlu disiasati agar tidak mengalahkan manusia. Intinya, kita diajari rileks, bercanda, bahwa bermain pada waktunya itu juga dibutuhkan, dan juga diukur sesuai dengan kebutuhannya. Belajar hidup tidak tegang. Ada benarnya kata-kata “kurang piknik” itu yang kadang memicu bertindak yang tidak proporsional.

Masih banyak lagi konten kitab ini, yang belum saya urai. Maka, sangat baik untuk membaca kitab ini, khususnya warga NU, anak pesantren, anak bangsa, agar lebih mempunyai sikap yang lebih baik lagi. Amin.

Download kitab di sini
Source: SA (facebook)
Share:

Saturday, August 13, 2016

Antara Peringatan 17 Agustus dan Kiai Subchi Parakan

Oleh: KH. Ahmad Baso

Ingat 17 Agustus, Harus Ingat Juga Kiai. Ulama Sakti Bambu Runcing Ini Juga Gurunya Jenderal Besar Sudirman.

Almaghfurlah KH. Subchi Parakan (+ 1855-1959)

Kiai Haji Subchi —sering juga ditulis Subeki atau Subuki— adalah pengasuh Pesantren Parakan Kauman, Kecamatan Parakan, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah. Kiai sosialis ini dikenal sebagai “Kiai Bambu Runcing” tempat ribuan pejuang kemerdekaan Indonesia di tahun 1945 menimba ilmu, doa-doa dan jampi-jampi untuk senjata mereka sebelum terjun ke medan laga.

Kiai Subchi lahir di Parakan Kauman, Temanggung, sekitar tahun 1850. Berdasarkan penuturan KH. Saifuddin Zuhri dalam bukunya, Guruku Orang-orang dari Pesantren (1974), waktu bertemu dengan Kiai Subchi di tahun 1945, usia Kiai Bambu Runcing ini sudah menginjak angka 90-an. Sementara dalam penuturan KH. Muhaiminan Gunardo Parakan, Kiai Subchi wafat pada tahun 1959 dalam usia kurang lebih 109 tahun. Berarti tahun kelahiran beliau diperkirakan 1850.

Kiai Subchi adalah putra sulung KH. Harun Rasyid, seorang penghulu mesjid di desanya, dengan nama kecil Muhammad Benjing. Setelah berumah tangga beliau berganti nama menjadi Somowardojo. Setelah naik haji beliau berganti nama lagi untuk kedua kalinya menjadi Subchi. Ketika masih bayi dalam gendongan ibunya sekitar tahun 1855 beliau dibawa mengungsi dari kejaran tentara Belanda dari satu desa ke desa lainnya. Maklum, waktu itu kakeknya, Kiai Abdul Wahab, putra Tumenggung Bupati Suroloyo Mlangi, Yogyakarta, adalah salah seorang anggota pasukan Pangeran Diponegoro yang ikut dalam Perang Jawa (1825-1830) melawan penjajahan Belanda. Sisa-sisa pasukan Diponegoro usai penangkapan sang pangeran di tahun 1830 berpencar di beberapa tempat melanjutkan perlawanan di desa-desa sambil menghindar dari kejaran tentara Belanda. Termasuk kakek beliau yang mengundurkan diri bergerak menyusuri Kali Progo melalui daerah Sentolo, Godean, Borobudur, Bandongan, Secang Temanggung, hingga akhirnya ke Parakan, sebuah persimpangan tapal batas Karesidenan Banyumas, Kedu, Pekalongan, dan Semarang. Daerah dataran tinggi di kaki Gunung Sindoro itu menjadi tempat bertemunya bermacam-macam sisa prajurit Diponegoro dari berbagai daerah. Tidaklah mengherankan jika penduduk Parakan mempunyai unsur kebudayaan yang bercampur antara ketulusan rakyat Banyumas, kesabaran rakyat Kedu, keberanian rakyat Pekalongan, dan keterampilan rakyat Semarang. Karakter kebudayaan seperti inilah yang diwarisi keluarga Kiai Subchi.

Sejak kecil Kiai Subchi dididik oleh ayahnya langsung dalam disiplin keagamaan yang tinggi. Setelah itu beliau nyantri di Pondok Pesantren Sumalangu, Kebumen, Jawa Tengah, di bawah asuhan Syekh Abdurrahman (ayahanda KH. Mahfudh Sumalangu yang terkenal itu). Ada yang menyebut beliau pernah nyantri di Magelang, kemungkinan pada KH. Maksum (wafat 1929), pendiri pesantren awal di Magelang, yang juga merupakan paman KH. Muhammad Siradj Payaman Magelang. Sejak nyantri beliau sudah mengamalkan wirid yang diamalkan setiap malam, yakni  membaca al-Quran satu juz, sehingga dalam sebulan bisa  khatam 30 juz.

Kiai Subchi kemudian menikah dan dikaruniai delapan orang putra-putri: Nyai Waruyan, Zain, H. Abdurrahman, H. Syadzali, Nyai Suwaidah, Nyai Sofiyah, Nyai Umi Kultsum, dan Nyai Sulaiman. Setelah istri pertama beliau wafat, Kiai Subchi menikah lagi dengan seorang janda yang agak tua yang sudah punya dua orang putra, yaitu Walimin atau KH. Nur Ngadirejo (ayahanda KH. Mubasyir dan juga mertua dari Kiai Ali Parakan) dan Ny. Walimah (yang kemudian dinikahkan dengan Syadzali, putra beliau dari istri pertama). Dari istri yang kedua ini beliau tidak dikaruniai seorang anak. Untuk menutupi kebutuhan hidup keluarganya, beliau menggarap sawah dan bercocok tanam padi dan beberapa tanaman produktif lainnya.

Tidak heran kalau beliau sukses sebagai petani, hingga dikenal kiai yang kaya. Tanahnya ada di mana-mana, terlebih di sekitar Kauman. Tapi kekayaan tersebut tidak membuat beliau kikir. Masyarakat sekitar Parakan juga mengenal beliau sebagai pemurah dan suka membantu orang-orang yang kesusahan. Jiwa sosialnya tinggi. Di usia tuanya, tanah-tanah itu diberikan kepada penduduk sekitar yang tidak mampu dalam bentuk kontrak musyarakah atau sistem bagi hasil. Hasilnya dibagi dua antara beliau sebagai pemilik tanah dan pihak penggarap tanah. Kadang hasilnya berupa keuntungan dalam bentuk cash, kadang juga dalam bentuk pembagian tanah. Kiai Subchi memberi keuntungan yang terakhir ini kepada orang-orang yang tidak punya tanah. Inilah ide awal beliau tentang keadilan sosial atau sosialisme. Ini berbeda tajam dari sistem kapitalisme yang melihat manusia dalam dua kategori: majikan pemilik modal, termasuk tanah, dan kaum buruh yang dilepaskan haknya atas tanah.

Menurut Kiai Subchi, tidak ada artinya berbicara kesejahteraan, pemerataan pendapatan  atau keadilan sosial kalau warga Indonesia tidak punya alat produksi berupa tanah. Dan tanah itu harus dibagi bersama dengan mempertimbangkan aspek kekeluargaan sesama warga Indonesia. Dari sini kemudian muncul ide tentang tanah berfungsi sosial yang menjadi inti ide sosialisme atau distribusi pendapatan. Dan praktik musyarakah atau bagi hasil yang sudah dikenal bangsa kita sejak berabad-abad merupakan instrumen utama untuk mewujudkan distribusi atau pemerataan pendapatan itu. Seorang wartawan Amerika yang kemudian menjadi sarjana politik terkemuka, George McTurnan Kahin, dalam memoarnya berjudul Southeast Asia: A Testament (2003), pernah bertemu dengan Kiai Subchi. Mereka berdua berdiskusi tentang tatanan sosial-politik yang adil, termasuk ide sosialisme yang digali dari dalam tradisi pesantren itu. Seperti ide tentang musyarakah – yang kemudian bermetamorfosa menjadi “masyarakat” dalam bahasa kita. Waktu itu Kahin, yang mengkader banyak mahasiswa Indonesia di Cornell dalam ilmu politik, datang bersama Roeslan Abdulgani, menjabat Sekjen Departemen Penerangan, ke Parakan pada minggu pertama Desember 1948. Ide sosialisme Kiai Subchi dan pesantren ini kemudian diwujudkan oleh para pendiri bangsa ini (founding fathers) ke dalam konstitusi negara baru kita dalam Pasal 33 ayat satu: “Perekonomian disusun sebagai usaha bersama berdasarkan atas asas kekeluargaan”.

Kiai Subchi mendirikan pesantren di Parakan Kauman, sambil menggelar pengajian di mesjid jami’ Kauman, Parakan. Awalnya berupa pengajian kitab suci al-Quran dan kitab-kitab sederhana untuk anak-anak, lalu berkembang menjadi pesantren yang menyediakan pondok atau asrama untuk santri-santri yang berasal dari luar desa. Beliau juga membantu KH. Ali (wafat 1955) mendirikan Pesantren Zaidatul Ma’arif Parakan, yang hingga kini masih berdiri. Selain itu beliau juga aktif di organisasi umat Islam. Pada tahun 1913 beliau pernah ikut pertemuan Sarikat Islam (SI) di Parakan beserta kawan-kawannya, yang dihadiri oleh pimpinannya, H.O.S. Cokroaminoto. Waktu itu pemimpin SI ini rajin menggelar rapat dan pengkaderan (kader-vorming) di beberapa kota di Jawa. Setelah Nahdlatul Ulama (NU) berdiri pada tahun 1926, Kiai Subchi lalu ikut mendirikan NU di Temanggung, bersama beberapa kiai lainnya. Beliau menjabat sebagai Rais Syuriyah Pengurus Cabang NU Temanggung, didampingi KH. Ali (pendiri Pesantren Zaidatul Ma’arif Parakan) sebagai wakil rais dan KH. Raden Sumomihardho (ayahanda KH. Muhaiminan Gunardo, wafat 1946) sebagai sekretarisnya. Sementara KH. Nawawi (wafat 1968) bertindak sebagai ketua tanfidziyah pertama. Keempat ulama perintis NU Temanggung inilah yang kemudian dikenal sebagai “kiai-kiai bambu runcing” di masa revolusi kemerdekaan.

Kiai Subchi juga menaruh perhatian besar terhadap kaderisasi anak muda NU melalui Anshor NU (waktu itu disingkat ANO). KH. Saifuddin Zuhri misalnya menginformasikan bahwa sewaktu menjadi instruktur pengkaderan Anshor di Temanggung sekitar tahun 1941, menteri agama di era Sukarno ini menjumpai Kiai Subchi juga ikut mendampingi anak-anak muda NU itu selama kegiatan kaderisasi – meski saat itu usia beliau sudah tergolong sepuh.

Di masa pendudukan tentara Jepang, ada seruan mobilisasi pemuda untuk pertahanan negara dalam menghadapi Sekutu. Kiai Subchi dibantu beberapa kiai sepuh  ikut menggalang kekuatan pemuda yang didukung pemerintahan Jepang. Sewaktu Jepang menyerah dan Kemerdekaan Indonesia diproklamirkan pada 17 Agustus 1945, mobilisasi pemuda itu kemudian ditujukan untuk membela kemerdekaan Republik Indonesia. Apalagi waktu itu ada ancaman kembalinya tentara Belanda yang membonceng kedatangan tentara Sekutu ke Indonesia. Saat itulah para ulama berkumpul dari seluruh Jawa dan Madura berkumpul di Surabaya yang dipimpin oleh Hadlratusysyekh KH. Hasyim Asy’ari. Rapat ulama itu pada tanggal 22 Oktober 1945 kemudian menyatakan Resolusi Jihad bela agama dan negara. Tidak ketinggalan pula para ulama Temanggung. Di bulan November 1945 mereka membentuk Barisan Bambu Runcing atau Barisan Muslimin Temanggung (BMT). Kiai Subchi duduk sebagai penasehat pertama, sementara Kiai Nawawi ketua. Karena minimnya perlengkapan persenjataan, maka dipilihlah bambu runcing sebagai senjata utama bagi para anggota laskar rakyat itu. Saat itu pasukan Sekutu menguasai kota Magelang, lalu menyingkir ke Ambarawa, sejak Oktober hingga November 1945. Di awal Desember 1945 ada rencana menyerbu tentara Sekutu dan mengusir mereka dari Ambarawa yang punya posisi strategis kala itu. Jarak ibukota Kabupaten Semarang itu ke Parakan sekitar 40 kilometer. Maka meletuslah pertempuran yang dikenal dengan Palagan Ambarawa pada 12-15 Desember 1945, yang membuat tentara Sekutu menyerah hingga ke Semarang.

Sebelum berangkat ke medan laga, berdasarkan fatwa KH. Subchi dan keputusan musyawarah pengurus NU, tiap malam diadakan mujahadah di kalangan para anggota laskar dan para kiai di Langgar Wali, Kauman, Parakan. Siang harinya mereka puasa mutih dan malamnya shalat hajat, shalat tahajjud, membaca wirid-wirid, termasuk Hizbun Nasr, dan Hizbul Bahri, serta bacaan Shalawat Nariyah sebanyak 4.444 kali dengan berjamaah serta membaca Shalawat Munjiyat sebanyak seribu kali. Dalam pelaksanaan mujahadah itu Kiai Subchi bertindak selaku penasehat utama. Bersama Kiai Sumomihardho dan beberapa kiai sepuh, beliau diminta memimpin prosesi penyepuhan senjata bambu runcing yang dibawa para pejuang. Penyepuhan dilakukan dengan membasuh senjata tersebut dengan air suci lalu memberinya doa-doa, mantra atau wirid tertentu agar bertuah dan efektif untuk membela diri maupun untuk menyerang musuh. Biasanya selama proses mengisi benda tersebut pelaku menjalankan puasa dan menghafal doa-doa disertai latihan pengisian tenaga dalam. Setelah benda yang diisi dengan energi spiritual melalui doa dan wirid tersebut dianggap sudah memadai, maka perlu dicek kekuatannya dengan menggunakan tenaga dalam. Prosesi penyepuhan itu disebut juga menyuwuk, dari kata suwuk, yakni memberkahi dan memberi doa-doa di bagian ujung bambu runcing.

Dari sinilah kemudian kisah awal mengapa Kiai Subchi identik dengan Kiai Bambu Runcing.

Bambu runcing memang pernah dipakai dalam latihan ketentaraan Seinendan pada zaman pendudukan tentara Jepang. Tetapi khusus penggunaan senjata rakyat itu dengan doa, wirid dan pengisian energi spiritual atau tenaga dalam, memang baru dimulai di Parakan, Temanggung. Dan nama Kiai Subchi-lah yang pertama muncul ketika disebut senjata ini untuk tujuan perjuangan kemerdekaan melawan penjajah bangsa asing.

Setelah itu ada kabar beredar di Temanggung bahwa Kiai Hasyim Asy’ari akan berkunjung ke Parakan untuk memberikan wejangan kepada BMT. Kemudian pengurus BMT serta para ulama segera mengadakan musyawarah. Hasilnya, mereka sepakat jangan sampai pendiri NU itu yang datang ke Parakan, tapi para kiai Parakan yang harus sowan kepada beliau di Tebuireng, Jombang. Maka berangkatlah KH. Subchi, KH. Nawawi, KH. Ali, serta KH. Syahid Baidowi. Setelah bertemu dengan pengasuh Pesantren Tebuireng ini, mereka diminta untuk menyepuh bambu runcing yang dilakukan dengan tata cara seperti di Parakan. Dan Kiai Subchi pun diminta memimpin penyepuhan itu. Sejak saat itu nama Kiai Subchi yang identik dengan bambu runcing mulai tersohor di Jawa Timur.

Usai kunjungan para kiai Parakan ke Jombang di akhir bulan November 1945, tidak berapa lama kemudian  berdatangan rombongan pemuda pejuang Laskar Hizbullah Jombang ke Parakan memakai pakaian serba hitam, termasuk peci hitam. Datang pula komandan Laskar Hizbullah wilayah Banyumas dan Kedu, KH. Saifudin Zuhri, bersama Mr. Wongsonegoro, Gubernur Jawa Tengah sejak 13 Oktober 1945. Lalu datang juga KH. Wahid Hasyim yang diantar KH. Saifudin Zuhri bersama KH. Masjkur (pimpinan pusat Laskar Sabilillah sebelum diangkat sebagai Menteri Agama di tahun 1947), KH. Zainul Arifin (komandan tertinggi Laskar Hizbullah), Mr. Kasman Singodimejo (tokoh Masyumi dan komandan Laskar Hizbullah, waktu itu menjabat Jaksa Agung), dan juga Anwar Tjokroaminoto (wartawan dan putra H.O.S. Cokroaminoto). Tujuan utama para tamu ini adalah bertemu dengan Kiai Subchi untuk meminta doa dan barakah beliau, termasuk meminta perkenan beliau untuk “menyuwuk”  para anggota laskar rakyat yang datang dari berbagai penjuru Tanah Air. Mendengar permintaan tersebut, beliau menangis tersedu-sedu sambil berujar, “Mengapa mesti saya? Kenapa kalian tidak datang saja kepada KH. Siradj Payaman dan KH. Dalhar Watucongol [dua ulama Magelang yang sama-sama wafat pada tahun 1959], karena keduanya adalah ulamanya Gusti Allah (Kenging menopo panjenengan kok mboten sowan lan nyuwun dating KH. Siradj Payaman utawi sowan KH. Dalhar Watucongol; panjenenganipun kekalih meniko ulama'ipun Gusti Allah).”

Namun, tampaknya beliau tidak bisa menghindar. Menjelang pertempuran Ambarawa di bulan Desember 1945, Panglima Divisi V Tentara Keamanan Rakyat (TKR) Kolonel Sudirman –sebelum menjadi Panglima Besar setahun kemudian – juga sempat singgah dari markasnya di Purwokerto ke markas BMT di Parakan dalam perjalanan menuju perang Ambarawa. Beliau sempat sowan dan minta barakah kepada Kiai Subchi. Kiai Saifudin Zuhri maupun Kiai Muhaiminan Gunardo menyebut kedatangan Kolonel Soedirman beserta pasukannya membawa peralatan tempur lengkap. Itu terjadi setelah bawahan beliau, Letnan Kolonel Isdiman, selaku komandan pasukan TKR dalam pertempuran Ambarawa gugur diserang Sekutu pada tanggal 26 November 1945. Komando pertempuran Ambarawa lalu diambilalih oleh tentara kader PETA ini. Mungkin karena keberkahan kiai Parakan ini, konon dalam cerita masyarakat, Jenderal Sudirman setiap kali akan terjun ke medan laga, terlebih dahulu mencari sumur warga untuk mengambil air wudhu.

Di masa-masa awal revolusi kemerdekaan Indonesia setiap hari ada ribuan pejuang mampir ke Parakan dalam perjalanan mereka ke front-front pertempuran di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Bahkan ada yang datang dari Jawa Barat. Di antaranya Pasukan Barisan Pemberontak Rakyat Indonesia di bawah pimpinan Bung Tomo, Barisan Banteng di bawah pimpinan dr. Muwardi, Lasykar Rakyat dibawah pimpinan Ir. Sakirman, dan Laskar Pesindo di bawah pimpinan Krissubanu. Dalam buku otobiografinya, Hidup tanpa Ijazah: Yang Terekam dalam Kenangan (2008), Ajip Rosidi pernah menulis pengalaman keluarganya di Jatiwangi, Majalengka, Jawa Barat, yang berjuang bersama laskar rakyat dan ikut berangkat ke Parakan naik kereta api.

Peran Kiai Subchi seperti ini kemudian menjadi incaran tentara Belanda. Dalam agresi militer kedua yang dilancarkan Belanda pada Desember 1948, mereka memasuki kota Parakan dan menggebrak rumah beliau. Kiai Subchi sempat menyelamatkan diri dan mengungsi keluar kota bersama beberapa kiai. Namun putra beliau, Kiai Abdurrahman, gugur tertembak setelah melakukan perlawanan. Ia merupakan syuhada pertama sejak Gerakan Bambu Runcing dari Kauman Parakan digelar. Presiden Sukarno kemudian menganugerahinya gelar pahlawan perintis kemerdekaan.

Kiai Subchi wafat pada hari Kamis tanggal 6 April 1959 (7 Syawal 1379 H) dalam usia kurang lebih 109 tahun dan dimakamkan di pemakaman Sekuncen, Parakan Kauman, Kecamatan Parakan, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah. Namanya diabadikan sebagai nama jalan di Parakan, Temanggung. Senjata bambu runcing dan foto beliau dipajang di Museum Monumen Yogya Kembali di Yogyakarta.
Source: akun fb pribadi KH. Ahmad Baso.
Share:

Home Style

Contact Form

Name

Email *

Message *

Ads

Ads

Latest News

Popular Posts

Blog Archive